23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kepekaan Estetika Kita dan Cagar Budaya Gedong Kirtya

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
April 11, 2022
in Esai
Kepekaan Estetika Kita dan Cagar Budaya Gedong Kirtya

Dua gapura bergaya candi bentar dibuat kembar berwarna putih menghadap ke utara, kondisinya kian lusuh.  Namun belakangan terbaca agar gapura terlihat selalu baru. Ini menilik dari bekas rembesan cat putih pada bagian kakinya.

Namun masih tampak retak menganga di beberapa bagian. Dan, intalasi lampu hias nampak dipasang merambat pada bagian atas dari tembok, badan hingga atap gapura. Entah apa pertimbangan estetiknya merambatkan lampu hias sedemikian rupa yang jelas sungguh tidak sedap dipandang.

Yang parah menurut saya adalah bagian atas gapura ditambahi dengan rangka kayu juga besi berbentuk persegi panjang yang ikatannya membelit ukiran ornament khas gaya Blelengan, tujuannya untuk memasang spanduk informasi.  Itu untuk gapura di sisi barat.

Sedangkan kembarannya di sisi timur tidak kalah memilukan namun spanduk yang membentang tanpa frame kayu dan hanya mempergunakan tali. Saya kira kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat gapura kembar yang berangka tahun 1939 tersebut masuk ke dalam inventaris bangunan cagar budaya.

Seni Rupa Bali dan Persoalan Arsip

Ya ini tentang cerita mengenai kepekaan estetika dan etika kita tentang warisan benda berupa bangunan cagar budaya yang di dalam Undang-undang Republik Indonesia No.11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

 BAB I Ketentuan Umum, pasal 1 butir no.1 menyatakan “Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan”.

Kemudian pada butir no. 3 menyatakan “Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap”.

Setelah cross check melalui situs https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/gedunggedong-kirtya-singaraja-sebagai-situs-cagar-budaya/ saya mendapatkan bahwa Gedong Kirtya termasuk ke dalam bangunan cagar budaya dengan catatan inventarisasi sebagai berikut Gedung/Gedong Kirtya (No Inventaris : 3/14-08/STS/53).

 Isi yang saya soroti pada deskripsi di dalamnya adalah “Gedung kirtya memiliki 2 buah gapura yang masih utuh dan kuno. Di setiap gapura terdapat angka tahun pembuatannya. Gapura luar dibuat pada 3 Juni 1939, dan gapura dalam dibuat pada 31 Mei 1933. Karakter gapura masih kuno, bahan yang digunakan adalah bata, semen, pasir dan cat putih. Pada bagian badannya terdapat panil relief pewayangan.”

Saya mengecek ulang arsip dokumentasi berupa foto edisi Nglesir Visual dan mendapatkan tahun 2019 sudah demikian adanya, sebab tahun-tahun sebelum itu jika tidak salah dalam ingatan saya merekam hal itu dan baru di tahun 2019 hingga kini ketika berkunjung ke Gedong Kirtya saya mengupayakan untuk mendokumentasikannya.

Gapura Gedong Kirtya sisi barat. [Nglesir Visual. 24 Juni 2019]
Gapura Gedong Kirtya di sisi barat. [Nglesir Visual. 9 Januari 2022]

Sebenarnya yang menarik dari gapura kembar tersebut adalah relief cetak dan teknologi pembuatan ornamennya, saya kira bangunan yang menjadi saksi bisu sejarah Kota Singaraja sangat layak dijadikan sebagai sarana pendidikan mengingat konon Singaraja adalah kotanya pendidikan.

Seni kasusastraan ya jangan ditanya lagi sebab Gedong Kirtya adalah gudangnya ilmu pengetahuan yang secara spesifik memiliki koleksi pustaka-pustaka penting bagi pulau Bali. Selain itu di kompleks Gedong Kirtya sisi sebelah timurnya berdiri kokoh gedung Sasana Budaya yang dapat dihidupkan melalui seni pertunjukan, teater, musik/karawitan.

Kemudian di sisi selatan adalah Museum Buleleng tempat belajar sejarah dan kebudayaan. Dari segi fisiknya, Kompleks Gedong Kirtya tentu dapat menjadi media pendidikan dari ilmu arsitektur, teknik sipil, desain interior dan eksterior, dan juga seni rupa.

Kita kembali kepada gapura kembar bercat putih tadi, terdapat beberapa ornamen relief cetak berupa panel wayang melekat pada tubuh gapura yang jika dilihat ikonografinya merujuk pada wiracerita Ramayana, meski persebaran panel relief cetak di Singaraja hanya terpusat pada Gedong Kirtya dan beberapa pada lingkungan jeroan Puri setidaknya kita dapat menebak bahwa inovasi campuran semen dan pasir telah diterapkan melalui arsitektur dan ornament di Singaraja.

Awalnya saya menduga bahwa gapura kembar ini dibangun dengan material batu padas sebagaimana yang dapat dijumpai pada bangunan-banguan suci yang tersebar di wilayah Buleleng, akan tetapi dugaan saya itu meleset ketika pada tahun 2017 saya Nglesir Visual di kuburan Kristen, Liligundi dan berakhir di permandian umum sisi seberang barat pasar Buleleng.

Jangan Belajar ke India Sebelum ke Gedong Kirtya Buleleng

Di sana saya menjumpai pada relief yang retak bahwa relief tidak dibuat dengan diukir pada medium batu padas melainkan di bentuk mempergunakan media pasir dan semen, semen yang dipergunakan kemungkinan besar adalah campuran bias-pamor. Dari sini kemudian saya ngeh bahwa perkembangan seni ukir di Singaraja mengalami perkembangan dari sisi medium hingga teknik mengukir bias pamor berkembang menjadi ukir bias malela.

Akan tetapi, dalam kasus teknik relief cetak tidak saya temukan informasinya di Singaraja dan justru di Kota Karangasem saya menjumpai pola yang sama, yaitu di Puri Kaleran Karangasem. Teknik cetak serupa masih hingga kini diterapkan oleh Gung Aji Wis.

Berbarengan dengan temuan data tersebut maka timbulah dugaan-dugaan spekulatif mengenai yang mana menerapkan teknik relief cetak lebih dahulu apakah Singaraja atau Karangasem?

Nah, untuk ini akan menjadi pembahasan saya selanjutnya sembari dengan sabar mengumpulkan data atau informasi. Yang jelas adalah terdapatnya penanggalan dan angka tahun pada bagian badan candi bentar kembar tersebut yang terbaca 3-6-1939, baik yang di sisi barat maupun sisi timur.

Gapura Gedong Kirtya sisi barat, belahan bagian barat, dengan kondisi retak dan memprihatinkan

Sedangkan pada bagian bawah penanggalan dan angka tahun secara konsisten di masing-masing belahan gapuranya melekat relief Wisnu menunggang Garuda dan Brahma menunggang Wilmana, ikonografinya jelas dari atribut, tipe tunggangan dan senjata cakra juga gada yang di bawa setiap figur. Beberapa panel relief cetak yang lebih kecil mengguratkan figur Palwaga atau tokoh-tokoh ksatria kera dalam epos Ramayana.

Melihat kondisi gapura tersebut saya kira sudah sepatutnya pejabat pemegang kuasa atau dinas terkait untuk merapatkan dirinya kepada orang-orang yang mempunyai keahlian di dalam tata ruang, desainer interior/eksterior, atau seniman yang memiliki cita rasa estetik terhadap bangunan cagar budaya guna memecah kemuraman perwajahan utamanya gapura kembar ini melalui restorasi atau pemugaran.

Buatlah rancangan penataan dan penyediaan tempat spanduk informasi yang layak dan tepat tanpa mengganggu bagungan cagar budaya sehingga kayu, tali, besi tidak semrawutan pada bagian-bagian ornament yang ringkih, penataan lampu atau tata lighting yang apik sehingga pada malam hari mampu memberikan kesan estetik.

Ikonografi Men Bajra yang Bertugas Mengundang Memedi

Saya kira penataan seperti itu akan memberikan kesan yang lebih segar bagi masyarakat umum dan menjadi sarana pembelajaran bagi tiap generasi sekaligus memupuk kepekaan estetikanya selain menjadi bagian aksi turut menjaga warisan cagar budaya.

Untuk penataan semacam itu sangat mungkin rasanya mengingat RTH Taman Bung Karno yang megah super mewah dengan patung singa merangkak berwajah emas super besar saja mampu terwujud, masa sih merawat bangunan yang memang dengan jelas terdaftar sebagai cagar budaya saja tidak mampu? Bagaimana perasaan Boeng Karno nanti? Boeng ajoe boeng!!!! [T]

Pohmanis, 11 April 2022

Tags: cagar budayaGedong KirtyalontarSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jadikan “Megangsing” Sebagai Agenda Rutin Kepariwisataan Buleleng

Next Post

Senyum Merekah Pedagang “Kuud” Tepi Jalan, Antara Dunia Kedokteran dan Marketing yang Efektif

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Senyum Merekah Pedagang “Kuud” Tepi Jalan, Antara Dunia Kedokteran dan Marketing yang Efektif

Senyum Merekah Pedagang “Kuud” Tepi Jalan, Antara Dunia Kedokteran dan Marketing yang Efektif

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co