22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Dodik Suprayogi by Dodik Suprayogi
May 2, 2026
in Esai
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang tidak teriris melihat seorang pendidik diperlakukan seperti keset kaki oleh anak-anak didiknya sendiri.

Sungguh ironis memang, konon katanya, mereka adalah generasi yang sangat dimanjakan oleh pemerintah untuk menjadi generasi emas di 2045 mendatang, oleh sebab itu asupan gizinya dipenuhi. Lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah jalan, protein terpenuhi, gizi melimpah, tapi kok akhlaknya malah longsor alias terdegradasi.

Jujur saja, buat apa punya anak-anak dengan tinggi badan ideal dan IQ tinggi  kalau kelakuannya tidak ada bedanya sama preman pasar?. Ini menunjukkan bahwa kenyangnya perut ternyata tidak otomatis menyelesaikan urusan otak dan hati.

Kita sedang menghadapi anomali mengerikan di mana pertumbuhan fisik melesat, tapi kemanusiaan jalan di tempat, bahkan mundur, sungguh kasihan.

Protein Masuk, Empati Tergerus

Kasih makan yang enak, kasih susu yang banyak, maka lahirlah generasi cerdas, logika warasnya seperti itu. Tapi pemerintah lupa, manusia itu bukan ayam potong yang kalau dikasih pur berkualitas bakal jadi gemuk dan bernilai tinggi.

Manusia itu punya adab. Tanpa adab, gizi yang masuk itu cuma jadi kotoran yang berakhir di Septic Tank. Protein yang seharusnya membantu otak untuk berpikir kritis, malah cuma jadi asupan tenaga buat teriak-teriak menghina guru di depan kamera ponsel.

Lihatlah siswi-siswi itu, mereka punya energi yang meledak-ledak. Masalahnya, energi itu bukan dipakai buat mikir rumus matematika atau latihan pencak silat, tapi malah buat beradu adegan sok jagoan melawan gurunya sendiri.

Secara fisik mereka kuat, gurunya pun kalah, tapi soal mentalitas siswi-siswi itu sakit. Ini adalah bentuk kegagalan kita dalam memahami bahwa gizi yang melimpah tanpa diimbangi dengan didikan karakter yang keras cuma bakal menciptakan preman-preman kecil yang pintar menindas. Akui saja, kita sibuk mengurus stunting fisik, tapi abai pada stunting moral yang jauh lebih berbahaya bagi masa depan bangsa.

Dari Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Jadi Sasaran Perundungan

Dulu, guru itu punya aura yang bikin murid mikir dua kali kalau mau macam-macam. Sekarang?. Guru sekarang berada di posisi paling apes di tatanan pendidikan di negeri ini. Mau mendisiplinkan siswa, takut dilaporkan ke polisi. Mau memarahi, takut kena viral dan dicap sebagai pelaku kekerasan. Jadinya murid seenaknya sendiri memperlakukan guru.

Mereka tahu guru itu lemah di mata hukum. Maka, aksi merundung guru wanita itu dianggap hal paling berani, sebuah konten yang dianggap keren untuk dipamerkan. Mereka merasa sedang melakukan sebuah perlawasan, padahal yang mereka lakukan adalah penghinaan terhadap ilmu itu sendiri.

Perut mereka mungkin kenyang dengan makanan bergizi dari pajak rakyat, tapi perilaku mereka menunjukkan bahwa mereka lapar akan rasa hormat.

“Jangan sampai, kalau gede jadi koruptor-koruptor yang kenyang dengan harta duniawi tapi miskin akhlak”, harapan dari seorang kawan yang menjadi guru di pinggiran kota.

Kita menuntut mereka menghasilkan generasi emas, tapi kita biarkan mereka bertarung sendirian melawan siswa-siswa yang sudah kehilangan rasa malu. Jika kondisi ini dibiarkan, jangan kaget kalau suatu saat nanti tidak ada lagi orang waras yang mau menjadi guru di negeri ini.

Mentalitas Culas dari Orang Tua

“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, pepatah kuno mengatakan seperti itu.

Lihat saja fenomena PPDB, ketika orang tua dengan bangganya memanipulasi domisili, menyuap oknum, dan mengakali sistem demi sekolah favorit, secara tidak langsung mereka mengajarkan ke anaknya mentalitas culas.

Anak-anak ini tumbuh dalam ekosistem yang menghalalkan segala cara. Mereka melihat orang dewasa di sekitar mereka tidak punya integritas. Mereka menyaksikan bagaimana kebohongan demi kebohongan dilakukan demi status sosial.

Jadi, ketika mereka merundung guru, dalam kepala mereka itu adalah hal yang lumrah. Mereka menganggap guru hanyalah pegawai yang bisa diperlakukan apapun. Gizi dari pemerintah mungkin bisa menaikkan IQ,  tapi teladan buruk dari orang tua sudah menutup hati nurani.

Kalau nilai anak jelek, guru disalahkan. Kalau anak ditegur karena nakal, guru dilaporkan. Pola parenting yang kayak gini melahirkan generasi kurang ajar.

Sudahi Harapan Indonesia Emas

Kalau modalnya adalah generasi yang proteinnya tinggi tapi etikanya lumpuh, yang kita dapatkan bukan Indonesia emas, melainkan Indonesia cemas. Kita sedang menuju sebuah masa depan di mana orang-orangnya pintar berdebat dan kuat secara fisik, tapi tidak punya rasa malu untuk merendahkan sesama manusia.

Apa gunanya pertumbuhan ekonomi positif dan angka kemiskinan turun kalau angka kriminalitas remaja dan tingkat depresi guru malah meroket?

Memberi makan anak sekolah itu penting, jangan salah paham. Tapi menjadikan makanan sebagai satu-satunya solusi untuk memperbaiki kualitas manusia adalah sebuah kenaifan. Kita butuh kurikulum yang berani menindak tegas kekurangajaran, bukan yang cuma sibuk mengurus administrasi dan pencitraan.

Berhentilah memuja angka pertumbuhan fisik jika karakter siswa kita masih awur-awuran. Kita butuh revolusi mental yang sebenarnya, bukan sekadar slogan di baliho pinggir jalan.

“Katanya, baik buruknya kelakuan orang salah satunya didapatkan dari keberkahan makanan, apa karena kelakuan siswa-siswi kita yang kurang ajar, karena makanan bergizi yang mereka dapatkan dari anggaran yang tidak berkah?”, biarkan ini menjadi pikiran liar saya saja.

Kembalikan wibawa guru, tertibkan orang tua yang culas, dan ajarkan anak-anak kita bahwa sepotong roti bergizi lebih berharga jika dimakan dengan rasa syukur dan adab yang tinggi, bukan dimakan sambil merundung orang yang berjasa memberi mereka ilmu. [T]

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Adnyana Ole

Tags: guruPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru Profesional Bekerja Proporsional

Next Post

Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi

Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta. Ig @dodiksuprayogi_

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co