1 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

Asep Kurnia by Asep Kurnia
May 11, 2026
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia jadi ‘budak berpikir’ dan menjadi ‘aktor figuran’  oleh alat hasil ciptaannya sendiri. Manusia menjadi robot untuk melakukan apa yang AI sarankan. Sungguh antagonis dan paradoksal sekali bila situasi dunia hari ini tunduk patuh bahkan tergilas oleh produk mahakaryanya sendiri.

Di mana letak wibawa, kharisma, martabat, dan kemuliaan manusia yang sudah dinyatakan makhluk paling sempurna di antara makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, bila pada akhirnya harus tunduk patuh pada pemikiran AI alat hasil ciptaannya. Aneh dan ironis sekali bila pemikiran manusia yang menciptakan alat kecerdasan buatan harus lebih percaya atau tergantung pada pemikiran alat tersebut, dunia jungkir balik nama nya? Catat, diksi utamanya : ” masa iya pencipta jadi budak hasil ciptaannya”.

Banyak kekhawatiran orang tua anaknya menggunakan AI dalam kehidupan sehari-hari mereka, terutama ketika anaknya sedang berada duduk di tahapan bangku sekolah atau kuliah. Mengapa muncul fenomena itu, padahal AI itu menurut pakar penciptanya dibuat dan disediakan sebagai aplikasi yang bisa membantu mempermudah, memandu ketelitian berpikir, bahkan bisa dijadikan acuan beraksi dan itu adalah inovasi kemajuan ilmu  bidang komputer.

Kira-kira alasan mendasarnya apa yah? Bahkan manusia cerdas lainnya menyebutkan bahwa AI itu sebenarnya menakutkan manusia itu sendiri karena ada jenis Super AI yang konon bisa melampaui tingkat kecerdasan  dan keakuratan skema berpikir manusia.

Perempuan Baduy bermain HP | Foto Dok.Penulis

Banyak ahli AI yang memberi berbagai batasan dan definisi dengan masing-masing argumentasinya dan itu bukan teritorial dan otoritas penulis untuk mengomentarinya, itu hak ulayat mereka. Tapi setelah ditelaah ternyata inti dari pengertian AI itu adalah : “Meniru Kecerdasan Manusia, Belajar Mandiri (Machine Learning) dan Pemecahan Masalah”.

Fenomena Kecanduan AI

Sepertinya kecanduan menggunakan aplikasi AI menjadi fenomena tersendiri. Lalu siapakah atau kelompok manusia yang manakah yang kecanduan memanfaatkan  AI untuk memuaskan dan memenuhi tuntutan dan keinginan dirinya. Karena AI itu produk manusia manusia berpengetahuan, maka orang-orang terpelajarlah yang  pertama cenderung fasih dan mahir menggunakan sekaligus memanfaatkan alat paling inovatif ini. Kedua, manusia yang taraf ekonominya sudah mapan karena kepemilikan seperangkat alat AI tersebut tentunya tidak bisa dimiliki bila tak punya uang lebih untuk membelinya. Ketiga manusia yang haus berpikir dan haus berkuasa.

Di luar ketiga kelompok manusia itu, saya kira AI sangat jarang disahabati dan digauli, bahkan mungkin tidak disukai. Banyak kelompok masyarakat yang apriori dengan AI karena disenyalir AI dapat mengarahkan ‘manusia baru’  menjadi bodoh /lemah berfikir atau AI itu akan membodohkan generasi muda bila salah memanfaatkan.

Selain itu banyak masyarakat yang tidak punya kemampuan dan kebutuhan untuk manfaatkan AI tersebut dalam kehidupan sehari-hari  mereka. Entah karena letaknya geografis, atau kondisi sosilogis (hukum adat) banyak komunitas masyarakat adat yang tidak mungkin membolehkan menggunakan AI  pada pola kehidupannya, terutama komunitas adat yang menentang modernisasi. Salah satunya suku Baduy di Provinsi Banten yang notabene suku yang kukuh pengkuh terhadap hukum adatnya yang menolak pemodernan di tanah ulayatnya.

Pengaruh Digitalasasi dan AI pada Suku Baduy

Benar tanpa dapat dibantah sedikit pun, Baduy sampai saat ini adalah suku yang mematok bahwa pola hidup modern tetap menjadi antitesa (buyut pamali ) bagi mereka. Tetapi pada kenyataannya mereka itu tidak juga terlalu alergi  pada beberapa bagian pola hidup modern yang bisa diadopsi di kehidupan sehari hari mereka  dengan alasan demi menghindari ketertinggalan dan keterisolasian mereka dari pergaulan hidup dengan saudara sebangsanya yang sudah menerapkan pola hidup modern.

Mereka tetap menjaga jarak dan situasi  untuk tidak masuk secara total pada proses modernisasi, karena mereka pun sadar tidak bisa terus-terusan berdiam diri dalam ketradisionalan dan terus-menerus menolak perkembangan dan  tuntutan zaman. Mereka diberi papagah oleh leluhurnya : “Baduy kudu bisa ngindung ka waktu, ngais tur ngabapak ka zaman “artinya  Baduy harus  bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman,  tetapi tetap harus pada rel atau garis-garis haluan hukum adat yang mereka pegang teguh.

Digitalisasi dan AI adalah salah satu produk ilmu pemodernan yang tengah mengubah tatanan dunia pun bagi warga Baduy tidak bisa ditolak dan menolak kebermanfaatan bagi peningkatan kualitas pergaulan hidup mereka. Karena dari sisi manfaat dan kebutuhan terutama digitalasasi  sangat signifikan digunakan untuk mempermudah,  mendekatkan, dan mempercepat pola komunikasi antar mereka; bahkan dapat mengubah tingkat kesejahteraan  mereka melalui penggunaan bisnis online.

Pertanyaannya apakah sampai saat ini digitalisasi dan AI akan atau sudah mengubah keberadaan (eksistensi) mereka ? Untuk memastikan jawaban yang tepat akurat ada baiknya analisa saja beberapa deskripsi di bawah ini.

Perempuan Baduy bermain HP | Foto Dok.Penulis

Dari pengamatan secara visual, digitalisasi sudah tidak lagi satu situasi yang aneh bagi masyarakat Baduy. Mereka bukan lagi sebagai penolak tetapi sudah menjadi pengguna alat digital sekaligus penikmat digitalisasi dengan segala manfaatnya. Estimasinya sekitar 70 ℅ warga Baduy sudah sangat bersahabat dengan digitalisasi, walau warga lainnya masih ada yang kuat bertahan untuk tidak menjamah dan terjamah oleh digitalisasi terutama warga Baduy Dalam. Namun  tak menampik juga bahwa sebagian warga Baduy Dalam juga sudah tidak steril dari kepemilikan dan penggunaan alat digital.

Untuk penggunaan aplikasi Artificial Intelligence  , warga Baduy masih sangat minim, karena tidak terlalu urgen dengan kebutuhan pola kehidupan sehari-hari mereka. Beda dengan kepemilikan alat digital yang sudah mereka rasakan kebermanfaatnya.

Mereka berani mengambil sikap untuk ikut dalam proses digitalisasi karena didorong oleh pemenuhan kebutuhan dalam mencapai kesejahteraan dasar (sandang, pangan dan papan) bukan demi mengejar kemajuan seperti layaknya orang di luar Baduy yang serba modern. Mereka tidak mau mengubah eksistensi kesukuannya, tetapi mereka ingin mengubah kesejahteraan dan martabatnya melalui pemenuhan kebutuhan pokok hidup.

“Baduy tetap akan jadi Baduy dengan segala eksistensinya karena hukum adat mereka begitu berlapis untuk melindungi keajegannya. Tetapi Baduy juga akan fleksibel mengikuti perkembangan zaman, karena perangkat hukum adat Baduy tidak kaku seperti hukum positif.  Hukum adat Baduy memiliki fleksibilitas dan selalu akan memodifikasi hukum adatnya secara alami sesuai perkembangan zaman” (Asep Kurnia, Mei 2026)

Satu yang merisikan dan meriskankan juga sangat mengkhawatirkan bagaimana nasib dan peran kaum perempuan Baduy di masa depan akibat begitu bersahabatnya perempuan muda Baduy dengan digitalisasi adalah : ” Kaum perempuan Baduy yang dulunya begitu privilege dan menjauh dari sorotan lensa kamera kini berubah, wajah mereka tampak nempel di depan lensa kaca TikTok bergaya menirukan layaknya selegram yang kemudian dieksploitasi secara sporadis oleh para pembuat konten.

Mungkinkah perempuan Baduy  berpindah pergaulan.??? Ini Pertanyaan sensitif untuk hari esok perempuan Baduy.

  • Di tulis di Padepokan Sisi Leuit  Perbatasan Baduy,  9 Mei 2026
Tags: AIkecerdasan buatanProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Next Post

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails

Memang Pasar Malam

by Angga Wijaya
May 30, 2026
0
Memang Pasar Malam

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar...

Read moreDetails

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

Read moreDetails

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
0
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai...

Read moreDetails

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

by Afgan Fadilla
May 29, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan...

Read moreDetails

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

by Ahmad Sihabudin
May 28, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

RUANG publik dalam sebuah negara semestinya menjadi tempat di mana akal sehat, etika, dan tanggung jawab bertemu. Ia bukan sekadar...

Read moreDetails
Next Post
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara
Budaya

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

by Satria Aditya
May 31, 2026
Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi
Cerpen

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu
Puisi

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya
Ulas Buku

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
Awas Ada Pocong!
Esai

Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi
Esai

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Wisata Bahari di Negeri Maritim

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

by Chusmeru
May 31, 2026
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan
Esai

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
Membaca Racauan Arman Dhani
Ulas Buku

Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita
Cerpen

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya
Puisi

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co