4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
in Tualang
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

Kaliurang, 1982 (Penulis nomor 4 dari kiri, duduk di atas)

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu benar. Kota Tangerang waktu itu belum seramai hari ini, Pasar Anyar masih menjadi simpul pertemuan segala kemungkinan. Dari situlah petualangan dimulai.

Kami bertujuh: Saya, Hakim, Rohidi, Gan-Gan, Taufik, Agus Sting, dan Imron (alm) Nama-nama itu, kini mungkin telah menjadi bapak-bapak, dan kakek-kakek dengan rutinitas masing-masing, tetapi pada Desember itu kami hanyalah anak-anak remaja dengan tas ransel tipis dan uang pas-pasan. Bekal kami lebih banyak nekat daripada logistik.

Truk yang kami tumpangi baru saja selesai bongkar muatan di Pasar Anyar. Tanpa banyak tanya, sopir mengangguk ketika kami minta ikut sampai Stasiun Kota Beos, Jakarta. Kami naik ke bak belakang. Bau sayur sisa dan debu bercampur udara pagi. Angin menampar wajah, tapi hati kami hangat oleh kegembiraan yang belum teruji.

Di Stasiun Kota, kami membeli tiket KA Gaya Baru jurusan Jakarta–Surabaya. Harga tiketnya Rp 2.700. Kami merasa sudah seperti penjelajah dunia.

Kereta bergerak menuju Gambir. Sekitar pukul 16.15, ia benar-benar lepas dari stasiun. Jangan bayangkan kenyamanan kereta hari ini. Tahun 1982, perjalanan kereta adalah peristiwa sosial yang liar dan nyaris tak teratur. Penumpang naik-turun sesuka hati. Banyak yang tanpa tiket. Di setiap stasiun kecil, kereta berhenti lama, dan setiap kali berhenti, kami berseloroh, “Turun satu, naik sepuluh!” Gerbong semakin penuh. Pengap, panas, bau keringat bercampur asap rokok kretek.

Di Cirebon dan Purwokerto kereta berhenti cukup lama. Kami turun sekadar meregangkan kaki, lalu berdesakan kembali. Malam memanjang tanpa pendingin udara selain angin yang masuk dari jendela terbuka. Kami bergantian duduk dan berdiri. Tetapi anehnya, di tengah segala ketidaknyamanan itu, ada rasa merdeka yang tak bisa dibeli. Kami merasa hidup.

Barangkali inilah yang dimaksud Søren Kierkegaard ketika mengatakan, bahwa hidup harus dijalani ke depan, meski hanya bisa dipahami ke belakang. Saat itu kami tidak tahu apa arti perjalanan ini. Kami hanya menjalaninya.

Jembatan Muntilan, Perbatasan Yogya – Magelang, 1982 | Foto: Dok. Ahmad Sihabudin

Pukul 08.30 pagi, hampir enam belas setengah jam sejak Gambir, kami tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta. Kami turun dengan tubuh lelah dan jiwa bergetar. Untuk pertama kalinya kami menjejak kota yang namanya sering kami dengar dalam buku sejarah dan cerita guru.

Tujuan kami: Kaliurang. Kami ingin berkemah sambil menunggu Kirab Sekaten, seingat saya, akan berlangsung pada minggu ketiga Desember. Di Kaliurang masih ada kolam renang Tlogo Putri. Hujan turun hampir terus-menerus. Tenda yang kami bayangkan gagah justru menjadi basah dan tak bersahabat. Akhirnya teras sekitar lokasi itu menjadi tempat berteduh dan “penginapan” darurat kami.

Dua malam di Kaliurang lebih banyak diisi dengan duduk di warung-warung kecil. Ketan bakar ”Jaddah” makanan khas Yogja, pisang goreng, teh panas mengepul. Uapnya menyatu dengan kabut gunung.

Di sela kabut dan teh panas, kami berbicara tentang masa depan seolah-olah ia pasti datang sesuai rencana. Padahal hidup, seperti kata Albert Camus, sering kali absurd, tidak selalu sesuai harapan, tidak selalu masuk akal. Namun justru dalam ketidakpastian itulah manusia menemukan makna. Kami tidak punya uang banyak. Kami tidak punya rencana matang. Tapi kami punya keputusan: tetap berjalan.

Muntilan, 1982 | Foto; Dok. Ahmad Sihabudin

Dari Kaliurang kami turun ke kota Yogyakarta. Losmen penuh. Musim liburan membuat kota sesak. Uang kami pun tidak cukup untuk bersaing dengan wisatawan lain. Entah bagaimana ceritanya, kami akhirnya diperbolehkan menginap di aula Polresta Yogyakarta. Ternyata bukan hanya kami. Banyak remaja sebaya dari berbagai kota di Jawa yang juga “mengandalkan keberanian” dan sisa uang receh.

Aula itu menjadi asrama sementara generasi petualang murah-meriah. Tas jadi bantal. Jaket jadi selimut. Malam-malam kami penuh cerita. Ada yang dari Surabaya, ada dari Tegal, ada dari Solo. Semua datang dengan alasan yang hampir sama: ingin melihat dunia sebelum dewasa membatasi langkah.

  ***

Jean-Paul Sartre pernah berkata, “Man is condemned to be free.” Manusia dikutuk untuk bebas. Kebebasan itu bukan kenyamanan; ia adalah tanggung jawab atas pilihan. Kami memilih berangkat. Kami memilih bertahan ketika hujan turun. Kami memilih tidur di lantai aula. Tidak ada yang memaksa. Semua adalah konsekuensi dari kebebasan kami sendiri.

Kami mengunjungi Keraton Yogyakarta. Melihat Kirab Sekaten dengan mata tak berkedip. Ada gamelan, ada barisan prajurit keraton, ada tradisi yang terasa lebih tua dari usia republik. Kami berdiri di antara kerumunan, merasa kecil sekaligus menjadi bagian dari sejarah yang bergerak pelan.

Di situ saya teringat pada Martin Heidegger: manusia adalah Dasein, makhluk yang “ada-di-dunia”, terlempar ke dalam sejarah dan waktu yang lebih besar dari dirinya. Kami, Tujuh remaja dari Tangerang, berdiri di tengah sejarah Mataram, di antara jejak kerajaan dan doa-doa masa lalu. Kami sadar meski samar, bahwa hidup bukan hanya milik generasi kami.

Esoknya kami menuju Magelang. Naik bus Yogya–Muntilan dengan tarif Rp 350. Borobudur memanggil. Sesampainya di sana, losmen lagi-lagi penuh, atau mungkin menolak kami karena penampilan yang kusut, rambut acak-acakan, sepatu ”deukil”, sandal tipis, dan wajah lelah.

Malam itu kami tidur di Terminal Borobudur. Kami menyewa kardus dari pemulung sebagai alas. Hujan kembali turun. Angin menembus sela-sela pakaian. Tetapi anehnya, di bawah atap terminal yang dingin itu, kami justru merasa sangat hidup,  di  bawah atap terminal itu, saya merasakan sesuatu yang tak pernah saya rasakan di kamar tidur rumah sendiri: kesadaran bahwa hidup tidak selalu ramah, tetapi selalu mungkin dijalani.

Pagi harinya kami naik ke Candi Borobudur. Tangga-tangga batu itu seperti menuntun kami menaiki usia. Kami berfoto dengan kamera sederhana, mungkin dengan gaya yang hari ini terasa lucu. Tapi bagi kami, berdiri di salah satu keajaiban dunia adalah kemenangan kecil atas keterbatasan. Mengamati relief bergaya ”Indiana Jones” arkeolog. Relief-relief itu mengisahkan perjalanan jiwa menuju pencerahan. Tanpa kami sadari, perjalanan kami sendiri adalah versi kecil dari itu, dari ketidaktahuan menuju pengalaman.

Friedrich Nietzsche pernah menulis, “Barangsiapa memiliki alasan untuk hidup, ia akan sanggup menanggung hampir segalanya bagaimanapun sulitnya kehidupan.” Alasan kami mungkin sederhana: ingin melihat dunia. Tapi alasan sederhana itu cukup membuat kami tahan panas, hujan, dan lapar.

Kami kembali ke Yogyakarta. Menyusuri Malioboro siang dan malam. Makan seadanya: gudeg, nasi kucing, es teh murah meriah. “Hotel” kami tetap aula Polresta. Pulang larut, tidur pulas, bangun dengan badan pegal tetapi hati penuh.

***

Dua malam di Kaliurang, dua malam di Yogyakarta, satu malam di Borobudur, cukup sudah. Kami memutuskan pulang. Namun kepulangan pun tidak lurus.

Di Stasiun Tugu kami membeli tiket hanya sampai Banjar. Skenario berubah: kami ingin melihat Pangandaran, Tasikmalaya, dan dampak letusan Gunung Galunggung yang saat itu masih menyisakan cerita.

Dua hari kami berkelana lagi. Uang makin menipis. Makan harus dihemat. Akhirnya kami kembali pada prinsip awal: yang penting bergerak mendekati Tangerang.

Dari Tasikmalaya kami menumpang truk box sampai Terminal Cicaheum Bandung. Malam hampir pukul 23:00 WIB. Kami tidur di teras sebuah rumah besar. Penghuninya berbaik hati mengizinkan kami merebahkan badan di sana. Subuh pukul 05.30 kami pamit setelah salat.

Dari Cicaheum naik Damri ke Cibeureum. Jalan kaki menuju Cimahi. Dari pasar Cimahi kami mencari truk kosong ke arah Jakarta. Dapat sampai Rajamandala. Dari Rajamandala menumpang lagi ke Sukabumi. Dari Pasar Sukabumi kami mendapat tumpangan truk yang baru bongkar muatan, alhamdulillah sampai Cawang, dekat kampus UKI.

Dari sana kami naik bus tingkat PPD jurusan Cililitan–Kalideres. Dari Kalideres naik angkot menuju Tangerang. Ketika akhirnya kami tiba, rasanya seperti pulang dari ekspedisi panjang. Tak ada sambutan meriah, tak ada upacara. Hanya langkah kaki yang kembali menjejak kota sendiri. Alhamdulillah kami selamat.

Jika saya renungkan kini, perjalanan itu adalah pelajaran tentang solidaritas dan kebaikan anonim. Emmanuel Levinas mengatakan, bahwa etika lahir dari perjumpaan dengan “wajah yang lain.” Kami bertemu banyak wajah: sopir truk, pemilik rumah, pemulung, polisi, pedagang kecil. Tanpa mereka, perjalanan kami mungkin berhenti di tengah jalan. Kami belajar bahwa manusia hidup bukan hanya oleh rencana, tetapi oleh kemurahan orang lain.

Kini, ketika kenyamanan transportasi jauh lebih baik, saya sering bertanya: apakah generasi hari ini masih punya ruang untuk mengalami “ketersesatan” yang membentuk karakter?

Pelataran Borobudur, 1982 | Foto; Dok. Ahmad Sihabudin

Perjalanan Desember 1982 itu bukan sekadar nostalgia. Ia adalah momen ketika kami belajar tentang kebebasan, tanggung jawab, keterlemparan dalam sejarah, absurditas hidup, dan makna solidaritas, tanpa membaca buku filsafatnya terlebih dahulu. Filsafat datang belakangan, memberi nama pada pengalaman yang sudah kami jalani.

Kierkegaard benar: hidup dipahami ke belakang. Dan ketika saya menoleh ke Desember itu, saya tahu, kami pulang bukan hanya membawa cerita, tetapi membawa diri yang telah sedikit berubah. Kami berangkat sebagai anak-anak yang ingin jalan-jalan. Kami pulang sebagai remaja yang diam-diam telah belajar menjadi manusia.

Kami belajar bahwa dunia luas, tetapi kebaikan orang-orang kecil membuatnya terasa dekat. Kami belajar bahwa uang bisa habis, tetapi keberanian sering kali membuka jalan. Kami belajar bahwa tidur di terminal atau teras rumah orang asing tidak selalu berarti hina—kadang justru di situlah kemanusiaan terasa paling nyata.

Desember itu mungkin telah lama selesai di kalender. Namun dalam kepala dan hati saya, ia tak pernah benar-benar usai. Ia tetap hidup sebagai kisah Tujuh remaja dari Tangerang yang menaklukkan Jawa bukan dengan kemewahan, melainkan dengan tekad, tawa, dan keyakinan sederhana: selama kita bergerak, kita sedang belajar menjadi manusia. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: catatan perjalanannostalgianostalgia mahasiswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sugianto Membongkar Bali

Next Post

Keseimbangan Rasio dan Rasa

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Keseimbangan Rasio dan Rasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co