6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

Arief Rahzen by Arief Rahzen
July 6, 2026
in Kritik Seni
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

Gendang Beleq saat Nyongkolan | Lombok Channel

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari denyut nadi pulau ini, tidak pernah berdiri di atas ruang hampa. Budaya Sasak merupakan entitas yang hidup, merespons setiap ketukan zaman, dari kolonialisme, modernisasi pasca-kemerdekaan, hingga gelombang digitalisasi global yang merambah pelosok desa. Pemajuan kebudayaan di Lombok hari ini bukan lagi sekadar urusan merawat ingatan masa lalu, melainkan upaya kerja keras mengelola tegangan antara yang sakral dan yang profan, yang pakem dan yang kontemporer.

Salah satu simpul paling krusial dari tegangan ini termanifestasi dalam ritus Nyongkolan. Sebagai sebuah tradisi arak-arakan pengantin yang telah berakar selama berabad-abad, Nyongkolan ialah representasi visual paling gamblang dari identitas kultural Sasak. Namun, di jalan-jalan aspal Lombok hari ini, kita tidak hanya menyaksikan parade pakaian adat dan ketukan ritmis Gendang Beleq. Kita juga menyaksikan sebuah panggung kontestasi identitas: antara penegakan marwah adat leluhur yang disuarakan oleh para tetua dan desakan ekspresi subkultur anak muda urban-rural yang acap kali memicu ketegangan sosial.

Untuk memahami mengapa Nyongkolan memicu perdebatan akhir-akhir ini, kita harus melacak kembali struktur epistemologis dari ritus ini. Secara antropologis, Nyongkolan bukan sekadar selebrasi audio-visual tanpa makna. Ritus ini berada pada fase akhir dari rangkaian panjang hukum perkawinan adat Sasak yang dimulai dari merarik (pelarian suka sama suka) dan Sorong Serah (penyerahan adat). Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan, Ketua Majelis Adat Sasak (MAS) NTB, menegaskan bahwa Nyongkolan fungsi utamanya ialah sebuah institusi pengumuman sosial dan hukum. Melalui Nyongkolan, adat mengumumkan kepada khalayak ramai bahwa sepasang anak manusia telah resmi terikat dalam ikatan suci, baik secara agama, negara, maupun adat. Prosesi ini menjadi penanda transisi status sosial dari remaja (dedara dan teruna) menjadi bagian penuh dari komunitas kolektif dewasa yang memikul tanggung jawab adat. Kata kunci dari prosesi ini adalah bejango (kunjungan silaturahmi dari keluarga besar mempelai laki-laki menuju kediaman keluarga mempelai perempuan). Di dalam tradisi bejango, terdapat pengakuan timbal balik, peleburan ego dua keluarga besar, dan rekonsiliasi sosial yang dramatis namun damai setelah ketegangan yang mungkin timbul akibat proses merarik.

Secara semiotis, setiap elemen dalam Nyongkolan klasik ialah simbol dari ketertiban kosmologis. Pengantin pria mengenakan pakaian adat Pegon, melambangkan kegagahan yang bersahaja, sementara pengantin wanita anggun dalam balutan Lambung, kain tenun khas yang memancarkan kesopanan dan kehormatan perempuan Sasak. Rombongan pengiring berjalan kaki dengan anggun, diiringi oleh dentuman megah Gendang Beleq. Musik tradisional ini bukan sekadar hiburan, ini ritme magis yang mengatur tempo langkah kaki, menciptakan aura kewibawaan yang menuntut rasa hormat dari siapa pun yang menyaksikannya di sepanjang jalan raya. Di sini, estetika berpadu dengan etika, melahirkan sebuah teatrikal jalanan yang luhur dan bermartabat.

Meski demikian, kebudayaan kontemporer merupakan mesin yang tak pernah berhenti memproduksi anomali. Di era modern ini, ruang jalanan yang dahulu menjadi koridor suci ritus transisi kini telah berubah fungsi menjadi ruang publik yang sekuler, padat, dan diperebutkan. Di sinilah Majelis Adat Sasak (MAS) menangkap adanya retakan substantif dalam pelaksanaan Nyongkolan kekinian. Prosesi yang semula sakral dan penuh tata krama kini kerap kali bergeser menjadi tontonan yang diselimuti oleh distorsi budaya.

Fenomena munculnya musik kecimol (hibriditas alat musik modern dan tradisional dengan ketukan yang rancak) telah menggeser posisi Gendang Beleq di beberapa wilayah. Masalahnya tidak terletak pada modernisasi alat musik itu sendiri, melainkan pada subteks perilaku yang dibawanya. Kehadiran kecimol sering kali diikuti oleh joget yang berlebihan yang diperagakan oleh para pengiring di depan umum, hilangnya kepekaan terhadap hak pengguna jalan lain yang memicu kemacetan parah, serta ketegangan antarwarga.

Pergeseran ini dapat dibaca melalui kacamata sosiologi kebudayaan sebagai bentuk profanisasi atas yang sakral. Ketika pakem digantikan oleh hasrat eksistensi kelompok, Nyongkolan kehilangan daya ikat spiritualnya. Ada duplikasi dari tradisi masa lalu yang telah menggerus esensi aslinya, menyisakan kulit luar yang riuh namun minim makna.

Kondisi ini pada akhirnya melahirkan polarisasi pandangan yang cukup tajam di tengah masyarakat Sasak kontemporer. Di satu sisi, terdapat kelompok tradisionalis-kultural yang menganggap bahwa pernikahan belum sah secara adat tanpa adanya prosesi Nyongkolan. Bagi kelompok ini, meniadakan Nyongkolan berarti memotong akar silsilah sosial anak cucu mereka dari tatanan bumi Sasak. Nyongkolan ialah sebuah validasi identitas kolektif.

Di sisi lain, muncul resistensi dari kelompok masyarakat tertentu. Beberapa menolak karena trauma dengan ekses negatif berupa kemacetan lalu lintas, potensi kericuhan antar pemuda akibat miras, hingga benturan teologis dari kelompok religius yang memandang joget erotis saat kecimol bertentangan dengan nilai-nilai islami. Tegangan horizontal ini, seperti yang diperingatkan oleh Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan, jika tidak dikelola dengan pendekatan dialogis yang matang, berpotensi melahirkan gesekan sosial yang merusak kohesi masyarakat.

Menghadapi kenyataan kultural yang kompleks ini, pemajuan kebudayaan di Lombok tidak bisa lagi diposisikan sebagai sekadar kerja romantisasi masa lalu atau pelarangan yang represif. Diperlukan rekonstruksi tata kelola tradisi. Komitmen Majelis Adat Sasak untuk mengawal kemurnian tradisi Nyongkolan merupakan langkah strategis yang harus didukung oleh restrukturisasi kebijakan di tingkat tapak.

Integrasi antara instrumen hukum adat dan hukum formal negara menjadi mutlak diperlukan. Setiap pelaksanaan arak-arakan massa dalam jumlah besar harus tunduk pada manajemen ruang publik yang ketat. Perlu perizinan resmi dari pemerintah desa serta koordinasi aktif dengan aparat keamanan seperti Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Sosialisasi mengenai batasan pakem adat (seperti kewajiban berbusana Pegon dan Lambung serta pelarangan tegas terhadap miras) bukanlah upaya mengekang kebebasan. Ini wujud proteksi terhadap marwah budaya agar tradisi ini tetap bermartabat dan memiliki relevansi jangka panjang bagi generasi mendatang.

Dan kemudian, masa depan kebudayaan Sasak berada di tangan generasi mudanya. Anak muda Sasak hari ini ditantang untuk tidak sekadar menjadi konsumen budaya global yang pasif, atau pelaku tradisi yang rabun filosofi. Kaum muda mesti jadi penjaga marwah budaya yang mampu menerjemahkan nilai-nilai kesantunan, kebersamaan, dan penghormatan leluhur ke dalam bahasa zaman baru. Nyongkolan mesti tetap jadi doa yang bergerak di atas jalan raya, jadi pembawa harmoni suara Gendang Beleq yang mengingatkan warga Sasak akan asal-usulnya, di mana pun kaki mereka melangkah di abad digital ini. [T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesenian sasakLombokSasak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

Next Post

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

by Made Chandra
September 6, 2026
0
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

Read moreDetails

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

by Made Chandra
August 25, 2026
0
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

Read moreDetails

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

by Made Chandra
August 7, 2026
0
Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

Read moreDetails

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
0
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

Read moreDetails

Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

by Savitri Sastrawan
July 30, 2026
0
Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

TULISAN Made Chandra berjudul “Let Them Cook: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali” menyentil pemikiran...

Read moreDetails

Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

by Made Chandra
July 19, 2026
0
Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

SEBELUM kalian marah-marah dengan judul tulisan ini, perlu dijelaskan topik ini adalah auto kritik yang aku layangkan pada tiap seniman...

Read moreDetails

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

by Made Chandra
July 5, 2026
0
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

Read moreDetails

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
0
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

Read moreDetails

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
0
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

Read moreDetails

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
0
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

Read moreDetails
Next Post
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co