14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Reda Subagio by Reda Subagio
March 22, 2026
in Esai
Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di hari yang seharusnya penuh pelukan, tidak semua orang benar-benar merasa pulang.

Lebaran selalu datang dengan janji yang sama. Tentang maaf, tentang kembali, tentang kebahagiaan yang seolah wajib dirasakan bersama. Di meja makan, ketupat tersaji. Di ruang tamu, tawa berusaha dihidupkan. Di grup keluarga, ucapan berseliweran tanpa henti. Semua tampak utuh, seperti tradisi yang tak pernah retak.

Namun, ada yang sering luput kita dengar, suara-suara kecil di dalam diri, yang justru paling berisik saat Lebaran tiba. Banyak orang kelelahan, tetapi tidak tahu harus mengaku kepada siapa.

Lebaran bukan hanya peristiwa spiritual, melainkan juga peristiwa sosial. Dan seperti semua peristiwa sosial, ia membawa ekspektasi. Kita diharapkan hadir, tersenyum, menjawab pertanyaan, dan yang paling sering, menjelaskan hidup kita kepada orang lain. “Kapan menikah?”, “Kerja di mana sekarang?”, “Gajinya sudah berapa”?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar ringan bagi yang bertanya. Bahkan sering dibungkus dengan tawa. Tetapi bagi yang ditanya, tidak selalu demikian. Ada yang menjawab sambil tersenyum. Ada yang menghindar, ada juga yang pulang dengan perasaan lebih sepi dari sebelumnya.

Di momen seperti ini, keluarga bisa berubah menjadi ruang yang ambigu. Ia adalah tempat paling dekat, tetapi sekaligus bisa menjadi sumber tekanan paling besar. Tidak semua orang siap membuka hidupnya seperti buku yang bebas dibaca.

Di Bali, Lebaran punya cerita yang berbeda. Tidak semua orang memiliki kampung halaman untuk pulang. Banyak yang hidup sebagai perantau permanen, membangun kehidupan jauh dari akar asalnya. Ada yang memilih tinggal. Ada yang tidak punya pilihan selain tinggal.

Mereka tetap merayakan. Salat Id di lapangan kota, berkunjung ke teman, atau sekadar mengirim pesan kepada keluarga yang jauh. Tetapi ada ruang kosong yang tidak selalu bisa diisi. Lebaran tanpa pulang bukan hanya soal jarak. Ia adalah soal rasa yang menggantung.

Dan di situlah kesepian sering tumbuh, diam-diam. Ada juga yang pulang, tetapi tidak benar-benar merasa kembali. Rumah yang dulu akrab, kini terasa berbeda. Orang tua menua. Saudara berubah. Lingkungan tidak lagi sama. Bahkan diri sendiri pun sudah tidak seperti dulu.

Lebaran, dalam situasi ini, bukan lagi sekadar perayaan, melainkan pertemuan antara masa lalu dan kenyataan hari ini. Tidak selalu mudah menjembatani keduanya. Kadang yang muncul bukan kehangatan, melainkan kecanggungan yang sulit dijelaskan.

Di tengah semua itu, ada satu hal yang jarang kita akui. Lebaran bisa melelahkan secara emosional.Bukan karena kita tidak bersyukur, atau bukan karena kita tidak menghargai tradisi. Tetapi karena menjadi baik-baik saja di depan banyak orang membutuhkan energi yang tidak sedikit.

Kita mengatur ekspresi. Menyaring jawaban. Menahan reaksi. Semua dilakukan demi menjaga suasana tetap nyaman. Namun, siapa yang menjaga kita.

Psikiater Bali Mental Health Clinic (BMHC), dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ (K), pernah menjelaskan bahwa momen hari raya kerap memicu tekanan psikologis, terutama karena meningkatnya interaksi sosial dan ekspektasi dari lingkungan terdekat.

Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan personal yang dianggap biasa justru bisa menjadi pemicu kecemasan bagi sebagian orang, apalagi jika individu tersebut sedang berada dalam fase hidup yang tidak stabil.

Kesehatan mental sering kali menjadi topik yang terasa jauh dari perayaan seperti Lebaran. Padahal justru di momen inilah ia diuji. Ketika interaksi sosial meningkat, ekspektasi meninggi, dan ruang pribadi menyempit.

Tidak semua orang punya energi yang sama untuk menghadapi itu. Ada yang butuh jeda, butuh diam, dan ada juga yang butuh ruang untuk tidak menjawab apa pun.

Dan itu seharusnya tidak dianggap aneh. Mungkin, yang perlu kita ubah bukan tradisinya, tetapi cara kita memaknainya. Silaturahmi tidak harus selalu berarti membuka semua hal. Kebersamaan tidak harus memaksa semua orang merasa sama. Dan kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang ramai.

Kadang, kebahagiaan justru datang dari hal-hal kecil, duduk tenang, berbincang tanpa tekanan, atau sekadar didengarkan tanpa dihakimi. Lebaran seharusnya memberi ruang, bukan mengambilnya.

Kita juga bisa mulai dari hal sederhana, berhenti menanyakan hal-hal yang terlalu pribadi, atau setidaknya belajar membaca situasi. Tidak semua orang siap berbagi, dan tidak seemua cerita ingin diceritakan.

Menghormati batasan orang lain adalah bagian dari memuliakan hubungan. Bukankah itu juga inti dari saling memaafkan?

Pada akhirnya, Lebaran bukan tentang seberapa sempurna kita terlihat di mata orang lain. Ia adalah tentang bagaimana kita berdamai dengan diri sendiri. Tentang menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Tentang memberi ruang bagi luka yang belum selesai. Dan tentang mengakui bahwa kita tidak selalu harus kuat. Di antara takbir yang menggema dan tangan-tangan yang saling berjabat, mungkin ada satu doa yang jarang diucapkan, tetapi diam-diam dipanjatkan; semoga kita tidak hanya saling memaafkan, tetapi juga saling memahami. Karena di hari yang penuh perayaan ini, tidak semua orang benar-benar baik-baik saja. Dan itu tidak apa-apa. [T]

Penulis: Reda Subagio
Editor: Adnyana Ole

Tags: IdulfitriIslamLebaranMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Next Post

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

Reda Subagio

Reda Subagio

Perempuan asal Jakarta yang telah lama bekerja dan menetap di Denpasar-Bali

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks ---Membaca Kembali 'Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co