5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

I Wayan Westa by I Wayan Westa
February 22, 2026
in Ulas Rupa
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

Rush To Paradise karya I Ketut Putrayasa di ruang pameran bertajuk ”Liana Reviri: Vivid Colours”, di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran bertajuk ”Liana Reviri: Vivid Colours”.  Dari  kejauhan; mobil  kayu ini terlihat mirip buaya,  onggokan kayu tua sisa-sisa vandalisme kerakusan manusia, digarap  kasar, dipacal besi-besi tajam. Bagian  belakang ”body” dipadu tempelan stainlees steel.  

Di ruang ber-ac, mobil kayu ini teronggok dingin.  Ketut Putrayasa sang perancang karya  seperti hendak mengisahkan derita dunia, cerita  manusia tengah menggali kubur sendiri. Kayu yang dipermak mirip mobil ini sekaligus menjadi penanda —  pesan duka pohon-pohon perihal nasib bumi. Sungai-sungai mengeruh, tercemar limbah tambang. Dan kehidupan jadi semakin mem-benda. Adab yang merapuh karena kita kehilangan rasa hormat pada alam.

Sampai di sini,  kita  kemudian membaca;  ini jadi tragik  femenisme  yang tengah diperkosa kekuatan maskulin. Ketangkasan, keberanian, kekakuan, tehnik, dan rasionalisme menjadi penguasa baru. Kekuatan mesin  yang sejak revolusi industri meledak membuat manusia tak lagi memandang alam sebagai bagian utuh  kehidupan. Manusia kehilangan sisi kelembutannya;  kehilangan  bela kasih dan daya  emong.  Manusia berubah jadi keras, tanpa perasaan, seperti mesin itu sendiri. Pohon-pohon tua yang tumbang , atau yang sengaja ditumbangkan; tak ubahnya  akar-akar peradaban yang rapuh —  pohon-pohon  kebudayaan yang tengah menuju titik sandya kala. Seperti tangisan kelu anak ditinggal ibu.

Rush To Paradise karya I Ketut Putrayasa

Sang seniman, I Ketut Putrayasa, sang perancang mobil ini menamai karyanya ; ”Rush To Paradise”, ”bergegas menuju surga.” Lagi-lagi  ini frase  konotatif, bukan makna  denotatif. Pesannya; manusia bergegas, berlomba meraih kemajuan, seperti para penkotbah agama menjanjikan surga. Seperti teknokrat, ahli pembangunan menjanjikan kehidupan lebih baik, adil makmur sejahtera.

Rush to Paradise,  seni instalasi yang dipajang 8 November 2025, bercerita banyak hal perihal bumi yang dijarah, hutan  dibabat masif, laut  diuruk, bukit yang dipenggal, dan banjir melindas pulau-pulau – jutaan kubik potongan-potongan kayu dibawa hanyut, merendam, mengubur desa-desa, sekaligus mengubur penghuninya. Desa-desa lalu menjadi kuburan massal. Tragedi kemanusiaan yang kita bikin sendiri.

Entah,  kebetulan atau tidak, Rush To Paradise seperti ditakdirkan  menjadi ”canayang”, peramal nasib. Nun beberapa hari usai pameran dibuka di Nuanu, Bali, tiga provisni di Sumatra dihantam banjir bandang. Laporan-laporan media online membuat kepala merunduk.  Sejumlah desa di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat terkubur lumpur, 1.205 orang meninggal dunia,  163 orang dinyatakan hilang. Ini tragedi yang kapan saja bisa datang, menggerus, menghanyutkan siapa saja, tak terkecuali  buat mereka yang tengah khusuk memuja, memanggil-manggil nama Tuhan.

Malam-malam tanpa penerangan di tiga provinsi itu sungguh layak disebut sebagai derita panjang, neraka nyata. Lumpur yang menggenang, rumah-rumah amblas hanyut,  sengatan bau busuk, jenazah yang belum ditemukan  membuat desa-desa  itu  jadi neraka sungguhan. Bayi-bayi menangis kelaparan. Betapa menyedihkan. Air bersih, makanan, pakaian jadi barang langka.

***

Namun Rush to Paradise ini tak hendak memotret bencana banjir di Sumatra. Ia menisbahkan satu catatan kritis soal kemajuan yang butuh tumbal. Lomba menuju ”surga” hidup nyata cuma olok-olok. Semua negara, semua koloni manusia berlomba mengejar ketertinggalan, meninggalkan tradisi hidup konvensional. Pabrik-pabrik didirikan, jalan-jalan dibangun, proyek-proyek pertanian modern dibuka, mengorbankan berjuta-juta hektar hutan, tambang-tambang dioperasikan; meluluhlantakan jutaan hutan, ekonomi digenjot masif, dan pajak dinaikkan. Hidup kemarin harus beda dengan hidup hari ini. Semua dicitrakan sebagai agenda masa depan kemakmuran bersama.

Rush To Paradise karya I Ketut Putrayasa di ruang pameran bertajuk ”Liana Reviri: Vivid Colours”, di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan

Sayang seluruh kebijakan pembangunan itu, menempatkan alam  sebagai korban pertama, dan bencana yang menimpa  manusia demi kemajuan itu adalah tragedi  terakhir bagi  semua.  ”Kapitalisme memperlakukan alam sebagai ”hadiah” gratis bagi modal,’  demikian surat John Bellamy Foster dan Brett Clrk,  penulis buku The Robbery: Capitalism  and the Ecological Rift [2025].

Inilah yang dikritis seniman Ketut Putrayasa – bahwa kemajuan  yang terus-menerus diupayakan itu tak menemui  harapan baik masyarakat. Kemajuan yang meminta banyak tumbal itu mengorbankan kesuburan dan kekayaan alam, merengut ribuan plasma-nutfah, memporanda ekosistem. Benar pendapat Vandana Siwa [2023: 7]  kita tengah memasuki era baru, era Antroposen [abad manusia], dimana spesies manusia menjadi kekuatan paling dominan di bumi. Manusia adalah penyebab 75% biodiversitas tumbuhan musnah akibat pertanian industri dan antara 3 hingga 300 spesies terdesak menuju kepunahan setiap hari

Kembali sebagaimana tudingan  Vandana Siwa, penulis buku Making Peace with the Earth [2023]. Bahwa dalam seluruh krisis kekerasan global, disinyalir korporasi global memakai perang sebagai pijakan globalisasi ekonomi. ”Perang” global saat ini merupakan pijakan untuk globalisasi ekonomi dan korporasi di masa mendatang yang dikendalikan sekumpulan korporasi dan negara-negara adidaya yang berupaya mengontrol sumber daya bumi dan mentransformasi planet ini menjadi semacam supermaket di mana segala sesuatu dijual.”

Sampai di sini kemajuan lalu dicurigai hanya sekadar dalih, orang-orang lantas mempertanyakan,  apa gerangan  yang ditenggarai sebagai kemajuan? Apakah kemajuan itu diukur dari gedung-gedung mencakar langit, jalan-jalan mulus ber-hotmix, kantor-kantor birokrasi yang apik berdenyar, yang  cuma melahirkan koruptor, pabrik-pabrik berderet memenuhi pulau, yang hanya menghasilkan pencemaran, lalulintas yang lintang pukang dan kemacetan tak mudah diurai,  mall, pasar-pasar modern  bercahaya penuh wanita cantik  dibayar murah? Itukah kemajuan?

Ini pula yang dipertanyakan Rush To Paradise, bangkai kayu yang tergolek penuh pacalan paku-paku tajam yang disebutnya sebagai ”Ferrari” —  wakil dari kendaraan tercepat di lintas darat – simbol betapa kita terburu, terkesima dengan sihir kemajuan. Persis sebagaimana cibiran Rabindranat Tagore, penulis Gitanjali, orang Asia pertama peraih nobel kesusastraan. Dalam buku bertajuk Creative Unity [2002];  Sang Guru Dev mendalih halus, masyarakat modern adalah masyarakat yang terburu-buru. ”Kebutuhan-kebutuhan kita selalu tergesa-gesa. Mereka berlari dan bergegas, mereka kasar dan tidak tahu aturan; mereka juga tidak memiliki kesantaian, tidak sabaran terhadap apa pun kecuali pemenuhan tujuan.” Itulah ego maskulin itu; seperti paku-paku  tajam menancap  di Ferrari kayu. Ia menghujam, menusuk, memancang  keranuman dan kelembutan pohon – hingga pohon berubah jadi kelapukan, kaku, busuk kehilangan roh hidup.

Rush To Paradise karya I Ketut Putrayasa

Paku-paku tajam yang tertancap di kayu adalah wakil dari ego maskulin kita, yang tak peduli, dan membiarkan rasa hiba kita kerontang,  tanpa empati, tak  lagi memiliki panggilan olas asih — merawat semua untuk kebaikan semesta. Keberanian, kekuatan, karakter kelaki-lakian itu menjadikan hidup ini seperti perlombaan,  membuat sebagian  manusia yang hidup berlomba itu tak pernah merasa hidup  —  kehilangan waktu merawat rasa kemanusiaan dengan baik,  malah membiarkan dirinya menjadi  mesin, menjadi alat,  tanpa sadar menjadi robot perusak. Manusia kehilangan energi femenismenya — kehilangan kesabaran, yang seperti bumi adalah kesabaran itu sendiri. Sistem sekolah hanya  menjadi kepanjangan tangan korporasi besar, bukan pencetak manusia merdeka, punya otonomi, dan kemandirian.

Nyatalah Rush to Paradise menjadi kritik kemanusiaan kita, kritik pada kebudayaan-kebudayan tua yang enggan merevitalisasi diri dalam abad serba baru. Kisah-kisah kebudaayaan yang nyaris kehilangan jawaban manakala roh zaman menuntut  spirit baru,  kembali ke adab ibu —  spirit yang disusui kasih kelembutan. Merusak alam di belahan bumi  lain, berarti juga melukai  sisi bumi yang lain, membuat sengsara  seluruh mahluk.

Bagi Ketut Putrayasa, hari ini seni bukanlah soal berindah-indah, seni adalah kerja yang tak pernah usai —  ia  sebuah proses, cipta untuk mengada. Meminjam kata-kata Erich Fromm, kerja bukan cuma soal memiliki, tapi ia proses  menjadi, mengalir, dan hadir senantiasa. Inilah kenapa kemudian Ketut Putrayasa tak pernah mengahadirkan karya-karyanya  penuh keindahan, enak dipandang, dan memukau.

Bagi seniman kelahiran Canggu ini, seni adalah penghadiran gagasan, konsep yang hendak dipertarungkan, kerap hadir sebagai anti tesis kecenderungan umum.  Kadang menghardik, membully kondisi-kondisi nungkalik zaman. Nyaris semua karya yang diciptakan membuat orang gagal tidur siang. Setidaknya mengernyitkan dahi. Hadir dan tampil begitu progresif, kritis  dalam wahana ”esai-esai simbolik instalatif”; dingin, mencibir,  penuh olok-olok, sekaligus penyadaran. Seni yang mengingatkan, menangkap fenomena, lalu ”menuliskannya” sebagai ”esai simbolik”. Lalu apa gerangan yang dimaksud ”surga”  kemajuan itu?

Bagi Ketut Putrayasa kemajuan  terukur  dalam adab, tersembul dalam moral zaman.  Ia tak  dihitung  berdasarkan bentangan materi. Kemajuan  tercermin dalam seberapa  banyak yang bisa kita rawat untuk  generasi datang. Bentang alam  lestari, air  sumber makanan melimpah. Rumah sakit dan sekolah bagus. Sumber daya manusia  sehat  lahir batin, keadilan  yang merawat  kemanusiaan. Terhindar dari peperangan, rasa takut,  dan penderitaan. Ini terlihat otupia, tapi itulah kemajuan. Itulah kedamaian dunia. Kondisi di mana tidak ada siapa pun merasa dijadikan tumbal atau perbudakan atas nama  kemajuan, alih-alih atas nama hari depan. [T]

Penulis: I Wayan Westa
Editor: Adnyana Ole

Tags: I Ketut PutrayasaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Next Post

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

by Hartanto
July 24, 2026
0
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

Read moreDetails

Kosmologi Sulur Wayan Setem

by Hartanto
July 23, 2026
0
Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

Read moreDetails

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

by Angga Wijaya
July 23, 2026
0
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

Read moreDetails
Next Post
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

Menanam Pohon Sebelum Berlari ---Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co