4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Reda Subagio by Reda Subagio
March 22, 2026
in Esai
Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di hari yang seharusnya penuh pelukan, tidak semua orang benar-benar merasa pulang.

Lebaran selalu datang dengan janji yang sama. Tentang maaf, tentang kembali, tentang kebahagiaan yang seolah wajib dirasakan bersama. Di meja makan, ketupat tersaji. Di ruang tamu, tawa berusaha dihidupkan. Di grup keluarga, ucapan berseliweran tanpa henti. Semua tampak utuh, seperti tradisi yang tak pernah retak.

Namun, ada yang sering luput kita dengar, suara-suara kecil di dalam diri, yang justru paling berisik saat Lebaran tiba. Banyak orang kelelahan, tetapi tidak tahu harus mengaku kepada siapa.

Lebaran bukan hanya peristiwa spiritual, melainkan juga peristiwa sosial. Dan seperti semua peristiwa sosial, ia membawa ekspektasi. Kita diharapkan hadir, tersenyum, menjawab pertanyaan, dan yang paling sering, menjelaskan hidup kita kepada orang lain. “Kapan menikah?”, “Kerja di mana sekarang?”, “Gajinya sudah berapa”?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar ringan bagi yang bertanya. Bahkan sering dibungkus dengan tawa. Tetapi bagi yang ditanya, tidak selalu demikian. Ada yang menjawab sambil tersenyum. Ada yang menghindar, ada juga yang pulang dengan perasaan lebih sepi dari sebelumnya.

Di momen seperti ini, keluarga bisa berubah menjadi ruang yang ambigu. Ia adalah tempat paling dekat, tetapi sekaligus bisa menjadi sumber tekanan paling besar. Tidak semua orang siap membuka hidupnya seperti buku yang bebas dibaca.

Di Bali, Lebaran punya cerita yang berbeda. Tidak semua orang memiliki kampung halaman untuk pulang. Banyak yang hidup sebagai perantau permanen, membangun kehidupan jauh dari akar asalnya. Ada yang memilih tinggal. Ada yang tidak punya pilihan selain tinggal.

Mereka tetap merayakan. Salat Id di lapangan kota, berkunjung ke teman, atau sekadar mengirim pesan kepada keluarga yang jauh. Tetapi ada ruang kosong yang tidak selalu bisa diisi. Lebaran tanpa pulang bukan hanya soal jarak. Ia adalah soal rasa yang menggantung.

Dan di situlah kesepian sering tumbuh, diam-diam. Ada juga yang pulang, tetapi tidak benar-benar merasa kembali. Rumah yang dulu akrab, kini terasa berbeda. Orang tua menua. Saudara berubah. Lingkungan tidak lagi sama. Bahkan diri sendiri pun sudah tidak seperti dulu.

Lebaran, dalam situasi ini, bukan lagi sekadar perayaan, melainkan pertemuan antara masa lalu dan kenyataan hari ini. Tidak selalu mudah menjembatani keduanya. Kadang yang muncul bukan kehangatan, melainkan kecanggungan yang sulit dijelaskan.

Di tengah semua itu, ada satu hal yang jarang kita akui. Lebaran bisa melelahkan secara emosional.Bukan karena kita tidak bersyukur, atau bukan karena kita tidak menghargai tradisi. Tetapi karena menjadi baik-baik saja di depan banyak orang membutuhkan energi yang tidak sedikit.

Kita mengatur ekspresi. Menyaring jawaban. Menahan reaksi. Semua dilakukan demi menjaga suasana tetap nyaman. Namun, siapa yang menjaga kita.

Psikiater Bali Mental Health Clinic (BMHC), dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ (K), pernah menjelaskan bahwa momen hari raya kerap memicu tekanan psikologis, terutama karena meningkatnya interaksi sosial dan ekspektasi dari lingkungan terdekat.

Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan personal yang dianggap biasa justru bisa menjadi pemicu kecemasan bagi sebagian orang, apalagi jika individu tersebut sedang berada dalam fase hidup yang tidak stabil.

Kesehatan mental sering kali menjadi topik yang terasa jauh dari perayaan seperti Lebaran. Padahal justru di momen inilah ia diuji. Ketika interaksi sosial meningkat, ekspektasi meninggi, dan ruang pribadi menyempit.

Tidak semua orang punya energi yang sama untuk menghadapi itu. Ada yang butuh jeda, butuh diam, dan ada juga yang butuh ruang untuk tidak menjawab apa pun.

Dan itu seharusnya tidak dianggap aneh. Mungkin, yang perlu kita ubah bukan tradisinya, tetapi cara kita memaknainya. Silaturahmi tidak harus selalu berarti membuka semua hal. Kebersamaan tidak harus memaksa semua orang merasa sama. Dan kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang ramai.

Kadang, kebahagiaan justru datang dari hal-hal kecil, duduk tenang, berbincang tanpa tekanan, atau sekadar didengarkan tanpa dihakimi. Lebaran seharusnya memberi ruang, bukan mengambilnya.

Kita juga bisa mulai dari hal sederhana, berhenti menanyakan hal-hal yang terlalu pribadi, atau setidaknya belajar membaca situasi. Tidak semua orang siap berbagi, dan tidak seemua cerita ingin diceritakan.

Menghormati batasan orang lain adalah bagian dari memuliakan hubungan. Bukankah itu juga inti dari saling memaafkan?

Pada akhirnya, Lebaran bukan tentang seberapa sempurna kita terlihat di mata orang lain. Ia adalah tentang bagaimana kita berdamai dengan diri sendiri. Tentang menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Tentang memberi ruang bagi luka yang belum selesai. Dan tentang mengakui bahwa kita tidak selalu harus kuat. Di antara takbir yang menggema dan tangan-tangan yang saling berjabat, mungkin ada satu doa yang jarang diucapkan, tetapi diam-diam dipanjatkan; semoga kita tidak hanya saling memaafkan, tetapi juga saling memahami. Karena di hari yang penuh perayaan ini, tidak semua orang benar-benar baik-baik saja. Dan itu tidak apa-apa. [T]

Penulis: Reda Subagio
Editor: Adnyana Ole

Tags: IdulfitriIslamLebaranMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Next Post

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

Reda Subagio

Reda Subagio

Perempuan asal Jakarta yang telah lama bekerja dan menetap di Denpasar-Bali

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks ---Membaca Kembali 'Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co