24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masihkah Ada Ruang untuk Wayang? — Catatan Menonton Utsawa Wayang Kulit di Pesta Kesenian Bali 2025

Agus Arta Wiguna by Agus Arta Wiguna
July 19, 2025
in Kritik Seni
Masihkah Ada Ruang untuk Wayang? — Catatan Menonton Utsawa Wayang Kulit di Pesta Kesenian Bali 2025

Utsawa Wayang Kulit duta Kabupaten klungkung 2025

MALAM itu, Jumat, 18 Juli 2025, saya menyaksikan utsawa (parade) wayang kulit yang menjadi bagian dari Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025. Tahun ini, dari sembilan kabupaten/kota di Bali, hanya lima kabupaten/kota yang mengirimkan dalang untuk ikut utsawa.

Menariknya, dalang-dalang yang dikirim menjadi duta adalah para dalang muda. Bahkan Kabupaten Badung menampilkan seorang dalang perempuan—pemandangan langka yang memberi warna baru dalam parade wayang tahun ini.

Malam itu, ketika saya hadir di PKB,  giliran duta Kabupaten Klungkung yang diwakili oleh Sanggar Ratu Kinasih, Banjar Kelod, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, tampil untuk mempertunjukkan permainan wayang kulit di depan Gedung Kriya, Taman Budaya Bali, Centre, Denpasar.

Saya cukup terkejut melihat banyaknya warga yang duduk lesehan di depan kelir yang sudah terpasang. Mereka duduk di rerumputan pinggir tukad (sungai) di areal Taman Budaya itu. Entah mereka memang sengaja datang untuk menonton wayang, atau sekadar beristirahat setelah lelah berkeliling di pasar malam, atau karena pada jam itu tidak ada pementasan lain yang bisa mereka saksikan.

Saya berharap semoga saja memang benar-benar datang untuk menyaksikan wayang, bukan karena sekadar tidak ada pilihan lain.

Di belakang kelir, tampak pula banyak akademisi dan praktisi seni yang ikut menyaksikan dan memperhatikan jalannya pertunjukan.

Utsawa Wayang Kulit duta Kabupaten klungkung 2025

Bagi saya, tempat penonton duduk di areal taman di tepi tukad (sungai) Taman Budaya itu sebenarnya kurang ideal, dikarenakan lokasi pementasan yang tepat didepannya adalah akses jalan menuju Panggung Ayodya di sebelah timur.

Di jalan itu, di antara kelir wayang dan penonton, arus lalu-lalang manusia tidak terhindarkan. Pandangan penonton seringkali terhalang orang-orang yang berseliweran.

Saat itu teman yang ikut menonton sedikit mengumpat, ”Klee… sing ngelah inisiatif nutup jalan ape engken nah?! Masak nak mebalih wayang sambil mebalih nak sliwar sliwer!”  Intinya, temasn saya itu berjata dengan nada kesal, kenapa tak ada inisiatif menutup jalan. “Masak, nonton wayang sambil menonton orang lalu-lalang!”

Satu hal lagi  yang tak kalah mencuri perhatian adalah deretan kursi kosong yang diletakkan ngandang (melintang) di depan kelir. Konon kata MC saat saya tanya, kursi dan meja itu disiapkan untuk undangan. Namun dari awal hingga akhir pertunjukan, tak satu pun undangan yang saya lihat duduk di sana. Mungkin mereka memang tidak hadir. Atau barangkali ada yang lebih memilih lesehan bersama penonton. Atau, jangan-jangan kursi-kursi itu disediakan untuk undangan tak kasat mata alias makhluk maya-maya.

Utsawa Wayang Kulit duta Kabupaten Klungkung 2025

Lakon yang dibawakan dalang dari Nusa Penida malam itu berjudul Rempong Bisma. Cerita diawali dari peparuman antara Krisna dan Arjuna, dimana Arjuna merasakan kesedihan mendalam setelah kematian putra Wirata dan lakon  diakhiri dengan terbunuhnya Bagawan Bhisma.

Secara struktur, pementasan ini cukup lengkap: dimulai dari petegak, nyejer wayang, pemungkah, alas arum, penyacah parwa, pengalang, hingga mesem dan adegan ngerebong pun dihadirkan. Tak ketinggalan, sastra kekawin turut diselipkan, memperkuat kesan bahwa wayang kulit adalah pertunjukan sastra. Apalagi lakon Bharatayuda memang biasanya kaya akan petikan kekawin, meski pada pertunjukan ini jumlahnya tidak sebanyak pada lakon Bharatayuda yang pernah saya tonton dalam pertunjukan seorang dalang Sukawati.

Namun disayangkan, sepertinya semangat dan gairah sang dalang yang besar tidak sepenuhnya tersambut oleh audiens. Penonton tampak bersikap datar-datar saja, tepuk tangan hanya terdengar ketika pementasan dimulai dan berakhir. Selebihnya mereka sibuk dengan percakapan sendiri, ada yang asyik dengan ponsel sambil sesekali melirik ke layar wayang, bahkan ada pula yang memilih untuk meninggalkan pertunjukan.

Tawa yang muncul justru bukan karena adegan-adegan atau kata lucu dari pementasan wayang, melainkan dari obrolan mereka sendiri. Tentu saya tidak mengatakan pertunjukan yang disajikan sang dalang tidak bagus atau tidak berkualitas, namun memang situasi itu juga yang kerap terjadi ketika pertunjukan wayang dihadirkan di masyarakat masa kini.

Pertanyaan pun muncul dalam benak saya: apakah wayang kulit tradisi di Bali memang membosankan dan sulit dipahami oleh masyarakat masa kini? Ataukah penonton malam itu datang hanya karena di panggung lain tidak ada pementasan yang bisa ditonton? Apakah wayang hanya menjadi pilihan kedua?

Kalau ingin kesenian ini mampu melangkah lebih maju, pertanyaan-pertanyaan ini bagi saya penting dijadikan bahan evaluasi untuk perhelatan Utsawa (parade) wayang di masa mendatang. Tujuannya supaya orang-orang yang datang memang berniat menonton pertunjukan wayang, seperti halnya masyarakat yang dengan hebohnya datang untuk menyaksikan Wimbakara (Lomba) Baleganjur dan Bapang Barong. Bahkan mungkin perlu dipertimbangkan untuk memperbanyak variasi materi yang dipertunjukkan dalam perhelatan PKB agar seni pewayangan/pedalangan  memiliki ruang yang lebih banyak, sebagaimana pada seni-seni lain.

Lihat saja seni karawitan.  Ada baleganjur, gong kebyar, semar pegulingan, dan berbagai kategori lainnya. Begitu juga seni tari, pementasannya sangat banyak di PKB. Lalu mengapa wayang tidak diperlakukan serupa dengan menata beberapa kategori sajian?

Sebut saja ide untuk menampilkan wayang legendaris dari I Gusti Made Darma Putra dalam tulisannya berjudul ”Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya” yang termuat di tatkala.co (https://tatkala.co/2025/04/24/ketiadaan-wayang-legendaris-di-pesta-kesenian-bali-sebuah-kekosongan-dalam-pelestarian-budaya/).

Menampilkan wayang legendaris adalah salah satu ide bagus yang patut dipertimbangkan. Menarik pula jika ada materi pagelaran wayang inovasi.

Sepertinya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dan pihak-pihak terkait sudah saatnya memikirkan agar PKB menjadi ajang yang lebih inklusif bagi semua bidang seni. Bukan hanya satu atau dua bidang yang merasakan euforia yang luar biasa besar, tetapi seluruh cabang seni, termasuk seni pewayangan/pedalangan bisa lebih diikutkan dalam pesta dan tidak terkesan sekedar ada. Karena ini Pesta Kesenian Bali, sepatutnya semua kesenian bisa merasakan berpesta dan berdansa bersama dalam acara besar ini. [T]

Ubud 19 Juli 2025

Penulis: Agus Arta Wiguna
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya
Anak-anak Main Gender Wayang: Tak Sekadar Cepat, Tapi juga Kuasai Spirit Gending
Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya
Tags: DalangNusa PenidapedalanganPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2025wayangwayang Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Next Post

“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Agus Arta Wiguna

Agus Arta Wiguna

Panggilannya Nuno. Nama lengkapnya I Made Agus Arta Wiguna. Lahir dan tinggal di Kedewatan, Ubud, Gianyar. Ia lulusan S1 Program Studi Seni Pedalangan, ISI Bali

Related Posts

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

by Made Chandra
September 6, 2026
0
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

Read moreDetails

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

by Made Chandra
August 25, 2026
0
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

Read moreDetails

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

by Made Chandra
August 7, 2026
0
Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

Read moreDetails

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
0
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

Read moreDetails

Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

by Savitri Sastrawan
July 30, 2026
0
Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

TULISAN Made Chandra berjudul “Let Them Cook: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali” menyentil pemikiran...

Read moreDetails

Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

by Made Chandra
July 19, 2026
0
Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

SEBELUM kalian marah-marah dengan judul tulisan ini, perlu dijelaskan topik ini adalah auto kritik yang aku layangkan pada tiap seniman...

Read moreDetails

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

by Arief Rahzen
July 6, 2026
0
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

Read moreDetails

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

by Made Chandra
July 5, 2026
0
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

Read moreDetails

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
0
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

Read moreDetails

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
0
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co