16 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sugianto Membongkar Bali

Wayan Esa Bhaskara by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
in Ulas Buku
Sugianto Membongkar Bali

Buku kumpulan cerpen Aib

  • Judul Buku    : Aib
  • Penulis          : I Made Sugianto
  • Penerbit        : Pustaka Ekspresi
  • Cetakan         : Pertama, Januari 2026
  • Tebal              : 103 halaman
  • ISBN               : 978-634-7225-55-9

I Made Sugianto membuka kumpulan cerpen Aib dengan cerpen berjudul sama dengan judul bukunya. Cerpen pertama yang konon ditulis dua puluh enam tahun lalu merupakan cerpen pertamanya yang menggunakan Bahasa Indonesia. Secara strategi penceritaan memang layaknya cerpen pertama. Untuk sebelas cerpen berikutnya, barulah terlihat kematangan bercerita. Meski bisa dikatakan, Aib merupakan cerpen yang paling buruk bagi saya. Akan tetapi, bagi saya cerpen inilah yang menjadi pijakan penting bagi seluruh isi buku kumpulan ini. Sugianto membongkar Bali, serta memaparkan ‘aib’ Bali melalui 12 cerpen yang ada di dalamnya.

Saya katakan aib sebab mengangkat bagian-bagian Bali yang mungkin saja bagi sebagian orang sengaja disembunyikan untuk menjaga ‘wajah’ Bali. Menulis cerpen-cerpen demikian tentu ada riset sebelumnya. Bahkan, isu yang diangkat masih begitu relevan hingga hari ini. Pembaca sudah ‘diteror’ sejak cerpen pertama, Aib (hal 1). Kita diajak mendengarkan kisah Devi, tokoh utama yang depresi lalu gantung diri. Setelah tidak kuat menanggung segala ‘dosa’ yang disematkan kepadanya. Ia dituntut untuk aborsi janin yang ada di perutnya oleh ayahnya sendiri. Oleh ayahnya, yang memiliki karakter keras, menganggap anaknya telah melanggar agama dan norma. Pandangan aborsi dari tokoh ayah, tentu atas dasar norma dan moral yang digunakan bukan kemanusiaan. Topik depresi atau kesehatan mental sudah ada dan masih terjadi di Bali. ‘Devi membongkar lemari. Selendang warna putih digenggamnya. Pintu kamar dikunci rapat. Sehelai selendang dililitkan. Matanya memejam.’

Pada cerpen-cerpen berikutnya, Sugianto kembali menyajikan kisah-kisah pilu nan lucu yang hadir dalam kehidupan sehari-hari orang Bali. Cerpen ‘Balian Sakti’ (hal 6) dan ‘Kajeng Kliwon’ (hal 36) menceritakan perihal fenomena pengobatan tradisional yang masih diyakini serta keberadaan dukun versi Bali yang masih eksis hingga hari ini. Memang, fakta masih adanya balian di tengah begitu majunya peralatan medis menunjukkan bahwa kearifan lokal di Bali masih terjaga. Melalui tokoh balian pada dua cerpen tesebut suasana dan plot terbentuk. Ending yang humorin sekaligus kritis pada cerpen ‘Balian Sakti’ menjadi daya tarik tersendiri. ‘Made kau lihat di pintu masuk kantor itu, di sanalah letak kekuatan itu. Ia seakan mengejek kita’

 Hanya saja cerpen-cerpen di kumpulan ini minim dialog, maupun interaksi dalam suatu peristiwa. Pernak-pernik kehidupan masyarkaat Bali disajikan dengan gamblang. Kita diajak seperti mendengarkan orang tua sedang bercerita. Cerita menjadi pelan namun bagi sebagian pembaca akan menemukan kenikmatan tersendiri.

Ada pula berdebatan tentang tradisi pada cerpen ‘Krematorium’ (hal 45) dan ‘Ngaben Sederhana’ (hal 51). Cerpen ini menggambarkan pro dan kontra masyarakat tentang melaksanakan upacara Yadnya. Debat yang tidak akan ada ujung pangkalnya sebab masih adanya dua pemikiran yang berseberangan; konservatif dan adaptif. Topik yang diambil, meski bukan jadi yang pertama dengan tema serupa diolah dengan baik oleh Sugianto. Cerpen ini ditutup dengan kalimat tokoh Ibu yang bernas. ‘Jika tidak dapat restu dari Siwa, kita pamit dan cari Siwa yang lain.’ Kalimat yang membuat semua tokoh terkejut, dan saya sebagai pembaca seperti mendapat sebuah jalan keluar dari benang kusut pelaksanaan ngaben selama ini. Bali seharusnya memang tidak disajikan hanya dalam bingkai ‘yang baik-baik’ saja. Cerpenis Made Sugianto berani ‘membongkar Bali’ dalam buku terbarunya, sekaligus buku kumpulan cerpen berbahasa Indonesia pertamanya ini.

Pada cerpen ‘Biarkan Saya Tetap Tinggal di Rumah’ (hal 12) cukup menohok sebab menyajikan fenomena tradisi yang kuat diakhiri dengan ending tak terduga. Dalam perihal ending, Sugianto memang juaranya. Cerpen ini menghadirkan fenomena menikah nyentana dan budaya patriarki yang kuat pada masyarakat Bali. Tokoh Luh Putu (Aku), memutuskan untuk menikah dengan cara nyentana meskipun telah memiliki kakak laki-laki sebagai pewaris, sebagaimana tradisi dan kebiasaan masyarakat Bali. Selain itu, isu yang menarik lain pada cerpen ini adalah pasangan yang berbeda budaya dan latar belakang. Sebagaimana cerita-cerita lain yang bermotif sama, cerpen-cerpen pada Aib tidak terjebak pada wilayah normatif-konvensional.

Dalam pengantar di buku ini, Sugianto berharap agar buku kumpulan cerpen Aib bermanfaat, selain memperluas wawasan, Memang benar adanya, bagi saya cerpen-cerpen ini akan menjadi arsip bagi masyarakat. Ciri khas Sugianto pada cerpen di kumpulan ini tetap dipertahankan yaitu muncul sisi humor serta tetap berdaya kritis. Untungnya juga, ia tidak terjebak pada penceritaan monoton. Misalnya menumpuk narasi atau bahkan menambahkan koda di sana-sini.

Membaca Aib, seperti diajak mendengar narator yang serba tahu. Sebab dominasi dilakukan narator baik dalam memperkenalkan karakter tokoh serta membangun suasana. Meski begitu, tetap ada kenikmatan sendiri dengan format penceritaan seperti ini. Hal ini karena, cerita bukan hanya apa (isi, substansi) yang terjadi, melainkan bagaimana (strategi, mekanisme dia diceritakan). Meskipun dalam beberapa cerpen, terasa sangat panjang ditambah akhir cerita yang menggantung. Beruntung pada cerpen ‘Guru Abdi’ (hal 28), ‘Made Jadi Hakim’ (hal 58), ‘Salah Tangkap’ (hal 67), dan ‘Tumbal Politik’ (hal 80) tidak kehilangan daya kritisnya.

Cerpen ‘Guru Abdi’ adalah fenomena kusut pendidikan yang bahkan hingga detik inipun belum terselesaikan. Cerpen ini diakhiri dengan kalimat dari tokoh Kepala Sekolah. ‘’Jika Kadek tetap mengajar di sini, bapak kena mutasi!’ begitu kira-kira. Hal yang diambil kepala sekolah setelah mendapatkan intimidasi/intervensi dari pimpinan. Melalui bahasa yang lugas, suasana dan adegan di dalamnya tetap hidup. Sugianto cukup berhasil membuat cerpen-cerpen ini menarik untuk dibaca. Selain itu, aib yang diangkat dalam kumpulan cerpen ini sangat layak kemudian menjadi arsip. Bahwa kehidupan masyarakat Bali pernah seperti ini dan masih seperti ini. [T]

Penulis: Wayan Esa Bhaskara
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bukubuku cerpenCerpenMade SugiantoPustaka EkspresiSastra Indonesiasastra indonesia di Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka ‘Kasanga Festival 2026’

Next Post

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

Wayan Esa Bhaskara

Wayan Esa Bhaskara

Menulis esai, puisi, dan cerpen disela-sela pekerjaannya sebagai guru

Related Posts

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails
Next Post
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

Desember yang Tak Pernah Usai ---Catatan Harian 1982

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co