3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jong Pari, Sebuah Kreativitas Mudra Suara

Wayan Diana Putra by Wayan Diana Putra
March 7, 2022
in Esai
Jong Pari, Sebuah Kreativitas Mudra Suara

Foto-foto: Diana Putra

Ubud merupakan salah satu kantong budaya tersohor di Bali. Tercatat para maestro kelas dunia pernah menjejakan kakinya di Ubud. Walter Spies, Arie Smith, Rudolf Bonet, Antonio Blanco, Collin McPhee, Ki Mantle Hood adalah sederet seniman besar yang pernah bergelut dengan nafas seni dan budaya Ubud. Mereka menyemai gagasan kreatif sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Bahkan Ki Mantle Hood yang ditasbihkan sebagai bapak etnomusikolog datang langsung menghadap Tjokorda Gde Agung Sukawati di Puri Ubud meminta rekomendasi pengajar gamelan Bali yaitu Tjokorda Mas Kanaka untuk dapat mengajar gamelan di Amerika.

Tidak kalah penting salah seorang putra Ubud adalah Tjokorda Gde Rake Soekawati yang berhasil membawa Gong Peliatan pada Paris Expo tahun 1931, serta tercatat sebagai lawatan pertama gamelan Bali ke mancanegara. Merujuk dari hal tersebut maka tidak berlebihan jika Ubud merupakan tempat bersemainya gagasan-gagasan kreatif, mengingat dari kronologisnya didasari atas sikap terbuka.

Sikap terbuka memberikan ruang yang begitu luas bagi Ubud untuk dapat menyerap segala bentuk informasi, pengetahuan dan wawasan yang sekiranya cocok untuk diadaptasi. Dari sikap adaftif inilah di Ubud kemudian lahir bentuk-bentuk kesenian baru dengan visi yang terarah. Kesenian yang terlahir di Ubud terwujud dengan mengkolaborasi antara ide tematis yang digarap berdasarkan nilai-nilai kontekstual.

Ide tematis tersebut adalah medium-medium seni itu sendiri sesuai dengan bidang dan klasifikasinya, sedangkan kontekstual yang dimaksud adalah mengenai ruang desiminasinya yang terkorelasi dengan ritual dan adat. Hal ini yang ditangkap serta dimaknai betul oleh teman-teman yang tergabung dalam Sekehe Teruna Udyana, Banjar Taman Kelod, Ubud dalam mengekspresikan kreativitas keseniannya.

Beranjak dari identitasnya sebagai “peputu” atau pendamping adat dari Puri Agung Peliatan dan Puri Agung Ubud, mereka melakukan pendalam mengenai simbol busana poleng tepi barak (pola kotak-kotak warna hitam putih dengan aksen bertepi warna merah). Simbol busana poleng tepi barak ini yang juga merupakan anugrah dari Puri Agung Ubud. Mulai dari menafsir posisi mereka sebagai pendamping puri yang bertugas menjaga regulasi, keseimbangan dan eksistensi puri.

Dari penafsiran tersebut mereka menemukan nilai pengabdian dan penopangan. Untuk dapat melakukan pengabdian dan penopangan maka diperlukan ketajaman akal budi agar dapat menjaga marwah dari puri sebagai pendamping. Nilai ketajaman dan penopangan ini kemudian mereka korelasikan dengan tombak dan keris. Tombak dan keris digunakan sebagai dasar pijakan dalam mewujudkan karya seni yang dapat diaplikasikan dalam kegiatan ritual yang sesuai dengan regulasi puri dalam mengemban kegiatan ritual dan budaya.

Maka lahirlah tarian Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari. Gending Baris Jong Lelandep digarap oleh I Wayan Sudirana, S.Sn., MA, P,hD dan tarinya digarap oleh Gede Agus Krisna Dwipayana, S.Sn. Rejang Jajar Pari geraknya digarap oleh A.A Gde T.H Iswara A.M,  S.Sn., M.Sn dan gendingnya ditata oleh I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Ide kreatif dari Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari lahir dari pemikiran kreatif I Gusti Putu Dika Pratama, S.Pd.

Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari digarap untuk menyertai upacara Dewa Yadnya sebagai representasi dari widyadara dan widyadari. Representasi widyadara dan widyadari yang disematkan gagasan ketajaman dan penopangan dalam karakter laki-laki dan perempuan. Baris Jong Lelandep merupakan pasukan laki-laki pendamping Penglingsir Puri dengan membawa tombak lelandep pajenengan puri. Gerakan yang lebih banyak mengakomodir garis tubuh laki-laki serta penekanan ekspresi pada mata untuk merepresentasikan karakter kuat. Tombak lelandep yang menjulang tinggi selain sebagai simbol ketajaman yang tinggi juga sebagai nilai pewarisan leluhur/lelangit yang begitu taat untuk menjaga eksistensi puri sebagai pengayom kebudayaan.

Foto: Rejang Jajar Pari dan Baris Jong Lelandep

Rejang Jajar Pari merupakan personifikasi dari kekuatan wanita/predana. Rejang Jajar Pari menggunakan falsafah ilmu padi, “semakin berisi semakin merunduk”. Ketika akal budi terisi dengan tajam maka selayaknya untuk merunduk untuk memahami pendalam spiritual. Rejang Jajar Pari juga memiliki gagasan sebagai sebuah kekuatan perlindungan dari karakter predana/wanita. Membawa keris sebagai simbol ketajaman dari predana/wanita sebagai pengayom insani di dunia.

Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari ditarikan untuk menyertai upacara Dewa Yadnya pada puncak Pujawali dan Tawur Agung pada upacara Bhuta Yadnya. Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari pertama kali “mesolah” secara berpasangan pada upacara Tawur Agung Tilem Kesanga, Hari Rabu, 2 Maret 2022 di Catus Pata Puri Agung Ubud yang dipuput oleh Pendeta Siwa dan Buda.

Proses penggarapan Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari diwujudkan dari sikap terbuka untuk menafsir bentuk-bentuk kesenian baru yang dapat diaplikasikan pada kegiatan ritual keagamaan. Menafsir ruang bergerak tanpa henti dari kegiatan ritual yang telah mentradisi sekalipun. Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari merupakan sebuah pertalian antara gagasan tematis dan aplikasi kontekstual.

Dalam konsep tematis keduanya adalah seni tari yang murni mengedepankan pengolahan kinetis tubuh yang beranjak dari gerak mudra. Properti dan busana digarap berdasarkan nilai-nilai warisan yang melekat dilingkup Banjar Taman Kelod, Ubud seperti pejenengan lelandep dan keris. Kedua properti ini mereka gunakan untuk memperkuat bahasa pesan mengenai nilai gagasan garapan. Terlebih dari gagasan tematik ini dapat disinergikan dengan kontekstual ritual keagamaan seperti upacara Dewa Yadnya dan Bhuta Yadnya.

Melaui penggarapan Baris Jong Lelandep dan Rejang Pari mereka juga belajar mengenai bentuk-bentuk kesenian baris yang eksis di Bali seperti baris gaya Desa Batur dan rejang gaya Karangasem, sehingga mereka memiliki pengetahuan dan informasi untuk dikembangkan sesuai dengan ide gagasan dan estetikanya. Belajar untuk mencari akar beserta simpul-simpul esensial baris dan rejang sehingga karya baru yang dihasilkan memiliki karakter dan arah yang jelas.

Foto:. Rejang Jajar Pari dan Baris Jong Lelandep

Etos dan niat dalam rangkan pewarisan budaya pendamping legitimasi puri oleh Sekehe Teruna Udyana, Banjar Taman Kelod, Ubud dalam bentuk tarian baris dan rejang patut diapresiasi. Mereka memiliki langkah yang terarah dalamm sistem pewarisan nilai budaya melalui bungkusan seni pertunjukan. Ditambah lagi mereka mampu mengkorelasikan dengan ritual keagamaan yang nafasnya beriringan dengan derap irama kehidupan di Bali.

Mereka mampu memanfaatkan kekayaan kebudayaan untuk selalu dimaknai, diaplikasikan, serta digarap baru untuk menjaga eksistensinya. Selayaknya maksa esensial dari Jong Lelandep dan Jajar Pari yang sama-sama mengusung gagasan penopangan dengan media kecerdasan budi yang tajam. Mereka mewarisi, memaknai dan mengaplikasikannya sesuai dengan dinamika jiwa zamannya. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pasek Nurhyang, Alumni SMAN Bali Mandara: Kecilnya Kerja Bikin “Payas Penjor”, Kini Dokter Muda

Next Post

“Ngajining Nusa”: Nyanyian “Mulat Sarira” tentang Diri, Leluhur Keluarga dan Tanah Leluhur Nusa Penida

Wayan Diana Putra

Wayan Diana Putra

I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Komposer Gamelan Bali.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
“Ngajining Nusa”: Nyanyian “Mulat Sarira” tentang Diri, Leluhur Keluarga dan Tanah Leluhur Nusa Penida

“Ngajining Nusa”: Nyanyian “Mulat Sarira” tentang Diri, Leluhur Keluarga dan Tanah Leluhur Nusa Penida

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co