23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jong Pari, Sebuah Kreativitas Mudra Suara

Wayan Diana Putra by Wayan Diana Putra
March 7, 2022
in Esai
Jong Pari, Sebuah Kreativitas Mudra Suara

Foto-foto: Diana Putra

Ubud merupakan salah satu kantong budaya tersohor di Bali. Tercatat para maestro kelas dunia pernah menjejakan kakinya di Ubud. Walter Spies, Arie Smith, Rudolf Bonet, Antonio Blanco, Collin McPhee, Ki Mantle Hood adalah sederet seniman besar yang pernah bergelut dengan nafas seni dan budaya Ubud. Mereka menyemai gagasan kreatif sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Bahkan Ki Mantle Hood yang ditasbihkan sebagai bapak etnomusikolog datang langsung menghadap Tjokorda Gde Agung Sukawati di Puri Ubud meminta rekomendasi pengajar gamelan Bali yaitu Tjokorda Mas Kanaka untuk dapat mengajar gamelan di Amerika.

Tidak kalah penting salah seorang putra Ubud adalah Tjokorda Gde Rake Soekawati yang berhasil membawa Gong Peliatan pada Paris Expo tahun 1931, serta tercatat sebagai lawatan pertama gamelan Bali ke mancanegara. Merujuk dari hal tersebut maka tidak berlebihan jika Ubud merupakan tempat bersemainya gagasan-gagasan kreatif, mengingat dari kronologisnya didasari atas sikap terbuka.

Sikap terbuka memberikan ruang yang begitu luas bagi Ubud untuk dapat menyerap segala bentuk informasi, pengetahuan dan wawasan yang sekiranya cocok untuk diadaptasi. Dari sikap adaftif inilah di Ubud kemudian lahir bentuk-bentuk kesenian baru dengan visi yang terarah. Kesenian yang terlahir di Ubud terwujud dengan mengkolaborasi antara ide tematis yang digarap berdasarkan nilai-nilai kontekstual.

Ide tematis tersebut adalah medium-medium seni itu sendiri sesuai dengan bidang dan klasifikasinya, sedangkan kontekstual yang dimaksud adalah mengenai ruang desiminasinya yang terkorelasi dengan ritual dan adat. Hal ini yang ditangkap serta dimaknai betul oleh teman-teman yang tergabung dalam Sekehe Teruna Udyana, Banjar Taman Kelod, Ubud dalam mengekspresikan kreativitas keseniannya.

Beranjak dari identitasnya sebagai “peputu” atau pendamping adat dari Puri Agung Peliatan dan Puri Agung Ubud, mereka melakukan pendalam mengenai simbol busana poleng tepi barak (pola kotak-kotak warna hitam putih dengan aksen bertepi warna merah). Simbol busana poleng tepi barak ini yang juga merupakan anugrah dari Puri Agung Ubud. Mulai dari menafsir posisi mereka sebagai pendamping puri yang bertugas menjaga regulasi, keseimbangan dan eksistensi puri.

Dari penafsiran tersebut mereka menemukan nilai pengabdian dan penopangan. Untuk dapat melakukan pengabdian dan penopangan maka diperlukan ketajaman akal budi agar dapat menjaga marwah dari puri sebagai pendamping. Nilai ketajaman dan penopangan ini kemudian mereka korelasikan dengan tombak dan keris. Tombak dan keris digunakan sebagai dasar pijakan dalam mewujudkan karya seni yang dapat diaplikasikan dalam kegiatan ritual yang sesuai dengan regulasi puri dalam mengemban kegiatan ritual dan budaya.

Maka lahirlah tarian Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari. Gending Baris Jong Lelandep digarap oleh I Wayan Sudirana, S.Sn., MA, P,hD dan tarinya digarap oleh Gede Agus Krisna Dwipayana, S.Sn. Rejang Jajar Pari geraknya digarap oleh A.A Gde T.H Iswara A.M,  S.Sn., M.Sn dan gendingnya ditata oleh I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Ide kreatif dari Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari lahir dari pemikiran kreatif I Gusti Putu Dika Pratama, S.Pd.

Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari digarap untuk menyertai upacara Dewa Yadnya sebagai representasi dari widyadara dan widyadari. Representasi widyadara dan widyadari yang disematkan gagasan ketajaman dan penopangan dalam karakter laki-laki dan perempuan. Baris Jong Lelandep merupakan pasukan laki-laki pendamping Penglingsir Puri dengan membawa tombak lelandep pajenengan puri. Gerakan yang lebih banyak mengakomodir garis tubuh laki-laki serta penekanan ekspresi pada mata untuk merepresentasikan karakter kuat. Tombak lelandep yang menjulang tinggi selain sebagai simbol ketajaman yang tinggi juga sebagai nilai pewarisan leluhur/lelangit yang begitu taat untuk menjaga eksistensi puri sebagai pengayom kebudayaan.

Foto: Rejang Jajar Pari dan Baris Jong Lelandep

Rejang Jajar Pari merupakan personifikasi dari kekuatan wanita/predana. Rejang Jajar Pari menggunakan falsafah ilmu padi, “semakin berisi semakin merunduk”. Ketika akal budi terisi dengan tajam maka selayaknya untuk merunduk untuk memahami pendalam spiritual. Rejang Jajar Pari juga memiliki gagasan sebagai sebuah kekuatan perlindungan dari karakter predana/wanita. Membawa keris sebagai simbol ketajaman dari predana/wanita sebagai pengayom insani di dunia.

Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari ditarikan untuk menyertai upacara Dewa Yadnya pada puncak Pujawali dan Tawur Agung pada upacara Bhuta Yadnya. Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari pertama kali “mesolah” secara berpasangan pada upacara Tawur Agung Tilem Kesanga, Hari Rabu, 2 Maret 2022 di Catus Pata Puri Agung Ubud yang dipuput oleh Pendeta Siwa dan Buda.

Proses penggarapan Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari diwujudkan dari sikap terbuka untuk menafsir bentuk-bentuk kesenian baru yang dapat diaplikasikan pada kegiatan ritual keagamaan. Menafsir ruang bergerak tanpa henti dari kegiatan ritual yang telah mentradisi sekalipun. Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari merupakan sebuah pertalian antara gagasan tematis dan aplikasi kontekstual.

Dalam konsep tematis keduanya adalah seni tari yang murni mengedepankan pengolahan kinetis tubuh yang beranjak dari gerak mudra. Properti dan busana digarap berdasarkan nilai-nilai warisan yang melekat dilingkup Banjar Taman Kelod, Ubud seperti pejenengan lelandep dan keris. Kedua properti ini mereka gunakan untuk memperkuat bahasa pesan mengenai nilai gagasan garapan. Terlebih dari gagasan tematik ini dapat disinergikan dengan kontekstual ritual keagamaan seperti upacara Dewa Yadnya dan Bhuta Yadnya.

Melaui penggarapan Baris Jong Lelandep dan Rejang Pari mereka juga belajar mengenai bentuk-bentuk kesenian baris yang eksis di Bali seperti baris gaya Desa Batur dan rejang gaya Karangasem, sehingga mereka memiliki pengetahuan dan informasi untuk dikembangkan sesuai dengan ide gagasan dan estetikanya. Belajar untuk mencari akar beserta simpul-simpul esensial baris dan rejang sehingga karya baru yang dihasilkan memiliki karakter dan arah yang jelas.

Foto:. Rejang Jajar Pari dan Baris Jong Lelandep

Etos dan niat dalam rangkan pewarisan budaya pendamping legitimasi puri oleh Sekehe Teruna Udyana, Banjar Taman Kelod, Ubud dalam bentuk tarian baris dan rejang patut diapresiasi. Mereka memiliki langkah yang terarah dalamm sistem pewarisan nilai budaya melalui bungkusan seni pertunjukan. Ditambah lagi mereka mampu mengkorelasikan dengan ritual keagamaan yang nafasnya beriringan dengan derap irama kehidupan di Bali.

Mereka mampu memanfaatkan kekayaan kebudayaan untuk selalu dimaknai, diaplikasikan, serta digarap baru untuk menjaga eksistensinya. Selayaknya maksa esensial dari Jong Lelandep dan Jajar Pari yang sama-sama mengusung gagasan penopangan dengan media kecerdasan budi yang tajam. Mereka mewarisi, memaknai dan mengaplikasikannya sesuai dengan dinamika jiwa zamannya. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pasek Nurhyang, Alumni SMAN Bali Mandara: Kecilnya Kerja Bikin “Payas Penjor”, Kini Dokter Muda

Next Post

“Ngajining Nusa”: Nyanyian “Mulat Sarira” tentang Diri, Leluhur Keluarga dan Tanah Leluhur Nusa Penida

Wayan Diana Putra

Wayan Diana Putra

I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Komposer Gamelan Bali.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“Ngajining Nusa”: Nyanyian “Mulat Sarira” tentang Diri, Leluhur Keluarga dan Tanah Leluhur Nusa Penida

“Ngajining Nusa”: Nyanyian “Mulat Sarira” tentang Diri, Leluhur Keluarga dan Tanah Leluhur Nusa Penida

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co