4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Reda Subagio by Reda Subagio
March 22, 2026
in Esai
Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di hari yang seharusnya penuh pelukan, tidak semua orang benar-benar merasa pulang.

Lebaran selalu datang dengan janji yang sama. Tentang maaf, tentang kembali, tentang kebahagiaan yang seolah wajib dirasakan bersama. Di meja makan, ketupat tersaji. Di ruang tamu, tawa berusaha dihidupkan. Di grup keluarga, ucapan berseliweran tanpa henti. Semua tampak utuh, seperti tradisi yang tak pernah retak.

Namun, ada yang sering luput kita dengar, suara-suara kecil di dalam diri, yang justru paling berisik saat Lebaran tiba. Banyak orang kelelahan, tetapi tidak tahu harus mengaku kepada siapa.

Lebaran bukan hanya peristiwa spiritual, melainkan juga peristiwa sosial. Dan seperti semua peristiwa sosial, ia membawa ekspektasi. Kita diharapkan hadir, tersenyum, menjawab pertanyaan, dan yang paling sering, menjelaskan hidup kita kepada orang lain. “Kapan menikah?”, “Kerja di mana sekarang?”, “Gajinya sudah berapa”?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar ringan bagi yang bertanya. Bahkan sering dibungkus dengan tawa. Tetapi bagi yang ditanya, tidak selalu demikian. Ada yang menjawab sambil tersenyum. Ada yang menghindar, ada juga yang pulang dengan perasaan lebih sepi dari sebelumnya.

Di momen seperti ini, keluarga bisa berubah menjadi ruang yang ambigu. Ia adalah tempat paling dekat, tetapi sekaligus bisa menjadi sumber tekanan paling besar. Tidak semua orang siap membuka hidupnya seperti buku yang bebas dibaca.

Di Bali, Lebaran punya cerita yang berbeda. Tidak semua orang memiliki kampung halaman untuk pulang. Banyak yang hidup sebagai perantau permanen, membangun kehidupan jauh dari akar asalnya. Ada yang memilih tinggal. Ada yang tidak punya pilihan selain tinggal.

Mereka tetap merayakan. Salat Id di lapangan kota, berkunjung ke teman, atau sekadar mengirim pesan kepada keluarga yang jauh. Tetapi ada ruang kosong yang tidak selalu bisa diisi. Lebaran tanpa pulang bukan hanya soal jarak. Ia adalah soal rasa yang menggantung.

Dan di situlah kesepian sering tumbuh, diam-diam. Ada juga yang pulang, tetapi tidak benar-benar merasa kembali. Rumah yang dulu akrab, kini terasa berbeda. Orang tua menua. Saudara berubah. Lingkungan tidak lagi sama. Bahkan diri sendiri pun sudah tidak seperti dulu.

Lebaran, dalam situasi ini, bukan lagi sekadar perayaan, melainkan pertemuan antara masa lalu dan kenyataan hari ini. Tidak selalu mudah menjembatani keduanya. Kadang yang muncul bukan kehangatan, melainkan kecanggungan yang sulit dijelaskan.

Di tengah semua itu, ada satu hal yang jarang kita akui. Lebaran bisa melelahkan secara emosional.Bukan karena kita tidak bersyukur, atau bukan karena kita tidak menghargai tradisi. Tetapi karena menjadi baik-baik saja di depan banyak orang membutuhkan energi yang tidak sedikit.

Kita mengatur ekspresi. Menyaring jawaban. Menahan reaksi. Semua dilakukan demi menjaga suasana tetap nyaman. Namun, siapa yang menjaga kita.

Psikiater Bali Mental Health Clinic (BMHC), dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ (K), pernah menjelaskan bahwa momen hari raya kerap memicu tekanan psikologis, terutama karena meningkatnya interaksi sosial dan ekspektasi dari lingkungan terdekat.

Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan personal yang dianggap biasa justru bisa menjadi pemicu kecemasan bagi sebagian orang, apalagi jika individu tersebut sedang berada dalam fase hidup yang tidak stabil.

Kesehatan mental sering kali menjadi topik yang terasa jauh dari perayaan seperti Lebaran. Padahal justru di momen inilah ia diuji. Ketika interaksi sosial meningkat, ekspektasi meninggi, dan ruang pribadi menyempit.

Tidak semua orang punya energi yang sama untuk menghadapi itu. Ada yang butuh jeda, butuh diam, dan ada juga yang butuh ruang untuk tidak menjawab apa pun.

Dan itu seharusnya tidak dianggap aneh. Mungkin, yang perlu kita ubah bukan tradisinya, tetapi cara kita memaknainya. Silaturahmi tidak harus selalu berarti membuka semua hal. Kebersamaan tidak harus memaksa semua orang merasa sama. Dan kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang ramai.

Kadang, kebahagiaan justru datang dari hal-hal kecil, duduk tenang, berbincang tanpa tekanan, atau sekadar didengarkan tanpa dihakimi. Lebaran seharusnya memberi ruang, bukan mengambilnya.

Kita juga bisa mulai dari hal sederhana, berhenti menanyakan hal-hal yang terlalu pribadi, atau setidaknya belajar membaca situasi. Tidak semua orang siap berbagi, dan tidak seemua cerita ingin diceritakan.

Menghormati batasan orang lain adalah bagian dari memuliakan hubungan. Bukankah itu juga inti dari saling memaafkan?

Pada akhirnya, Lebaran bukan tentang seberapa sempurna kita terlihat di mata orang lain. Ia adalah tentang bagaimana kita berdamai dengan diri sendiri. Tentang menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Tentang memberi ruang bagi luka yang belum selesai. Dan tentang mengakui bahwa kita tidak selalu harus kuat. Di antara takbir yang menggema dan tangan-tangan yang saling berjabat, mungkin ada satu doa yang jarang diucapkan, tetapi diam-diam dipanjatkan; semoga kita tidak hanya saling memaafkan, tetapi juga saling memahami. Karena di hari yang penuh perayaan ini, tidak semua orang benar-benar baik-baik saja. Dan itu tidak apa-apa. [T]

Penulis: Reda Subagio
Editor: Adnyana Ole

Tags: IdulfitriIslamLebaranMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Next Post

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

Reda Subagio

Reda Subagio

Perempuan asal Jakarta yang telah lama bekerja dan menetap di Denpasar-Bali

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks ---Membaca Kembali 'Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co