23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negeri ’Katanya’: Tuduh Dulu, Buktikan Belakangan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
April 18, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

Di negeri ini, politik itu tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya berganti tempat tidur: kadang di gedung parlemen, kadang di layar televisi, dan seringnya justru di grup WhatsApp yang nama anggotanya lebih panjang daripada isi diskusinya. Di sana, keputusan tidak diambil, tapi kesimpulan sudah dipastikan. Dan yang paling menarik, kebenaran tidak perlu hadir, cukup diwakili oleh “katanya”.

Kasus ijazah palsu yang konon menyeret tokoh besar dan pemodal besar itu pun hadir seperti serial drama yang tidak jelas jumlah episodenya. Awalnya kita kira ini mini seri, eh ternyata sinetron kejar tayang.

Setiap hari ada saja perkembangan: saksi baru, bukti lama, analisis dadakan, hingga pakar yang kemarin bicara ekonomi, hari ini tiba-tiba ahli forensik kertas. Publik pun bingung, ini sedang menyaksikan proses hukum atau audisi “Indonesia Mencari Kepastian”?

Di tengah kekacauan itu, rumor tampil seperti selebritas papan atas, tidak pernah benar-benar diundang, tapi selalu berhasil mencuri perhatian. Ia datang tanpa identitas, tapi punya daya sebar lebih cepat daripada undangan kondangan digital. Dan seperti biasa, begitu rumor muncul, kita semua mendadak jadi detektif. Bedanya, detektif sungguhan mencari bukti, sementara kita cukup mencari “yang sejalan dengan perasaan”.

Kalau dipilah, rumor ini memang punya dua wajah. Wajah pertama adalah wajah rakyat biasa, yang mungkin sudah terlalu lama menunggu kejelasan, sampai akhirnya memilih membuat versi sendiri. Ini semacam “demokrasi imajinasi”: kalau fakta tak kunjung datang, ya sudah, kita produksi saja cerita alternatif. Toh, dalam dunia rumor, logika itu opsional, yang penting “masuk akal menurut hati”.

Di warung kopi, misalnya, seorang bapak bisa dengan yakin berkata, “Saya punya sumber terpercaya.” Ketika ditanya siapa sumbernya, ia menjawab dengan tenang, “Teman saya.” Ketika ditanya lagi teman siapa, jawabannya mulai kabur, “Pokoknya orang dalam.” Dalam konteks ini, “orang dalam” bisa berarti siapa saja, mulai dari pegawai kantor, tetangga, sampai mungkin tukang parkir yang pernah melihat seseorang lewat.

Wajah kedua adalah rumor yang lebih “elit”, lahir dari dapur politik yang penuh strategi. Ini bukan lagi sekadar kabar angin, tapi angin yang sudah diarahkan pakai kipas angin industri. Rumor jenis ini biasanya lebih rapi, lebih sistematis, dan kadang dilengkapi “bumbu ilmiah” agar terlihat kredibel. Ada potongan data, ada kutipan, ada grafik (meskipun sering tidak jelas sumbernya), pokoknya lengkap seperti skripsi, bedanya, tidak perlu diuji.

Di titik ini, saling tuding dan saling tuntut menjadi semacam koreografi yang indah, kalau dilihat dari jauh. Yang satu menunjuk dengan penuh keyakinan, yang lain membalas dengan gugatan. Yang dituduh berkata, “Ini fitnah!”, yang menuduh berkata, “Ini fakta!” Dan publik? Seperti penonton pertandingan bulu tangkis, kepala menoleh ke kiri dan ke kanan mengikuti arah shuttlecock tuduhan.

Lucunya, setiap pihak merasa paling rasional. Tidak ada yang merasa sedang berdrama, padahal dari luar, semuanya tampak seperti panggung teater absurd. Bahkan kadang kita tidak tahu mana yang lebih cepat: proses hukum atau proses viral. Karena seringkali, sebelum hakim sempat membaca berkas, netizen sudah lebih dulu menjatuhkan vonis, lengkap dengan analisis, meme, dan kadang juga soundtrack.

Di sinilah kita mulai menyadari bahwa dalam ekosistem seperti ini, kebenaran bukan lagi soal “apa yang terjadi”, tapi “apa yang dipercaya banyak orang”. Dan kepercayaan itu seringkali dibentuk bukan oleh data, melainkan oleh seberapa sering sesuatu diulang. Kalau sebuah rumor diulang cukup lama dan cukup sering, ia bisa naik pangkat menjadi “pengetahuan umum”. Padahal, kalau ditelusuri, asal-usulnya mungkin hanya dari satu kalimat: “katanya sih…”

Sementara itu, institusi formal, yang seharusnya menjadi penampung aspirasi dan penyaring kebenaran, sering terlihat seperti sedang antre di loket yang salah. Prosedurnya panjang, bahasanya rumit, dan waktunya lama. Di sisi lain, rumor bekerja seperti ojek online: cepat, fleksibel, dan langsung sampai ke tujuan (meskipun kadang alamatnya meleset jauh).

Maka tidak heran jika masyarakat kadang lebih percaya pada kabar angin daripada klarifikasi resmi. Bukan karena mereka anti kebenaran, tapi karena kebenaran versi resmi sering datang terlambat, seperti tamu yang datang saat acara sudah bubar. Sementara rumor sudah lebih dulu mengisi ruangan, duduk nyaman, bahkan sempat mengganti dekorasi.

Dan di tengah semua itu, gejala saling tuding dan saling tuntut terus berlangsung seperti lingkaran setan yang tidak mau pensiun. Setiap tuduhan melahirkan tuntutan, setiap tuntutan melahirkan tuduhan baru. Ini seperti permainan pingpong tanpa skor akhir, yang penting bukan menang atau kalah, tapi terus memukul bola agar permainan tidak berhenti.

Akhirnya, kita pun sampai pada satu pertanyaan yang agak menggelitik: apakah kita benar-benar ingin tahu kebenaran, atau sebenarnya kita hanya menikmati proses mencarinya, lengkap dengan dramanya? Karena kalau yang kedua, maka kita harus jujur bahwa politik di negeri ini bukan hanya soal kekuasaan, tapi juga soal hiburan.

Dan seperti semua hiburan, ia punya konsekuensi. Kita bisa tertawa, kita bisa terhibur, tapi jangan sampai lupa bahwa di balik semua rumor, tudingan, dan tuntutan itu, ada realitas yang menunggu untuk diselesaikan. Masalahnya, selama kita masih sibuk berdebat soal “katanya”, realitas itu mungkin akan terus antre, sambil geleng-geleng kepala melihat kita yang terlalu menikmati pertunjukan. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tumpek Landep dan Gen Z, Mengasah Pikiran di Era Digital

Next Post

Perayaan Besi, Menajamkan Pikiran

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Perayaan Besi, Menajamkan Pikiran

Perayaan Besi, Menajamkan Pikiran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co