30 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 17, 2026
in Khas
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

Proses Belajar Biola di Sunar Sanggita

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari panggung megah atau gedung konser yang dingin dan berjarak, melainkan dari ruang belajar sederhana yang mencoba mengubah cara kita memandang musik klasik tidak lagi eksklusif, tidak lagi mahal, dan yang paling penting tidak lagi menakutkan.

Adalah Sunar Sanggita, sebuah lembaga pendidikan musik berbasis di Bali, yang sejak awal April 2026 mulai menawarkan sesuatu yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya cukup radikal, yakni kkursus privat biola dengan biaya yang terjangkau.

Program ini, sebagaimana diakui oleh pendirinya, I Made Prasetya Wiguna Mahayasa, lahir dari kegelisahan yang barangkali juga diam-diam dirasakan banyak orang tua, bahwa akses terhadap pendidikan musik klasik di kota ini masih terasa jauh, baik secara ekonomi maupun psikologis.

Namun yang menarik, kegelisahan itu justru dijawab dengan sesuatu yang tidak muluk-muluk. Bukan gedung baru atau jargon besar, melainkan pendekatan.

Dan ternyata, pendekatan itulah yang membuat banyak orang datang. Sejak pertama kali dibuka, program privat biola ini langsung diserbu pendaftar. Jumlahnya bahkan melampaui ekspektasi awal. Ada sesuatu yang selama ini seperti tertahan dan kini menemukan jalannya.

I Made Prasetya tidak terlalu terkejut, tetapi ia juga tidak menganggapnya sebagai hal biasa. “Kami ingin mendobrak stigma bahwa alat musik klasik itu eksklusif atau sulit. Melalui Sunar Sanggita, kami memberikan kesan bahwa biola dapat dipelajari oleh semua anak dengan metode yang sangat menyenangkan dan jauh dari kesan kaku,” ujarnya, saat ditemui pada Kamis (16/4/206) di Denpasar.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan kritik yang cukup dalam. Selama ini, musik klasik sering kali dibingkai dalam kesan serius, disiplin, bahkan sedikit angker. Seolah-olah hanya anak-anak tertentu dengan bakat dan latar belakang tertentu, yang pantas mendekatinya.

Padahal, seperti halnya bahasa, musik seharusnya menjadi sesuatu yang bisa dipelajari siapa saja. “Biola, tentu saja, bukan instrumen yang mudah. Bahkan bisa dibilang, ia adalah salah satu alat musik yang paling jujur terhadap kesalahan,” sebut Wiguna.

Tidak ada tombol yang bisa menyelamatkan nada. Tidak ada sistem yang mengoreksi secara otomatis. Semuanya bergantung pada tubuh dan telinga pemainnya.

Wiguna menjelaskan hal ini dengan cukup gamblang. “Berbeda dengan piano yang sudah memiliki tuts sebagai penanda nada, sekali pencet C pasti bunyinya Do, biola tidak memiliki penanda fisik atau fret. Jari harus menekan pada titik yang sangat presisi agar nada tidak meleset. Inilah yang membuat biola menantang sekaligus melatih ketajaman telinga anak secara luar biasa,” katanya.

Di sinilah letak paradoksnya. Justru karena sulit, biola menjadi alat yang sangat efektif untuk melatih kepekaan. Tidak hanya kepekaan musikal, tetapi juga koordinasi tubuh, konsentrasi, dan kesabaran. Dalam dunia yang serba instan, belajar biola mungkin terdengar seperti pilihan yang aneh. Tetapi mungkin justru karena itu, ia menjadi relevan.

Di tengah proses membangun metode belajar yang inklusif, Sunar Sanggita juga menghadirkan sesuatu yang jarang terdengar di ruang-ruang pendidikan musik konvensional. Sebagian besar pengajarnya justru datang dari latar belakang yang tidak biasa.

Wiguna menyebut, komposisi pengajar di tempatnya tidak sepenuhnya mengikuti pola umum lembaga kursus musik. “90 persen pengajar di tempat kami itu tunanetra. Tetapi khususnya violin ini memang ada rekan awas. Dia berkolaborasi dengan kami, saling melengkapi,” ujarnya.

Pernyataan ini membuka lapisan lain dari cerita yang sebelumnya mungkin tak terlihat. Bahwa ruang belajar ini tidak hanya sedang memperluas akses bagi siswa, tetapi juga menciptakan ruang kolaborasi bagi para pengajar dengan latar belakang berbeda.

Dalam konteks tertentu, ini bukan sekadar soal metode, melainkan tentang cara pandang. Tentang bagaimana keterbatasan tidak selalu berarti kekurangan, melainkan bisa menjadi kekuatan ketika dipertemukan dalam kerja bersama.

Di ruang itu, musik tidak hanya diajarkan, tetapi juga dinegosiasikan ulang maknanya. Siapa yang berhak mengajar, siapa yang berhak belajar, dan bagaimana keduanya saling mengisi. Dan mungkin, justru dari situ, nada-nada yang lahir menjadi lebih jujur.

Sunar Sanggita mencoba menjawab tantangan belajar biola dengan cara yang cukup taktis mengubah komposisi belajar.

Alih-alih membanjiri siswa dengan teori di awal, mereka menerapkan metode 75 persen praktik dan 25 persen teori. Sebuah pendekatan yang terasa lebih membumi dan mungkin lebih jujur terhadap cara anak-anak belajar.

Di banyak tempat, belajar musik sering kali dimulai dari membaca not balok, memahami struktur, dan teori dasar yang kadang terasa berat. Tidak sedikit anak yang akhirnya kehilangan minat bahkan sebelum sempat benar-benar bermain.

“Di sini, anak-anak justru diajak bermain terlebih dahulu. Mereka memegang biola, mencoba menghasilkan bunyi, bahkan memainkan lagu sederhana sebelum benar-benar memahami apa yang mereka lakukan secara teoritis,” jelas Wiguna.

Pendekatan ini bukan tanpa risiko. Tetapi sejauh ini, ia terbukti efektif menjaga antusiasme. Dan antusiasme, dalam proses belajar apa pun, adalah mata uang yang paling berharga.

“Namun, yang membuat program ini menarik bukan hanya soal metode, melainkan juga cara ia mencoba menyesuaikan diri dengan realitas keluarga modern di Denpasar. Salah satunya adalah soal biaya,” pungkas Wiguna, yang juga difabel tuli-netra.

Alih-alih menerapkan sistem kontrak bulanan yang kaku, Sunar Sanggita menawarkan pembayaran per kedatangan. Sebuah sistem yang terdengar sederhana, tetapi cukup revolusioner dalam konteks kursus formal.

Bagi banyak orang tua, komitmen jangka panjang sering kali menjadi beban tersendiri terutama ketika mereka belum yakin apakah anaknya akan benar-benar bertahan dalam proses belajar.

“Dengan sistem ini, risiko itu diperkecil. Orang tua bisa mencoba terlebih dahulu, melihat perkembangan anak, dan memutuskan tanpa tekanan,” kata Wiguna.

Selain itu, ada juga fleksibilitas dalam kurikulum. Anak-anak diperbolehkan memilih lagu yang mereka sukai. Sebuah pendekatan yang mungkin terdengar tidak klasik, tetapi justru membuka ruang baru.

“Bayangkan seorang anak memainkan lagu yang ia kenal bukan sekadar latihan teknis yang asing. Ada kedekatan emosional di sana. Dan dari kedekatan itulah, proses belajar menjadi lebih hidup. Hal lain yang menarik adalah upaya membangun kepercayaan diri siswa melalui panggung,” ungkap Wiguna.

Sunar Sanggita secara rutin memberikan kesempatan kepada siswa untuk tampil di berbagai mal dan destinasi wisata populer di Bali. Bukan sekadar latihan teknis, tetapi juga latihan mental. Karena pada akhirnya, musik bukan hanya soal memainkan nada dengan benar, tetapi juga tentang keberanian untuk didengar.

Bagi anak-anak, pengalaman tampil di ruang publik bisa menjadi titik balik. Dari yang awalnya ragu, menjadi lebih percaya diri. Dari yang sekadar belajar, menjadi benar-benar bermain. Dan mungkin, di situlah pendidikan musik menemukan maknanya yang lebih luas.

Di tengah geliat Denpasar sebagai kota yang terus berubah, dengan kafe-kafe baru, ruang kreatif, dan industri pariwisata yang tak pernah benar-benar tidur, kehadiran tempat seperti Sunar Sanggita terasa seperti jeda yang penting.

Ia tidak menawarkan sesuatu yang spektakuler. Tidak juga menjanjikan hasil instan. Tetapi ia mencoba membangun sesuatu yang lebih mendasar akses. Akses untuk belajar,  mencoba, untuk gagal, lalu mencoba lagi.

Dalam banyak hal, ini adalah bentuk kecil dari demokratisasi budaya. Bahwa musik klasik tidak harus selalu berada di menara gading. Bahwa biola tidak harus selalu identik dengan kemewahan. Siapa pun dari latar belakang apa pun berhak untuk mendekatinya.

Tentu saja, perjalanan ini masih panjang. Antusiasme awal bisa saja mereda. Tantangan teknis akan tetap ada. Dan menjaga kualitas di tengah pertumbuhan jumlah siswa bukan perkara mudah.

Namun setidaknya, sebuah pintu telah dibuka. Dan kadang, yang dibutuhkan hanyalah itu. Sebuah pintu yang tidak terlalu besar, tidak terlalu megah, tetapi cukup untuk dilewati.

Di akhir percakapan, Wiguna kembali menekankan visi yang ingin ia bangun melalui Sunar Sanggita mencetak generasi musisi muda yang percaya diri.

Sebuah visi yang terdengar ideal, tetapi juga cukup konkret ketika diterjemahkan ke dalam praktik sehari-hari cara mengajar, cara berinteraksi dengan siswa, hingga cara memandang musik itu sendiri.

Karena pada akhirnya, belajar musik bukan hanya tentang menjadi musisi. Ia adalah cara lain untuk memahami diri. Dan mungkin, di sebuah ruang kecil di Denpasar itu, anak-anak sedang belajar sesuatu yang lebih dari sekadar nada mereka sedang belajar mendengarkan, baik kepada musik, maupun kepada diri mereka sendiri.

Bagi orang tua yang tertarik, program ini terbuka untuk konsultasi dan pendaftaran melalui WhatsApp di nomor 0811286645. Lokasinya berada di kawasan Sanur, Denpasar, dengan informasi lebih lanjut dapat diakses melalui Instagram @SunarSanggita.

Namun lebih dari sekadar informasi teknis, yang menarik untuk dicatat adalah ini ketika sebuah inisiatif kecil mampu mengubah cara pandang kita terhadap sesuatu yang selama ini terasa jauh, maka ia telah melakukan lebih dari sekadar membuka kelas. Wiguna dan kawan-kawan di Sunar Sanggita, sedang membuka kemungkinan, yang mungkin tidak pernah kita tahu sebelumnya. [T]

Tags: musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Glosarium Krisis Sampah Bali

Next Post

Tumpek Landep dan Gen Z, Mengasah Pikiran di Era Digital

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
0
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

Read moreDetails

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Landep dan Gen Z, Mengasah Pikiran di Era Digital

Tumpek Landep dan Gen Z, Mengasah Pikiran di Era Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia
Panggung

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
Mereka Menunggu di Setia Darma 
Tualang

Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!
Gaya

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

MENGGUNAKAN parfum wanita memang jadi cara paling simpel untuk meningkatkan rasa percaya diri dan meninggalkan kesan yang elegan. Tapi, tahukah...

by tatkala
May 29, 2026
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI
Esai

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai...

by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
(Bukan) Demokrasi Kita
Esai

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan...

by Afgan Fadilla
May 29, 2026
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia
Cerpen

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam
Puisi

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
Ritual Menanam Beras Merah
Liputan Khusus

Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

by Jaswanto
May 28, 2026
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan
Khas

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

RUANG publik dalam sebuah negara semestinya menjadi tempat di mana akal sehat, etika, dan tanggung jawab bertemu. Ia bukan sekadar...

by Ahmad Sihabudin
May 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co