24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

Asep Kurnia by Asep Kurnia
May 11, 2026
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia jadi ‘budak berpikir’ dan menjadi ‘aktor figuran’  oleh alat hasil ciptaannya sendiri. Manusia menjadi robot untuk melakukan apa yang AI sarankan. Sungguh antagonis dan paradoksal sekali bila situasi dunia hari ini tunduk patuh bahkan tergilas oleh produk mahakaryanya sendiri.

Di mana letak wibawa, kharisma, martabat, dan kemuliaan manusia yang sudah dinyatakan makhluk paling sempurna di antara makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, bila pada akhirnya harus tunduk patuh pada pemikiran AI alat hasil ciptaannya. Aneh dan ironis sekali bila pemikiran manusia yang menciptakan alat kecerdasan buatan harus lebih percaya atau tergantung pada pemikiran alat tersebut, dunia jungkir balik nama nya? Catat, diksi utamanya : ” masa iya pencipta jadi budak hasil ciptaannya”.

Banyak kekhawatiran orang tua anaknya menggunakan AI dalam kehidupan sehari-hari mereka, terutama ketika anaknya sedang berada duduk di tahapan bangku sekolah atau kuliah. Mengapa muncul fenomena itu, padahal AI itu menurut pakar penciptanya dibuat dan disediakan sebagai aplikasi yang bisa membantu mempermudah, memandu ketelitian berpikir, bahkan bisa dijadikan acuan beraksi dan itu adalah inovasi kemajuan ilmu  bidang komputer.

Kira-kira alasan mendasarnya apa yah? Bahkan manusia cerdas lainnya menyebutkan bahwa AI itu sebenarnya menakutkan manusia itu sendiri karena ada jenis Super AI yang konon bisa melampaui tingkat kecerdasan  dan keakuratan skema berpikir manusia.

Perempuan Baduy bermain HP | Foto Dok.Penulis

Banyak ahli AI yang memberi berbagai batasan dan definisi dengan masing-masing argumentasinya dan itu bukan teritorial dan otoritas penulis untuk mengomentarinya, itu hak ulayat mereka. Tapi setelah ditelaah ternyata inti dari pengertian AI itu adalah : “Meniru Kecerdasan Manusia, Belajar Mandiri (Machine Learning) dan Pemecahan Masalah”.

Fenomena Kecanduan AI

Sepertinya kecanduan menggunakan aplikasi AI menjadi fenomena tersendiri. Lalu siapakah atau kelompok manusia yang manakah yang kecanduan memanfaatkan  AI untuk memuaskan dan memenuhi tuntutan dan keinginan dirinya. Karena AI itu produk manusia manusia berpengetahuan, maka orang-orang terpelajarlah yang  pertama cenderung fasih dan mahir menggunakan sekaligus memanfaatkan alat paling inovatif ini. Kedua, manusia yang taraf ekonominya sudah mapan karena kepemilikan seperangkat alat AI tersebut tentunya tidak bisa dimiliki bila tak punya uang lebih untuk membelinya. Ketiga manusia yang haus berpikir dan haus berkuasa.

Di luar ketiga kelompok manusia itu, saya kira AI sangat jarang disahabati dan digauli, bahkan mungkin tidak disukai. Banyak kelompok masyarakat yang apriori dengan AI karena disenyalir AI dapat mengarahkan ‘manusia baru’  menjadi bodoh /lemah berfikir atau AI itu akan membodohkan generasi muda bila salah memanfaatkan.

Selain itu banyak masyarakat yang tidak punya kemampuan dan kebutuhan untuk manfaatkan AI tersebut dalam kehidupan sehari-hari  mereka. Entah karena letaknya geografis, atau kondisi sosilogis (hukum adat) banyak komunitas masyarakat adat yang tidak mungkin membolehkan menggunakan AI  pada pola kehidupannya, terutama komunitas adat yang menentang modernisasi. Salah satunya suku Baduy di Provinsi Banten yang notabene suku yang kukuh pengkuh terhadap hukum adatnya yang menolak pemodernan di tanah ulayatnya.

Pengaruh Digitalasasi dan AI pada Suku Baduy

Benar tanpa dapat dibantah sedikit pun, Baduy sampai saat ini adalah suku yang mematok bahwa pola hidup modern tetap menjadi antitesa (buyut pamali ) bagi mereka. Tetapi pada kenyataannya mereka itu tidak juga terlalu alergi  pada beberapa bagian pola hidup modern yang bisa diadopsi di kehidupan sehari hari mereka  dengan alasan demi menghindari ketertinggalan dan keterisolasian mereka dari pergaulan hidup dengan saudara sebangsanya yang sudah menerapkan pola hidup modern.

Mereka tetap menjaga jarak dan situasi  untuk tidak masuk secara total pada proses modernisasi, karena mereka pun sadar tidak bisa terus-terusan berdiam diri dalam ketradisionalan dan terus-menerus menolak perkembangan dan  tuntutan zaman. Mereka diberi papagah oleh leluhurnya : “Baduy kudu bisa ngindung ka waktu, ngais tur ngabapak ka zaman “artinya  Baduy harus  bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman,  tetapi tetap harus pada rel atau garis-garis haluan hukum adat yang mereka pegang teguh.

Digitalisasi dan AI adalah salah satu produk ilmu pemodernan yang tengah mengubah tatanan dunia pun bagi warga Baduy tidak bisa ditolak dan menolak kebermanfaatan bagi peningkatan kualitas pergaulan hidup mereka. Karena dari sisi manfaat dan kebutuhan terutama digitalasasi  sangat signifikan digunakan untuk mempermudah,  mendekatkan, dan mempercepat pola komunikasi antar mereka; bahkan dapat mengubah tingkat kesejahteraan  mereka melalui penggunaan bisnis online.

Pertanyaannya apakah sampai saat ini digitalisasi dan AI akan atau sudah mengubah keberadaan (eksistensi) mereka ? Untuk memastikan jawaban yang tepat akurat ada baiknya analisa saja beberapa deskripsi di bawah ini.

Perempuan Baduy bermain HP | Foto Dok.Penulis

Dari pengamatan secara visual, digitalisasi sudah tidak lagi satu situasi yang aneh bagi masyarakat Baduy. Mereka bukan lagi sebagai penolak tetapi sudah menjadi pengguna alat digital sekaligus penikmat digitalisasi dengan segala manfaatnya. Estimasinya sekitar 70 ℅ warga Baduy sudah sangat bersahabat dengan digitalisasi, walau warga lainnya masih ada yang kuat bertahan untuk tidak menjamah dan terjamah oleh digitalisasi terutama warga Baduy Dalam. Namun  tak menampik juga bahwa sebagian warga Baduy Dalam juga sudah tidak steril dari kepemilikan dan penggunaan alat digital.

Untuk penggunaan aplikasi Artificial Intelligence  , warga Baduy masih sangat minim, karena tidak terlalu urgen dengan kebutuhan pola kehidupan sehari-hari mereka. Beda dengan kepemilikan alat digital yang sudah mereka rasakan kebermanfaatnya.

Mereka berani mengambil sikap untuk ikut dalam proses digitalisasi karena didorong oleh pemenuhan kebutuhan dalam mencapai kesejahteraan dasar (sandang, pangan dan papan) bukan demi mengejar kemajuan seperti layaknya orang di luar Baduy yang serba modern. Mereka tidak mau mengubah eksistensi kesukuannya, tetapi mereka ingin mengubah kesejahteraan dan martabatnya melalui pemenuhan kebutuhan pokok hidup.

“Baduy tetap akan jadi Baduy dengan segala eksistensinya karena hukum adat mereka begitu berlapis untuk melindungi keajegannya. Tetapi Baduy juga akan fleksibel mengikuti perkembangan zaman, karena perangkat hukum adat Baduy tidak kaku seperti hukum positif.  Hukum adat Baduy memiliki fleksibilitas dan selalu akan memodifikasi hukum adatnya secara alami sesuai perkembangan zaman” (Asep Kurnia, Mei 2026)

Satu yang merisikan dan meriskankan juga sangat mengkhawatirkan bagaimana nasib dan peran kaum perempuan Baduy di masa depan akibat begitu bersahabatnya perempuan muda Baduy dengan digitalisasi adalah : ” Kaum perempuan Baduy yang dulunya begitu privilege dan menjauh dari sorotan lensa kamera kini berubah, wajah mereka tampak nempel di depan lensa kaca TikTok bergaya menirukan layaknya selegram yang kemudian dieksploitasi secara sporadis oleh para pembuat konten.

Mungkinkah perempuan Baduy  berpindah pergaulan.??? Ini Pertanyaan sensitif untuk hari esok perempuan Baduy.

  • Di tulis di Padepokan Sisi Leuit  Perbatasan Baduy,  9 Mei 2026
Tags: AIkecerdasan buatanProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Next Post

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co