24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Girang Kaajakin”: Paradoks Identitas Diri, Kelatahan, dan Masyarakat (Seni) Bali dalam Gejala Post-tradisi

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
February 18, 2023
in Kritik Seni, Pilihan Editor
“Girang Kaajakin”: Paradoks Identitas Diri, Kelatahan, dan Masyarakat (Seni) Bali dalam Gejala Post-tradisi

Kruwlut dan Simbol-simbol wewaran pada Tika - Koleksi Puri Pomanis

MENGHUBUNGKAN TUMPEK KRUWLUT dengan kata ‘lulut’ yang dalam Jawa Kuna berarti kasih sayang, cinta, asmara, rindu, hasrat cinta kasih, mabuk kepayang, rasa cinta adalah sebentuk kekeliruan yang hakiki. Alih-alih menetapkannya setara dengan hari Valentine-nya orang Bali, secara langsung (sadar atau tidak sadar) menunjukkan kedangkalan daya nalar kita sebagai orang Bali yang masih mewarisi perayaan siklus astronomi melalui pawukon.

Iya, ini sebentuk pendangkalan makna wuku Kruwlut/Krulut dengan menyatakannya berasal kata dari ‘lulut’, bahkan yang mencengangkan bahwa deskripsi-deskripsi demikian diunggah oleh website-website pemerintah.

Lihat saja website:

  • https://www.kominfostatistik.denpasarkota.go.id/berita/perayaan-rahina-tumpek-krulut-sebagai-hari-tresna-asih-dresta-bali#:~:text=Tumpek%20Krulut%20adalah%20tumpek%20keempat,cinta%20kasih%2C%20senang%2C%20gembira
  • dan https://bali.kemenag.go.id/badung/berita/1702/makna-rerainan-tumpek-krulut

Kruwlut/Kuruwelut/Krulut adalah nama wuku yang ke-17, begitu entri terminologinya dalam Jawa Kuna seperti ditulis Zoetmulder, Krulut bukan Klulut yang dicocoklogikan dengan ‘lulut’ menjadi Tumpek Lulut. Sederhananya lihatlah pada lembar kalender Bali, dibaliknya selalu ada penjelasan Wuku, dituliskan Krulut sebagai manisfestasi dewanya adalah Bhatara Wisnu.

Pada Lontar Wewatekan Oton tertulis wuku Kruwlut dengan penjelasannya sebagai berikut: Wa, 14, U, 7, pangawak Korawa, dumadi sang Lalwarah, lemahanya, kayu kowang, kayunya, manuk lawadan manuknya, luwaksa satonya, lintang huluku lintangnya.

Penulisan Krulut juga ditemukan dalam Lontar Tutur Aji Pangukiran, dituliskan sebagai berikut: Iti tutur aji pangukiran, ngawilang gnah wuku, Watugunung magnah ring tlapakan suku, Dukut, pangadegan, Klawu, ring knyepane, Wayang ring pupu, Ugu, ring sarira, Bala, ring puyuhane, Prangbakat ringbokongan, Mnala ring ulu, Uye ring puser, Matal ring lambung, Medangkungan ring weteng, Tambir ring susu, Mrakih ring jaje, Krulut ring jriji alit, dan seterusnya.

Pertanyaan mendasar bahwa sejak kapan Krulut dimaknai serupa pelafalan ‘cadel’ Klulut dan diartikan Lulut?

Kruwlut dalam Lontar Wewatekan – asal dan koleksi Griya Kelodan Sawan Buleleng

Krulut dalam Lontar Tutur Aji Pangukiran – asal Griya Banjar Buleleng

Fenomena demikian merupakan salah satu gejala post-tradisi, ketika hari-hari ini kita dihadapkan pada aras interkultural, bebas menyerap budaya lain melalui kecepatan akses informasi dan transportasi.   Yang terjadi kemudian adalah paradoks identitas diri.

Sebagaimana dituliskan oleh Prof. Bambang Sugiharto bahwa dalam konteks kebudayaan, dalam rangka identitas atau pun pengakuan global, orang ingin kembali kepada kebudayaan lokal-asal yang dirasakan sebagai akar diri. Implikasi dari hal ini adalah bahwa individu kini menghadapi tegangan antara hak untuk mengadopsi dengan bebas berbagai unsur budaya lain yang dianggapnya menarik dan perlu, sekaligus terdapat sebentuk kewajiban untuk menemukan jati-dirinya yang unik dengan kembali ke khasanah budayanya sendiri.

Celakanya adalah ketika merasa kewajiban hak guna pakai kelokalan (ke-Bali-an) itu kita masih taat menganut “girang kaajakin”, sebentuk sifat yang dengan senang apabila diikutkan/mengikuti apa yang dianggap benar tanpa merujuk refrensi atau sumber asli, tanpa menggunakan daya nalar lebih jauh, tanpa kesederhanaan mencari pengetahuan dengan cara mempertanyakan ulang. Tanpa meragukannya terlebih dahulu sehingga setelahnya ada keinginan untuk menggali, mengkomparasi, menyimpulkan, sekaligus menyatakan.

Eksesnya adalah kelatahan yang tersedimentasi, menganganya kebodohan tanpa pernah berupaya dijarit dengan pengetahuan.

Tidak hanya pada wilayah sosial-kultural masyarakat, di medan sosial seni rupa Bali juga tidak kalah menariknya membaca gelagat-gelagat demikian. Misalkan saja, dekade 1980 ketika meledaknya abstrak eskpresionis, simbol poleng (hitam-putih), rerajahan, dan simbol-simbol lainnya dijebret, kacress, crooottt begitu saja, disamarkan lagi, dinyatakan kembali mewujud distorsi, kebanyakan lantas melukis demikian.

Begitu juga pada awal tahun 2000-an melalui ledakan pop art seturut itu simbol-simbol kelokalan dibenturkan sedemikian rupa. Atau kelatahan berkelompok hanya untuk kesertaan berpameran dua-tiga kali setelah itu lenyap, sejalan dengan kemunculan galeri seni atau art space yang sekali berarti sesudah itu mati lagi.

Kruwlut dan Simbol-simbol wewaran pada Tika – Koleksi Puri Pomanis

Gejala post-tradisi melalui kebudayaan di dalam seni rupa tentu harus dibarengi juga dengan laku membangun dan menyiarkan bagaimana dunia seni itu agar dipahami oleh orang diluar seni (masyarakat umum), sementara dalam imaji kita medan sosial seni sangatlah luas (karena memang benar demikian) akan tetapi (seolah) kita luput dengan mereka yang ada disekitar kita yaitu masyarakat (seniman, kurator, penulis, kritikus, art dealer, kolektor, museum, galeri, pemerintah, institusi seni dan masyarakat).

Membangun wacana kelokalan itu bagus sebabnya adalah aspek tradisi yang dinyatakan sebagai akar adalah tempat tumbuhnya nutrisi-nutrisi kreativitas, sebab kita tumbuh di Timur, sebab jargon think local act global. Oleh karena modernitas dunia dibentuk sebagai hasil dari hegemoni (pemikiran Barat) sejak kolonialisasi yang ‘westernisasi’ sebagaimana dinyatakan melalui kuratorial Kovergensi oleh Suwarno Wisetrotomo.

Maka entah itu dengan jalan mengembangkan tradisi atau membongkar tradisi suka tidak suka kita harus memahami dengan betul akar itu, agar tidak latah seperti ‘girang kaajakin’. [T]

Pohmanis, 15 Februari 2023

BACA artikel lain dari penulis DEWA PURWITA SUKAHET

PENTIMENTO : Cerita dari Rekam Jejak Lukisan karya Noella Roos
Tata Ruang Kota, Tiang dan Kabel-kabel, dan Persoalan Estetika
Kepekaan Estetika Kita dan Cagar Budaya Gedong Kirtya
Tags: baliBudaya BaliHari Valentinekasih sayanglontarTumpek Krulut
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ada 5.100 Kursi untuk Mahasiswa Baru di Undiksha Singaraja

Next Post

Teater “Otonan”, Perjalanan Menuju Hari Lahir

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

by Made Chandra
September 6, 2026
0
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

Read moreDetails

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

by Made Chandra
August 25, 2026
0
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

Read moreDetails

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

by Made Chandra
August 7, 2026
0
Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

Read moreDetails

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
0
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

Read moreDetails

Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

by Savitri Sastrawan
July 30, 2026
0
Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

TULISAN Made Chandra berjudul “Let Them Cook: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali” menyentil pemikiran...

Read moreDetails

Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

by Made Chandra
July 19, 2026
0
Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

SEBELUM kalian marah-marah dengan judul tulisan ini, perlu dijelaskan topik ini adalah auto kritik yang aku layangkan pada tiap seniman...

Read moreDetails

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

by Arief Rahzen
July 6, 2026
0
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

Read moreDetails

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

by Made Chandra
July 5, 2026
0
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

Read moreDetails

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
0
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

Read moreDetails

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
0
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

Read moreDetails
Next Post
Teater “Otonan”, Perjalanan Menuju Hari Lahir

Teater “Otonan”, Perjalanan Menuju Hari Lahir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co