19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumah Kata di Jalan Nangka

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 9, 2026
in Persona
Rumah Kata di Jalan Nangka

I Wayan Suardika

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu tampak sederhana, lebih menyerupai ruko biasa daripada sebuah ruang yang menjadi rumah bagi begitu banyak buku, naskah, dan percakapan tentang sastra.

Di depan sebuah laptop, I Wayan Suardika duduk tekun mengetik. Jemarinya bergerak pelan, tetapi mantap. Sesekali ia berhenti sejenak, lalu kembali menulis. Di sampingnya duduk Henny, istrinya, yang setia mendampingi.

Tak ada percakapan yang terdengar di antara mereka. Henny mengambil secarik kertas, menuliskan beberapa kalimat, lalu menyodorkannya kepada Suardika. Pada kesempatan lain, ia memilih mengetik pesan di layar telepon genggam agar suaminya dapat membacanya. Begitulah cara mereka berkomunikasi sejak meningitis merenggut pendengaran Suardika beberapa tahun silam.

Pemandangan itu sempat membuat saya terdiam. Bukan karena iba, melainkan karena takjub. Di hadapan saya bukan seorang lelaki yang kalah oleh penyakit, melainkan seorang pekerja kebudayaan yang terus menjalani rutinitasnya. Sunyi memang telah mengambil pendengarannya, tetapi tidak pernah mengambil disiplin, daya cipta, dan kecintaannya pada dunia tulis-menulis.

Saya datang untuk berbincang dengannya. Namun sebelum percakapan dimulai, saya lebih dahulu belajar dari sebuah pemandangan sederhana: bahwa keterbatasan ternyata tidak selalu berarti berhenti. Ada orang-orang yang memilih terus menyalakan api hidupnya, dan I Wayan Suardika adalah salah satunya.

Ia kemudian mengangkat wajah dan menyambut saya dengan senyum yang hangat. Kami berjabat tangan. Henny membantu menjembatani percakapan kami. Ada kalanya ia menuliskan pertanyaan saya di secarik kertas, ada kalanya mengetiknya di layar telepon genggam. Suardika membacanya dengan saksama, lalu menjawab dengan suara yang masih jelas, meski ia sendiri tak lagi dapat mendengar bunyi suaranya seperti dahulu.

Percakapan kami berlangsung berjam-jam. Waktu seperti berjalan lebih lambat di ruangan itu. Rak-rak buku mengelilingi kami. Di sela-sela obrolan, sesekali ada tamu yang datang, melihat-lihat buku, lalu berbincang sebentar. Pustaka Bali Seni bukan sekadar toko buku atau penerbit. Tempat itu terasa seperti ruang singgah bagi para penulis, perupa, wartawan, mahasiswa, dan siapa saja yang masih percaya bahwa buku dapat menghubungkan manusia dengan manusia lainnya.

Saya sengaja datang bukan hanya untuk bersilaturahmi. Ada keinginan yang telah lama saya pendam, yakni mendengar langsung perjalanan hidup seorang penulis yang telah membaktikan sebagian besar usianya kepada kata-kata. Selama ini saya mengenalnya melalui puisi, esai, dan aktivitasnya di dunia sastra Bali. Namun siang itu saya ingin mengenal manusia di balik semua karya itu.

Yang menarik, Suardika hampir tidak pernah berbicara tentang penghargaan, ketenaran, atau pencapaian. Ia justru lebih banyak bercerita tentang kerja. Tentang kebiasaan menulis setiap hari, naskah yang harus disunting, atau tentang buku yang sedang disiapkan. Juga penerbitan yang harus tetap berjalan. Bagi dirinya, menulis bukanlah ledakan inspirasi yang datang sesekali, melainkan pekerjaan yang menuntut disiplin dari hari ke hari.

Di tengah percakapan itulah ia kembali mengucapkan sebuah kalimat yang sesungguhnya pernah beberapa kali saya dengar darinya. “Menulis bisa membuat orang hidup sejahtera”. Suardika mengatakannya tanpa nada menggurui. Tidak pula terdengar seperti slogan untuk menyemangati penulis muda. Kalimat itu lahir dari pengalaman hidup yang telah dijalani puluhan tahun. Ia tahu benar apa yang diucapkannya karena seluruh perjalanan hidupnya menjadi bukti atas keyakinan tersebut.

Banyak orang menganggap dunia kepenulisan identik dengan kemiskinan. Menjadi penyair dianggap tidak menjanjikan. Menjadi sastrawan sering dipandang sebagai pekerjaan sambilan. Suardika justru membalik anggapan itu. Baginya, kesejahteraan bukanlah sesuatu yang turun dari langit, melainkan hasil dari kesungguhan membangun profesi sebagai penulis.

Ia tidak berhenti pada puisi. Ia menulis cerpen, esai, novel, kritik sastra, kritik seni rupa, hingga karya-karya jurnalistik ketika berkarier sebagai wartawan. Ia menjadi editor, menyunting naskah penulis lain, mengelola majalah, menerbitkan buku, dan membangun Pustaka Bali Seni sebagai ruang yang mempertemukan karya dengan pembacanya. Semua itu saling menopang, membentuk sebuah ekosistem kerja yang bertumpu pada kemampuan berpikir dan menulis.

Saya mendengarkannya sambil sesekali mengangguk. Di tengah situasi ketika banyak orang meragukan masa depan dunia literasi, saya justru berhadapan dengan seseorang yang selama puluhan tahun membuktikan bahwa kata-kata dapat menjadi sumber penghidupan. Tidak mewah, mungkin. Namun cukup untuk menjaga martabat, menghidupi keluarga, dan tetap merdeka sebagai seorang penulis.

Dalam perjalanan hidup seorang penulis, selalu ada bab yang tidak pernah direncanakan. Bagi I Wayan Suardika, bab itu datang dalam bentuk penyakit. Meningitis menyerangnya beberapa tahun silam. Penyakit itu tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga meninggalkan jejak yang mengubah hidupnya secara permanen. Pendengarannya hilang. Dunia yang selama puluhan tahun diisi oleh suara percakapan, diskusi, dering telepon, hiruk pikuk ruang redaksi, dan pembacaan puisi mendadak menjadi sunyi.

Bagi banyak orang, kehilangan pendengaran mungkin berarti berakhirnya banyak hal. Terlebih bagi seorang wartawan yang terbiasa melakukan wawancara atau seorang sastrawan yang menikmati diskusi panjang bersama sesama penulis. Tidak sedikit orang yang memilih berhenti ketika tubuhnya tak lagi mampu mengikuti ritme kehidupan sebelumnya.

Namun Suardika memilih jalan yang lain. Ia beradaptasi. Cara berkomunikasinya berubah. Henny menjadi jembatan yang tak tergantikan dalam kehidupan sehari-harinya. Pertanyaan-pertanyaan ditulis di atas secarik kertas atau diketik di layar telepon genggam. Jawaban-jawaban mengalir sebagaimana biasa. Percakapan memang menjadi lebih lambat, tetapi maknanya justru terasa lebih dalam. Setiap kalimat dibaca dengan saksama. Setiap respons lahir setelah dipikirkan.

Saya merasakan sendiri pengalaman itu. Tidak ada kesan bahwa percakapan kami menjadi canggung. Yang berubah hanyalah mediumnya. Kehangatan dan keramahan tetap sama. Semangatnya pun tetap sama. Mungkin karena itu saya sama sekali tidak melihat seorang yang sedang berkutat dengan keterbatasan. Saya justru melihat seseorang yang telah berdamai dengan keadaan.

Ada ketenangan yang sulit dijelaskan ketika ia berbicara tentang pekerjaannya. Seolah-olah penyakit hanyalah satu peristiwa dalam hidup, bukan identitas yang harus terus-menerus dibawa ke mana pun ia pergi..Saya kemudian memahami bahwa yang membuatnya tetap tegak bukan semata-mata kekuatan fisik, melainkan kebiasaan yang telah dibangun selama puluhan tahun. Menulis telah menjadi bagian dari hidupnya, seperti bernapas. Ia tidak menunggu suasana hati baik untuk menulis. Atau, menunggu inspirasi datang. Menulis adalah pekerjaan yang harus dilakukan setiap hari.

Mungkin itulah sebabnya penyakit tidak berhasil memutus hubungan antara dirinya dan dunia kepenulisan. Tubuhnya memang berubah. Cara berkomunikasinya berubah. Tetapi disiplin kreatif yang telah dibangun bertahun-tahun tetap utuh.

Di tengah percakapan kami, saya berkali-kali memperhatikan laptop yang terbuka di hadapannya. Sebelum saya datang, ia sedang menulis. Setelah obrolan selesai pun, saya yakin ia akan kembali menulis. Pemandangan sederhana itu terasa begitu simbolis. Ada orang yang mengukur hidup dari jabatan, dan juga ada yang mengukur dari harta benda. Di hadapan saya, saya melihat seorang lelaki yang mengukur hidupnya dari halaman-halaman yang terus ia tulis.

Barangkali itulah sebabnya ia dapat mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa menulis mampu menyejahterakan hidup. Yang ia maksud bukan semata-mata kesejahteraan ekonomi, melainkan juga kesejahteraan batin. Menulis telah memberinya pekerjaan, pergaulan, ruang berpikir, dan alasan untuk tetap bangun setiap pagi.

Di zaman ketika perhatian orang mudah terpecah oleh layar-layar kecil di tangan mereka, Suardika justru terus percaya kepada sesuatu yang tampak sederhana, yakni, sebuah naskah yang dikerjakan dengan tekun, halaman demi halaman, hingga akhirnya menjadi buku yang menemukan pembacanya.

Kantor Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka Denpasar

Jauh sebelum Pustaka Bali Seni menjadi tempat berkumpulnya buku dan para penulis, I Wayan Suardika lebih dahulu membangun rumahnya sendiri di dalam dunia kata-kata. Ia memulai sebagaimana banyak sastrawan memulai, yakni dari puisi. Pada masa mudanya, puisi menjadi ruang untuk mengenali diri sekaligus membaca dunia di sekelilingnya. Dari puisi, ia belajar memilih kata, mengolah kepekaan, dan menyelami pengalaman manusia. Namun ia tidak membatasi dirinya pada satu bentuk sastra. Rasa ingin tahunya membawanya menjelajahi cerpen, esai, novel, kritik sastra, hingga kritik seni rupa.

Pilihan itu kemudian membawanya memasuki dunia jurnalistik. Di ruang redaksi, ia menemukan sekolah yang berbeda. Jika puisi mengajarkannya mendengar bisikan batin, jurnalistik mengajarkannya mendengar denyut kehidupan masyarakat. Ia belajar bekerja dengan tenggat waktu, memeriksa fakta, mewawancarai narasumber, menyunting naskah, dan menulis dengan disiplin setiap hari.

Barangkali di situlah dua dunia yang sering dipertentangkan itu justru bertemu dalam dirinya. Ia tidak melihat sastra dan jurnalistik sebagai dua kutub yang saling meniadakan. Sastra memberinya kedalaman cara pandang, sementara jurnalistik memberinya ketepatan dan kedisiplinan. Keduanya saling memperkaya.

Pengalaman panjang itulah yang membuat pandangannya tentang profesi penulis terasa membumi. Ia tidak berbicara tentang romantisme menjadi sastrawan. Ia berbicara tentang kerja, tentang konsistensi, dan tentang kesediaan untuk terus belajar dan menulis, bahkan ketika orang lain telah berhenti.

Dalam obrolan kami, saya menangkap kesan bahwa Suardika tidak pernah menunggu kesempatan datang. Ia menciptakan kesempatannya sendiri. Ketika satu pintu tertutup, ia membuka pintu yang lain. Dari menulis puisi, ia bergerak ke cerpen. Dari cerpen ke esai. Dari esai ke jurnalistik. Dari jurnalistik ke penyuntingan. Dari penyuntingan ke penerbitan. Semua itu membentuk mata rantai yang saling menghidupi.

Barangkali karena itulah ia begitu yakin ketika mengatakan bahwa menulis dapat menjadi sumber kesejahteraan. Ia tidak sedang membicarakan satu buku yang laris atau satu penghargaan bergengsi. Yang ia maksud adalah membangun kehidupan melalui kerja intelektual yang dilakukan dengan tekun, jujur, dan berkesinambungan.

Di tengah percakapan, saya sempat berpikir bahwa pandangan seperti ini semakin jarang terdengar. Banyak orang ingin segera dikenal sebagai penulis, tetapi tidak semua siap menjalani proses panjang yang menyertainya. Padahal, dari kisah hidup Suardika saya belajar bahwa reputasi bukanlah titik awal. Reputasi hanyalah akibat dari ketekunan yang dijalani bertahun-tahun.

Pustaka Bali Seni menjadi salah satu wujud paling nyata dari keyakinan itu. Tempat ini bukan hanya ruang untuk menjual buku. Ia adalah perpanjangan dari perjalanan hidup seorang penulis yang percaya bahwa kebudayaan harus memiliki rumah. Di rak-raknya tersimpan karya para penulis Bali dan Indonesia. Di meja kerjanya lahir naskah-naskah baru. Di ruang yang sederhana itu, ide-ide terus bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Saya membayangkan, mungkin tidak banyak orang yang menyadari bahwa tempat ini merupakan hasil dari puluhan tahun kerja yang sunyi. Sebuah ruang seperti Pustaka Bali Seni tidak dibangun dalam semalam. Ia lahir dari ribuan halaman yang ditulis, ratusan naskah yang disunting, puluhan buku yang diterbitkan, dan keyakinan bahwa kebudayaan membutuhkan orang-orang yang bersedia bekerja tanpa banyak sorotan.

Di sinilah saya mulai memahami mengapa Suardika selalu berbicara tentang profesi, bukan prestise. Baginya, menjadi penulis bukan soal terlihat hebat di hadapan publik. Menjadi penulis adalah kesediaan untuk kembali duduk di depan meja kerja setiap hari, membuka laptop, dan memulai lagi dari halaman yang kosong.

Jika ada yang ingin mengenal I Wayan Suardika, jangan hanya mendengarkan ceritanya. Bacalah buku-bukunya. Di sanalah jejak hidup, kegelisahan, dan pandangan dunianya tersimpan lebih utuh.

I Wayan Suardika

Produktivitas I Wayan Suardika dapat ditelusuri melalui buku-buku yang diterbitkannya dalam rentang hampir dua dekade. Kumpulan cerpen Orang Kalah (2008) menjadi tonggak penting dalam perjalanan kepengarangannya. Buku yang diterbitkan Pustaka Suardi itu dicetak sebanyak 750 eksemplar dan memperoleh penghargaan Widya Patakadari Gubernur Bali. Pengakuan tersebut menegaskan posisinya sebagai salah satu cerpenis yang diperhitungkan di Bali.

Dua tahun kemudian ia menerbitkan novel Cinta Beriak Tanda Tak Bertanya (2010), disusul Opera Periuk Nasi (2011). Kedua novel itu memperlihatkan kesungguhannya menggarap prosa panjang, sekaligus menunjukkan bahwa ia tidak ingin hanya dikenal sebagai penulis cerpen atau penyair.

Pada 2013, Suardika kembali menerbitkan kumpulan cerpen Sepotong Kartu Nama di Atas Meja Makan. Empat tahun berselang, produktivitasnya justru semakin meningkat melalui dua buku yang terbit hampir bersamaan, yakni novel Ni Meri dan kumpulan cerpen I Kolok, keduanya diterbitkan oleh Pustaka Bali Seni pada 2017.

Perjalanan kreatifnya berlanjut dengan novel Patah Tumbuh Tak Berganti (2021). Novel ini kemudian memperoleh penghargaan Bali Jani Nugrahadari Gubernur Bali, sebuah pengakuan yang kembali menegaskan konsistensinya sebagai novelis. Tiga tahun kemudian ia menerbitkan novel Orang Menang (2024), disusul antologi esai Karena Kopi Malam (2025). Kehadiran buku esai itu memperlihatkan keluasan wilayah kepenulisannya. Ia tidak hanya nyaman bekerja di ranah fiksi, tetapi juga piawai mengolah gagasan dan refleksi dalam bentuk esai.

Jika ditarik sebagai satu garis panjang, bibliografi tersebut memperlihatkan perkembangan yang menarik. Suardika tidak pernah menetap dalam satu genre. Ia bergerak dari cerpen ke novel, dari novel ke esai, sembari tetap aktif menulis karya jurnalistik, kritik sastra, dan kritik seni rupa. Produktivitas itu menjadi bukti bahwa baginya menulis bukan proyek sesaat, melainkan pekerjaan yang dijalani dengan disiplin selama puluhan tahun.

Di luar buku-bukunya, karya-karya Suardika juga tersebar di berbagai media nasional dan daerah. Cerpen, puisi, feature, ulasan seni rupa, hingga tulisan budaya dimuat di Bali Post, Kompas, Bali Echo, Karya Bhakti, Gadis, Anita Cemerlang, dan Sinar Harapan. Sementara di dunia jurnalistik, ia memulai sebagai penulis lepas pada pertengahan 1980-an sebelum kemudian menjadi Redaktur Seni, Budaya, dan Hiburan Harian Nusa Tenggara pada 1994–1996 serta mengelola majalah internal Wacana terbitan Yayasan Manikaya Kauci pada 1998–1999. Jejak tersebut memperlihatkan bahwa dunia sastra dan jurnalistik tumbuh berdampingan dalam perjalanan kreatifnya.

Produktivitasnya nyaris tidak pernah benar-benar berhenti. Dari waktu ke waktu ia terus menulis, menerbitkan, sekaligus merawat naskah-naskah penulis lain. Bibliografinya memperlihatkan seorang penulis yang tidak mau terjebak dalam satu genre. Ia bergerak leluasa dari puisi ke cerpen, dari novel ke esai, dari kritik sastra ke kritik seni rupa.

Buku, bagi Suardika, bukan benda mati yang menunggu pembaca datang. Buku harus bergerak. Harus diperkenalkan. Harus sampai ke tangan pembacanya. Karena itulah ia tidak canggung membawa sendiri buku-bukunya ke berbagai tempat, menemui komunitas, menghadiri diskusi, berbincang dengan pembaca, dan menjualnya secara langsung. Baginya, tidak ada yang lebih penting daripada memastikan sebuah buku benar-benar dibaca, bukan sekadar tersusun rapi di rak toko.

Cara pandang itu mengingatkan saya bahwa menjadi penulis sesungguhnya juga berarti menjadi pekerja. Ada romantisme dalam sastra, tetapi ada pula kerja yang sunyi, misalnya menyunting naskah hingga larut malam, mengurus percetakan, mengirim buku kepada pembaca, menghadiri peluncuran, hingga menjawab pesan orang yang ingin membeli buku. Semua itu adalah bagian dari profesi yang dijalani Suardika selama puluhan tahun.

Mungkin karena telah melewati seluruh proses itulah ia berbicara dengan keyakinan penuh ketika mengatakan kepada saya bahwa menulis dapat menghidupi seseorang. Ia tidak sedang menjual mimpi. Ia sedang menceritakan hidupnya sendiri.

Menjelang saya berpamitan, terjadi peristiwa kecil yang terus teringat hingga hari ini. Bli I Wayan Suardika mengambil dua buku terbaru saya. Ia membolak-balik halamannya sebentar, lalu berkata akan membelinya. Saya sempat merasa sungkan. Bukankah kami sama-sama penulis? Bukankah lebih mudah jika buku itu saya berikan sebagai hadiah?

Namun ia tetap bersikeras membayar. Bagi sebagian orang, peristiwa itu mungkin tampak sepele. Nilainya tidak seberapa. Tetapi bagi saya, justru di situlah saya melihat watak seorang penulis. Ia tidak sekadar berbicara tentang pentingnya menghargai karya. Ia mempraktikkannya.

Saya kemudian teringat pada petuah Hartanto, sastrawan dan juga wartawan asal Jawa yang telah puluhan tahun menetap di Bali. Ia pernah mengatakan kepada saya, jangan biasakan meminta buku gratis kepada kawan yang baru menerbitkan buku. Jika ingin menghargai kerja kreatifnya, belilah bukunya.

Kalimat itu kembali bergema ketika melihat Suardika mengeluarkan uang untuk membeli buku saya. Saya menyadari bahwa selama ini kita sering mengucapkan dukungan kepada dunia literasi, tetapi lupa melakukan tindakan yang paling sederhana, yaitu, membeli buku.

Padahal, setiap buku yang dibeli sesungguhnya bukan hanya membantu seorang penulis. Di balik satu eksemplar buku ada rantai panjang yang ikut hidup. Ada editor yang bekerja berhari-hari menyunting naskah. Ada desainer yang merancang sampul. Ada penata letak yang menyusun halaman, percetakan yang mencetaknya, penerbit yang menanggung risiko modal, ada toko buku yang menyediakan ruang. Dan tentu saja ada penulis yang menghabiskan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, menyelesaikan naskahnya.

Suardika memahami seluruh mata rantai itu karena ia pernah berada di hampir semua posisinya. Ia pernah menjadi penulis, wartawan, editor, penerbit, sekaligus penjual buku. Ia tahu bahwa sebuah buku tidak lahir begitu saja. Ia lahir dari kerja yang panjang, kesabaran, dan keyakinan.

Karena itu, membeli buku bukan semata-mata transaksi ekonomi. Ia adalah penghormatan kepada proses kreatif. Saya merasa, pelajaran paling berharga yang saya bawa pulang sore itu bukanlah teknik menulis, bukan pula rahasia menerbitkan buku. Pelajaran terbesar justru datang dari sikap hidup.

Bahwa seorang penulis sebaiknya tidak hanya menghasilkan buku, tetapi juga menjadi pembaca bagi penulis lain. Sastrawan tidak cukup hanya berbicara tentang kebudayaan, melainkan ikut membangun ekosistemnya. Juga, bahwa solidaritas di antara para penulis tidak selalu diwujudkan melalui pujian atau tepuk tangan, melainkan melalui tindakan sederhana, yakni membeli buku karya sesamanya.

Ketika saya melangkah keluar dari Pustaka Bali Seni, rolling door ruko itu masih terbuka. Di dalam, Bli Don, begitu ia kerap disapa kini, kembali duduk di depan laptopnya. Henny tetap berada di sampingnya, siap menjembatani percakapan dengan secarik kertas atau layar telepon genggam. Rutinitas itu akan terus berulang esok, lusa, dan entah sampai kapan.

Saya pulang dengan satu keyakinan yang terasa semakin kuat. Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, ketika perhatian orang mudah berpindah dari satu layar ke layar lain, masih ada seseorang yang percaya bahwa kehidupan dapat dibangun dengan kata-kata. I Wayan Suardika telah membuktikannya. Ia tidak sekadar hidup untuk menulis. Ia juga hidup dari menulis. Dan mungkin, itulah warisan terbesarnya bagi generasi penulis sesudahnya. [T]

Tags: sastrasastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali, Surga yang Sudah Overload

Next Post

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails
Next Post
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co