12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumpek Landep dan Gen Z, Mengasah Pikiran di Era Digital

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
April 18, 2026
in Esai
Tumpek Landep dan Gen Z, Mengasah Pikiran di Era Digital

Di tengah derasnya arus digitalisasi, Generasi Z tumbuh sebagai generasi yang akrab dengan gawai, aplikasi, dan kecerdasan buatan. Mereka mampu membuat konten viral dalam hitungan jam, berinteraksi lintas negara dari layar kecil, bahkan lebih cepat menghafal password WiFi daripada bait-bait doa. Namun, di balik kecanggihan itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah ketajaman yang dimiliki hanya sebatas teknologi, atau juga menyentuh kedalaman berpikir dan kesadaran batin?

Di sinilah Hari Suci Tumpek Landep menemukan relevansinya.

Pelaksanaan Hari Suci Tumpek, termasuk Tumpek Landep di satuan pendidikan, bukan sekadar tradisi, tetapi juga mandat kebajikan yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur kita di Bali. Mandat Kebajikan ini kemudian dikuatkan dengan kebijakan yang memiliki dasar regulasi yang jelas melalui Instruksi Gubernur Bali Nomor 2 Tahun 2025 dan Instruksi Gubernur Bali Nomor 05 Tahun 2022.

Kebijakan ini menegaskan bahwa perayaan Rahina Tumpek wajib dilaksanakan oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk satuan pendidikan, sebagai bagian dari implementasi nilai Sad Kerthi dalam menjaga harmoni antara alam, manusia, dan kebudayaan Bali. Artinya, ketika sekolah melaksanakan Tumpek Landep, sesungguhnya yang dilakukan bukan hanya memenuhi kewajiban administratif, tetapi juga menjalankan misi kebudayaan dan pendidikan karakter.

Secara filosofis, Tumpek Landep tidak sekadar dimaknai sebagai hari untuk memuliakan benda berbahan logam seperti keris, alat kerja atau kendaraan saja. Lebih dalam dari itu, “landep” bermakna ketajaman pikiran atau kemampuan untuk berpikir jernih, bijak, dan bertanggung jawab dalam setiap tindakan.

Namun, dalam praktik kekinian, sering terjadi paradoks yang cukup menggelitik. Banyak yang begitu serius “menyucikan” kendaraan dan gadget saat Tumpek Landep, tetapi lupa menyucikan cara berpikir. Motor dipoles hingga mengkilap, laptop dibersihkan dari debu, tetapi pikiran masih penuh “file sampah”, overthinking, iri hati, hingga kebiasaan membandingkan diri bahkan berkata kasar di media sosial.

Dari realita ini, mungkin sudah saatnya kita bertanya dengan jujur. Apakah yang lebih sering di-upgrade, aplikasi di ponsel atau kualitas berpikir kita?

Di sinilah pendidikan memiliki peran strategis. Sekolah tidak cukup hanya melaksanakan persembahyangan sebagai rutinitas, tetapi perlu menghadirkan makna. Tumpek Landep harus menjadi momentum refleksi—bahwa kecanggihan teknologi harus diimbangi dengan ketajaman etika dan kedewasaan berpikir.

Lebih khusus lagi, bagi Generasi Z yang menempuh pendidikan di SMK atau pendidikan vokasi, perayaan Tumpek Landep tidak bisa dipandang sebelah mata. Justru di sinilah letak relevansinya yang paling nyata. Siswa vokasi dipersiapkan untuk terjun langsung ke dunia kerja yang menuntut keterampilan, ketepatan, dan tanggung jawab tinggi.

Dalam konteks ini, nilai-nilai Tumpek Landep menjadi sangat penting untuk menguatkan karakter, meningkatkan kompetensi keilmuan dan vokasi, sekaligus membentuk kebijaksanaan dalam mengambil keputusan di dunia kerja. Ketajaman tidak hanya diukur dari keterampilan teknis, tetapi juga dari kejernihan berpikir dan integritas dalam bertindak.

Bagi Gen Z, Tumpek Landep bisa dimaknai sebagai ajakan untuk melakukan “upgrade diri”. Jika selama ini terbiasa memperbarui aplikasi, maka saatnya juga memperbarui cara berpikir: dari instan menjadi reflektif, dari reaktif menjadi bijaksana, dari sekadar mengikuti tren menjadi mampu memilah dan memilih.

Dalam perspektif Tri Hita Karana, Tumpek Landep juga mengajarkan keseimbangan: hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam. Teknologi yang digunakan manusia seharusnya tidak merusak, melainkan memperkuat harmoni kehidupan.

Namun demikian, tantangan terbesar bukan pada pelaksanaan kegiatan, melainkan pada internalisasi nilai. Jika Tumpek Landep hanya berhenti pada seremoni satu hari, maka maknanya akan cepat hilang. Apalagi bagi Gen Z, pendekatan yang monoton justru membuat nilai-nilai luhur terasa jauh dan tidak relevan.

Karena itu, pendekatan pendidikan perlu lebih kreatif dan kontekstual. Di antaranya, mengaitkan Tumpek Landep dengan literasi digital, etika bermedia sosial, hingga pembuatan konten reflektif tentang makna “ketajaman pikiran” di era modern. Dengan cara ini, tradisi tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dihidupkan dalam realitas generasi masa kini.

Kebijakan pemerintah daerah melalui instruksi gubernur sejatinya telah memberikan arah yang jelas. Tinggal bagaimana satuan pendidikan mampu menerjemahkannya menjadi praktik yang bermakna dan berdampak

Pada akhirnya, Tumpek Landep adalah pengingat bahwa manusia tidak cukup hanya menjadi cerdas, tetapi juga harus tajam dalam berpikir dan bijak dalam bertindak.

Karena sejatinya, yang perlu ditajamkan bukan hanya pisau, bukan hanya mesin, bahkan bukan hanya algoritma, tetapi juga hati dan pikiran manusia.

Dan mungkin, di tengah notifikasi yang tak pernah berhenti, Tumpek Landep adalah momen terbaik untuk sejenak melakukan pause… bukan untuk berhenti, tetapi untuk kembali menyadari arah hidup yang sesungguhnya. [T]

Tags: Hindu Baliritualtumpek landepupacaraupacara hindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

Next Post

Negeri ’Katanya’: Tuduh Dulu, Buktikan Belakangan

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Negeri ’Katanya’: Tuduh Dulu, Buktikan Belakangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co