14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Umpan | Cerpen Putri Harya

Putri Harya by Putri Harya
March 22, 2026
in Cerpen
Umpan | Cerpen Putri Harya

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering disarankan orang-orang.

***

Halaman rumah salah satu bibiku telah disulap menyerupai panggung pentas seni: rangkaian janur melengkung di pintu masuk, kain prada membungkus tiang dengan bunga-bunga palsu di beberapa titik. Musik instrumental mengalun dengan volume kecil, nyaris tanpa jeda. Para pagar ayu berdiri di depan meja tempat dulang-dulang berisi makanan ringan dan minuman penyambut tamu. Di dekat balai banten, foto pengantin berbusana adat dipajang. Indah dan sakral. Di mataku, itu hanya semacam pameran kebahagiaan yang dibingkai.

Jika bukan karena paksaan Meme, aku tidak akan datang ke acara ini. Untuk menghargai keluarga, katanya. Dan atas nama kesopanan pula, aku terpaksa duduk di antara kerabat jauh yang sebentar lagi pasti merasa cukup dekat untuk bertanya banyak hal padaku.

Benar saja, usai menikmati sate lilit terakhir di piring, seorang bibi bertubuh gemuk menepuk lenganku.

“Tu Eni, kan, ya?”

Aku mengangguk.

“Sudah nikah, kan?”

“Belum.”

“Terus yang dulu nikah itu siapa?”

“Kadek, adik saya.”

Pertanyaan lain mengalir lagi dengan wawancara seputar adikku. Suaminya orang mana? Kerjanya apa? Tinggal di mana? Sungguh basa-basi yang memuakkan. Hingga tibalah pada pertanyaan yang sebenarnya menjadi sebab adikku enggan pulang. Pertanyaan yang membuatnya memilih berbohong pada Meme, beralasan sang suami tidak bisa libur.

“Anaknya Kadek sudah berapa?”

“Belum punya.”

“Wah… padahal sudah setahun lebih, ya? Kalau mau cepat, suruh aja pakai anak pancingan. Bisa pinjem anak saudara sementara. Kayak ibumu dulu, kan, juga begitu.” Bibi berkebaya merah itu berkata seperti menyarankan orang memilih merk dupa, sungguh tanpa beban dan rasa sungkan.

Entah sudah beberapa kali saran seperti itu kudengar sejak dulu. Momen pertemuan keluarga besar seperti ini memang sering dijadikan ajang bertanya sekaligus berbagi tips seputar kehidupan. Saat Galungan, di acara adat, bahkan di tengah acara pengabenan pun selingan pembicaraan seperti ini hadir menjadi ritual tambahan wajib.

Salah satu pembahasan yang populer selain petuah jodoh adalah perihal anak pancingan. Di daerah tempat tinggalku, metode tersebut masih dipelihara sampai hari ini. Jika ada satu rumah belum terjamah tangis bayi, anak orang lain akan dibawa masuk, diasuh dan disayang. Konon, agar tertular, agar semesta membaca kesiapan si calon orang tua. Sialnya, aku dilahirkan dengan cara melewati semua itu.

Meme pernah mengasuh seorang anak, jauh sebelum aku ada. Seorang anak yang sampai hari ini harus kupanggil “Mbok”. Anak yang dulu digendong orang tuaku penuh harap dan mereka besarkan dengan doa. Tak lama setelahnya, Meme mengandungku. Orang-orang menyebutnya keberhasilan. Bukti bahwa hidup bisa dipancing. Bahwa takdir bisa menular asal tahu caranya. Namun bagiku, aku tak ubahnya hanya bayang cahaya sang umpan.

“Kapan nyusul, Tu?” Bibi itu kembali mengganggu.

“Nanti.”

“Eh, dulu sebelum adikmu nikah udah ngasih pelangkah, kan? Biar nggak bantug.”

Aku mengangguk. Pelangkah, uang atau barang yang diberikan adik kepada kakak sebagai permintaan izin karena menikah lebih dulu. Konon, tradisi itu bisa membuatku terhindar dari kesialan takdir jodoh. Sayang, cara itu tak berhasil padaku.

“Jangan terlalu memilih, Tu, nanti keburu jadi daa tua!” Kalimat itu melayang di antara tawa, diucapkan setengah bercanda seolah-olah usia perempuan pantas dijadikan lelucon di hari bahagia orang lain.

Aku tersenyum. Senyum yang sudah kupelajari sejak lama. Senyum orang yang hidupnya sering dibuka seperti lontar lama: dibaca sekilas lalu disimpulkan tergesa-gesa.

Andai bibi di sebelahku ini tahu, aku sudah melewati cara-cara yang dianggap wajar: beberapa kali berpacaran dan putus. Aku juga sudah mencoba peruntungan lewat aplikasi kencan, berharap ada obrolan berujung pada sesuatu yang lebih dari sekadar salam penutup. Namun, semua sia-sia. Jodohku seperti tersembunyi dalam gelap.

“Eh, itu bukannya Luh Eka?” Tepukan Bibi lagi-lagi membuyarkan lamunanku.

Aku mengikuti arah telunjuknya. Benar, dia Mbok Luh Eka. Sepupu jauh yang dulu menjadi umpan kelahiranku itu tampaknya baru tiba. Kebaya ungu juwet model sabrina dipadukan kamen berwarna senada membuat kulit kuning langsatnya tampak semakin menyala. Selendang moscrepe warna maroon seolah-olah sengaja dipilih untuk menyembunyikan lemak di area pinggang.  Dia tampak lebih berisi dari terakhir kali kami bertemu.

Demi menjaga adab seorang adik angkat, aku menghampirinya. Kami duduk dan berbincang, bertanya tentang kabar, tentang pekerjaan, juga membahas beberapa hal terkait masa lalu. Semula obrolan kami terasa sesejuk angin pantai, sebelum Mbok Luh Eka mengulang beberapa pertanyaan bibi tadi.

“Kamu udah ada calon, Tu?”

Aku hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Cepetin cari pacar! Nikah itu enak tau.”

Mbok Luh Eka lalu bercerita tentang kehidupan rumah tangganya: bayi lucu, suami perhatian, dan mertua yang sangat memanjakannya. Bagi orang lain itu mungkin cerita biasa atau bahkan istimewa. Tapi di telingaku, itu adalah jenis narasi kombinasi: pamer sekaligus ejekan.

“Mau Mbok bantu cariin pacar?” Mata bulatnya tampak berbinar.

Belum sempat aku menjawab, Mbok Luh Eka melambaikan tangan. Seorang laki-laki tersenyum dari kejauhan. Dia berjalan ke arah kami dengan gagah dalam balutan busana adat Bali yang terlihat sempurna. Aku tahu dia, pernah ketemu meski tidak sering.

Mbok Luh kembali bercerita tentang lelaki yang kini duduk di sebelahnya. Lewat ocehannya aku jadi tau kalau suaminya itu juga menyukai anime dan bermain game online yang sama denganku. Pembicaraan kemudian terasa sangat seru dan menyenangkan saat aku dan suaminya mengambil alih topik.

Hingga pada satu waktu jantungku tiba-tiba berdebar. Ada ide yang tiba-tiba menyala. Aku mengalihkan pandangan ke arah Mbok Luh Eka yang asyik memakan kacang kapri. Percakapan dengan Meme terlintas di kepala.

“Meme khawatir sama Kadek, Tu. Dari dulu wanita di sini memang lama punya anak. Kadek itu bengkung, Meme saranin pakai anak pancingan katanya nggak mau.”

“Ya biarin aja, Me. Baru juga setahun lebih dia nikah. Kadek udah program hamil juga ke dokter, kan? Mungkin memang belum dikasih aja,” sahutku santai.

“Alah, tau apa kamu? Pakai anak pancingan lebih manjur ketimbang dokter. Meme itu udah duluan ngalamin, Tu. Buktinya, kamu lahir setelah Luh Eka  tinggal di rumah, kan?”

Aku diam saat itu karena mendebat Meme sama saja memancing pertengkaran. Meme sangat meyakini aku bukti mitos, tidak akan terima jika ada yang mengatakan semua hanya kebetulan. Bagi Meme, Mbok Luh Eka adalah pembawa keberuntungan, berjasa dalam kehidupanku. Namun sekarang aku mulai berpikir, mungkinkah Meme benar? Akhirnya, aku memilih membuktikan sendiri.

Bunyi notifikasi Whatsapp menarikku kembali dari mesin waktu. Satu pesan datang dari kekasihku.

“Sayang… lagi apa? Aku kangen.”

“Sabar… nanti sore juga ketemu.”

“Hehe, iya. Nanti dandan yang cantik, ya!” Emoticon kecupan mengikuti kalimat itu.

“Iya…. Udah, nggak usah balas lagi. Aku mau bantu Meme. Jangan lupa hapus chat!”

Aku menghapus percakapan itu lalu menuju dapur, membantu Meme memasak makanan kesukaan Mbok Luh Eka, tentu saja bersama suaminya, yang akan berkunjung sore ini. [T]

Catatan:

  • Meme = Ibu
  • Mbok = kakak perempuan
  • balai banten = bangunan untuk tempat sarana upacara
  • daa tua = perawan tua
  • bantug = sial
  • bengkung = keras kepala, selalu menolak
  • pengabenan = upacara kematian

Penulis: Putri Harya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi S. Kamar | Anaknya Bajang Sudah Pandai Merawat Bumi

Next Post

Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Putri Harya

Putri Harya

Ibu rumah tangga yang suka menulis sejak SMP. Lahir dan tinggal di Buleleng. Tulisannya tersiar di beberapa buku antologi, aplikasi baca online, dan media sosial dengan nama akun Putri Pena.

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co