3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masihkah Ada Ruang untuk Wayang? — Catatan Menonton Utsawa Wayang Kulit di Pesta Kesenian Bali 2025

Agus Arta Wiguna by Agus Arta Wiguna
July 19, 2025
in Kritik Seni
Masihkah Ada Ruang untuk Wayang? — Catatan Menonton Utsawa Wayang Kulit di Pesta Kesenian Bali 2025

Utsawa Wayang Kulit duta Kabupaten klungkung 2025

MALAM itu, Jumat, 18 Juli 2025, saya menyaksikan utsawa (parade) wayang kulit yang menjadi bagian dari Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025. Tahun ini, dari sembilan kabupaten/kota di Bali, hanya lima kabupaten/kota yang mengirimkan dalang untuk ikut utsawa.

Menariknya, dalang-dalang yang dikirim menjadi duta adalah para dalang muda. Bahkan Kabupaten Badung menampilkan seorang dalang perempuan—pemandangan langka yang memberi warna baru dalam parade wayang tahun ini.

Malam itu, ketika saya hadir di PKB,  giliran duta Kabupaten Klungkung yang diwakili oleh Sanggar Ratu Kinasih, Banjar Kelod, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, tampil untuk mempertunjukkan permainan wayang kulit di depan Gedung Kriya, Taman Budaya Bali, Centre, Denpasar.

Saya cukup terkejut melihat banyaknya warga yang duduk lesehan di depan kelir yang sudah terpasang. Mereka duduk di rerumputan pinggir tukad (sungai) di areal Taman Budaya itu. Entah mereka memang sengaja datang untuk menonton wayang, atau sekadar beristirahat setelah lelah berkeliling di pasar malam, atau karena pada jam itu tidak ada pementasan lain yang bisa mereka saksikan.

Saya berharap semoga saja memang benar-benar datang untuk menyaksikan wayang, bukan karena sekadar tidak ada pilihan lain.

Di belakang kelir, tampak pula banyak akademisi dan praktisi seni yang ikut menyaksikan dan memperhatikan jalannya pertunjukan.

Utsawa Wayang Kulit duta Kabupaten klungkung 2025

Bagi saya, tempat penonton duduk di areal taman di tepi tukad (sungai) Taman Budaya itu sebenarnya kurang ideal, dikarenakan lokasi pementasan yang tepat didepannya adalah akses jalan menuju Panggung Ayodya di sebelah timur.

Di jalan itu, di antara kelir wayang dan penonton, arus lalu-lalang manusia tidak terhindarkan. Pandangan penonton seringkali terhalang orang-orang yang berseliweran.

Saat itu teman yang ikut menonton sedikit mengumpat, ”Klee… sing ngelah inisiatif nutup jalan ape engken nah?! Masak nak mebalih wayang sambil mebalih nak sliwar sliwer!”  Intinya, temasn saya itu berjata dengan nada kesal, kenapa tak ada inisiatif menutup jalan. “Masak, nonton wayang sambil menonton orang lalu-lalang!”

Satu hal lagi  yang tak kalah mencuri perhatian adalah deretan kursi kosong yang diletakkan ngandang (melintang) di depan kelir. Konon kata MC saat saya tanya, kursi dan meja itu disiapkan untuk undangan. Namun dari awal hingga akhir pertunjukan, tak satu pun undangan yang saya lihat duduk di sana. Mungkin mereka memang tidak hadir. Atau barangkali ada yang lebih memilih lesehan bersama penonton. Atau, jangan-jangan kursi-kursi itu disediakan untuk undangan tak kasat mata alias makhluk maya-maya.

Utsawa Wayang Kulit duta Kabupaten Klungkung 2025

Lakon yang dibawakan dalang dari Nusa Penida malam itu berjudul Rempong Bisma. Cerita diawali dari peparuman antara Krisna dan Arjuna, dimana Arjuna merasakan kesedihan mendalam setelah kematian putra Wirata dan lakon  diakhiri dengan terbunuhnya Bagawan Bhisma.

Secara struktur, pementasan ini cukup lengkap: dimulai dari petegak, nyejer wayang, pemungkah, alas arum, penyacah parwa, pengalang, hingga mesem dan adegan ngerebong pun dihadirkan. Tak ketinggalan, sastra kekawin turut diselipkan, memperkuat kesan bahwa wayang kulit adalah pertunjukan sastra. Apalagi lakon Bharatayuda memang biasanya kaya akan petikan kekawin, meski pada pertunjukan ini jumlahnya tidak sebanyak pada lakon Bharatayuda yang pernah saya tonton dalam pertunjukan seorang dalang Sukawati.

Namun disayangkan, sepertinya semangat dan gairah sang dalang yang besar tidak sepenuhnya tersambut oleh audiens. Penonton tampak bersikap datar-datar saja, tepuk tangan hanya terdengar ketika pementasan dimulai dan berakhir. Selebihnya mereka sibuk dengan percakapan sendiri, ada yang asyik dengan ponsel sambil sesekali melirik ke layar wayang, bahkan ada pula yang memilih untuk meninggalkan pertunjukan.

Tawa yang muncul justru bukan karena adegan-adegan atau kata lucu dari pementasan wayang, melainkan dari obrolan mereka sendiri. Tentu saya tidak mengatakan pertunjukan yang disajikan sang dalang tidak bagus atau tidak berkualitas, namun memang situasi itu juga yang kerap terjadi ketika pertunjukan wayang dihadirkan di masyarakat masa kini.

Pertanyaan pun muncul dalam benak saya: apakah wayang kulit tradisi di Bali memang membosankan dan sulit dipahami oleh masyarakat masa kini? Ataukah penonton malam itu datang hanya karena di panggung lain tidak ada pementasan yang bisa ditonton? Apakah wayang hanya menjadi pilihan kedua?

Kalau ingin kesenian ini mampu melangkah lebih maju, pertanyaan-pertanyaan ini bagi saya penting dijadikan bahan evaluasi untuk perhelatan Utsawa (parade) wayang di masa mendatang. Tujuannya supaya orang-orang yang datang memang berniat menonton pertunjukan wayang, seperti halnya masyarakat yang dengan hebohnya datang untuk menyaksikan Wimbakara (Lomba) Baleganjur dan Bapang Barong. Bahkan mungkin perlu dipertimbangkan untuk memperbanyak variasi materi yang dipertunjukkan dalam perhelatan PKB agar seni pewayangan/pedalangan  memiliki ruang yang lebih banyak, sebagaimana pada seni-seni lain.

Lihat saja seni karawitan.  Ada baleganjur, gong kebyar, semar pegulingan, dan berbagai kategori lainnya. Begitu juga seni tari, pementasannya sangat banyak di PKB. Lalu mengapa wayang tidak diperlakukan serupa dengan menata beberapa kategori sajian?

Sebut saja ide untuk menampilkan wayang legendaris dari I Gusti Made Darma Putra dalam tulisannya berjudul ”Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya” yang termuat di tatkala.co (https://tatkala.co/2025/04/24/ketiadaan-wayang-legendaris-di-pesta-kesenian-bali-sebuah-kekosongan-dalam-pelestarian-budaya/).

Menampilkan wayang legendaris adalah salah satu ide bagus yang patut dipertimbangkan. Menarik pula jika ada materi pagelaran wayang inovasi.

Sepertinya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dan pihak-pihak terkait sudah saatnya memikirkan agar PKB menjadi ajang yang lebih inklusif bagi semua bidang seni. Bukan hanya satu atau dua bidang yang merasakan euforia yang luar biasa besar, tetapi seluruh cabang seni, termasuk seni pewayangan/pedalangan bisa lebih diikutkan dalam pesta dan tidak terkesan sekedar ada. Karena ini Pesta Kesenian Bali, sepatutnya semua kesenian bisa merasakan berpesta dan berdansa bersama dalam acara besar ini. [T]

Ubud 19 Juli 2025

Penulis: Agus Arta Wiguna
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya
Anak-anak Main Gender Wayang: Tak Sekadar Cepat, Tapi juga Kuasai Spirit Gending
Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya
Tags: DalangNusa PenidapedalanganPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2025wayangwayang Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Next Post

“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Agus Arta Wiguna

Agus Arta Wiguna

Panggilannya Nuno. Nama lengkapnya I Made Agus Arta Wiguna. Lahir dan tinggal di Kedewatan, Ubud, Gianyar. Ia lulusan S1 Program Studi Seni Pedalangan, ISI Bali

Related Posts

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

by Made Chandra
September 6, 2026
0
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

Read moreDetails

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

by Made Chandra
August 25, 2026
0
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

Read moreDetails

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

by Made Chandra
August 7, 2026
0
Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

Read moreDetails

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
0
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

Read moreDetails

Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

by Savitri Sastrawan
July 30, 2026
0
Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

TULISAN Made Chandra berjudul “Let Them Cook: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali” menyentil pemikiran...

Read moreDetails

Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

by Made Chandra
July 19, 2026
0
Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

SEBELUM kalian marah-marah dengan judul tulisan ini, perlu dijelaskan topik ini adalah auto kritik yang aku layangkan pada tiap seniman...

Read moreDetails

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

by Arief Rahzen
July 6, 2026
0
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

Read moreDetails

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

by Made Chandra
July 5, 2026
0
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

Read moreDetails

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
0
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

Read moreDetails

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
0
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co