22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru Profesional Bekerja Proporsional

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
May 2, 2026
in Esai
Guru Profesional Bekerja Proporsional

Ilustrasi tatkala.co | Canva

TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendidikan pada Februari 2026, yang menegaskan pentingnya kolaborasi pemerintah, guru, orang tua, dunia usaha, media, dan masyarakat. Semua elemen itu menentukan kompas Pendidikan Indonesia ke depan.

Seiring dengan menuanya usia bangsa dan semakin sering kita merayakan Hari Pendidikan Nasional, ada catatan penting yang mesti direnungkan di balik serimoni hingar bingar di bawah sorot kamera yang viral di berbagai platform media sosial. Tentu saja mereka yang berupacara itu tidak akan pernah berada dalam  barisan rapi tanpa kehadiran guru. Tiba-tiba saja saya teringat pada puisi berjudul “Menyesal” karya Ali Hasjmy. Tiga baris terakhir puisinya, berbunyi ; …Kepada yang muda kuharap/Atur barisan di pagi hari/Menuju arah padang bakti//

Bangsa ini jangan sampai menyesal karena yang mengatur barisan di pagi hari kurang semangat. Kekurangan energi untuk sanggup berdiri tegak karena gaji mereka  pun belum cukup untuk itu. Itu terjadi karena beragamnya status keguruan para paru. Dari berbagai daerah, masih ada guru yang digaji di bawah Rp 500.00,00 sebulan. Sudah kecil terlambat pula. Masih ada guru bertaruh nyawa menyeberangkan murid melintasi sungai menuju sekolah. Masih ada guru yang melewati jalan becek berlumpur yang bila ditempuh dengan sepeda motor licinnya minta ampun. Masih ada guru rela berjalan kaki berkilo-kilo, walaupun gajinya hanya cukup untuk hidup sangat sederhana dalam waktu sepekan. Masih ada guru yang selepas dari sekolah langsung menjadi pemulung, mengorek sampah demi sesuap nasi bagi anak yang ditinggal di rumah. Masih ada guru yang serba kekurangan secara material sehingga anak-anaknya pun tidak mendapatkan Pendidikan yang selayaknya. Masih banyak guru yang SK-nya menjadi jaminan di Bank sehingga yang tersisa bukti potong gaji.   Di tengah situasi itulah, Pendidikan bermutu untuk semua dipertaruhkan. Di sinilah pentingnya partisipasi semesta mendukung.

Jika mencermati tema Hari Pendidikan Nasional 2026, ada sejumlah hal yang menarik untuk dikulik. Pertama, frasa “partisipasi semesta” yang disimplifikasi menjadi kolaborasi enam elemen : pemerintah, guru, orang tua, dunia usaha, media, dan masyarakat. Keenam elemen ini seyogyanya seiring sejalan memandang Pendidikan sebagai kompas masa depan bangsa. Tanpa demikian, posisi guru menjadi lemah bahkan sering dibully dan dilecehkan di depan publik. Betapa sakitnya hati guru bila ditelanjangi di depan muridnya sendiri oleh oknum yang seharusnya menjadi anutan. Ini perlu menjadi refleksi untuk memahami partisipasi semesta.

Kedua, pemerintah perlu menghapus kasta guru yang selama ini ada. Ada guru PNS, guru PPPK, guru PPPK PW, guru hononer, guru tetap yayasan, guru tak tetap. Selain guru PNS, status guru itu sangat riskan. Mereka harap-harap cemas. Apakah kontrak mereka diperpanjang atau tidak. Mereka semua mendidik dan mengajar dengan tugas yang sama, mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi dengan pendapatan yang berbeda. Hal itu telah menimbulkan kesenjangan antarguru baik diinternal sekolah maupun antarsekolah. Identik dengan kasta guru, kasta sekolah juga belum dapat dihapus walaupun pemerintah menyebut tidak ada sekolah unggulan atau sekolah pavorit. Nyatanya, perbedaan antarsekolah begitu nyata adanya. Daya dukungnya tidak sama, baik fasilitas pendukung, guru, tendik, dan kesadaran masyarakat pendukungnya.

Ketiga, generasi emas yang selalu digemakan menyambut seabad Indonesia Merdeka adalah harapan yang perlu dijemput dengan semangat ber-AKHLAK. Pendidikan berorientasi pada Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Orientasi itu seyogyanya berkesinambungan siapa pun pemimpinnya. Jangan sampai guru di garda terdepan  seperti dikejar macan berlari tergesa-gesa dikepung tugas administrasi yang semakin banyak. Sejak TPG dibayar setiap bulan mulai Januari 2026, obrolan di ruang guru berkisar valid tidaknya info GTK. Obrolan ini kurang  empati mengingat kasta guru yang beragam dalam satu sekolah. Seyogyanya guru cerdas menggunakan parameter komunikasi secara pragmatik.

Keempat, tuntutan kepada guru untuk menciptakan Budaya Sekolah Aman Nyaman (BSAN) bin Aman Sehat Resik  dan Indah (ASRI) kepada murid perlu diimbangi dengan keamanan dan kenyamanan guru melaksanakan swadarmanya. Selama ini, banyak guru mengajar tidak linier dengan mata pelajaran yang diampu padahal jumlah jam mengajarnya melampaui jam mengajar minimal 24 jam/minggu. Namun,  Tunjangan Profesi Guru (TPG)-nya tidak terbayarkan karena alasan tidak linier. Guru demikian perlu diproteksi dan dibayarkan TPG-nya karena mereka sudah mau belajar melampaui bidang keahliannya. Seharusnya mereka mendapatkan TPG plus. Dapat dibayangkan bila tidak ada guru yang mengajar bidang studi tertentu dengan alasan tidak linier, pasti akibatnya lebih parah. Gerakan BSAN dan ASRI makin menjadi utopia bagi guru. Slogan yang indah bila tidak diimani akan menjadi anomali.

Respon para guru yang berkesadaran belajar meningkatkan kualitas diri dan kualifikasi Pendidikan hendaknya direspon oleh pemerintah dan diberikan karpet merah untuk pertama-tama secara otomatis ditambahkan gelar akademiknya ke dalam data base kepegawaian dengan menunjukkan ijazah asli. Selain itu, gaji mereka juga perlu disesuaikan dengan kualifikasi pendidikannya sehingga semangat belajar dan mengajarnya meningkat. Sebagaimana guru terbiasa menyemangati murid, demikian pulalah seyogyanya guru diperlakukan karena semua orang ingin dihargai tak terkecuali para guru.  

Jika mencermati Pidato Mendikdasmen dalam memperingati Hardiknas 2026, tampaknya belum menyentuh berbagai persoalan yang dihadapi guru plus solusinya.  Dominan substansi pidatonya berpihak pada murid sesuai dengan hakikat Pendidikan memanusiakan manusia. Dalam pidatonya, Mendikdasmen  Abdul Mu’ti mengatakan, “…Inti proses Pendidikan adalah memuliakan. Bapak Pendididikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara meletakkan dasar dan nilai Pendidikan dengan sistem among : asah (ilmu), asih (kasih sayang), dan asuh (pendampingan, pembinaan)…”.

Mbah Menteri tidak menyinggung bagaimana kebijakan yang diambil terkait posisi guru PPPK, PPPK PW, dan honorer yang masih banyak di sekolah-sekolah. Hari ini mereka sedang waswas. Lebih educandum bila Abdul Mu’ti juga memberikan perhatian terhadap keberadaan mereka yang jumlahnya makin banyak. Selain itu,  porsi penghargaan kepada guru bersertifikat pendidik sebagai penanda formal guru profesional seyogyanya dapat melaksanakan kewajiban secara proporsional. Lebih-lebih zaman maya kini, guru tidak selesai tugasnya di sekolah. Mereka sudah biasa membawa pekerjaan sekolah ke rumah. Memanjakan murid tanpa PR tetapi guru memaksakan diri mengerjakan PR tanpa Rp tambahan. Namanya juga Kangguru mana mungkin jadi beruang. Namun, lebih banyak bergurau, sebelum selesai berguru. Selamat Hari Pendidikan Nasional. Salam SMA : “Maju bersama hebat semua”. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: guruHari Pendidikan Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

Next Post

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co