2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kepekaan Estetika Kita dan Cagar Budaya Gedong Kirtya

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
April 11, 2022
in Esai
Kepekaan Estetika Kita dan Cagar Budaya Gedong Kirtya

Dua gapura bergaya candi bentar dibuat kembar berwarna putih menghadap ke utara, kondisinya kian lusuh.  Namun belakangan terbaca agar gapura terlihat selalu baru. Ini menilik dari bekas rembesan cat putih pada bagian kakinya.

Namun masih tampak retak menganga di beberapa bagian. Dan, intalasi lampu hias nampak dipasang merambat pada bagian atas dari tembok, badan hingga atap gapura. Entah apa pertimbangan estetiknya merambatkan lampu hias sedemikian rupa yang jelas sungguh tidak sedap dipandang.

Yang parah menurut saya adalah bagian atas gapura ditambahi dengan rangka kayu juga besi berbentuk persegi panjang yang ikatannya membelit ukiran ornament khas gaya Blelengan, tujuannya untuk memasang spanduk informasi.  Itu untuk gapura di sisi barat.

Sedangkan kembarannya di sisi timur tidak kalah memilukan namun spanduk yang membentang tanpa frame kayu dan hanya mempergunakan tali. Saya kira kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat gapura kembar yang berangka tahun 1939 tersebut masuk ke dalam inventaris bangunan cagar budaya.

Seni Rupa Bali dan Persoalan Arsip

Ya ini tentang cerita mengenai kepekaan estetika dan etika kita tentang warisan benda berupa bangunan cagar budaya yang di dalam Undang-undang Republik Indonesia No.11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

 BAB I Ketentuan Umum, pasal 1 butir no.1 menyatakan “Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan”.

Kemudian pada butir no. 3 menyatakan “Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap”.

Setelah cross check melalui situs https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/gedunggedong-kirtya-singaraja-sebagai-situs-cagar-budaya/ saya mendapatkan bahwa Gedong Kirtya termasuk ke dalam bangunan cagar budaya dengan catatan inventarisasi sebagai berikut Gedung/Gedong Kirtya (No Inventaris : 3/14-08/STS/53).

 Isi yang saya soroti pada deskripsi di dalamnya adalah “Gedung kirtya memiliki 2 buah gapura yang masih utuh dan kuno. Di setiap gapura terdapat angka tahun pembuatannya. Gapura luar dibuat pada 3 Juni 1939, dan gapura dalam dibuat pada 31 Mei 1933. Karakter gapura masih kuno, bahan yang digunakan adalah bata, semen, pasir dan cat putih. Pada bagian badannya terdapat panil relief pewayangan.”

Saya mengecek ulang arsip dokumentasi berupa foto edisi Nglesir Visual dan mendapatkan tahun 2019 sudah demikian adanya, sebab tahun-tahun sebelum itu jika tidak salah dalam ingatan saya merekam hal itu dan baru di tahun 2019 hingga kini ketika berkunjung ke Gedong Kirtya saya mengupayakan untuk mendokumentasikannya.

Gapura Gedong Kirtya sisi barat. [Nglesir Visual. 24 Juni 2019]
Gapura Gedong Kirtya di sisi barat. [Nglesir Visual. 9 Januari 2022]

Sebenarnya yang menarik dari gapura kembar tersebut adalah relief cetak dan teknologi pembuatan ornamennya, saya kira bangunan yang menjadi saksi bisu sejarah Kota Singaraja sangat layak dijadikan sebagai sarana pendidikan mengingat konon Singaraja adalah kotanya pendidikan.

Seni kasusastraan ya jangan ditanya lagi sebab Gedong Kirtya adalah gudangnya ilmu pengetahuan yang secara spesifik memiliki koleksi pustaka-pustaka penting bagi pulau Bali. Selain itu di kompleks Gedong Kirtya sisi sebelah timurnya berdiri kokoh gedung Sasana Budaya yang dapat dihidupkan melalui seni pertunjukan, teater, musik/karawitan.

Kemudian di sisi selatan adalah Museum Buleleng tempat belajar sejarah dan kebudayaan. Dari segi fisiknya, Kompleks Gedong Kirtya tentu dapat menjadi media pendidikan dari ilmu arsitektur, teknik sipil, desain interior dan eksterior, dan juga seni rupa.

Kita kembali kepada gapura kembar bercat putih tadi, terdapat beberapa ornamen relief cetak berupa panel wayang melekat pada tubuh gapura yang jika dilihat ikonografinya merujuk pada wiracerita Ramayana, meski persebaran panel relief cetak di Singaraja hanya terpusat pada Gedong Kirtya dan beberapa pada lingkungan jeroan Puri setidaknya kita dapat menebak bahwa inovasi campuran semen dan pasir telah diterapkan melalui arsitektur dan ornament di Singaraja.

Awalnya saya menduga bahwa gapura kembar ini dibangun dengan material batu padas sebagaimana yang dapat dijumpai pada bangunan-banguan suci yang tersebar di wilayah Buleleng, akan tetapi dugaan saya itu meleset ketika pada tahun 2017 saya Nglesir Visual di kuburan Kristen, Liligundi dan berakhir di permandian umum sisi seberang barat pasar Buleleng.

Jangan Belajar ke India Sebelum ke Gedong Kirtya Buleleng

Di sana saya menjumpai pada relief yang retak bahwa relief tidak dibuat dengan diukir pada medium batu padas melainkan di bentuk mempergunakan media pasir dan semen, semen yang dipergunakan kemungkinan besar adalah campuran bias-pamor. Dari sini kemudian saya ngeh bahwa perkembangan seni ukir di Singaraja mengalami perkembangan dari sisi medium hingga teknik mengukir bias pamor berkembang menjadi ukir bias malela.

Akan tetapi, dalam kasus teknik relief cetak tidak saya temukan informasinya di Singaraja dan justru di Kota Karangasem saya menjumpai pola yang sama, yaitu di Puri Kaleran Karangasem. Teknik cetak serupa masih hingga kini diterapkan oleh Gung Aji Wis.

Berbarengan dengan temuan data tersebut maka timbulah dugaan-dugaan spekulatif mengenai yang mana menerapkan teknik relief cetak lebih dahulu apakah Singaraja atau Karangasem?

Nah, untuk ini akan menjadi pembahasan saya selanjutnya sembari dengan sabar mengumpulkan data atau informasi. Yang jelas adalah terdapatnya penanggalan dan angka tahun pada bagian badan candi bentar kembar tersebut yang terbaca 3-6-1939, baik yang di sisi barat maupun sisi timur.

Gapura Gedong Kirtya sisi barat, belahan bagian barat, dengan kondisi retak dan memprihatinkan

Sedangkan pada bagian bawah penanggalan dan angka tahun secara konsisten di masing-masing belahan gapuranya melekat relief Wisnu menunggang Garuda dan Brahma menunggang Wilmana, ikonografinya jelas dari atribut, tipe tunggangan dan senjata cakra juga gada yang di bawa setiap figur. Beberapa panel relief cetak yang lebih kecil mengguratkan figur Palwaga atau tokoh-tokoh ksatria kera dalam epos Ramayana.

Melihat kondisi gapura tersebut saya kira sudah sepatutnya pejabat pemegang kuasa atau dinas terkait untuk merapatkan dirinya kepada orang-orang yang mempunyai keahlian di dalam tata ruang, desainer interior/eksterior, atau seniman yang memiliki cita rasa estetik terhadap bangunan cagar budaya guna memecah kemuraman perwajahan utamanya gapura kembar ini melalui restorasi atau pemugaran.

Buatlah rancangan penataan dan penyediaan tempat spanduk informasi yang layak dan tepat tanpa mengganggu bagungan cagar budaya sehingga kayu, tali, besi tidak semrawutan pada bagian-bagian ornament yang ringkih, penataan lampu atau tata lighting yang apik sehingga pada malam hari mampu memberikan kesan estetik.

Ikonografi Men Bajra yang Bertugas Mengundang Memedi

Saya kira penataan seperti itu akan memberikan kesan yang lebih segar bagi masyarakat umum dan menjadi sarana pembelajaran bagi tiap generasi sekaligus memupuk kepekaan estetikanya selain menjadi bagian aksi turut menjaga warisan cagar budaya.

Untuk penataan semacam itu sangat mungkin rasanya mengingat RTH Taman Bung Karno yang megah super mewah dengan patung singa merangkak berwajah emas super besar saja mampu terwujud, masa sih merawat bangunan yang memang dengan jelas terdaftar sebagai cagar budaya saja tidak mampu? Bagaimana perasaan Boeng Karno nanti? Boeng ajoe boeng!!!! [T]

Pohmanis, 11 April 2022

Tags: cagar budayaGedong KirtyalontarSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jadikan “Megangsing” Sebagai Agenda Rutin Kepariwisataan Buleleng

Next Post

Senyum Merekah Pedagang “Kuud” Tepi Jalan, Antara Dunia Kedokteran dan Marketing yang Efektif

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Senyum Merekah Pedagang “Kuud” Tepi Jalan, Antara Dunia Kedokteran dan Marketing yang Efektif

Senyum Merekah Pedagang “Kuud” Tepi Jalan, Antara Dunia Kedokteran dan Marketing yang Efektif

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co