7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita Butuh Uang, Tapi Uang Bukan Segalanya: Renungan Perayaan Foundation Day ke-36 di Anand Ashram Ubud

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
January 16, 2026
in Esai
Kita Butuh Uang, Tapi Uang Bukan Segalanya: Renungan Perayaan Foundation Day ke-36 di Anand Ashram Ubud

“When you believe in money and begin to think that nothing can be done without it, you lose your belief in God, in fellow human beings, and in yourself.” The Gospel of Mahamaya – Anand Krishna

PERAYAAN Foundation Day ke-36 Yayayasan Anand Ashram di Anand Ashram Ubud, Rabu 14 Januari 2026 telah usai. Malam turun perlahan, seperti tirai yang menutup sebuah panggung sakral. Chanting masih terasa bergema di dada, mantra dari fire purification seolah masih terngiang di telinga, dan wajah Guruji Anand Krishna di layar—dari video yang diputar—masih terasa hadir, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai kesadaran yang hidup.

Dalam suasana itulah, sebuah quote dibacakan dari buku The Gospel of Mahamaya karya Guruji. Pertama dalam bahasa Inggris, lalu dalam bahasa Indonesia, karena ada sahabat-sahabat dari berbagai bangsa yang ikut merayakan:

“When you believe in money and begin to think that nothing can be done without it, you lose your belief in God, in fellow human beings, and in yourself.”

Ketika kau percaya pada uang dan mulai berpikir tanpa uang kau tidak dapat berbuat sesuatu, maka kau kehilangan kepercayaanmu terhadap Tuhan, sesama manusia, dan dirimu sendiri.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tidak bombastis. Bahkan bisa terasa klise bila dibaca sepintas. Namun malam itu, di tengah keheningan kolektif setelah chanting dan fire purification, kata-kata tersebut seperti menemukan ruangnya sendiri di dalam batin.

Saat Kenyamanan Tidak Lagi Cukup

Dalam perjalanan pulang dari ashram ke rumah, renungan itu bertaut dengan pengalaman hidup saya sendiri. Hampir dua puluh tahun saya bekerja di sebuah BUMN. Fasilitas yang saya terima sangat layak untuk ukuran sebuah kenyamanan—bahkan sebuah kemewahan jika dibandingkan dengan latar belakang hidup saya hingga SMA yang sangat memprihatinkan. Stabilitas ekonomi tercapai. Rasa aman material relatif terpenuhi. Di mata banyak orang, hidup saya bisa disebut berhasil dan mapan.

Dan memang benar, secara lahiriah, kita butuh uang. Ia memberi ruang bernapas, martabat sosial, dan kemudahan hidup. Itu fakta. Namun justru dari dalam kecukupan itulah, pelan-pelan saya menyadari kebenaran kalimat berikutnya: uang bukan segalanya.

Ada sesuatu yang hampa. Ada sesuatu yang belum saya dapatkan. Saya belum bisa menamainya saat itu. Apakah itu kebahagiaan sejati? Saya belum tahu. Yang jelas, ada kejenuhan yang tak bisa dijelaskan oleh logika karier, target, atau grafik penghasilan—kejenuhan tingkat dewa, jika boleh saya menyebutnya begitu.

Saya tidak sedang menderita. Tapi juga tidak sungguh hidup. Tidak kekurangan, tapi tidak utuh. Dan mungkin di titik itulah, tanpa saya sadari, pusat kepercayaan saya mulai goyah.

Keputusan pensiun dini di usia 41 tahun bukanlah tindakan heroik atau romantik. Ia lahir dari kejujuran batin: bahwa ada perjalanan lain yang memanggil, meski belum jelas arahnya. Bukan karena membenci uang atau pekerjaan, melainkan karena menyadari bahwa hidup tidak menemukan makna di sana.

Uang Bukan Masalah, Kepercayaan yang Bergeser

Di sinilah saya baru sungguh memahami kedalaman quote Guruji. Beliau tidak sedang mengutuk uang. Uang bersifat netral. Yang disentuh adalah pergeseran pusat kepercayaan.

Ketika seseorang mulai berpikir bahwa tanpa uang ia tidak bisa berbuat apa-apa, maka uang telah naik derajat—dari alat menjadi sandaran eksistensial. Ia tidak lagi sekadar membantu hidup, tetapi menentukan makna hidup.

Dalam kerangka The Gospel of Mahamaya, inilah kerja ilusi: yang relatif diperlakukan sebagai mutlak. Maya tidak menipu dengan kebohongan total, melainkan dengan separuh kebenaran. Uang memang penting, tetapi bukan sumber kehidupan, apalagi kebahagiaan.

Tuhan sebagai Opsi Cadangan

Guruji tidak mengatakan kita kehilangan Tuhan, melainkan kehilangan belief in God. Tuhan tidak pergi ke mana-mana. Yang memudar adalah relasi batin kita dengan-Nya.

Ketika uang menjadi pusat rasa aman, Tuhan bergeser menjadi pelengkap. Kita masih berdoa, masih menyebut nama-Nya, tetapi di lapisan terdalam, rasa percaya kita sudah berpindah. Tuhan direduksi menjadi “opsi cadangan”, bukan sumber kehidupan.

Dalam Peta Kesadaran David R. Hawkins, kondisi ini beresonansi dengan level Desire (125) dan Pride (175)—kesadaran yang masih digerakkan oleh keinginan memiliki dan penguatan ego. Spiritualitas pun mudah berubah menjadi transaksi: doa sebagai proposal, amal sebagai investasi.

Retaknya Kepercayaan pada Sesama Manusia

Ketika uang menjadi ukuran nilai, sesama manusia pun ikut tereduksi. Kita mulai bertanya: apa manfaatnya? apa untungnya? Relasi menjadi fungsional, bukan personal.

Tak heran dunia hari ini terasa dingin. Mudah curiga. Sulit percaya. Solidaritas menipis. Bukan semata karena manusia makin jahat, tetapi karena kesadaran kolektif kita bergerak dari kelimpahan menuju kelangkaan.

Dalam Peta Hawkins, ini selaras dengan level Fear (100) dan Anger (150)—takut kekurangan, marah karena merasa hidup tidak adil.

Kehilangan Diri Sendiri: Harga yang Paling Mahal

Namun bagian paling sunyi dari quote Guruji adalah yang terakhir: and in yourself. Di sinilah saya merasa paling tersentuh.

Betapa banyak orang—termasuk saya di masa lalu—yang perlahan kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena merasa tanpa uang ia tidak berarti. Kreativitas terbungkam. Keberanian menguap. Langkah tertahan.

Padahal sebelum memiliki apa pun, manusia dianugerahi kesadaran, daya cipta, dan keberanian untuk hidup. Ketika semua itu dikalahkan oleh angka, kita membayar harga yang sangat mahal.

Hawkins menyebut wilayah ini sebagai Apathy (50) dan Grief (75)—energi rendah, hidup terasa berat, dan masa depan tampak suram.

Api yang Membersihkan, Bukan Membakar

Malam itu, fire purification menemukan maknanya. Api tidak membakar, tetapi membersihkan. Bukan menghancurkan, melainkan mengingatkan.

Mungkin yang perlu disucikan bukanlah uang, melainkan ketergantungan batin kita padanya. Mengembalikan uang ke tempatnya: sebagai alat, bukan pusat makna, apalagi tuhuan hidup.

Dalam Peta Hawkins, titik balik terjadi di level Courage (200)—saat seseorang mulai percaya pada kehidupan itu sendiri, meski tanpa jaminan mutlak. Di atasnya, Love (500), level aman bagi manusia: Kasih dalam pengertian cinta tanpa batas dan tak bersyarat. Namun, mengenal kasih saja tidak cukup, kita mesti mengaplikasikannya dalam keseharian hidup. Jika tidak, kesadaran kita bisa merosot lagi, demikian menurut Guruji dalam The Science of Fear Management & The Art of Being Happy

Perayaan yang Ikut Pulang

Motor melaju pelan di jalan Ubud yang mulai lengang, tidak seramai biasanya. Tidak ada kesimpulan besar. Tidak ada resolusi heroik. Hanya satu kesadaran yang mengendap pelan-pelan:

Bahwa spiritualitas bukan soal menolak dunia, tetapi tidak menyerahkan jiwa kita pada dunia materi. Bahwa uang boleh kita cari, kelola, dan gunakan—tanpa menjadikannya Tuhan.

Foundation Day usai. Chanting berhenti. Api padam. Arati, tarian, nyanyian, dan makan malam bersama usai. Tetapi renungan itu ikut pulang, dan tinggal.

Dan mungkin di sanalah salah satu makna terdalam perayaan ini: mengingatkan kita bahwa kita memang butuh uang, tetapi yang sungguh menopang hidup adalah keyakinan—pada Dia yang satu adanya, walaupun disebut dengan banyak nama, pada sesama manusia, dan pada diri sendiri. [T]

Tags: Anand Krishnauang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

Next Post

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails
Next Post
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co