15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
in Tualang
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

Kaliurang, 1982 (Penulis nomor 4 dari kiri, duduk di atas)

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu benar. Kota Tangerang waktu itu belum seramai hari ini, Pasar Anyar masih menjadi simpul pertemuan segala kemungkinan. Dari situlah petualangan dimulai.

Kami bertujuh: Saya, Hakim, Rohidi, Gan-Gan, Taufik, Agus Sting, dan Imron (alm) Nama-nama itu, kini mungkin telah menjadi bapak-bapak, dan kakek-kakek dengan rutinitas masing-masing, tetapi pada Desember itu kami hanyalah anak-anak remaja dengan tas ransel tipis dan uang pas-pasan. Bekal kami lebih banyak nekat daripada logistik.

Truk yang kami tumpangi baru saja selesai bongkar muatan di Pasar Anyar. Tanpa banyak tanya, sopir mengangguk ketika kami minta ikut sampai Stasiun Kota Beos, Jakarta. Kami naik ke bak belakang. Bau sayur sisa dan debu bercampur udara pagi. Angin menampar wajah, tapi hati kami hangat oleh kegembiraan yang belum teruji.

Di Stasiun Kota, kami membeli tiket KA Gaya Baru jurusan Jakarta–Surabaya. Harga tiketnya Rp 2.700. Kami merasa sudah seperti penjelajah dunia.

Kereta bergerak menuju Gambir. Sekitar pukul 16.15, ia benar-benar lepas dari stasiun. Jangan bayangkan kenyamanan kereta hari ini. Tahun 1982, perjalanan kereta adalah peristiwa sosial yang liar dan nyaris tak teratur. Penumpang naik-turun sesuka hati. Banyak yang tanpa tiket. Di setiap stasiun kecil, kereta berhenti lama, dan setiap kali berhenti, kami berseloroh, “Turun satu, naik sepuluh!” Gerbong semakin penuh. Pengap, panas, bau keringat bercampur asap rokok kretek.

Di Cirebon dan Purwokerto kereta berhenti cukup lama. Kami turun sekadar meregangkan kaki, lalu berdesakan kembali. Malam memanjang tanpa pendingin udara selain angin yang masuk dari jendela terbuka. Kami bergantian duduk dan berdiri. Tetapi anehnya, di tengah segala ketidaknyamanan itu, ada rasa merdeka yang tak bisa dibeli. Kami merasa hidup.

Barangkali inilah yang dimaksud Søren Kierkegaard ketika mengatakan, bahwa hidup harus dijalani ke depan, meski hanya bisa dipahami ke belakang. Saat itu kami tidak tahu apa arti perjalanan ini. Kami hanya menjalaninya.

Jembatan Muntilan, Perbatasan Yogya – Magelang, 1982 | Foto: Dok. Ahmad Sihabudin

Pukul 08.30 pagi, hampir enam belas setengah jam sejak Gambir, kami tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta. Kami turun dengan tubuh lelah dan jiwa bergetar. Untuk pertama kalinya kami menjejak kota yang namanya sering kami dengar dalam buku sejarah dan cerita guru.

Tujuan kami: Kaliurang. Kami ingin berkemah sambil menunggu Kirab Sekaten, seingat saya, akan berlangsung pada minggu ketiga Desember. Di Kaliurang masih ada kolam renang Tlogo Putri. Hujan turun hampir terus-menerus. Tenda yang kami bayangkan gagah justru menjadi basah dan tak bersahabat. Akhirnya teras sekitar lokasi itu menjadi tempat berteduh dan “penginapan” darurat kami.

Dua malam di Kaliurang lebih banyak diisi dengan duduk di warung-warung kecil. Ketan bakar ”Jaddah” makanan khas Yogja, pisang goreng, teh panas mengepul. Uapnya menyatu dengan kabut gunung.

Di sela kabut dan teh panas, kami berbicara tentang masa depan seolah-olah ia pasti datang sesuai rencana. Padahal hidup, seperti kata Albert Camus, sering kali absurd, tidak selalu sesuai harapan, tidak selalu masuk akal. Namun justru dalam ketidakpastian itulah manusia menemukan makna. Kami tidak punya uang banyak. Kami tidak punya rencana matang. Tapi kami punya keputusan: tetap berjalan.

Muntilan, 1982 | Foto; Dok. Ahmad Sihabudin

Dari Kaliurang kami turun ke kota Yogyakarta. Losmen penuh. Musim liburan membuat kota sesak. Uang kami pun tidak cukup untuk bersaing dengan wisatawan lain. Entah bagaimana ceritanya, kami akhirnya diperbolehkan menginap di aula Polresta Yogyakarta. Ternyata bukan hanya kami. Banyak remaja sebaya dari berbagai kota di Jawa yang juga “mengandalkan keberanian” dan sisa uang receh.

Aula itu menjadi asrama sementara generasi petualang murah-meriah. Tas jadi bantal. Jaket jadi selimut. Malam-malam kami penuh cerita. Ada yang dari Surabaya, ada dari Tegal, ada dari Solo. Semua datang dengan alasan yang hampir sama: ingin melihat dunia sebelum dewasa membatasi langkah.

  ***

Jean-Paul Sartre pernah berkata, “Man is condemned to be free.” Manusia dikutuk untuk bebas. Kebebasan itu bukan kenyamanan; ia adalah tanggung jawab atas pilihan. Kami memilih berangkat. Kami memilih bertahan ketika hujan turun. Kami memilih tidur di lantai aula. Tidak ada yang memaksa. Semua adalah konsekuensi dari kebebasan kami sendiri.

Kami mengunjungi Keraton Yogyakarta. Melihat Kirab Sekaten dengan mata tak berkedip. Ada gamelan, ada barisan prajurit keraton, ada tradisi yang terasa lebih tua dari usia republik. Kami berdiri di antara kerumunan, merasa kecil sekaligus menjadi bagian dari sejarah yang bergerak pelan.

Di situ saya teringat pada Martin Heidegger: manusia adalah Dasein, makhluk yang “ada-di-dunia”, terlempar ke dalam sejarah dan waktu yang lebih besar dari dirinya. Kami, Tujuh remaja dari Tangerang, berdiri di tengah sejarah Mataram, di antara jejak kerajaan dan doa-doa masa lalu. Kami sadar meski samar, bahwa hidup bukan hanya milik generasi kami.

Esoknya kami menuju Magelang. Naik bus Yogya–Muntilan dengan tarif Rp 350. Borobudur memanggil. Sesampainya di sana, losmen lagi-lagi penuh, atau mungkin menolak kami karena penampilan yang kusut, rambut acak-acakan, sepatu ”deukil”, sandal tipis, dan wajah lelah.

Malam itu kami tidur di Terminal Borobudur. Kami menyewa kardus dari pemulung sebagai alas. Hujan kembali turun. Angin menembus sela-sela pakaian. Tetapi anehnya, di bawah atap terminal yang dingin itu, kami justru merasa sangat hidup,  di  bawah atap terminal itu, saya merasakan sesuatu yang tak pernah saya rasakan di kamar tidur rumah sendiri: kesadaran bahwa hidup tidak selalu ramah, tetapi selalu mungkin dijalani.

Pagi harinya kami naik ke Candi Borobudur. Tangga-tangga batu itu seperti menuntun kami menaiki usia. Kami berfoto dengan kamera sederhana, mungkin dengan gaya yang hari ini terasa lucu. Tapi bagi kami, berdiri di salah satu keajaiban dunia adalah kemenangan kecil atas keterbatasan. Mengamati relief bergaya ”Indiana Jones” arkeolog. Relief-relief itu mengisahkan perjalanan jiwa menuju pencerahan. Tanpa kami sadari, perjalanan kami sendiri adalah versi kecil dari itu, dari ketidaktahuan menuju pengalaman.

Friedrich Nietzsche pernah menulis, “Barangsiapa memiliki alasan untuk hidup, ia akan sanggup menanggung hampir segalanya bagaimanapun sulitnya kehidupan.” Alasan kami mungkin sederhana: ingin melihat dunia. Tapi alasan sederhana itu cukup membuat kami tahan panas, hujan, dan lapar.

Kami kembali ke Yogyakarta. Menyusuri Malioboro siang dan malam. Makan seadanya: gudeg, nasi kucing, es teh murah meriah. “Hotel” kami tetap aula Polresta. Pulang larut, tidur pulas, bangun dengan badan pegal tetapi hati penuh.

***

Dua malam di Kaliurang, dua malam di Yogyakarta, satu malam di Borobudur, cukup sudah. Kami memutuskan pulang. Namun kepulangan pun tidak lurus.

Di Stasiun Tugu kami membeli tiket hanya sampai Banjar. Skenario berubah: kami ingin melihat Pangandaran, Tasikmalaya, dan dampak letusan Gunung Galunggung yang saat itu masih menyisakan cerita.

Dua hari kami berkelana lagi. Uang makin menipis. Makan harus dihemat. Akhirnya kami kembali pada prinsip awal: yang penting bergerak mendekati Tangerang.

Dari Tasikmalaya kami menumpang truk box sampai Terminal Cicaheum Bandung. Malam hampir pukul 23:00 WIB. Kami tidur di teras sebuah rumah besar. Penghuninya berbaik hati mengizinkan kami merebahkan badan di sana. Subuh pukul 05.30 kami pamit setelah salat.

Dari Cicaheum naik Damri ke Cibeureum. Jalan kaki menuju Cimahi. Dari pasar Cimahi kami mencari truk kosong ke arah Jakarta. Dapat sampai Rajamandala. Dari Rajamandala menumpang lagi ke Sukabumi. Dari Pasar Sukabumi kami mendapat tumpangan truk yang baru bongkar muatan, alhamdulillah sampai Cawang, dekat kampus UKI.

Dari sana kami naik bus tingkat PPD jurusan Cililitan–Kalideres. Dari Kalideres naik angkot menuju Tangerang. Ketika akhirnya kami tiba, rasanya seperti pulang dari ekspedisi panjang. Tak ada sambutan meriah, tak ada upacara. Hanya langkah kaki yang kembali menjejak kota sendiri. Alhamdulillah kami selamat.

Jika saya renungkan kini, perjalanan itu adalah pelajaran tentang solidaritas dan kebaikan anonim. Emmanuel Levinas mengatakan, bahwa etika lahir dari perjumpaan dengan “wajah yang lain.” Kami bertemu banyak wajah: sopir truk, pemilik rumah, pemulung, polisi, pedagang kecil. Tanpa mereka, perjalanan kami mungkin berhenti di tengah jalan. Kami belajar bahwa manusia hidup bukan hanya oleh rencana, tetapi oleh kemurahan orang lain.

Kini, ketika kenyamanan transportasi jauh lebih baik, saya sering bertanya: apakah generasi hari ini masih punya ruang untuk mengalami “ketersesatan” yang membentuk karakter?

Pelataran Borobudur, 1982 | Foto; Dok. Ahmad Sihabudin

Perjalanan Desember 1982 itu bukan sekadar nostalgia. Ia adalah momen ketika kami belajar tentang kebebasan, tanggung jawab, keterlemparan dalam sejarah, absurditas hidup, dan makna solidaritas, tanpa membaca buku filsafatnya terlebih dahulu. Filsafat datang belakangan, memberi nama pada pengalaman yang sudah kami jalani.

Kierkegaard benar: hidup dipahami ke belakang. Dan ketika saya menoleh ke Desember itu, saya tahu, kami pulang bukan hanya membawa cerita, tetapi membawa diri yang telah sedikit berubah. Kami berangkat sebagai anak-anak yang ingin jalan-jalan. Kami pulang sebagai remaja yang diam-diam telah belajar menjadi manusia.

Kami belajar bahwa dunia luas, tetapi kebaikan orang-orang kecil membuatnya terasa dekat. Kami belajar bahwa uang bisa habis, tetapi keberanian sering kali membuka jalan. Kami belajar bahwa tidur di terminal atau teras rumah orang asing tidak selalu berarti hina—kadang justru di situlah kemanusiaan terasa paling nyata.

Desember itu mungkin telah lama selesai di kalender. Namun dalam kepala dan hati saya, ia tak pernah benar-benar usai. Ia tetap hidup sebagai kisah Tujuh remaja dari Tangerang yang menaklukkan Jawa bukan dengan kemewahan, melainkan dengan tekad, tawa, dan keyakinan sederhana: selama kita bergerak, kita sedang belajar menjadi manusia. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: catatan perjalanannostalgianostalgia mahasiswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sugianto Membongkar Bali

Next Post

Keseimbangan Rasio dan Rasa

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Keseimbangan Rasio dan Rasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co