13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

Jaswanto by Jaswanto
February 28, 2025
in Liputan Khusus
Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

Tahu Lombok yang dibuat di Singaraja | Foto: tatkala.co/Rusdy

SEBAGAIMANA Banyuwangi di Pulau Jawa, secara geografis, letak Pulau Lombok juga cukup dekat dengan Pulau Bali, sehingga memungkinkan penduduk kedua pulau tersebut bisa saling memengaruhi, pindah tempat, kunjung-menggunjungi—dari Bali ke Lombok atau sebaliknya—dengan alasan-kepentingan yang bermacam-macam. Ada yang menetap, ada pula yang singgah dalam rentang waktu tertentu.

Kontak antara Singaraja di Bali dengan Lombok di Nusa Tenggara Barat, sudah terjadi sejak dahulu, khususnya lewat aktivitas perdagangan. Ini bukan hal yang aneh. Mengingat, dalam sejarah, Singaraja-Lombok termasuk jalur perdagangan yang terkenal ramai. Apalagi saat Singaraja didapuk sebagai ibu kota Keresidenan Bali.

Sejak awal abad 19, jalur perdagangan Bali-Lombok-Batavia memang berkembang pesat, terutama untuk kebutuhan komoditas sandang dan pangan, selain budak, tentu saja. Pada awalnya, upaya dalam meningkatkan rute perdagangan di Bali sebenarnya lebih tampak di daerah bagian selatan. Namun, setelah menjelang runtuhnya Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC)—perusahaan dagang Belanda yang didirikan pada 1602, perdagangan Bali Selatan—khususnya di Kuta, Denpasar—mengalami kemunduran.

Akhirnya, berkat perubahan sosial, ekonomi, dan politik pada saat itu, pusat perdagangan Bali bergeser ke utara, tepatnya ke Singaraja, Buleleng, di Bali Utara. Ini membuat Buleleng, diakui atau tidak, menjadi daerah penting pada awal abad 20. Hal ini disebabkan oleh dua faktor penting, yakni: Singaraja sebagai kota pelabuhan; dan Singaraja sebagai pusat pemerintahan (ibu kota) di Bali dan Nusa Tenggara pada masa pemerintah Hindia Belanda.

Kegiatan mahasiswa Lombok di Singaraja | Foto: Istimewa

Singaraja sebagai pusat pemerintahan, dulu, mempunyai tiga jalur lalu-lintas yang menghubungkan Bali Utara dengan Bali Selatan. Pertama, jalan Kubutambahan menuju Kintamani dan Denpasar. Kedua, jalur Bubunan dan Pupuan. Dan ketiga, bersamaan dengan jalur yang kedua tadi, dibuka pula jalur danau Beratan yang pembuatannya selesai pada tahun 1926. Kedua jalur tersebut merupakan jalan utama, sedangkan jalur Gitgit (danau Beratan)—yang sekarang menjadi jalur utama—pada masa itu sekadar jalan darurat (alternatif) untuk menghubungkan Singaraja dengan Sukasada bagian selatan. Jaringan jalan Bubunan-Pupuan sangat penting bagi masyarakat, karena memperlancar arus lalu-lintas perdagangan, terutama mempermudah angkutan kopi dari Munduk dan Pupuan.

Dengan begitu, sebagai kota pelabuhan Hindia Belanda, tanah kelahiran ibunda Soekarno itu menjadi lebih terbuka karena pengaruh dari luar, dan sebagai pusat pemerintahan Singaraja menjadi kota yang ramai dan dinamis. Saat itu, ditopang beberapa pelabuhan seperti Temukus, Buleleng, dan Sangsit, Bali Utara tampil sebagai pusat perdagangan. Ketiga pelabuhan tersebut merupakan tempat transit kapal dan perahu yang berlayar dari Surabaya, Makassar, dan pulau-pulau kecil di Nusa Tenggara.

Sedangkan beberapa pelabuhan penting di Lombok, seperti Ampenan, Labuan Tring—dan beberapa pelabuhan kecil seperti Tanjung Karang, Padang Reyak, Teluk Lombok, Labuhan Haji, Peju, Teluk Sugihan, dan Teluk Blongos yang dipakai berlabuh pada musim hujan—juga sudah ramai sejak dulu. Banyak kapal besar besandar di Pelabuhan Ampenan. Pun di Labuan Tring yang juga terletak di Lombok Barat.

Bahkan, tulis C. Lekkerkerker, seorang Inggris macam G. P. King yang pernah tinggal di Lombok pada 1832-1848, memanfaatkan Labuan Tring sebagai tempat perdagangan. Dan pada tahun 1835, King mendirikan sebuah galangan kapal di sana. Pada waktu itu, Labuan Tring ramai disinggahi kapal pribumi maupun kapal luar negeri.

Dalam Leven en aventuren van een oostinjevaarder op Bali (1928) A.K. Nielsen menulis, antara abad 17-18 aktivitas perdagangan antara Bali dengan Batavia berkisar pada masalah perdagangan budak, di samping kebutuhan sandang dan pangan.

Ya, beberapa buah kapal dari Bali dan Lombok yang berlayar menuju Batavia, selain berisi budak laki-laki dan perempuan, ada pula beras, gula, asam, minyak kelapa, babi, pinang, hewan dan bahan makanan untuk anak buah kapal, malam, kayu, garam, dan itik. Perlu diketahui bahwa Lombok telah mengekspor beras sampai ke China, Singapura, Australia, bahkan hingga Mauritius (negara di Afrika bagian Timur).

  • BACA JUGA:
Muri Kusnadi, Diangkat TNI di Singaraja, Pensiun di Singaraja, Bikin Tahu Lombok di Singaraja

Sementara itu, dari Batavia, Bali mendapat barang-barang pecah-belah seperti porselin, juga kain, besi tua, obat-obatan, ikan asin, benda tembaga, barang-barang dari Tiongkok, menyan, dan tembikar. Sedangkan kapal-kapal dagang Batavia yang menuju ke Lombok membawa muatan berupa laken merah, kain, ketumbar, peci, dan besi.

Khusus arus perdagangan budak dari Bali-Lombok ke Batavia ini dapat dimengerti bila kita hubungkan dengan situasi politik pada masa itu. Untuk menyusun kekuatan militer di Nusantara, Belanda sangat banyak memerlukan tentara. Begitulah keterangan C. Lekkerkerker—yang menulis pada masa pemerintahan Daendels banyak orang Bali dijadikan tentara yang sangat berani.

Selain itu,  perdagangan budak juga menjadi bisnis yang membentuk dan menghasilkan kekayaan bagi VOC dan pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Lihatlah, banyak sumber primer seperti jurnal pelancong Eropa dan manuskrip lokal berharga yang berasal dari masa VOC (1602-1799) maupun sebelumnya, memberitakan manusia sebagai hal yang biasa diperdagangkan sebagaimana komoditas lainnya.

Tome Pires dalam Suma Oriental (1944), misalnya, menyebut daerah Bima dan Sangeang di Nusa Tenggara Barat biasa memperdagangkan budak ke pulau Jawa, selain kuda, makanan, dan pakaian. Dan Thomas S. Raffles malah menyebut dengan jelas berapa harga budak dari Bali.

Kata Raffles, budak-budak dari Bali dihargai sepuluh hingga tiga puluh dolar untuk budak laki-laki; dan lima puluh hingga seratus dolar untuk budak perempuan. Sedangkan Bo’ Sangaji Kai—catatan Kerajaan Bima—mencatat bagaimana pejabat tinggi Kesultanan Bima menagih upeti berupa budak dan pakaian emas kepada ketua suku di Manggarai untuk diserahkan kepada VOC guna membayar utang.

Jual-beli budak di Bali dan Lombok ini berlangsung cukup lama. Bahkan setelah praktik hina tersebut dilarang di Hindia Belanda secara bertahap antara 1854-1860, bisnis haram itu nyatanya masih belangsung secara sembunyi-sembunyi. uktinya, pada 1889, salah satu surat kabar yang berbasis di Australia, The Brisbane Courier (TBC), memberitakan kasus perbudakan yang terjadi di Ampenan, Lombok, dengan tajuk Slavery in Lombok setelah menerima telegram dari The Singapore Free Press perihal rincian kasus pembunuhan 4 orang budak di publik oleh seorang syahbandar terkenal, Sayid Abdullah dari Ampenan.

Singaraja-Lombok: Setali Tiga Uang

Saat Singaraja diputuskan menjadi ibu kota Keresidenan Bali-Lombok, pada saat itu pula, tercipta hubungan-hubungan yang tidak hanya sekadar urusan perekonomian, tetapi dalam batas-batas tertentu, hubungan tersebut berkembang ke arah interaksi sosial budaya yang kompleks. Hal ini dapat terjadi karena pedagang-pedagang yang singgah di Pelabuhan Buleleng berasal dari berbagai etnik yang pada akhirnya banyak memberikan warna pada kultur masyarakat Buleleng—suatu masyarakat yang memiliki karakter egaliter dan kosmopolit. Pun, di kota ini pula, peradaban modern di Bali dimulai.

Rupanya, sejak ditetapkannya Singaraja sebagai ibu kota Keresidenan Bali dan Lombok pada tahun 1882 oleh Pemerintah Kolonial Belanda, sudah timbul perhatian untuk menertibkan orang-orang Timur Asing yang berada di Bali Utara. Penertiban itu diatur dalam Staatsblad 1883: a 67 yang menetapkan Pabean (pelabuhan) Buleleng, Tumukus, dan Sangsit sebagai tempat permukiman orang Cina; dan Pabean Buleleng sebagai tempat permukiman untuk orang-orang Timur Asing lainnya.

Selain orang-orang Timur Asing, banyak pula orang-orang Bugis, Jawa, Madura, Mandar, Ambon, Sasak yang menetap menjadi pedagang di daerah pantai dan membuat perkampungan di sekitar Pelabuhan Buleleng. Dulu, kontak-kontak di antara mereka kebanyakan menyangkut soal-soal perdagangan.

Sampai pada tahun 1930, dalam buku Sejarah Sosial Bali Kota Singaraja (1984), tercatat ada 731 orang Sasak (Lombok) di Buleleng. Saat ini jelas jumlahnya berkali-kali lipat lebih banyak. Keberadaan orang-orang Lombok, Nusa Tenggara Barat di Bali, pun sebaliknya, memberikan suasana yang berbeda di tengah-tengah penduduk setempat. Lalu timbul interaksi sosial pembauran nilai yang unik.

Orang Lombok membuat usaha tahu lombok di Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Setidaknya ada tiga hal yang memungkinkan terjadinya hubungan kerja sama yang intim dan mengarah kepada integrasi antaretnik antara Singaraja dan Lombok. Pertama, adanya titik temu antarbudaya etnik yang berbeda sekaligus memiliki sifat-sifat yang mirip satu sama lain—bagaimana pun, kedua daerah ini pernah di kuasai trah Karangasem. Kedua, adanya sistem perekonomian etnik yang berbeda, dan dalam keadaan demikian saling membutuhkan sehingga saling tergantung, dan ini dapat berkembang menjadi hubungan kerja sama secara komplementer. Ketiga, adanya kesadaran bahwa selain melalui konfiik, dengan kerja sama pun suatu tujuan dapat dipenuhi, baik kebutuhan ekonomi, sosial, maupun kebutuhan psikologis.

Sampai di sini, Singaraja dan Lombok seperti memiliki kesamaan nasib dalam beberapa hal. Bukan saja sama-sama pernah tercatat sebagai daerah jalur perdagangan yang ramai dan menjadi wilajah jual beli budak, tapi juga sama-sama pernah dikuasi Kerajaan Karangasem—daerah antara Buleleng-Lombok.

Kerajaan Karangasem muncul sebagai salah satu kekuatan yang cukup dominan dan mengkhawatirkan di Bali setelah berhasil menguasai seluruh wilayah Lombok sejak tahun 1740. De Graaf (1941) berpendapat bahwa jatuhnya Kerajaan Gelgel hampir bersamaan dengan bangkitnya Kerajaan Karangasem sehingga memberikan peluang untuk menguasai Lombok. Dan pada 1780, Raja Karangasem menguasai Buleleng dan membangun istana yang diberi nama Puri Singaraja. Sejak saat itu, Buleleng diperintah Dinasti I Gusti Gede Karang, penguasa Karangasem.

Kontak Singaraja-Lombok dapat pula kita lihat saat I Gusti Putu Geria, Punggawa Buleleng tahun 1886, diutus ke Mataram, Lombok, untuk meredam gejolak pada tahun 1895. Di sana, kakak I Gusti Nyoman Raka itu menjabat sebagai patih dan bertempat tinggal di Puri Ukir Hawi Cakranegara. Untuk menunjang tugas tersebut, Gusti Geria mengajak saudara-saudaranya dari Puri Kanginan Singaraja ke Mataram dan mengangkat mereka sebagai punggawa sedahan, pekasih, dan lainnya. Sejak itu beberapa keluarga dari Puri Kanginan ikut bemukim di sana sampai sekarang. Di sana pula, Hindu-Bali di Mataram terpusat. Di bawah pemerintahan Karangasem, Cakranegara dikembangkan sebagai pusat pemerintahan sekaligus menjadi sentra permukiman Hindu-Bali.

Singaraja di Mata Orang Lombok

Selanjutnya, keterhubungan Singaraja-Lombok berkembang ke arah yang lebih asosiatif, seperti jalinan perkawinan, pendidikan, dan urusan-urusan lain macam diplomasi politik pemerintahan, kesenian, dan kebudayaan. Oleh sebab itulah, banyak komunitas Lombok yang tinggal di Singaraja. Orang-orang Islam di Desa Tembok, Tejakula, atau Muslim di Batu Gambir, Julah, Tejakula, jelas diaspora dari Pulau Lombok.

Terkait hal ini, Muri Kusnadi adalah saksinya. Pria 67 tahun itu sudah lama tinggal di Singaraja, sejak tahun 1977, saat ia masih bertugas di ABRI, tepatnya di Secata Rindam IX/Udayana Singaraja. Ia sempat pindah ke Dompu tahun 1990-1991, dan tahun 2000 balik lagi ke Singaraja sampai sekarang.

“Alhamdulillah, di Singaraja ini aman. Kami dengan warga asli sini saling menghormati. Di komplek ini saya sendiri yang orang Lombok, yang lain warga asli sini dan beberapa orang Madura,” terang Muri.

Pada tahun 2000, bersama sang istri, Muri mulai membuka usaha jualan tahu lombok di Singaraja. Saat itu ia sempat mendatangkan empat orang dari Lombok, khusus untuk memproduksi tahu. Tapi sayang, mereka berempat hanya bertahan setahun di Singaraja. Akhirnya Muri berusaha membuat tahu sendiri. “Saya merintis dari nol, berkembang sampai sekarang. Tapi pada saat Covid-19, itu cukup terganggu. Mulai jatuh lagi,” akunya.

Orang Lombok membuat usaha tahu lombok di Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Tahu lombok tentu saja berbeda dengan tahu-tahu pada umumnya. Menurut Muri, letak perbedaannya ada pada campuran cukanya. “Kalau tahu biasa itu pakai cuka-cuka belanda—cuka botol itu, yang kecut, kaya blimbing wuluh. Kalau tahu lombok, cukanya itu pakai air garam yang kadarnya agak tinggi. Dan prosesnya agak panjang karena setelah dicetak kami rembus lagi,” terangnya.

Sejauh ini, Muri enggan kembali ke Lombok. Singaraja sudah menjadi kampung halamannya sekarang. “Istri saya keturunan Madura yang lahir dan besar di sini. Mertua saya tinggal di sini [Singaraja] sudah lama,” katanya.

Lalu, sebagaimana Banyuwangi, atau mereka yang tinggal di pulau-pulau kecil di Madura, banyak pula mahasiswa dari Lombok yang kuliah di Singaraja, khususnya di Universitas Pendidikan Ganesha, Universitas Panji Sakti, dan di STAHN Mpu Kuturan. Bahkan, para mahasiswa dari Lombok tersebut menghimpun diri dengan mendirikan organisasi bernama Himpunan Mahasiswa Lombok (HIPMAL), yang aktif melakukan kegiatan internal maupun sosial di Singaraja. Pun mereka yang dari Sumbawa, Bima, dan sekitarnya.

  • BACA JUGA:
Pengalaman Nyeni, Cinta yang Nyeri | Cerita Mizanul Hak, Seniman Lombok di Singaraja

Pun sebaliknya, tak sedikit pula mahasiswa dari Singaraja yang kuliah di Lombok, di Universitas Mataram, beberapa di Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram, pula di Universitas Islam Negeri Mataram. Ikatan pernikahan juga demikian. Pantas saja kemudian lahir ungkapan, “Ada Bali di Lombok” atau “Lombok adalah Bali yang lain”.

“Saya kuliah di Singaraja karena rekomendasi dari kakak sepupu, namanya Agustini. Awalnya niatnya mau di Politeknik Pariwisata Lombok. Tapi nggak jadi, untuk mencari pengalaman, dan kebetulan jaraknya nggak terlalu jauh,” ujar Byur Ridho, Ketua HIPMAL (Himpunan Mahasiswa Lombok). Orang-orang memanggilnya Datuk Hipmal—panggilan dari para anggota HIPMAL yang disematkan kepada ketua.

Saat ini Ridho duduk di bangku semester 6 Prodi Pendidikan Vokasional Seni Kuliner (PVSK) Undiksha. Ia masuk kuliah tahun 2022. Menurut Ridho, saat ini, anggota HIPMAL mencapai seratusan orang, meski yang aktif tak lebih dari separohnya. Hipmal menjadi “rumah” bagi mahasiswa-mahasiswa dari Lombok. Saat awal-awal di Singaraja, Ridho mengaku diopeni, banyak dibantu teman-teman HIPMAL. “Terutama, misalnya, tentang cara menggunakan laptop, urusan kampus—kaya membuat PPT, makalah, itu teman-teman di HIPMAL yang banyak membantu,” akunya.

Tradisi semacam itu selalu ada saat tahun ajaran baru. Anak-anak HIPMAL akan mengadakan ratam (ramah tamah), biasanya dilaksanakan di tepian Danau Tamblingan, di kawasan Bedugul, atau tak jarang di Bendungan Gerokgak. Di sana para mahasiswa baru dan yang lama saling bercengkrama, cerita-cerita terkait kendala selama di Singaraja, sistemnya kekeluargaan. HIPMAL juga sering mengadakan acara kebersamaan di sungai daerah Sambangan. “Kami megibung di sana. Menguatkan solidaritas—dan kondisi ini kami jaga hingga hari ini,” kata Ridho.

Dari sanalah akhirnya Ridho nyaman tinggal di Singaraja. Ia sudah menganggap Singaraja sebagai rumahnya sendiri. Singaraja dan Lombok menurutnya tak jauh berbeda. Soal masjid, misalnya. Meskpun orang Singaraja mayoritas Hindu, tapi di kota ini masjid mudah saja ditemukan. “Kalau cerita tetangga, di Bali itu begitu gawatnya. Nanti salat sulitlah, nggak ada makanan halal, segala macam cerita liar. Tapi nyatanya biasa saja, dan toleransinya juga kuat,” tegas Ridho.

Soal toleransi antara Islam dan Hindu, di Lombok Barat, di tanah kelahiran Ridho, terdapat tradisi yang sudah turun-temurun. Namanya Perang Topat (Perang Ketupat), tradisi tahunan masyarakat Lombok berupa saling lempar ketupat antara umat Islam dan Hindu. Tradisi ini berlangsung di Pura Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

Rido (paling kiri), Mizanul Hak (paling kanan), orang-orang Lombok yang tinggal di Singaraja | Foto: Istimewa

Pengaruh Bali dalam kultur Suku Sasak jelas tak sedikit. Ini terlihat dalam hal pakaian busana adat, alat musik tradisional (gamelan), senjata tradisional, dan makanan. Bentuk kesenian tradisional macam Gendang Beleq, misalnya, jelas produk budaya yang mendapat pengaruh dari kesenian Bali. Atau bentuk kerisnya. Keris Lombok punya ciri serupa dengan keris dari Bali. Kemiripan itu terbentuk melalui jalur akulturasi budaya Kerajaan Klungkung yang masuk Lombok setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit pada abad ke-15.

Senada dengan Ridho, Mizanul Hak juga demikian. Mizan ke Singaraja pada 2015. Ia kuliah di Undiksha sebelum melanjutkan S2 ke STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Bagi Mizan, pelukis muda asal Lombok Timur itu, Singaraja juga rumah. “Banyak memberikan pengalaman kepada saya,” ujar Mizan.

Sekarang Mizan sedang berjuang menyelesaikan S2-nya. Ia masuk STAH pada 2023. Alasannya, selain karena betah di Singaraja, ia juga ingin jadi pembeda di keluarganya. “Saya muslim, tapi kuliah di kampus Hindu,” katanya, sembari tertawa.

Baiklah. Tampaknya, Singaraja-Lombok memang setali tiga uang. [T]

Reporter: Tim Tatkala [Son, Rus, Jas]
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Cakepung dari Karangasem: Teater Bertutur, Akulturasi Budaya Bali, Jawa dan Lombok
Cerita dari Lombok: Teater, Tenun dan MotoGP
Raden Akria Buana, Kades Senaru di Lombok yang Sukses Kembangkan Wisata Desa 
IMBIPU, Ikatan Mahasiswa Bima dan Dompu di Singaraja: Menjaring Ilmu, Menjaring Ikan, Menjaring Relasi
Tags: Lombokmahasiswa lombokSingarajatahu lombokUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sawig, Album “Lakuta”, dan Lakuta Bali Tour di Singaraja

Next Post

Pengalaman Nyeni, Cinta yang Nyeri | Cerita Mizanul Hak, Seniman Lombok di Singaraja

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

by Jaswanto
June 29, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

Read moreDetails

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

by Jaswanto
June 28, 2026
0
Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar....

Read moreDetails

Hikayat Tuak

by Jaswanto
May 30, 2026
0
Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

Read moreDetails

Ritual Menanam Beras Merah

by Jaswanto
May 28, 2026
0
Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

Read moreDetails

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

by Jaswanto
May 15, 2026
0
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

Read moreDetails

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

by Jaswanto
April 14, 2026
0
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas....

Read moreDetails

Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

by Jaswanto
March 20, 2026
0
Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

DALAM sejarah, Singaraja (Buleleng) di Bali Utara tercatat sebagai jalur perdagangan yang semarak dan hidup. Apalagi saat wilayah yang didirikan...

Read moreDetails
Next Post
Pengalaman Nyeni, Cinta yang Nyeri | Cerita Mizanul Hak, Seniman Lombok di Singaraja

Pengalaman Nyeni, Cinta yang Nyeri | Cerita Mizanul Hak, Seniman Lombok di Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co