14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 22, 2026
in Esai
Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Ilustrasi tatkala.co | Canva

LEBARAN di Denpasar, Bali, tidak datang dengan gegap gempita. Tidak ada iring-iringan kendaraan yang padat sejak subuh, tidak ada suara petasan bersahutan. Jalanan justru terasa lebih lengang dari biasanya. Di beberapa tempat, suara takbir terdengar pelan dari masjid, mengalun tanpa pengeras suara yang berlebihan.

Di sebuah rumah kontrakan di kawasan Denpasar Barat, Rahmat, 32 tahun, sudah bangun sejak pukul lima pagi. Ia menyeduh kopi sachet, lalu menatap layar ponselnya yang sejak tadi menampilkan wajah ibunya di kampung, di Banyuwangi, Jawa Timur.

“Tahun ini belum bisa pulang lagi,” katanya pelan.

Di layar itu, sang ibu tersenyum. Di belakangnya, tampak ruang tamu sederhana dengan toples kue Lebaran yang sudah dibuka. Tidak ada percakapan panjang. Hanya saling melihat, seolah mencoba menutup jarak yang tidak mungkin ditempuh hari itu.

Hari itu adalah Idul Fitri, tapi bagi Rahmat dan banyak perantau lain di Bali, Lebaran tidak lagi identik dengan pulang.

Rahmat bekerja di sebuah laundry kecil yang melayani hotel dan vila. Sejak pandemi mereda, pekerjaannya kembali ramai. Libur panjang seperti Lebaran justru menjadi masa sibuk.

“Kalau saya pulang, siapa yang jaga?” ujarnya.

Biaya transportasi yang mahal juga jadi alasan lain. Tapi lama-lama, alasan itu tidak lagi terasa utama. Ada sesuatu yang berubah diam-diam.

“Saya sudah delapan tahun di Bali. Kadang malah bingung, pulang itu ke mana,” katanya, setengah bercanda, setengah serius.

Cerita seperti Rahmat bukan hal baru. Di Bali, ribuan perantau dari Jawa, Lombok, hingga Sulawesi hidup dan bekerja, mengisi sektor-sektor yang membuat pulau ini tetap bergerak. Saat Lebaran tiba, tidak semua dari mereka berkemas. Sebagian tetap tinggal.

Di lapangan umum tidak jauh dari tempat tinggalnya, Rahmat salat Id bersama puluhan orang lain. Mereka datang dengan pakaian terbaik yang mereka punya, sebagian mengenakan baju koko yang mungkin hanya dipakai setahun sekali.

Setelah salat, mereka tidak langsung pulang. Ada yang saling bersalaman lebih lama dari biasanya. Ada yang bertukar cerita singkat, menanyakan kabar keluarga di kampung. Ada juga yang langsung mengajak, “Nanti mampir ke rumah, ya.”

Ajakan itu sederhana, tapi penting. Karena di sinilah Lebaran menemukan bentuknya yang lain. Bukan lagi tentang berkumpul dengan keluarga besar, tapi tentang menciptakan keluarga kecil dari orang-orang yang sama-sama jauh dari rumah.

Di beberapa sudut Bali, ruang-ruang semacam itu sudah lama ada. Komunitas Muslim tumbuh dan bertahan, menjadi tempat singgah bagi mereka yang datang dari berbagai daerah.

Di Loloan, sebuah kampung tua di Negara, Jembrana, Lebaran terasa lebih riuh. Anak-anak berlarian dengan baju baru, dapur-dapur memasak sejak pagi, dan pintu-pintu rumah terbuka untuk siapa saja.

Sementara di Denpasar dan Badung, suasananya lebih sederhana. Tapi kehangatan itu tetap ada, hanya dalam skala yang lebih kecil.

“Di sini kita saling cari,” kata Siti, 27 tahun, pekerja toko oleh-oleh asal Lombok. “Kalau tidak sama teman-teman, ya Lebaran bisa terasa kosong sekali,” imbuh dia.

Tahun ini, Siti juga tidak pulang. Ia memilih untuk tetap di Bali. Tapi siang itu, ia mengundang tiga temannya ke kamar kosnya yang sempit. Mereka makan ketupat dan opor yang dimasak bersama sejak malam sebelumnya. Tidak mewah. Tapi cukup.

Meski begitu, tidak semua bisa digantikan. Rindu tetap datang, seringkali tanpa aba-aba. Ia muncul saat melihat foto keluarga di grup WhatsApp. Saat mendengar suara takbir dari video yang dikirim saudara. Atau saat mencium aroma masakan yang mengingatkan pada rumah.

“Kalau malam Lebaran itu biasanya yang paling terasa. Pas sudah sepi, baru kepikiran,” ujar Rahmat.

Ia tidak menangis. Tidak juga mengeluh. Tapi ada jeda dalam kalimatnya, seperti ada sesuatu yang sengaja tidak diucapkan. Bagi banyak perantau, rindu bukan sesuatu yang harus diselesaikan. Ia cukup diterima.

Menjadi Muslim di Bali juga berarti merayakan Lebaran dalam versi yang lebih tenang. Tidak ada keramaian berlebihan, tidak ada tekanan sosial untuk tampil sempurna. Bahkan takbiran pun berlangsung lebih singkat dan tertib.

Namun justru di situlah, bagi sebagian orang, makna Lebaran terasa lebih utuh. Lebih dekat ke diri sendiri.

“Di sini lebih khusyuk. Tidak banyak keriuhan,” kata Siti.

Tanpa hiruk pikuk, Lebaran menjadi ruang untuk benar-benar berhenti sejenak. Mengingat apa yang sudah dilalui, dan apa yang ingin diperbaiki.

Menjelang sore, Denpasar kembali seperti hari biasa. Motor lalu lalang, warung-warung buka, dan aktivitas berjalan seperti semula. Jika tidak tahu, orang mungkin tidak akan menyangka hari itu adalah Lebaran.

Tapi bagi Rahmat dan Siti, hari itu tetap istimewa. Bukan karena kemeriahannya, tapi karena pilihan yang mereka jalani. Mereka tidak pulang. Tapi bukan berarti mereka kehilangan.

Di pulau ini, pelan-pelan, mereka belajar bahwa rumah tidak selalu berada di tempat kita dilahirkan. Kadang, ia tumbuh di tempat yang kita pilih untuk bertahan. Dan di Bali, di antara kontrakan sempit, masjid kecil, dan meja makan sederhana, sebagian perantau sedang melakukan hal itu. Membangun rumah, tanpa benar-benar pulang. [T]

Tags: IdulfitriIslamIslam di BaliLebaranMuslimmuslim bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Umpan | Cerpen Putri Harya

Next Post

Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co