24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

Chandra Manikan by Chandra Manikan
July 9, 2026
in Khas
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

Pemandangan dalam sebuah upacara adat di Desa Pedawa, Buleleng | Foto: @nuturang

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”, ditulis oleh I Ngurah Suryawan tahun 2021. Pada bab IV yang berjudul “Hasrat Memberdayakan Desa Adat”, justru menyambutku dengan sebuah pupuh, rangkaian bait puisi berbahasa Bali. Kira-kira beginilah bunyinya.

Pupuh karya Ni Made Sri Arwati seperti sengaja bersembunyi. Tidak ada lantunannya di kanal Youtube, arsip geguritannya pun sulit dilacak. Satu-satunya pijakan hanyalah berangkat dari tulisan I Ngurah Suryawan. Berbekal itu, aku mencoba melakukan tafsir awal dengan menghubungi seorang dalang muda, lalu mendiskusikan pupuh tersebut bersama seorang antropolog muda, untuk memahami wacana di balik pupuh tersebut.

Di bale delod rumah Budi pada Senin malam, tumpukan banten mengelilingi tempat kami berbincang. Meski suasana rumah begitu sibuk dengan persiapan Hari Raya Kuningan, aku lebih sibuk menyimak penjelasan Budi tentang makna pupuh tersebut.

“Kalau dari pupuh ini, si pembuat ingin mengingatkan bahwa ada dua desa di Bali,” ujar Budi (26), seorang dalang muda.

Budi membantu dalam menerka bagaimana rasa yang terkandung dalam pupuh karya Ni Made Sri Arwati ini. Dengan rambut yang agak basah, Budi melantunkan pupuh tersebut. Suaranya tidak keras, tapi memiliki tekanan yang kuat. Pada beberapa bagian, intonasi suaranya meliuk-liuk. Bibirnya nyaris tidak terbuka lebar, namun mengeluarkan suara yang berat dan dalam. Setiap kali nadanya meliuk, ada sensasi dingin merambat yang membuat lenganku merinding. Dalam teknik vokal Bali, teknik meliuk-liuk itu disebut wiletan.

Sesekali, konsentrasi mendengar lantunan pupuh menjadi buyar, karena terlalu banyak suara yang hadir di rumah Budi pada saat itu.

Menurut Budi, dalam melantunkan sebuah pupuh itu bebas menggunakan gaya intonasi apa saja: mau senang, lirih, tegas, marah, sedih dan sebagainya, tergantung kebutuhan si pelantun.

“Aku pakai gaya pupuhginada linggar petak, agar lebih lirih dia. Karena biasanya yang lirih-lirih gini disukai masyarakat,”

Karena setelah membaca pupuh tersebut, ia merasakan bait dari pupuh itu seolah-olah sedang memberikan sebuah nasihat. Nasihat terkait dengan harmonisasi dua desa yang ada di Bali.

Pupuh di Bali sangat terikat dengan namanya padalingsa; aturan baku pada bait, suku kata dan bunyi vokal. Pada pupuh yang ditulis oleh Ni Made Sri Arwati, menggunakan gaya pupuh ginada. Dimana struktur pupuh ginada ini memiliki 7 baris dalam 1 bait, setiap suku kata dan bunyi vokal akhir diatur dengan pakem: 8a, 8i, 8a, 8u, 8a, 4i, 8a.

“Jadi di Bali, dalam memupuh dibagi menjadi dua, satu tukang tembang dan satu lagi tukang ngartos. Biasanya per satu baris pupuh ditembangkan, lalu setelahnya diartikan.” tutur Budi, sambil memegang kertas print yang aku berikan.

Budi berpendapat bahwa dalam proses menafsir sebuah pupuh, kadang kala sesuai dengan kemampuan dari si pembaca dalam menginterpretasikannya. Menurutnya, pupuh ginada karya Ni Made Sri Arwati ini, tentang bagaimana dua desa ini harus diingat, dipahami, dipelajari untuk mencapai kesukertaan (kesejahteraan).

Pupuh ini, mengibaratkan dua desa sebagai sepasang suami istri (marabian). Desa dinas digambarkan sebagai laki-laki (lanang) yang bersosok ayah sejati (I Aji Yukti) mengabdi kepada pemerintah (guru wisesa). Tugasnya adalah menjalankan kewajiban menjaga ketertiban sesuai dengan negara. Desa adat digambarkan sebagai perempuan (biyang) yang menjaga kerukunan (ngardi trepti) diantara sesama warga (krama) masyarakat Bali. Dua desa tersebut hidup berdampingan, agar tidak keliru dan berbenturan (nenten pacang pati kaplug).

Tafsir Budi menempatkan pupuh karya Ni Made Sri Arwati, sebagai sebuah pengingat tentang relasi ideal antara desa dinas dan desa adat. Menurutnya, kedua institusi tersebut tidak seharusnya diposisikan sebagai pihak yang saling mengungguli, melainkan sebagai dua unsur yang harus tetap seimbang agar mampu menjalankan perannya masing-masing dalam kehidupan masyarakat Bali.

Senada dengan tafsir dari Budi, Era (25) seorang antropolog muda berpendapat bahwa pupuh adalah sebuah local knowledge. Karena pupuh bukan sekedar puisi atau karya sastra, tapi pengetahuan lokal yang menyimpan tentang bagaimana masyarakat Bali memahami tata kehidupan.

“Yang menarik buatku itu analogi desa dinas dan desa adat sebagai suami istri. Ini bukan sekedar perumpamaan yang indah, tapi menjelaskan bagaimana orang Bali memandang dua institusi itu harus saling melengkapi, bukan saling bersaing.”

Kami bertemu dengan bertatap muka di depan layar gawai, karena Era sedang melanjutkan jenjang magisternya di Jogja. Aku mengirimkan pupuh yang ditulis oleh Ni Made Sri Arwati tersebut ke WhatsApp-nya. Sambil memegang mikrofon headsetnya, Era menjelaskan pandangan sesuai dengan background keilmuannya.

Sesekali percakapan kami terputus-putus, karena koneksi internetku yang tidak stabil. Akibatnya, pertanyaan-pertanyaan yang sama sering sekali terulang.

“Soal ini aku setuju sih, karena semua hal pasti akan dipasangkan, kalau tidak kiri-kanan pasti diibaratkan gender,” tuturnya.

Ia menjelaskan lebih dalam dengan memasukan pandangan dari tokoh, yang bernama Claude Lévi-Strauss. Manusia cenderung memahami dunia lewat struktur berpikir yang berisi pasangan-pasangan, seperti: laki-laki/perempuan, dalam/luar, atau publik/domestik. Proses ini disebut sebagai bentuk kemapanan orang Bali dalam berpikir.

“Nah, di pupuh ini, desa dinas dan desa adat juga dibangun lewat logika seperti itu,” tutur Era.

Pemandangan dalam sebuah upacara adat di Desa Pedawa, Buleleng | Foto: @nuturang

Lebih dalam Era menjelaskan, bahwa desa dinas diasosiasikan dengan urusan pemerintahan dan hubungan dengan negara, sementara desa adat diasosiasikan dengan kehidupan sosial, ritual, dan komunitas. Jadi masyarakat bali mengorganisasi realitas melalui pasangan simbolik yang saling membutuhkan.

“Sebagai perempuan Bali, jujur aku merasa lebih dekat dengan desa adat dibanding desa dinas,” tutur Era.

Bagi Era, kedekatannya dengan desa adat bukan lahir karena kewajiban administratif, melainkan karena pengalaman hidup yang dijalaninya sejak kecil. Jika desa dinas hanya hadir ketika ada urusan administrasi, desa adat justru menjadi ruang tempat ia belajar tentang kehidupan bermasyarakat. Melalui keterlibatannya dalam berbagai kegiatan adat, seperti ngayah dan membantu persiapan upacara, ia memahami nilai-nilai kebersamaan yang membentuk kesehariannya.

Simbol selalu membawa harapan tentang sebuah tatanan. Dalam konteks pupuh karya Ni Made Sri Arwati, desa dinas dan desa adat dimaknai sebagai dua entitas yang diikat oleh hubungan simbolik antara laki-laki dan perempuan yang menjadi sepasang suami istri. Bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk saling melengkapi.

Namun, simbol tidak selalu berjalan seiring dengan kenyataan. Perubahan politik, tata kelola pemerintah, ekonomi, hingga perkembangan ruang digital menimbulkan pertanyaan baru: apakah relasi itu masih bertumpu pada prinsip saling membutuhkan, atau justru mulai memperlihatkan kecenderungan dominasi salah satu peran atas yang lainnya? [T]

  • Karya ini ditulis sebagai bagian dari program lokakarya yang diselenggarakan oleh @menulis.mengingat. Didukung melalui Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Bali. Bekerja sama dengan @tatkalamedia, @balebengong, dan @nuturang.
Tags: balidesa adatdesa dinaspupuhsastra bali klasik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rumah Kata di Jalan Nangka

Next Post

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

Chandra Manikan

Chandra Manikan

Seorang warga Indonesia yang gemar mengulik wacana, identitas, dan bagaimana kuasa bekerja dalam kehidupan sehari-hari. IG: @pcmpw

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari "I Godogan" di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co