11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Dodik Suprayogi by Dodik Suprayogi
May 2, 2026
in Esai
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang tidak teriris melihat seorang pendidik diperlakukan seperti keset kaki oleh anak-anak didiknya sendiri.

Sungguh ironis memang, konon katanya, mereka adalah generasi yang sangat dimanjakan oleh pemerintah untuk menjadi generasi emas di 2045 mendatang, oleh sebab itu asupan gizinya dipenuhi. Lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah jalan, protein terpenuhi, gizi melimpah, tapi kok akhlaknya malah longsor alias terdegradasi.

Jujur saja, buat apa punya anak-anak dengan tinggi badan ideal dan IQ tinggi  kalau kelakuannya tidak ada bedanya sama preman pasar?. Ini menunjukkan bahwa kenyangnya perut ternyata tidak otomatis menyelesaikan urusan otak dan hati.

Kita sedang menghadapi anomali mengerikan di mana pertumbuhan fisik melesat, tapi kemanusiaan jalan di tempat, bahkan mundur, sungguh kasihan.

Protein Masuk, Empati Tergerus

Kasih makan yang enak, kasih susu yang banyak, maka lahirlah generasi cerdas, logika warasnya seperti itu. Tapi pemerintah lupa, manusia itu bukan ayam potong yang kalau dikasih pur berkualitas bakal jadi gemuk dan bernilai tinggi.

Manusia itu punya adab. Tanpa adab, gizi yang masuk itu cuma jadi kotoran yang berakhir di Septic Tank. Protein yang seharusnya membantu otak untuk berpikir kritis, malah cuma jadi asupan tenaga buat teriak-teriak menghina guru di depan kamera ponsel.

Lihatlah siswi-siswi itu, mereka punya energi yang meledak-ledak. Masalahnya, energi itu bukan dipakai buat mikir rumus matematika atau latihan pencak silat, tapi malah buat beradu adegan sok jagoan melawan gurunya sendiri.

Secara fisik mereka kuat, gurunya pun kalah, tapi soal mentalitas siswi-siswi itu sakit. Ini adalah bentuk kegagalan kita dalam memahami bahwa gizi yang melimpah tanpa diimbangi dengan didikan karakter yang keras cuma bakal menciptakan preman-preman kecil yang pintar menindas. Akui saja, kita sibuk mengurus stunting fisik, tapi abai pada stunting moral yang jauh lebih berbahaya bagi masa depan bangsa.

Dari Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Jadi Sasaran Perundungan

Dulu, guru itu punya aura yang bikin murid mikir dua kali kalau mau macam-macam. Sekarang?. Guru sekarang berada di posisi paling apes di tatanan pendidikan di negeri ini. Mau mendisiplinkan siswa, takut dilaporkan ke polisi. Mau memarahi, takut kena viral dan dicap sebagai pelaku kekerasan. Jadinya murid seenaknya sendiri memperlakukan guru.

Mereka tahu guru itu lemah di mata hukum. Maka, aksi merundung guru wanita itu dianggap hal paling berani, sebuah konten yang dianggap keren untuk dipamerkan. Mereka merasa sedang melakukan sebuah perlawasan, padahal yang mereka lakukan adalah penghinaan terhadap ilmu itu sendiri.

Perut mereka mungkin kenyang dengan makanan bergizi dari pajak rakyat, tapi perilaku mereka menunjukkan bahwa mereka lapar akan rasa hormat.

“Jangan sampai, kalau gede jadi koruptor-koruptor yang kenyang dengan harta duniawi tapi miskin akhlak”, harapan dari seorang kawan yang menjadi guru di pinggiran kota.

Kita menuntut mereka menghasilkan generasi emas, tapi kita biarkan mereka bertarung sendirian melawan siswa-siswa yang sudah kehilangan rasa malu. Jika kondisi ini dibiarkan, jangan kaget kalau suatu saat nanti tidak ada lagi orang waras yang mau menjadi guru di negeri ini.

Mentalitas Culas dari Orang Tua

“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, pepatah kuno mengatakan seperti itu.

Lihat saja fenomena PPDB, ketika orang tua dengan bangganya memanipulasi domisili, menyuap oknum, dan mengakali sistem demi sekolah favorit, secara tidak langsung mereka mengajarkan ke anaknya mentalitas culas.

Anak-anak ini tumbuh dalam ekosistem yang menghalalkan segala cara. Mereka melihat orang dewasa di sekitar mereka tidak punya integritas. Mereka menyaksikan bagaimana kebohongan demi kebohongan dilakukan demi status sosial.

Jadi, ketika mereka merundung guru, dalam kepala mereka itu adalah hal yang lumrah. Mereka menganggap guru hanyalah pegawai yang bisa diperlakukan apapun. Gizi dari pemerintah mungkin bisa menaikkan IQ,  tapi teladan buruk dari orang tua sudah menutup hati nurani.

Kalau nilai anak jelek, guru disalahkan. Kalau anak ditegur karena nakal, guru dilaporkan. Pola parenting yang kayak gini melahirkan generasi kurang ajar.

Sudahi Harapan Indonesia Emas

Kalau modalnya adalah generasi yang proteinnya tinggi tapi etikanya lumpuh, yang kita dapatkan bukan Indonesia emas, melainkan Indonesia cemas. Kita sedang menuju sebuah masa depan di mana orang-orangnya pintar berdebat dan kuat secara fisik, tapi tidak punya rasa malu untuk merendahkan sesama manusia.

Apa gunanya pertumbuhan ekonomi positif dan angka kemiskinan turun kalau angka kriminalitas remaja dan tingkat depresi guru malah meroket?

Memberi makan anak sekolah itu penting, jangan salah paham. Tapi menjadikan makanan sebagai satu-satunya solusi untuk memperbaiki kualitas manusia adalah sebuah kenaifan. Kita butuh kurikulum yang berani menindak tegas kekurangajaran, bukan yang cuma sibuk mengurus administrasi dan pencitraan.

Berhentilah memuja angka pertumbuhan fisik jika karakter siswa kita masih awur-awuran. Kita butuh revolusi mental yang sebenarnya, bukan sekadar slogan di baliho pinggir jalan.

“Katanya, baik buruknya kelakuan orang salah satunya didapatkan dari keberkahan makanan, apa karena kelakuan siswa-siswi kita yang kurang ajar, karena makanan bergizi yang mereka dapatkan dari anggaran yang tidak berkah?”, biarkan ini menjadi pikiran liar saya saja.

Kembalikan wibawa guru, tertibkan orang tua yang culas, dan ajarkan anak-anak kita bahwa sepotong roti bergizi lebih berharga jika dimakan dengan rasa syukur dan adab yang tinggi, bukan dimakan sambil merundung orang yang berjasa memberi mereka ilmu. [T]

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Adnyana Ole

Tags: guruPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru Profesional Bekerja Proporsional

Next Post

Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi

Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta. Ig @dodiksuprayogi_

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co