2 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Perjalanan Janger Beringkit

IGP Weda Adi Wangsa by IGP Weda Adi Wangsa
May 23, 2026
in Panggung
Catatan Perjalanan Janger Beringkit

JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit, yang paling familiar adalah pasar hewannya yang terkenal menjual sapi. Namun selain terkenal karena pasar hewannya, Beringkit memiliki satu kesenian yang sempat melegenda pada masanya. Kini kesenian itu diabadikan di samping papan nama Desa Adat Beringkit yang terletak di Perempatan desa. Kesenian itu adalah Janger.

Janger berkembang di Beringkit pada sekitar tahun 1950. Namun sayang sesepuh yang pernah berkecimpung di masa tersebut telah semua berpulang. Sebut saja generasi pada tahun ini merupakan generasi pertama Janger Beringkit. Sedangkan generasi kedua berlanjut pada tahun 1964. Salah satu sesepuh yang masih ada hingga saat ini adalah Dewa Kakyang Windya, Men Bersih, Men Liong, dan Ajik Nawa. Sisanya telah mendahuli pulang menuju keabadian.

Janger Beringkit pada periode 1950-1964 merupakan sekaa (grup) Janger yang cukup tenar. Penuturan Dewa Kakiang Windya, ia bersama rekan-rekannya sangat sering pentas ke Bali selatan meliputi daerah Tangeb, Kuta, hingga Legian. begitu pula daerah Busungbiu, Tabanan, Petang, dan bahkan lebih dari itu namun ia sudah lupa. Pementasan yang spektakuler memiliki durasi yang sangat lama. Satu lakon Janger bahkan pernah hingga jam 7 pagi dengan judul Layonsari-Jayaprana. Bayaran yang diterimanya pun hanya berkisar 2.500-3.500 rupiah untuk seluruh sekhaa Janger.

Sisa topeng yang digunakan sebagai lakon pelengkap saat pementasan Janger Beringkit | Foto: Adi Wangsa

Perlengkapan Janger seperti gelungan Janger saat ini masih disimpan di Pura Desa dan Puseh Desa Adat Beringkit. namun dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Gelungan[i] Janger yang tersimpan terdapat dua jenis yakni Gelungan milik Desa Adat Beringkit dan Gelungan pemberian dari Pemerintah Kabupaten Badung. gelungan itu diberikan sebab Sekha Janger Beringkit pada tahun 1994 pernah mewakili Bali pentas di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta dalam rangka P4 (Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila). Gelungan ini pun memiliki cerita diluar nalar.

Ketika akan pentas di Pura menggunakan gelungan pemerintah, salah satu penari mengalami trans (kerauhan) dan memberikan pesan tidak berkenan untuk memakai gelungan selain gelungan di milik desa. Gelungan ini dibuat oleh seorang seniman asal banjar Sanghyang Desa Kekeran Badung dan bunga yang bergonjer dibuat di Banjar Kelod Kauh Desa Adat Beringkit.

Gelungan Janger Beringkit | Foto: Adi Wangsa

Pementasan Janger klasik Beringkit ketika itu menyajikan beberapa jenis lakon seperti Dayu Datu, Layonsari Jayaprana dsb. Sehingga beberapa piranti yang dijadikan pementasan saat itu msih tersimpan namun dengan kondisi yang sangat parah. seperti topeng bojog (monyet), asu (anjing), dan mrega (macan). Namun salah satu tapel (topeng) yang dijadikan tokoh utama saat itu yakni topeng celuluk saat ini disusung oleh krama desa.

Mulanya tapel celuluk tersebut disimpan di salah satu rumah warga di banjar Kelod Kauh Beringkit. suatu saat, ketika sandikala didapatilah rambut dari tapel celuluk tersebut berisi banyak kutu. Sehingga atas petunjuk dari alam niskala, akhirnya tapel celuluk tersebut distanakan di Pura Desa dan Puseh Desa Adat Beringkit bergelar Ratu Ayu. Konon menurut Dewa Kakiang Windya, tapel celuluk ini dibeli atau dipesan dari seorang seniman di desa Kaba-Kaba.

Dari sekian kisah yang saya dapatkan dari para sepuh janger, semua cerita yang diceritakan sama sama sekali tidak memiliki perbedaan. saya yakin mereka sama sekali tidak menambah-nambahkan cerita yang mereka alami secara nyata. namun sayang, dokumentasi berupa foto satu pun tidak ada yang masih memiliki. seingat mereka dulu sempat berfoto, namun entah dimana hasil foto tersebut berada. dalam waktu ini saya bersama beberapa tokoh desa sedang mencari dokumentasi penari Janger Beringkit. para handai taulan pembaca, sekiranya ada yang memiliki foto-foto janger yang dicurigai adalah Janger Beringkit, dengan hormat saya ingin sekali melihat dan ikut menjaga dokumentasi tersebut.

Janger Beringkit dan P4

Puncak kejayaan dari Janger Beringkit setelah tahun 1960-an kemudian berlanjut di tahun 1993. Menurut penuturan dari I Nyoman Suwitra dan I Gusti Putu Sukarta kala itu tersebutlah sebuah ajang perlombaan Janger yang dilaksanakan oleh Pemkab Badung.

Tujuan dari lomba tersebut adalah untuk mencari perwakilan tampil di ajang P4 Jakarta. P4 adalah ajang kebangsaan. Adapun kepanjangan dari P4 adalah Pedoman, Pengayatan, dan Pengamalan Pancasila. Sehingga oleh masyarakat Beringkit janger pada tahun itu disebut dengan Janger P4. Setelah mendapatkan Juara 1 Sekhaa Janger Beringkit melaju ke Jakarta pada tahun 1994. Ketika berada di Jakarta mereka pentas di beberapa tempat, seperti Taman Mini Indonesia Indah, Dufan dan Ancol.

Foto-foto pementasan Janger P4 Desa Adat Beringkit Tahun 1993 | Foto: Koleksi Jero Mangku Gusti Ngurah Arya

Taksu Janger Beringkit

Salah satu sesepuh Janger Beringkit yang bernama Ni Putu Padmi atau kerap disapa Men Liong mengungkapkan sesuatu yang diluar nalar. Ketika Janger Beringkit pentas di Jaba Pura Desa lan Puseh, taksu atau kekuatan dari Ida Bhatara tiba-tiba muncul. Kekuatan Ida Bhatara terwujud dalam bentuk kain putih yang membentang dari utama mandala menuju jaba pura, tempat Janger menari. Kejadian ini pun masih diingat oleh Dewa Kakyang Windya. Ia menuturkan kisah yang sangat sama dengan Ni Putu Padmi. Lain daripada itu, suatu ketika pentas di wilayah Buduk, kain putih itu pun pernah ikut dan membentang entah dari mana.

Pembuahan oleh para tetua

Seperti proses berkembang biak, para tetua Janger Beringkit melakukan proses “pembuahan” kepada generasi muda. Pembuahan dalam hal ini adalah proses memberikan benih-benih janger kepada para pemuda-pemudi yang nantinya akan menjadi estafet kebudayaan di Beringkit. Setelah sekian lama tertidur, melalui proses ini diharapkan Janger Beringkit mulai mekar dan menunjukkan eksistensinya kembali.

Pementasan ini dilakukan pada saat eedan Tawur Kasanga, tanggal 17 Maret 2026 atas inisiasi dari I Komang Aryawibawa Kelian Dinas Banjar Selat Beringkit. kegiatan tersebut juga mendaptakan respon dan dukungan dari Bendesa Adat Beringkit I Ketut Sutomo dan para sesepuh Janger terdahulu. Pementasan perdana ini meneteskan air mata para sesepuh, mereka bangga dan terharu. Kesenian yang tertidur selama puluhan tahun akhirnya dapat matangi. [T]


[i] Mahkota penari yang sering digunakan dalam pementasan Tari Bali

Tags: BadungDesa Adat Beringkitjangerjanger balikesenian baliMengwi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semangat Sportivitas dan Solidaritas Warnai UHA Futsal Competition 2026

Next Post

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

IGP Weda Adi Wangsa

IGP Weda Adi Wangsa

I Gusti Putu Weda Adi Wangsa, mahasiswa Prodi Jawa Kuno, FIB Unud. Akun Instagram: igstngrweda_

Related Posts

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 28, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails
Next Post
Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co