2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

Agung Bawantara by Agung Bawantara
February 19, 2026
in Ulas Rupa
Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

Pameran foto 'Magic in The Waves' karya Made Bagus Irawan di Warung Kubukopi Denpasar

Pameran Foto MAGIC IN THE WAVE
Fotografer : Made Bagus Irawan
Kurator : Ni Komang Erviani
Produser : Rofiqi Hasan
Pameran. : 18 – 28 Februari 2026.
Lokasi. : Warung Kubukopi, Swakarya baru 2X, Jl Sudirman (belakang masjid Al Furqon)

MADE Bagus Irawan, atau akrab dipanggil dengan nama Piping, memamerkan karya-karya fotonya di Warung Kubukopi, Denpasar, dengan tajuk Magic in The Waves. Ini jelas bukan sekadar pameran fotografi. Ini adalah peristiwa kultural: pertemuan kembali antara laut, memori, dan komunitas. Pameran ini seolah ingin menegaskan bahwa ia lahir dari komunitas, bukan dari institusi besar. Ia tumbuh dari kebersamaan, bukan dari protokol.

Pameran itu dibuka dalam suasana yang sangat intim dan akrab, Rabu, 18 Februari 2026 sore, dan akan berlangsung hingga 28 Februari 2026. Warung Kubukopi, sebagai tempat pameran, sejak awal sudah memberi kesan ramah, seakan siap menyambut siapa pun yang datang.

Pembukaan pameran foto ‘Magic in The Waves’ karya Made Bagus Irawan di Warung Kubukopi, Denpasar

Warung itu tetap terkesan sebagai warung sederhana dengan dinding semen mentah dan panel bambu putih. Ia tetap warung dengan atap seng dan lampu gantung yang menghadirkan kesan setengah industrial, setengah rumah. Namun lima belas foto yang dipajang rapi di sepanjang dinding membuat tempat itu terasa sebagai tempat untuk menampung sekaligus mengolah gagasan, ide, dan renungan bagi orang-orang yang datang pada Rabu sore itu.

Orang-orang datang tanpa protokol resmi. Mereka saling menyapa, tertawa, berpelukan. Ada yang berdiri lama membaca teks kuratorial, ada yang duduk santai berbincang di sudut ruangan. Di dekat pintu masuk, meja panjang menyajikan jagung rebus yang masih hangat, ubi rebus, edamame, nasi bungkus, serta termos besar berisi kopi dan teh. Para tamu menuang minuman mereka sendiri. Tidak ada kemewahan. Tidak ada jarak.

Ombak, Ruang Sunyi yang Semakin Langka

Salah satu foto paling sunyi dalam pameran ini memperlihatkan seorang surfer berjalan sendirian di tepi pantai saat senja. Siluet tubuhnya tampak kecil di antara garis laut dan langit biru keabu-abuan. Papan selancar dibawanya seperti teman lama. Tidak ada keramaian. Tidak ada musik. Tidak ada barisan kursi pantai. Foto itu sederhana, tetapi terasa seperti potongan waktu yang hampir hilang dari pantai Bali hari ini.

Kini banyak pantai di Bali identik dengan kepadatan wisatawan, beach club, lampu neon, dan dentuman musik elektronik. Garis pantai menjadi ruang komersial yang terus dipadatkan. Kesunyian menjadi barang mahal.

Dalam foto itu, ombak bukan tontonan. Ia adalah ruang pertemuan antara manusia dan alam. Sebuah percakapan yang hening. Barangkali itulah yang paling dirindukan.

Dalam karya berjudul Akrobatik, seorang surfer terbalik di udara. Tubuhnya melengkung mengikuti lengkung ombak. Di bawahnya, air pecah keras. Tidak ada jaring pengaman. Tidak ada struktur buatan manusia. Hanya tubuh, air, dan gravitasi. Keindahan dalam foto itu lahir dari ketegangan. Ia mengingatkan bahwa laut tidak pernah sepenuhnya jinak.

Hari ini, ketegangan lain hadir di pantai Bali: abrasi yang menggerus pasir, sampah kiriman yang menumpuk setiap musim barat, mikroplastik yang mengendap di laut, serta pembangunan yang kian mendekati garis air. Risiko bukan lagi hanya persoalan individu melawan ombak, tetapi persoalan kolektif melawan kerusakan.

Tubuh yang melayang di udara itu terasa seperti metafora: betapa tipis jarak antara keseimbangan dan jatuh. Pantai Bali pun berada dalam jarak tipis itu.

Momen yang Tak Terulang

Foto bertajuk One Moment juga menampilkan sosok yang melayang di udara dalam cahaya senja jingga-ungu. Di bawahnya, seorang fotografer bersiap menangkap detik tersebut.

Judulnya jujur: satu momen. Mengaskan bahwa ombak datang dan pergi. Tubuh melayang hanya sepersekian detik. Jika tidak direkam, ia hilang. Pantai pun demikian. Garis pasir yang hari ini kita kenal bisa berubah esok hari. Spot yang dulu sunyi bisa menjadi ramai. Ruang publik dapat menyempit tanpa terasa.

Fotografi dalam pameran ini bekerja sebagai pengingat: ada masa ketika pantai masih terasa intim, ketika relasi manusia dan laut belum sepenuhnya ditengahi industri. Arsip menjadi penting bukan untuk nostalgia, melainkan untuk mengukur jarak perubahan.

Hari ini pantai Bali berada di persimpangan. Di satu sisi, ia menjadi mesin ekonomi. Pariwisata pesisir menyerap tenaga kerja, menggerakkan bisnis, dan menopang banyak keluarga. Di sisi lain, tekanan terhadap ekologi semakin nyata. Abrasi, overdevelopment, intrusi air laut, hingga konflik akses publik menjadi isu yang tak bisa diabaikan. Ombak yang dalam foto-foto itu tampak agung dan murni kini sering berbagi ruang dengan limbah dan kepadatan.

Pameran ini tidak menawarkan solusi teknis. Namun ia mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kita masih melihat pantai sebagai ruang hidup, atau hanya sebagai komoditas?

Foto siluet di senja, tubuh yang melayang, dan momen yang ditangkap dalam sepersekian detik mengajak kita kembali pada relasi awal: manusia dan laut sebagai mitra, bukan sebagai objek eksploitasi.

Suasana pembukaan pameran memperlihatkan bahwa nilai itu tidak berhenti di dinding. Jagung rebus, ubi, kopi yang dituangkan sendiri, dan percakapan yang cair mencerminkan etos kebersahajaan.

Di tengah citra glamor pantai Bali hari ini, pameran ini justru menegaskan sisi lain: bahwa kultur pesisir dibangun oleh komunitas kecil yang saling mengenal, saling menjaga, dan berbagi ruang. Keberlanjutan pantai tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh komunitas yang merasa memiliki.

Bagus Made Irawan sendiri adalah seorang surfer yang telah hidup bersama ombak lebih dari tiga dekade. Ia bukan fotografer yang datang sebagai turis visual. Ia bagian dari kultur yang ia dokumentasikan.

Melalui majalah Magic Wave, yang terbit sejak 2001 hingga 2013 dengan 132 edisi, ia merekam sejarah surfing Bali dari dalam komunitasnya sendiri. Ia mendokumentasikan wajah-wajah, kompetisi, perjalanan, serta perubahan lanskap pesisir sebelum era media sosial membanjiri visual dengan kecepatan instan.

Belakangan, melalui Magic Ink, ia juga menjadi penggerak komunitas tato di Bali. Garis besarnya tetap sama: mengarsipkan kultur alternatif, memberi ruang bagi komunitas, dan menjaga identitas.

Para pengunjung ngobrol tanpa sekat Pembukaan pameran foto ‘Magic in The Waves’ karya Made Bagus Irawan di Warung Kubukopi, Denpasar

Foto-foto karyanya dalam Magic in The Waves lahir dari keterlibatan panjang itu. Ia tidak memotret dari kejauhan. Ia memotret dari pengalaman. Barangkali karena itulah foto-foto tersebut terasa bukan hanya indah, tetapi jujur.

Laut di luar sana akan terus bergerak. Ombak akan tetap datang. Namun garis pantai, makna pantai, dan relasi manusia dengannya tidak selalu tetap. Dan, kini, ketika pantai menjadi ruang yang dipertaruhkan, pertanyaan yang menyuat: apakah kita masih mampu menjaga magic itu? [T]

Penulis: Agung Bawantara
Editor: Adnyana Ole

Tags: balifotografilautpameran fotoPameran Seni RupaWarung Kubukopi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Next Post

Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

Agung Bawantara

Agung Bawantara

Penulis DONGENG yang juga gemar menulis esai, prosa, dan puisi. Juga aktif dalam gerakan film dokumenter di Bali. Agung adalah inisiator Denpasar Film Festival.

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

Dialektika Dua Wajah 'Baper': Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas ---Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co