9 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sugianto Membongkar Bali

Wayan Esa Bhaskara by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
in Ulas Buku
Sugianto Membongkar Bali

Buku kumpulan cerpen Aib

  • Judul Buku    : Aib
  • Penulis          : I Made Sugianto
  • Penerbit        : Pustaka Ekspresi
  • Cetakan         : Pertama, Januari 2026
  • Tebal              : 103 halaman
  • ISBN               : 978-634-7225-55-9

I Made Sugianto membuka kumpulan cerpen Aib dengan cerpen berjudul sama dengan judul bukunya. Cerpen pertama yang konon ditulis dua puluh enam tahun lalu merupakan cerpen pertamanya yang menggunakan Bahasa Indonesia. Secara strategi penceritaan memang layaknya cerpen pertama. Untuk sebelas cerpen berikutnya, barulah terlihat kematangan bercerita. Meski bisa dikatakan, Aib merupakan cerpen yang paling buruk bagi saya. Akan tetapi, bagi saya cerpen inilah yang menjadi pijakan penting bagi seluruh isi buku kumpulan ini. Sugianto membongkar Bali, serta memaparkan ‘aib’ Bali melalui 12 cerpen yang ada di dalamnya.

Saya katakan aib sebab mengangkat bagian-bagian Bali yang mungkin saja bagi sebagian orang sengaja disembunyikan untuk menjaga ‘wajah’ Bali. Menulis cerpen-cerpen demikian tentu ada riset sebelumnya. Bahkan, isu yang diangkat masih begitu relevan hingga hari ini. Pembaca sudah ‘diteror’ sejak cerpen pertama, Aib (hal 1). Kita diajak mendengarkan kisah Devi, tokoh utama yang depresi lalu gantung diri. Setelah tidak kuat menanggung segala ‘dosa’ yang disematkan kepadanya. Ia dituntut untuk aborsi janin yang ada di perutnya oleh ayahnya sendiri. Oleh ayahnya, yang memiliki karakter keras, menganggap anaknya telah melanggar agama dan norma. Pandangan aborsi dari tokoh ayah, tentu atas dasar norma dan moral yang digunakan bukan kemanusiaan. Topik depresi atau kesehatan mental sudah ada dan masih terjadi di Bali. ‘Devi membongkar lemari. Selendang warna putih digenggamnya. Pintu kamar dikunci rapat. Sehelai selendang dililitkan. Matanya memejam.’

Pada cerpen-cerpen berikutnya, Sugianto kembali menyajikan kisah-kisah pilu nan lucu yang hadir dalam kehidupan sehari-hari orang Bali. Cerpen ‘Balian Sakti’ (hal 6) dan ‘Kajeng Kliwon’ (hal 36) menceritakan perihal fenomena pengobatan tradisional yang masih diyakini serta keberadaan dukun versi Bali yang masih eksis hingga hari ini. Memang, fakta masih adanya balian di tengah begitu majunya peralatan medis menunjukkan bahwa kearifan lokal di Bali masih terjaga. Melalui tokoh balian pada dua cerpen tesebut suasana dan plot terbentuk. Ending yang humorin sekaligus kritis pada cerpen ‘Balian Sakti’ menjadi daya tarik tersendiri. ‘Made kau lihat di pintu masuk kantor itu, di sanalah letak kekuatan itu. Ia seakan mengejek kita’

 Hanya saja cerpen-cerpen di kumpulan ini minim dialog, maupun interaksi dalam suatu peristiwa. Pernak-pernik kehidupan masyarkaat Bali disajikan dengan gamblang. Kita diajak seperti mendengarkan orang tua sedang bercerita. Cerita menjadi pelan namun bagi sebagian pembaca akan menemukan kenikmatan tersendiri.

Ada pula berdebatan tentang tradisi pada cerpen ‘Krematorium’ (hal 45) dan ‘Ngaben Sederhana’ (hal 51). Cerpen ini menggambarkan pro dan kontra masyarakat tentang melaksanakan upacara Yadnya. Debat yang tidak akan ada ujung pangkalnya sebab masih adanya dua pemikiran yang berseberangan; konservatif dan adaptif. Topik yang diambil, meski bukan jadi yang pertama dengan tema serupa diolah dengan baik oleh Sugianto. Cerpen ini ditutup dengan kalimat tokoh Ibu yang bernas. ‘Jika tidak dapat restu dari Siwa, kita pamit dan cari Siwa yang lain.’ Kalimat yang membuat semua tokoh terkejut, dan saya sebagai pembaca seperti mendapat sebuah jalan keluar dari benang kusut pelaksanaan ngaben selama ini. Bali seharusnya memang tidak disajikan hanya dalam bingkai ‘yang baik-baik’ saja. Cerpenis Made Sugianto berani ‘membongkar Bali’ dalam buku terbarunya, sekaligus buku kumpulan cerpen berbahasa Indonesia pertamanya ini.

Pada cerpen ‘Biarkan Saya Tetap Tinggal di Rumah’ (hal 12) cukup menohok sebab menyajikan fenomena tradisi yang kuat diakhiri dengan ending tak terduga. Dalam perihal ending, Sugianto memang juaranya. Cerpen ini menghadirkan fenomena menikah nyentana dan budaya patriarki yang kuat pada masyarakat Bali. Tokoh Luh Putu (Aku), memutuskan untuk menikah dengan cara nyentana meskipun telah memiliki kakak laki-laki sebagai pewaris, sebagaimana tradisi dan kebiasaan masyarakat Bali. Selain itu, isu yang menarik lain pada cerpen ini adalah pasangan yang berbeda budaya dan latar belakang. Sebagaimana cerita-cerita lain yang bermotif sama, cerpen-cerpen pada Aib tidak terjebak pada wilayah normatif-konvensional.

Dalam pengantar di buku ini, Sugianto berharap agar buku kumpulan cerpen Aib bermanfaat, selain memperluas wawasan, Memang benar adanya, bagi saya cerpen-cerpen ini akan menjadi arsip bagi masyarakat. Ciri khas Sugianto pada cerpen di kumpulan ini tetap dipertahankan yaitu muncul sisi humor serta tetap berdaya kritis. Untungnya juga, ia tidak terjebak pada penceritaan monoton. Misalnya menumpuk narasi atau bahkan menambahkan koda di sana-sini.

Membaca Aib, seperti diajak mendengar narator yang serba tahu. Sebab dominasi dilakukan narator baik dalam memperkenalkan karakter tokoh serta membangun suasana. Meski begitu, tetap ada kenikmatan sendiri dengan format penceritaan seperti ini. Hal ini karena, cerita bukan hanya apa (isi, substansi) yang terjadi, melainkan bagaimana (strategi, mekanisme dia diceritakan). Meskipun dalam beberapa cerpen, terasa sangat panjang ditambah akhir cerita yang menggantung. Beruntung pada cerpen ‘Guru Abdi’ (hal 28), ‘Made Jadi Hakim’ (hal 58), ‘Salah Tangkap’ (hal 67), dan ‘Tumbal Politik’ (hal 80) tidak kehilangan daya kritisnya.

Cerpen ‘Guru Abdi’ adalah fenomena kusut pendidikan yang bahkan hingga detik inipun belum terselesaikan. Cerpen ini diakhiri dengan kalimat dari tokoh Kepala Sekolah. ‘’Jika Kadek tetap mengajar di sini, bapak kena mutasi!’ begitu kira-kira. Hal yang diambil kepala sekolah setelah mendapatkan intimidasi/intervensi dari pimpinan. Melalui bahasa yang lugas, suasana dan adegan di dalamnya tetap hidup. Sugianto cukup berhasil membuat cerpen-cerpen ini menarik untuk dibaca. Selain itu, aib yang diangkat dalam kumpulan cerpen ini sangat layak kemudian menjadi arsip. Bahwa kehidupan masyarakat Bali pernah seperti ini dan masih seperti ini. [T]

Penulis: Wayan Esa Bhaskara
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bukubuku cerpenCerpenMade SugiantoPustaka EkspresiSastra Indonesiasastra indonesia di Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka ‘Kasanga Festival 2026’

Next Post

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

Wayan Esa Bhaskara

Wayan Esa Bhaskara

Menulis esai, puisi, dan cerpen disela-sela pekerjaannya sebagai guru

Related Posts

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails
Next Post
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

Desember yang Tak Pernah Usai ---Catatan Harian 1982

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co