YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah, yang dilindas sejarah besar. Namun sastra, seperti juga sejarah, kadang tidak pernah bebas dari paradoks. Di dalamnya selalu ada retakan. Dan setidaknya itu terbaca dalam “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer.”
Saya menemukan kembali buku ini pada awal 2026, setelah pembacaan pertama yang terhenti pada 2015. Sejak awal, naskah ini terasa ganjil. Pram seperti menempatkan bukunya di antara karya sastra dan laporan sejarah. Cerita berjalan, tetapi kerap terputus oleh kesaksian; tokoh hadir, tetapi tidak sepenuhnya digarap dengan kedalaman psikis. Yang tersisa adalah fragmen, ingatan tentang perempuan yang yang terseret kedalam pusaran kolonialisme Jepang.
Dalam jarak lebih dari sepuluh tahun, teks yang sama terasa membuka wajah lain. Pada pembacaan pertama, perhatian saya tertuju pada kegagalan negara mengingat mereka. Sejarah resmi memilih diam terhadap penderitaan yang dianggap memalukan. Perempuan-perempuan yang dipaksa menjadi jugun ianfu itu seperti lenyap dari ingatan kolektif. Maka lewat buku ini, Pram tampak berdiri sebagai saksi yang mencoba mengembalikan suara mereka.
Pembacaan kedua membawa saya ke arah berbeda. Kali ini yang mengemuka adalah cara narasi bekerja; bagaimana bahasa membentuk gambaran tentang tubuh-tubuh perempuan di dalamnya. Mereka adalah korban sejarah, dipaksa keluar dari kehidupannya, diimingi propaganda dan janji Sendenbu lewat bupati, lurah, dan orang tua mereka sendiri.
Pram menyebut setidaknya tiga alasan yang membuat para gadis itu mudah terjerat. Pertama, cita-cita untuk maju dan berbakti pada masyarakat yang membuat mereka mudah terpikat oleh janji kemajuan. Kedua, keadaan hidup yang mencekik sehingga harapan-harapan yang ditawarkan propaganda terasa seperti jalan keluar. Ketiga, peran orang tua yang bekerja dalam struktur administrasi Jepang dan dengan patuh mengirim anak-anak mereka demi memenuhi perintah kekuasaan.
Penjelasan ini memberi konteks sosial bagi tragedi yang dialami para perempuan. Mereka hadir sebagai korban dari jaringan kekuasaan kolonial, birokrasi lokal, dan himpitan kondisi ekonomi. Akan tetapi, semakin jauh membaca, semakin terasa bahwa narasi tidak berhenti pada peristiwa sejarah. Di dalamnya tersusung cara tertentu dalam memandang tubuh perempuan. Hal ini tampak pada bagian lima, “Para Perawan Remaja Buangan di Pulau Buru.”
Tubuh-tubuh Alfuru ditempatkan dalam posisi yang timpang. Pram membangun gambaran kolektif tentang tubuh pedalaman yang kasar, keras dan akrab dengan penyakit kulit (kaskado) dan elephantiasis (penyakit kaki gajah). Mekanisme ini dikenal sebagai othering, pembentukan identitas kelompok lain melalui generalisasi yang menempatkan orang di luar standar. Standar itu tidak pernah disebutkan, tetapi dapat diduga hadir dalam ingatan tubuh perempuan Jawa. Sebab ketika perempuan Jawa muncul, deskripsi Pram menjadi berubah.
Misalnya, Sutinah digambarkan memiliki kulit kuning sawo matang, bersih dan tidak terserang penyakit kulit. Pada bagian lain, muncul lagi seorang perempuan bertubuh tinggi semampai yang datang ke ladang Wanasurya. Pram menulis bahwa tubuhnya berbeda dari bangun tubuh wanita Alfuru pada umumnya. Bahkan, ketika usia telah meninggalkan keriput pada wajah mereka, dengan jujur Pram mengakui bahwa masih ada bekas-bekas kecantikan yang tertinggal.
Serangkaian deskripsi ini memberi batas estitika estetika secara tegas. Tubuh Jawa tampil sebagai bersih, sehat, indah dan proporsional. Tubuh Alfuru hadir dalam perbandingan yang membuatnya terlihat lebih kasar, pendek, dan dekat dengan kondisi alam yang keras. Dari sini terbentuk hierarki secara halus tetapi konsisten. Yang satu menjadi ukuran, yang lain menjadi pembanding.
Selain tubuh, bahasa turut memperkuat susunan itu. Dalam satu adegan, Pram terkejut ketika dua perempuan Jawa yang dibuang ke Alfuru dapat berbicara bahasa Indonesia dengan sangat baik. Ia menulis bahwa jawaban itu datang “tanpa saya duga”. Keterkejutan ini mengandung asumsi yang cukup jelas. Kemampuan berbahasa Indonesia tidak dibayangkan melekat pada mereka yang hidup di pinggiran.
Situasi ini menunjukkan bahwa bahasa dapat menjadi penanda tingkat peradaban. Kemampuan berbicara bahasa nasional diasosiasikan dengan kedekatan pada pusat kebudayan. Kelompok yang hidup di pinggiran diasumsikan lebih jauh dari standar tersebut. Maka dalam konteks narasi ini, tubuh dan bahasa bekerja bersama membentuk peta simbolik. Jawa sebagai pusat kebudayaan, sementara Alfuru berada di wilayah pinggiran.
Di sinilah paradoks itu muncul. Buku ini ditulis sebagai kesaksian tentang perempuan-perempuan yang dirampas martabat oleh kolonialisme. Pram hendak mengangkat kisah mereka dari penghapusan sejarah, memastikan bahwa tragedi ini layak dikenang dan dibicarakan. Namun pada saat yang sama, bahasa yang digunakan dalam narasi masih memantulkan imajinasi sosial tentang pusat dan pinggiran.
Secara politik, Pram tentu berada di pihak korban. Ia memberi ruang bagi suara yang didiamkan dalam sejarah. Tapi dalam tataran diskursif, narasi yang sama masih membawa jejak hierarki kultural dalam cara memandang tubuh dan kebudayaan. Kontradiksi semacam ini tentu tidak hanya terjadi pada Pram saja. Banyak penulis yang mungkin berjuang melawan ketidakdilan sejarah tetap membawa warisan cara pandang zamannya.
Maka membaca kembali “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer” menghadirkan dua kesadaran sekaligus. Kesadaran akan keberanian moral seorang penulis yang mampu membuka luka sejarah lama yang disembunyikan. Dan kesadaran lain tentang bahasa yang dipakai untuk membela perempuan kadang masih menyimpan bayangan tentang ketidaksederjatan sosial-kultural yang mungkin tidak selalu disadari oleh pengarang sendiri.
Namun, penilaian ini tidak serta-merta menghapus perjuangan Pram lewat “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer”. Sebaliknya, buku itu hampir selalu memiliki lapisan makna yang tidak sepenuhnya stabil. Di dalamnya, selalu terjadi kontestasi antara niat pembelaan kemanusiaan dan struktur bahasa yang membawa warisan sejarah. “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer” tetap penting untuk dibaca. Tapi pada saat yang sama, ada kemungkinan lain untuk melihat hierarki etnis, estetika tubuh, dan imajinasi pusat-pinggiran.
Dengan cara ini, ada pelajaran penting dari pembacaan ulang terhadap “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer”. Seorang pengarang besar yang sepanjang karya membela martabat manusia tidak sepenuhnya bebas dari struktur wacana zamannya. Catatan ini tidak pernah benar-benar steril dari sejarah yang melahirkannya. Tapi justru di dalam ketegangan itulah teks terus bergema, mengingatkan bahwa perjuangan untuk melihat perempuan secara setara selalu harus dimulai kembali, bahkan ketika kita membaca sebuah karya dengan spirit kemanusiaan yang paling tulus sekalipun. [T]
Penulis: Inno Koten
Editor: Adnyana Ole





























