23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ikonografi Men Bajra yang Bertugas Mengundang Memedi

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
March 27, 2022
in Esai
Ikonografi Men Bajra yang Bertugas Mengundang Memedi

Pura Dalem Banjar - Arsip Nglesir Visual 2020

“Ye Memen Bajra… luas ke setra… kautus ngundang memedi, memedi pada kaundang, ane peceng perot undang, memedi gigine putih poleng, irik-irikin je kuda wake, wake enyak teken iya, iya enyak ngajak wake, cikapak aji dungkul mengebeng-ngebeng, luwas kija, ka undangan, menginutin rejang jawa, sada teka egah egoh mengabang dadongne kawan”

Lirik ini saya dapatkan pada tahun 2017, kisaran bulan Juni jika saya tilik kembali arsip rekaman suara dari Ida Bagus Putra Manik Aryana dari Griya Delod Pasar Intaran, Sanur yang juga seorang dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Bali Undiksha, Singaraja.

Apa bila tidak salah, dalam ingatan saya mulai pada tahun 2010 di Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha tiap tahunnya pada Malam Gelar Seni (MGS) Jurusan Pendidikan Bahasa Bali membranding event kreatifnya dengan mempopulerkan tari Sang Hyang, ya salah satu dari deretan seni sakral yang dipentaskan melalui MGS tersebut tentu Sang Hyang Memedi. 

Lirik Sang Hyang Memedi tersebut saya tulis berdasarkan rekaman tembangnya, tembangnya juga sederhana, mudah diingat dan kerap kali pada awal-awalnya sering saya nyanyikan sambil berbisik ketika dalam perjalanan kemana-mana untuk membunuh rasa penat dalam perjalanan, istilah populernya “easy listning” lah tentu bagi orang Bali yang akrab dengan gending rare, sedikit tidaknya tembangnya serupa dengan genre nyanyian yang ditujukan untuk anak-anak di Bali.

Beberapa waktu setelahnya saya mulai bertanya sebab ada juga keinginan untuk menafsirkan liriknya, ya sebagaimana kita orang Bali belajar menafsirkan suatu gending akibat populernya wayang Chenk Blonk seperti “Bibi Anu lamun payu luas manjus,…”, pertanyaan pertama tentu saja mengenai Memen Bajra, siapakah dia?

Hinzler-1986-Catalogue of Balinese Manuscript Vol I

Banyak asumsi yang saya kumpulkan, mulai saya gutak-gatik-gatuk, bahwa Memen Bajra adalah ini, ia adalah sebuah representasi dari itu, ia punya kekuatan khusus begini dan begitu sebab sampai diberikan mandate untuk mengundang makhluk halus yang disebut Memedi,dll. Hal tersebut lumayan mengasyikan bagi saya meski tanpa kesimpulan jelas, dan sudah tentu juga beriringan dengan waktu hal itu berlalu.

Namun ingatan atas Memen Bajra kembali hadir ketika membaca buku Catalogue of Balinese Manuscript Vol I ditulis oleh Hinzler tahun 1986 terbitan Leiden, buku yang terbit dengan dua volume tersebut juga menjadi acuan saya dalam meneliti I Ketut Gede Singaraja. Ketika mencermati tiap gambar-gambar di dalamnya, mata saya tertuju pada satu figur dalam edisi gambar yang dikumpulkan oleh Van der Tuuk dari artists (istilah juru gambar pada buku tersebut) Banjar Beratan, Singaraja.

Jong Pari, Sebuah Kreativitas Mudra Suara

Satu diantara tiga figur tersebut menampilkan wujud perempuan dengan keterangan beraksara Bali “Karang Men Bajra” digambarkan dengan rambut panjang megambahan (terurai), berkalung selendang atau kain, mempergunakan kamen duur ntud (kain kamen pendek, di atas lutut) yang identik dengan cerita ilmu hitam orang-orang Bali, dan yang khas adalah dua buah dadanya sangat panjang, menjuntai ke bawah hingga hampir menyentuh lututnya dengan posisi berdiri, mungkin karena panjangnya buah dada tokoh ini maka tangannya digambarkan memegang pangkal buah dadanya, atau malah memainkannya? Bisa jadi.

Bratan Artist – Hinzler-1986-Catalogue of Balinese Manuscript Vol I

Di tempat saya di Desa Taman Pohmanis, Denpasar, terkenang dengan cerita orang-orang tua sewaktu saya masih masa anak-anak bahwa di wilayah belakang Pura Puseh dan Pura Desa yang dulunya masih lebih belukar daripada sekarang sering terlihat figur perempuan serupa dengan penggambaran Men Bajra, akan tetapi di sini disebut dengan “Emplek-emplek Mbe” yang suka menggoda anak kecil yang bermain di areal belakang pura pada Jejeg Ai (pukul 12 siang tepat) atau Sandikaon/Sandikala (waktu temaran senja menuju malam).

Cara menggodanya konon dengan memainkan buah dadanya yang panjang sehingga berbunyi “keteplak-keteplek” tentu cerita tersebut akan membuat saya dan teman-teman ketakutan pada waktu itu dan sebisa mungkin untuk tidak melanggar waktu bermain. Singkat kata, bisa jadi Men Bajra dengan Emplek-emplek Mbe” adalah satu tokoh dengan nama berbeda.

Seni Rupa Bali dan Persoalan Arsip

Kembali ke buku kumpulan ilustrasi manuskrip tersebut, saya menjumpai kembali satu foto Men Bajra yang terpahatkan pada satu bangunan palinggih, dalam keterangannya ditulis Pura Dalem Petandakan, Buleleng, akan tetapi saya merasa familiar dengan lokasi foto diambil, setelah mengecek arsip Nglesir Visual di daerah Buleleng, ternyata lokasi tepatnya adalah di Pura Dalem Banjar,  Buleleng, yang pernah saya foto bersama teman-teman pasca musibah kebakaran yang menghanguskan palinggih gedong pura.

Pura Dalem Banjar – Arsip Nglesir Visual 2020

Men Bajra yang sama telah direstorasi dan dipulas dengan warna terpahatkan pada tubuh palinggih pangapit lawing di depan kori pamedalan. Setelah melakukan perbandingan foto yang sekiranya diambil untuk buku tersebut kisaran tahun 1970-1980an dengan arsip foto Nglesir Visual saya pada 20 Januari 2020 ternyata ada sedikit perubahan.

Foto di buku menunjukan kerusakan pada bagian wajah, dan tubuh akibat material yang aus keropos, ikografi yang paling khas adalah buah dada bagian kanan patung masih utuh terpahatkan dengan ikonik panjang menyentuh lutut dalam posisi duduk, sedangkan buah dada bagian kiri juga terlihat aus dan keropos. Pada dokumentasi tahun 2020 wajah sudah diperbaiki namun buah dada yang menjadi ikonografi khas Men Bajra dibuat lebih pendek, kemungkinan terjadi kebingungan pada saat restorasinya, rambut masih tetap panjang terurai.

Pura Dalem Banjar – Arsip Nglesir Visual 2020

Perbedaan ikonografi Men Bajra antara yang digambarkan pada buku dengan pahatan secara signifikan dapat dilihat pada wajah, guratan seniman Banjar Bratan mengguratnya dengan wajah manusia akan tetapi yang terpahatkan di Pura Dalem Banjar berwajah lebih seram serupa raksasa. Hal ini lebih kepada representasi seniman yang sudah tentu mempunyai penafsiran tersendiri atas ketokohan Men Bajra yang digambarkan sebagai makhluk magis, Samar, dan sering kali dihubungkan dengan kaki tangan Dhurga. Lebih dari pada itu, yang masih menjadi pertanyaan saya adalah, mengapa Men Bajra diutus untuk mengundang Memedi? Jawaban pasti belum saya temukan. [T]

Pohmanis, 27 Maret 2022.

Lukisan Kacang Goreng || Mengenang Ida Bagus Tugur melalui I Gusti Made Deblog
Tags: Relief Baliseni pertunjukanSeni RupaTari Sanghyang Memedi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ibu, Canang dan Sekolah | Catatan Lomba Teater Rai Srimben di Singaraja

Next Post

Dinz Handmade dari Bali Utara | Mari Bergaya dengan Perca

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Dinz Handmade dari Bali Utara | Mari Bergaya dengan Perca

Dinz Handmade dari Bali Utara | Mari Bergaya dengan Perca

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co