12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cakepung dari Karangasem: Teater Bertutur, Akulturasi Budaya Bali, Jawa dan Lombok

tatkala by tatkala
July 10, 2024
in Panggung
Cakepung dari Karangasem: Teater Bertutur, Akulturasi Budaya Bali, Jawa dan Lombok

Cakepung Karangasem

JANGAN samakan antara kesenian Cakepung dengan Genjek. Bentuk dan sajian Cakepung jelas berbeda. Cakepung itu merupakan teater bertutur Bali yang bernuansa Sasak (Lombok), karena menggunakan sumber sastra berupa Lontar Monyeh dengan bahasa Sasak.

Cekepung, kesenian khas Karangasem ini masih lestari, dan dipentaskan oleh Sanggar Seni Citta Wistara, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVI. Cakepung pentas di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Selasa 9 Juli 2024.

Para penari dari Sanggar Seni Citta Wistara ini sangat kreatif. Mesti dilakukan dengan posisi duduk dan berbaris di samping kanan dan kiri serta di bagian belakang (proscenium). Salah satu sebagai pembaca lontar dengan cara matembang dan seorang lagi sebagai dalang.

Kesenian ini hanya diiringi alat gamelan berupa suling, rebab dan dua penting. Sementara penari lainnya, bertugas untuk menyanyi sambil menari-nari dengan penuh ekspresi. Terkadang, ada yang berperan sebagai tokoh dalam kisah yang ditembangkan penbembang itu.

Ada yang berperan sebagai inang (pelayan wanita), terkadang sebagai putri atau rasa, terkadang pula sebagai kuda ketika mengisahkan Raja naik kuda. Semua itu dilakukan dengan menari seadanya. Namun, gerak tari mereka terkesan kuat karena dilakukan dengan penuh penjiwaan.

Menariknya, dalam pementasan itu, juga diisi dengan minum-nimuman tuak. Beberapa orang dari penari itu, terkadang berdiri menari-nari sambil membawa bambu, seperti cerek tempat tuak. Cerek itu ditarikan melingkar dan menawartkannya kepada penari, sehingga vocal selalu lancar.   

Pementasan diawali dari adegan “Pengembak” dengan pupuh “leladrangan” yang hanya diiringi alunan suling. Lalu, “pengaksama” permohonan maaf kepada penonton dengan matembang sinom. Selanjutnya “pamungkah” dengan tembang sinom dan memulai Cakepung.

Pada adegan keempat, mengisahkan di Paseban Agung Patih, Raja, Winangcia, Galuh Liku dan Inak Rangda yang membicarakan Diah Winangsia dikucilkan. Dalam adegan ini metembang Semarandana(Jerbon Agung). Raden Una menuju pancuran di taman dengan pupuh Dangdang.

Kemudian Raden Una naik kuda dengan Kumambang jaran gading, Diah Winangsia di taman dengan pupuh kumambang baris kupu-kupu, Melempar manga dengan pupuh Kumambang selempang pauk, dan Pernikahan Diah Winangsia dengan pupuh Jerbon Alit.

Pada adegan terakhir, rakyat bersenang-senamg dengan pupuh Sinom Seriung atau pelentung yang diisi dengan latihan adu kekebalan. Dalam adegan ini sebagai bentuk pesta pernikahan Diah Winagsia. Rakyat melakukan dengan bersukacita, menari sambil bernyanyi.

Dalam adegan pesta ini, para penari membagikan tuak kepada penari lainnya, sehingga tuak seakan menjadi bagian dari pementasan Cakepung itu. Bahlan, para penari membagikan pula kepada penonton, termasuk kepada wisatawan yang tengah asyik menonton kesenian tradisi itu. 

“Dalam pesta itulah muncul budaya makan bersama yang namanya “megibung”. Budaya ini, makin kuat di Lombok. Ini bagian dari akulturasi budaya Bali, Jawa dan Lombok,” ungkap Penglingsir Cakepung, Ida Made Adi Putra yang juga berperan sebagi penembang.

Sinopsis seni tradisi Cakepung “Diah Winangsia”

Cakepung membawakan cerita Monyeh. Tersebutlah tiga orang raja bersaudara, masing-masing menjadi raja di Indrapandita, di Layangsari, di Indrasekar. Raja di Indrapandita mempunyai sembilan putri dan paling bungsu putri paling cantik bernama Diah Winangsia.

Putri ini sering difitnah oleh kakaknya, sehingga raja marah dan mengasingkannya di Taman dengan ditemani inang pengasuhnya yang bernama Inaq Rangda.

Sementara itu raja di Indrasekar mempunyai dua orang putra, yang sulung bernama Raden Kitap Muncar, yang bungsu bernama Raden Witarasari (Raden Una). Mendengar kesengsaraan yang diderita oleh Diah Winangsia, maka Raden Una menuju kerajaan Indrapandita dengan menyamar sebagai seekor monyet.

Kemudian sang kera menghambakan diri kepada Diah Winangsia serta berusaha menolong keluar dari berbagai kesulitan dan kesenangan yang dialami. Kehidupan seekor monyet dengan seorang gadis remaja cantik, tidur bersama, pergi mandi bersama, bermain bercanda, menjadikan kisah cerita dibagian ini menarik.

Setelah beberapa lama berlangsung kedok menyamaran Raden Una diketahui oleh Diah Winangsia, akhirnya Raden Una menjelaskan bahwa dia mencintai Diah Winangsia dan hidup berbahagia di kerajaan tersebut untuk menggantikan ayahnya.

Sejarah

Ida Made Adi Putra yang merupakan penglisir Cakepung generasi ketiga ini menjelaskan, terbentuknya kesenian Cakepung di Desa Budakeling Karangasem tidak lepas dari sejarah kemenangan Raja Karangasem melawan kerajaan di Lombok.

Raja Karangasem berkuasa di Lombok dan ingin membawa seni Sasakan atau Cakepung ke Karangasem. Untuk mewujudkan keinginannya, Raja Karangasem mengajak seniman Karangasem yang berasal dari Budakeling sebanyak tiga orang berangkat ke Lombok.

Seniman itu, adalah Ida Wayan Oka Tangi, Ida Made Putu, dan Ida Ketut Rai yang memiliki tugas masing-masing. Ida Wayan Oka Tangi bertugas mempelajari lontar Monyeh beserta pupuhnya, Ida Made Putu mempelajari sesulingannya dan Ida Ketut Rai mempelajari rebabnya.

Ketiga seniman tersebut berhasil menguasai kesenian tesebut dengan mahir. Karena bahasanya dominan menggunakan bahasa Sasak dan kesenian tersebut berasal dari Lombok maka disebut kesenian Sasakan. Ketiga seniman ini memiliki kemampuan pada bidangnya masing-masing.

Kemampuan berpupuh dari Ida Wayan Oka tidak ada yang menandingi, begitu pula dengan kemampuan saudaranya dalam memainkan suling dan rebab. Pupuh yang digunakan dalam seni Sasakan menggunakan pupuh macepat. Begitu pula dengan sulingnya.

Suling pada kesenian Sasakan disebut “Sesulingan Ladrangan”, suling yang mempunyai lima lubang. Setelah mahir ketiga seniman tersebut kembali ke Karangasem dan mengembangkan “Sasakan” di Karangasem.

Dalam perkembangannya seni Sasakan di Karangasem dipandang monotun, sehingga dimodifikasi oleh Ida Wayan Tangi beserta saudaranya dengan menambahkan “pengecek” yang merupakan pengulangan kembali pupuh macepat dalam bentuk nada yang lebih bergairah menggunakan mulut.

“Orang tua kami kemudian mengisi dengan lagu-lagu, sehingga tidak terkesan monoton. Caranya, dengan memasukan melodi yang ritmis dengan menirukan suara-suara gamelan, suara benda dan suara perang,” terang Ida Made Adi Putra.

Setelah dimodifikasi kesenian Sasakan tersebut namanya menjadi kesenian Cakepung, sehingga cikal bakal kesenian Cakepung merupakan seni Sasakan dari Lombok. Bedanya dengan Sasakan Lombok, cakepung memiliki pengecek, sehingga dalam pementasannya sangat gembira. Berbeda dengan Sasakan yang hanya sebatas membaca macepat tanpa pengecek.

Berfungsi strategis

Kesenian Cakepung dalam perkembangannya memiliki fungsi strategis. Salah satu fungsi kesenian Cakepung di Desa Budakeling digunakan sebagai media penanaman rasa kebersamaan, karena sering ditampilkan dalam acara yadnya masyarakat Budakeling.

Setiap masyarakat Desa Budakeling memiliki upacara yadnya baik Dewa yadnya, Manusa yadnya, Pitra Yadnya, maka para seniman Cakepung datang dengan sukarela tanpa harus diundang. Apabila ada upacara yadnya rasa kebersamaan sangat terlihat. Sehabis pertunjukkan biasanya diikuti dengan acara makan bersama secara kekeluargaan.

Sebagai bagian dari tradisi berkesenian pada masa jayanya kerajaan Karangasem yang berada di Lombok seni Cakepung sangat digemari oleh kalangan masyarakat Budakeling, sehingga dalam kehidupan sosial yang terjadi di masyarakat pada masa lalu Cakepung merupakan bagian dari acara tertentu.

Misalnya; Tiga Bulanan, bayi Putus tali pusar, perkawinan dan lain-lain. Seni Cakepung masa kini jarang ditampilkan, sehingga saat ini hanya ada di Budakeling sebagai pewaris generasi ke dua adalah Ida Wayan Padang (almarhum), Ida Wayan Taman.

Termasuk, Ida Made Sari (Pedanda Gede Made Jelantik Karang) (almarhum), Ida Wayan Raja, Ida Ketut Oka (almarhum), Ida Nyoman Alit (almarhum), Ida wayan Dangin (almarhum), Ida Nyoman Togog (almarhum).

Dari generasi ke-dua dilanjutkan oleh generasi ke-tiga antara lain; Ida Made Basma, Ida Wayan Gede, Ida Nyoman Cundi, Ida Made Adi Putra, Ida Wayan Oka Adnyana, dan banyak lagi yang lainnya. “Kami melakukan berbagai usaha kreatifitas untuk melestarikan seni Cakepung tradisional ini,” paparnya. [T][Pan]

Tags: cakepungkarangasemPesta Kesenian Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pura Bandesa Kubayan Batur, Jejak Kepemimpinan Kubayan di Desa Adat Batur

Next Post

Suguhan Seni dari SLAVA Ukrainian Culture Center

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails
Next Post
Suguhan Seni dari SLAVA Ukrainian Culture Center

Suguhan Seni dari SLAVA Ukrainian Culture Center

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co