IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus bercerita.
Widnyana Sudibya, nama fotografer itu memang layak dikenang sebagai seniman dan budayawan besar yang pernah dimiliki Bali, bukan karena ia penari atau penabuh, melainkan karena perannya sangat besar dalam dunia arsip kesenian Bali.
Lihatlah laman facebook-nya. Hampir semua postingannya berisi foto-foto kesenian Bali, terutama yang ia abadikan di Pesta Kesenian Bali (PKB). Jika banyak fotografer, juga konten kreator, lebih getol memamerkan foto-foto seni primadona semacam gong kebyar dan baleganjur, Widnyana Sudibya justru lebih banyak memuat gambar-gambar dari jenis-jenis kesenian langka yang lebih kerap kesepian di panggung PKB, seperti gambuh dan wayang kulit.
Di PKB, Widnyana Sudibya kerap bergerak santai dari panggung ke panggung. Orangnya ramah, bersedia ngobrol dengan siapa saja. Kadang suka juga berbagi tips fotografi kepada fotografer muda.
Suatu hari seseorang minta izin untuk mengambil foto-fotonya di facebook sebagai pelengkap artikel di media massa. Dan, Pak Wid — begitu biasanya teman-teman wartawan dan fotografer muda memanggilnya — akan langsung mengiyakan. “Ambil saja di facebook,” katanya.
Di tatkala.co terdapat sejumlah foto-foto karya Pak Wid, tentu dengan kredit dan hak cipta Pak Wid, sebagai pelengkap artikel-artikel tentang kesenian Bali. Foto-foto itu, baik yang dimuat di laman facebook, maupun di media massa cetak maupun elektronik, tentu bisa dianggap sebagai arsip penting yang suatu saat benar-benar penting sebagai pengetahuan visual tentang hidup-matinya kesenian Bali.

Bagi Widnyana Sudibya, fotografi memiliki makna lebih dalam dibanding sekadar menangkap gambar. Melalui karya-karyanya, ia berusaha merekam nilai, filosofi, dan spiritualitas budaya Bali agar tetap dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Selain aktif di dunia fotografi, ia juga dikenal kerap menyuarakan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian tradisi. Pemikirannya banyak dituangkan melalui diskusi budaya, tulisan, serta keterlibatannya dalam berbagai forum seni dan adat di Bali.
***
Widnyana Sudibya meninggal pada Senin malam, 19 Mei 2026 di Rumah Sakit Sanglah. Jenazah mendiang masih disemayamkan di Rumah Duka RSAD Sudirman Denpasar hingga 24 Mei mendatang. Sementara prosesi pengabenan dan memukur dijadwalkan berlangsung pada Senin 25 Mei di Krematorium Punduk Dawa, Klungkung.
Dengan kepergiannya, Bali tentu kehilangan dan meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga kalangan seniman, fotografer, akademisi, hingga pegiat budaya Bali. Sosok yang akrab disapa Pak Wid itu dikenal sebagai pribadi multitalenta. Selain fotografer, ia yang dikenal sebagai insinyur ini juga dikenal sebagai pelukis. Lagi-lagi lukisannya lebih banyak menggambarkan gerak langkah kesenian Bali.
Ketua Perhimpunan Fotografer Bali (PFB), Made Dana, menuturkan almarhum merupakan figur yang memiliki perhatian besar terhadap pelestarian budaya Bali di tengah perkembangan zaman yang terus berubah.
“Beliau bukan hanya fotografer, tetapi budayawan yang sangat peduli menjaga identitas Bali. Cara berpikirnya sistematis, namun memiliki jiwa seni dan kepedulian budaya yang sangat kuat,” ujarnya saat dikonfirmasi.
- BACA JUGA:
Semasa hidupnya, Widnyana Sudibya juga tercatat sebagai salah satu pendiri Perhimpunan Fotografer Bali (PFB). Baginya, fotografi bukan sekadar aktivitas visual, melainkan bagian dari pengabdian untuk merekam perjalanan budaya Bali agar tetap hidup lintas generasi.
Anak almarhum, Gde Jiesta Sudibya dan Nadia Sudibya, menuturkan sang ayah memiliki kecintaan luar biasa terhadap budaya Bali, terutama dalam mendokumentasikan berbagai momentum penting kebudayaan dan ritual keagamaan.
“Bapak hampir tidak pernah absen hadir langsung di kegiatan budaya seperti Pesta Kesenian Bali (PKB), upacara besar di Pura Besakih, dan pura-pura lainnya di Bali. Beliau memang sangat cinta budaya,” kata Gde Jiesta.
Menurut pihak keluarga, sebelum meninggal dunia almarhum sempat mengalami gangguan kesehatan pada bagian pencernaan.
“Beliau mengalami masalah di usus, susah buang air besar dan sempat divonis tumor,” ujarnya. [T]
Penulis: Adnyana Ole
Editor: Budarsana



























