23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita Butuh Uang, Tapi Uang Bukan Segalanya: Renungan Perayaan Foundation Day ke-36 di Anand Ashram Ubud

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
January 16, 2026
in Esai
Kita Butuh Uang, Tapi Uang Bukan Segalanya: Renungan Perayaan Foundation Day ke-36 di Anand Ashram Ubud

“When you believe in money and begin to think that nothing can be done without it, you lose your belief in God, in fellow human beings, and in yourself.” The Gospel of Mahamaya – Anand Krishna

PERAYAAN Foundation Day ke-36 Yayayasan Anand Ashram di Anand Ashram Ubud, Rabu 14 Januari 2026 telah usai. Malam turun perlahan, seperti tirai yang menutup sebuah panggung sakral. Chanting masih terasa bergema di dada, mantra dari fire purification seolah masih terngiang di telinga, dan wajah Guruji Anand Krishna di layar—dari video yang diputar—masih terasa hadir, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai kesadaran yang hidup.

Dalam suasana itulah, sebuah quote dibacakan dari buku The Gospel of Mahamaya karya Guruji. Pertama dalam bahasa Inggris, lalu dalam bahasa Indonesia, karena ada sahabat-sahabat dari berbagai bangsa yang ikut merayakan:

“When you believe in money and begin to think that nothing can be done without it, you lose your belief in God, in fellow human beings, and in yourself.”

Ketika kau percaya pada uang dan mulai berpikir tanpa uang kau tidak dapat berbuat sesuatu, maka kau kehilangan kepercayaanmu terhadap Tuhan, sesama manusia, dan dirimu sendiri.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tidak bombastis. Bahkan bisa terasa klise bila dibaca sepintas. Namun malam itu, di tengah keheningan kolektif setelah chanting dan fire purification, kata-kata tersebut seperti menemukan ruangnya sendiri di dalam batin.

Saat Kenyamanan Tidak Lagi Cukup

Dalam perjalanan pulang dari ashram ke rumah, renungan itu bertaut dengan pengalaman hidup saya sendiri. Hampir dua puluh tahun saya bekerja di sebuah BUMN. Fasilitas yang saya terima sangat layak untuk ukuran sebuah kenyamanan—bahkan sebuah kemewahan jika dibandingkan dengan latar belakang hidup saya hingga SMA yang sangat memprihatinkan. Stabilitas ekonomi tercapai. Rasa aman material relatif terpenuhi. Di mata banyak orang, hidup saya bisa disebut berhasil dan mapan.

Dan memang benar, secara lahiriah, kita butuh uang. Ia memberi ruang bernapas, martabat sosial, dan kemudahan hidup. Itu fakta. Namun justru dari dalam kecukupan itulah, pelan-pelan saya menyadari kebenaran kalimat berikutnya: uang bukan segalanya.

Ada sesuatu yang hampa. Ada sesuatu yang belum saya dapatkan. Saya belum bisa menamainya saat itu. Apakah itu kebahagiaan sejati? Saya belum tahu. Yang jelas, ada kejenuhan yang tak bisa dijelaskan oleh logika karier, target, atau grafik penghasilan—kejenuhan tingkat dewa, jika boleh saya menyebutnya begitu.

Saya tidak sedang menderita. Tapi juga tidak sungguh hidup. Tidak kekurangan, tapi tidak utuh. Dan mungkin di titik itulah, tanpa saya sadari, pusat kepercayaan saya mulai goyah.

Keputusan pensiun dini di usia 41 tahun bukanlah tindakan heroik atau romantik. Ia lahir dari kejujuran batin: bahwa ada perjalanan lain yang memanggil, meski belum jelas arahnya. Bukan karena membenci uang atau pekerjaan, melainkan karena menyadari bahwa hidup tidak menemukan makna di sana.

Uang Bukan Masalah, Kepercayaan yang Bergeser

Di sinilah saya baru sungguh memahami kedalaman quote Guruji. Beliau tidak sedang mengutuk uang. Uang bersifat netral. Yang disentuh adalah pergeseran pusat kepercayaan.

Ketika seseorang mulai berpikir bahwa tanpa uang ia tidak bisa berbuat apa-apa, maka uang telah naik derajat—dari alat menjadi sandaran eksistensial. Ia tidak lagi sekadar membantu hidup, tetapi menentukan makna hidup.

Dalam kerangka The Gospel of Mahamaya, inilah kerja ilusi: yang relatif diperlakukan sebagai mutlak. Maya tidak menipu dengan kebohongan total, melainkan dengan separuh kebenaran. Uang memang penting, tetapi bukan sumber kehidupan, apalagi kebahagiaan.

Tuhan sebagai Opsi Cadangan

Guruji tidak mengatakan kita kehilangan Tuhan, melainkan kehilangan belief in God. Tuhan tidak pergi ke mana-mana. Yang memudar adalah relasi batin kita dengan-Nya.

Ketika uang menjadi pusat rasa aman, Tuhan bergeser menjadi pelengkap. Kita masih berdoa, masih menyebut nama-Nya, tetapi di lapisan terdalam, rasa percaya kita sudah berpindah. Tuhan direduksi menjadi “opsi cadangan”, bukan sumber kehidupan.

Dalam Peta Kesadaran David R. Hawkins, kondisi ini beresonansi dengan level Desire (125) dan Pride (175)—kesadaran yang masih digerakkan oleh keinginan memiliki dan penguatan ego. Spiritualitas pun mudah berubah menjadi transaksi: doa sebagai proposal, amal sebagai investasi.

Retaknya Kepercayaan pada Sesama Manusia

Ketika uang menjadi ukuran nilai, sesama manusia pun ikut tereduksi. Kita mulai bertanya: apa manfaatnya? apa untungnya? Relasi menjadi fungsional, bukan personal.

Tak heran dunia hari ini terasa dingin. Mudah curiga. Sulit percaya. Solidaritas menipis. Bukan semata karena manusia makin jahat, tetapi karena kesadaran kolektif kita bergerak dari kelimpahan menuju kelangkaan.

Dalam Peta Hawkins, ini selaras dengan level Fear (100) dan Anger (150)—takut kekurangan, marah karena merasa hidup tidak adil.

Kehilangan Diri Sendiri: Harga yang Paling Mahal

Namun bagian paling sunyi dari quote Guruji adalah yang terakhir: and in yourself. Di sinilah saya merasa paling tersentuh.

Betapa banyak orang—termasuk saya di masa lalu—yang perlahan kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena merasa tanpa uang ia tidak berarti. Kreativitas terbungkam. Keberanian menguap. Langkah tertahan.

Padahal sebelum memiliki apa pun, manusia dianugerahi kesadaran, daya cipta, dan keberanian untuk hidup. Ketika semua itu dikalahkan oleh angka, kita membayar harga yang sangat mahal.

Hawkins menyebut wilayah ini sebagai Apathy (50) dan Grief (75)—energi rendah, hidup terasa berat, dan masa depan tampak suram.

Api yang Membersihkan, Bukan Membakar

Malam itu, fire purification menemukan maknanya. Api tidak membakar, tetapi membersihkan. Bukan menghancurkan, melainkan mengingatkan.

Mungkin yang perlu disucikan bukanlah uang, melainkan ketergantungan batin kita padanya. Mengembalikan uang ke tempatnya: sebagai alat, bukan pusat makna, apalagi tuhuan hidup.

Dalam Peta Hawkins, titik balik terjadi di level Courage (200)—saat seseorang mulai percaya pada kehidupan itu sendiri, meski tanpa jaminan mutlak. Di atasnya, Love (500), level aman bagi manusia: Kasih dalam pengertian cinta tanpa batas dan tak bersyarat. Namun, mengenal kasih saja tidak cukup, kita mesti mengaplikasikannya dalam keseharian hidup. Jika tidak, kesadaran kita bisa merosot lagi, demikian menurut Guruji dalam The Science of Fear Management & The Art of Being Happy

Perayaan yang Ikut Pulang

Motor melaju pelan di jalan Ubud yang mulai lengang, tidak seramai biasanya. Tidak ada kesimpulan besar. Tidak ada resolusi heroik. Hanya satu kesadaran yang mengendap pelan-pelan:

Bahwa spiritualitas bukan soal menolak dunia, tetapi tidak menyerahkan jiwa kita pada dunia materi. Bahwa uang boleh kita cari, kelola, dan gunakan—tanpa menjadikannya Tuhan.

Foundation Day usai. Chanting berhenti. Api padam. Arati, tarian, nyanyian, dan makan malam bersama usai. Tetapi renungan itu ikut pulang, dan tinggal.

Dan mungkin di sanalah salah satu makna terdalam perayaan ini: mengingatkan kita bahwa kita memang butuh uang, tetapi yang sungguh menopang hidup adalah keyakinan—pada Dia yang satu adanya, walaupun disebut dengan banyak nama, pada sesama manusia, dan pada diri sendiri. [T]

Tags: Anand Krishnauang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

Next Post

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails
Next Post
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co