30 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumpek Landep dan Gen Z, Mengasah Pikiran di Era Digital

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
April 18, 2026
in Esai
Tumpek Landep dan Gen Z, Mengasah Pikiran di Era Digital

Di tengah derasnya arus digitalisasi, Generasi Z tumbuh sebagai generasi yang akrab dengan gawai, aplikasi, dan kecerdasan buatan. Mereka mampu membuat konten viral dalam hitungan jam, berinteraksi lintas negara dari layar kecil, bahkan lebih cepat menghafal password WiFi daripada bait-bait doa. Namun, di balik kecanggihan itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah ketajaman yang dimiliki hanya sebatas teknologi, atau juga menyentuh kedalaman berpikir dan kesadaran batin?

Di sinilah Hari Suci Tumpek Landep menemukan relevansinya.

Pelaksanaan Hari Suci Tumpek, termasuk Tumpek Landep di satuan pendidikan, bukan sekadar tradisi, tetapi juga mandat kebajikan yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur kita di Bali. Mandat Kebajikan ini kemudian dikuatkan dengan kebijakan yang memiliki dasar regulasi yang jelas melalui Instruksi Gubernur Bali Nomor 2 Tahun 2025 dan Instruksi Gubernur Bali Nomor 05 Tahun 2022.

Kebijakan ini menegaskan bahwa perayaan Rahina Tumpek wajib dilaksanakan oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk satuan pendidikan, sebagai bagian dari implementasi nilai Sad Kerthi dalam menjaga harmoni antara alam, manusia, dan kebudayaan Bali. Artinya, ketika sekolah melaksanakan Tumpek Landep, sesungguhnya yang dilakukan bukan hanya memenuhi kewajiban administratif, tetapi juga menjalankan misi kebudayaan dan pendidikan karakter.

Secara filosofis, Tumpek Landep tidak sekadar dimaknai sebagai hari untuk memuliakan benda berbahan logam seperti keris, alat kerja atau kendaraan saja. Lebih dalam dari itu, “landep” bermakna ketajaman pikiran atau kemampuan untuk berpikir jernih, bijak, dan bertanggung jawab dalam setiap tindakan.

Namun, dalam praktik kekinian, sering terjadi paradoks yang cukup menggelitik. Banyak yang begitu serius “menyucikan” kendaraan dan gadget saat Tumpek Landep, tetapi lupa menyucikan cara berpikir. Motor dipoles hingga mengkilap, laptop dibersihkan dari debu, tetapi pikiran masih penuh “file sampah”, overthinking, iri hati, hingga kebiasaan membandingkan diri bahkan berkata kasar di media sosial.

Dari realita ini, mungkin sudah saatnya kita bertanya dengan jujur. Apakah yang lebih sering di-upgrade, aplikasi di ponsel atau kualitas berpikir kita?

Di sinilah pendidikan memiliki peran strategis. Sekolah tidak cukup hanya melaksanakan persembahyangan sebagai rutinitas, tetapi perlu menghadirkan makna. Tumpek Landep harus menjadi momentum refleksi—bahwa kecanggihan teknologi harus diimbangi dengan ketajaman etika dan kedewasaan berpikir.

Lebih khusus lagi, bagi Generasi Z yang menempuh pendidikan di SMK atau pendidikan vokasi, perayaan Tumpek Landep tidak bisa dipandang sebelah mata. Justru di sinilah letak relevansinya yang paling nyata. Siswa vokasi dipersiapkan untuk terjun langsung ke dunia kerja yang menuntut keterampilan, ketepatan, dan tanggung jawab tinggi.

Dalam konteks ini, nilai-nilai Tumpek Landep menjadi sangat penting untuk menguatkan karakter, meningkatkan kompetensi keilmuan dan vokasi, sekaligus membentuk kebijaksanaan dalam mengambil keputusan di dunia kerja. Ketajaman tidak hanya diukur dari keterampilan teknis, tetapi juga dari kejernihan berpikir dan integritas dalam bertindak.

Bagi Gen Z, Tumpek Landep bisa dimaknai sebagai ajakan untuk melakukan “upgrade diri”. Jika selama ini terbiasa memperbarui aplikasi, maka saatnya juga memperbarui cara berpikir: dari instan menjadi reflektif, dari reaktif menjadi bijaksana, dari sekadar mengikuti tren menjadi mampu memilah dan memilih.

Dalam perspektif Tri Hita Karana, Tumpek Landep juga mengajarkan keseimbangan: hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam. Teknologi yang digunakan manusia seharusnya tidak merusak, melainkan memperkuat harmoni kehidupan.

Namun demikian, tantangan terbesar bukan pada pelaksanaan kegiatan, melainkan pada internalisasi nilai. Jika Tumpek Landep hanya berhenti pada seremoni satu hari, maka maknanya akan cepat hilang. Apalagi bagi Gen Z, pendekatan yang monoton justru membuat nilai-nilai luhur terasa jauh dan tidak relevan.

Karena itu, pendekatan pendidikan perlu lebih kreatif dan kontekstual. Di antaranya, mengaitkan Tumpek Landep dengan literasi digital, etika bermedia sosial, hingga pembuatan konten reflektif tentang makna “ketajaman pikiran” di era modern. Dengan cara ini, tradisi tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dihidupkan dalam realitas generasi masa kini.

Kebijakan pemerintah daerah melalui instruksi gubernur sejatinya telah memberikan arah yang jelas. Tinggal bagaimana satuan pendidikan mampu menerjemahkannya menjadi praktik yang bermakna dan berdampak

Pada akhirnya, Tumpek Landep adalah pengingat bahwa manusia tidak cukup hanya menjadi cerdas, tetapi juga harus tajam dalam berpikir dan bijak dalam bertindak.

Karena sejatinya, yang perlu ditajamkan bukan hanya pisau, bukan hanya mesin, bahkan bukan hanya algoritma, tetapi juga hati dan pikiran manusia.

Dan mungkin, di tengah notifikasi yang tak pernah berhenti, Tumpek Landep adalah momen terbaik untuk sejenak melakukan pause… bukan untuk berhenti, tetapi untuk kembali menyadari arah hidup yang sesungguhnya. [T]

Tags: Hindu Baliritualtumpek landepupacaraupacara hindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

Next Post

Negeri ’Katanya’: Tuduh Dulu, Buktikan Belakangan

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

Read moreDetails

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
0
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai...

Read moreDetails

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

by Afgan Fadilla
May 29, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan...

Read moreDetails

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

by Ahmad Sihabudin
May 28, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

RUANG publik dalam sebuah negara semestinya menjadi tempat di mana akal sehat, etika, dan tanggung jawab bertemu. Ia bukan sekadar...

Read moreDetails

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

by Angga Wijaya
May 26, 2026
0
Orang Bali Tetaplah Orang Bali

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar...

Read moreDetails

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen),...

Read moreDetails

Buzzer Rakyat

by Hartanto
May 25, 2026
0
Buzzer Rakyat

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring,...

Read moreDetails

Perokok Bertanggung Jawab

by Angga Wijaya
May 25, 2026
0
Perokok Bertanggung Jawab

Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di...

Read moreDetails

Pesta Babi: Membuka Hutan, Menutup Layar

by Luthfi Hasanal Bolqiah
May 25, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan...

Read moreDetails

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

by Agung Sudarsa
May 23, 2026
0
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang,...

Read moreDetails
Next Post
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Negeri ’Katanya’: Tuduh Dulu, Buktikan Belakangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia
Panggung

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
Mereka Menunggu di Setia Darma 
Tualang

Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!
Gaya

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

MENGGUNAKAN parfum wanita memang jadi cara paling simpel untuk meningkatkan rasa percaya diri dan meninggalkan kesan yang elegan. Tapi, tahukah...

by tatkala
May 29, 2026
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI
Esai

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai...

by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
(Bukan) Demokrasi Kita
Esai

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan...

by Afgan Fadilla
May 29, 2026
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia
Cerpen

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam
Puisi

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
Ritual Menanam Beras Merah
Liputan Khusus

Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

by Jaswanto
May 28, 2026
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan
Khas

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

RUANG publik dalam sebuah negara semestinya menjadi tempat di mana akal sehat, etika, dan tanggung jawab bertemu. Ia bukan sekadar...

by Ahmad Sihabudin
May 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co