Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang tidak teriris melihat seorang pendidik diperlakukan seperti keset kaki oleh anak-anak didiknya sendiri.
Sungguh ironis memang, konon katanya, mereka adalah generasi yang sangat dimanjakan oleh pemerintah untuk menjadi generasi emas di 2045 mendatang, oleh sebab itu asupan gizinya dipenuhi. Lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah jalan, protein terpenuhi, gizi melimpah, tapi kok akhlaknya malah longsor alias terdegradasi.
Jujur saja, buat apa punya anak-anak dengan tinggi badan ideal dan IQ tinggi kalau kelakuannya tidak ada bedanya sama preman pasar?. Ini menunjukkan bahwa kenyangnya perut ternyata tidak otomatis menyelesaikan urusan otak dan hati.
Kita sedang menghadapi anomali mengerikan di mana pertumbuhan fisik melesat, tapi kemanusiaan jalan di tempat, bahkan mundur, sungguh kasihan.
Protein Masuk, Empati Tergerus
Kasih makan yang enak, kasih susu yang banyak, maka lahirlah generasi cerdas, logika warasnya seperti itu. Tapi pemerintah lupa, manusia itu bukan ayam potong yang kalau dikasih pur berkualitas bakal jadi gemuk dan bernilai tinggi.
Manusia itu punya adab. Tanpa adab, gizi yang masuk itu cuma jadi kotoran yang berakhir di Septic Tank. Protein yang seharusnya membantu otak untuk berpikir kritis, malah cuma jadi asupan tenaga buat teriak-teriak menghina guru di depan kamera ponsel.
Lihatlah siswi-siswi itu, mereka punya energi yang meledak-ledak. Masalahnya, energi itu bukan dipakai buat mikir rumus matematika atau latihan pencak silat, tapi malah buat beradu adegan sok jagoan melawan gurunya sendiri.
Secara fisik mereka kuat, gurunya pun kalah, tapi soal mentalitas siswi-siswi itu sakit. Ini adalah bentuk kegagalan kita dalam memahami bahwa gizi yang melimpah tanpa diimbangi dengan didikan karakter yang keras cuma bakal menciptakan preman-preman kecil yang pintar menindas. Akui saja, kita sibuk mengurus stunting fisik, tapi abai pada stunting moral yang jauh lebih berbahaya bagi masa depan bangsa.
Dari Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Jadi Sasaran Perundungan
Dulu, guru itu punya aura yang bikin murid mikir dua kali kalau mau macam-macam. Sekarang?. Guru sekarang berada di posisi paling apes di tatanan pendidikan di negeri ini. Mau mendisiplinkan siswa, takut dilaporkan ke polisi. Mau memarahi, takut kena viral dan dicap sebagai pelaku kekerasan. Jadinya murid seenaknya sendiri memperlakukan guru.
Mereka tahu guru itu lemah di mata hukum. Maka, aksi merundung guru wanita itu dianggap hal paling berani, sebuah konten yang dianggap keren untuk dipamerkan. Mereka merasa sedang melakukan sebuah perlawasan, padahal yang mereka lakukan adalah penghinaan terhadap ilmu itu sendiri.
Perut mereka mungkin kenyang dengan makanan bergizi dari pajak rakyat, tapi perilaku mereka menunjukkan bahwa mereka lapar akan rasa hormat.
“Jangan sampai, kalau gede jadi koruptor-koruptor yang kenyang dengan harta duniawi tapi miskin akhlak”, harapan dari seorang kawan yang menjadi guru di pinggiran kota.
Kita menuntut mereka menghasilkan generasi emas, tapi kita biarkan mereka bertarung sendirian melawan siswa-siswa yang sudah kehilangan rasa malu. Jika kondisi ini dibiarkan, jangan kaget kalau suatu saat nanti tidak ada lagi orang waras yang mau menjadi guru di negeri ini.
Mentalitas Culas dari Orang Tua
“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, pepatah kuno mengatakan seperti itu.
Lihat saja fenomena PPDB, ketika orang tua dengan bangganya memanipulasi domisili, menyuap oknum, dan mengakali sistem demi sekolah favorit, secara tidak langsung mereka mengajarkan ke anaknya mentalitas culas.
Anak-anak ini tumbuh dalam ekosistem yang menghalalkan segala cara. Mereka melihat orang dewasa di sekitar mereka tidak punya integritas. Mereka menyaksikan bagaimana kebohongan demi kebohongan dilakukan demi status sosial.
Jadi, ketika mereka merundung guru, dalam kepala mereka itu adalah hal yang lumrah. Mereka menganggap guru hanyalah pegawai yang bisa diperlakukan apapun. Gizi dari pemerintah mungkin bisa menaikkan IQ, tapi teladan buruk dari orang tua sudah menutup hati nurani.
Kalau nilai anak jelek, guru disalahkan. Kalau anak ditegur karena nakal, guru dilaporkan. Pola parenting yang kayak gini melahirkan generasi kurang ajar.
Sudahi Harapan Indonesia Emas
Kalau modalnya adalah generasi yang proteinnya tinggi tapi etikanya lumpuh, yang kita dapatkan bukan Indonesia emas, melainkan Indonesia cemas. Kita sedang menuju sebuah masa depan di mana orang-orangnya pintar berdebat dan kuat secara fisik, tapi tidak punya rasa malu untuk merendahkan sesama manusia.
Apa gunanya pertumbuhan ekonomi positif dan angka kemiskinan turun kalau angka kriminalitas remaja dan tingkat depresi guru malah meroket?
Memberi makan anak sekolah itu penting, jangan salah paham. Tapi menjadikan makanan sebagai satu-satunya solusi untuk memperbaiki kualitas manusia adalah sebuah kenaifan. Kita butuh kurikulum yang berani menindak tegas kekurangajaran, bukan yang cuma sibuk mengurus administrasi dan pencitraan.
Berhentilah memuja angka pertumbuhan fisik jika karakter siswa kita masih awur-awuran. Kita butuh revolusi mental yang sebenarnya, bukan sekadar slogan di baliho pinggir jalan.
“Katanya, baik buruknya kelakuan orang salah satunya didapatkan dari keberkahan makanan, apa karena kelakuan siswa-siswi kita yang kurang ajar, karena makanan bergizi yang mereka dapatkan dari anggaran yang tidak berkah?”, biarkan ini menjadi pikiran liar saya saja.
Kembalikan wibawa guru, tertibkan orang tua yang culas, dan ajarkan anak-anak kita bahwa sepotong roti bergizi lebih berharga jika dimakan dengan rasa syukur dan adab yang tinggi, bukan dimakan sambil merundung orang yang berjasa memberi mereka ilmu. [T]
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Adnyana Ole





























