10 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

Inno Koten by Inno Koten
May 20, 2026
in Ulas Buku
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

Buku 'Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel pendek. Dalam perbincangannya di kanal YouTube Buku Akik, Eka mengakui bahwa naskah awal sebenarnya jauh lebih panjang, lalu dipangkas demi mencapai bentuk cerita yang cepat dan langsung. Pilihan bentuk membuat novel ini dapat dibaca dalam sekali duduk, tapi dengan perpindahan adegan yang begitu cepat.

Di dalam kartu pos yang disisipkan bersama novel, Eka Kurniawan menulis, “Saya berharap kamu terhibur. Jika ia memberimu sedikit pening, bolehlah ambil segelas air, teh, atau kopi. Kalimat ini menjadi penanda harapan dan isyarat kewaspadaan; dan kesannya memang demikian; menghibur sekaligus memeningkan. Ada pengalaman membaca yang cukup berbeda dari novel-novelnya yang terdahulu. Keganjilan terus mengganggu pikiran. Salah satunya adalah teknik penceritaan yang menggabungkan sudut pandang orang pertama dan orang ketiga.

Poros cerita berada dalam kendali Sato Reang, seorang anak laki-laki di Rawa Batu. Di tangan Eka, Sato Reang tampak ‘mengeong dan menggonggong’ ke segala arah dengan keliaran pikiran, juga humor yang masuk akal. Masa kecilnya disesaki oleh kenakalan dan pembangkangan religius, moralitas, yang bahkan itu sudah diwartakan sejak paragraf pertama, “Aku berhenti pergi ke mesjid. Aku berhenti sembahyang. Aku tak lagi mengucapkan doa sebelum tidur. Sato Reang makan menggunakan tangan kiri, bodo amatlah, dan masuk. Jika sedang malas, aku pipis di samping pohon pisang tanpa cebok.”

Akan tetapi, semakin jauh teks bergerak, semakin terasa bahwa di balik pemberontakan Sato Reang, ada sosok lain yang mengatur irama hidupnya. Arah psikis Sato Reang dikendalikan ayahnya. Jejak ayah merambah dalam ruang kesadaran Sato Reang. Maka, setelah halaman terakhir tuntas terbaca, muncul beberapa pertanyaan dalam benak saya. Mengapa Umar Bin Abdul Malik begitu menginginkan Sato Reang menjadi anak yang saleh? Mungkinkah obsesi ini dipengaruhi alasan-alasan lain? Adakah sesuatu yang sengaja disembunyikan Eka di balik sosok ayah?

Setidaknya pertanyaan-pertanyaan inilah yang menggangu saya. Dari sini, saya berusaha menandai rerentuhan yang berserakan di sekitar sosok sosok ayah melalui tiga jalur, disiplin religius, hasrat intelektual dan maskulinitas yang gagal, dan bayang-bayang sejarah dan negara yang membentuk obsesinya terhadap keteraturan sosial dan moral. Ketiganya saling berkelindan hingga diwariskan dalam tubuh dan kesadaran Sato Reang.

Penjinakan Tubuh

Kekuasaan ayah bermula melalui pendisplinan tubuh. Hal itu dimulai dengan episode sunat yang dihadiri oleh ayah dan paman Sato Reang. Dengan rasionalitas kanak-kanak yang jenaka dan logis, Sato Reang menerima sunat karena merasa kulupnya menyerupai kura-kura, aneh, jelek dan menjijikan. Ketakutan menjelang prosedur sunat secara medis diredam melalui pelarian kognitif. Ia menyebutkan fakta-fakta secara acak dan formula matematika. Namun komedi itu segera berakhir ketika suara sang Ayah mengintervensi ruang kesadarannya, “Sudah saatnya kau menjadi anak saleh.”

Kalimat ini menjadi gerbang menuju rezim moral. Tubuhnya dikerangkeng oleh aparatus agama. Sunat menjadi penanda hukum moral atas tubuh. Menjadi saleh berarti menyerahkan kedaulatan atas tubuh sendiri kepada sebuah otoritas eksternal yang transenden. Maka melalui episode sunat Sato Reang, Eka hendak mengajak pembaca untuk menyaksikan transformasi ritus kultural-biologis menjadi momen inaugurasi ideologis.

Pasca sunat, kekuasaan mewujud dalam apa yang disebut Michel Foucault sebagai mikrofisika kekuasan (micro-physics of power). Otoritas sang Ayah menjelma menjadi pengawasan, merambat ke hal yang paling dekat dari keseharian Sato Reang. Tubuh Sato keluar dari ritme organiknya yang bebas dan mulai diarahkan mengikuti ritme moral yang ketat.

Mekanisme ini bekerja melalui serangkaian pendisplinan ruang, waktu dan aktivitas, semisal pemberangusan ruang bermain (adu jangkrik) dan penggorakan bola plastik ungu di depan surau. Tentu ini merupakan simbolisasi dari penolakan kekuasaan terhadap tubuh yang bermain (homo ludens). Ruang profan disublimasikan menjadi ruang sakral (mesjid).

Ayahnya juga mengatur ritme biologis. Perintah untuk sembahyang terus hadir dalam keseharian, bahkan sampai menyentuh wilayah bawah sadar (mimpi). Sebab menjelang subuh, Sato tetap berada dalam pengawasan ketika sang Ayah menggedor pintu kamarnya sambil berteriak, “Bangun Sati, bangun! Sembahyang!” Sementara itu, saat Sato Reang terpaksa mengikuti perintah ayahnya dengan belajar mengaji di rumah, ia selalu diganjar dengan teriakan salah ketika ada huruf yang keliru dilafalkan.

Melalui rutinitas dan represi ini, rasa bersalah diinternalisasi. Kekuasaan tidak lagi membutuhkan kekerasan fisik yang konstan; menetap di dalam kepala Sato Reang. Ayah dalam konteks ini bertindak sebagai perpanjangan tangan dari Aparatus ideologis negara (dalam istilah Louis Althusser), yang mendisplinkan tubuh demi melahirkan subjek yang patuh.

Hasrat Intelektual dan Maskulinitas yang Gagal

Di balik disiplin religius yang ketat, figur ayah sebenarnya tidak pernah bergerak sebagai sosok moralistik utuh. Ada keretakan dan ambigiutas dalam dirinya. Sebabnya, sang Ayah tetap membiarkan Sato Reang membeli dan mengisi teka-teki silang. Detail kecil ini terasa penting. Umar tidak memusuhi dunia pengetahuan modern. Ada relasi yang intim antara dirinya dengan dunia literasi dan pengetahuan.

Relasi tersebut memperoleh bentuk yang lebih jelas ketika Sato Reang menceritakan masa lalu ayahnya. Umar Bin Abdul Malik memiliki taman baca pribadi, menyewakan buku-buku, membaca cerita silat, lalu membeli mesin tik dan mencoba menulis cerita silatnya sendiri. Figur ayah, pada posisi ini bergerak melampaui fungsi domestik sebagai penjaga moral keluarga. Ia adalah representasi subjek modernitas yang hidup di ruang kelas sosial menengah yang rapuh dan terbatas. Dunia silat menyediakan pelarian imajinatif tentang heroisme, kehormatan, dan fantasi maskulintas.

Mula-mulai Sato Reang meragukan cerita tersebut. Ia menanyakan kebenarannya kepada sang ibu, tetapi ibunya tidak mengetahui banyak hal mengenai masa itu. Kepastiannya diperoleh setelah dipertegas oleh paman dan bibinya. Menurut pamannya, sang ayah pernah menyelesaikan naskah setebal dua ratus halaman. Tokoh utamanya seperti percampuran antara pendekar mabuk yang ke mana-mana dituntun oleh seekor monyet peliharaannya. Keraguan. Sato semakin mempercayai cerita pamannya ketika ia mengingat sang ayah membawanya ke tukang cukur langganan di seberang pasar. Di tempat itu, rambut Sato dipangkas dengan model yang hampir tidak pernah berubah, pendek dengan sedikit jembul di bagian depan. 

Dalam konteks budaya Indonesia, cerita silat menyimpan hasrat maskulinitas. Imajinasi terhadap pendekar dipenuhi tubuh laki-laki tangguh, pengembara moral yang yang menjaga kehormatan, dan figur yang memperoleh wibawa melalui disiplin tubuh serta kemampuan mengendalikan diri. Karena itu, keterikatan Umar Bin Abdul Malik terhadap cerita silat bergerak sebagai ambisi literer, sekaligus sebagai usaha membangun kembali citra maskulinitasnya sendiri di tengah kehidupan sosial yang rapuh. Melalui cerita silat seorang laki-laki dapat membayangkan dirinya sebagai sosok yang memiliki otoritas, dihormati dan mampu mengendalikan dunia di sekitarnya.

Namun proyek tersebut berakhir dalam kegagalan. Umar mulai menyadari bahwa cerita yang ditulisnya memiliki kemiripan dengan berbagai cerita silat yang telah dibaca. Ketakutan dianggap menjiplak, Umar membakar naskah silatnya, meski ia terus mencoba menulis hingga percobaan keempat dan kelima. Hanya satu naskah yang selamat dan Umar menyelipkannya di antara buku-buku sewaan taman bacanya dengan harapan ada pembaca yang menyukainya. Harapan itu tidak pernah datang. Taman baca pun perlahan sepi, buku-buku hilang tanpa kembali. Umar mulai meragukan bakatnya sendiri.

Kegagalan literer menjelma luka eksistensial yang dalam. Umar tidak mampu menjadi pengarang, gagal memperoleh legitimasi simbolik, dan batal menemukan jalan mobilitas sosial melalui dunia literasi. Dalam perspektif Jean-Paul Sartre, manusia selalu bergerak melalui proyek masa depannya. Hasrat untuk menjadi sesuatu memberi arah bagi keberadaannya. Ketika proyek runtuh sebelum memperoleh standar keutuhan sosial, maka krisis eksistensial muncul dalam kehampaan. Dunia persilatan bagi Umar akhirnya dapat dibaca sebagai ruang tempat di mana ia mencoba membangun kembali harga diri dan maskulinitasnya.

Energi intelektual yang gagal ini ditransfer ke dalam tubuh Sato Reang (kisah gunting rambut). Umar memindahkan proyek kependekaran yang runtuh ke dalam tubuh anaknya sendiri. Tragedi paling sadis dari keseluruhan proses ini akhirnya mewujud pada nama Sato Reang ketika Umar mendapatkan anak pertamanya. Nama tersebut tidak sekadar berasal dari tokoh utama naskah silat yang gagal diterbitkan. Ada sisa-sisa fantasi kependekaran dan maskulinitas yang tidak pernah mencapai keutuhan. Sato Reang tumbuh dalam ruang percobaan demi melanjutkan impian sang Ayah yang gagal memenuhi hasrat intelektual.

Maka pemberontakan Sato Reang terhadap ayahnya bergerak dalam lingkaran yang sulit diputus. Ia membenci disiplin moral yang diwariskan kepadanya, tetapi seluruh arah pembangkannya tetap ditentukan oleh luka paternal, semisal, begitu sukanya Sato Reang ketika orang lain marah dan menderita. Bahkan setelah ayahnya mati, Umar terus menghantui Sato Reang dalam tubuh dan kesadarannya. Seperti naskah yang lama terbakar, tetapi abunya tetap tetap berterbangan di seluruh ruang hidup anaknya.

Bayang-bayang Sejarah dan Negara

Rentang hidup Umar Bin Abdul Malik, 1941-1991, terasa terlalu spesifik untuk dibaca semata sebagai penanda biologis. Tahun-tahun tersebut menempatkannya dalam lintasan sejarah Indonesia modern yang penuh pergolakan; akhir kolonialisme, pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, pergulatan ideologi pasca-kemerdekaan, tragedi 1965, hingga konsilidasi Orde Baru. Eka Kurniawan memang tidak pernah menjelaskan pengalaman politik Umar Bin Abdul Malik secara langsung. Namun tubuh ayah bisa ditafsir sebagai arsip sejarah yang memikul ingatan kolektif generasinya sendiri.

AMKM menghadirkan sejumlah fragmen kecil tentang ayah, misalnya kedekatannya dengan guru sejarah dan relasinya dengan keluarga Syekh Ruhayat Jamil. Detail-detail tersebut tampak terpisah, tetapi membentuk horizon sejarah yang lebih luas. Kekuasaan Negara merembes ke ruang domestik, mengubah keluarga dan memproduksi ketertiban sosial.  Umar menjadi figur paternalistik yang membawa bayang-bayang sejarah, juga logika negara pada kehidupan sehari-hari.

Jejak sejarah itu terasa kuat ketika Eka Kurniawan menceritakan kematian Umar Bin Abdul malik pada tahun 1991. Dalam suasana pemakaman, Sato Reang menyebut bahwa beberapa guru sekolah turut datang melayat. Salah satu yang hadir adalah guru sejarah, sosok yang disebut Sato dekat dengan ayahnya. Detail ini muncul singkat, hampir lewat begitu saja, namun justru penting. Kehadiran guru sejarah memperlihatkan bahwa figur ayah bergerak di dalam orbit historis tertentu.

Dalam konteks Indonesia modern, sejarah selalu memiliki hubungan erat dengan kekuasaan. Negara membangun narasi resmi tentang stabilitas, pembangunan, ancaman ideologi dan ketertiban sosial melalui pendidikan. Kedetakan tersebut menghadirkan kesan bahwa Umar Bin Abdul Malik hidup di bawah horizon sejarah nasional yang menjadikan keteraturan sebagai prinsip kehidupan. Kesalehan, disiplin, dan kepatuhan moral beriringan dengan kebutuhan menjaga stabilitas sosial. Maka boleh jadi, sosok Umar adalah miniatur paternalistik negara; pengatur tubuh, moral dan keteraturan.

Situasi tersebut membantu menjelaskan mengapa pengawasan ayah terhadap Sato Reang terasa begitu intens. Kesalehan anak bergerak sebagai upaya mempertahankan dunia agar tetap stabil terkendali. Generasi yang tumbuh melewati pergolakan sejarah panjang memang sering memandang keteraturan ssebagai syarat keselamatan hidup. Tubuh anak pun menjadi tempat segala kecemasan sejarah disalurkan. Dalam relasi tersebut, keluarga berubah menjadi perpanjangan tangan dari disiplin sosial yang besar.

Lapisan politik itu kian kuat lewat relasi ayah dan keluarga Syekh Ruhayat Jamil. Piknik keluarga yang dilakukan Umar Bin Abdul Malik ternyata merupakan perjalanan mengikuti pengajian. Di sanalah, untuk pertama kalinya, Sato Reang bertemu Jamal teman sekolah sekaligus tempat pelampiasan dari seluruh pemberontakannya. Jamal adalah anak Kia Maulana, cucu Syekh Ruhayat Jamil. Awalnya informasi ini tampak biasa, hingga Eka Kurniawan kemudian mengungkap bahwa Syekh Ruhayat Jamil ditangkap Kormail karena terhubung dengan Darul Islam di akhir-akhir novel.

Posisi ideologi Umar Bin Abdul Malik memang tidak hadir secara eksplisit. Namun, kedekatannya dengan keluarga Syekh Ruhayat Jamil menghadirkan kemungkinan bahwa ia hidup di sekitar orbit sosial Islam politik pasca-kemerdekaan. Eka Kurniawan tidak memberi jawaban pasti, tetapi meninggalkan serpihan-serpihan yang membuka ruang tafsir mengenai hubungan antara religiusitas, negara, dan trauma politik.  Ada kemungkinan bahwa ia menyimpan kedekatan kultural tertentu terhadap lingkungan Islam politik, lalu memilih menjalani kehidupan domestik yang lebih aman dan stabil. Pilihan tersebut juga memperlihatkan bagaimana negara paternalistik, teristimewa pada masa Orde Baru berhasil mendorong masyarakat untuk mencari keamanan melalui keteraturan keluarga, moralitas, dan kepatuhan sosial.

Posisi ini memperlihatkan sejarah nasional membentuk psikologi keseharian masyarakat biasa. Sosok ayah akhirnya menjadi simpul perjumpaan disiplin negara, agama, dan kecemasan sejarah. Reruntuhan tersebut akhirnya diwariskan kepada Sato Reang. Maka, AMKM melampaui pertentangan antara anak dan ayah. Novel ini dapat dibaca sebagai pewarisan trauma sejarah, tentang negara paternalistik yang merembes masuk ke ruang keluarga, dan tentang manusia yang tumbuh di bawah bayang-bayang narasi paternal yang tidak pernah benar-benar tuntas. [T]

Penulis: Inno Koten
Editor: Adnyana Ole

Tags: Eka KurniawannovelsastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Next Post

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Inno Koten

Inno Koten

Lahir di Flores Timur, pada 16 Agustus 1989. Studi Filsafat IFTK Ledalero (2009-2013). Studi Magister Teologi Kontekstual di IFTK Ledelero (2015-2017). Studi Magister Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2023-2025). Saat ini menjadi pendamping Calon Imam Katolik di Seminari Menengah San Dominggo Hokeng

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails
Next Post
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika 'Tresna Ngatos Mati' lewat Filosofi Smaradhana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan
Tualang

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”
Budaya

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

KEMENTERIAN Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya berkolaborasi dengan Buruan.co menggelar program bertajuk “MTN Presentasi: Buruan.co...

by tatkala
August 10, 2026
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital
Esai

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan
Bahasa

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

by I Made Sudiana
August 9, 2026
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman
Khas

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co