14 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
May 2, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

TANGGAL 2 Mei adalah hari yang keramat bagi dunia pendidikan Indonesia. Ada suasana yang khas menyelimuti hati para pendidik dan para siswanya. Itu yang saya rasakan dulu. Entah kalau sekarang, karena di luar pagar sekolah, realitas bergerak lebih cepat.

Tengok saja tuntutan TKA (tes kemampuan akademik), program MBG yang masih menemukan jalan agar bisa nyaman diterima semua pihak, zonasi dan jam kosong di sekolah-sekolah, Program Kampus Berdampak, dan tekanan dunia kerja yang makin konkret dan kompetitif. 

Di satu sisi, kita diminta mencetak manusia “seutuhnya”, di sisi lain, kita dikejar target keterampilan yang serba praktis. Ditambah gangguan masif dari konten media sosial pada para pelajar, yang membuat konten receh bertebaran bagai jamur di musim hujan. Bisa jadi dianggap sok-sokan, kalau kita masih menggugat apakah pendidikan kita masih berada di jalur yang benar, atau sedang kelimpungan mencari arah. Jika kita merasa susah membaca ulang pendidikan kita, setidaknya mari mengeja ulang. 

Banyak orang mulai merasa, dan bahkan mengatakannya secara terang-terangan, bahwa pendidikan Indonesia makin lama makin buruk. Anak-anak dianggap makin tidak disiplin, lebih suka rebahan sambil scrolling, sopan santun menipis, dan kenakalan remaja meningkat.

Di tengah situasi ini, saya yakin, pasti di antara sidang para pembaca yang budiman sempat muncul satu gagasan yang terdengar tegas sekaligus menggoda. Gagasan bahwa yang namanya pendidikan memang harus dipaksakan dulu, baru nanti pelan-pelan disadari dan masuk sebagai suatu kesadaran.

Antara Disiplin dan Dogma

Gagasan agar pendidikan “dipaksa dulu” sebenarnya bukan tanpa dasar. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal memang dengan metode itu meski secara tidak langsung, kita bisa pahami manfaatnya.

Anak kecil belajar membaca, bangun pagi, atau disiplin waktu, bahkan kesopanan, bukan karena sadar, tapi karena dibiasakan. Dalam tradisi filsafat, ini punya akar yang jelas. Aristoteles pernah menyebut bahwa kebajikan terbentuk lewat kebiasaan. Kita menjadi baik bukan karena tahu, tapi karena melakukan hal baik berulang-ulang.

Jadi ide pemaksaan ini bisa juga dijalankan, hanya saja masalahnya muncul ketika pembiasaan ini berubah menjadi pemaksaan tanpa makna.  Di titik ini, pendidikan bisa tergelincir menjadi dogma, menjadi sesuatu yang harus diterima, tanpa ruang untuk dipertanyakan. Padahal, seperti diingatkan Immanuel Kant, manusia bukan sekadar objek yang dibentuk, melainkan subjek yang berpikir. Jika pendidikan hanya menuntut kepatuhan, maka yang lahir bukan manusia merdeka, tapi manusia yang sekadar taat. Jelas ini bukan lagi membentuk manusia seutuhya, yang merdeka dan bermartabat.

Teknologi Bisa Disalahkan, Tapi Tidak Cukup

Tidak bisa dipungkiri, teknologi dan budaya digital memainkan peran besar dalam perubahan perilaku pelajar hari ini. Dunia yang dipenuhi video pendek, notifikasi tanpa henti, dan algoritma yang dirancang untuk membuat kita betah berlama-lama, jelas memengaruhi cara dan moivasi belajar.  Tokoh pemerhati teknologi seperti Nicholas Carr bahkan mengingatkan bahwa internet bisa menggeser cara kita berpikir, dari yang mendalam menjadi serba cepat dan dangkal.

Tapi hanya berkutat di sini adalah kesalahan yang sering kita lakukan. Karena bagaimana pun teknologi bukan sebagai penyandang dosa tunggal. Teknologi hanya memperbesar kelemahan yang memang sebenarnya sudah ada.  Kalau sekolah sekarang terasa membosankan bagi para siswa, apakah itu semata karena TikTok, IG dan lainnya? Atau karena pengalaman belajar atau pengalaman mengajar kita memang belum cukup memberikan makna? 

Kritik klasik John Dewey bisa kembali relevan, bahwa belajar yang tidak terhubung dengan pengalaman hidup akan kehilangan daya tariknya. Sebagian dari kita pasti pernah mengalami betapa semangatnya saat kita main di luar rumah. Karena sekaligus belajar biologi, fisika , ekonomi atau bahkan geografi, ke alam sekitar, ke kebun, sawah dekat rumah atau saat ke rumah kakek nenek, dan semua itu bisa kita lihat sebagai materi yang terhampar luas di sekitar kita.

Kalau kita tarik ke situasi sekarang, ketika jadi sekolah gagal menjadi ruang yang hidup, maka layar ponsel akan mengambil alih. Atau bisa juga kita balik, saat layar ponsel mengambil alih, maka sekolah kesulitan mewujud menjadi ruang belajar yang hidup.

Selain menyoal teknologi, sering kali diskusi tentang krisis pendidikan berhenti pada dua pihak yaitu siswa dan guru. Siswa dianggap kurang disiplin, guru dianggap kurang berkualitas. Padahal, persoalannya lebih struktural. Guru hari ini bukan hanya mengajar, tapi juga dibebani tetek-bengek administrasi, tuntutan kurikulum, dan tekanan hasil yang instan. Di saat yang sama, para guru sebagai warga masyarakat, mereka juga hidup dalam dunia yang sama, terpapar distraksi digital yang tidak kalah kuat.

Sementara itu, kurikulum sering kali terlihat ideal di atas kertas. Kurikulum akan bicara tentang kreativitas, berpikir kritis, dan profil pelajar masa depan, namun rapuh dalam implementasinya.  Jika bicara dalam logika sederhana, kalau sesuatu terus gagal di lapangan, maka ia belum benar-benar sukses sebagai desain.

Dipaksa, Tapi Apa yang Dipaksa?

Mari kita kembali ke pertanyaan awal kita. Apa iya sih, pendidikan perlu “dipaksakan”? Bisa jadi Jawabannya adalah iya, tapi bukan seperti yang kita bayangkan. Dalam hemat saya yang perlu dipaksa bukanlah keyakinan atau cara berpikir, melainkan struktur dan kebiasaan. 

Di era digital, hal ini akan menjadi sangat krusial. Karena tanpa intervensi, algoritma akan lebih efektif “mendidik” anak dibandingkan sekolah. Dan kita tahu keganasan algoritma yang tidak pernah peduli pada karakter, yang penting hanyalah keterlibatan audiens.  Karena itu, beberapa hal memang perlu ditegaskan di sini, bahwa perlu adanya waktu belajar yang jelas dan konsisten, suatu ruang bebas dari berbagai distraksi untuk melatih fokus, dan pembiasaan membaca dan berpikir mendalam.

Ini bukan bentuk otoritarianisme, melainkan higiene kognitif, cara menjaga kesehatan cara berpikir di tengah banjir informasi yang penuh potensi bias, hoaks, dan distraksi.  Namun, di saat yang sama, ada hal yang tidak boleh dipaksakan seperti makna dari apa yang dipelajari, misal cara khas setiap orang dalam memahami dunia sektiarnya, serta kesadaran pribadi yang akan menjamin seseorang memiliki martabatnya sebagai manusia merdeka. Karena kesadaran tidak pernah lahir dari tekanan, melainkan dari pengalaman yang bermakna.

Jika ditarik lebih jauh, krisis pendidikan hari ini mungkin bukan sekadar soal disiplin atau kurikulum. Masalahnya lebih mendasar, yaitu bahwa sistem pendidikan kita kalah canggih dibanding sistem algoritma digital dalam membentuk perilaku manusia. Algoritma lebih tahu apa yang menarik perhatian, lebih pintar dalam memberi umpan balik instan, lebih gercep dalam terus menyesuaikan diri dengan penggunanya.  Lah, sementara pendidikan, lebih sering satu arah, lambat beradaptasi, dan juga kurang personal. Dalam pertarungan yang tak seimbang ini, ini, tidak heran jika banyak siswa lebih “terdidik” oleh media sosial daripada oleh sekolah.

Menuju Pendidikan yang Lebih Cerdas, Bukan Lebih Keras

Jika melihat situasi zaman yang selalu berubah, karakter yang selalu berkembang, menjadi jelas bahwa solusinya bukan sekadar kembali ke pendekatan lama yang keras dan penuh pemaksaan. Kita tidak butuh pendidikan yang lebih menakutkan, tapi kita butuh pendidikan yang lebih cerdas.

Cerdas ini bisa berari mampu mendesain pengalaman belajar yang relevan, memahami cara kerja perhatian di era digital dan bisa membangun disiplin tanpa mematikan nalar. Seperti yang diingatkan Paulo Freire, pendidikan seharusnya membebaskan, bukan sekadar mengisi otak dengan kognisi belaka.

Berkaitan dengan ini, seyogyanya memang Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar momen perayaan, tapi juga sebagai tradisi refleksi secara jujur. Tidak apa jika kita mengakui pendidikan kita belum bisa dikatakan berhasil, tapi harus pula optimis bahwa tidak gagal sepenuhnya. 

Di tengah dunia yang berubah cepat, kita tidak bisa hanya mengandalkan slogan “membentuk manusia seutuhnya” tanpa benar-benar memikirkan bagaimana caranya. Jadi, saudara, apakah siswa kita perlu dipaksa?

Lalu bagaimana caranya membuat sistem pendidikan kita agar cukup kuat, relevan, dan cerdas untuk bersaing dengan dunia yang juga turut membentuk mereka setiap hari? Maka pekerjaan kita memang masih panjang, dan perubahan tidak dimulai dari merancang slogan yang apik, melainkan dari keberanian untuk berpikir ulang. Selamat Hari Pendidikan Nasional. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Pendidikan Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

Next Post

Guru Profesional Bekerja Proporsional

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

by Agung Sudarsa
June 14, 2026
0
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu...

Read moreDetails

Bung Karno dalam Puisi   

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
0
Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

Read moreDetails

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

Read moreDetails

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

by Angga Wijaya
June 11, 2026
0
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

Read moreDetails

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
0
Tempe dan Ekonomi yang Teriris

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan...

Read moreDetails

Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

by Chandra Manikan
June 10, 2026
0
Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka...

Read moreDetails

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

by Agung Sudarsa
June 10, 2026
0
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih...

Read moreDetails

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
0
GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis...

Read moreDetails

Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

by I Nyoman Tingkat
June 9, 2026
0
Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni...

Read moreDetails

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

by Dede Putra Wiguna
June 9, 2026
0
Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

 “Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya. Di sampingnya,...

Read moreDetails
Next Post
Guru Profesional Bekerja Proporsional

Guru Profesional Bekerja Proporsional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
Puisi

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB
Panggung

Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB

ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas...

by Jaswanto
June 14, 2026
 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara
Budaya

 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

DENPASAR – TATKALA.CO |  Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta...

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins
Esai

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu...

by Agung Sudarsa
June 14, 2026
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali
Panggung

Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang...

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti
Cerpen

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan
Puisi

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

by IRZI
June 13, 2026
Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan
Budaya

Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita...

by tatkala
June 13, 2026
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word
Ulas Rupa

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi
Bahasa

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan...

by I Made Sudiana
June 13, 2026
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
Ulas Musik

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co