14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita Butuh Uang, Tapi Uang Bukan Segalanya: Renungan Perayaan Foundation Day ke-36 di Anand Ashram Ubud

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
January 16, 2026
in Esai
Kita Butuh Uang, Tapi Uang Bukan Segalanya: Renungan Perayaan Foundation Day ke-36 di Anand Ashram Ubud

“When you believe in money and begin to think that nothing can be done without it, you lose your belief in God, in fellow human beings, and in yourself.” The Gospel of Mahamaya – Anand Krishna

PERAYAAN Foundation Day ke-36 Yayayasan Anand Ashram di Anand Ashram Ubud, Rabu 14 Januari 2026 telah usai. Malam turun perlahan, seperti tirai yang menutup sebuah panggung sakral. Chanting masih terasa bergema di dada, mantra dari fire purification seolah masih terngiang di telinga, dan wajah Guruji Anand Krishna di layar—dari video yang diputar—masih terasa hadir, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai kesadaran yang hidup.

Dalam suasana itulah, sebuah quote dibacakan dari buku The Gospel of Mahamaya karya Guruji. Pertama dalam bahasa Inggris, lalu dalam bahasa Indonesia, karena ada sahabat-sahabat dari berbagai bangsa yang ikut merayakan:

“When you believe in money and begin to think that nothing can be done without it, you lose your belief in God, in fellow human beings, and in yourself.”

Ketika kau percaya pada uang dan mulai berpikir tanpa uang kau tidak dapat berbuat sesuatu, maka kau kehilangan kepercayaanmu terhadap Tuhan, sesama manusia, dan dirimu sendiri.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tidak bombastis. Bahkan bisa terasa klise bila dibaca sepintas. Namun malam itu, di tengah keheningan kolektif setelah chanting dan fire purification, kata-kata tersebut seperti menemukan ruangnya sendiri di dalam batin.

Saat Kenyamanan Tidak Lagi Cukup

Dalam perjalanan pulang dari ashram ke rumah, renungan itu bertaut dengan pengalaman hidup saya sendiri. Hampir dua puluh tahun saya bekerja di sebuah BUMN. Fasilitas yang saya terima sangat layak untuk ukuran sebuah kenyamanan—bahkan sebuah kemewahan jika dibandingkan dengan latar belakang hidup saya hingga SMA yang sangat memprihatinkan. Stabilitas ekonomi tercapai. Rasa aman material relatif terpenuhi. Di mata banyak orang, hidup saya bisa disebut berhasil dan mapan.

Dan memang benar, secara lahiriah, kita butuh uang. Ia memberi ruang bernapas, martabat sosial, dan kemudahan hidup. Itu fakta. Namun justru dari dalam kecukupan itulah, pelan-pelan saya menyadari kebenaran kalimat berikutnya: uang bukan segalanya.

Ada sesuatu yang hampa. Ada sesuatu yang belum saya dapatkan. Saya belum bisa menamainya saat itu. Apakah itu kebahagiaan sejati? Saya belum tahu. Yang jelas, ada kejenuhan yang tak bisa dijelaskan oleh logika karier, target, atau grafik penghasilan—kejenuhan tingkat dewa, jika boleh saya menyebutnya begitu.

Saya tidak sedang menderita. Tapi juga tidak sungguh hidup. Tidak kekurangan, tapi tidak utuh. Dan mungkin di titik itulah, tanpa saya sadari, pusat kepercayaan saya mulai goyah.

Keputusan pensiun dini di usia 41 tahun bukanlah tindakan heroik atau romantik. Ia lahir dari kejujuran batin: bahwa ada perjalanan lain yang memanggil, meski belum jelas arahnya. Bukan karena membenci uang atau pekerjaan, melainkan karena menyadari bahwa hidup tidak menemukan makna di sana.

Uang Bukan Masalah, Kepercayaan yang Bergeser

Di sinilah saya baru sungguh memahami kedalaman quote Guruji. Beliau tidak sedang mengutuk uang. Uang bersifat netral. Yang disentuh adalah pergeseran pusat kepercayaan.

Ketika seseorang mulai berpikir bahwa tanpa uang ia tidak bisa berbuat apa-apa, maka uang telah naik derajat—dari alat menjadi sandaran eksistensial. Ia tidak lagi sekadar membantu hidup, tetapi menentukan makna hidup.

Dalam kerangka The Gospel of Mahamaya, inilah kerja ilusi: yang relatif diperlakukan sebagai mutlak. Maya tidak menipu dengan kebohongan total, melainkan dengan separuh kebenaran. Uang memang penting, tetapi bukan sumber kehidupan, apalagi kebahagiaan.

Tuhan sebagai Opsi Cadangan

Guruji tidak mengatakan kita kehilangan Tuhan, melainkan kehilangan belief in God. Tuhan tidak pergi ke mana-mana. Yang memudar adalah relasi batin kita dengan-Nya.

Ketika uang menjadi pusat rasa aman, Tuhan bergeser menjadi pelengkap. Kita masih berdoa, masih menyebut nama-Nya, tetapi di lapisan terdalam, rasa percaya kita sudah berpindah. Tuhan direduksi menjadi “opsi cadangan”, bukan sumber kehidupan.

Dalam Peta Kesadaran David R. Hawkins, kondisi ini beresonansi dengan level Desire (125) dan Pride (175)—kesadaran yang masih digerakkan oleh keinginan memiliki dan penguatan ego. Spiritualitas pun mudah berubah menjadi transaksi: doa sebagai proposal, amal sebagai investasi.

Retaknya Kepercayaan pada Sesama Manusia

Ketika uang menjadi ukuran nilai, sesama manusia pun ikut tereduksi. Kita mulai bertanya: apa manfaatnya? apa untungnya? Relasi menjadi fungsional, bukan personal.

Tak heran dunia hari ini terasa dingin. Mudah curiga. Sulit percaya. Solidaritas menipis. Bukan semata karena manusia makin jahat, tetapi karena kesadaran kolektif kita bergerak dari kelimpahan menuju kelangkaan.

Dalam Peta Hawkins, ini selaras dengan level Fear (100) dan Anger (150)—takut kekurangan, marah karena merasa hidup tidak adil.

Kehilangan Diri Sendiri: Harga yang Paling Mahal

Namun bagian paling sunyi dari quote Guruji adalah yang terakhir: and in yourself. Di sinilah saya merasa paling tersentuh.

Betapa banyak orang—termasuk saya di masa lalu—yang perlahan kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena merasa tanpa uang ia tidak berarti. Kreativitas terbungkam. Keberanian menguap. Langkah tertahan.

Padahal sebelum memiliki apa pun, manusia dianugerahi kesadaran, daya cipta, dan keberanian untuk hidup. Ketika semua itu dikalahkan oleh angka, kita membayar harga yang sangat mahal.

Hawkins menyebut wilayah ini sebagai Apathy (50) dan Grief (75)—energi rendah, hidup terasa berat, dan masa depan tampak suram.

Api yang Membersihkan, Bukan Membakar

Malam itu, fire purification menemukan maknanya. Api tidak membakar, tetapi membersihkan. Bukan menghancurkan, melainkan mengingatkan.

Mungkin yang perlu disucikan bukanlah uang, melainkan ketergantungan batin kita padanya. Mengembalikan uang ke tempatnya: sebagai alat, bukan pusat makna, apalagi tuhuan hidup.

Dalam Peta Hawkins, titik balik terjadi di level Courage (200)—saat seseorang mulai percaya pada kehidupan itu sendiri, meski tanpa jaminan mutlak. Di atasnya, Love (500), level aman bagi manusia: Kasih dalam pengertian cinta tanpa batas dan tak bersyarat. Namun, mengenal kasih saja tidak cukup, kita mesti mengaplikasikannya dalam keseharian hidup. Jika tidak, kesadaran kita bisa merosot lagi, demikian menurut Guruji dalam The Science of Fear Management & The Art of Being Happy

Perayaan yang Ikut Pulang

Motor melaju pelan di jalan Ubud yang mulai lengang, tidak seramai biasanya. Tidak ada kesimpulan besar. Tidak ada resolusi heroik. Hanya satu kesadaran yang mengendap pelan-pelan:

Bahwa spiritualitas bukan soal menolak dunia, tetapi tidak menyerahkan jiwa kita pada dunia materi. Bahwa uang boleh kita cari, kelola, dan gunakan—tanpa menjadikannya Tuhan.

Foundation Day usai. Chanting berhenti. Api padam. Arati, tarian, nyanyian, dan makan malam bersama usai. Tetapi renungan itu ikut pulang, dan tinggal.

Dan mungkin di sanalah salah satu makna terdalam perayaan ini: mengingatkan kita bahwa kita memang butuh uang, tetapi yang sungguh menopang hidup adalah keyakinan—pada Dia yang satu adanya, walaupun disebut dengan banyak nama, pada sesama manusia, dan pada diri sendiri. [T]

Tags: Anand Krishnauang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

Next Post

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co