4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Umpan | Cerpen Putri Harya

Putri Harya by Putri Harya
March 22, 2026
in Cerpen
Umpan | Cerpen Putri Harya

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering disarankan orang-orang.

***

Halaman rumah salah satu bibiku telah disulap menyerupai panggung pentas seni: rangkaian janur melengkung di pintu masuk, kain prada membungkus tiang dengan bunga-bunga palsu di beberapa titik. Musik instrumental mengalun dengan volume kecil, nyaris tanpa jeda. Para pagar ayu berdiri di depan meja tempat dulang-dulang berisi makanan ringan dan minuman penyambut tamu. Di dekat balai banten, foto pengantin berbusana adat dipajang. Indah dan sakral. Di mataku, itu hanya semacam pameran kebahagiaan yang dibingkai.

Jika bukan karena paksaan Meme, aku tidak akan datang ke acara ini. Untuk menghargai keluarga, katanya. Dan atas nama kesopanan pula, aku terpaksa duduk di antara kerabat jauh yang sebentar lagi pasti merasa cukup dekat untuk bertanya banyak hal padaku.

Benar saja, usai menikmati sate lilit terakhir di piring, seorang bibi bertubuh gemuk menepuk lenganku.

“Tu Eni, kan, ya?”

Aku mengangguk.

“Sudah nikah, kan?”

“Belum.”

“Terus yang dulu nikah itu siapa?”

“Kadek, adik saya.”

Pertanyaan lain mengalir lagi dengan wawancara seputar adikku. Suaminya orang mana? Kerjanya apa? Tinggal di mana? Sungguh basa-basi yang memuakkan. Hingga tibalah pada pertanyaan yang sebenarnya menjadi sebab adikku enggan pulang. Pertanyaan yang membuatnya memilih berbohong pada Meme, beralasan sang suami tidak bisa libur.

“Anaknya Kadek sudah berapa?”

“Belum punya.”

“Wah… padahal sudah setahun lebih, ya? Kalau mau cepat, suruh aja pakai anak pancingan. Bisa pinjem anak saudara sementara. Kayak ibumu dulu, kan, juga begitu.” Bibi berkebaya merah itu berkata seperti menyarankan orang memilih merk dupa, sungguh tanpa beban dan rasa sungkan.

Entah sudah beberapa kali saran seperti itu kudengar sejak dulu. Momen pertemuan keluarga besar seperti ini memang sering dijadikan ajang bertanya sekaligus berbagi tips seputar kehidupan. Saat Galungan, di acara adat, bahkan di tengah acara pengabenan pun selingan pembicaraan seperti ini hadir menjadi ritual tambahan wajib.

Salah satu pembahasan yang populer selain petuah jodoh adalah perihal anak pancingan. Di daerah tempat tinggalku, metode tersebut masih dipelihara sampai hari ini. Jika ada satu rumah belum terjamah tangis bayi, anak orang lain akan dibawa masuk, diasuh dan disayang. Konon, agar tertular, agar semesta membaca kesiapan si calon orang tua. Sialnya, aku dilahirkan dengan cara melewati semua itu.

Meme pernah mengasuh seorang anak, jauh sebelum aku ada. Seorang anak yang sampai hari ini harus kupanggil “Mbok”. Anak yang dulu digendong orang tuaku penuh harap dan mereka besarkan dengan doa. Tak lama setelahnya, Meme mengandungku. Orang-orang menyebutnya keberhasilan. Bukti bahwa hidup bisa dipancing. Bahwa takdir bisa menular asal tahu caranya. Namun bagiku, aku tak ubahnya hanya bayang cahaya sang umpan.

“Kapan nyusul, Tu?” Bibi itu kembali mengganggu.

“Nanti.”

“Eh, dulu sebelum adikmu nikah udah ngasih pelangkah, kan? Biar nggak bantug.”

Aku mengangguk. Pelangkah, uang atau barang yang diberikan adik kepada kakak sebagai permintaan izin karena menikah lebih dulu. Konon, tradisi itu bisa membuatku terhindar dari kesialan takdir jodoh. Sayang, cara itu tak berhasil padaku.

“Jangan terlalu memilih, Tu, nanti keburu jadi daa tua!” Kalimat itu melayang di antara tawa, diucapkan setengah bercanda seolah-olah usia perempuan pantas dijadikan lelucon di hari bahagia orang lain.

Aku tersenyum. Senyum yang sudah kupelajari sejak lama. Senyum orang yang hidupnya sering dibuka seperti lontar lama: dibaca sekilas lalu disimpulkan tergesa-gesa.

Andai bibi di sebelahku ini tahu, aku sudah melewati cara-cara yang dianggap wajar: beberapa kali berpacaran dan putus. Aku juga sudah mencoba peruntungan lewat aplikasi kencan, berharap ada obrolan berujung pada sesuatu yang lebih dari sekadar salam penutup. Namun, semua sia-sia. Jodohku seperti tersembunyi dalam gelap.

“Eh, itu bukannya Luh Eka?” Tepukan Bibi lagi-lagi membuyarkan lamunanku.

Aku mengikuti arah telunjuknya. Benar, dia Mbok Luh Eka. Sepupu jauh yang dulu menjadi umpan kelahiranku itu tampaknya baru tiba. Kebaya ungu juwet model sabrina dipadukan kamen berwarna senada membuat kulit kuning langsatnya tampak semakin menyala. Selendang moscrepe warna maroon seolah-olah sengaja dipilih untuk menyembunyikan lemak di area pinggang.  Dia tampak lebih berisi dari terakhir kali kami bertemu.

Demi menjaga adab seorang adik angkat, aku menghampirinya. Kami duduk dan berbincang, bertanya tentang kabar, tentang pekerjaan, juga membahas beberapa hal terkait masa lalu. Semula obrolan kami terasa sesejuk angin pantai, sebelum Mbok Luh Eka mengulang beberapa pertanyaan bibi tadi.

“Kamu udah ada calon, Tu?”

Aku hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Cepetin cari pacar! Nikah itu enak tau.”

Mbok Luh Eka lalu bercerita tentang kehidupan rumah tangganya: bayi lucu, suami perhatian, dan mertua yang sangat memanjakannya. Bagi orang lain itu mungkin cerita biasa atau bahkan istimewa. Tapi di telingaku, itu adalah jenis narasi kombinasi: pamer sekaligus ejekan.

“Mau Mbok bantu cariin pacar?” Mata bulatnya tampak berbinar.

Belum sempat aku menjawab, Mbok Luh Eka melambaikan tangan. Seorang laki-laki tersenyum dari kejauhan. Dia berjalan ke arah kami dengan gagah dalam balutan busana adat Bali yang terlihat sempurna. Aku tahu dia, pernah ketemu meski tidak sering.

Mbok Luh kembali bercerita tentang lelaki yang kini duduk di sebelahnya. Lewat ocehannya aku jadi tau kalau suaminya itu juga menyukai anime dan bermain game online yang sama denganku. Pembicaraan kemudian terasa sangat seru dan menyenangkan saat aku dan suaminya mengambil alih topik.

Hingga pada satu waktu jantungku tiba-tiba berdebar. Ada ide yang tiba-tiba menyala. Aku mengalihkan pandangan ke arah Mbok Luh Eka yang asyik memakan kacang kapri. Percakapan dengan Meme terlintas di kepala.

“Meme khawatir sama Kadek, Tu. Dari dulu wanita di sini memang lama punya anak. Kadek itu bengkung, Meme saranin pakai anak pancingan katanya nggak mau.”

“Ya biarin aja, Me. Baru juga setahun lebih dia nikah. Kadek udah program hamil juga ke dokter, kan? Mungkin memang belum dikasih aja,” sahutku santai.

“Alah, tau apa kamu? Pakai anak pancingan lebih manjur ketimbang dokter. Meme itu udah duluan ngalamin, Tu. Buktinya, kamu lahir setelah Luh Eka  tinggal di rumah, kan?”

Aku diam saat itu karena mendebat Meme sama saja memancing pertengkaran. Meme sangat meyakini aku bukti mitos, tidak akan terima jika ada yang mengatakan semua hanya kebetulan. Bagi Meme, Mbok Luh Eka adalah pembawa keberuntungan, berjasa dalam kehidupanku. Namun sekarang aku mulai berpikir, mungkinkah Meme benar? Akhirnya, aku memilih membuktikan sendiri.

Bunyi notifikasi Whatsapp menarikku kembali dari mesin waktu. Satu pesan datang dari kekasihku.

“Sayang… lagi apa? Aku kangen.”

“Sabar… nanti sore juga ketemu.”

“Hehe, iya. Nanti dandan yang cantik, ya!” Emoticon kecupan mengikuti kalimat itu.

“Iya…. Udah, nggak usah balas lagi. Aku mau bantu Meme. Jangan lupa hapus chat!”

Aku menghapus percakapan itu lalu menuju dapur, membantu Meme memasak makanan kesukaan Mbok Luh Eka, tentu saja bersama suaminya, yang akan berkunjung sore ini. [T]

Catatan:

  • Meme = Ibu
  • Mbok = kakak perempuan
  • balai banten = bangunan untuk tempat sarana upacara
  • daa tua = perawan tua
  • bantug = sial
  • bengkung = keras kepala, selalu menolak
  • pengabenan = upacara kematian

Penulis: Putri Harya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi S. Kamar | Anaknya Bajang Sudah Pandai Merawat Bumi

Next Post

Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Putri Harya

Putri Harya

Ibu rumah tangga yang suka menulis sejak SMP. Lahir dan tinggal di Buleleng. Tulisannya tersiar di beberapa buku antologi, aplikasi baca online, dan media sosial dengan nama akun Putri Pena.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co