22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

Inno Koten by Inno Koten
May 20, 2026
in Ulas Buku
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

Buku 'Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel pendek. Dalam perbincangannya di kanal YouTube Buku Akik, Eka mengakui bahwa naskah awal sebenarnya jauh lebih panjang, lalu dipangkas demi mencapai bentuk cerita yang cepat dan langsung. Pilihan bentuk membuat novel ini dapat dibaca dalam sekali duduk, tapi dengan perpindahan adegan yang begitu cepat.

Di dalam kartu pos yang disisipkan bersama novel, Eka Kurniawan menulis, “Saya berharap kamu terhibur. Jika ia memberimu sedikit pening, bolehlah ambil segelas air, teh, atau kopi. Kalimat ini menjadi penanda harapan dan isyarat kewaspadaan; dan kesannya memang demikian; menghibur sekaligus memeningkan. Ada pengalaman membaca yang cukup berbeda dari novel-novelnya yang terdahulu. Keganjilan terus mengganggu pikiran. Salah satunya adalah teknik penceritaan yang menggabungkan sudut pandang orang pertama dan orang ketiga.

Poros cerita berada dalam kendali Sato Reang, seorang anak laki-laki di Rawa Batu. Di tangan Eka, Sato Reang tampak ‘mengeong dan menggonggong’ ke segala arah dengan keliaran pikiran, juga humor yang masuk akal. Masa kecilnya disesaki oleh kenakalan dan pembangkangan religius, moralitas, yang bahkan itu sudah diwartakan sejak paragraf pertama, “Aku berhenti pergi ke mesjid. Aku berhenti sembahyang. Aku tak lagi mengucapkan doa sebelum tidur. Sato Reang makan menggunakan tangan kiri, bodo amatlah, dan masuk. Jika sedang malas, aku pipis di samping pohon pisang tanpa cebok.”

Akan tetapi, semakin jauh teks bergerak, semakin terasa bahwa di balik pemberontakan Sato Reang, ada sosok lain yang mengatur irama hidupnya. Arah psikis Sato Reang dikendalikan ayahnya. Jejak ayah merambah dalam ruang kesadaran Sato Reang. Maka, setelah halaman terakhir tuntas terbaca, muncul beberapa pertanyaan dalam benak saya. Mengapa Umar Bin Abdul Malik begitu menginginkan Sato Reang menjadi anak yang saleh? Mungkinkah obsesi ini dipengaruhi alasan-alasan lain? Adakah sesuatu yang sengaja disembunyikan Eka di balik sosok ayah?

Setidaknya pertanyaan-pertanyaan inilah yang menggangu saya. Dari sini, saya berusaha menandai rerentuhan yang berserakan di sekitar sosok sosok ayah melalui tiga jalur, disiplin religius, hasrat intelektual dan maskulinitas yang gagal, dan bayang-bayang sejarah dan negara yang membentuk obsesinya terhadap keteraturan sosial dan moral. Ketiganya saling berkelindan hingga diwariskan dalam tubuh dan kesadaran Sato Reang.

Penjinakan Tubuh

Kekuasaan ayah bermula melalui pendisplinan tubuh. Hal itu dimulai dengan episode sunat yang dihadiri oleh ayah dan paman Sato Reang. Dengan rasionalitas kanak-kanak yang jenaka dan logis, Sato Reang menerima sunat karena merasa kulupnya menyerupai kura-kura, aneh, jelek dan menjijikan. Ketakutan menjelang prosedur sunat secara medis diredam melalui pelarian kognitif. Ia menyebutkan fakta-fakta secara acak dan formula matematika. Namun komedi itu segera berakhir ketika suara sang Ayah mengintervensi ruang kesadarannya, “Sudah saatnya kau menjadi anak saleh.”

Kalimat ini menjadi gerbang menuju rezim moral. Tubuhnya dikerangkeng oleh aparatus agama. Sunat menjadi penanda hukum moral atas tubuh. Menjadi saleh berarti menyerahkan kedaulatan atas tubuh sendiri kepada sebuah otoritas eksternal yang transenden. Maka melalui episode sunat Sato Reang, Eka hendak mengajak pembaca untuk menyaksikan transformasi ritus kultural-biologis menjadi momen inaugurasi ideologis.

Pasca sunat, kekuasaan mewujud dalam apa yang disebut Michel Foucault sebagai mikrofisika kekuasan (micro-physics of power). Otoritas sang Ayah menjelma menjadi pengawasan, merambat ke hal yang paling dekat dari keseharian Sato Reang. Tubuh Sato keluar dari ritme organiknya yang bebas dan mulai diarahkan mengikuti ritme moral yang ketat.

Mekanisme ini bekerja melalui serangkaian pendisplinan ruang, waktu dan aktivitas, semisal pemberangusan ruang bermain (adu jangkrik) dan penggorakan bola plastik ungu di depan surau. Tentu ini merupakan simbolisasi dari penolakan kekuasaan terhadap tubuh yang bermain (homo ludens). Ruang profan disublimasikan menjadi ruang sakral (mesjid).

Ayahnya juga mengatur ritme biologis. Perintah untuk sembahyang terus hadir dalam keseharian, bahkan sampai menyentuh wilayah bawah sadar (mimpi). Sebab menjelang subuh, Sato tetap berada dalam pengawasan ketika sang Ayah menggedor pintu kamarnya sambil berteriak, “Bangun Sati, bangun! Sembahyang!” Sementara itu, saat Sato Reang terpaksa mengikuti perintah ayahnya dengan belajar mengaji di rumah, ia selalu diganjar dengan teriakan salah ketika ada huruf yang keliru dilafalkan.

Melalui rutinitas dan represi ini, rasa bersalah diinternalisasi. Kekuasaan tidak lagi membutuhkan kekerasan fisik yang konstan; menetap di dalam kepala Sato Reang. Ayah dalam konteks ini bertindak sebagai perpanjangan tangan dari Aparatus ideologis negara (dalam istilah Louis Althusser), yang mendisplinkan tubuh demi melahirkan subjek yang patuh.

Hasrat Intelektual dan Maskulinitas yang Gagal

Di balik disiplin religius yang ketat, figur ayah sebenarnya tidak pernah bergerak sebagai sosok moralistik utuh. Ada keretakan dan ambigiutas dalam dirinya. Sebabnya, sang Ayah tetap membiarkan Sato Reang membeli dan mengisi teka-teki silang. Detail kecil ini terasa penting. Umar tidak memusuhi dunia pengetahuan modern. Ada relasi yang intim antara dirinya dengan dunia literasi dan pengetahuan.

Relasi tersebut memperoleh bentuk yang lebih jelas ketika Sato Reang menceritakan masa lalu ayahnya. Umar Bin Abdul Malik memiliki taman baca pribadi, menyewakan buku-buku, membaca cerita silat, lalu membeli mesin tik dan mencoba menulis cerita silatnya sendiri. Figur ayah, pada posisi ini bergerak melampaui fungsi domestik sebagai penjaga moral keluarga. Ia adalah representasi subjek modernitas yang hidup di ruang kelas sosial menengah yang rapuh dan terbatas. Dunia silat menyediakan pelarian imajinatif tentang heroisme, kehormatan, dan fantasi maskulintas.

Mula-mulai Sato Reang meragukan cerita tersebut. Ia menanyakan kebenarannya kepada sang ibu, tetapi ibunya tidak mengetahui banyak hal mengenai masa itu. Kepastiannya diperoleh setelah dipertegas oleh paman dan bibinya. Menurut pamannya, sang ayah pernah menyelesaikan naskah setebal dua ratus halaman. Tokoh utamanya seperti percampuran antara pendekar mabuk yang ke mana-mana dituntun oleh seekor monyet peliharaannya. Keraguan. Sato semakin mempercayai cerita pamannya ketika ia mengingat sang ayah membawanya ke tukang cukur langganan di seberang pasar. Di tempat itu, rambut Sato dipangkas dengan model yang hampir tidak pernah berubah, pendek dengan sedikit jembul di bagian depan. 

Dalam konteks budaya Indonesia, cerita silat menyimpan hasrat maskulinitas. Imajinasi terhadap pendekar dipenuhi tubuh laki-laki tangguh, pengembara moral yang yang menjaga kehormatan, dan figur yang memperoleh wibawa melalui disiplin tubuh serta kemampuan mengendalikan diri. Karena itu, keterikatan Umar Bin Abdul Malik terhadap cerita silat bergerak sebagai ambisi literer, sekaligus sebagai usaha membangun kembali citra maskulinitasnya sendiri di tengah kehidupan sosial yang rapuh. Melalui cerita silat seorang laki-laki dapat membayangkan dirinya sebagai sosok yang memiliki otoritas, dihormati dan mampu mengendalikan dunia di sekitarnya.

Namun proyek tersebut berakhir dalam kegagalan. Umar mulai menyadari bahwa cerita yang ditulisnya memiliki kemiripan dengan berbagai cerita silat yang telah dibaca. Ketakutan dianggap menjiplak, Umar membakar naskah silatnya, meski ia terus mencoba menulis hingga percobaan keempat dan kelima. Hanya satu naskah yang selamat dan Umar menyelipkannya di antara buku-buku sewaan taman bacanya dengan harapan ada pembaca yang menyukainya. Harapan itu tidak pernah datang. Taman baca pun perlahan sepi, buku-buku hilang tanpa kembali. Umar mulai meragukan bakatnya sendiri.

Kegagalan literer menjelma luka eksistensial yang dalam. Umar tidak mampu menjadi pengarang, gagal memperoleh legitimasi simbolik, dan batal menemukan jalan mobilitas sosial melalui dunia literasi. Dalam perspektif Jean-Paul Sartre, manusia selalu bergerak melalui proyek masa depannya. Hasrat untuk menjadi sesuatu memberi arah bagi keberadaannya. Ketika proyek runtuh sebelum memperoleh standar keutuhan sosial, maka krisis eksistensial muncul dalam kehampaan. Dunia persilatan bagi Umar akhirnya dapat dibaca sebagai ruang tempat di mana ia mencoba membangun kembali harga diri dan maskulinitasnya.

Energi intelektual yang gagal ini ditransfer ke dalam tubuh Sato Reang (kisah gunting rambut). Umar memindahkan proyek kependekaran yang runtuh ke dalam tubuh anaknya sendiri. Tragedi paling sadis dari keseluruhan proses ini akhirnya mewujud pada nama Sato Reang ketika Umar mendapatkan anak pertamanya. Nama tersebut tidak sekadar berasal dari tokoh utama naskah silat yang gagal diterbitkan. Ada sisa-sisa fantasi kependekaran dan maskulinitas yang tidak pernah mencapai keutuhan. Sato Reang tumbuh dalam ruang percobaan demi melanjutkan impian sang Ayah yang gagal memenuhi hasrat intelektual.

Maka pemberontakan Sato Reang terhadap ayahnya bergerak dalam lingkaran yang sulit diputus. Ia membenci disiplin moral yang diwariskan kepadanya, tetapi seluruh arah pembangkannya tetap ditentukan oleh luka paternal, semisal, begitu sukanya Sato Reang ketika orang lain marah dan menderita. Bahkan setelah ayahnya mati, Umar terus menghantui Sato Reang dalam tubuh dan kesadarannya. Seperti naskah yang lama terbakar, tetapi abunya tetap tetap berterbangan di seluruh ruang hidup anaknya.

Bayang-bayang Sejarah dan Negara

Rentang hidup Umar Bin Abdul Malik, 1941-1991, terasa terlalu spesifik untuk dibaca semata sebagai penanda biologis. Tahun-tahun tersebut menempatkannya dalam lintasan sejarah Indonesia modern yang penuh pergolakan; akhir kolonialisme, pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, pergulatan ideologi pasca-kemerdekaan, tragedi 1965, hingga konsilidasi Orde Baru. Eka Kurniawan memang tidak pernah menjelaskan pengalaman politik Umar Bin Abdul Malik secara langsung. Namun tubuh ayah bisa ditafsir sebagai arsip sejarah yang memikul ingatan kolektif generasinya sendiri.

AMKM menghadirkan sejumlah fragmen kecil tentang ayah, misalnya kedekatannya dengan guru sejarah dan relasinya dengan keluarga Syekh Ruhayat Jamil. Detail-detail tersebut tampak terpisah, tetapi membentuk horizon sejarah yang lebih luas. Kekuasaan Negara merembes ke ruang domestik, mengubah keluarga dan memproduksi ketertiban sosial.  Umar menjadi figur paternalistik yang membawa bayang-bayang sejarah, juga logika negara pada kehidupan sehari-hari.

Jejak sejarah itu terasa kuat ketika Eka Kurniawan menceritakan kematian Umar Bin Abdul malik pada tahun 1991. Dalam suasana pemakaman, Sato Reang menyebut bahwa beberapa guru sekolah turut datang melayat. Salah satu yang hadir adalah guru sejarah, sosok yang disebut Sato dekat dengan ayahnya. Detail ini muncul singkat, hampir lewat begitu saja, namun justru penting. Kehadiran guru sejarah memperlihatkan bahwa figur ayah bergerak di dalam orbit historis tertentu.

Dalam konteks Indonesia modern, sejarah selalu memiliki hubungan erat dengan kekuasaan. Negara membangun narasi resmi tentang stabilitas, pembangunan, ancaman ideologi dan ketertiban sosial melalui pendidikan. Kedetakan tersebut menghadirkan kesan bahwa Umar Bin Abdul Malik hidup di bawah horizon sejarah nasional yang menjadikan keteraturan sebagai prinsip kehidupan. Kesalehan, disiplin, dan kepatuhan moral beriringan dengan kebutuhan menjaga stabilitas sosial. Maka boleh jadi, sosok Umar adalah miniatur paternalistik negara; pengatur tubuh, moral dan keteraturan.

Situasi tersebut membantu menjelaskan mengapa pengawasan ayah terhadap Sato Reang terasa begitu intens. Kesalehan anak bergerak sebagai upaya mempertahankan dunia agar tetap stabil terkendali. Generasi yang tumbuh melewati pergolakan sejarah panjang memang sering memandang keteraturan ssebagai syarat keselamatan hidup. Tubuh anak pun menjadi tempat segala kecemasan sejarah disalurkan. Dalam relasi tersebut, keluarga berubah menjadi perpanjangan tangan dari disiplin sosial yang besar.

Lapisan politik itu kian kuat lewat relasi ayah dan keluarga Syekh Ruhayat Jamil. Piknik keluarga yang dilakukan Umar Bin Abdul Malik ternyata merupakan perjalanan mengikuti pengajian. Di sanalah, untuk pertama kalinya, Sato Reang bertemu Jamal teman sekolah sekaligus tempat pelampiasan dari seluruh pemberontakannya. Jamal adalah anak Kia Maulana, cucu Syekh Ruhayat Jamil. Awalnya informasi ini tampak biasa, hingga Eka Kurniawan kemudian mengungkap bahwa Syekh Ruhayat Jamil ditangkap Kormail karena terhubung dengan Darul Islam di akhir-akhir novel.

Posisi ideologi Umar Bin Abdul Malik memang tidak hadir secara eksplisit. Namun, kedekatannya dengan keluarga Syekh Ruhayat Jamil menghadirkan kemungkinan bahwa ia hidup di sekitar orbit sosial Islam politik pasca-kemerdekaan. Eka Kurniawan tidak memberi jawaban pasti, tetapi meninggalkan serpihan-serpihan yang membuka ruang tafsir mengenai hubungan antara religiusitas, negara, dan trauma politik.  Ada kemungkinan bahwa ia menyimpan kedekatan kultural tertentu terhadap lingkungan Islam politik, lalu memilih menjalani kehidupan domestik yang lebih aman dan stabil. Pilihan tersebut juga memperlihatkan bagaimana negara paternalistik, teristimewa pada masa Orde Baru berhasil mendorong masyarakat untuk mencari keamanan melalui keteraturan keluarga, moralitas, dan kepatuhan sosial.

Posisi ini memperlihatkan sejarah nasional membentuk psikologi keseharian masyarakat biasa. Sosok ayah akhirnya menjadi simpul perjumpaan disiplin negara, agama, dan kecemasan sejarah. Reruntuhan tersebut akhirnya diwariskan kepada Sato Reang. Maka, AMKM melampaui pertentangan antara anak dan ayah. Novel ini dapat dibaca sebagai pewarisan trauma sejarah, tentang negara paternalistik yang merembes masuk ke ruang keluarga, dan tentang manusia yang tumbuh di bawah bayang-bayang narasi paternal yang tidak pernah benar-benar tuntas. [T]

Penulis: Inno Koten
Editor: Adnyana Ole

Tags: Eka KurniawannovelsastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Next Post

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Inno Koten

Inno Koten

Lahir di Flores Timur, pada 16 Agustus 1989. Studi Filsafat IFTK Ledalero (2009-2013). Studi Magister Teologi Kontekstual di IFTK Ledelero (2015-2017). Studi Magister Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2023-2025). Saat ini menjadi pendamping Calon Imam Katolik di Seminari Menengah San Dominggo Hokeng

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika 'Tresna Ngatos Mati' lewat Filosofi Smaradhana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co