4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

Inno Koten by Inno Koten
March 22, 2026
in Ulas Buku
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

Buku 'Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer'

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,  yang dilindas sejarah besar. Namun sastra, seperti juga sejarah, kadang tidak pernah bebas dari paradoks. Di dalamnya selalu ada retakan. Dan setidaknya itu terbaca dalam “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer.”

Saya menemukan kembali buku ini pada awal 2026, setelah pembacaan pertama yang terhenti pada 2015. Sejak awal, naskah ini terasa ganjil. Pram seperti menempatkan bukunya  di antara karya sastra dan laporan sejarah. Cerita berjalan, tetapi kerap terputus oleh kesaksian; tokoh hadir, tetapi tidak sepenuhnya digarap dengan kedalaman psikis. Yang tersisa adalah fragmen, ingatan tentang perempuan yang yang terseret kedalam pusaran kolonialisme Jepang.

Dalam jarak lebih dari sepuluh tahun, teks yang sama terasa membuka wajah  lain. Pada pembacaan pertama, perhatian saya tertuju pada kegagalan negara mengingat mereka. Sejarah resmi memilih diam terhadap penderitaan yang dianggap memalukan. Perempuan-perempuan yang dipaksa menjadi jugun ianfu itu seperti lenyap dari ingatan kolektif. Maka lewat buku ini, Pram tampak berdiri sebagai saksi yang mencoba mengembalikan suara mereka.

Pembacaan kedua membawa saya ke arah berbeda. Kali ini yang mengemuka adalah cara narasi bekerja; bagaimana bahasa membentuk gambaran tentang tubuh-tubuh perempuan di dalamnya. Mereka adalah korban sejarah, dipaksa keluar dari kehidupannya, diimingi propaganda dan janji Sendenbu lewat bupati, lurah, dan orang tua mereka sendiri.

Pram menyebut setidaknya tiga alasan yang membuat para gadis itu mudah terjerat. Pertama, cita-cita untuk maju dan berbakti pada masyarakat yang membuat mereka mudah terpikat oleh janji kemajuan. Kedua, keadaan hidup yang mencekik sehingga harapan-harapan yang ditawarkan propaganda terasa seperti jalan keluar. Ketiga, peran orang tua yang bekerja dalam struktur administrasi Jepang dan dengan patuh mengirim anak-anak mereka demi memenuhi perintah kekuasaan.

Penjelasan ini memberi konteks sosial bagi tragedi yang dialami para perempuan. Mereka hadir sebagai korban dari jaringan kekuasaan kolonial, birokrasi lokal, dan himpitan kondisi ekonomi. Akan tetapi, semakin jauh  membaca, semakin terasa bahwa narasi tidak berhenti pada peristiwa sejarah. Di dalamnya tersusung cara tertentu dalam memandang tubuh perempuan. Hal ini tampak pada bagian lima, “Para Perawan Remaja Buangan di Pulau Buru.”

Tubuh-tubuh Alfuru ditempatkan dalam posisi yang timpang. Pram membangun gambaran kolektif tentang tubuh pedalaman yang kasar, keras dan akrab dengan penyakit kulit (kaskado) dan elephantiasis (penyakit kaki gajah). Mekanisme ini dikenal sebagai othering, pembentukan identitas kelompok lain melalui generalisasi yang menempatkan orang di luar standar. Standar itu tidak pernah disebutkan, tetapi dapat diduga hadir dalam ingatan tubuh perempuan Jawa. Sebab ketika perempuan Jawa muncul, deskripsi Pram menjadi berubah.

Misalnya, Sutinah digambarkan memiliki kulit kuning sawo matang, bersih dan tidak terserang penyakit kulit. Pada bagian lain, muncul lagi seorang perempuan bertubuh tinggi semampai yang datang ke ladang Wanasurya. Pram menulis bahwa tubuhnya berbeda dari bangun tubuh wanita Alfuru pada umumnya. Bahkan, ketika usia telah meninggalkan keriput pada wajah mereka, dengan jujur Pram mengakui bahwa masih ada bekas-bekas kecantikan yang tertinggal.

Serangkaian deskripsi ini memberi batas estitika estetika secara tegas. Tubuh Jawa tampil sebagai  bersih, sehat, indah dan proporsional. Tubuh Alfuru hadir dalam perbandingan yang membuatnya terlihat lebih kasar, pendek, dan dekat dengan kondisi alam yang keras. Dari sini terbentuk hierarki secara halus tetapi konsisten. Yang satu menjadi ukuran, yang lain menjadi pembanding.

Selain tubuh, bahasa turut memperkuat susunan itu. Dalam satu adegan, Pram terkejut ketika dua perempuan Jawa yang dibuang ke Alfuru dapat berbicara bahasa Indonesia dengan sangat baik. Ia menulis bahwa jawaban itu datang “tanpa saya duga”.  Keterkejutan ini mengandung asumsi yang cukup jelas. Kemampuan berbahasa Indonesia tidak dibayangkan melekat pada mereka yang hidup di pinggiran.

Situasi ini menunjukkan bahwa bahasa dapat menjadi penanda tingkat peradaban. Kemampuan berbicara bahasa nasional diasosiasikan dengan kedekatan pada pusat kebudayan. Kelompok yang hidup di pinggiran diasumsikan lebih jauh dari standar tersebut. Maka dalam konteks narasi ini, tubuh dan bahasa bekerja bersama membentuk peta simbolik. Jawa sebagai pusat kebudayaan, sementara Alfuru berada di wilayah pinggiran.

Di sinilah paradoks itu muncul. Buku ini ditulis sebagai kesaksian tentang perempuan-perempuan yang dirampas martabat oleh kolonialisme. Pram hendak mengangkat kisah mereka dari penghapusan sejarah, memastikan bahwa tragedi ini layak dikenang dan dibicarakan. Namun pada saat yang sama, bahasa yang digunakan dalam narasi masih memantulkan imajinasi sosial tentang pusat dan pinggiran.

Secara politik, Pram tentu berada di pihak korban. Ia memberi ruang bagi suara yang didiamkan dalam sejarah. Tapi dalam tataran diskursif, narasi yang sama masih membawa jejak hierarki kultural dalam cara memandang tubuh dan kebudayaan. Kontradiksi semacam ini tentu tidak hanya terjadi pada Pram saja. Banyak penulis yang mungkin berjuang melawan ketidakdilan sejarah tetap membawa warisan cara pandang zamannya.

Maka membaca kembali “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer” menghadirkan dua  kesadaran sekaligus. Kesadaran akan keberanian moral seorang penulis yang mampu membuka luka sejarah lama yang disembunyikan. Dan kesadaran lain tentang bahasa yang dipakai untuk membela perempuan kadang masih menyimpan bayangan tentang ketidaksederjatan sosial-kultural yang mungkin tidak selalu disadari oleh pengarang sendiri.

Namun, penilaian ini tidak serta-merta menghapus perjuangan Pram lewat “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer”. Sebaliknya, buku itu hampir selalu memiliki lapisan makna yang tidak sepenuhnya stabil. Di dalamnya, selalu terjadi kontestasi antara niat pembelaan kemanusiaan dan struktur bahasa yang membawa warisan sejarah.  “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer” tetap penting untuk dibaca. Tapi pada saat yang sama, ada kemungkinan lain untuk melihat hierarki etnis, estetika tubuh, dan imajinasi pusat-pinggiran.

Dengan cara ini, ada pelajaran penting dari pembacaan ulang terhadap “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer”. Seorang pengarang besar yang sepanjang karya membela martabat manusia tidak sepenuhnya bebas dari struktur wacana zamannya. Catatan ini tidak pernah benar-benar steril dari sejarah yang melahirkannya. Tapi justru di dalam ketegangan itulah teks terus bergema, mengingatkan bahwa perjuangan untuk melihat perempuan secara setara selalu harus dimulai kembali, bahkan ketika kita membaca sebuah karya dengan spirit kemanusiaan yang paling tulus sekalipun. [T]

Penulis: Inno Koten
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukunovelPramoedya Ananta ToersastraSastra IndonesiaUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Next Post

Petani Maestro — Ketika Seni Bukanlah Label, Melainkan Pengabdian

Inno Koten

Inno Koten

Lahir di Flores Timur, pada 16 Agustus 1989. Studi Filsafat IFTK Ledalero (2009-2013). Studi Magister Teologi Kontekstual di IFTK Ledelero (2015-2017). Studi Magister Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2023-2025). Saat ini menjadi pendamping Calon Imam Katolik di Seminari Menengah San Dominggo Hokeng

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Petani Maestro — Ketika Seni Bukanlah Label, Melainkan Pengabdian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co