4 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aoroville: Kota Eksperimental

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
May 4, 2026
in Esai
Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo

Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi menyatukan dua arus kesadaran. Pertemuan antara Mirra Alfassa—yang kelak dikenal sebagai The Mother—dan Sri Aurobindo adalah salah satu di antaranya. Ia bukan sekadar peristiwa historis, melainkan sebuah titik balik dalam evolusi spiritual modern.

Mirra lahir di Paris, tumbuh dalam atmosfer rasionalitas Barat, namun sejak kecil telah mengalami pengalaman batin yang sulit dijelaskan oleh logika. Ia merasakan kehadiran suatu kesadaran universal yang membimbingnya dari dalam. Di sisi lain, Sri Aurobindo adalah seorang intelektual brilian lulusan Inggris, pejuang kemerdekaan India, yang kemudian berbalik sepenuhnya ke dalam dunia spiritual setelah mengalami realisasi mendalam dalam kesunyian.

Pertemuan pertama mereka terjadi pada tahun 1914 di Pondicherry, India. Namun, yang menarik adalah pengakuan spontan dari Mirra: ia merasa telah “mengenal” Aurobindo jauh sebelum bertemu secara fisik. Dalam pengalaman batinnya, sosok yang ia temui dalam meditasi ternyata adalah Aurobindo sendiri. Ini memberi kesan bahwa hubungan mereka bukan dimulai dari dunia luar, melainkan dari dimensi kesadaran yang lebih dalam.

Bagi Aurobindo, kehadiran Mirra bukan sekadar murid atau pengikut. Ia melihatnya sebagai mitra spiritual—bahkan sebagai manifestasi dari kekuatan ilahi yang ia sebut sebagai Shakti. Dalam perjalanan yoga integral yang ia kembangkan, aspek transformasi tidak hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif. Dan di sinilah peran Mirra menjadi sentral.

Jika Aurobindo adalah visi dan kesadaran, maka Mirra adalah energi yang mewujudkan visi itu ke dalam bentuk nyata. Kolaborasi mereka melampaui relasi guru-murid; ia adalah sinergi kosmis antara kesadaran dan kekuatan.

Setelah kembali ke Pondicherry pada tahun 1920, Mirra menetap dan mulai membangun komunitas spiritual yang kemudian dikenal sebagai Sri Aurobindo Ashram. Di bawah bimbingan Aurobindo dan kepemimpinan praktis The Mother, ashram ini menjadi laboratorium hidup bagi eksperimen kesadaran.

Menariknya, Aurobindo sendiri semakin menarik diri ke dalam keheningan, sementara Mirra mengambil peran aktif dalam membimbing para sadhaka (praktisi spiritual). Ini bukan pembagian peran biasa, tetapi strategi kesadaran: satu bekerja dari dalam, yang lain dari luar.

Pertemuan mereka mengajarkan sesuatu yang mendalam—bahwa evolusi manusia tidak hanya bergantung pada pencarian individu, tetapi juga pada pertemuan yang tepat. Ada resonansi tertentu yang, ketika bertemu, menciptakan lompatan kesadaran.

Dalam konteks yang lebih luas, kisah ini menantang cara kita memandang hubungan manusia. Apakah setiap pertemuan hanyalah kebetulan? Ataukah ada desain kesadaran yang lebih besar yang mempertemukan jiwa-jiwa tertentu untuk tujuan tertentu?

Lebih jauh lagi, pertemuan ini menjadi fondasi bagi sebuah eksperimen besar yang melampaui batas agama, bangsa, dan ideologi—sebuah kota yang kelak dikenal sebagai Auroville.

Namun sebelum sampai ke sana, kita perlu memahami bahwa tanpa pertemuan ini, mungkin tidak akan pernah ada Auroville. Kota itu bukan sekadar proyek arsitektur atau sosial, tetapi manifestasi dari kesadaran yang lahir dari pertemuan dua jiwa.

Pertanyaannya:
Apakah dalam kehidupan kita, kita cukup peka untuk mengenali pertemuan-pertemuan yang berpotensi mengubah arah hidup kita?
Dan jika kita menemukannya—apakah kita berani menjalaninya sepenuhnya?

Auroville: Ketika Visi Menjadi Kota

Jika pertemuan antara Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo adalah benih, maka Auroville adalah pohon yang tumbuh darinya—sebuah eksperimen berani untuk menerjemahkan kesadaran ke dalam kehidupan kolektif.

Didirikan pada tahun 1968 di dekat Pondicherry, Auroville bukan sekadar kota. Ia adalah sebuah “proyek kesadaran”. Dalam pidato peresmiannya, The Mother menyampaikan visi yang radikal: Auroville adalah milik seluruh umat manusia, tempat di mana orang dari berbagai negara dapat hidup bersama tanpa identitas sempit kebangsaan, agama, atau kepentingan politik.

Di tengah dunia yang terus terfragmentasi oleh identitas, gagasan ini terasa hampir utopis. Namun justru di situlah daya tariknya.

Secara fisik, Auroville dirancang sebagai kota universal dengan pusat spiritualnya yang dikenal sebagai Matrimandir. Bangunan berbentuk bola emas ini bukan tempat ibadah dalam pengertian tradisional, melainkan ruang keheningan—sebuah simbol bahwa pusat kehidupan bukanlah ideologi, melainkan kesadaran.

Tidak ada agama resmi di Auroville. Tidak ada politik dalam arti konvensional. Bahkan konsep kepemilikan pribadi diminimalkan. Semua ini bukan karena penolakan terhadap dunia, tetapi karena upaya melampauinya.

Namun tentu saja, realitas tidak sesederhana visi.

Dalam praktiknya, Auroville menghadapi berbagai dinamika: perbedaan budaya, cara berpikir, bahkan konflik kepentingan. Bagaimana mungkin orang dari berbagai latar belakang hidup tanpa struktur yang jelas? Bagaimana keputusan diambil tanpa sistem kekuasaan yang tegas?

Pertanyaan-pertanyaan ini justru menjadi bagian dari eksperimen itu sendiri.

Auroville bukanlah tempat yang sudah “selesai”. Ia adalah proses yang terus berlangsung. Di sana, kegagalan bukanlah akhir, tetapi bagian dari pembelajaran kolektif. Dalam banyak hal, Auroville mencerminkan kondisi batin manusia itu sendiri: penuh idealisme, namun juga bergulat dengan ego, keterbatasan, dan realitas sehari-hari.

Yang menarik, Auroville juga menjadi laboratorium untuk keberlanjutan. Banyak inisiatif di sana berfokus pada energi terbarukan, pertanian organik, dan gaya hidup sederhana. Ini bukan sekadar tren, tetapi konsekuensi logis dari kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasanya.

Dalam konteks dunia modern yang semakin kompleks, Auroville seperti cermin. Ia menunjukkan kemungkinan lain—bahwa kehidupan tidak harus selalu didorong oleh kompetisi, akumulasi, dan dominasi.

Namun ia juga mengingatkan: visi besar membutuhkan kesadaran besar. Tanpa transformasi batin, struktur luar akan selalu kembali ke pola lama.

Mungkin di sinilah makna terdalam Auroville: bukan sebagai model sempurna, tetapi sebagai pertanyaan hidup.

Bisakah manusia benar-benar hidup tanpa identitas yang memisahkan?
Bisakah komunitas dibangun di atas kesadaran, bukan kepentingan?
Dan yang lebih mendasar—apakah kita siap berubah, atau hanya ingin dunia yang berubah?

Masa Depan Auroville: Antara Harapan dan Tantangan

Setiap eksperimen besar akan diuji oleh waktu. Begitu pula dengan Auroville. Setelah lebih dari setengah abad sejak didirikan, pertanyaannya bukan lagi “apa itu Auroville?”, tetapi “ke mana ia akan menuju?”

Visi yang diletakkan oleh Mirra Alfassa dan berakar pada pemikiran Sri Aurobindo memang melampaui zamannya. Namun justru karena itu, ia menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Salah satu tantangan utama adalah menjaga keseimbangan antara idealisme dan realitas. Ketika jumlah penduduk bertambah dan kebutuhan hidup meningkat, tekanan terhadap sistem sosial dan ekonomi menjadi semakin nyata. Bagaimana mempertahankan semangat tanpa kepemilikan pribadi dalam dunia yang sangat materialistik?

Di sisi lain, ada juga tantangan internal: perbedaan interpretasi terhadap visi awal. Tidak semua orang memahami Auroville dengan cara yang sama. Ada yang melihatnya sebagai proyek spiritual, ada pula yang memandangnya sebagai eksperimen sosial atau bahkan sekadar komunitas alternatif.

Perbedaan ini bisa menjadi kekayaan, tetapi juga potensi konflik.

Selain itu, hubungan dengan pemerintah India dan dunia luar juga menjadi faktor penting. Auroville tidak berdiri di ruang hampa; ia berada dalam konteks negara dan sistem global. Ketegangan antara otonomi komunitas dan regulasi eksternal menjadi isu yang terus berkembang.

Namun di balik semua tantangan itu, ada peluang besar.

Di era krisis global—perubahan iklim, ketimpangan sosial, krisis makna hidup—gagasan yang dibawa Auroville justru semakin relevan. Dunia mulai mencari alternatif: kehidupan yang lebih berkelanjutan, komunitas yang lebih manusiawi, dan makna yang melampaui materi.

Auroville, dengan segala keterbatasannya, telah lebih dulu mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Masa depan Auroville mungkin tidak terletak pada kesempurnaannya, tetapi pada keberaniannya untuk terus bereksperimen. Ia tidak harus menjadi model yang ditiru secara utuh, tetapi bisa menjadi inspirasi—bahwa kemungkinan lain itu ada.

Dalam konteks pribadi, Auroville juga mengajarkan sesuatu yang sederhana namun mendalam: bahwa perubahan dunia tidak bisa dipisahkan dari perubahan diri.

Jika manusia tetap membawa ego, ketakutan, dan keinginan untuk mendominasi, maka sistem apa pun akan mengulang pola lama. Tetapi jika kesadaran berubah, bahkan struktur sederhana pun bisa menjadi ruang transformasi.

Mungkin pada akhirnya, masa depan Auroville bukan hanya tentang kota itu sendiri, tetapi tentang manusia yang terinspirasi olehnya.

Apakah kita berani membayangkan dunia tanpa sekat?
Apakah kita siap hidup lebih sederhana namun lebih sadar?
Dan yang paling penting—apakah kita mau menjadi bagian dari perubahan itu, sekecil apa pun? [T]

Tags: AurovilleindiaKota
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

Next Post

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
0
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

Read moreDetails

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
0
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

Read moreDetails

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

by I Wayan Artika
July 2, 2026
0
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

Read moreDetails

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
0
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

Read moreDetails

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
0
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

Read moreDetails

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

by Iko Amadeus
June 30, 2026
0
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

Read moreDetails

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
0
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

Read moreDetails

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
0
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

Read moreDetails

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

by Angga Wijaya
June 29, 2026
0
Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

Read moreDetails

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
0
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

Read moreDetails
Next Post
Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

Desa Adat Batur Bangun 'Cihna' di Titik Nol Batur Let ---Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat
Ulas Rupa

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

by Hartanto
July 4, 2026
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.
Kritik Seni

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

by Made Chandra
July 4, 2026
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya
Kritik Seni

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen
Ulas Buku

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali
Panggung

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan
Esai

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4
Panggung

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada...

by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa
Esai

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

by I Wayan Artika
July 2, 2026
Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali
Khas

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring...

by Dede Putra Wiguna
July 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co