4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 22, 2026
in Esai
Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Ilustrasi tatkala.co | Canva

LEBARAN di Denpasar, Bali, tidak datang dengan gegap gempita. Tidak ada iring-iringan kendaraan yang padat sejak subuh, tidak ada suara petasan bersahutan. Jalanan justru terasa lebih lengang dari biasanya. Di beberapa tempat, suara takbir terdengar pelan dari masjid, mengalun tanpa pengeras suara yang berlebihan.

Di sebuah rumah kontrakan di kawasan Denpasar Barat, Rahmat, 32 tahun, sudah bangun sejak pukul lima pagi. Ia menyeduh kopi sachet, lalu menatap layar ponselnya yang sejak tadi menampilkan wajah ibunya di kampung, di Banyuwangi, Jawa Timur.

“Tahun ini belum bisa pulang lagi,” katanya pelan.

Di layar itu, sang ibu tersenyum. Di belakangnya, tampak ruang tamu sederhana dengan toples kue Lebaran yang sudah dibuka. Tidak ada percakapan panjang. Hanya saling melihat, seolah mencoba menutup jarak yang tidak mungkin ditempuh hari itu.

Hari itu adalah Idul Fitri, tapi bagi Rahmat dan banyak perantau lain di Bali, Lebaran tidak lagi identik dengan pulang.

Rahmat bekerja di sebuah laundry kecil yang melayani hotel dan vila. Sejak pandemi mereda, pekerjaannya kembali ramai. Libur panjang seperti Lebaran justru menjadi masa sibuk.

“Kalau saya pulang, siapa yang jaga?” ujarnya.

Biaya transportasi yang mahal juga jadi alasan lain. Tapi lama-lama, alasan itu tidak lagi terasa utama. Ada sesuatu yang berubah diam-diam.

“Saya sudah delapan tahun di Bali. Kadang malah bingung, pulang itu ke mana,” katanya, setengah bercanda, setengah serius.

Cerita seperti Rahmat bukan hal baru. Di Bali, ribuan perantau dari Jawa, Lombok, hingga Sulawesi hidup dan bekerja, mengisi sektor-sektor yang membuat pulau ini tetap bergerak. Saat Lebaran tiba, tidak semua dari mereka berkemas. Sebagian tetap tinggal.

Di lapangan umum tidak jauh dari tempat tinggalnya, Rahmat salat Id bersama puluhan orang lain. Mereka datang dengan pakaian terbaik yang mereka punya, sebagian mengenakan baju koko yang mungkin hanya dipakai setahun sekali.

Setelah salat, mereka tidak langsung pulang. Ada yang saling bersalaman lebih lama dari biasanya. Ada yang bertukar cerita singkat, menanyakan kabar keluarga di kampung. Ada juga yang langsung mengajak, “Nanti mampir ke rumah, ya.”

Ajakan itu sederhana, tapi penting. Karena di sinilah Lebaran menemukan bentuknya yang lain. Bukan lagi tentang berkumpul dengan keluarga besar, tapi tentang menciptakan keluarga kecil dari orang-orang yang sama-sama jauh dari rumah.

Di beberapa sudut Bali, ruang-ruang semacam itu sudah lama ada. Komunitas Muslim tumbuh dan bertahan, menjadi tempat singgah bagi mereka yang datang dari berbagai daerah.

Di Loloan, sebuah kampung tua di Negara, Jembrana, Lebaran terasa lebih riuh. Anak-anak berlarian dengan baju baru, dapur-dapur memasak sejak pagi, dan pintu-pintu rumah terbuka untuk siapa saja.

Sementara di Denpasar dan Badung, suasananya lebih sederhana. Tapi kehangatan itu tetap ada, hanya dalam skala yang lebih kecil.

“Di sini kita saling cari,” kata Siti, 27 tahun, pekerja toko oleh-oleh asal Lombok. “Kalau tidak sama teman-teman, ya Lebaran bisa terasa kosong sekali,” imbuh dia.

Tahun ini, Siti juga tidak pulang. Ia memilih untuk tetap di Bali. Tapi siang itu, ia mengundang tiga temannya ke kamar kosnya yang sempit. Mereka makan ketupat dan opor yang dimasak bersama sejak malam sebelumnya. Tidak mewah. Tapi cukup.

Meski begitu, tidak semua bisa digantikan. Rindu tetap datang, seringkali tanpa aba-aba. Ia muncul saat melihat foto keluarga di grup WhatsApp. Saat mendengar suara takbir dari video yang dikirim saudara. Atau saat mencium aroma masakan yang mengingatkan pada rumah.

“Kalau malam Lebaran itu biasanya yang paling terasa. Pas sudah sepi, baru kepikiran,” ujar Rahmat.

Ia tidak menangis. Tidak juga mengeluh. Tapi ada jeda dalam kalimatnya, seperti ada sesuatu yang sengaja tidak diucapkan. Bagi banyak perantau, rindu bukan sesuatu yang harus diselesaikan. Ia cukup diterima.

Menjadi Muslim di Bali juga berarti merayakan Lebaran dalam versi yang lebih tenang. Tidak ada keramaian berlebihan, tidak ada tekanan sosial untuk tampil sempurna. Bahkan takbiran pun berlangsung lebih singkat dan tertib.

Namun justru di situlah, bagi sebagian orang, makna Lebaran terasa lebih utuh. Lebih dekat ke diri sendiri.

“Di sini lebih khusyuk. Tidak banyak keriuhan,” kata Siti.

Tanpa hiruk pikuk, Lebaran menjadi ruang untuk benar-benar berhenti sejenak. Mengingat apa yang sudah dilalui, dan apa yang ingin diperbaiki.

Menjelang sore, Denpasar kembali seperti hari biasa. Motor lalu lalang, warung-warung buka, dan aktivitas berjalan seperti semula. Jika tidak tahu, orang mungkin tidak akan menyangka hari itu adalah Lebaran.

Tapi bagi Rahmat dan Siti, hari itu tetap istimewa. Bukan karena kemeriahannya, tapi karena pilihan yang mereka jalani. Mereka tidak pulang. Tapi bukan berarti mereka kehilangan.

Di pulau ini, pelan-pelan, mereka belajar bahwa rumah tidak selalu berada di tempat kita dilahirkan. Kadang, ia tumbuh di tempat yang kita pilih untuk bertahan. Dan di Bali, di antara kontrakan sempit, masjid kecil, dan meja makan sederhana, sebagian perantau sedang melakukan hal itu. Membangun rumah, tanpa benar-benar pulang. [T]

Tags: IdulfitriIslamIslam di BaliLebaranMuslimmuslim bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Umpan | Cerpen Putri Harya

Next Post

Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co