14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
in Panggung
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

Sejak Padi Mengakar karya Gus Bang Sada (2025)

“Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis pengalaman tubuh, tanah, dan perubahan lanskap agraris Bali.”

*

KOMUNITAS seni Bang Dance memasuki fase lanjutan sekaligus tahap akhir dalam proses pengembangan karya Sejak Padi Mengakar melalui Inkubasi Karya Tahap III yang berlangsung pada 16–19 April 2026 di Sekretariat Bang Dance, Singapadu, Gianyar. Tahap ini menjadi bagian akhir dari rangkaian Inkubasi Pengembangan Karya Sejak Padi Mengakar / Workshop Dramaturgi & Koreografi Sosial yang berlangsung selama periode Februari–April 2026.

Sejak Padi Mengakar merupakan proyek artistik Bang Dance yang berangkat dari upaya membaca ulang hubungan tubuh dengan tanah, subak, lanskap agraris, dan perubahan sosial dalam konteks Bali hari ini. Karya ini tidak dibangun melalui citra atau simbol agraris semata, melainkan melalui pengalaman yang menubuh dan terus dinegosiasikan dalam proses artistik.

Jika pada tahap sebelumnya proses berfokus pada produksi material gerak melalui pengalaman tubuh, maka dalam Inkubasi Tahap III Bang Dance mulai mematangkan struktur dramaturgi sekaligus merumuskan posisi artistik karya secara lebih utuh. Inkubasi tidak lagi hanya beroperasi pada level eksplorasi, tetapi bergerak menuju organisasi komposisi, pembacaan kritis terhadap tubuh, serta penajaman koreografi sebagai arena pengetahuan dan politik tubuh.

Selama empat hari pelaksanaan, proses kerja diarahkan pada penyusunan struktur pertunjukan yang tidak bergantung pada alur cerita linear. Dramaturgi Sejak Padi Mengakar dibangun melalui perubahan kondisi tubuh, ritme, intensitas, durasi, dan relasi antar elemen performatif.

Dramaturg & Narasumber Inkubasi – Wayan Sumahardika

Dalam proses ini, dramaturgi tidak dipahami sebagai rangkaian kejadian naratif, melainkan sebagai sistem pengalaman. Tubuh-tubuh yang pada tahap sebelumnya telah menghasilkan material melalui metode pengalaman kini ditempatkan dalam konfigurasi yang saling berhubungan, membentuk komposisi yang dinamis, tidak linear, dan terbuka terhadap perubahan.

Karya mulai dipahami sebagai peristiwa yang berlangsung, bukan sebagai cerita yang dipentaskan. Perubahan kecil dalam ritme, distribusi energi, arah tubuh, kualitas gerak, atau relasi antar tubuh menjadi dasar pembentukan struktur. Tensi tidak lagi muncul dari konflik dramatik, tetapi dari akumulasi intensitas, repetisi, durasi, dan ketidakstabilan yang dipertahankan dalam waktu.

Dengan pendekatan tersebut, penonton tidak diarahkan untuk mengikuti alur cerita tertentu, tetapi diajak mengalami kondisi yang terus berubah. Pertunjukan menjadi ruang di mana tubuh, waktu, energi, dan relasi bekerja bersama untuk menghadirkan pengalaman yang bersifat sensorik, afektif, dan reflektif.

Dalam Inkubasi Tahap III, Bang Dance menegaskan bahwa Sejak Padi Mengakar tidak dimaksudkan untuk menggambarkan realitas agraris Bali secara literal. Karya ini dikembangkan untuk menghadirkan bagaimana perubahan lanskap, tekanan terhadap tanah, keterputusan generasi, dan memori agraris bekerja di dalam tubuh.

Gusbang Sada, koreografer Sejak Padi Mengakar sekaligus pendiri Bang Dance, menjelaskan bahwa tahap ketiga ini menjadi momentum penting untuk mengikat material tubuh yang telah ditemukan pada tahap sebelumnya ke dalam struktur pertunjukan yang lebih utuh.

“Pada tahap ini, kami mulai melihat bagaimana material tubuh yang sudah muncul dapat hidup sebagai struktur. Kami tidak menyusunnya sebagai cerita, tetapi sebagai perubahan kondisi: bagaimana tubuh menahan, mengulang, kehilangan orientasi, lalu membangun relasi baru dengan tubuh lain dan ruang,” ujar Gusbang Sada.

Menurut Gusbang, proses ini menjadi penting karena koreografi tidak hanya bekerja melalui bentuk yang terlihat, tetapi juga melalui tekanan, durasi, dan pengalaman yang dirasakan.

“Kami ingin pertunjukan ini tidak hanya dilihat, tetapi dialami. Tubuh penonton juga penting dalam proses ini, karena karya tidak berhenti pada apa yang terjadi di panggung, tetapi pada bagaimana pengalaman itu bekerja di tubuh orang yang menyaksikannya,” tambahnya.

Tahap ini juga memperdalam eksplorasi terhadap strategi afektif dalam pertunjukan. Pengalaman penonton menjadi bagian penting dari kerja artistik. Repetisi, tekanan, durasi panjang, perubahan intensitas, serta gangguan terhadap ekspektasi digunakan sebagai perangkat untuk mengaktifkan respons tubuh penonton secara langsung.

Dengan demikian, karya tidak lagi berfungsi semata sebagai medium penyampaian pesan. Sejak Padi Mengakar diarahkan sebagai sistem yang memproduksi pengalaman sensorik dan afektif. Penonton tidak hanya menerima gagasan, tetapi ikut merasakan ketegangan, jeda, perubahan energi, dan ketidakstabilan yang dibangun dalam komposisi.

Suasana inkubasi

Pendekatan ini memperluas cara membaca pertunjukan tari kontemporer. Koreografi tidak hanya dipahami sebagai susunan gerak, tetapi juga sebagai cara mengorganisasi perhatian, waktu, energi, dan pengalaman. Dalam konteks Sejak Padi Mengakar, strategi ini menjadi cara Bang Dance menghadirkan persoalan agraris Bali bukan sebagai wacana yang dijelaskan, melainkan sebagai kondisi yang dapat dialami.

Selain menyusun struktur pertunjukan, Inkubasi Tahap III menjadi ruang untuk membaca ulang posisi tubuh dalam relasi kuasa dan konteks sosialnya. Tubuh tidak dipahami sebagai medium netral, melainkan sebagai entitas yang telah dibentuk oleh sejarah, disiplin, kebiasaan, dan norma tertentu.

Dalam proses ini, gerak tidak dilihat sebagai ekspresi bebas semata. Gerak dipahami sebagai hasil negosiasi antara kebiasaan tubuh, struktur sosial, memori personal, dan kemungkinan baru yang dibuka melalui praktik artistik. Tubuh membawa jejak dari lingkungan tempat ia tumbuh, cara ia bekerja, cara ia dibentuk oleh keluarga, desa, tradisi, pendidikan, dan perubahan sosial di sekitarnya.

Melalui pembacaan tersebut, koreografi ditempatkan tidak hanya sebagai kerja estetik, tetapi juga sebagai praktik produksi pengetahuan. Tubuh tidak sekadar menampilkan sesuatu, tetapi berpikir melalui gerak, memproses pengalaman, dan menghasilkan pemahaman yang tidak selalu dapat dirumuskan secara verbal.

Karya tidak lagi bertujuan menjelaskan realitas secara langsung. Sebaliknya, karya menghadirkan kondisi di mana realitas tersebut dapat dialami, dirasakan, dan dipertanyakan kembali oleh penonton.

Pelaksanaan Inkubasi Tahap III di Sekretariat Bang Dance, Br. Mukti No. 14, Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, menjadi bagian integral dari proses pematangan karya ini. Ruang tersebut tidak hanya berfungsi sebagai lokasi latihan, tetapi juga sebagai lingkungan kerja yang memungkinkan pertemuan antara tubuh, metode, memori, dan pengalaman berlangsung secara intens.

Sebagai ruang yang tumbuh dari ekosistem Bang Dance sendiri, Sekretariat Bang Dance menjadi tempat untuk menguji kedekatan karya dengan konteks artistik, sosial, dan kultural yang melahirkannya. Interaksi antar peserta, pengolahan durasi, eksplorasi relasi ruang, serta kedekatan dengan lingkungan kerja komunitas menjadi bagian dari pembentukan struktur karya secara keseluruhan.

Dalam konteks ini, ruang inkubasi tidak hanya menjadi tempat untuk menghasilkan bentuk akhir, tetapi juga menjadi medan untuk memperdalam perhatian, menguji relasi, dan merumuskan posisi artistik karya sebelum memasuki fase presentasi publik.

Melalui Inkubasi Tahap III, Bang Dance menegaskan arah penciptaan Sejak Padi Mengakar sebagai praktik koreografi kontemporer yang tidak berangkat dari representasi, tetapi dari pengalaman, relasi, dan kondisi tubuh.

Tahap ini menjadi fase krusial sebelum memasuki presentasi publik, ketika seluruh material gerak, struktur dramaturgi, relasi ruang, strategi afektif, dan posisi artistik yang telah dikembangkan sepanjang proses inkubasi akan diwujudkan dalam bentuk pertunjukan.

Sejak Padi Mengakar, versi 2025

Hasil pengembangan karya Sejak Padi Mengakar akan dipresentasikan kepada publik pada:

Hari/Tanggal: Rabu, 27 Mei 2026
 Waktu: 19.00 WITA
 Tempat: Geoks Singapadu, Gianyar
 Format Acara: Presentasi pertunjukan dan diskusi pasca-pertunjukan
 Akses Publik: Gratis

Pertunjukan yang didukung oleh Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Kategori Penciptaan Karya Kreatif dan Inovatif ini akan menjadi ruang pertemuan antara proses artistik, pengalaman tubuh, dan percakapan publik mengenai tanah, subak, perubahan lanskap agraris, serta kemungkinan manusia hari ini untuk tetap berakar di tengah perubahan ruang hidup yang terus berlangsung.

Tentang Program

Inkubasi Pengembangan Karya Sejak Padi Mengakar / Workshop Dramaturgi & Koreografi Sosial merupakan program pengembangan artistik Bang Dance yang berlangsung pada periode Februari–April 2026. Program ini dirancang sebagai ruang riset, eksplorasi, dan penciptaan koreografi yang berangkat dari isu agraria, subak, tubuh, memori, keterputusan generasi, dan perubahan sosial di Bali.

Melalui program ini, Bang Dance berupaya memperluas praktik koreografi sebagai kerja artistik yang tidak hanya menghasilkan bentuk pertunjukan, tetapi juga membuka ruang penelitian, percakapan, dan produksi pengetahuan berbasis pengalaman tubuh.

Rangkaian inkubasi ini dibagi ke dalam beberapa tahap. Tahap pertama berfokus pada pembukaan konteks dan pembacaan tubuh. Tahap kedua diarahkan pada pendalaman metode kerja tubuh dan penyusunan awal struktur koreografi. Tahap ketiga menjadi ruang pematangan dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebelum memasuki presentasi publik.

Tentang Bang Dance

Bang Dance adalah sebuah perkumpulan seni yang bergerak pada bidang penciptaan tari kontemporer. Komunitas ini berdiri pada 29 April 2020 dan beralamat di Br. Mukti No. 14, Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali.

Bang Dance hadir untuk mewadahi kreativitas seniman tari, khususnya di Bali, melalui konsep laboratorium tari. Selain menjadi ruang penciptaan, Bang Dance juga berfungsi sebagai tempat bertukar-tangkap pengetahuan lintas disiplin seni dalam menyuarakan isu-isu lingkungan dan sosial melalui karya tari kontemporer.

Struktur pengelola Bang Dance terdiri dari I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra sebagai Ketua, Ida Ayu Adi Tri Wiranti sebagai Sekretaris, dan Raden Ajeng Renata Astria sebagai Bendahara. Anggota Bang Dance meliputi Pande Putu Kevin Dian Muliarta, I Wayan Gede Artha Saputra, dan Kadek Agung Arya Krisna Kusmawa.

Sejak berdiri, Bang Dance mengembangkan kerja-kerja artistik yang berangkat dari praktik tubuh, riset sosial, dan pembacaan atas isu lingkungan, budaya, serta perubahan masyarakat. Melalui pendekatan tari kontemporer, Bang Dance berupaya membuka ruang penciptaan yang eksperimental, reflektif, dan terhubung dengan konteks Bali maupun percakapan seni pertunjukan yang lebih luas.

Tentang Gusbang Sada

I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra, S.Sn., M.Sn., atau dikenal sebagai Gusbang Sada, adalah penari, koreografer, dan pendiri Bang Dance. Lahir di Denpasar pada 29 April 1993, Gusbang tumbuh dari tradisi tari Bali sejak usia dini di lingkungan keluarga seniman di Desa Singapadu, Gianyar.

Ia menempuh pendidikan S1 dan S2 di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan minat utama dalam penciptaan seni tari. Dalam perjalanan akademiknya, Gusbang lulus dengan predikat cumlaude dan meraih predikat lulusan terbaik se-institut pada tahun 2015.

Koreografer – Gusbang Sada (paling kanan)

Perjalanan artistiknya berkembang ke arah tari kontemporer sejak 2014. Sejak itu, ia terus menciptakan berbagai karya tari untuk panggung nasional maupun internasional. Beberapa karya yang pernah ia ciptakan dan terlibat di dalamnya antara lain La Danse Macabre, Tubuh Astral, Rajapala, Bang Bungkem, Sejak Padi Mengakar, proyek kolaborasi internasional RAMAYANA di Philadelphia pada 2024, serta keterlibatannya dalam film SAMSARA garapan Garin Nugroho.

Pada tahun 2020, Gusbang mendirikan Bang Dance sebagai ruang kreatif dan laboratorium penciptaan tari kontemporer yang juga menjadi wadah lintas disiplin seni. Melalui Bang Dance, ia aktif mendorong pengembangan ekosistem tari eksperimental dan lintas budaya.

Gusbang juga pernah dipercaya sebagai kurator dan penanggung jawab artistik Indonesia Bertutur 2024, sebuah program nasional dari Kemendikbudristek RI. Dalam perjalanan artistiknya, ia telah mewakili Indonesia dalam berbagai festival seni di lebih dari 10 negara, termasuk Portugal, Jepang, Turki, Taiwan, Australia, dan Malaysia. Dedikasinya terhadap seni pertunjukan tidak hanya hadir di atas panggung, tetapi juga dalam bidang pendidikan, produksi, kuratorial, serta pengembangan ekosistem seni di Indonesia.

Informasi dan Kontak

Bang Dance
Alamat Sekretariat: Br. Mukti No. 14, Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali
Email: bang.dance.official@gmail.com
Instagram: @bangdance_

Tags: agrarisGus Bangseni pertunjukanseni tariTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

Next Post

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails
Next Post
‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co