“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang masa kecilnya.
Maria ditinggalkan sang ayah ketika masih kelas 1 SD. Sejak saat itu, kasih sayang ibu dan nenek menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
“Yang membuat saya tumbuh dan tetap kuat karena dukungan dan kasih sayang dari nenek dan ibu saya,” kata Maria.
Kehilangan tidak membuat langkah Maria berhenti. Justru dari pengalaman masa kecil itulah tumbuh pribadi yang kemudian terbiasa menghadapi keadaan, belajar dari pengalaman, dan berusaha untuk tetap kuat.
Maria Margarheta Indrawati, begitu nama lengkapnya. Ia gadis asal Paka, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kini ia sedang berada jauh dari kampung halamannya. Di Taiwan.
Maria, mahasiswi Program Studi Perjalanan Wisata Universitas Triatma Mulya, memang tengah menjalani program magang di Wusanto Huching Resort Hotel, Taiwan.

Bagi Maria, berada di Taiwan bukan sekadar kesempatan bekerja di luar negeri. Ia ingin memperluas wawasan dan mengenal industri pariwisata dari lingkungan kerja yang berbeda. Di tempat itu pula ia kembali berhadapan dengan sebuah tantangan yang mengingatkannya pada satu hal yang sejak kecil terus ia lakukan: belajar.
Sejak kecil, Maria memang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Buku menjadi salah satu caranya mengenal dunia. Ia gemar membaca dan mengikuti berbagai perkembangan sebagai bekal memperluas wawasan. Baginya, belajar bukan sekadar soal mendapatkan nilai. Belajar adalah cara untuk mengubah pola pikir sekaligus mempersiapkan diri menghadapi perkembangan zaman.
Kecintaannya terhadap bahasa Inggris pun berawal dari sebuah pesan sederhana yang pernah disampaikan salah seorang saudaranya.
“Kalian harus bisa bahasa Inggris, karena bahasa Inggris bisa bikin banyak uang, dan bisa membawa kita keliling dunia,” kata Maria mengutip kalimat yang disampaikan saudaranya.
Kalimat itu melekat dalam ingatannya. Maria kemudian semakin serius mempelajari bahasa Inggris hingga melanjutkan pendidikan di SMK Cinta Damai, Manggarai Timur. Di sekolah, kesempatan untuk mengembangkan kemampuan itu datang melalui lomba debat bahasa Inggris. Maria dipercaya mewakili sekolah. Ia memang belum berhasil meraih kemenangan. Namun, pengalaman tersebut justru memberinya pelajaran yang tidak kalah penting dari sebuah piala.
“Saya banyak belajar dari tim lawan, yang kemampuan public speaking mereka sangat bagus meskipun menggunakan bahasa Inggris. Menurut saya, kemampuan itu bukan sesuatu yang mudah kalau tidak banyak belajar,” ujar Maria.
Dari sana, Maria memahami bahwa kalah tidak selalu berarti gagal. Ada sesuatu yang bisa dibawa pulang dari sebuah kekalahan: pengalaman dan keinginan untuk menjadi lebih baik.
Maria mengaku ia tidak terlalu aktif dalam organisasi. Namun, ia tidak pernah ragu mencoba berbagai kesempatan yang datang. Rasa percaya diri dan kemampuan berbicara di depan umum membuatnya berani mengikuti berbagai kegiatan dan perlombaan untuk mengembangkan potensi.

Sikap itulah yang pada akhirnya membawanya ke Taiwan. Tetapi berada di negeri orang ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Perbedaan bahasa menjadi salah satu tantangan pertama yang harus dihadapinya.
“Tantangan saya adalah kesulitan berkomunikasi, dan hal itu membuat saya hampir menyerah pada awalnya. Namun, setelah saya ingat lagi dengan pilihan saya, saya mulai belajar bahasa Mandarin dari dasar,” kata Maria.
Dalam perjalanannya, Maria hampir menyerah, tetapi tidak benar-benar berhenti. Ia malah memilih kembali belajar. Bahasa Mandarin yang sebelumnya menjadi hambatan justru menjadi sesuatu yang harus ia pelajari agar dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Di tengah proses itu, kesibukannya tidak hanya berhenti pada magang. Setiap hari, ia menjalani kegiatan magang dari pukul 08.00 hingga 17.00. Setelah itu, ia tetap mengikuti perkuliahan secara daring dan aktif mengikuti berbagai lomba yang dapat dilaksanakan secara daring.

“Capek pasti ada, namun keinginan saya lebih besar. Saya menyempatkan waktu untuk hang out apabila mulai merasa bosan dengan kegiatan saya,” ujarnya.
Pilihan untuk terus belajar dan mengejar kesempatan tentu memiliki konsekuensi. Waktu untuk berkumpul bersama teman menjadi semakin terbatas. Namun Maria sudah memahami risiko tersebut.
“Kehilangan teman pasti ada, namun bagi saya itu bukanlah suatu masalah karena sejak awal saya sudah tahu risikonya. Sebagai mahasiswa tentunya kita harus banyak belajar, jadi hal itu yang membuat saya tidak terlalu merasakan kehilangan,” tuturnya.
Di tengah perjalanan yang tidak selalu mudah itu, Maria memegang satu prinsip sederhana: Just enjoy the process. Ia percaya bahwa menikmati setiap proses akan menghasilkan sesuatu yang baik dalam perjalanan hidup. Prinsip tersebut bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Ada pesan sang nenek yang terus ia bawa dalam setiap langkah.
“Nenek saya selalu berpesan, apa pun pekerjaannya harus kita lakukan dengan sepenuh hati, niat yang dalam, dan tekad yang kuat,” kata Maria sambil tersenyum mengenang sosok yang telah membesarkannya.
Selain neneknya, Maria juga mengagumi Albert Einstein. Sosok tersebut menjadi salah satu inspirasinya untuk terus belajar dan tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita. Kini, Maria berharap dapat menjadi seorang profesional di bidang hospitality. Ia percaya bahwa setiap pengalaman, baik keberhasilan maupun kegagalan, akan menjadi bekal berharga dalam perjalanan menuju cita-cita.





Dari Paka hingga Taiwan, dari kehilangan ayah sejak kecil hingga menghadapi kesulitan berkomunikasi di negeri orang, perjalanan Maria terus bergerak melalui satu hal yang sama: kemauan untuk belajar.
“Untuk siapa pun yang di sana, apa pun yang ada dalam hidupmu, nikmati, jalani, never complain, dan selalu percaya bahwa segala sesuatu itu sudah ditakdirkan Tuhan selama kamu yang punya niat dan usaha,” pesannya.
Barangkali, kalimat itu pula yang paling tepat menggambarkan perjalanan Maria. Bukan tentang hidup yang selalu mudah. Bukan pula tentang perjalanan tanpa kegagalan. Melainkan tentang bagaimana seseorang tetap berjalan ketika hidup memberinya alasan untuk berhenti. [T]
Reporter/Penulis: Yohana Purnama Fajar
Editor: Adnyana Ole
Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co











![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-75x75.png)







![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)










