3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negeri ’Katanya’: Tuduh Dulu, Buktikan Belakangan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
April 18, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

Di negeri ini, politik itu tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya berganti tempat tidur: kadang di gedung parlemen, kadang di layar televisi, dan seringnya justru di grup WhatsApp yang nama anggotanya lebih panjang daripada isi diskusinya. Di sana, keputusan tidak diambil, tapi kesimpulan sudah dipastikan. Dan yang paling menarik, kebenaran tidak perlu hadir, cukup diwakili oleh “katanya”.

Kasus ijazah palsu yang konon menyeret tokoh besar dan pemodal besar itu pun hadir seperti serial drama yang tidak jelas jumlah episodenya. Awalnya kita kira ini mini seri, eh ternyata sinetron kejar tayang.

Setiap hari ada saja perkembangan: saksi baru, bukti lama, analisis dadakan, hingga pakar yang kemarin bicara ekonomi, hari ini tiba-tiba ahli forensik kertas. Publik pun bingung, ini sedang menyaksikan proses hukum atau audisi “Indonesia Mencari Kepastian”?

Di tengah kekacauan itu, rumor tampil seperti selebritas papan atas, tidak pernah benar-benar diundang, tapi selalu berhasil mencuri perhatian. Ia datang tanpa identitas, tapi punya daya sebar lebih cepat daripada undangan kondangan digital. Dan seperti biasa, begitu rumor muncul, kita semua mendadak jadi detektif. Bedanya, detektif sungguhan mencari bukti, sementara kita cukup mencari “yang sejalan dengan perasaan”.

Kalau dipilah, rumor ini memang punya dua wajah. Wajah pertama adalah wajah rakyat biasa, yang mungkin sudah terlalu lama menunggu kejelasan, sampai akhirnya memilih membuat versi sendiri. Ini semacam “demokrasi imajinasi”: kalau fakta tak kunjung datang, ya sudah, kita produksi saja cerita alternatif. Toh, dalam dunia rumor, logika itu opsional, yang penting “masuk akal menurut hati”.

Di warung kopi, misalnya, seorang bapak bisa dengan yakin berkata, “Saya punya sumber terpercaya.” Ketika ditanya siapa sumbernya, ia menjawab dengan tenang, “Teman saya.” Ketika ditanya lagi teman siapa, jawabannya mulai kabur, “Pokoknya orang dalam.” Dalam konteks ini, “orang dalam” bisa berarti siapa saja, mulai dari pegawai kantor, tetangga, sampai mungkin tukang parkir yang pernah melihat seseorang lewat.

Wajah kedua adalah rumor yang lebih “elit”, lahir dari dapur politik yang penuh strategi. Ini bukan lagi sekadar kabar angin, tapi angin yang sudah diarahkan pakai kipas angin industri. Rumor jenis ini biasanya lebih rapi, lebih sistematis, dan kadang dilengkapi “bumbu ilmiah” agar terlihat kredibel. Ada potongan data, ada kutipan, ada grafik (meskipun sering tidak jelas sumbernya), pokoknya lengkap seperti skripsi, bedanya, tidak perlu diuji.

Di titik ini, saling tuding dan saling tuntut menjadi semacam koreografi yang indah, kalau dilihat dari jauh. Yang satu menunjuk dengan penuh keyakinan, yang lain membalas dengan gugatan. Yang dituduh berkata, “Ini fitnah!”, yang menuduh berkata, “Ini fakta!” Dan publik? Seperti penonton pertandingan bulu tangkis, kepala menoleh ke kiri dan ke kanan mengikuti arah shuttlecock tuduhan.

Lucunya, setiap pihak merasa paling rasional. Tidak ada yang merasa sedang berdrama, padahal dari luar, semuanya tampak seperti panggung teater absurd. Bahkan kadang kita tidak tahu mana yang lebih cepat: proses hukum atau proses viral. Karena seringkali, sebelum hakim sempat membaca berkas, netizen sudah lebih dulu menjatuhkan vonis, lengkap dengan analisis, meme, dan kadang juga soundtrack.

Di sinilah kita mulai menyadari bahwa dalam ekosistem seperti ini, kebenaran bukan lagi soal “apa yang terjadi”, tapi “apa yang dipercaya banyak orang”. Dan kepercayaan itu seringkali dibentuk bukan oleh data, melainkan oleh seberapa sering sesuatu diulang. Kalau sebuah rumor diulang cukup lama dan cukup sering, ia bisa naik pangkat menjadi “pengetahuan umum”. Padahal, kalau ditelusuri, asal-usulnya mungkin hanya dari satu kalimat: “katanya sih…”

Sementara itu, institusi formal, yang seharusnya menjadi penampung aspirasi dan penyaring kebenaran, sering terlihat seperti sedang antre di loket yang salah. Prosedurnya panjang, bahasanya rumit, dan waktunya lama. Di sisi lain, rumor bekerja seperti ojek online: cepat, fleksibel, dan langsung sampai ke tujuan (meskipun kadang alamatnya meleset jauh).

Maka tidak heran jika masyarakat kadang lebih percaya pada kabar angin daripada klarifikasi resmi. Bukan karena mereka anti kebenaran, tapi karena kebenaran versi resmi sering datang terlambat, seperti tamu yang datang saat acara sudah bubar. Sementara rumor sudah lebih dulu mengisi ruangan, duduk nyaman, bahkan sempat mengganti dekorasi.

Dan di tengah semua itu, gejala saling tuding dan saling tuntut terus berlangsung seperti lingkaran setan yang tidak mau pensiun. Setiap tuduhan melahirkan tuntutan, setiap tuntutan melahirkan tuduhan baru. Ini seperti permainan pingpong tanpa skor akhir, yang penting bukan menang atau kalah, tapi terus memukul bola agar permainan tidak berhenti.

Akhirnya, kita pun sampai pada satu pertanyaan yang agak menggelitik: apakah kita benar-benar ingin tahu kebenaran, atau sebenarnya kita hanya menikmati proses mencarinya, lengkap dengan dramanya? Karena kalau yang kedua, maka kita harus jujur bahwa politik di negeri ini bukan hanya soal kekuasaan, tapi juga soal hiburan.

Dan seperti semua hiburan, ia punya konsekuensi. Kita bisa tertawa, kita bisa terhibur, tapi jangan sampai lupa bahwa di balik semua rumor, tudingan, dan tuntutan itu, ada realitas yang menunggu untuk diselesaikan. Masalahnya, selama kita masih sibuk berdebat soal “katanya”, realitas itu mungkin akan terus antre, sambil geleng-geleng kepala melihat kita yang terlalu menikmati pertunjukan. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tumpek Landep dan Gen Z, Mengasah Pikiran di Era Digital

Next Post

Perayaan Besi, Menajamkan Pikiran

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Perayaan Besi, Menajamkan Pikiran

Perayaan Besi, Menajamkan Pikiran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co