26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

Inno Koten by Inno Koten
March 22, 2026
in Ulas Buku
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

Buku 'Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer'

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,  yang dilindas sejarah besar. Namun sastra, seperti juga sejarah, kadang tidak pernah bebas dari paradoks. Di dalamnya selalu ada retakan. Dan setidaknya itu terbaca dalam “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer.”

Saya menemukan kembali buku ini pada awal 2026, setelah pembacaan pertama yang terhenti pada 2015. Sejak awal, naskah ini terasa ganjil. Pram seperti menempatkan bukunya  di antara karya sastra dan laporan sejarah. Cerita berjalan, tetapi kerap terputus oleh kesaksian; tokoh hadir, tetapi tidak sepenuhnya digarap dengan kedalaman psikis. Yang tersisa adalah fragmen, ingatan tentang perempuan yang yang terseret kedalam pusaran kolonialisme Jepang.

Dalam jarak lebih dari sepuluh tahun, teks yang sama terasa membuka wajah  lain. Pada pembacaan pertama, perhatian saya tertuju pada kegagalan negara mengingat mereka. Sejarah resmi memilih diam terhadap penderitaan yang dianggap memalukan. Perempuan-perempuan yang dipaksa menjadi jugun ianfu itu seperti lenyap dari ingatan kolektif. Maka lewat buku ini, Pram tampak berdiri sebagai saksi yang mencoba mengembalikan suara mereka.

Pembacaan kedua membawa saya ke arah berbeda. Kali ini yang mengemuka adalah cara narasi bekerja; bagaimana bahasa membentuk gambaran tentang tubuh-tubuh perempuan di dalamnya. Mereka adalah korban sejarah, dipaksa keluar dari kehidupannya, diimingi propaganda dan janji Sendenbu lewat bupati, lurah, dan orang tua mereka sendiri.

Pram menyebut setidaknya tiga alasan yang membuat para gadis itu mudah terjerat. Pertama, cita-cita untuk maju dan berbakti pada masyarakat yang membuat mereka mudah terpikat oleh janji kemajuan. Kedua, keadaan hidup yang mencekik sehingga harapan-harapan yang ditawarkan propaganda terasa seperti jalan keluar. Ketiga, peran orang tua yang bekerja dalam struktur administrasi Jepang dan dengan patuh mengirim anak-anak mereka demi memenuhi perintah kekuasaan.

Penjelasan ini memberi konteks sosial bagi tragedi yang dialami para perempuan. Mereka hadir sebagai korban dari jaringan kekuasaan kolonial, birokrasi lokal, dan himpitan kondisi ekonomi. Akan tetapi, semakin jauh  membaca, semakin terasa bahwa narasi tidak berhenti pada peristiwa sejarah. Di dalamnya tersusung cara tertentu dalam memandang tubuh perempuan. Hal ini tampak pada bagian lima, “Para Perawan Remaja Buangan di Pulau Buru.”

Tubuh-tubuh Alfuru ditempatkan dalam posisi yang timpang. Pram membangun gambaran kolektif tentang tubuh pedalaman yang kasar, keras dan akrab dengan penyakit kulit (kaskado) dan elephantiasis (penyakit kaki gajah). Mekanisme ini dikenal sebagai othering, pembentukan identitas kelompok lain melalui generalisasi yang menempatkan orang di luar standar. Standar itu tidak pernah disebutkan, tetapi dapat diduga hadir dalam ingatan tubuh perempuan Jawa. Sebab ketika perempuan Jawa muncul, deskripsi Pram menjadi berubah.

Misalnya, Sutinah digambarkan memiliki kulit kuning sawo matang, bersih dan tidak terserang penyakit kulit. Pada bagian lain, muncul lagi seorang perempuan bertubuh tinggi semampai yang datang ke ladang Wanasurya. Pram menulis bahwa tubuhnya berbeda dari bangun tubuh wanita Alfuru pada umumnya. Bahkan, ketika usia telah meninggalkan keriput pada wajah mereka, dengan jujur Pram mengakui bahwa masih ada bekas-bekas kecantikan yang tertinggal.

Serangkaian deskripsi ini memberi batas estitika estetika secara tegas. Tubuh Jawa tampil sebagai  bersih, sehat, indah dan proporsional. Tubuh Alfuru hadir dalam perbandingan yang membuatnya terlihat lebih kasar, pendek, dan dekat dengan kondisi alam yang keras. Dari sini terbentuk hierarki secara halus tetapi konsisten. Yang satu menjadi ukuran, yang lain menjadi pembanding.

Selain tubuh, bahasa turut memperkuat susunan itu. Dalam satu adegan, Pram terkejut ketika dua perempuan Jawa yang dibuang ke Alfuru dapat berbicara bahasa Indonesia dengan sangat baik. Ia menulis bahwa jawaban itu datang “tanpa saya duga”.  Keterkejutan ini mengandung asumsi yang cukup jelas. Kemampuan berbahasa Indonesia tidak dibayangkan melekat pada mereka yang hidup di pinggiran.

Situasi ini menunjukkan bahwa bahasa dapat menjadi penanda tingkat peradaban. Kemampuan berbicara bahasa nasional diasosiasikan dengan kedekatan pada pusat kebudayan. Kelompok yang hidup di pinggiran diasumsikan lebih jauh dari standar tersebut. Maka dalam konteks narasi ini, tubuh dan bahasa bekerja bersama membentuk peta simbolik. Jawa sebagai pusat kebudayaan, sementara Alfuru berada di wilayah pinggiran.

Di sinilah paradoks itu muncul. Buku ini ditulis sebagai kesaksian tentang perempuan-perempuan yang dirampas martabat oleh kolonialisme. Pram hendak mengangkat kisah mereka dari penghapusan sejarah, memastikan bahwa tragedi ini layak dikenang dan dibicarakan. Namun pada saat yang sama, bahasa yang digunakan dalam narasi masih memantulkan imajinasi sosial tentang pusat dan pinggiran.

Secara politik, Pram tentu berada di pihak korban. Ia memberi ruang bagi suara yang didiamkan dalam sejarah. Tapi dalam tataran diskursif, narasi yang sama masih membawa jejak hierarki kultural dalam cara memandang tubuh dan kebudayaan. Kontradiksi semacam ini tentu tidak hanya terjadi pada Pram saja. Banyak penulis yang mungkin berjuang melawan ketidakdilan sejarah tetap membawa warisan cara pandang zamannya.

Maka membaca kembali “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer” menghadirkan dua  kesadaran sekaligus. Kesadaran akan keberanian moral seorang penulis yang mampu membuka luka sejarah lama yang disembunyikan. Dan kesadaran lain tentang bahasa yang dipakai untuk membela perempuan kadang masih menyimpan bayangan tentang ketidaksederjatan sosial-kultural yang mungkin tidak selalu disadari oleh pengarang sendiri.

Namun, penilaian ini tidak serta-merta menghapus perjuangan Pram lewat “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer”. Sebaliknya, buku itu hampir selalu memiliki lapisan makna yang tidak sepenuhnya stabil. Di dalamnya, selalu terjadi kontestasi antara niat pembelaan kemanusiaan dan struktur bahasa yang membawa warisan sejarah.  “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer” tetap penting untuk dibaca. Tapi pada saat yang sama, ada kemungkinan lain untuk melihat hierarki etnis, estetika tubuh, dan imajinasi pusat-pinggiran.

Dengan cara ini, ada pelajaran penting dari pembacaan ulang terhadap “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer”. Seorang pengarang besar yang sepanjang karya membela martabat manusia tidak sepenuhnya bebas dari struktur wacana zamannya. Catatan ini tidak pernah benar-benar steril dari sejarah yang melahirkannya. Tapi justru di dalam ketegangan itulah teks terus bergema, mengingatkan bahwa perjuangan untuk melihat perempuan secara setara selalu harus dimulai kembali, bahkan ketika kita membaca sebuah karya dengan spirit kemanusiaan yang paling tulus sekalipun. [T]

Penulis: Inno Koten
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukunovelPramoedya Ananta ToersastraSastra IndonesiaUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Next Post

Petani Maestro — Ketika Seni Bukanlah Label, Melainkan Pengabdian

Inno Koten

Inno Koten

Lahir di Flores Timur, pada 16 Agustus 1989. Studi Filsafat IFTK Ledalero (2009-2013). Studi Magister Teologi Kontekstual di IFTK Ledelero (2015-2017). Studi Magister Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2023-2025). Saat ini menjadi pendamping Calon Imam Katolik di Seminari Menengah San Dominggo Hokeng

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Petani Maestro — Ketika Seni Bukanlah Label, Melainkan Pengabdian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co