2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jong Pari, Sebuah Kreativitas Mudra Suara

Wayan Diana Putra by Wayan Diana Putra
March 7, 2022
in Esai
Jong Pari, Sebuah Kreativitas Mudra Suara

Foto-foto: Diana Putra

Ubud merupakan salah satu kantong budaya tersohor di Bali. Tercatat para maestro kelas dunia pernah menjejakan kakinya di Ubud. Walter Spies, Arie Smith, Rudolf Bonet, Antonio Blanco, Collin McPhee, Ki Mantle Hood adalah sederet seniman besar yang pernah bergelut dengan nafas seni dan budaya Ubud. Mereka menyemai gagasan kreatif sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Bahkan Ki Mantle Hood yang ditasbihkan sebagai bapak etnomusikolog datang langsung menghadap Tjokorda Gde Agung Sukawati di Puri Ubud meminta rekomendasi pengajar gamelan Bali yaitu Tjokorda Mas Kanaka untuk dapat mengajar gamelan di Amerika.

Tidak kalah penting salah seorang putra Ubud adalah Tjokorda Gde Rake Soekawati yang berhasil membawa Gong Peliatan pada Paris Expo tahun 1931, serta tercatat sebagai lawatan pertama gamelan Bali ke mancanegara. Merujuk dari hal tersebut maka tidak berlebihan jika Ubud merupakan tempat bersemainya gagasan-gagasan kreatif, mengingat dari kronologisnya didasari atas sikap terbuka.

Sikap terbuka memberikan ruang yang begitu luas bagi Ubud untuk dapat menyerap segala bentuk informasi, pengetahuan dan wawasan yang sekiranya cocok untuk diadaptasi. Dari sikap adaftif inilah di Ubud kemudian lahir bentuk-bentuk kesenian baru dengan visi yang terarah. Kesenian yang terlahir di Ubud terwujud dengan mengkolaborasi antara ide tematis yang digarap berdasarkan nilai-nilai kontekstual.

Ide tematis tersebut adalah medium-medium seni itu sendiri sesuai dengan bidang dan klasifikasinya, sedangkan kontekstual yang dimaksud adalah mengenai ruang desiminasinya yang terkorelasi dengan ritual dan adat. Hal ini yang ditangkap serta dimaknai betul oleh teman-teman yang tergabung dalam Sekehe Teruna Udyana, Banjar Taman Kelod, Ubud dalam mengekspresikan kreativitas keseniannya.

Beranjak dari identitasnya sebagai “peputu” atau pendamping adat dari Puri Agung Peliatan dan Puri Agung Ubud, mereka melakukan pendalam mengenai simbol busana poleng tepi barak (pola kotak-kotak warna hitam putih dengan aksen bertepi warna merah). Simbol busana poleng tepi barak ini yang juga merupakan anugrah dari Puri Agung Ubud. Mulai dari menafsir posisi mereka sebagai pendamping puri yang bertugas menjaga regulasi, keseimbangan dan eksistensi puri.

Dari penafsiran tersebut mereka menemukan nilai pengabdian dan penopangan. Untuk dapat melakukan pengabdian dan penopangan maka diperlukan ketajaman akal budi agar dapat menjaga marwah dari puri sebagai pendamping. Nilai ketajaman dan penopangan ini kemudian mereka korelasikan dengan tombak dan keris. Tombak dan keris digunakan sebagai dasar pijakan dalam mewujudkan karya seni yang dapat diaplikasikan dalam kegiatan ritual yang sesuai dengan regulasi puri dalam mengemban kegiatan ritual dan budaya.

Maka lahirlah tarian Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari. Gending Baris Jong Lelandep digarap oleh I Wayan Sudirana, S.Sn., MA, P,hD dan tarinya digarap oleh Gede Agus Krisna Dwipayana, S.Sn. Rejang Jajar Pari geraknya digarap oleh A.A Gde T.H Iswara A.M,  S.Sn., M.Sn dan gendingnya ditata oleh I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Ide kreatif dari Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari lahir dari pemikiran kreatif I Gusti Putu Dika Pratama, S.Pd.

Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari digarap untuk menyertai upacara Dewa Yadnya sebagai representasi dari widyadara dan widyadari. Representasi widyadara dan widyadari yang disematkan gagasan ketajaman dan penopangan dalam karakter laki-laki dan perempuan. Baris Jong Lelandep merupakan pasukan laki-laki pendamping Penglingsir Puri dengan membawa tombak lelandep pajenengan puri. Gerakan yang lebih banyak mengakomodir garis tubuh laki-laki serta penekanan ekspresi pada mata untuk merepresentasikan karakter kuat. Tombak lelandep yang menjulang tinggi selain sebagai simbol ketajaman yang tinggi juga sebagai nilai pewarisan leluhur/lelangit yang begitu taat untuk menjaga eksistensi puri sebagai pengayom kebudayaan.

Foto: Rejang Jajar Pari dan Baris Jong Lelandep

Rejang Jajar Pari merupakan personifikasi dari kekuatan wanita/predana. Rejang Jajar Pari menggunakan falsafah ilmu padi, “semakin berisi semakin merunduk”. Ketika akal budi terisi dengan tajam maka selayaknya untuk merunduk untuk memahami pendalam spiritual. Rejang Jajar Pari juga memiliki gagasan sebagai sebuah kekuatan perlindungan dari karakter predana/wanita. Membawa keris sebagai simbol ketajaman dari predana/wanita sebagai pengayom insani di dunia.

Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari ditarikan untuk menyertai upacara Dewa Yadnya pada puncak Pujawali dan Tawur Agung pada upacara Bhuta Yadnya. Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari pertama kali “mesolah” secara berpasangan pada upacara Tawur Agung Tilem Kesanga, Hari Rabu, 2 Maret 2022 di Catus Pata Puri Agung Ubud yang dipuput oleh Pendeta Siwa dan Buda.

Proses penggarapan Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari diwujudkan dari sikap terbuka untuk menafsir bentuk-bentuk kesenian baru yang dapat diaplikasikan pada kegiatan ritual keagamaan. Menafsir ruang bergerak tanpa henti dari kegiatan ritual yang telah mentradisi sekalipun. Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari merupakan sebuah pertalian antara gagasan tematis dan aplikasi kontekstual.

Dalam konsep tematis keduanya adalah seni tari yang murni mengedepankan pengolahan kinetis tubuh yang beranjak dari gerak mudra. Properti dan busana digarap berdasarkan nilai-nilai warisan yang melekat dilingkup Banjar Taman Kelod, Ubud seperti pejenengan lelandep dan keris. Kedua properti ini mereka gunakan untuk memperkuat bahasa pesan mengenai nilai gagasan garapan. Terlebih dari gagasan tematik ini dapat disinergikan dengan kontekstual ritual keagamaan seperti upacara Dewa Yadnya dan Bhuta Yadnya.

Melaui penggarapan Baris Jong Lelandep dan Rejang Pari mereka juga belajar mengenai bentuk-bentuk kesenian baris yang eksis di Bali seperti baris gaya Desa Batur dan rejang gaya Karangasem, sehingga mereka memiliki pengetahuan dan informasi untuk dikembangkan sesuai dengan ide gagasan dan estetikanya. Belajar untuk mencari akar beserta simpul-simpul esensial baris dan rejang sehingga karya baru yang dihasilkan memiliki karakter dan arah yang jelas.

Foto:. Rejang Jajar Pari dan Baris Jong Lelandep

Etos dan niat dalam rangkan pewarisan budaya pendamping legitimasi puri oleh Sekehe Teruna Udyana, Banjar Taman Kelod, Ubud dalam bentuk tarian baris dan rejang patut diapresiasi. Mereka memiliki langkah yang terarah dalamm sistem pewarisan nilai budaya melalui bungkusan seni pertunjukan. Ditambah lagi mereka mampu mengkorelasikan dengan ritual keagamaan yang nafasnya beriringan dengan derap irama kehidupan di Bali.

Mereka mampu memanfaatkan kekayaan kebudayaan untuk selalu dimaknai, diaplikasikan, serta digarap baru untuk menjaga eksistensinya. Selayaknya maksa esensial dari Jong Lelandep dan Jajar Pari yang sama-sama mengusung gagasan penopangan dengan media kecerdasan budi yang tajam. Mereka mewarisi, memaknai dan mengaplikasikannya sesuai dengan dinamika jiwa zamannya. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pasek Nurhyang, Alumni SMAN Bali Mandara: Kecilnya Kerja Bikin “Payas Penjor”, Kini Dokter Muda

Next Post

“Ngajining Nusa”: Nyanyian “Mulat Sarira” tentang Diri, Leluhur Keluarga dan Tanah Leluhur Nusa Penida

Wayan Diana Putra

Wayan Diana Putra

I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Komposer Gamelan Bali.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
“Ngajining Nusa”: Nyanyian “Mulat Sarira” tentang Diri, Leluhur Keluarga dan Tanah Leluhur Nusa Penida

“Ngajining Nusa”: Nyanyian “Mulat Sarira” tentang Diri, Leluhur Keluarga dan Tanah Leluhur Nusa Penida

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co