2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jong Pari, Sebuah Kreativitas Mudra Suara

Wayan Diana Putra by Wayan Diana Putra
March 7, 2022
in Esai
Jong Pari, Sebuah Kreativitas Mudra Suara

Foto-foto: Diana Putra

Ubud merupakan salah satu kantong budaya tersohor di Bali. Tercatat para maestro kelas dunia pernah menjejakan kakinya di Ubud. Walter Spies, Arie Smith, Rudolf Bonet, Antonio Blanco, Collin McPhee, Ki Mantle Hood adalah sederet seniman besar yang pernah bergelut dengan nafas seni dan budaya Ubud. Mereka menyemai gagasan kreatif sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Bahkan Ki Mantle Hood yang ditasbihkan sebagai bapak etnomusikolog datang langsung menghadap Tjokorda Gde Agung Sukawati di Puri Ubud meminta rekomendasi pengajar gamelan Bali yaitu Tjokorda Mas Kanaka untuk dapat mengajar gamelan di Amerika.

Tidak kalah penting salah seorang putra Ubud adalah Tjokorda Gde Rake Soekawati yang berhasil membawa Gong Peliatan pada Paris Expo tahun 1931, serta tercatat sebagai lawatan pertama gamelan Bali ke mancanegara. Merujuk dari hal tersebut maka tidak berlebihan jika Ubud merupakan tempat bersemainya gagasan-gagasan kreatif, mengingat dari kronologisnya didasari atas sikap terbuka.

Sikap terbuka memberikan ruang yang begitu luas bagi Ubud untuk dapat menyerap segala bentuk informasi, pengetahuan dan wawasan yang sekiranya cocok untuk diadaptasi. Dari sikap adaftif inilah di Ubud kemudian lahir bentuk-bentuk kesenian baru dengan visi yang terarah. Kesenian yang terlahir di Ubud terwujud dengan mengkolaborasi antara ide tematis yang digarap berdasarkan nilai-nilai kontekstual.

Ide tematis tersebut adalah medium-medium seni itu sendiri sesuai dengan bidang dan klasifikasinya, sedangkan kontekstual yang dimaksud adalah mengenai ruang desiminasinya yang terkorelasi dengan ritual dan adat. Hal ini yang ditangkap serta dimaknai betul oleh teman-teman yang tergabung dalam Sekehe Teruna Udyana, Banjar Taman Kelod, Ubud dalam mengekspresikan kreativitas keseniannya.

Beranjak dari identitasnya sebagai “peputu” atau pendamping adat dari Puri Agung Peliatan dan Puri Agung Ubud, mereka melakukan pendalam mengenai simbol busana poleng tepi barak (pola kotak-kotak warna hitam putih dengan aksen bertepi warna merah). Simbol busana poleng tepi barak ini yang juga merupakan anugrah dari Puri Agung Ubud. Mulai dari menafsir posisi mereka sebagai pendamping puri yang bertugas menjaga regulasi, keseimbangan dan eksistensi puri.

Dari penafsiran tersebut mereka menemukan nilai pengabdian dan penopangan. Untuk dapat melakukan pengabdian dan penopangan maka diperlukan ketajaman akal budi agar dapat menjaga marwah dari puri sebagai pendamping. Nilai ketajaman dan penopangan ini kemudian mereka korelasikan dengan tombak dan keris. Tombak dan keris digunakan sebagai dasar pijakan dalam mewujudkan karya seni yang dapat diaplikasikan dalam kegiatan ritual yang sesuai dengan regulasi puri dalam mengemban kegiatan ritual dan budaya.

Maka lahirlah tarian Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari. Gending Baris Jong Lelandep digarap oleh I Wayan Sudirana, S.Sn., MA, P,hD dan tarinya digarap oleh Gede Agus Krisna Dwipayana, S.Sn. Rejang Jajar Pari geraknya digarap oleh A.A Gde T.H Iswara A.M,  S.Sn., M.Sn dan gendingnya ditata oleh I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Ide kreatif dari Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari lahir dari pemikiran kreatif I Gusti Putu Dika Pratama, S.Pd.

Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari digarap untuk menyertai upacara Dewa Yadnya sebagai representasi dari widyadara dan widyadari. Representasi widyadara dan widyadari yang disematkan gagasan ketajaman dan penopangan dalam karakter laki-laki dan perempuan. Baris Jong Lelandep merupakan pasukan laki-laki pendamping Penglingsir Puri dengan membawa tombak lelandep pajenengan puri. Gerakan yang lebih banyak mengakomodir garis tubuh laki-laki serta penekanan ekspresi pada mata untuk merepresentasikan karakter kuat. Tombak lelandep yang menjulang tinggi selain sebagai simbol ketajaman yang tinggi juga sebagai nilai pewarisan leluhur/lelangit yang begitu taat untuk menjaga eksistensi puri sebagai pengayom kebudayaan.

Foto: Rejang Jajar Pari dan Baris Jong Lelandep

Rejang Jajar Pari merupakan personifikasi dari kekuatan wanita/predana. Rejang Jajar Pari menggunakan falsafah ilmu padi, “semakin berisi semakin merunduk”. Ketika akal budi terisi dengan tajam maka selayaknya untuk merunduk untuk memahami pendalam spiritual. Rejang Jajar Pari juga memiliki gagasan sebagai sebuah kekuatan perlindungan dari karakter predana/wanita. Membawa keris sebagai simbol ketajaman dari predana/wanita sebagai pengayom insani di dunia.

Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari ditarikan untuk menyertai upacara Dewa Yadnya pada puncak Pujawali dan Tawur Agung pada upacara Bhuta Yadnya. Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari pertama kali “mesolah” secara berpasangan pada upacara Tawur Agung Tilem Kesanga, Hari Rabu, 2 Maret 2022 di Catus Pata Puri Agung Ubud yang dipuput oleh Pendeta Siwa dan Buda.

Proses penggarapan Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari diwujudkan dari sikap terbuka untuk menafsir bentuk-bentuk kesenian baru yang dapat diaplikasikan pada kegiatan ritual keagamaan. Menafsir ruang bergerak tanpa henti dari kegiatan ritual yang telah mentradisi sekalipun. Baris Jong Lelandep dan Rejang Jajar Pari merupakan sebuah pertalian antara gagasan tematis dan aplikasi kontekstual.

Dalam konsep tematis keduanya adalah seni tari yang murni mengedepankan pengolahan kinetis tubuh yang beranjak dari gerak mudra. Properti dan busana digarap berdasarkan nilai-nilai warisan yang melekat dilingkup Banjar Taman Kelod, Ubud seperti pejenengan lelandep dan keris. Kedua properti ini mereka gunakan untuk memperkuat bahasa pesan mengenai nilai gagasan garapan. Terlebih dari gagasan tematik ini dapat disinergikan dengan kontekstual ritual keagamaan seperti upacara Dewa Yadnya dan Bhuta Yadnya.

Melaui penggarapan Baris Jong Lelandep dan Rejang Pari mereka juga belajar mengenai bentuk-bentuk kesenian baris yang eksis di Bali seperti baris gaya Desa Batur dan rejang gaya Karangasem, sehingga mereka memiliki pengetahuan dan informasi untuk dikembangkan sesuai dengan ide gagasan dan estetikanya. Belajar untuk mencari akar beserta simpul-simpul esensial baris dan rejang sehingga karya baru yang dihasilkan memiliki karakter dan arah yang jelas.

Foto:. Rejang Jajar Pari dan Baris Jong Lelandep

Etos dan niat dalam rangkan pewarisan budaya pendamping legitimasi puri oleh Sekehe Teruna Udyana, Banjar Taman Kelod, Ubud dalam bentuk tarian baris dan rejang patut diapresiasi. Mereka memiliki langkah yang terarah dalamm sistem pewarisan nilai budaya melalui bungkusan seni pertunjukan. Ditambah lagi mereka mampu mengkorelasikan dengan ritual keagamaan yang nafasnya beriringan dengan derap irama kehidupan di Bali.

Mereka mampu memanfaatkan kekayaan kebudayaan untuk selalu dimaknai, diaplikasikan, serta digarap baru untuk menjaga eksistensinya. Selayaknya maksa esensial dari Jong Lelandep dan Jajar Pari yang sama-sama mengusung gagasan penopangan dengan media kecerdasan budi yang tajam. Mereka mewarisi, memaknai dan mengaplikasikannya sesuai dengan dinamika jiwa zamannya. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pasek Nurhyang, Alumni SMAN Bali Mandara: Kecilnya Kerja Bikin “Payas Penjor”, Kini Dokter Muda

Next Post

“Ngajining Nusa”: Nyanyian “Mulat Sarira” tentang Diri, Leluhur Keluarga dan Tanah Leluhur Nusa Penida

Wayan Diana Putra

Wayan Diana Putra

I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Komposer Gamelan Bali.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
“Ngajining Nusa”: Nyanyian “Mulat Sarira” tentang Diri, Leluhur Keluarga dan Tanah Leluhur Nusa Penida

“Ngajining Nusa”: Nyanyian “Mulat Sarira” tentang Diri, Leluhur Keluarga dan Tanah Leluhur Nusa Penida

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co