23 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aoroville: Kota Eksperimental

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
May 4, 2026
in Esai
Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo

Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi menyatukan dua arus kesadaran. Pertemuan antara Mirra Alfassa—yang kelak dikenal sebagai The Mother—dan Sri Aurobindo adalah salah satu di antaranya. Ia bukan sekadar peristiwa historis, melainkan sebuah titik balik dalam evolusi spiritual modern.

Mirra lahir di Paris, tumbuh dalam atmosfer rasionalitas Barat, namun sejak kecil telah mengalami pengalaman batin yang sulit dijelaskan oleh logika. Ia merasakan kehadiran suatu kesadaran universal yang membimbingnya dari dalam. Di sisi lain, Sri Aurobindo adalah seorang intelektual brilian lulusan Inggris, pejuang kemerdekaan India, yang kemudian berbalik sepenuhnya ke dalam dunia spiritual setelah mengalami realisasi mendalam dalam kesunyian.

Pertemuan pertama mereka terjadi pada tahun 1914 di Pondicherry, India. Namun, yang menarik adalah pengakuan spontan dari Mirra: ia merasa telah “mengenal” Aurobindo jauh sebelum bertemu secara fisik. Dalam pengalaman batinnya, sosok yang ia temui dalam meditasi ternyata adalah Aurobindo sendiri. Ini memberi kesan bahwa hubungan mereka bukan dimulai dari dunia luar, melainkan dari dimensi kesadaran yang lebih dalam.

Bagi Aurobindo, kehadiran Mirra bukan sekadar murid atau pengikut. Ia melihatnya sebagai mitra spiritual—bahkan sebagai manifestasi dari kekuatan ilahi yang ia sebut sebagai Shakti. Dalam perjalanan yoga integral yang ia kembangkan, aspek transformasi tidak hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif. Dan di sinilah peran Mirra menjadi sentral.

Jika Aurobindo adalah visi dan kesadaran, maka Mirra adalah energi yang mewujudkan visi itu ke dalam bentuk nyata. Kolaborasi mereka melampaui relasi guru-murid; ia adalah sinergi kosmis antara kesadaran dan kekuatan.

Setelah kembali ke Pondicherry pada tahun 1920, Mirra menetap dan mulai membangun komunitas spiritual yang kemudian dikenal sebagai Sri Aurobindo Ashram. Di bawah bimbingan Aurobindo dan kepemimpinan praktis The Mother, ashram ini menjadi laboratorium hidup bagi eksperimen kesadaran.

Menariknya, Aurobindo sendiri semakin menarik diri ke dalam keheningan, sementara Mirra mengambil peran aktif dalam membimbing para sadhaka (praktisi spiritual). Ini bukan pembagian peran biasa, tetapi strategi kesadaran: satu bekerja dari dalam, yang lain dari luar.

Pertemuan mereka mengajarkan sesuatu yang mendalam—bahwa evolusi manusia tidak hanya bergantung pada pencarian individu, tetapi juga pada pertemuan yang tepat. Ada resonansi tertentu yang, ketika bertemu, menciptakan lompatan kesadaran.

Dalam konteks yang lebih luas, kisah ini menantang cara kita memandang hubungan manusia. Apakah setiap pertemuan hanyalah kebetulan? Ataukah ada desain kesadaran yang lebih besar yang mempertemukan jiwa-jiwa tertentu untuk tujuan tertentu?

Lebih jauh lagi, pertemuan ini menjadi fondasi bagi sebuah eksperimen besar yang melampaui batas agama, bangsa, dan ideologi—sebuah kota yang kelak dikenal sebagai Auroville.

Namun sebelum sampai ke sana, kita perlu memahami bahwa tanpa pertemuan ini, mungkin tidak akan pernah ada Auroville. Kota itu bukan sekadar proyek arsitektur atau sosial, tetapi manifestasi dari kesadaran yang lahir dari pertemuan dua jiwa.

Pertanyaannya:
Apakah dalam kehidupan kita, kita cukup peka untuk mengenali pertemuan-pertemuan yang berpotensi mengubah arah hidup kita?
Dan jika kita menemukannya—apakah kita berani menjalaninya sepenuhnya?

Auroville: Ketika Visi Menjadi Kota

Jika pertemuan antara Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo adalah benih, maka Auroville adalah pohon yang tumbuh darinya—sebuah eksperimen berani untuk menerjemahkan kesadaran ke dalam kehidupan kolektif.

Didirikan pada tahun 1968 di dekat Pondicherry, Auroville bukan sekadar kota. Ia adalah sebuah “proyek kesadaran”. Dalam pidato peresmiannya, The Mother menyampaikan visi yang radikal: Auroville adalah milik seluruh umat manusia, tempat di mana orang dari berbagai negara dapat hidup bersama tanpa identitas sempit kebangsaan, agama, atau kepentingan politik.

Di tengah dunia yang terus terfragmentasi oleh identitas, gagasan ini terasa hampir utopis. Namun justru di situlah daya tariknya.

Secara fisik, Auroville dirancang sebagai kota universal dengan pusat spiritualnya yang dikenal sebagai Matrimandir. Bangunan berbentuk bola emas ini bukan tempat ibadah dalam pengertian tradisional, melainkan ruang keheningan—sebuah simbol bahwa pusat kehidupan bukanlah ideologi, melainkan kesadaran.

Tidak ada agama resmi di Auroville. Tidak ada politik dalam arti konvensional. Bahkan konsep kepemilikan pribadi diminimalkan. Semua ini bukan karena penolakan terhadap dunia, tetapi karena upaya melampauinya.

Namun tentu saja, realitas tidak sesederhana visi.

Dalam praktiknya, Auroville menghadapi berbagai dinamika: perbedaan budaya, cara berpikir, bahkan konflik kepentingan. Bagaimana mungkin orang dari berbagai latar belakang hidup tanpa struktur yang jelas? Bagaimana keputusan diambil tanpa sistem kekuasaan yang tegas?

Pertanyaan-pertanyaan ini justru menjadi bagian dari eksperimen itu sendiri.

Auroville bukanlah tempat yang sudah “selesai”. Ia adalah proses yang terus berlangsung. Di sana, kegagalan bukanlah akhir, tetapi bagian dari pembelajaran kolektif. Dalam banyak hal, Auroville mencerminkan kondisi batin manusia itu sendiri: penuh idealisme, namun juga bergulat dengan ego, keterbatasan, dan realitas sehari-hari.

Yang menarik, Auroville juga menjadi laboratorium untuk keberlanjutan. Banyak inisiatif di sana berfokus pada energi terbarukan, pertanian organik, dan gaya hidup sederhana. Ini bukan sekadar tren, tetapi konsekuensi logis dari kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasanya.

Dalam konteks dunia modern yang semakin kompleks, Auroville seperti cermin. Ia menunjukkan kemungkinan lain—bahwa kehidupan tidak harus selalu didorong oleh kompetisi, akumulasi, dan dominasi.

Namun ia juga mengingatkan: visi besar membutuhkan kesadaran besar. Tanpa transformasi batin, struktur luar akan selalu kembali ke pola lama.

Mungkin di sinilah makna terdalam Auroville: bukan sebagai model sempurna, tetapi sebagai pertanyaan hidup.

Bisakah manusia benar-benar hidup tanpa identitas yang memisahkan?
Bisakah komunitas dibangun di atas kesadaran, bukan kepentingan?
Dan yang lebih mendasar—apakah kita siap berubah, atau hanya ingin dunia yang berubah?

Masa Depan Auroville: Antara Harapan dan Tantangan

Setiap eksperimen besar akan diuji oleh waktu. Begitu pula dengan Auroville. Setelah lebih dari setengah abad sejak didirikan, pertanyaannya bukan lagi “apa itu Auroville?”, tetapi “ke mana ia akan menuju?”

Visi yang diletakkan oleh Mirra Alfassa dan berakar pada pemikiran Sri Aurobindo memang melampaui zamannya. Namun justru karena itu, ia menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Salah satu tantangan utama adalah menjaga keseimbangan antara idealisme dan realitas. Ketika jumlah penduduk bertambah dan kebutuhan hidup meningkat, tekanan terhadap sistem sosial dan ekonomi menjadi semakin nyata. Bagaimana mempertahankan semangat tanpa kepemilikan pribadi dalam dunia yang sangat materialistik?

Di sisi lain, ada juga tantangan internal: perbedaan interpretasi terhadap visi awal. Tidak semua orang memahami Auroville dengan cara yang sama. Ada yang melihatnya sebagai proyek spiritual, ada pula yang memandangnya sebagai eksperimen sosial atau bahkan sekadar komunitas alternatif.

Perbedaan ini bisa menjadi kekayaan, tetapi juga potensi konflik.

Selain itu, hubungan dengan pemerintah India dan dunia luar juga menjadi faktor penting. Auroville tidak berdiri di ruang hampa; ia berada dalam konteks negara dan sistem global. Ketegangan antara otonomi komunitas dan regulasi eksternal menjadi isu yang terus berkembang.

Namun di balik semua tantangan itu, ada peluang besar.

Di era krisis global—perubahan iklim, ketimpangan sosial, krisis makna hidup—gagasan yang dibawa Auroville justru semakin relevan. Dunia mulai mencari alternatif: kehidupan yang lebih berkelanjutan, komunitas yang lebih manusiawi, dan makna yang melampaui materi.

Auroville, dengan segala keterbatasannya, telah lebih dulu mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Masa depan Auroville mungkin tidak terletak pada kesempurnaannya, tetapi pada keberaniannya untuk terus bereksperimen. Ia tidak harus menjadi model yang ditiru secara utuh, tetapi bisa menjadi inspirasi—bahwa kemungkinan lain itu ada.

Dalam konteks pribadi, Auroville juga mengajarkan sesuatu yang sederhana namun mendalam: bahwa perubahan dunia tidak bisa dipisahkan dari perubahan diri.

Jika manusia tetap membawa ego, ketakutan, dan keinginan untuk mendominasi, maka sistem apa pun akan mengulang pola lama. Tetapi jika kesadaran berubah, bahkan struktur sederhana pun bisa menjadi ruang transformasi.

Mungkin pada akhirnya, masa depan Auroville bukan hanya tentang kota itu sendiri, tetapi tentang manusia yang terinspirasi olehnya.

Apakah kita berani membayangkan dunia tanpa sekat?
Apakah kita siap hidup lebih sederhana namun lebih sadar?
Dan yang paling penting—apakah kita mau menjadi bagian dari perubahan itu, sekecil apa pun? [T]

Tags: AurovilleindiaKota
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

Next Post

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails
Next Post
Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

Desa Adat Batur Bangun 'Cihna' di Titik Nol Batur Let ---Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co