22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
May 2, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

TANGGAL 2 Mei adalah hari yang keramat bagi dunia pendidikan Indonesia. Ada suasana yang khas menyelimuti hati para pendidik dan para siswanya. Itu yang saya rasakan dulu. Entah kalau sekarang, karena di luar pagar sekolah, realitas bergerak lebih cepat.

Tengok saja tuntutan TKA (tes kemampuan akademik), program MBG yang masih menemukan jalan agar bisa nyaman diterima semua pihak, zonasi dan jam kosong di sekolah-sekolah, Program Kampus Berdampak, dan tekanan dunia kerja yang makin konkret dan kompetitif. 

Di satu sisi, kita diminta mencetak manusia “seutuhnya”, di sisi lain, kita dikejar target keterampilan yang serba praktis. Ditambah gangguan masif dari konten media sosial pada para pelajar, yang membuat konten receh bertebaran bagai jamur di musim hujan. Bisa jadi dianggap sok-sokan, kalau kita masih menggugat apakah pendidikan kita masih berada di jalur yang benar, atau sedang kelimpungan mencari arah. Jika kita merasa susah membaca ulang pendidikan kita, setidaknya mari mengeja ulang. 

Banyak orang mulai merasa, dan bahkan mengatakannya secara terang-terangan, bahwa pendidikan Indonesia makin lama makin buruk. Anak-anak dianggap makin tidak disiplin, lebih suka rebahan sambil scrolling, sopan santun menipis, dan kenakalan remaja meningkat.

Di tengah situasi ini, saya yakin, pasti di antara sidang para pembaca yang budiman sempat muncul satu gagasan yang terdengar tegas sekaligus menggoda. Gagasan bahwa yang namanya pendidikan memang harus dipaksakan dulu, baru nanti pelan-pelan disadari dan masuk sebagai suatu kesadaran.

Antara Disiplin dan Dogma

Gagasan agar pendidikan “dipaksa dulu” sebenarnya bukan tanpa dasar. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal memang dengan metode itu meski secara tidak langsung, kita bisa pahami manfaatnya.

Anak kecil belajar membaca, bangun pagi, atau disiplin waktu, bahkan kesopanan, bukan karena sadar, tapi karena dibiasakan. Dalam tradisi filsafat, ini punya akar yang jelas. Aristoteles pernah menyebut bahwa kebajikan terbentuk lewat kebiasaan. Kita menjadi baik bukan karena tahu, tapi karena melakukan hal baik berulang-ulang.

Jadi ide pemaksaan ini bisa juga dijalankan, hanya saja masalahnya muncul ketika pembiasaan ini berubah menjadi pemaksaan tanpa makna.  Di titik ini, pendidikan bisa tergelincir menjadi dogma, menjadi sesuatu yang harus diterima, tanpa ruang untuk dipertanyakan. Padahal, seperti diingatkan Immanuel Kant, manusia bukan sekadar objek yang dibentuk, melainkan subjek yang berpikir. Jika pendidikan hanya menuntut kepatuhan, maka yang lahir bukan manusia merdeka, tapi manusia yang sekadar taat. Jelas ini bukan lagi membentuk manusia seutuhya, yang merdeka dan bermartabat.

Teknologi Bisa Disalahkan, Tapi Tidak Cukup

Tidak bisa dipungkiri, teknologi dan budaya digital memainkan peran besar dalam perubahan perilaku pelajar hari ini. Dunia yang dipenuhi video pendek, notifikasi tanpa henti, dan algoritma yang dirancang untuk membuat kita betah berlama-lama, jelas memengaruhi cara dan moivasi belajar.  Tokoh pemerhati teknologi seperti Nicholas Carr bahkan mengingatkan bahwa internet bisa menggeser cara kita berpikir, dari yang mendalam menjadi serba cepat dan dangkal.

Tapi hanya berkutat di sini adalah kesalahan yang sering kita lakukan. Karena bagaimana pun teknologi bukan sebagai penyandang dosa tunggal. Teknologi hanya memperbesar kelemahan yang memang sebenarnya sudah ada.  Kalau sekolah sekarang terasa membosankan bagi para siswa, apakah itu semata karena TikTok, IG dan lainnya? Atau karena pengalaman belajar atau pengalaman mengajar kita memang belum cukup memberikan makna? 

Kritik klasik John Dewey bisa kembali relevan, bahwa belajar yang tidak terhubung dengan pengalaman hidup akan kehilangan daya tariknya. Sebagian dari kita pasti pernah mengalami betapa semangatnya saat kita main di luar rumah. Karena sekaligus belajar biologi, fisika , ekonomi atau bahkan geografi, ke alam sekitar, ke kebun, sawah dekat rumah atau saat ke rumah kakek nenek, dan semua itu bisa kita lihat sebagai materi yang terhampar luas di sekitar kita.

Kalau kita tarik ke situasi sekarang, ketika jadi sekolah gagal menjadi ruang yang hidup, maka layar ponsel akan mengambil alih. Atau bisa juga kita balik, saat layar ponsel mengambil alih, maka sekolah kesulitan mewujud menjadi ruang belajar yang hidup.

Selain menyoal teknologi, sering kali diskusi tentang krisis pendidikan berhenti pada dua pihak yaitu siswa dan guru. Siswa dianggap kurang disiplin, guru dianggap kurang berkualitas. Padahal, persoalannya lebih struktural. Guru hari ini bukan hanya mengajar, tapi juga dibebani tetek-bengek administrasi, tuntutan kurikulum, dan tekanan hasil yang instan. Di saat yang sama, para guru sebagai warga masyarakat, mereka juga hidup dalam dunia yang sama, terpapar distraksi digital yang tidak kalah kuat.

Sementara itu, kurikulum sering kali terlihat ideal di atas kertas. Kurikulum akan bicara tentang kreativitas, berpikir kritis, dan profil pelajar masa depan, namun rapuh dalam implementasinya.  Jika bicara dalam logika sederhana, kalau sesuatu terus gagal di lapangan, maka ia belum benar-benar sukses sebagai desain.

Dipaksa, Tapi Apa yang Dipaksa?

Mari kita kembali ke pertanyaan awal kita. Apa iya sih, pendidikan perlu “dipaksakan”? Bisa jadi Jawabannya adalah iya, tapi bukan seperti yang kita bayangkan. Dalam hemat saya yang perlu dipaksa bukanlah keyakinan atau cara berpikir, melainkan struktur dan kebiasaan. 

Di era digital, hal ini akan menjadi sangat krusial. Karena tanpa intervensi, algoritma akan lebih efektif “mendidik” anak dibandingkan sekolah. Dan kita tahu keganasan algoritma yang tidak pernah peduli pada karakter, yang penting hanyalah keterlibatan audiens.  Karena itu, beberapa hal memang perlu ditegaskan di sini, bahwa perlu adanya waktu belajar yang jelas dan konsisten, suatu ruang bebas dari berbagai distraksi untuk melatih fokus, dan pembiasaan membaca dan berpikir mendalam.

Ini bukan bentuk otoritarianisme, melainkan higiene kognitif, cara menjaga kesehatan cara berpikir di tengah banjir informasi yang penuh potensi bias, hoaks, dan distraksi.  Namun, di saat yang sama, ada hal yang tidak boleh dipaksakan seperti makna dari apa yang dipelajari, misal cara khas setiap orang dalam memahami dunia sektiarnya, serta kesadaran pribadi yang akan menjamin seseorang memiliki martabatnya sebagai manusia merdeka. Karena kesadaran tidak pernah lahir dari tekanan, melainkan dari pengalaman yang bermakna.

Jika ditarik lebih jauh, krisis pendidikan hari ini mungkin bukan sekadar soal disiplin atau kurikulum. Masalahnya lebih mendasar, yaitu bahwa sistem pendidikan kita kalah canggih dibanding sistem algoritma digital dalam membentuk perilaku manusia. Algoritma lebih tahu apa yang menarik perhatian, lebih pintar dalam memberi umpan balik instan, lebih gercep dalam terus menyesuaikan diri dengan penggunanya.  Lah, sementara pendidikan, lebih sering satu arah, lambat beradaptasi, dan juga kurang personal. Dalam pertarungan yang tak seimbang ini, ini, tidak heran jika banyak siswa lebih “terdidik” oleh media sosial daripada oleh sekolah.

Menuju Pendidikan yang Lebih Cerdas, Bukan Lebih Keras

Jika melihat situasi zaman yang selalu berubah, karakter yang selalu berkembang, menjadi jelas bahwa solusinya bukan sekadar kembali ke pendekatan lama yang keras dan penuh pemaksaan. Kita tidak butuh pendidikan yang lebih menakutkan, tapi kita butuh pendidikan yang lebih cerdas.

Cerdas ini bisa berari mampu mendesain pengalaman belajar yang relevan, memahami cara kerja perhatian di era digital dan bisa membangun disiplin tanpa mematikan nalar. Seperti yang diingatkan Paulo Freire, pendidikan seharusnya membebaskan, bukan sekadar mengisi otak dengan kognisi belaka.

Berkaitan dengan ini, seyogyanya memang Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar momen perayaan, tapi juga sebagai tradisi refleksi secara jujur. Tidak apa jika kita mengakui pendidikan kita belum bisa dikatakan berhasil, tapi harus pula optimis bahwa tidak gagal sepenuhnya. 

Di tengah dunia yang berubah cepat, kita tidak bisa hanya mengandalkan slogan “membentuk manusia seutuhnya” tanpa benar-benar memikirkan bagaimana caranya. Jadi, saudara, apakah siswa kita perlu dipaksa?

Lalu bagaimana caranya membuat sistem pendidikan kita agar cukup kuat, relevan, dan cerdas untuk bersaing dengan dunia yang juga turut membentuk mereka setiap hari? Maka pekerjaan kita memang masih panjang, dan perubahan tidak dimulai dari merancang slogan yang apik, melainkan dari keberanian untuk berpikir ulang. Selamat Hari Pendidikan Nasional. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Pendidikan Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

Next Post

Guru Profesional Bekerja Proporsional

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Guru Profesional Bekerja Proporsional

Guru Profesional Bekerja Proporsional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co