13 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Perjalanan Janger Beringkit

IGP Weda Adi Wangsa by IGP Weda Adi Wangsa
May 23, 2026
in Panggung
Catatan Perjalanan Janger Beringkit

JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit, yang paling familiar adalah pasar hewannya yang terkenal menjual sapi. Namun selain terkenal karena pasar hewannya, Beringkit memiliki satu kesenian yang sempat melegenda pada masanya. Kini kesenian itu diabadikan di samping papan nama Desa Adat Beringkit yang terletak di Perempatan desa. Kesenian itu adalah Janger.

Janger berkembang di Beringkit pada sekitar tahun 1950. Namun sayang sesepuh yang pernah berkecimpung di masa tersebut telah semua berpulang. Sebut saja generasi pada tahun ini merupakan generasi pertama Janger Beringkit. Sedangkan generasi kedua berlanjut pada tahun 1964. Salah satu sesepuh yang masih ada hingga saat ini adalah Dewa Kakyang Windya, Men Bersih, Men Liong, dan Ajik Nawa. Sisanya telah mendahuli pulang menuju keabadian.

Janger Beringkit pada periode 1950-1964 merupakan sekaa (grup) Janger yang cukup tenar. Penuturan Dewa Kakiang Windya, ia bersama rekan-rekannya sangat sering pentas ke Bali selatan meliputi daerah Tangeb, Kuta, hingga Legian. begitu pula daerah Busungbiu, Tabanan, Petang, dan bahkan lebih dari itu namun ia sudah lupa. Pementasan yang spektakuler memiliki durasi yang sangat lama. Satu lakon Janger bahkan pernah hingga jam 7 pagi dengan judul Layonsari-Jayaprana. Bayaran yang diterimanya pun hanya berkisar 2.500-3.500 rupiah untuk seluruh sekhaa Janger.

Sisa topeng yang digunakan sebagai lakon pelengkap saat pementasan Janger Beringkit | Foto: Adi Wangsa

Perlengkapan Janger seperti gelungan Janger saat ini masih disimpan di Pura Desa dan Puseh Desa Adat Beringkit. namun dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Gelungan[i] Janger yang tersimpan terdapat dua jenis yakni Gelungan milik Desa Adat Beringkit dan Gelungan pemberian dari Pemerintah Kabupaten Badung. gelungan itu diberikan sebab Sekha Janger Beringkit pada tahun 1994 pernah mewakili Bali pentas di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta dalam rangka P4 (Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila). Gelungan ini pun memiliki cerita diluar nalar.

Ketika akan pentas di Pura menggunakan gelungan pemerintah, salah satu penari mengalami trans (kerauhan) dan memberikan pesan tidak berkenan untuk memakai gelungan selain gelungan di milik desa. Gelungan ini dibuat oleh seorang seniman asal banjar Sanghyang Desa Kekeran Badung dan bunga yang bergonjer dibuat di Banjar Kelod Kauh Desa Adat Beringkit.

Gelungan Janger Beringkit | Foto: Adi Wangsa

Pementasan Janger klasik Beringkit ketika itu menyajikan beberapa jenis lakon seperti Dayu Datu, Layonsari Jayaprana dsb. Sehingga beberapa piranti yang dijadikan pementasan saat itu msih tersimpan namun dengan kondisi yang sangat parah. seperti topeng bojog (monyet), asu (anjing), dan mrega (macan). Namun salah satu tapel (topeng) yang dijadikan tokoh utama saat itu yakni topeng celuluk saat ini disusung oleh krama desa.

Mulanya tapel celuluk tersebut disimpan di salah satu rumah warga di banjar Kelod Kauh Beringkit. suatu saat, ketika sandikala didapatilah rambut dari tapel celuluk tersebut berisi banyak kutu. Sehingga atas petunjuk dari alam niskala, akhirnya tapel celuluk tersebut distanakan di Pura Desa dan Puseh Desa Adat Beringkit bergelar Ratu Ayu. Konon menurut Dewa Kakiang Windya, tapel celuluk ini dibeli atau dipesan dari seorang seniman di desa Kaba-Kaba.

Dari sekian kisah yang saya dapatkan dari para sepuh janger, semua cerita yang diceritakan sama sama sekali tidak memiliki perbedaan. saya yakin mereka sama sekali tidak menambah-nambahkan cerita yang mereka alami secara nyata. namun sayang, dokumentasi berupa foto satu pun tidak ada yang masih memiliki. seingat mereka dulu sempat berfoto, namun entah dimana hasil foto tersebut berada. dalam waktu ini saya bersama beberapa tokoh desa sedang mencari dokumentasi penari Janger Beringkit. para handai taulan pembaca, sekiranya ada yang memiliki foto-foto janger yang dicurigai adalah Janger Beringkit, dengan hormat saya ingin sekali melihat dan ikut menjaga dokumentasi tersebut.

Janger Beringkit dan P4

Puncak kejayaan dari Janger Beringkit setelah tahun 1960-an kemudian berlanjut di tahun 1993. Menurut penuturan dari I Nyoman Suwitra dan I Gusti Putu Sukarta kala itu tersebutlah sebuah ajang perlombaan Janger yang dilaksanakan oleh Pemkab Badung.

Tujuan dari lomba tersebut adalah untuk mencari perwakilan tampil di ajang P4 Jakarta. P4 adalah ajang kebangsaan. Adapun kepanjangan dari P4 adalah Pedoman, Pengayatan, dan Pengamalan Pancasila. Sehingga oleh masyarakat Beringkit janger pada tahun itu disebut dengan Janger P4. Setelah mendapatkan Juara 1 Sekhaa Janger Beringkit melaju ke Jakarta pada tahun 1994. Ketika berada di Jakarta mereka pentas di beberapa tempat, seperti Taman Mini Indonesia Indah, Dufan dan Ancol.

Foto-foto pementasan Janger P4 Desa Adat Beringkit Tahun 1993 | Foto: Koleksi Jero Mangku Gusti Ngurah Arya

Taksu Janger Beringkit

Salah satu sesepuh Janger Beringkit yang bernama Ni Putu Padmi atau kerap disapa Men Liong mengungkapkan sesuatu yang diluar nalar. Ketika Janger Beringkit pentas di Jaba Pura Desa lan Puseh, taksu atau kekuatan dari Ida Bhatara tiba-tiba muncul. Kekuatan Ida Bhatara terwujud dalam bentuk kain putih yang membentang dari utama mandala menuju jaba pura, tempat Janger menari. Kejadian ini pun masih diingat oleh Dewa Kakyang Windya. Ia menuturkan kisah yang sangat sama dengan Ni Putu Padmi. Lain daripada itu, suatu ketika pentas di wilayah Buduk, kain putih itu pun pernah ikut dan membentang entah dari mana.

Pembuahan oleh para tetua

Seperti proses berkembang biak, para tetua Janger Beringkit melakukan proses “pembuahan” kepada generasi muda. Pembuahan dalam hal ini adalah proses memberikan benih-benih janger kepada para pemuda-pemudi yang nantinya akan menjadi estafet kebudayaan di Beringkit. Setelah sekian lama tertidur, melalui proses ini diharapkan Janger Beringkit mulai mekar dan menunjukkan eksistensinya kembali.

Pementasan ini dilakukan pada saat eedan Tawur Kasanga, tanggal 17 Maret 2026 atas inisiasi dari I Komang Aryawibawa Kelian Dinas Banjar Selat Beringkit. kegiatan tersebut juga mendaptakan respon dan dukungan dari Bendesa Adat Beringkit I Ketut Sutomo dan para sesepuh Janger terdahulu. Pementasan perdana ini meneteskan air mata para sesepuh, mereka bangga dan terharu. Kesenian yang tertidur selama puluhan tahun akhirnya dapat matangi. [T]


[i] Mahkota penari yang sering digunakan dalam pementasan Tari Bali

Tags: BadungDesa Adat Beringkitjangerjanger balikesenian baliMengwi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semangat Sportivitas dan Solidaritas Warnai UHA Futsal Competition 2026

Next Post

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

IGP Weda Adi Wangsa

IGP Weda Adi Wangsa

I Gusti Putu Weda Adi Wangsa, mahasiswa Prodi Jawa Kuno, FIB Unud. Akun Instagram: igstngrweda_

Related Posts

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails
Next Post
Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co