24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengalaman Nyeni, Cinta yang Nyeri | Cerita Mizanul Hak, Seniman Lombok di Singaraja

Son Lomri by Son Lomri
February 18, 2025
in Persona
Pengalaman Nyeni, Cinta yang Nyeri | Cerita Mizanul Hak, Seniman Lombok di Singaraja

Mizanul Hak

SETAHUN lalu, pada pertengahan Desember. Di sebuah markas bernama Karang Siluman (Karsil), di Sambangan, Gang Durian, lelaki itu membuka bajunya, menatap lukisan abstrak, baru saja rampung.

Ia merokok. Lalu menatap lukisan berjudul “Lanscap 2025” berukuran 250 x 130 cm dari media AOC itu, dengan satu tarikan napas paling dalam. Asap tebal keluar—menguar. Maka, meredalah segala perang batin. Keringlah pikiran di kanvas. Juga rasa cemas.

“Karena kebanyakan orang berharap di tahun 2025 lebih baik dari tahun 2024. Banyak yang bilang semoga di tahun 2025 berlimpah uang, cepat dikasih jodoh dan sebagainya. Tapi terkadang mereka lupa bersyukur,” kata Mizanul Hak, lelaki itu, tentang lukisan yang baru saja dibuatnya itu.

Mizanul Hak, seniman muda asal Lombok yang memilih berkarir di Bali. Ia lahir pada 27 Januari 1997, di Kumbung Timur, Desa Kumbang, Masbagik, Lombok Timur.

Ia adalah seniman muda asal Lombok yang banyak berporses di Bali. 

Mizanul Hak | Foto: Dok. pribadi

Ia sempat kuliah Jurusan Seni di Undiksha tahun 2015. Lulus tahun 2021. Tapi masih bertahan di Singaraja hingga sekarang, memilih berkarir di Bali Utara walaupun sudah lulus.

Di Karsil (tempat nongkrong Mahasiswa Seni Undiksha) ia tidur di sana, juga melukis di sana.

Ia mengerjakan beberapa projekan seni untuk suvive selama kuliah, membuatnya punya banyak pengalaman tentang hidup. Juga tentang cinta. Dunia seni.

Di awal masuk kuliah, sebelumnya Mizan tak merasa betah tinggal di Bali. Sebab jurusannya sewaktu awal perkuliahan adalah Teknik Mesin—yang harus berurusan dengan hitung-hitungan. Dua semester ia ngos-ngosan. Setiap kali masuk kelas rasanya seperti diteror oleh angka.

  • BACA JUGA:
Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Pedagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

Kemudian, di smester tiga, ia pindah ke jurusan seni. Sejak itulah, ia jarang pulang, dan bergairah mengembara di Bali Utara sebagai seniman lukis. Mengikuti banyak pameran sebagai panggungnya.

“Dari awal memang pengen jurusan seni, tapi katanya mahal, akhirnya saya disuruh masuk jurusan teknik oleh keluarga. Padahal saya gak kuat hitung-hitungan. Rasanya pengen pulang saja ketika itu,” ucap lelaki itu.

Setelah pindah jurusan, ke seni, itu membuatnya lebih hidup. Jurusan seni baginya seperti laut yang biru untuk para peselancar. Penuh petualang. Dan di kanvas, ia tak henti-henti berenang dengan kuas. Tenggelam pada imajinasi penuh warna dan simbol.

Ketertarikannya pada seni, memang sejak kecil lelaki itu senang gambar. Bahkan, menjual hasil gambarnya kepada teman, sewaktu SD, menjadi pengalaman manisnya dulu. Keluarganya memang orang-orang seni, bapaknya adalah seniman kaligrafi (huruf arab). Juga paman-pamannya ada yang bergelut di seni lukis.

Mizanul Hak saat melukis | Foto: tatkala.co/Son

Dan selama kuliah, nude art, atau lukisan yang lebih banyak mengekspresikan lekuk tubuh perempuan, yang indah (erotis). Di nude art, Mizan mulai membentuk keterampilannya.

Bahkan, kerap dipanggil Pelukis Cabul sebab terlalu sering melukis tubuh telanjang. Tapi ia biasa saja, dan menganggap lelucon itu adalah lelucon amatir.

Dari Realis ke Abtsrak

“Padahal, saya sebenarnya ingin menyampaikan pesan, bahwa perempuan itu bukan makhluk seksual semata. Ia adalah hidup. Keadilan mestilah datang pada semua perempuan, di tengah mata telanjang patriarki di zaman sekarang,” katanya.

Melukis tubuh perempuan menjadi ketertarikannya tersendiri. Tubuh telanjang (nude art). Sebagaimana Picasso dulu melukis tubuh perempuan. Tapi, setelah ketertarikan itu, Mizan terhenti. Ia diamuk cinta. Lebam.

Pertunangan yang gagal bersama pacar, membuatnya beralih dari surealis pada abstrak. Seni tertinggi memang adalah asbtrak. Walaupun menanggungnya nyeri. Semua simbol terkesan disembunyikan. Termasuk tentang perempuan. Kota ini mengajarinya pelajaran hidup.

“Tapi justru, di abtsrak ini, banyak lukisan saya terjual dari pada lukisan sebelumnya,” ujarnya.

Sekitar tiga lukisan habis terjual dalam waktu enam bulan tahun lalu. Satu lukisan ada yang dua juta harganya, tiga, bahkan bisa lebih. Beragam. Tak hanya tiga, masih banyak lagi yang tandas dibeli. Mizan tak ingat soal judulnya apa saja. Lupa.

Setelah lulus dari Undiksha, Mizanul sempat mencoba pulang ke Lombok dan mengajar sebagai tenaga pendidik di MTs Mu’allimin Nw Anjani, atau sekolah Islam.

“Tiba-tiba pulang ke Lombok saya dipanggil Ustaz. Dalam hati saya, selama kuliah berurusan dengan seni, dengan pergaulan, yang gimana begitu, tiba-tiba dipanggil Ustaz, saya shock culture, haha..” katanya humor.

Sebagai cerita unik, suatu kali, lanjut lelaki itu bercerita, ia tak hanya dipanggil sebagai ustaz, tapi kerap juga dipercaya untuk menjadi imam sholat. Sulit untuk ditolak setelah bediri di tengah waktu illahi, tapi karena hidup adalah misteri, tawaran itu diterimanya saja. Sholat dimulai.

Karya-karya Mizanul Hak | Foto: tatkala.co/Son

Para tuan guru merapikan shafnya di belakang lelaki itu, juga siswa-siswi. Hening. Khusyuk maghrib akan digelar. Takbir pertama si imam mulai beranjak, makmum mengikuti. Alfatihah mulai dibacakan hingga akhir. Setelah itu, ia membacakan surah Arrahman sebagai lanjutannya. Makmum khusyuk mendengar.

“Saya bacakan satu ayat saja waktu itu. Padahal jumlah ayatnya 78 ayat. Karena boleh kan, satu juga. Nah, saya diam dulu setelah membacakan Arrahmaan (ayat pertama), menjeda dulu. Mikir. Saya kan gak hafal, terus itu panjang, kan, saya juga gak tahu, kok, bisa-bisanya saya kepikiran baca surah itu. Padahal panjang. Saya langsung rukuk, allahuakbar, di belakang, anak-anak itu, ketawa kecil, dan menahan ketawa tuan-tuan guru. Saya malu jadi imam haha,” ceritanya.

Singaraja, dan Sapuan Kuat terhadap Kanvas

Setelah satu tahun menjadi guru, ia kembali ke Singaraja, dan melanjutkan S2-nya di STAH Mpu Kuturan, mengambil jurusan ilmu agama dan kebudayaan. Seperti tak puas, Bali Utara terus diubeknya soal kesenian. Tentang Singaraja, memang, kata lelaki itu.

“Sulit ditinggalkan. Pernah, satu waktu, aku sakit, lupa di mana waktu itu aku sakit. Kayanya di Ubud.” Lelaki itu mengingat. “Aku pulang ke Singaraja, sembuh.”

Entah itu mengarang atau tidak, yang jelas, kota ini sudah seperti kuas yang memainkannya berwarna. Selama berproses di Singaraja, sudah banyak peristiwa yang ia lukis. Dan ada banyak pameran yang sudah diikutinnya banyak sekali.

  • BACA JUGA:
Muri Kusnadi, Diangkat TNI di Singaraja, Pensiun di Singaraja, Bikin Tahu Lombok di Singaraja

Seperti Pameran Sak Art, Kuta Mandalika, Lombok Tengah (2016), Pameran Maut Seru #29, Pameran Kucing Seru #5 Undiksha Gallery Kampus Bawah Undiksha (2017), Pameran Seru-Seruan #30, Gallery Kampus Bawah Undiksha,Pameran Photograpy Undiksha (2018), Pameran Maut Seru #31, Gallery Kampus Bawah Undiksha, Pameran One And Another, Monkey Forest,Ubud, Bali (2019). Pameran “Jhaga”, Bondowoso, Jawa Timur (2019).

Kemudian, Pameran Tugas Akhir, Gallery Kampus Bawah Undiksha, Pameran Trash To Art Manik Bumi, Singaraja, Buleleng, Bali (2020), Pameran DCG 15 Meruak Nyata UNY Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta (2020), Pameran Virtual BDC Conec, Bandung, Jawa Barat (2020), Pameran Virtual Gamasera Undiksha, Singaraja, Buleleng, Bali (2020).

Karya-karya Mizanul Hak | Foto: tatkala.co/Son

Pameran Komunitas SENIne Rasa Masa dan Massa Lombok Timur (2020). Pameran Komunitas SENIne #2 Lombok Timur (2020). Pameran Seni Rupa SENIne X Sak Art Home Sweet Home, Lombok Tengah (2020), Pameran Art Comonity Exhibition Se-NTB, Taman Budaya NTB, Mataram (2020).

Pameran In International Art Exhibition “Pesta Seni 6”  “Human Circus” Department Student Association Faculty Of  Letters , Malang State University, Jawa Timur (2020), Pameran Iring-iringan, Ponorogo, Jawa Timur (2020), Pameran Dosen Dan Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Undiksha “ Contemplating The Journey” Kampus Bawah Undiksha (2020), Pameran Komunitas SENIne Nol Kecil, Mataram, Nusa Tenggara Barat (2021), Pameran dan Lomba Lukis Dies Natalis UNS 45 yang diselenggarakan oleh Universitas Sebelas Maret, Surakarta , Jawa Tengah (2021), Pameran Komuntias OPRASI #3 Get In Touch With Prasi Di  Ruang Antara Studio Batu Bulan, Gianyar Bali. 2021 : Affordable Artfair AAF 2021, Kuala Lumpur, Malaysia (2021). Pameran “MENYIGI TRADISI”, Taman Budaya NTB. 2022 : Pameran Forum Drawing Indonesia (FGD) Landscape “sisi lain” serentak di Indonesia (2021).

Pameran Titik Temu, Taman Budaya NTB, Mataram (2022), Pameran Mindscape , Tetebatu, Lombok Timur (2022, Pameran Komunitas Senine “Revolusi” Pringgasela Lombok Timur (2023), Pameran 10 Perupa NTB bertajub ME (REKA) Taman Budaya NTB, Mataram. 2024 : Pameran Bring Back Memories at Ayom Suite Hotel, Mataram, NTB (2024), Pameran Voice Of Beauty International Exhibition at ISI Denpasar, Bali (2024).

“Singaraja sudah seperti rumah yang nyaman, dan memberikan banyak pengalaman. Termasuk pengalaman cinta yang abstrak!” tutup lelaki itu. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Cakepung dari Karangasem: Teater Bertutur, Akulturasi Budaya Bali, Jawa dan Lombok
Cerita dari Lombok: Teater, Tenun dan MotoGP
Raden Akria Buana, Kades Senaru di Lombok yang Sukses Kembangkan Wisata Desa 
IMBIPU, Ikatan Mahasiswa Bima dan Dompu di Singaraja: Menjaring Ilmu, Menjaring Ikan, Menjaring Relasi
Tags: Seni Rupaseni rupa lombokseni rupa undikshaSingarajaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

Next Post

Muri Kusnadi, Diangkat TNI di Singaraja, Pensiun di Singaraja, Bikin Tahu Lombok di Singaraja

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Muri Kusnadi, Diangkat TNI di Singaraja, Pensiun di Singaraja, Bikin Tahu Lombok di Singaraja

Muri Kusnadi, Diangkat TNI di Singaraja, Pensiun di Singaraja, Bikin Tahu Lombok di Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co