21 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
in Panggung
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

Penampilan Seoul Institute of the Arts bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Bali saat menghadirkan dramatari I Godogan | Foto: tatkala.co/Budarsana

KETIKA lampu panggung perlahan menyala, alunan suling tradisional Korea dengan ujung tiup pipih terdengar lirih. Di atas panggung, para penari laki-laki duduk bersila, sementara penari perempuan bersimpuh di hadapan sesajen. Sesaat setelah bunyi kentongan memecah kesunyian, para penari lain bermunculan. Sebagian mengenakan busana tari Bali, sebagian lagi berkostum tradisional Korea. Ada yang fasih berbahasa Bali, ada pula yang berseloroh dalam bahasa Korea.

Suasana itu membuka kolaborasi seni lintas negara yang mewarnai panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII, Rabu, 8 Juli 2026. Seoul Institute of the Arts, Korea Selatan, bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Bali menghadirkan dramatari I Godogan, sebuah garapan yang memadukan kekayaan seni tradisi Bali dengan budaya Korea.

Sejak awal pertunjukan, penonton disuguhi dialog dua tradisi yang saling mengisi. Dua barungan musik tampil berdampingan: gamelan Bali dan ansambel musik tradisional Korea. Ketika dimainkan bersama, nada gong kebyar berkelindan dengan irama musik Korea, melahirkan harmoni baru yang menjadi napas pertunjukan.

Penampilan Seoul Institute of the Arts bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Bali saat menghadirkan dramatari I Godogan | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Mai…, mai…, mai…!” seru para penari memanggil teman-temannya. Ucapan itu terdengar dalam pelafalan yang berbeda karena diucapkan oleh penari Bali maupun Korea Selatan. Meski mengenakan busana khas masing-masing, mereka memerankan tokoh-tokoh masyarakat desa, tempat I Godogan lahir dan tumbuh.

Perbedaan latar budaya justru melahirkan keselarasan gerak. Saat tokoh I Godogan muncul, suara suling Korea berpadu dengan gamelan Bali, menghadirkan nuansa pedesaan yang mengingatkan pada suara kodok di tengah persawahan. Penari yang memerankan I Godogan, didominasi mahasiswa Korea, menampilkan gerak yang lincah dan penuh energi. Adegan prajurit kerajaan pun menjadi menarik karena memadukan tari bebarisan Bali dengan seni bela diri dan tari perang Korea yang menggunakan dua pedang.

Penonton kemudian terpukau ketika I Godogan dipertemukan dengan Putri Daha yang diperankan penari Korea Selatan. Keduanya berdialog melalui bahasa tubuh yang luwes dan puitis. Ketika I Godogan akhirnya berubah menjadi Pangeran Jenggala, adegan romantis itu semakin menghidupkan cerita.

Salah satu bagian yang paling memikat adalah ketika puluhan penari Bali dan Korea bersama-sama membawakan Tari Kecak. Nyanyian “cak” berpadu dengan lagu tradisional Korea yang dinyanyikan dalam bahasa asalnya. Perpaduan itu menghadirkan pengalaman artistik baru tanpa menghilangkan karakter masing-masing budaya.

Penampilan Seoul Institute of the Arts bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Bali saat menghadirkan dramatari I Godogan | Foto: tatkala.co/Budarsana

Tepuk tangan penonton berkali-kali menggema memenuhi Gedung Ksirarnawa. Sebelum dramatari dipentaskan, mereka lebih dahulu disuguhi konser musik Bayu Nada, kolaborasi gong kebyar Bali dengan musik tradisional Korea yang memperlihatkan bahwa perbedaan tradisi dapat melahirkan harmoni baru.

I Godogan merupakan cerita rakyat Bali yang sarat simbol dan filosofi. Kisahnya bermula dari perjalanan spiritual Pangeran Jenggala yang lahir sebagai seekor kodok dalam keluarga petani di Desa Magetan. Atas petunjuk Dewata Agung, ia menjalani proses penyucian diri hingga kembali ke wujud aslinya sebagai manusia.

Konflik memuncak ketika I Godogan menyampaikan keinginannya meminang Putri Kerajaan Daha yang diperankan penari Korea. Sang ayah memenuhi permintaan putranya dengan menghadap Raja Daha. Namun, raja murka karena merasa dihina dan memerintahkan agar ayah Godogan dibunuh.

Keajaiban kemudian terjadi. Dengan kesaktiannya, I Godogan menghidupkan kembali sang ayah, bahkan setelah tubuhnya dicincang atas perintah raja. Peristiwa itu membuat Raja Daha menyadari bahwa semua merupakan kehendak Dewata Agung. Ia pun merestui pernikahan putrinya dengan Godogan.

Restu tersebut menjadi titik penyucian terakhir yang mengembalikan Godogan ke wujud aslinya sebagai Pangeran Jenggala. Adegan penutup berlangsung meriah. Pangeran Jenggala, yang diperankan seniman ISI Bali, menikahi Putri Daha yang diperankan mahasiswa Seoul Institute of the Arts. Tari Kecak, Barong Macan Bali, hingga Lion Dance Korea berpadu menjadi perayaan yang spektakuler.

Founder Seoul Institute of the Arts, Yoo Duk Hyung atau Mr. Yoo, mengaku memiliki kedekatan emosional dengan Bali. Setelah beberapa kali berkunjung ke Pulau Dewata, ia semakin mengagumi masyarakat dan kekayaan seni budayanya.

“Saya sangat mencintai Bali, masyarakatnya, dan keseniannya. Karena itu saya ingin membangun kerja sama yang berkelanjutan antara Seoul Institute of the Arts dengan ISI Bali,” ujarnya.

Menurutnya, Tari Kecak merupakan salah satu kesenian Bali yang paling mengesankan karena mampu melibatkan banyak orang dalam satu harmoni pertunjukan.

“Dipandu Prof. Dibia, kami berlatih selama satu minggu. Saya berharap mahasiswa dari berbagai fakultas dapat ikut terlibat,” katanya.

Bagi Mr. Yoo, Kecak bukan sekadar tarian, melainkan simbol persatuan.

Penampilan Seoul Institute of the Arts bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Bali saat menghadirkan dramatari I Godogan | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Kecak menunjukkan bagaimana banyak orang dapat bersatu dalam sebuah pertunjukan. Kecak membuka ruang kolaborasi, membentuk harmoni, dan menghadirkan kedamaian. Nilai itulah yang ingin kami bawa dalam kerja sama ini,” ungkapnya.

Budayawan Prof. Dr. I Wayan Dibia menjelaskan proses kreatif kolaborasi ini telah dimulai sejak program pertukaran akademik di Korea Selatan. Selain mengajarkan Tari Kecak, tim ISI Bali juga memperkenalkan pola gerak, ritme musik, dan ekspresi tari Bali kepada mahasiswa Seoul Institute of the Arts.

“Kami mengamati bagaimana tari Korea dapat diwarnai unsur-unsur Bali. Dalam prosesnya memang terjadi berbagai penyesuaian, termasuk pada kostum yang memiliki pakem berbeda. Namun justru dari proses itulah lahir pemahaman baru,” jelasnya.

Menurut Prof. Dibia, kesenian merupakan media paling efektif untuk mempererat hubungan antarbangsa. Lakon I Godogan dipilih karena sejalan dengan tema PKB tahun ini mengenai penyucian diri.

Kolaborasi tersebut melibatkan 25 seniman Korea dan 15 mahasiswa ISI Bali. Proses kreatif dilakukan selama satu minggu di Bali dan satu minggu di Korea Selatan.

Budayawan Prof. I Made Bandem menilai kehadiran Seoul Institute of the Arts di PKB XLVIII memiliki arti historis karena mengingatkan kembali hubungan budaya yang telah terjalin antara Bali dan Pulau Jeju sejak dekade 1990-an.

“Kehadiran mereka hari ini tidak hanya memperkuat hubungan kebudayaan, tetapi juga semakin menegaskan posisi Bali sebagai ruang pertemuan budaya dunia,” tutup Prof. Bandem.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Institut Seni Indonesia (ISI) BaliKorea SelatanPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026Seoul Institute of the Arts
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

Next Post

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
0
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

Read moreDetails

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
0
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

Read moreDetails
Next Post
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

by Andre Syahreza
August 19, 2026
Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa
Buku Tatkala

Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa

Judul: PENJAGA RUPA UTAR, Jejak Warisan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa Penerbit: PT Tatkala Sekala...

by Buku Tatkala
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co