20 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

Inno Koten by Inno Koten
May 20, 2026
in Ulas Buku
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

Buku 'Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel pendek. Dalam perbincangannya di kanal YouTube Buku Akik, Eka mengakui bahwa naskah awal sebenarnya jauh lebih panjang, lalu dipangkas demi mencapai bentuk cerita yang cepat dan langsung. Pilihan bentuk membuat novel ini dapat dibaca dalam sekali duduk, tapi dengan perpindahan adegan yang begitu cepat.

Di dalam kartu pos yang disisipkan bersama novel, Eka Kurniawan menulis, “Saya berharap kamu terhibur. Jika ia memberimu sedikit pening, bolehlah ambil segelas air, teh, atau kopi. Kalimat ini menjadi penanda harapan dan isyarat kewaspadaan; dan kesannya memang demikian; menghibur sekaligus memeningkan. Ada pengalaman membaca yang cukup berbeda dari novel-novelnya yang terdahulu. Keganjilan terus mengganggu pikiran. Salah satunya adalah teknik penceritaan yang menggabungkan sudut pandang orang pertama dan orang ketiga.

Poros cerita berada dalam kendali Sato Reang, seorang anak laki-laki di Rawa Batu. Di tangan Eka, Sato Reang tampak ‘mengeong dan menggonggong’ ke segala arah dengan keliaran pikiran, juga humor yang masuk akal. Masa kecilnya disesaki oleh kenakalan dan pembangkangan religius, moralitas, yang bahkan itu sudah diwartakan sejak paragraf pertama, “Aku berhenti pergi ke mesjid. Aku berhenti sembahyang. Aku tak lagi mengucapkan doa sebelum tidur. Sato Reang makan menggunakan tangan kiri, bodo amatlah, dan masuk. Jika sedang malas, aku pipis di samping pohon pisang tanpa cebok.”

Akan tetapi, semakin jauh teks bergerak, semakin terasa bahwa di balik pemberontakan Sato Reang, ada sosok lain yang mengatur irama hidupnya. Arah psikis Sato Reang dikendalikan ayahnya. Jejak ayah merambah dalam ruang kesadaran Sato Reang. Maka, setelah halaman terakhir tuntas terbaca, muncul beberapa pertanyaan dalam benak saya. Mengapa Umar Bin Abdul Malik begitu menginginkan Sato Reang menjadi anak yang saleh? Mungkinkah obsesi ini dipengaruhi alasan-alasan lain? Adakah sesuatu yang sengaja disembunyikan Eka di balik sosok ayah?

Setidaknya pertanyaan-pertanyaan inilah yang menggangu saya. Dari sini, saya berusaha menandai rerentuhan yang berserakan di sekitar sosok sosok ayah melalui tiga jalur, disiplin religius, hasrat intelektual dan maskulinitas yang gagal, dan bayang-bayang sejarah dan negara yang membentuk obsesinya terhadap keteraturan sosial dan moral. Ketiganya saling berkelindan hingga diwariskan dalam tubuh dan kesadaran Sato Reang.

Penjinakan Tubuh

Kekuasaan ayah bermula melalui pendisplinan tubuh. Hal itu dimulai dengan episode sunat yang dihadiri oleh ayah dan paman Sato Reang. Dengan rasionalitas kanak-kanak yang jenaka dan logis, Sato Reang menerima sunat karena merasa kulupnya menyerupai kura-kura, aneh, jelek dan menjijikan. Ketakutan menjelang prosedur sunat secara medis diredam melalui pelarian kognitif. Ia menyebutkan fakta-fakta secara acak dan formula matematika. Namun komedi itu segera berakhir ketika suara sang Ayah mengintervensi ruang kesadarannya, “Sudah saatnya kau menjadi anak saleh.”

Kalimat ini menjadi gerbang menuju rezim moral. Tubuhnya dikerangkeng oleh aparatus agama. Sunat menjadi penanda hukum moral atas tubuh. Menjadi saleh berarti menyerahkan kedaulatan atas tubuh sendiri kepada sebuah otoritas eksternal yang transenden. Maka melalui episode sunat Sato Reang, Eka hendak mengajak pembaca untuk menyaksikan transformasi ritus kultural-biologis menjadi momen inaugurasi ideologis.

Pasca sunat, kekuasaan mewujud dalam apa yang disebut Michel Foucault sebagai mikrofisika kekuasan (micro-physics of power). Otoritas sang Ayah menjelma menjadi pengawasan, merambat ke hal yang paling dekat dari keseharian Sato Reang. Tubuh Sato keluar dari ritme organiknya yang bebas dan mulai diarahkan mengikuti ritme moral yang ketat.

Mekanisme ini bekerja melalui serangkaian pendisplinan ruang, waktu dan aktivitas, semisal pemberangusan ruang bermain (adu jangkrik) dan penggorakan bola plastik ungu di depan surau. Tentu ini merupakan simbolisasi dari penolakan kekuasaan terhadap tubuh yang bermain (homo ludens). Ruang profan disublimasikan menjadi ruang sakral (mesjid).

Ayahnya juga mengatur ritme biologis. Perintah untuk sembahyang terus hadir dalam keseharian, bahkan sampai menyentuh wilayah bawah sadar (mimpi). Sebab menjelang subuh, Sato tetap berada dalam pengawasan ketika sang Ayah menggedor pintu kamarnya sambil berteriak, “Bangun Sati, bangun! Sembahyang!” Sementara itu, saat Sato Reang terpaksa mengikuti perintah ayahnya dengan belajar mengaji di rumah, ia selalu diganjar dengan teriakan salah ketika ada huruf yang keliru dilafalkan.

Melalui rutinitas dan represi ini, rasa bersalah diinternalisasi. Kekuasaan tidak lagi membutuhkan kekerasan fisik yang konstan; menetap di dalam kepala Sato Reang. Ayah dalam konteks ini bertindak sebagai perpanjangan tangan dari Aparatus ideologis negara (dalam istilah Louis Althusser), yang mendisplinkan tubuh demi melahirkan subjek yang patuh.

Hasrat Intelektual dan Maskulinitas yang Gagal

Di balik disiplin religius yang ketat, figur ayah sebenarnya tidak pernah bergerak sebagai sosok moralistik utuh. Ada keretakan dan ambigiutas dalam dirinya. Sebabnya, sang Ayah tetap membiarkan Sato Reang membeli dan mengisi teka-teki silang. Detail kecil ini terasa penting. Umar tidak memusuhi dunia pengetahuan modern. Ada relasi yang intim antara dirinya dengan dunia literasi dan pengetahuan.

Relasi tersebut memperoleh bentuk yang lebih jelas ketika Sato Reang menceritakan masa lalu ayahnya. Umar Bin Abdul Malik memiliki taman baca pribadi, menyewakan buku-buku, membaca cerita silat, lalu membeli mesin tik dan mencoba menulis cerita silatnya sendiri. Figur ayah, pada posisi ini bergerak melampaui fungsi domestik sebagai penjaga moral keluarga. Ia adalah representasi subjek modernitas yang hidup di ruang kelas sosial menengah yang rapuh dan terbatas. Dunia silat menyediakan pelarian imajinatif tentang heroisme, kehormatan, dan fantasi maskulintas.

Mula-mulai Sato Reang meragukan cerita tersebut. Ia menanyakan kebenarannya kepada sang ibu, tetapi ibunya tidak mengetahui banyak hal mengenai masa itu. Kepastiannya diperoleh setelah dipertegas oleh paman dan bibinya. Menurut pamannya, sang ayah pernah menyelesaikan naskah setebal dua ratus halaman. Tokoh utamanya seperti percampuran antara pendekar mabuk yang ke mana-mana dituntun oleh seekor monyet peliharaannya. Keraguan. Sato semakin mempercayai cerita pamannya ketika ia mengingat sang ayah membawanya ke tukang cukur langganan di seberang pasar. Di tempat itu, rambut Sato dipangkas dengan model yang hampir tidak pernah berubah, pendek dengan sedikit jembul di bagian depan. 

Dalam konteks budaya Indonesia, cerita silat menyimpan hasrat maskulinitas. Imajinasi terhadap pendekar dipenuhi tubuh laki-laki tangguh, pengembara moral yang yang menjaga kehormatan, dan figur yang memperoleh wibawa melalui disiplin tubuh serta kemampuan mengendalikan diri. Karena itu, keterikatan Umar Bin Abdul Malik terhadap cerita silat bergerak sebagai ambisi literer, sekaligus sebagai usaha membangun kembali citra maskulinitasnya sendiri di tengah kehidupan sosial yang rapuh. Melalui cerita silat seorang laki-laki dapat membayangkan dirinya sebagai sosok yang memiliki otoritas, dihormati dan mampu mengendalikan dunia di sekitarnya.

Namun proyek tersebut berakhir dalam kegagalan. Umar mulai menyadari bahwa cerita yang ditulisnya memiliki kemiripan dengan berbagai cerita silat yang telah dibaca. Ketakutan dianggap menjiplak, Umar membakar naskah silatnya, meski ia terus mencoba menulis hingga percobaan keempat dan kelima. Hanya satu naskah yang selamat dan Umar menyelipkannya di antara buku-buku sewaan taman bacanya dengan harapan ada pembaca yang menyukainya. Harapan itu tidak pernah datang. Taman baca pun perlahan sepi, buku-buku hilang tanpa kembali. Umar mulai meragukan bakatnya sendiri.

Kegagalan literer menjelma luka eksistensial yang dalam. Umar tidak mampu menjadi pengarang, gagal memperoleh legitimasi simbolik, dan batal menemukan jalan mobilitas sosial melalui dunia literasi. Dalam perspektif Jean-Paul Sartre, manusia selalu bergerak melalui proyek masa depannya. Hasrat untuk menjadi sesuatu memberi arah bagi keberadaannya. Ketika proyek runtuh sebelum memperoleh standar keutuhan sosial, maka krisis eksistensial muncul dalam kehampaan. Dunia persilatan bagi Umar akhirnya dapat dibaca sebagai ruang tempat di mana ia mencoba membangun kembali harga diri dan maskulinitasnya.

Energi intelektual yang gagal ini ditransfer ke dalam tubuh Sato Reang (kisah gunting rambut). Umar memindahkan proyek kependekaran yang runtuh ke dalam tubuh anaknya sendiri. Tragedi paling sadis dari keseluruhan proses ini akhirnya mewujud pada nama Sato Reang ketika Umar mendapatkan anak pertamanya. Nama tersebut tidak sekadar berasal dari tokoh utama naskah silat yang gagal diterbitkan. Ada sisa-sisa fantasi kependekaran dan maskulinitas yang tidak pernah mencapai keutuhan. Sato Reang tumbuh dalam ruang percobaan demi melanjutkan impian sang Ayah yang gagal memenuhi hasrat intelektual.

Maka pemberontakan Sato Reang terhadap ayahnya bergerak dalam lingkaran yang sulit diputus. Ia membenci disiplin moral yang diwariskan kepadanya, tetapi seluruh arah pembangkannya tetap ditentukan oleh luka paternal, semisal, begitu sukanya Sato Reang ketika orang lain marah dan menderita. Bahkan setelah ayahnya mati, Umar terus menghantui Sato Reang dalam tubuh dan kesadarannya. Seperti naskah yang lama terbakar, tetapi abunya tetap tetap berterbangan di seluruh ruang hidup anaknya.

Bayang-bayang Sejarah dan Negara

Rentang hidup Umar Bin Abdul Malik, 1941-1991, terasa terlalu spesifik untuk dibaca semata sebagai penanda biologis. Tahun-tahun tersebut menempatkannya dalam lintasan sejarah Indonesia modern yang penuh pergolakan; akhir kolonialisme, pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, pergulatan ideologi pasca-kemerdekaan, tragedi 1965, hingga konsilidasi Orde Baru. Eka Kurniawan memang tidak pernah menjelaskan pengalaman politik Umar Bin Abdul Malik secara langsung. Namun tubuh ayah bisa ditafsir sebagai arsip sejarah yang memikul ingatan kolektif generasinya sendiri.

AMKM menghadirkan sejumlah fragmen kecil tentang ayah, misalnya kedekatannya dengan guru sejarah dan relasinya dengan keluarga Syekh Ruhayat Jamil. Detail-detail tersebut tampak terpisah, tetapi membentuk horizon sejarah yang lebih luas. Kekuasaan Negara merembes ke ruang domestik, mengubah keluarga dan memproduksi ketertiban sosial.  Umar menjadi figur paternalistik yang membawa bayang-bayang sejarah, juga logika negara pada kehidupan sehari-hari.

Jejak sejarah itu terasa kuat ketika Eka Kurniawan menceritakan kematian Umar Bin Abdul malik pada tahun 1991. Dalam suasana pemakaman, Sato Reang menyebut bahwa beberapa guru sekolah turut datang melayat. Salah satu yang hadir adalah guru sejarah, sosok yang disebut Sato dekat dengan ayahnya. Detail ini muncul singkat, hampir lewat begitu saja, namun justru penting. Kehadiran guru sejarah memperlihatkan bahwa figur ayah bergerak di dalam orbit historis tertentu.

Dalam konteks Indonesia modern, sejarah selalu memiliki hubungan erat dengan kekuasaan. Negara membangun narasi resmi tentang stabilitas, pembangunan, ancaman ideologi dan ketertiban sosial melalui pendidikan. Kedetakan tersebut menghadirkan kesan bahwa Umar Bin Abdul Malik hidup di bawah horizon sejarah nasional yang menjadikan keteraturan sebagai prinsip kehidupan. Kesalehan, disiplin, dan kepatuhan moral beriringan dengan kebutuhan menjaga stabilitas sosial. Maka boleh jadi, sosok Umar adalah miniatur paternalistik negara; pengatur tubuh, moral dan keteraturan.

Situasi tersebut membantu menjelaskan mengapa pengawasan ayah terhadap Sato Reang terasa begitu intens. Kesalehan anak bergerak sebagai upaya mempertahankan dunia agar tetap stabil terkendali. Generasi yang tumbuh melewati pergolakan sejarah panjang memang sering memandang keteraturan ssebagai syarat keselamatan hidup. Tubuh anak pun menjadi tempat segala kecemasan sejarah disalurkan. Dalam relasi tersebut, keluarga berubah menjadi perpanjangan tangan dari disiplin sosial yang besar.

Lapisan politik itu kian kuat lewat relasi ayah dan keluarga Syekh Ruhayat Jamil. Piknik keluarga yang dilakukan Umar Bin Abdul Malik ternyata merupakan perjalanan mengikuti pengajian. Di sanalah, untuk pertama kalinya, Sato Reang bertemu Jamal teman sekolah sekaligus tempat pelampiasan dari seluruh pemberontakannya. Jamal adalah anak Kia Maulana, cucu Syekh Ruhayat Jamil. Awalnya informasi ini tampak biasa, hingga Eka Kurniawan kemudian mengungkap bahwa Syekh Ruhayat Jamil ditangkap Kormail karena terhubung dengan Darul Islam di akhir-akhir novel.

Posisi ideologi Umar Bin Abdul Malik memang tidak hadir secara eksplisit. Namun, kedekatannya dengan keluarga Syekh Ruhayat Jamil menghadirkan kemungkinan bahwa ia hidup di sekitar orbit sosial Islam politik pasca-kemerdekaan. Eka Kurniawan tidak memberi jawaban pasti, tetapi meninggalkan serpihan-serpihan yang membuka ruang tafsir mengenai hubungan antara religiusitas, negara, dan trauma politik.  Ada kemungkinan bahwa ia menyimpan kedekatan kultural tertentu terhadap lingkungan Islam politik, lalu memilih menjalani kehidupan domestik yang lebih aman dan stabil. Pilihan tersebut juga memperlihatkan bagaimana negara paternalistik, teristimewa pada masa Orde Baru berhasil mendorong masyarakat untuk mencari keamanan melalui keteraturan keluarga, moralitas, dan kepatuhan sosial.

Posisi ini memperlihatkan sejarah nasional membentuk psikologi keseharian masyarakat biasa. Sosok ayah akhirnya menjadi simpul perjumpaan disiplin negara, agama, dan kecemasan sejarah. Reruntuhan tersebut akhirnya diwariskan kepada Sato Reang. Maka, AMKM melampaui pertentangan antara anak dan ayah. Novel ini dapat dibaca sebagai pewarisan trauma sejarah, tentang negara paternalistik yang merembes masuk ke ruang keluarga, dan tentang manusia yang tumbuh di bawah bayang-bayang narasi paternal yang tidak pernah benar-benar tuntas. [T]

Penulis: Inno Koten
Editor: Adnyana Ole

Tags: Eka KurniawannovelsastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Inno Koten

Inno Koten

Lahir di Flores Timur, pada 16 Agustus 1989. Studi Filsafat IFTK Ledalero (2009-2013). Studi Magister Teologi Kontekstual di IFTK Ledelero (2015-2017). Studi Magister Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2023-2025). Saat ini menjadi pendamping Calon Imam Katolik di Seminari Menengah San Dominggo Hokeng

Related Posts

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius
Tualang

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

by Chusmeru
May 20, 2026
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026
Persona

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Esai

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

by Emi Suy
May 19, 2026
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya
Panggung

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.” Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai...

by Dede Putra Wiguna
May 19, 2026
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’
Khas

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh...

by Asep Kurnia
May 19, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada...

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

Kita telah rajin merekam panggung, tetapi belum cukup serius merekam proses penciptaannya. Menjelang Pesta Kesenian Bali 2026, denyut kesenian Bali...

by I Gusti Made Darma Putra
May 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co