25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negeri ’Katanya’: Tuduh Dulu, Buktikan Belakangan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
April 18, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

Di negeri ini, politik itu tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya berganti tempat tidur: kadang di gedung parlemen, kadang di layar televisi, dan seringnya justru di grup WhatsApp yang nama anggotanya lebih panjang daripada isi diskusinya. Di sana, keputusan tidak diambil, tapi kesimpulan sudah dipastikan. Dan yang paling menarik, kebenaran tidak perlu hadir, cukup diwakili oleh “katanya”.

Kasus ijazah palsu yang konon menyeret tokoh besar dan pemodal besar itu pun hadir seperti serial drama yang tidak jelas jumlah episodenya. Awalnya kita kira ini mini seri, eh ternyata sinetron kejar tayang.

Setiap hari ada saja perkembangan: saksi baru, bukti lama, analisis dadakan, hingga pakar yang kemarin bicara ekonomi, hari ini tiba-tiba ahli forensik kertas. Publik pun bingung, ini sedang menyaksikan proses hukum atau audisi “Indonesia Mencari Kepastian”?

Di tengah kekacauan itu, rumor tampil seperti selebritas papan atas, tidak pernah benar-benar diundang, tapi selalu berhasil mencuri perhatian. Ia datang tanpa identitas, tapi punya daya sebar lebih cepat daripada undangan kondangan digital. Dan seperti biasa, begitu rumor muncul, kita semua mendadak jadi detektif. Bedanya, detektif sungguhan mencari bukti, sementara kita cukup mencari “yang sejalan dengan perasaan”.

Kalau dipilah, rumor ini memang punya dua wajah. Wajah pertama adalah wajah rakyat biasa, yang mungkin sudah terlalu lama menunggu kejelasan, sampai akhirnya memilih membuat versi sendiri. Ini semacam “demokrasi imajinasi”: kalau fakta tak kunjung datang, ya sudah, kita produksi saja cerita alternatif. Toh, dalam dunia rumor, logika itu opsional, yang penting “masuk akal menurut hati”.

Di warung kopi, misalnya, seorang bapak bisa dengan yakin berkata, “Saya punya sumber terpercaya.” Ketika ditanya siapa sumbernya, ia menjawab dengan tenang, “Teman saya.” Ketika ditanya lagi teman siapa, jawabannya mulai kabur, “Pokoknya orang dalam.” Dalam konteks ini, “orang dalam” bisa berarti siapa saja, mulai dari pegawai kantor, tetangga, sampai mungkin tukang parkir yang pernah melihat seseorang lewat.

Wajah kedua adalah rumor yang lebih “elit”, lahir dari dapur politik yang penuh strategi. Ini bukan lagi sekadar kabar angin, tapi angin yang sudah diarahkan pakai kipas angin industri. Rumor jenis ini biasanya lebih rapi, lebih sistematis, dan kadang dilengkapi “bumbu ilmiah” agar terlihat kredibel. Ada potongan data, ada kutipan, ada grafik (meskipun sering tidak jelas sumbernya), pokoknya lengkap seperti skripsi, bedanya, tidak perlu diuji.

Di titik ini, saling tuding dan saling tuntut menjadi semacam koreografi yang indah, kalau dilihat dari jauh. Yang satu menunjuk dengan penuh keyakinan, yang lain membalas dengan gugatan. Yang dituduh berkata, “Ini fitnah!”, yang menuduh berkata, “Ini fakta!” Dan publik? Seperti penonton pertandingan bulu tangkis, kepala menoleh ke kiri dan ke kanan mengikuti arah shuttlecock tuduhan.

Lucunya, setiap pihak merasa paling rasional. Tidak ada yang merasa sedang berdrama, padahal dari luar, semuanya tampak seperti panggung teater absurd. Bahkan kadang kita tidak tahu mana yang lebih cepat: proses hukum atau proses viral. Karena seringkali, sebelum hakim sempat membaca berkas, netizen sudah lebih dulu menjatuhkan vonis, lengkap dengan analisis, meme, dan kadang juga soundtrack.

Di sinilah kita mulai menyadari bahwa dalam ekosistem seperti ini, kebenaran bukan lagi soal “apa yang terjadi”, tapi “apa yang dipercaya banyak orang”. Dan kepercayaan itu seringkali dibentuk bukan oleh data, melainkan oleh seberapa sering sesuatu diulang. Kalau sebuah rumor diulang cukup lama dan cukup sering, ia bisa naik pangkat menjadi “pengetahuan umum”. Padahal, kalau ditelusuri, asal-usulnya mungkin hanya dari satu kalimat: “katanya sih…”

Sementara itu, institusi formal, yang seharusnya menjadi penampung aspirasi dan penyaring kebenaran, sering terlihat seperti sedang antre di loket yang salah. Prosedurnya panjang, bahasanya rumit, dan waktunya lama. Di sisi lain, rumor bekerja seperti ojek online: cepat, fleksibel, dan langsung sampai ke tujuan (meskipun kadang alamatnya meleset jauh).

Maka tidak heran jika masyarakat kadang lebih percaya pada kabar angin daripada klarifikasi resmi. Bukan karena mereka anti kebenaran, tapi karena kebenaran versi resmi sering datang terlambat, seperti tamu yang datang saat acara sudah bubar. Sementara rumor sudah lebih dulu mengisi ruangan, duduk nyaman, bahkan sempat mengganti dekorasi.

Dan di tengah semua itu, gejala saling tuding dan saling tuntut terus berlangsung seperti lingkaran setan yang tidak mau pensiun. Setiap tuduhan melahirkan tuntutan, setiap tuntutan melahirkan tuduhan baru. Ini seperti permainan pingpong tanpa skor akhir, yang penting bukan menang atau kalah, tapi terus memukul bola agar permainan tidak berhenti.

Akhirnya, kita pun sampai pada satu pertanyaan yang agak menggelitik: apakah kita benar-benar ingin tahu kebenaran, atau sebenarnya kita hanya menikmati proses mencarinya, lengkap dengan dramanya? Karena kalau yang kedua, maka kita harus jujur bahwa politik di negeri ini bukan hanya soal kekuasaan, tapi juga soal hiburan.

Dan seperti semua hiburan, ia punya konsekuensi. Kita bisa tertawa, kita bisa terhibur, tapi jangan sampai lupa bahwa di balik semua rumor, tudingan, dan tuntutan itu, ada realitas yang menunggu untuk diselesaikan. Masalahnya, selama kita masih sibuk berdebat soal “katanya”, realitas itu mungkin akan terus antre, sambil geleng-geleng kepala melihat kita yang terlalu menikmati pertunjukan. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tumpek Landep dan Gen Z, Mengasah Pikiran di Era Digital

Next Post

Perayaan Besi, Menajamkan Pikiran

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Perayaan Besi, Menajamkan Pikiran

Perayaan Besi, Menajamkan Pikiran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co