1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru Profesional Bekerja Proporsional

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
May 2, 2026
in Esai
Guru Profesional Bekerja Proporsional

Ilustrasi tatkala.co | Canva

TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendidikan pada Februari 2026, yang menegaskan pentingnya kolaborasi pemerintah, guru, orang tua, dunia usaha, media, dan masyarakat. Semua elemen itu menentukan kompas Pendidikan Indonesia ke depan.

Seiring dengan menuanya usia bangsa dan semakin sering kita merayakan Hari Pendidikan Nasional, ada catatan penting yang mesti direnungkan di balik serimoni hingar bingar di bawah sorot kamera yang viral di berbagai platform media sosial. Tentu saja mereka yang berupacara itu tidak akan pernah berada dalam  barisan rapi tanpa kehadiran guru. Tiba-tiba saja saya teringat pada puisi berjudul “Menyesal” karya Ali Hasjmy. Tiga baris terakhir puisinya, berbunyi ; …Kepada yang muda kuharap/Atur barisan di pagi hari/Menuju arah padang bakti//

Bangsa ini jangan sampai menyesal karena yang mengatur barisan di pagi hari kurang semangat. Kekurangan energi untuk sanggup berdiri tegak karena gaji mereka  pun belum cukup untuk itu. Itu terjadi karena beragamnya status keguruan para paru. Dari berbagai daerah, masih ada guru yang digaji di bawah Rp 500.00,00 sebulan. Sudah kecil terlambat pula. Masih ada guru bertaruh nyawa menyeberangkan murid melintasi sungai menuju sekolah. Masih ada guru yang melewati jalan becek berlumpur yang bila ditempuh dengan sepeda motor licinnya minta ampun. Masih ada guru rela berjalan kaki berkilo-kilo, walaupun gajinya hanya cukup untuk hidup sangat sederhana dalam waktu sepekan. Masih ada guru yang selepas dari sekolah langsung menjadi pemulung, mengorek sampah demi sesuap nasi bagi anak yang ditinggal di rumah. Masih ada guru yang serba kekurangan secara material sehingga anak-anaknya pun tidak mendapatkan Pendidikan yang selayaknya. Masih banyak guru yang SK-nya menjadi jaminan di Bank sehingga yang tersisa bukti potong gaji.   Di tengah situasi itulah, Pendidikan bermutu untuk semua dipertaruhkan. Di sinilah pentingnya partisipasi semesta mendukung.

Jika mencermati tema Hari Pendidikan Nasional 2026, ada sejumlah hal yang menarik untuk dikulik. Pertama, frasa “partisipasi semesta” yang disimplifikasi menjadi kolaborasi enam elemen : pemerintah, guru, orang tua, dunia usaha, media, dan masyarakat. Keenam elemen ini seyogyanya seiring sejalan memandang Pendidikan sebagai kompas masa depan bangsa. Tanpa demikian, posisi guru menjadi lemah bahkan sering dibully dan dilecehkan di depan publik. Betapa sakitnya hati guru bila ditelanjangi di depan muridnya sendiri oleh oknum yang seharusnya menjadi anutan. Ini perlu menjadi refleksi untuk memahami partisipasi semesta.

Kedua, pemerintah perlu menghapus kasta guru yang selama ini ada. Ada guru PNS, guru PPPK, guru PPPK PW, guru hononer, guru tetap yayasan, guru tak tetap. Selain guru PNS, status guru itu sangat riskan. Mereka harap-harap cemas. Apakah kontrak mereka diperpanjang atau tidak. Mereka semua mendidik dan mengajar dengan tugas yang sama, mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi dengan pendapatan yang berbeda. Hal itu telah menimbulkan kesenjangan antarguru baik diinternal sekolah maupun antarsekolah. Identik dengan kasta guru, kasta sekolah juga belum dapat dihapus walaupun pemerintah menyebut tidak ada sekolah unggulan atau sekolah pavorit. Nyatanya, perbedaan antarsekolah begitu nyata adanya. Daya dukungnya tidak sama, baik fasilitas pendukung, guru, tendik, dan kesadaran masyarakat pendukungnya.

Ketiga, generasi emas yang selalu digemakan menyambut seabad Indonesia Merdeka adalah harapan yang perlu dijemput dengan semangat ber-AKHLAK. Pendidikan berorientasi pada Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Orientasi itu seyogyanya berkesinambungan siapa pun pemimpinnya. Jangan sampai guru di garda terdepan  seperti dikejar macan berlari tergesa-gesa dikepung tugas administrasi yang semakin banyak. Sejak TPG dibayar setiap bulan mulai Januari 2026, obrolan di ruang guru berkisar valid tidaknya info GTK. Obrolan ini kurang  empati mengingat kasta guru yang beragam dalam satu sekolah. Seyogyanya guru cerdas menggunakan parameter komunikasi secara pragmatik.

Keempat, tuntutan kepada guru untuk menciptakan Budaya Sekolah Aman Nyaman (BSAN) bin Aman Sehat Resik  dan Indah (ASRI) kepada murid perlu diimbangi dengan keamanan dan kenyamanan guru melaksanakan swadarmanya. Selama ini, banyak guru mengajar tidak linier dengan mata pelajaran yang diampu padahal jumlah jam mengajarnya melampaui jam mengajar minimal 24 jam/minggu. Namun,  Tunjangan Profesi Guru (TPG)-nya tidak terbayarkan karena alasan tidak linier. Guru demikian perlu diproteksi dan dibayarkan TPG-nya karena mereka sudah mau belajar melampaui bidang keahliannya. Seharusnya mereka mendapatkan TPG plus. Dapat dibayangkan bila tidak ada guru yang mengajar bidang studi tertentu dengan alasan tidak linier, pasti akibatnya lebih parah. Gerakan BSAN dan ASRI makin menjadi utopia bagi guru. Slogan yang indah bila tidak diimani akan menjadi anomali.

Respon para guru yang berkesadaran belajar meningkatkan kualitas diri dan kualifikasi Pendidikan hendaknya direspon oleh pemerintah dan diberikan karpet merah untuk pertama-tama secara otomatis ditambahkan gelar akademiknya ke dalam data base kepegawaian dengan menunjukkan ijazah asli. Selain itu, gaji mereka juga perlu disesuaikan dengan kualifikasi pendidikannya sehingga semangat belajar dan mengajarnya meningkat. Sebagaimana guru terbiasa menyemangati murid, demikian pulalah seyogyanya guru diperlakukan karena semua orang ingin dihargai tak terkecuali para guru.  

Jika mencermati Pidato Mendikdasmen dalam memperingati Hardiknas 2026, tampaknya belum menyentuh berbagai persoalan yang dihadapi guru plus solusinya.  Dominan substansi pidatonya berpihak pada murid sesuai dengan hakikat Pendidikan memanusiakan manusia. Dalam pidatonya, Mendikdasmen  Abdul Mu’ti mengatakan, “…Inti proses Pendidikan adalah memuliakan. Bapak Pendididikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara meletakkan dasar dan nilai Pendidikan dengan sistem among : asah (ilmu), asih (kasih sayang), dan asuh (pendampingan, pembinaan)…”.

Mbah Menteri tidak menyinggung bagaimana kebijakan yang diambil terkait posisi guru PPPK, PPPK PW, dan honorer yang masih banyak di sekolah-sekolah. Hari ini mereka sedang waswas. Lebih educandum bila Abdul Mu’ti juga memberikan perhatian terhadap keberadaan mereka yang jumlahnya makin banyak. Selain itu,  porsi penghargaan kepada guru bersertifikat pendidik sebagai penanda formal guru profesional seyogyanya dapat melaksanakan kewajiban secara proporsional. Lebih-lebih zaman maya kini, guru tidak selesai tugasnya di sekolah. Mereka sudah biasa membawa pekerjaan sekolah ke rumah. Memanjakan murid tanpa PR tetapi guru memaksakan diri mengerjakan PR tanpa Rp tambahan. Namanya juga Kangguru mana mungkin jadi beruang. Namun, lebih banyak bergurau, sebelum selesai berguru. Selamat Hari Pendidikan Nasional. Salam SMA : “Maju bersama hebat semua”. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: guruHari Pendidikan Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

Next Post

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co