1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Dodik Suprayogi by Dodik Suprayogi
May 2, 2026
in Esai
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang tidak teriris melihat seorang pendidik diperlakukan seperti keset kaki oleh anak-anak didiknya sendiri.

Sungguh ironis memang, konon katanya, mereka adalah generasi yang sangat dimanjakan oleh pemerintah untuk menjadi generasi emas di 2045 mendatang, oleh sebab itu asupan gizinya dipenuhi. Lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah jalan, protein terpenuhi, gizi melimpah, tapi kok akhlaknya malah longsor alias terdegradasi.

Jujur saja, buat apa punya anak-anak dengan tinggi badan ideal dan IQ tinggi  kalau kelakuannya tidak ada bedanya sama preman pasar?. Ini menunjukkan bahwa kenyangnya perut ternyata tidak otomatis menyelesaikan urusan otak dan hati.

Kita sedang menghadapi anomali mengerikan di mana pertumbuhan fisik melesat, tapi kemanusiaan jalan di tempat, bahkan mundur, sungguh kasihan.

Protein Masuk, Empati Tergerus

Kasih makan yang enak, kasih susu yang banyak, maka lahirlah generasi cerdas, logika warasnya seperti itu. Tapi pemerintah lupa, manusia itu bukan ayam potong yang kalau dikasih pur berkualitas bakal jadi gemuk dan bernilai tinggi.

Manusia itu punya adab. Tanpa adab, gizi yang masuk itu cuma jadi kotoran yang berakhir di Septic Tank. Protein yang seharusnya membantu otak untuk berpikir kritis, malah cuma jadi asupan tenaga buat teriak-teriak menghina guru di depan kamera ponsel.

Lihatlah siswi-siswi itu, mereka punya energi yang meledak-ledak. Masalahnya, energi itu bukan dipakai buat mikir rumus matematika atau latihan pencak silat, tapi malah buat beradu adegan sok jagoan melawan gurunya sendiri.

Secara fisik mereka kuat, gurunya pun kalah, tapi soal mentalitas siswi-siswi itu sakit. Ini adalah bentuk kegagalan kita dalam memahami bahwa gizi yang melimpah tanpa diimbangi dengan didikan karakter yang keras cuma bakal menciptakan preman-preman kecil yang pintar menindas. Akui saja, kita sibuk mengurus stunting fisik, tapi abai pada stunting moral yang jauh lebih berbahaya bagi masa depan bangsa.

Dari Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Jadi Sasaran Perundungan

Dulu, guru itu punya aura yang bikin murid mikir dua kali kalau mau macam-macam. Sekarang?. Guru sekarang berada di posisi paling apes di tatanan pendidikan di negeri ini. Mau mendisiplinkan siswa, takut dilaporkan ke polisi. Mau memarahi, takut kena viral dan dicap sebagai pelaku kekerasan. Jadinya murid seenaknya sendiri memperlakukan guru.

Mereka tahu guru itu lemah di mata hukum. Maka, aksi merundung guru wanita itu dianggap hal paling berani, sebuah konten yang dianggap keren untuk dipamerkan. Mereka merasa sedang melakukan sebuah perlawasan, padahal yang mereka lakukan adalah penghinaan terhadap ilmu itu sendiri.

Perut mereka mungkin kenyang dengan makanan bergizi dari pajak rakyat, tapi perilaku mereka menunjukkan bahwa mereka lapar akan rasa hormat.

“Jangan sampai, kalau gede jadi koruptor-koruptor yang kenyang dengan harta duniawi tapi miskin akhlak”, harapan dari seorang kawan yang menjadi guru di pinggiran kota.

Kita menuntut mereka menghasilkan generasi emas, tapi kita biarkan mereka bertarung sendirian melawan siswa-siswa yang sudah kehilangan rasa malu. Jika kondisi ini dibiarkan, jangan kaget kalau suatu saat nanti tidak ada lagi orang waras yang mau menjadi guru di negeri ini.

Mentalitas Culas dari Orang Tua

“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, pepatah kuno mengatakan seperti itu.

Lihat saja fenomena PPDB, ketika orang tua dengan bangganya memanipulasi domisili, menyuap oknum, dan mengakali sistem demi sekolah favorit, secara tidak langsung mereka mengajarkan ke anaknya mentalitas culas.

Anak-anak ini tumbuh dalam ekosistem yang menghalalkan segala cara. Mereka melihat orang dewasa di sekitar mereka tidak punya integritas. Mereka menyaksikan bagaimana kebohongan demi kebohongan dilakukan demi status sosial.

Jadi, ketika mereka merundung guru, dalam kepala mereka itu adalah hal yang lumrah. Mereka menganggap guru hanyalah pegawai yang bisa diperlakukan apapun. Gizi dari pemerintah mungkin bisa menaikkan IQ,  tapi teladan buruk dari orang tua sudah menutup hati nurani.

Kalau nilai anak jelek, guru disalahkan. Kalau anak ditegur karena nakal, guru dilaporkan. Pola parenting yang kayak gini melahirkan generasi kurang ajar.

Sudahi Harapan Indonesia Emas

Kalau modalnya adalah generasi yang proteinnya tinggi tapi etikanya lumpuh, yang kita dapatkan bukan Indonesia emas, melainkan Indonesia cemas. Kita sedang menuju sebuah masa depan di mana orang-orangnya pintar berdebat dan kuat secara fisik, tapi tidak punya rasa malu untuk merendahkan sesama manusia.

Apa gunanya pertumbuhan ekonomi positif dan angka kemiskinan turun kalau angka kriminalitas remaja dan tingkat depresi guru malah meroket?

Memberi makan anak sekolah itu penting, jangan salah paham. Tapi menjadikan makanan sebagai satu-satunya solusi untuk memperbaiki kualitas manusia adalah sebuah kenaifan. Kita butuh kurikulum yang berani menindak tegas kekurangajaran, bukan yang cuma sibuk mengurus administrasi dan pencitraan.

Berhentilah memuja angka pertumbuhan fisik jika karakter siswa kita masih awur-awuran. Kita butuh revolusi mental yang sebenarnya, bukan sekadar slogan di baliho pinggir jalan.

“Katanya, baik buruknya kelakuan orang salah satunya didapatkan dari keberkahan makanan, apa karena kelakuan siswa-siswi kita yang kurang ajar, karena makanan bergizi yang mereka dapatkan dari anggaran yang tidak berkah?”, biarkan ini menjadi pikiran liar saya saja.

Kembalikan wibawa guru, tertibkan orang tua yang culas, dan ajarkan anak-anak kita bahwa sepotong roti bergizi lebih berharga jika dimakan dengan rasa syukur dan adab yang tinggi, bukan dimakan sambil merundung orang yang berjasa memberi mereka ilmu. [T]

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Adnyana Ole

Tags: guruPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru Profesional Bekerja Proporsional

Next Post

Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi

Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta. Ig @dodiksuprayogi_

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co