22 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
in Panggung
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

Sejak Padi Mengakar karya Gus Bang Sada (2025)

“Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis pengalaman tubuh, tanah, dan perubahan lanskap agraris Bali.”

*

KOMUNITAS seni Bang Dance memasuki fase lanjutan sekaligus tahap akhir dalam proses pengembangan karya Sejak Padi Mengakar melalui Inkubasi Karya Tahap III yang berlangsung pada 16–19 April 2026 di Sekretariat Bang Dance, Singapadu, Gianyar. Tahap ini menjadi bagian akhir dari rangkaian Inkubasi Pengembangan Karya Sejak Padi Mengakar / Workshop Dramaturgi & Koreografi Sosial yang berlangsung selama periode Februari–April 2026.

Sejak Padi Mengakar merupakan proyek artistik Bang Dance yang berangkat dari upaya membaca ulang hubungan tubuh dengan tanah, subak, lanskap agraris, dan perubahan sosial dalam konteks Bali hari ini. Karya ini tidak dibangun melalui citra atau simbol agraris semata, melainkan melalui pengalaman yang menubuh dan terus dinegosiasikan dalam proses artistik.

Jika pada tahap sebelumnya proses berfokus pada produksi material gerak melalui pengalaman tubuh, maka dalam Inkubasi Tahap III Bang Dance mulai mematangkan struktur dramaturgi sekaligus merumuskan posisi artistik karya secara lebih utuh. Inkubasi tidak lagi hanya beroperasi pada level eksplorasi, tetapi bergerak menuju organisasi komposisi, pembacaan kritis terhadap tubuh, serta penajaman koreografi sebagai arena pengetahuan dan politik tubuh.

Selama empat hari pelaksanaan, proses kerja diarahkan pada penyusunan struktur pertunjukan yang tidak bergantung pada alur cerita linear. Dramaturgi Sejak Padi Mengakar dibangun melalui perubahan kondisi tubuh, ritme, intensitas, durasi, dan relasi antar elemen performatif.

Dramaturg & Narasumber Inkubasi – Wayan Sumahardika

Dalam proses ini, dramaturgi tidak dipahami sebagai rangkaian kejadian naratif, melainkan sebagai sistem pengalaman. Tubuh-tubuh yang pada tahap sebelumnya telah menghasilkan material melalui metode pengalaman kini ditempatkan dalam konfigurasi yang saling berhubungan, membentuk komposisi yang dinamis, tidak linear, dan terbuka terhadap perubahan.

Karya mulai dipahami sebagai peristiwa yang berlangsung, bukan sebagai cerita yang dipentaskan. Perubahan kecil dalam ritme, distribusi energi, arah tubuh, kualitas gerak, atau relasi antar tubuh menjadi dasar pembentukan struktur. Tensi tidak lagi muncul dari konflik dramatik, tetapi dari akumulasi intensitas, repetisi, durasi, dan ketidakstabilan yang dipertahankan dalam waktu.

Dengan pendekatan tersebut, penonton tidak diarahkan untuk mengikuti alur cerita tertentu, tetapi diajak mengalami kondisi yang terus berubah. Pertunjukan menjadi ruang di mana tubuh, waktu, energi, dan relasi bekerja bersama untuk menghadirkan pengalaman yang bersifat sensorik, afektif, dan reflektif.

Dalam Inkubasi Tahap III, Bang Dance menegaskan bahwa Sejak Padi Mengakar tidak dimaksudkan untuk menggambarkan realitas agraris Bali secara literal. Karya ini dikembangkan untuk menghadirkan bagaimana perubahan lanskap, tekanan terhadap tanah, keterputusan generasi, dan memori agraris bekerja di dalam tubuh.

Gusbang Sada, koreografer Sejak Padi Mengakar sekaligus pendiri Bang Dance, menjelaskan bahwa tahap ketiga ini menjadi momentum penting untuk mengikat material tubuh yang telah ditemukan pada tahap sebelumnya ke dalam struktur pertunjukan yang lebih utuh.

“Pada tahap ini, kami mulai melihat bagaimana material tubuh yang sudah muncul dapat hidup sebagai struktur. Kami tidak menyusunnya sebagai cerita, tetapi sebagai perubahan kondisi: bagaimana tubuh menahan, mengulang, kehilangan orientasi, lalu membangun relasi baru dengan tubuh lain dan ruang,” ujar Gusbang Sada.

Menurut Gusbang, proses ini menjadi penting karena koreografi tidak hanya bekerja melalui bentuk yang terlihat, tetapi juga melalui tekanan, durasi, dan pengalaman yang dirasakan.

“Kami ingin pertunjukan ini tidak hanya dilihat, tetapi dialami. Tubuh penonton juga penting dalam proses ini, karena karya tidak berhenti pada apa yang terjadi di panggung, tetapi pada bagaimana pengalaman itu bekerja di tubuh orang yang menyaksikannya,” tambahnya.

Tahap ini juga memperdalam eksplorasi terhadap strategi afektif dalam pertunjukan. Pengalaman penonton menjadi bagian penting dari kerja artistik. Repetisi, tekanan, durasi panjang, perubahan intensitas, serta gangguan terhadap ekspektasi digunakan sebagai perangkat untuk mengaktifkan respons tubuh penonton secara langsung.

Dengan demikian, karya tidak lagi berfungsi semata sebagai medium penyampaian pesan. Sejak Padi Mengakar diarahkan sebagai sistem yang memproduksi pengalaman sensorik dan afektif. Penonton tidak hanya menerima gagasan, tetapi ikut merasakan ketegangan, jeda, perubahan energi, dan ketidakstabilan yang dibangun dalam komposisi.

Suasana inkubasi

Pendekatan ini memperluas cara membaca pertunjukan tari kontemporer. Koreografi tidak hanya dipahami sebagai susunan gerak, tetapi juga sebagai cara mengorganisasi perhatian, waktu, energi, dan pengalaman. Dalam konteks Sejak Padi Mengakar, strategi ini menjadi cara Bang Dance menghadirkan persoalan agraris Bali bukan sebagai wacana yang dijelaskan, melainkan sebagai kondisi yang dapat dialami.

Selain menyusun struktur pertunjukan, Inkubasi Tahap III menjadi ruang untuk membaca ulang posisi tubuh dalam relasi kuasa dan konteks sosialnya. Tubuh tidak dipahami sebagai medium netral, melainkan sebagai entitas yang telah dibentuk oleh sejarah, disiplin, kebiasaan, dan norma tertentu.

Dalam proses ini, gerak tidak dilihat sebagai ekspresi bebas semata. Gerak dipahami sebagai hasil negosiasi antara kebiasaan tubuh, struktur sosial, memori personal, dan kemungkinan baru yang dibuka melalui praktik artistik. Tubuh membawa jejak dari lingkungan tempat ia tumbuh, cara ia bekerja, cara ia dibentuk oleh keluarga, desa, tradisi, pendidikan, dan perubahan sosial di sekitarnya.

Melalui pembacaan tersebut, koreografi ditempatkan tidak hanya sebagai kerja estetik, tetapi juga sebagai praktik produksi pengetahuan. Tubuh tidak sekadar menampilkan sesuatu, tetapi berpikir melalui gerak, memproses pengalaman, dan menghasilkan pemahaman yang tidak selalu dapat dirumuskan secara verbal.

Karya tidak lagi bertujuan menjelaskan realitas secara langsung. Sebaliknya, karya menghadirkan kondisi di mana realitas tersebut dapat dialami, dirasakan, dan dipertanyakan kembali oleh penonton.

Pelaksanaan Inkubasi Tahap III di Sekretariat Bang Dance, Br. Mukti No. 14, Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, menjadi bagian integral dari proses pematangan karya ini. Ruang tersebut tidak hanya berfungsi sebagai lokasi latihan, tetapi juga sebagai lingkungan kerja yang memungkinkan pertemuan antara tubuh, metode, memori, dan pengalaman berlangsung secara intens.

Sebagai ruang yang tumbuh dari ekosistem Bang Dance sendiri, Sekretariat Bang Dance menjadi tempat untuk menguji kedekatan karya dengan konteks artistik, sosial, dan kultural yang melahirkannya. Interaksi antar peserta, pengolahan durasi, eksplorasi relasi ruang, serta kedekatan dengan lingkungan kerja komunitas menjadi bagian dari pembentukan struktur karya secara keseluruhan.

Dalam konteks ini, ruang inkubasi tidak hanya menjadi tempat untuk menghasilkan bentuk akhir, tetapi juga menjadi medan untuk memperdalam perhatian, menguji relasi, dan merumuskan posisi artistik karya sebelum memasuki fase presentasi publik.

Melalui Inkubasi Tahap III, Bang Dance menegaskan arah penciptaan Sejak Padi Mengakar sebagai praktik koreografi kontemporer yang tidak berangkat dari representasi, tetapi dari pengalaman, relasi, dan kondisi tubuh.

Tahap ini menjadi fase krusial sebelum memasuki presentasi publik, ketika seluruh material gerak, struktur dramaturgi, relasi ruang, strategi afektif, dan posisi artistik yang telah dikembangkan sepanjang proses inkubasi akan diwujudkan dalam bentuk pertunjukan.

Sejak Padi Mengakar, versi 2025

Hasil pengembangan karya Sejak Padi Mengakar akan dipresentasikan kepada publik pada:

Hari/Tanggal: Rabu, 27 Mei 2026
 Waktu: 19.00 WITA
 Tempat: Geoks Singapadu, Gianyar
 Format Acara: Presentasi pertunjukan dan diskusi pasca-pertunjukan
 Akses Publik: Gratis

Pertunjukan yang didukung oleh Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Kategori Penciptaan Karya Kreatif dan Inovatif ini akan menjadi ruang pertemuan antara proses artistik, pengalaman tubuh, dan percakapan publik mengenai tanah, subak, perubahan lanskap agraris, serta kemungkinan manusia hari ini untuk tetap berakar di tengah perubahan ruang hidup yang terus berlangsung.

Tentang Program

Inkubasi Pengembangan Karya Sejak Padi Mengakar / Workshop Dramaturgi & Koreografi Sosial merupakan program pengembangan artistik Bang Dance yang berlangsung pada periode Februari–April 2026. Program ini dirancang sebagai ruang riset, eksplorasi, dan penciptaan koreografi yang berangkat dari isu agraria, subak, tubuh, memori, keterputusan generasi, dan perubahan sosial di Bali.

Melalui program ini, Bang Dance berupaya memperluas praktik koreografi sebagai kerja artistik yang tidak hanya menghasilkan bentuk pertunjukan, tetapi juga membuka ruang penelitian, percakapan, dan produksi pengetahuan berbasis pengalaman tubuh.

Rangkaian inkubasi ini dibagi ke dalam beberapa tahap. Tahap pertama berfokus pada pembukaan konteks dan pembacaan tubuh. Tahap kedua diarahkan pada pendalaman metode kerja tubuh dan penyusunan awal struktur koreografi. Tahap ketiga menjadi ruang pematangan dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebelum memasuki presentasi publik.

Tentang Bang Dance

Bang Dance adalah sebuah perkumpulan seni yang bergerak pada bidang penciptaan tari kontemporer. Komunitas ini berdiri pada 29 April 2020 dan beralamat di Br. Mukti No. 14, Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali.

Bang Dance hadir untuk mewadahi kreativitas seniman tari, khususnya di Bali, melalui konsep laboratorium tari. Selain menjadi ruang penciptaan, Bang Dance juga berfungsi sebagai tempat bertukar-tangkap pengetahuan lintas disiplin seni dalam menyuarakan isu-isu lingkungan dan sosial melalui karya tari kontemporer.

Struktur pengelola Bang Dance terdiri dari I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra sebagai Ketua, Ida Ayu Adi Tri Wiranti sebagai Sekretaris, dan Raden Ajeng Renata Astria sebagai Bendahara. Anggota Bang Dance meliputi Pande Putu Kevin Dian Muliarta, I Wayan Gede Artha Saputra, dan Kadek Agung Arya Krisna Kusmawa.

Sejak berdiri, Bang Dance mengembangkan kerja-kerja artistik yang berangkat dari praktik tubuh, riset sosial, dan pembacaan atas isu lingkungan, budaya, serta perubahan masyarakat. Melalui pendekatan tari kontemporer, Bang Dance berupaya membuka ruang penciptaan yang eksperimental, reflektif, dan terhubung dengan konteks Bali maupun percakapan seni pertunjukan yang lebih luas.

Tentang Gusbang Sada

I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra, S.Sn., M.Sn., atau dikenal sebagai Gusbang Sada, adalah penari, koreografer, dan pendiri Bang Dance. Lahir di Denpasar pada 29 April 1993, Gusbang tumbuh dari tradisi tari Bali sejak usia dini di lingkungan keluarga seniman di Desa Singapadu, Gianyar.

Ia menempuh pendidikan S1 dan S2 di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan minat utama dalam penciptaan seni tari. Dalam perjalanan akademiknya, Gusbang lulus dengan predikat cumlaude dan meraih predikat lulusan terbaik se-institut pada tahun 2015.

Koreografer – Gusbang Sada (paling kanan)

Perjalanan artistiknya berkembang ke arah tari kontemporer sejak 2014. Sejak itu, ia terus menciptakan berbagai karya tari untuk panggung nasional maupun internasional. Beberapa karya yang pernah ia ciptakan dan terlibat di dalamnya antara lain La Danse Macabre, Tubuh Astral, Rajapala, Bang Bungkem, Sejak Padi Mengakar, proyek kolaborasi internasional RAMAYANA di Philadelphia pada 2024, serta keterlibatannya dalam film SAMSARA garapan Garin Nugroho.

Pada tahun 2020, Gusbang mendirikan Bang Dance sebagai ruang kreatif dan laboratorium penciptaan tari kontemporer yang juga menjadi wadah lintas disiplin seni. Melalui Bang Dance, ia aktif mendorong pengembangan ekosistem tari eksperimental dan lintas budaya.

Gusbang juga pernah dipercaya sebagai kurator dan penanggung jawab artistik Indonesia Bertutur 2024, sebuah program nasional dari Kemendikbudristek RI. Dalam perjalanan artistiknya, ia telah mewakili Indonesia dalam berbagai festival seni di lebih dari 10 negara, termasuk Portugal, Jepang, Turki, Taiwan, Australia, dan Malaysia. Dedikasinya terhadap seni pertunjukan tidak hanya hadir di atas panggung, tetapi juga dalam bidang pendidikan, produksi, kuratorial, serta pengembangan ekosistem seni di Indonesia.

Informasi dan Kontak

Bang Dance
Alamat Sekretariat: Br. Mukti No. 14, Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali
Email: bang.dance.official@gmail.com
Instagram: @bangdance_

Tags: agrarisGus Bangseni pertunjukanseni tariTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

Next Post

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
0
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

Read moreDetails

Band Legendaris Bali Bangkitkan Nostalgia di Panggung Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 18, 2026
0
Band Legendaris Bali Bangkitkan Nostalgia di Panggung Festival Seni Bali Jani 2026

RASA rindu terhadap lagu-lagu Bali yang sempat mewarnai awal dekade 2000-an terobati dalam Pergelaran Musik "Bintang 5 Musik Jani" persembahan...

Read moreDetails

Dermaga Seni Buleleng Suguhkan “Sura Atma”, Ajak Penonton Merenungi Makna Kehidupan

by Nyoman Budarsana
July 18, 2026
0
Dermaga Seni Buleleng Suguhkan “Sura Atma”, Ajak Penonton Merenungi Makna Kehidupan

TAWA penonton sesekali pecah mengikuti dialog-dialog jenaka yang menghidupkan panggung. Namun perlahan suasana berubah. Musik mengalun semakin sendu, puisi dilantunkan...

Read moreDetails

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
0
Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar...

Read moreDetails

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
0
“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

MALAM itu Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi penonton dari berbagai penjuru. Kamis, 16 Juli 2026, kursi-kursi tribun tak...

Read moreDetails

“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
0
“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

GELAK tawa pecah bahkan sebelum adegan pertama benar-benar usai. Di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu malam, 15 Juli 2026,...

Read moreDetails

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
0
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

Read moreDetails

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026
0
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

Read moreDetails

Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
0
Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

MENYAKSIKAN Lomba Musikalisasi Puisi dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 bukan sekadar menikmati pertunjukan musik. Di atas...

Read moreDetails

Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
0
Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

INI bukan sekadar konser musik. "Sang Surya Sampun Metangi" hadir layaknya sebuah perjalanan yang dituturkan melalui lagu. Setiap tembang mengalir...

Read moreDetails
Next Post
‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co