4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

Inno Koten by Inno Koten
March 22, 2026
in Ulas Buku
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

Buku 'Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer'

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,  yang dilindas sejarah besar. Namun sastra, seperti juga sejarah, kadang tidak pernah bebas dari paradoks. Di dalamnya selalu ada retakan. Dan setidaknya itu terbaca dalam “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer.”

Saya menemukan kembali buku ini pada awal 2026, setelah pembacaan pertama yang terhenti pada 2015. Sejak awal, naskah ini terasa ganjil. Pram seperti menempatkan bukunya  di antara karya sastra dan laporan sejarah. Cerita berjalan, tetapi kerap terputus oleh kesaksian; tokoh hadir, tetapi tidak sepenuhnya digarap dengan kedalaman psikis. Yang tersisa adalah fragmen, ingatan tentang perempuan yang yang terseret kedalam pusaran kolonialisme Jepang.

Dalam jarak lebih dari sepuluh tahun, teks yang sama terasa membuka wajah  lain. Pada pembacaan pertama, perhatian saya tertuju pada kegagalan negara mengingat mereka. Sejarah resmi memilih diam terhadap penderitaan yang dianggap memalukan. Perempuan-perempuan yang dipaksa menjadi jugun ianfu itu seperti lenyap dari ingatan kolektif. Maka lewat buku ini, Pram tampak berdiri sebagai saksi yang mencoba mengembalikan suara mereka.

Pembacaan kedua membawa saya ke arah berbeda. Kali ini yang mengemuka adalah cara narasi bekerja; bagaimana bahasa membentuk gambaran tentang tubuh-tubuh perempuan di dalamnya. Mereka adalah korban sejarah, dipaksa keluar dari kehidupannya, diimingi propaganda dan janji Sendenbu lewat bupati, lurah, dan orang tua mereka sendiri.

Pram menyebut setidaknya tiga alasan yang membuat para gadis itu mudah terjerat. Pertama, cita-cita untuk maju dan berbakti pada masyarakat yang membuat mereka mudah terpikat oleh janji kemajuan. Kedua, keadaan hidup yang mencekik sehingga harapan-harapan yang ditawarkan propaganda terasa seperti jalan keluar. Ketiga, peran orang tua yang bekerja dalam struktur administrasi Jepang dan dengan patuh mengirim anak-anak mereka demi memenuhi perintah kekuasaan.

Penjelasan ini memberi konteks sosial bagi tragedi yang dialami para perempuan. Mereka hadir sebagai korban dari jaringan kekuasaan kolonial, birokrasi lokal, dan himpitan kondisi ekonomi. Akan tetapi, semakin jauh  membaca, semakin terasa bahwa narasi tidak berhenti pada peristiwa sejarah. Di dalamnya tersusung cara tertentu dalam memandang tubuh perempuan. Hal ini tampak pada bagian lima, “Para Perawan Remaja Buangan di Pulau Buru.”

Tubuh-tubuh Alfuru ditempatkan dalam posisi yang timpang. Pram membangun gambaran kolektif tentang tubuh pedalaman yang kasar, keras dan akrab dengan penyakit kulit (kaskado) dan elephantiasis (penyakit kaki gajah). Mekanisme ini dikenal sebagai othering, pembentukan identitas kelompok lain melalui generalisasi yang menempatkan orang di luar standar. Standar itu tidak pernah disebutkan, tetapi dapat diduga hadir dalam ingatan tubuh perempuan Jawa. Sebab ketika perempuan Jawa muncul, deskripsi Pram menjadi berubah.

Misalnya, Sutinah digambarkan memiliki kulit kuning sawo matang, bersih dan tidak terserang penyakit kulit. Pada bagian lain, muncul lagi seorang perempuan bertubuh tinggi semampai yang datang ke ladang Wanasurya. Pram menulis bahwa tubuhnya berbeda dari bangun tubuh wanita Alfuru pada umumnya. Bahkan, ketika usia telah meninggalkan keriput pada wajah mereka, dengan jujur Pram mengakui bahwa masih ada bekas-bekas kecantikan yang tertinggal.

Serangkaian deskripsi ini memberi batas estitika estetika secara tegas. Tubuh Jawa tampil sebagai  bersih, sehat, indah dan proporsional. Tubuh Alfuru hadir dalam perbandingan yang membuatnya terlihat lebih kasar, pendek, dan dekat dengan kondisi alam yang keras. Dari sini terbentuk hierarki secara halus tetapi konsisten. Yang satu menjadi ukuran, yang lain menjadi pembanding.

Selain tubuh, bahasa turut memperkuat susunan itu. Dalam satu adegan, Pram terkejut ketika dua perempuan Jawa yang dibuang ke Alfuru dapat berbicara bahasa Indonesia dengan sangat baik. Ia menulis bahwa jawaban itu datang “tanpa saya duga”.  Keterkejutan ini mengandung asumsi yang cukup jelas. Kemampuan berbahasa Indonesia tidak dibayangkan melekat pada mereka yang hidup di pinggiran.

Situasi ini menunjukkan bahwa bahasa dapat menjadi penanda tingkat peradaban. Kemampuan berbicara bahasa nasional diasosiasikan dengan kedekatan pada pusat kebudayan. Kelompok yang hidup di pinggiran diasumsikan lebih jauh dari standar tersebut. Maka dalam konteks narasi ini, tubuh dan bahasa bekerja bersama membentuk peta simbolik. Jawa sebagai pusat kebudayaan, sementara Alfuru berada di wilayah pinggiran.

Di sinilah paradoks itu muncul. Buku ini ditulis sebagai kesaksian tentang perempuan-perempuan yang dirampas martabat oleh kolonialisme. Pram hendak mengangkat kisah mereka dari penghapusan sejarah, memastikan bahwa tragedi ini layak dikenang dan dibicarakan. Namun pada saat yang sama, bahasa yang digunakan dalam narasi masih memantulkan imajinasi sosial tentang pusat dan pinggiran.

Secara politik, Pram tentu berada di pihak korban. Ia memberi ruang bagi suara yang didiamkan dalam sejarah. Tapi dalam tataran diskursif, narasi yang sama masih membawa jejak hierarki kultural dalam cara memandang tubuh dan kebudayaan. Kontradiksi semacam ini tentu tidak hanya terjadi pada Pram saja. Banyak penulis yang mungkin berjuang melawan ketidakdilan sejarah tetap membawa warisan cara pandang zamannya.

Maka membaca kembali “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer” menghadirkan dua  kesadaran sekaligus. Kesadaran akan keberanian moral seorang penulis yang mampu membuka luka sejarah lama yang disembunyikan. Dan kesadaran lain tentang bahasa yang dipakai untuk membela perempuan kadang masih menyimpan bayangan tentang ketidaksederjatan sosial-kultural yang mungkin tidak selalu disadari oleh pengarang sendiri.

Namun, penilaian ini tidak serta-merta menghapus perjuangan Pram lewat “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer”. Sebaliknya, buku itu hampir selalu memiliki lapisan makna yang tidak sepenuhnya stabil. Di dalamnya, selalu terjadi kontestasi antara niat pembelaan kemanusiaan dan struktur bahasa yang membawa warisan sejarah.  “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer” tetap penting untuk dibaca. Tapi pada saat yang sama, ada kemungkinan lain untuk melihat hierarki etnis, estetika tubuh, dan imajinasi pusat-pinggiran.

Dengan cara ini, ada pelajaran penting dari pembacaan ulang terhadap “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer”. Seorang pengarang besar yang sepanjang karya membela martabat manusia tidak sepenuhnya bebas dari struktur wacana zamannya. Catatan ini tidak pernah benar-benar steril dari sejarah yang melahirkannya. Tapi justru di dalam ketegangan itulah teks terus bergema, mengingatkan bahwa perjuangan untuk melihat perempuan secara setara selalu harus dimulai kembali, bahkan ketika kita membaca sebuah karya dengan spirit kemanusiaan yang paling tulus sekalipun. [T]

Penulis: Inno Koten
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukunovelPramoedya Ananta ToersastraSastra IndonesiaUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Next Post

Petani Maestro — Ketika Seni Bukanlah Label, Melainkan Pengabdian

Inno Koten

Inno Koten

Lahir di Flores Timur, pada 16 Agustus 1989. Studi Filsafat IFTK Ledalero (2009-2013). Studi Magister Teologi Kontekstual di IFTK Ledelero (2015-2017). Studi Magister Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2023-2025). Saat ini menjadi pendamping Calon Imam Katolik di Seminari Menengah San Dominggo Hokeng

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Petani Maestro — Ketika Seni Bukanlah Label, Melainkan Pengabdian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co