4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

Chandra Manikan by Chandra Manikan
July 9, 2026
in Khas
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

Pemandangan dalam sebuah upacara adat di Desa Pedawa, Buleleng | Foto: @nuturang

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”, ditulis oleh I Ngurah Suryawan tahun 2021. Pada bab IV yang berjudul “Hasrat Memberdayakan Desa Adat”, justru menyambutku dengan sebuah pupuh, rangkaian bait puisi berbahasa Bali. Kira-kira beginilah bunyinya.

Pupuh karya Ni Made Sri Arwati seperti sengaja bersembunyi. Tidak ada lantunannya di kanal Youtube, arsip geguritannya pun sulit dilacak. Satu-satunya pijakan hanyalah berangkat dari tulisan I Ngurah Suryawan. Berbekal itu, aku mencoba melakukan tafsir awal dengan menghubungi seorang dalang muda, lalu mendiskusikan pupuh tersebut bersama seorang antropolog muda, untuk memahami wacana di balik pupuh tersebut.

Di bale delod rumah Budi pada Senin malam, tumpukan banten mengelilingi tempat kami berbincang. Meski suasana rumah begitu sibuk dengan persiapan Hari Raya Kuningan, aku lebih sibuk menyimak penjelasan Budi tentang makna pupuh tersebut.

“Kalau dari pupuh ini, si pembuat ingin mengingatkan bahwa ada dua desa di Bali,” ujar Budi (26), seorang dalang muda.

Budi membantu dalam menerka bagaimana rasa yang terkandung dalam pupuh karya Ni Made Sri Arwati ini. Dengan rambut yang agak basah, Budi melantunkan pupuh tersebut. Suaranya tidak keras, tapi memiliki tekanan yang kuat. Pada beberapa bagian, intonasi suaranya meliuk-liuk. Bibirnya nyaris tidak terbuka lebar, namun mengeluarkan suara yang berat dan dalam. Setiap kali nadanya meliuk, ada sensasi dingin merambat yang membuat lenganku merinding. Dalam teknik vokal Bali, teknik meliuk-liuk itu disebut wiletan.

Sesekali, konsentrasi mendengar lantunan pupuh menjadi buyar, karena terlalu banyak suara yang hadir di rumah Budi pada saat itu.

Menurut Budi, dalam melantunkan sebuah pupuh itu bebas menggunakan gaya intonasi apa saja: mau senang, lirih, tegas, marah, sedih dan sebagainya, tergantung kebutuhan si pelantun.

“Aku pakai gaya pupuhginada linggar petak, agar lebih lirih dia. Karena biasanya yang lirih-lirih gini disukai masyarakat,”

Karena setelah membaca pupuh tersebut, ia merasakan bait dari pupuh itu seolah-olah sedang memberikan sebuah nasihat. Nasihat terkait dengan harmonisasi dua desa yang ada di Bali.

Pupuh di Bali sangat terikat dengan namanya padalingsa; aturan baku pada bait, suku kata dan bunyi vokal. Pada pupuh yang ditulis oleh Ni Made Sri Arwati, menggunakan gaya pupuh ginada. Dimana struktur pupuh ginada ini memiliki 7 baris dalam 1 bait, setiap suku kata dan bunyi vokal akhir diatur dengan pakem: 8a, 8i, 8a, 8u, 8a, 4i, 8a.

“Jadi di Bali, dalam memupuh dibagi menjadi dua, satu tukang tembang dan satu lagi tukang ngartos. Biasanya per satu baris pupuh ditembangkan, lalu setelahnya diartikan.” tutur Budi, sambil memegang kertas print yang aku berikan.

Budi berpendapat bahwa dalam proses menafsir sebuah pupuh, kadang kala sesuai dengan kemampuan dari si pembaca dalam menginterpretasikannya. Menurutnya, pupuh ginada karya Ni Made Sri Arwati ini, tentang bagaimana dua desa ini harus diingat, dipahami, dipelajari untuk mencapai kesukertaan (kesejahteraan).

Pupuh ini, mengibaratkan dua desa sebagai sepasang suami istri (marabian). Desa dinas digambarkan sebagai laki-laki (lanang) yang bersosok ayah sejati (I Aji Yukti) mengabdi kepada pemerintah (guru wisesa). Tugasnya adalah menjalankan kewajiban menjaga ketertiban sesuai dengan negara. Desa adat digambarkan sebagai perempuan (biyang) yang menjaga kerukunan (ngardi trepti) diantara sesama warga (krama) masyarakat Bali. Dua desa tersebut hidup berdampingan, agar tidak keliru dan berbenturan (nenten pacang pati kaplug).

Tafsir Budi menempatkan pupuh karya Ni Made Sri Arwati, sebagai sebuah pengingat tentang relasi ideal antara desa dinas dan desa adat. Menurutnya, kedua institusi tersebut tidak seharusnya diposisikan sebagai pihak yang saling mengungguli, melainkan sebagai dua unsur yang harus tetap seimbang agar mampu menjalankan perannya masing-masing dalam kehidupan masyarakat Bali.

Senada dengan tafsir dari Budi, Era (25) seorang antropolog muda berpendapat bahwa pupuh adalah sebuah local knowledge. Karena pupuh bukan sekedar puisi atau karya sastra, tapi pengetahuan lokal yang menyimpan tentang bagaimana masyarakat Bali memahami tata kehidupan.

“Yang menarik buatku itu analogi desa dinas dan desa adat sebagai suami istri. Ini bukan sekedar perumpamaan yang indah, tapi menjelaskan bagaimana orang Bali memandang dua institusi itu harus saling melengkapi, bukan saling bersaing.”

Kami bertemu dengan bertatap muka di depan layar gawai, karena Era sedang melanjutkan jenjang magisternya di Jogja. Aku mengirimkan pupuh yang ditulis oleh Ni Made Sri Arwati tersebut ke WhatsApp-nya. Sambil memegang mikrofon headsetnya, Era menjelaskan pandangan sesuai dengan background keilmuannya.

Sesekali percakapan kami terputus-putus, karena koneksi internetku yang tidak stabil. Akibatnya, pertanyaan-pertanyaan yang sama sering sekali terulang.

“Soal ini aku setuju sih, karena semua hal pasti akan dipasangkan, kalau tidak kiri-kanan pasti diibaratkan gender,” tuturnya.

Ia menjelaskan lebih dalam dengan memasukan pandangan dari tokoh, yang bernama Claude Lévi-Strauss. Manusia cenderung memahami dunia lewat struktur berpikir yang berisi pasangan-pasangan, seperti: laki-laki/perempuan, dalam/luar, atau publik/domestik. Proses ini disebut sebagai bentuk kemapanan orang Bali dalam berpikir.

“Nah, di pupuh ini, desa dinas dan desa adat juga dibangun lewat logika seperti itu,” tutur Era.

Pemandangan dalam sebuah upacara adat di Desa Pedawa, Buleleng | Foto: @nuturang

Lebih dalam Era menjelaskan, bahwa desa dinas diasosiasikan dengan urusan pemerintahan dan hubungan dengan negara, sementara desa adat diasosiasikan dengan kehidupan sosial, ritual, dan komunitas. Jadi masyarakat bali mengorganisasi realitas melalui pasangan simbolik yang saling membutuhkan.

“Sebagai perempuan Bali, jujur aku merasa lebih dekat dengan desa adat dibanding desa dinas,” tutur Era.

Bagi Era, kedekatannya dengan desa adat bukan lahir karena kewajiban administratif, melainkan karena pengalaman hidup yang dijalaninya sejak kecil. Jika desa dinas hanya hadir ketika ada urusan administrasi, desa adat justru menjadi ruang tempat ia belajar tentang kehidupan bermasyarakat. Melalui keterlibatannya dalam berbagai kegiatan adat, seperti ngayah dan membantu persiapan upacara, ia memahami nilai-nilai kebersamaan yang membentuk kesehariannya.

Simbol selalu membawa harapan tentang sebuah tatanan. Dalam konteks pupuh karya Ni Made Sri Arwati, desa dinas dan desa adat dimaknai sebagai dua entitas yang diikat oleh hubungan simbolik antara laki-laki dan perempuan yang menjadi sepasang suami istri. Bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk saling melengkapi.

Namun, simbol tidak selalu berjalan seiring dengan kenyataan. Perubahan politik, tata kelola pemerintah, ekonomi, hingga perkembangan ruang digital menimbulkan pertanyaan baru: apakah relasi itu masih bertumpu pada prinsip saling membutuhkan, atau justru mulai memperlihatkan kecenderungan dominasi salah satu peran atas yang lainnya? [T]

  • Karya ini ditulis sebagai bagian dari program lokakarya yang diselenggarakan oleh @menulis.mengingat. Didukung melalui Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Bali. Bekerja sama dengan @tatkalamedia, @balebengong, dan @nuturang.
Tags: balidesa adatdesa dinaspupuhsastra bali klasik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rumah Kata di Jalan Nangka

Next Post

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

Chandra Manikan

Chandra Manikan

Seorang warga Indonesia yang gemar mengulik wacana, identitas, dan bagaimana kuasa bekerja dalam kehidupan sehari-hari. IG: @pcmpw

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari "I Godogan" di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co