18 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sugianto Membongkar Bali

Wayan Esa Bhaskara by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
in Ulas Buku
Sugianto Membongkar Bali

Buku kumpulan cerpen Aib

  • Judul Buku    : Aib
  • Penulis          : I Made Sugianto
  • Penerbit        : Pustaka Ekspresi
  • Cetakan         : Pertama, Januari 2026
  • Tebal              : 103 halaman
  • ISBN               : 978-634-7225-55-9

I Made Sugianto membuka kumpulan cerpen Aib dengan cerpen berjudul sama dengan judul bukunya. Cerpen pertama yang konon ditulis dua puluh enam tahun lalu merupakan cerpen pertamanya yang menggunakan Bahasa Indonesia. Secara strategi penceritaan memang layaknya cerpen pertama. Untuk sebelas cerpen berikutnya, barulah terlihat kematangan bercerita. Meski bisa dikatakan, Aib merupakan cerpen yang paling buruk bagi saya. Akan tetapi, bagi saya cerpen inilah yang menjadi pijakan penting bagi seluruh isi buku kumpulan ini. Sugianto membongkar Bali, serta memaparkan ‘aib’ Bali melalui 12 cerpen yang ada di dalamnya.

Saya katakan aib sebab mengangkat bagian-bagian Bali yang mungkin saja bagi sebagian orang sengaja disembunyikan untuk menjaga ‘wajah’ Bali. Menulis cerpen-cerpen demikian tentu ada riset sebelumnya. Bahkan, isu yang diangkat masih begitu relevan hingga hari ini. Pembaca sudah ‘diteror’ sejak cerpen pertama, Aib (hal 1). Kita diajak mendengarkan kisah Devi, tokoh utama yang depresi lalu gantung diri. Setelah tidak kuat menanggung segala ‘dosa’ yang disematkan kepadanya. Ia dituntut untuk aborsi janin yang ada di perutnya oleh ayahnya sendiri. Oleh ayahnya, yang memiliki karakter keras, menganggap anaknya telah melanggar agama dan norma. Pandangan aborsi dari tokoh ayah, tentu atas dasar norma dan moral yang digunakan bukan kemanusiaan. Topik depresi atau kesehatan mental sudah ada dan masih terjadi di Bali. ‘Devi membongkar lemari. Selendang warna putih digenggamnya. Pintu kamar dikunci rapat. Sehelai selendang dililitkan. Matanya memejam.’

Pada cerpen-cerpen berikutnya, Sugianto kembali menyajikan kisah-kisah pilu nan lucu yang hadir dalam kehidupan sehari-hari orang Bali. Cerpen ‘Balian Sakti’ (hal 6) dan ‘Kajeng Kliwon’ (hal 36) menceritakan perihal fenomena pengobatan tradisional yang masih diyakini serta keberadaan dukun versi Bali yang masih eksis hingga hari ini. Memang, fakta masih adanya balian di tengah begitu majunya peralatan medis menunjukkan bahwa kearifan lokal di Bali masih terjaga. Melalui tokoh balian pada dua cerpen tesebut suasana dan plot terbentuk. Ending yang humorin sekaligus kritis pada cerpen ‘Balian Sakti’ menjadi daya tarik tersendiri. ‘Made kau lihat di pintu masuk kantor itu, di sanalah letak kekuatan itu. Ia seakan mengejek kita’

 Hanya saja cerpen-cerpen di kumpulan ini minim dialog, maupun interaksi dalam suatu peristiwa. Pernak-pernik kehidupan masyarkaat Bali disajikan dengan gamblang. Kita diajak seperti mendengarkan orang tua sedang bercerita. Cerita menjadi pelan namun bagi sebagian pembaca akan menemukan kenikmatan tersendiri.

Ada pula berdebatan tentang tradisi pada cerpen ‘Krematorium’ (hal 45) dan ‘Ngaben Sederhana’ (hal 51). Cerpen ini menggambarkan pro dan kontra masyarakat tentang melaksanakan upacara Yadnya. Debat yang tidak akan ada ujung pangkalnya sebab masih adanya dua pemikiran yang berseberangan; konservatif dan adaptif. Topik yang diambil, meski bukan jadi yang pertama dengan tema serupa diolah dengan baik oleh Sugianto. Cerpen ini ditutup dengan kalimat tokoh Ibu yang bernas. ‘Jika tidak dapat restu dari Siwa, kita pamit dan cari Siwa yang lain.’ Kalimat yang membuat semua tokoh terkejut, dan saya sebagai pembaca seperti mendapat sebuah jalan keluar dari benang kusut pelaksanaan ngaben selama ini. Bali seharusnya memang tidak disajikan hanya dalam bingkai ‘yang baik-baik’ saja. Cerpenis Made Sugianto berani ‘membongkar Bali’ dalam buku terbarunya, sekaligus buku kumpulan cerpen berbahasa Indonesia pertamanya ini.

Pada cerpen ‘Biarkan Saya Tetap Tinggal di Rumah’ (hal 12) cukup menohok sebab menyajikan fenomena tradisi yang kuat diakhiri dengan ending tak terduga. Dalam perihal ending, Sugianto memang juaranya. Cerpen ini menghadirkan fenomena menikah nyentana dan budaya patriarki yang kuat pada masyarakat Bali. Tokoh Luh Putu (Aku), memutuskan untuk menikah dengan cara nyentana meskipun telah memiliki kakak laki-laki sebagai pewaris, sebagaimana tradisi dan kebiasaan masyarakat Bali. Selain itu, isu yang menarik lain pada cerpen ini adalah pasangan yang berbeda budaya dan latar belakang. Sebagaimana cerita-cerita lain yang bermotif sama, cerpen-cerpen pada Aib tidak terjebak pada wilayah normatif-konvensional.

Dalam pengantar di buku ini, Sugianto berharap agar buku kumpulan cerpen Aib bermanfaat, selain memperluas wawasan, Memang benar adanya, bagi saya cerpen-cerpen ini akan menjadi arsip bagi masyarakat. Ciri khas Sugianto pada cerpen di kumpulan ini tetap dipertahankan yaitu muncul sisi humor serta tetap berdaya kritis. Untungnya juga, ia tidak terjebak pada penceritaan monoton. Misalnya menumpuk narasi atau bahkan menambahkan koda di sana-sini.

Membaca Aib, seperti diajak mendengar narator yang serba tahu. Sebab dominasi dilakukan narator baik dalam memperkenalkan karakter tokoh serta membangun suasana. Meski begitu, tetap ada kenikmatan sendiri dengan format penceritaan seperti ini. Hal ini karena, cerita bukan hanya apa (isi, substansi) yang terjadi, melainkan bagaimana (strategi, mekanisme dia diceritakan). Meskipun dalam beberapa cerpen, terasa sangat panjang ditambah akhir cerita yang menggantung. Beruntung pada cerpen ‘Guru Abdi’ (hal 28), ‘Made Jadi Hakim’ (hal 58), ‘Salah Tangkap’ (hal 67), dan ‘Tumbal Politik’ (hal 80) tidak kehilangan daya kritisnya.

Cerpen ‘Guru Abdi’ adalah fenomena kusut pendidikan yang bahkan hingga detik inipun belum terselesaikan. Cerpen ini diakhiri dengan kalimat dari tokoh Kepala Sekolah. ‘’Jika Kadek tetap mengajar di sini, bapak kena mutasi!’ begitu kira-kira. Hal yang diambil kepala sekolah setelah mendapatkan intimidasi/intervensi dari pimpinan. Melalui bahasa yang lugas, suasana dan adegan di dalamnya tetap hidup. Sugianto cukup berhasil membuat cerpen-cerpen ini menarik untuk dibaca. Selain itu, aib yang diangkat dalam kumpulan cerpen ini sangat layak kemudian menjadi arsip. Bahwa kehidupan masyarakat Bali pernah seperti ini dan masih seperti ini. [T]

Penulis: Wayan Esa Bhaskara
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bukubuku cerpenCerpenMade SugiantoPustaka EkspresiSastra Indonesiasastra indonesia di Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka ‘Kasanga Festival 2026’

Next Post

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

Wayan Esa Bhaskara

Wayan Esa Bhaskara

Menulis esai, puisi, dan cerpen disela-sela pekerjaannya sebagai guru

Related Posts

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails
Next Post
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

Desember yang Tak Pernah Usai ---Catatan Harian 1982

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye
Ulas Buku

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

by Azwar
July 17, 2026
“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia
Panggung

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

MALAM itu Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi penonton dari berbagai penjuru. Kamis, 16 Juli 2026, kursi-kursi tribun tak...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia
Panggung

“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

GELAK tawa pecah bahkan sebelum adegan pertama benar-benar usai. Di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu malam, 15 Juli 2026,...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif
Panggung

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co