14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

I Wayan Westa by I Wayan Westa
February 22, 2026
in Ulas Rupa
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

Rush To Paradise karya I Ketut Putrayasa di ruang pameran bertajuk ”Liana Reviri: Vivid Colours”, di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran bertajuk ”Liana Reviri: Vivid Colours”.  Dari  kejauhan; mobil  kayu ini terlihat mirip buaya,  onggokan kayu tua sisa-sisa vandalisme kerakusan manusia, digarap  kasar, dipacal besi-besi tajam. Bagian  belakang ”body” dipadu tempelan stainlees steel.  

Di ruang ber-ac, mobil kayu ini teronggok dingin.  Ketut Putrayasa sang perancang karya  seperti hendak mengisahkan derita dunia, cerita  manusia tengah menggali kubur sendiri. Kayu yang dipermak mirip mobil ini sekaligus menjadi penanda —  pesan duka pohon-pohon perihal nasib bumi. Sungai-sungai mengeruh, tercemar limbah tambang. Dan kehidupan jadi semakin mem-benda. Adab yang merapuh karena kita kehilangan rasa hormat pada alam.

Sampai di sini,  kita  kemudian membaca;  ini jadi tragik  femenisme  yang tengah diperkosa kekuatan maskulin. Ketangkasan, keberanian, kekakuan, tehnik, dan rasionalisme menjadi penguasa baru. Kekuatan mesin  yang sejak revolusi industri meledak membuat manusia tak lagi memandang alam sebagai bagian utuh  kehidupan. Manusia kehilangan sisi kelembutannya;  kehilangan  bela kasih dan daya  emong.  Manusia berubah jadi keras, tanpa perasaan, seperti mesin itu sendiri. Pohon-pohon tua yang tumbang , atau yang sengaja ditumbangkan; tak ubahnya  akar-akar peradaban yang rapuh —  pohon-pohon  kebudayaan yang tengah menuju titik sandya kala. Seperti tangisan kelu anak ditinggal ibu.

Rush To Paradise karya I Ketut Putrayasa

Sang seniman, I Ketut Putrayasa, sang perancang mobil ini menamai karyanya ; ”Rush To Paradise”, ”bergegas menuju surga.” Lagi-lagi  ini frase  konotatif, bukan makna  denotatif. Pesannya; manusia bergegas, berlomba meraih kemajuan, seperti para penkotbah agama menjanjikan surga. Seperti teknokrat, ahli pembangunan menjanjikan kehidupan lebih baik, adil makmur sejahtera.

Rush to Paradise,  seni instalasi yang dipajang 8 November 2025, bercerita banyak hal perihal bumi yang dijarah, hutan  dibabat masif, laut  diuruk, bukit yang dipenggal, dan banjir melindas pulau-pulau – jutaan kubik potongan-potongan kayu dibawa hanyut, merendam, mengubur desa-desa, sekaligus mengubur penghuninya. Desa-desa lalu menjadi kuburan massal. Tragedi kemanusiaan yang kita bikin sendiri.

Entah,  kebetulan atau tidak, Rush To Paradise seperti ditakdirkan  menjadi ”canayang”, peramal nasib. Nun beberapa hari usai pameran dibuka di Nuanu, Bali, tiga provisni di Sumatra dihantam banjir bandang. Laporan-laporan media online membuat kepala merunduk.  Sejumlah desa di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat terkubur lumpur, 1.205 orang meninggal dunia,  163 orang dinyatakan hilang. Ini tragedi yang kapan saja bisa datang, menggerus, menghanyutkan siapa saja, tak terkecuali  buat mereka yang tengah khusuk memuja, memanggil-manggil nama Tuhan.

Malam-malam tanpa penerangan di tiga provinsi itu sungguh layak disebut sebagai derita panjang, neraka nyata. Lumpur yang menggenang, rumah-rumah amblas hanyut,  sengatan bau busuk, jenazah yang belum ditemukan  membuat desa-desa  itu  jadi neraka sungguhan. Bayi-bayi menangis kelaparan. Betapa menyedihkan. Air bersih, makanan, pakaian jadi barang langka.

***

Namun Rush to Paradise ini tak hendak memotret bencana banjir di Sumatra. Ia menisbahkan satu catatan kritis soal kemajuan yang butuh tumbal. Lomba menuju ”surga” hidup nyata cuma olok-olok. Semua negara, semua koloni manusia berlomba mengejar ketertinggalan, meninggalkan tradisi hidup konvensional. Pabrik-pabrik didirikan, jalan-jalan dibangun, proyek-proyek pertanian modern dibuka, mengorbankan berjuta-juta hektar hutan, tambang-tambang dioperasikan; meluluhlantakan jutaan hutan, ekonomi digenjot masif, dan pajak dinaikkan. Hidup kemarin harus beda dengan hidup hari ini. Semua dicitrakan sebagai agenda masa depan kemakmuran bersama.

Rush To Paradise karya I Ketut Putrayasa di ruang pameran bertajuk ”Liana Reviri: Vivid Colours”, di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan

Sayang seluruh kebijakan pembangunan itu, menempatkan alam  sebagai korban pertama, dan bencana yang menimpa  manusia demi kemajuan itu adalah tragedi  terakhir bagi  semua.  ”Kapitalisme memperlakukan alam sebagai ”hadiah” gratis bagi modal,’  demikian surat John Bellamy Foster dan Brett Clrk,  penulis buku The Robbery: Capitalism  and the Ecological Rift [2025].

Inilah yang dikritis seniman Ketut Putrayasa – bahwa kemajuan  yang terus-menerus diupayakan itu tak menemui  harapan baik masyarakat. Kemajuan yang meminta banyak tumbal itu mengorbankan kesuburan dan kekayaan alam, merengut ribuan plasma-nutfah, memporanda ekosistem. Benar pendapat Vandana Siwa [2023: 7]  kita tengah memasuki era baru, era Antroposen [abad manusia], dimana spesies manusia menjadi kekuatan paling dominan di bumi. Manusia adalah penyebab 75% biodiversitas tumbuhan musnah akibat pertanian industri dan antara 3 hingga 300 spesies terdesak menuju kepunahan setiap hari

Kembali sebagaimana tudingan  Vandana Siwa, penulis buku Making Peace with the Earth [2023]. Bahwa dalam seluruh krisis kekerasan global, disinyalir korporasi global memakai perang sebagai pijakan globalisasi ekonomi. ”Perang” global saat ini merupakan pijakan untuk globalisasi ekonomi dan korporasi di masa mendatang yang dikendalikan sekumpulan korporasi dan negara-negara adidaya yang berupaya mengontrol sumber daya bumi dan mentransformasi planet ini menjadi semacam supermaket di mana segala sesuatu dijual.”

Sampai di sini kemajuan lalu dicurigai hanya sekadar dalih, orang-orang lantas mempertanyakan,  apa gerangan  yang ditenggarai sebagai kemajuan? Apakah kemajuan itu diukur dari gedung-gedung mencakar langit, jalan-jalan mulus ber-hotmix, kantor-kantor birokrasi yang apik berdenyar, yang  cuma melahirkan koruptor, pabrik-pabrik berderet memenuhi pulau, yang hanya menghasilkan pencemaran, lalulintas yang lintang pukang dan kemacetan tak mudah diurai,  mall, pasar-pasar modern  bercahaya penuh wanita cantik  dibayar murah? Itukah kemajuan?

Ini pula yang dipertanyakan Rush To Paradise, bangkai kayu yang tergolek penuh pacalan paku-paku tajam yang disebutnya sebagai ”Ferrari” —  wakil dari kendaraan tercepat di lintas darat – simbol betapa kita terburu, terkesima dengan sihir kemajuan. Persis sebagaimana cibiran Rabindranat Tagore, penulis Gitanjali, orang Asia pertama peraih nobel kesusastraan. Dalam buku bertajuk Creative Unity [2002];  Sang Guru Dev mendalih halus, masyarakat modern adalah masyarakat yang terburu-buru. ”Kebutuhan-kebutuhan kita selalu tergesa-gesa. Mereka berlari dan bergegas, mereka kasar dan tidak tahu aturan; mereka juga tidak memiliki kesantaian, tidak sabaran terhadap apa pun kecuali pemenuhan tujuan.” Itulah ego maskulin itu; seperti paku-paku  tajam menancap  di Ferrari kayu. Ia menghujam, menusuk, memancang  keranuman dan kelembutan pohon – hingga pohon berubah jadi kelapukan, kaku, busuk kehilangan roh hidup.

Rush To Paradise karya I Ketut Putrayasa

Paku-paku tajam yang tertancap di kayu adalah wakil dari ego maskulin kita, yang tak peduli, dan membiarkan rasa hiba kita kerontang,  tanpa empati, tak  lagi memiliki panggilan olas asih — merawat semua untuk kebaikan semesta. Keberanian, kekuatan, karakter kelaki-lakian itu menjadikan hidup ini seperti perlombaan,  membuat sebagian  manusia yang hidup berlomba itu tak pernah merasa hidup  —  kehilangan waktu merawat rasa kemanusiaan dengan baik,  malah membiarkan dirinya menjadi  mesin, menjadi alat,  tanpa sadar menjadi robot perusak. Manusia kehilangan energi femenismenya — kehilangan kesabaran, yang seperti bumi adalah kesabaran itu sendiri. Sistem sekolah hanya  menjadi kepanjangan tangan korporasi besar, bukan pencetak manusia merdeka, punya otonomi, dan kemandirian.

Nyatalah Rush to Paradise menjadi kritik kemanusiaan kita, kritik pada kebudayaan-kebudayan tua yang enggan merevitalisasi diri dalam abad serba baru. Kisah-kisah kebudaayaan yang nyaris kehilangan jawaban manakala roh zaman menuntut  spirit baru,  kembali ke adab ibu —  spirit yang disusui kasih kelembutan. Merusak alam di belahan bumi  lain, berarti juga melukai  sisi bumi yang lain, membuat sengsara  seluruh mahluk.

Bagi Ketut Putrayasa, hari ini seni bukanlah soal berindah-indah, seni adalah kerja yang tak pernah usai —  ia  sebuah proses, cipta untuk mengada. Meminjam kata-kata Erich Fromm, kerja bukan cuma soal memiliki, tapi ia proses  menjadi, mengalir, dan hadir senantiasa. Inilah kenapa kemudian Ketut Putrayasa tak pernah mengahadirkan karya-karyanya  penuh keindahan, enak dipandang, dan memukau.

Bagi seniman kelahiran Canggu ini, seni adalah penghadiran gagasan, konsep yang hendak dipertarungkan, kerap hadir sebagai anti tesis kecenderungan umum.  Kadang menghardik, membully kondisi-kondisi nungkalik zaman. Nyaris semua karya yang diciptakan membuat orang gagal tidur siang. Setidaknya mengernyitkan dahi. Hadir dan tampil begitu progresif, kritis  dalam wahana ”esai-esai simbolik instalatif”; dingin, mencibir,  penuh olok-olok, sekaligus penyadaran. Seni yang mengingatkan, menangkap fenomena, lalu ”menuliskannya” sebagai ”esai simbolik”. Lalu apa gerangan yang dimaksud ”surga”  kemajuan itu?

Bagi Ketut Putrayasa kemajuan  terukur  dalam adab, tersembul dalam moral zaman.  Ia tak  dihitung  berdasarkan bentangan materi. Kemajuan  tercermin dalam seberapa  banyak yang bisa kita rawat untuk  generasi datang. Bentang alam  lestari, air  sumber makanan melimpah. Rumah sakit dan sekolah bagus. Sumber daya manusia  sehat  lahir batin, keadilan  yang merawat  kemanusiaan. Terhindar dari peperangan, rasa takut,  dan penderitaan. Ini terlihat otupia, tapi itulah kemajuan. Itulah kedamaian dunia. Kondisi di mana tidak ada siapa pun merasa dijadikan tumbal atau perbudakan atas nama  kemajuan, alih-alih atas nama hari depan. [T]

Penulis: I Wayan Westa
Editor: Adnyana Ole

Tags: I Ketut PutrayasaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Next Post

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails
Next Post
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

Menanam Pohon Sebelum Berlari ---Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co