4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 22, 2026
in Esai
Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Ilustrasi tatkala.co | Canva

LEBARAN di Denpasar, Bali, tidak datang dengan gegap gempita. Tidak ada iring-iringan kendaraan yang padat sejak subuh, tidak ada suara petasan bersahutan. Jalanan justru terasa lebih lengang dari biasanya. Di beberapa tempat, suara takbir terdengar pelan dari masjid, mengalun tanpa pengeras suara yang berlebihan.

Di sebuah rumah kontrakan di kawasan Denpasar Barat, Rahmat, 32 tahun, sudah bangun sejak pukul lima pagi. Ia menyeduh kopi sachet, lalu menatap layar ponselnya yang sejak tadi menampilkan wajah ibunya di kampung, di Banyuwangi, Jawa Timur.

“Tahun ini belum bisa pulang lagi,” katanya pelan.

Di layar itu, sang ibu tersenyum. Di belakangnya, tampak ruang tamu sederhana dengan toples kue Lebaran yang sudah dibuka. Tidak ada percakapan panjang. Hanya saling melihat, seolah mencoba menutup jarak yang tidak mungkin ditempuh hari itu.

Hari itu adalah Idul Fitri, tapi bagi Rahmat dan banyak perantau lain di Bali, Lebaran tidak lagi identik dengan pulang.

Rahmat bekerja di sebuah laundry kecil yang melayani hotel dan vila. Sejak pandemi mereda, pekerjaannya kembali ramai. Libur panjang seperti Lebaran justru menjadi masa sibuk.

“Kalau saya pulang, siapa yang jaga?” ujarnya.

Biaya transportasi yang mahal juga jadi alasan lain. Tapi lama-lama, alasan itu tidak lagi terasa utama. Ada sesuatu yang berubah diam-diam.

“Saya sudah delapan tahun di Bali. Kadang malah bingung, pulang itu ke mana,” katanya, setengah bercanda, setengah serius.

Cerita seperti Rahmat bukan hal baru. Di Bali, ribuan perantau dari Jawa, Lombok, hingga Sulawesi hidup dan bekerja, mengisi sektor-sektor yang membuat pulau ini tetap bergerak. Saat Lebaran tiba, tidak semua dari mereka berkemas. Sebagian tetap tinggal.

Di lapangan umum tidak jauh dari tempat tinggalnya, Rahmat salat Id bersama puluhan orang lain. Mereka datang dengan pakaian terbaik yang mereka punya, sebagian mengenakan baju koko yang mungkin hanya dipakai setahun sekali.

Setelah salat, mereka tidak langsung pulang. Ada yang saling bersalaman lebih lama dari biasanya. Ada yang bertukar cerita singkat, menanyakan kabar keluarga di kampung. Ada juga yang langsung mengajak, “Nanti mampir ke rumah, ya.”

Ajakan itu sederhana, tapi penting. Karena di sinilah Lebaran menemukan bentuknya yang lain. Bukan lagi tentang berkumpul dengan keluarga besar, tapi tentang menciptakan keluarga kecil dari orang-orang yang sama-sama jauh dari rumah.

Di beberapa sudut Bali, ruang-ruang semacam itu sudah lama ada. Komunitas Muslim tumbuh dan bertahan, menjadi tempat singgah bagi mereka yang datang dari berbagai daerah.

Di Loloan, sebuah kampung tua di Negara, Jembrana, Lebaran terasa lebih riuh. Anak-anak berlarian dengan baju baru, dapur-dapur memasak sejak pagi, dan pintu-pintu rumah terbuka untuk siapa saja.

Sementara di Denpasar dan Badung, suasananya lebih sederhana. Tapi kehangatan itu tetap ada, hanya dalam skala yang lebih kecil.

“Di sini kita saling cari,” kata Siti, 27 tahun, pekerja toko oleh-oleh asal Lombok. “Kalau tidak sama teman-teman, ya Lebaran bisa terasa kosong sekali,” imbuh dia.

Tahun ini, Siti juga tidak pulang. Ia memilih untuk tetap di Bali. Tapi siang itu, ia mengundang tiga temannya ke kamar kosnya yang sempit. Mereka makan ketupat dan opor yang dimasak bersama sejak malam sebelumnya. Tidak mewah. Tapi cukup.

Meski begitu, tidak semua bisa digantikan. Rindu tetap datang, seringkali tanpa aba-aba. Ia muncul saat melihat foto keluarga di grup WhatsApp. Saat mendengar suara takbir dari video yang dikirim saudara. Atau saat mencium aroma masakan yang mengingatkan pada rumah.

“Kalau malam Lebaran itu biasanya yang paling terasa. Pas sudah sepi, baru kepikiran,” ujar Rahmat.

Ia tidak menangis. Tidak juga mengeluh. Tapi ada jeda dalam kalimatnya, seperti ada sesuatu yang sengaja tidak diucapkan. Bagi banyak perantau, rindu bukan sesuatu yang harus diselesaikan. Ia cukup diterima.

Menjadi Muslim di Bali juga berarti merayakan Lebaran dalam versi yang lebih tenang. Tidak ada keramaian berlebihan, tidak ada tekanan sosial untuk tampil sempurna. Bahkan takbiran pun berlangsung lebih singkat dan tertib.

Namun justru di situlah, bagi sebagian orang, makna Lebaran terasa lebih utuh. Lebih dekat ke diri sendiri.

“Di sini lebih khusyuk. Tidak banyak keriuhan,” kata Siti.

Tanpa hiruk pikuk, Lebaran menjadi ruang untuk benar-benar berhenti sejenak. Mengingat apa yang sudah dilalui, dan apa yang ingin diperbaiki.

Menjelang sore, Denpasar kembali seperti hari biasa. Motor lalu lalang, warung-warung buka, dan aktivitas berjalan seperti semula. Jika tidak tahu, orang mungkin tidak akan menyangka hari itu adalah Lebaran.

Tapi bagi Rahmat dan Siti, hari itu tetap istimewa. Bukan karena kemeriahannya, tapi karena pilihan yang mereka jalani. Mereka tidak pulang. Tapi bukan berarti mereka kehilangan.

Di pulau ini, pelan-pelan, mereka belajar bahwa rumah tidak selalu berada di tempat kita dilahirkan. Kadang, ia tumbuh di tempat yang kita pilih untuk bertahan. Dan di Bali, di antara kontrakan sempit, masjid kecil, dan meja makan sederhana, sebagian perantau sedang melakukan hal itu. Membangun rumah, tanpa benar-benar pulang. [T]

Tags: IdulfitriIslamIslam di BaliLebaranMuslimmuslim bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Umpan | Cerpen Putri Harya

Next Post

Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co