SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh bersahut-sahutan, sorak sorai kian keras dan lantang terdengar. Ramai-ramai mereka sangat antusias menyaksikan Grand Final Pemilihan Jegeg Bagus Tabanan 2026 dan menantikan salah satu finalis jagoan mereka terpilih sebagai Duta Pariwisata dan Budaya Kabupaten Tabanan 2026.
Di atas panggung, suasana pengumuman pemenang begitu menegangkan. 6 besar dan 3 besar Jegeg Bagus Tabanan 2026 sudah ditetapkan. Pasangan Runner Up III Jegeg Bagus Tabanan 2026 juga sudah dinobatkan. Tersisa 2 pasang lagi yang nasibkan akan ditentukan malam itu. Mereka berdiri saling berdekatan. Bagus dengan Bagus, Jegeg dengan Jegeg. Pasangan Bagus berdiri bersebelahan, sementara pasangan Jegeg berhadap-hadapan dan berpegangan tangan. Bagi mereka, suasana tersebut cukup mendebarkan. Sudah pasti mereka sangat deg-degan. Para penonton juga tidak sabar menunggu momen yang sedari awal mereka nantikan. Mereka semakin riuh bertepuk tangan, semakin lantang bersorak, menjadikan suasana semakin terasa menegangkan.
“Dengan bangga kami umumkan, Jegeg Bagus Tabanan 2026 adalah… Jegeg Maha dan Bagus Wikrama”
MC dengan penuh semangat mengumumkan nama-nama pemenang. Iringan tabuh menyertai kedua nama tersebut saat selempang disematkan oleh pasangan pemenang sebelumnya. Para penonton berseru lantang tak bisa membendung rasa bangga mereka. Finalis yang mereka jagokan berhasil menyabet gelar pemenang. Ni Luh Made Maha Sanjiwani dan I Made Wikrama Atmaja dinobatkan sebagai Jegeg Bagus Tabanan 2026.



Pasangan pemenang tersebut sama-sama masih duduk di bangku perguruan tinggi. Jegeg Maha saat ini tercatat sebagai mahasiswi aktif di Poltekses Kemenkes Denpasar, sementara Bagus Wikrama sedang menunaikan studinya di Universitas Udayana. Selama setahun kedepan, mereka akan menjadi wajah baru generasi muda Tabanan, mengembang tanggung jawab mempromosikan pariwisata dan budaya di Kabupaten Tabanan.
Jegeg Maha dan Bagus Wikrama sangat bersyukur dengan pencapaian mereka malam itu. Kedua berhasil menyisihkan 18 finalis lainnya melalui rangkaian proses seleksi yang sudah dilaksanakan sejak beberapa bulan Januari. Selain mempromosikan pariwisata dan budaya, mereka juga akan menjadi wakil Kabupaten Tabanan dalam ajang pemilihan Jegeg Bagus Bali yang dilaksakan pada Juli mendatang
“Menjadi Jegeg Tabanan 2026 bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Banyak rasa haru, bangga, dan syukur yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bukan hanya tentang gelar, tetapi tentang bagaimana saya belajar bertumbuh dan menjadi versi terbaik dari diri sendiri.” Ujar Jegeg Maha masih tidak percaya ia bisa terpilih menjadi pemenang.
“Terima kasih untuk semua proses, dukungan, dan orang-orang hebat yang sudah hadir dalam perjalanan ini. Semoga langkah kecil ini bisa menjadi inspirasi untuk terus berani bermimpi dan berkarya bagi Tabanan.” imbuhnya.

Bagus Wikrama juga mengatakan hal yang sama. Ia juga tidak lupa berterima kasih kepada seluruh pihak yang sudah mendukung dan membantunya hingga terpilih menjadi Bagus Tabanan yang baru.
“Pastinya saya sengat berterimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta seluruh pihak yang telah membantu saya selama ini, selama rangkaian pemilihan jegeg bagus tabanan 2026, dan juga para dewan juri yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk menjadi bagus tabanan 2026. ini bukan akhir dari perjalanan saya tetapi awal dari sebuah tanggung jawab baru,semoga nantinya saya bisa memberikan kontribusi bisa terhadap masyarakat, terkhusus nya masyarakat di Kabupaten Tabanan.” ujarnya penuh bangga.
Dipaning Jayaswara, Cahaya Kebangkitan yang Memancarkan Kejayaan dalam Harmoni
Tahun ini, Pemilihan Jegeg Bagus Tabanan mengusung tema “Dipaning Jayaswara”, sebuah frasa yang terdengar puitis sekaligus sarat makna.
“Dipaning Jayaswara” dimaknai sebagai cahaya kebangkitan yang memancarkan kejayaan dalam harmoni. Kata Dipaning berasal dari makna cahaya, sebuah kilau pencerahan yang memberi arah, menerangi jalan, sekaligus menghadirkan harapan. Sementara Jayaswara memadukan dua makna: jaya sebagai kejayaan dan kemuliaan yang diraih lewat perjuangan, serta swara sebagai harmoni, suara, dan keindahan peradaban. Dari sanalah tema ini berbicara tentang generasi muda yang tidak hanya bersinar sendiri, tetapi juga mampu menghadirkan harmoni bagi sekitarnya.
Tema tersebut juga berangkat dari ingatan kolektif masyarakat Tabanan terhadap sebuah tempat penuh sejarah, yaitu Taman Makam Pahlawan Puputan Margarana di Desa Marga.
Di tempat itulah, tahun 1946 silam, pasukan Ciung Wanara di bawah komando I Gusti Ngurah Rai memilih jalan puputan demi mempertahankan kehormatan bangsa. Margarana kemudian tidak hanya dikenang sebagai lokasi pertempuran, tetapi juga simbol keberanian, pengorbanan, dan keteguhan hati rakyat Bali menghadapi penjajahan.

Nilai-nilai tersebut dirasa sangat dekat dengan semangat “Dipaning Jayaswara”. Cahaya dalam Dipaning seolah menjadi lambang para pahlawan yang hingga kini masih menerangi perjalanan generasi penerusnya. Sementara Jayaswara hadir sebagai gema kemenangan dan keberanian yang menyuarakan tekad untuk tetap berdiri teguh di tengah tantangan zaman.
Itulah sebabnya, Taman Makam Pahlawan Margarana dipilih bukan hanya sebagai latar sejarah, tetapi sebagai sumber nilai yang ingin diwariskan kepada Jegeg dan Bagus Tabanan 2026. Bahwa mereka diharapkan tumbuh bukan hanya sebagai figur panggung, melainkan sebagai penerang, teladan, dan inspirasi bagi masyarakat.
Di sisi lain, tema tersebut juga memiliki keterkaitan erat dengan visi “Tabanan Era Baru” yang mengedepankan nilai Aman, Unggul, dan Madani.
Nilai aman tercermin dari cahaya yang membawa keteduhan dan kedamaian. Jegeg dan Bagus diharapkan hadir bukan hanya sebagai sosok yang percaya diri, tetapi juga pribadi yang mampu menjaga harmoni sosial dan menjadi penuntun di tengah masyarakat.
Sementara nilai unggul tampak dalam semangat kebangkitan dan kejernihan berpikir. Cahaya yang dimaksud dalam tema ini bukan hanya simbol harapan, tetapi juga kecerdasan, karakter, dan kepemimpinan muda yang visioner. Dari sana, Jegeg dan Bagus menjadi representasi generasi Tabanan yang kreatif, inspiratif, dan siap menghadapi perubahan zaman.
Sedangkan nilai madani terwujud melalui peran mereka sebagai penjaga budaya dan nilai luhur. Cahaya Jayaswara diharapkan mampu membimbing masyarakat menuju kehidupan yang beretika, berbudaya, serta memiliki semangat pengabdian sosial. Dalam peran itulah Jegeg dan Bagus dipandang sebagai agen perubahan. Jegeg Bagus Tabanan adalah anak-anak muda yang tidak sekadar mengikuti arus, tetapi ikut menyalakan semangat kebangkitan bersama.
Aksi Sosial dan Merayakan Kebudayaan
Ada sesuatu yang berbeda dalam rangkaian Pemilihan Jegeg Bagus Tabanan 2026 dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, para finalis diajak terjun dan turun langsung menyentuh kehidupan masyarakat.


Seluruh finalis Jegeg Bagus Tabanan 2026 menjalankan aksi sosial dengan membawa bekal ilmu, pengalaman, dan kepedulian yang mereka miliki. Dari sana, para finalis belajar bahwa menjadi Jegeg Bagus Tabanan juga mencakup rasa dan pengabdian yang tumbuh dari dalam diri.
Kehadiran mereka tidak hanya sebagai peserta kompetisi, tetapi juga sebagai generasi muda yang hadir langsung ke masyarakat, mendengar cerita masyarakat, memahami persoalan sosial yang ada, dan dengan cara sederhana memberikan dampak bagi lingkungan di sekitar mereka.
Perjalanan tersebut akhirnya membawa mereka untuk berada lebih dekat dengan potensi daerah Tabanan. Tahun ini, Desa Pupuan dipilih sebagai titik pengamatan utama bagi para finalis Jegeg Bagus Tabanan 2026. Di desa tersebut, mereka diajak melihat langsung kehidupan masyarakat dari berbagai sisi, mencakup pariwisata, budaya, ekonomi, hingga dinamika sosial yang tumbuh di tengah masyarakat pedesaan.
Melalui pengamatan tersebut, para finalis belajar bahwa potensi daerah tidak hanya lahir dari panorama alam yang indah, tetapi juga dari manusia, tradisi, dan cara masyarakat menjaga warisan yang mereka miliki.

Tidak berhenti di situ, para finalis juga diajak bersentuhan langsung dengan isu lingkungan melalui kunjungan ke konservasi Jalak Bali di Kecamatan Penebel. Di sana, mereka mengenal lebih dekat habitat dan siklus kehidupan Jalak Bali sebagai satwa endemik yang menjadi salah satu simbol penting pelestarian alam di Bali.
Inovasi lain yang turut mewarnai penyelenggaraan tahun ini adalah hadirnya agenda “Malam Budaya”, sebuah malam yang menjadi ruang bagi perayaan identitas budaya Bali. Pada malam itu, para finalis tampil mengenakan busana bernuansa kain tradisional Bali dalam sesi fashion show yang dipadukan dengan penampilan bakat mereka di hadapan masyarakat umum. Ada yang menari, bernyanyi, membawakan seni pertunjukan, hingga menunjukkan kreativitas yang lahir dari akar budaya lokal Bali. Para finalis Jegeg Bagus Tabanan 2026 menjadi penjaga dan perawat budaya Bali dan menghidupkannya di tengah perubahan zaman yang masif terjadi.
Memberdayakan Alumni, Mewariskan Semangat dari Generasi ke Generasi
Pemilihan Jegeg Bagus Tabanan 2026 juga menghadirkan keterlibatan para alumni Jegeg Bagus Tabanan dalam proses pembinaan finalis. 5 orang diantara dewan juri yang terlibat merupakan alumni Jegeg Bagus Tabanan. Jika di tahun-tahun sebelumnya mereka hadir sebagai peserta, kali ini mereka hadir menjadi pakar dan praktisi yang kompeten untuk mengawal pemilihan Jegeg Bagus Tabanan 2026. Mereka diberdayakan secara aktif sebagai pemateri, mentor, hingga dewan juri dalam berbagai tahapan seleksi. Dengan pengalaman, wawasan, dan integritas yang dimiliki, merekalah yang menentukan langkah para finalis menuju gelar yang membanggakan.

Langkah ini menjadi upaya untuk menjaga keberlanjutan nilai dan semangat Jegeg Bagus Tabanan dari generasi ke generasi. Para alumni yang telah memiliki pengalaman di bidang pariwisata, komunikasi, budaya, hingga pengembangan diri dinilai mampu menghadirkan perspektif yang lebih dekat dan relevan bagi para finalis.
Dalam sesi pembekalan, para alumni berbagi pengalaman tentang bagaimana peran Jegeg dan Bagus tidak berhenti setelah masa jabatan berakhir. Mereka menceritakan perjalanan menghadapi dunia kerja, keterlibatan dalam kegiatan sosial, hingga cara menjaga identitas budaya Bali di tengah perkembangan zaman. Dari ruang-ruang diskusi seperti itulah para finalis belajar bahwa gelar Jegeg dan Bagus adalah pengabdian yang tidak hanya bisa dilakukan di masa kini, tetapi juga di masa yang akan datang.
Keterlibatan alumni sebagai dewan juri juga memberi warna berbeda dalam proses penilaian. Mereka tidak hanya menilai penampilan di atas panggung, tetapi juga melihat karakter, konsistensi, cara berpikir, kemampuan bekerja sama, hingga kepedulian sosial para finalis. Sebab mereka pernah berada di posisi yang sama, merasakan proses karantina, tekanan kompetisi, sekaligus tanggung jawab setelah terpilih menjadi Jegeg dan Bagus Tabanan.

Selain memperkuat kualitas pembinaan, langkah ini juga membuka potensi baik bagi keberlanjutan organisasi Jegeg Bagus Tabanan ke depan. Hubungan antargenerasi menjadi lebih erat, sehingga tercipta ruang kolaborasi yang saling mendukung antara alumni dan generasi baru.
Dari sana, Jegeg Bagus Tabanan tidak hanya tumbuh sebagai ajang tahunan, tetapi sebagai ekosistem generasi muda yang terus bergerak bersama. Alumni dapat menjadi jejaring pengembangan diri bagi finalis, membuka peluang kerja sama di bidang pariwisata, sosial, budaya, hingga ekonomi kreatif.
Lebih jauh lagi, keterlibatan alumni juga menjadi bentuk nyata bahwa pengalaman dan nilai yang pernah dibangun dalam ajang ini tetap hidup dan terus diwariskan. Bahwa Jegeg dan Bagus bukan sekadar gelar yang selesai ketika mahkota diturunkan, melainkan perjalanan panjang untuk tetap hadir, berkontribusi, dan tumbuh bersama masyarakat Tabanan.
Para Supporter yang Tak Kalah Kreatif
Semakin tahun, cara para supporter dalam mendukung finalis Jegeg Bagus Tabanan 2026 juga semakin beragam dan kreatif. Tidak cukup dengan riuh sorak sorai dan tepuk tangan, mereka juga menghadirkan aksi-aksi unik yang cukup mencuri banyak perhatian. Kreativitas para supporter semakin menambah kemeriahan acara pada malam itu.
Ada salah satu grup supporter yang hadir paling mencolok dengan kekompakan mereka membuat kaus khusus dengan warna yang sama, didesain dengan foto besar sang finalis lengkap dengan nama panggungnya. Menariknya lagi, kaus itu dikenakan bersama-sama oleh berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Mereka duduk bersama-sama, bersorak dan berseru dengan lantangnya, sambil mengibarkan bendera kecil yang digenggam ke kanan dan ke kiri dengan gerakan yang cepat. Suasana seperti itu mengingatkan banyak orang pada masa kejayaan acara kompetisi Akademi Fantasi Indonesia dahulu, ketika para pendukung rela datang beramai-ramai demi memberi semangat langsung kepada peserta favorit mereka. Kehadiran mereka membuat suasana lebih antusias, lebih hidup, dan lebih berenergi.




Selain kaus seragam, kreativitas supporter juga terlihat dari berbagai desain spanduk yang unik dan menghibur. Ada kelompok supporter yang sengaja membuat spanduk dengan konsep humor dan jenaka agar mampu menarik perhatian.
Salah satu ide yang cukup mencuri perhatian adalah desain spanduk yang meniru tampilan spanduk warung lalapan pada umumnya. Tata letaknya dibuat sangat mirip dengan daftar menu makanan yang biasa dipasang di pinggir jalan. Namun, alih-alih berisi nama menu makanan, spanduk tersebut justru dipenuhi foto-foto lucu para finalis yang mereka jagokan dengan tulisan-tulisan kocak yang mengundang tawa. Kelompok supporter ini menghadirkan dukungan dengan cara yang santai dan menghibur. Di samping spanduk lalapan tadi, ada juga spanduk lain yang tak kalah menarik dari segi visual dan tetap menghibur.
Inilah Para Pemenang Jegeg Bagus Tabanan 2026
Dalam pemilihan Jegeg Bagus Tabanan 2026, terdapat 8 orang dewan juri yang dipercaya untuk menilai penampilan seluruh finalis. Mereka berhak untuk menentukan yang terbaik untuk dinobatkan sebagai pemenang Jegeg Bagus Tabanan 2026. Adapun para dewan juri tersebut adalah:
- Dr. I Nyoman Sudiarta, S.E., M.Par – Dewan Juri Unsur Akademisi Bidang Pemasaran Pariwisata
- Ni Luh Made Ayu Lisnawati Penatih, S.Pd – Dewan Juri Bidang Unsur Perempuan dan Perlindungan Anak serta Tata Titi Busana Adat Bali
- Andri Purwanto, S.T – Bagus Tabanan 2006, Dewan Juri Unsur Pelatihan Modeling dan Pengembangan Kepribadian.
- I Gusti Bagus Weda Sanjaya, S.Pd., M.Pd – Bagus Tabanan 2008, Dewan Juri Unsur Tata Titi Bahasa Bali.
- I Gede Agus Deny Permana – Bagus Tabanan 2010, Dewan Juri Unsur Public Speaking dan Bahasa Inggris
- Ni Luh Putu Nina Idelia AP, S.Psi – Jegeg Tabanan 2013, Dewan Juri Unsur Psikologi.
- I Gede Made Sukarianto, S.Par., M.Par – Bagus Tabanan 2015, Dewan Juri Unsur Akademisi Pengembangan Pariwisata
- dr. Gede Made Cahya Trisna Pratama, S.Ked – Bagus Tabanan 2018, Dewan Juri Unsur Kesehatan.
Penilaian seluruh Finalis Jegeg Bagus Tabanan 2026 tidak hanya dilakukan pada malam itu saja, tetapi telah dilakukan melalui proses yang panjang di setiap tahapannya. Awalnya, tercatat 44 peserta yang mendaftarkan diri dalam Pemilihan Jegeg Bagus Tabanan 2026, terdiri dari 26 peserta Jegeg dan 18 peserta Bagus. Mereka kemudian disaring menjadi15 besar Jegeg Bagus Tabanan 2026, kemudian Seleksi 10 Besar Jegeg Bagus Tabanan 2026, Pra-Karantina, Karantina, Pembekalan Jegeg Bagus Tabanan 2026, Deep Interview, Dialog Promosi Pariwisata, serta Question and Answer 6 Besar dan 3 Besar pada Malam Grand Final Pemilihan Jegeg Bagus Tabanan 2026.


Dalam rangkaian penilaian tersebut, ada banyak aspek yang dinilai oleh para dewan juri, mulai dari segi bakat, dari segi bagaimana menjawab pertanyaan saat interview, dari segi upakara, dan masih banyak aspek penilaian lainnya yang tidak bisa ditampilkan malam itu. Hasil dari Malam Grand Final Pemilihan Jegeg Bagus Tabanan 2026 adalah bentuk akumulasi dari keseluruhan penilian yang sudah dilakukan selama beberapa bulan sebelumnya.
Berdasarkan keputusan dewan juri, inilah nama-nama pemenang Jegeg Bagus Tabanan 2026 beserta gelar yang didapat:
Jegeg Bagus Tabanan 2026
- Ni Luh Made Maha Sanjiwani (Poltekkes Kemenkes Denpasar)
- I Made Wikrama Atmaja (Universitas Udayana)
R.UP I Jegeg Bagus Tabanan 2026
- Gusti Putu Agung Cinta Arya Diningrat (Universitas Udayana)
- I Nyoman Alan Deva Abhiyasa (Universitas Udayana)
R.UP II Jegeg Bagus Tabanan 2026
- I Gusti Agung Ayu Ingga Rei Putri (SMA Negeri 1 Tabanan)
- I Putu Candra Aditya Pramana (Poltekkes Kemenkes Denpasar
R.UP III Jegeg Bagus Tabanan 2026
- Ni Nyoman Manik Aline Sari (Universitas Udayana)
- I Kadek Pande Dama (Universitas Udayana)
R.UP IV Jegeg Bagus Tabanan 2026
- I Nyoman Lindu Aditia (SMA Negeri 1 Mengwi)
- I Gusti Agung Ririn Happy Dwiyanti (Universitas Udayana)
R.UP V Jegeg Bagus Tabanan 2026
- Kadek Alpin Yudiana Putra (Institut Seni Indonesia Bali)
- Ni Luh Jegeg Sinta Rahayu (Universitas Pendidikan Ganesha)
Jegeg Bagus Tabanan Lingkungan 2026
- Ni Made Ari Suryaningsih (SMA Negeri 1 Pupuan)
- I Gusti Putu Arya Wiguna (Institut Seni Indonesia Bali)
Jegeg Bagus Tabanan Berbakat 2026
- Ni Made Melia Dewi (Universitas Pendidikan Ganesha)
- I Kadek Dicky Saputra (SMA Negeri 2 Tabanan)
Jegeg Bagus Tabanan Persahabatan 2026
- Ni Luh Tiara Dipayani (SMA Negeri 1 Pupuan)
- I Made Aris Septiana (SMA Negeri 1 Pupuan)
Jegeg Bagus Tabanan Intelegensia 2026
- Desak Gede Anindya Nariswari (INSTIKI Bali)
- I Putu Doni Arta Wirawan (INSTIKI Bali)






Reporter/Penulis: Julio Saputra
Editor: Adnyana Ole




























