2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak-anak Main Gender Wayang: Tak Sekadar Cepat, Tapi juga Kuasai Spirit Gending

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
June 28, 2025
in Panggung
Anak-anak Main Gender Wayang: Tak Sekadar Cepat, Tapi juga Kuasai Spirit Gending

Aksi anak-anak memainkan gender wayang di Pesta Kesenian Bali 2025 | Foto: Tim Kreatif PKB 2025

Panitia Pesta Kesenian Bali (PKB) mungkin perlu mempertimbangan stage bagi peserta Wimbakara (Lomba) Gender Wayang Anak-anak. Sebab, lomba memainkan seperangkat gamelan yang biasa untuk mengiringi pertunjukan wayang kulit Bali, serta berbagai upacara keagamaan Hindu Bali itu selalu berhasil memikat pengunjung. Mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua, bahkan disukai para turis.

Lihat saja pada Lomba Gender Wayang Anak-anak pada PKB ke-47 yang berlangsung di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Sabtu 28 Juni 2025. Stage yang berlokasi di depan Panggung Terbuka Ardha Candra itu dipenuhi pengunjung. Tempat duduk penuh, sehingga sebagian masyarakat ada yang duduk di luar panggung, yang rela hanya mendengar suaranya saja. Lalu, sepasang turis asing yang baru datang, cepat-cepat duduk dan setelah menarik nafas, ternyata MC menutup pertunjukan itu.

Pada hari itu, ada empat pasang penabuh yang tampil dalam ajang lomba. Keempat itu adalah Sanggar Suara Murti, Banjar Babakan, Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati sebagai Duta Kabupaten Gianyar, Komunitas Semaralaras Klungkung, Desa Adat Kemoning, Kelurahan
Semarapura Kelod, sebagai Duta Kabupaten Klungkung, Sanggar Rare Kumara, Banjar Blungbang, Kelurahan Kawan, Kecamatan Bangli sebagai Duta Kabupaten Bangli, dan Sanggar Seni Kriya Sandhi, Banjar Dinas Saren Kauh, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem merupakan Duta Kabupaten Karangasem.

Aksi anak-anak memainkan gender wayang di Pesta Kesenian Bali 2025 | Foto: Tim Kreatif PKB 2025

Para duta kabupaten dan kota ini tidak tampil secara bersamaan. Penampilan mereka dibagi menjadi dua kali. Mula-mula Duta Kabupaten Gianyar berhadapan dengan Duta Kabupaten Kungkung, lalu Duta Kabupaten Bangli dengan Kabupaten Karangasem. Setiap penampilan mereka mendapat sambutan dar pengunjung. Bahkan, ketika peserta memainkan gending keras, lalu tiba-tiba mengecil, namun dengan tempo yang cepat, menarik perhatian penonton. tepuk tangan bergemuruh. Demikain sebaliknya.

Dewan Juri, I Gusti Putu Sudarta mengatakan, penampilan para peserta lomba gender wayang anak-anak secara musikal dan ketubuhan itu sangat menarik. Mereka memainkan dua panggul yang masing-masing tangannya memainkan secara berbeda, terkadang pula berbarengan seperti berdialog. “Itu menjadi sangat menarik, karena itu dapat berpengaruh terhadap perkembangan bakat. Termasuk pula perkembanga pikian dan emposi,” katanya.

Dosen Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Bali ini mengaku, secara pribadi ia merasakan dalam memainkan bilah gender itu berpengaruh terhadap pikiran, motorik, dan termasuk pendekatan yang mengarah pada budi. Disitu, guru biasanya mengajarkan cara merasakan, istilahnye ‘nyurupang gending’. “Lalu, terkait dengan kegiatan siswa secara pribadi. Siswa yang sudah mau belajar megender dan berkesenian maka semua tubuh akan terlibat, termasuk pikiran dan budi. Maka intelligentsia, bukan sekedar spiritual tang baik jika dari kecil itu ditanamkan memainkan gender wayang,” paparnya.

Hal menatik lagi dalam lomba kali ini, diikuti banyak peserta. Mungkin hanya Kabupaten Buleleng yang absen untuk ajang lomba gender wayang anak-anak tahun ini. Jika dicermati, masing-masing daerah mengalami perkembagan pembelajaran gender wayang, dan itu menjadi sangat menarik bagi anak-anak sebagai pawaris. Artinya, bukan hanya gong kebyar saja dan lainnya yang dipilih, tetapi gender wayang sudah diminati sebagai salah satu cabang seni

Menurutnya perkembangan masing-masing daerah itu sangat menarik, sehingga banyak memberikan warna berbeda yang sesuai dengan karakter daerahnya. Hal itu, memang diinginkan, sehingga dapat memberi warna dalam perkembangannya. “Intinya, menampilan itu mesti sesuai dengan karakter lagu itu. Kemuadian spirit lagu ditranspormasi ke dalam bentuk kreativitas penyajian,” ingatnya.

Sebab, masih banyak peserta lomba kali ini lebih banyak menampilkan kecepatan saja, tanpa memikirkan kualitas. Intinya di dalam memainkan gender wayang itu, karakter lagu dulu dipelajari, seberapa kecepatannya. Boleh saja lagu ini digarap cepat, tetapi mesti memikirkan spiritnya, yang menyangkat dengan cara penyajian terkasit ekspresi dan kreativitas. “Saya melihat tadi, kadang-kadang dilampai oleh pembinanaya. Anak-anak yang tampil sering mengejar kecepatan, tetapi tidak memikirkan filling dan spirit lagu itu,” ucapnya.

Aksi anak-anak memainkan gender wayang di Pesta Kesenian Bali 2025 | Foto: Tim Kreatif PKB 2025

Kecepatan itu boleh saja, tetapi sesaikan dengan kekuatan tangan dan karakter dari lagu itu. Missal saja, ketika membawakan Gending Cangak Merengang, banyak peserta yang belum merasakan dinamika. Bagaimana Cangak itu berjalan. “Itu yang biasanya dilupakan, karena terlalu mengejar penyajian yang harus memukau, cepat, tetapi kecepatan yang melebihi tuntutan, sehingga karakter gending itu menjadi hilang,” paparnya.

Apalagi, itu melampui dari kemampuan teknik musisinya, sehingga ketika dipaksa mengejar kecepatan maka kotekaknya menjadi kacau. Padahal, kekuatan pukulan dan intensitas pukulan itu yang sebenarnya penting dalam gender wayang. Sebab, di sana memainkan gamelan dengan dua panggul gender. “Sekarang semuanya selalu cepat tidak memikirkan karakter dari gending itu. Saya tak habis pikir anak anak sekarang itu semuanya menampilan kecepatan, namun tak menguasai teknik, sehingga terlihat timpang dan tidak memiliki jiwa,” sebutnya.

Ketua Sanggar Suara Murti, I Ketut Buda Astra untuk tampil dalam ajang lomba ini memang mempersiapkan diri secara baik. Apalagi, tahun lalu Duta Kabupaten Gianyar terpilih sebagai Juara I, sehingga prestasi harus dipertahankan. “Kami harus berjuang agar mampu mempertahankan juara itu. Memang, mempertahankan itu yang sulit, sehingga saya sudah melakukan persiapan sejak setahum lalu, untuk dapat menghasilkan kualitas,” ujar Buda yang juga pelatih sanggar ini.

Awal tahun 2025 kemudian melakukan seleksi agar mendapatkan penabuh yang handal untuk mengikuti lomba tahun ini. “Terus terang pada waktu 2024 sudah menseleksi dan mendapatkan 5 penabuh untuk maju PKB, akan tetapi kita perlu 4 makanya diawal 2025 kembali melakukan seleksi dengan mendatangkan tim dari luar. Akhirnya anak-anak inilah menjadi duta Kabupaten Gianyar dalam PKB tahun 2025 ini.

Aksi anak-anak memainkan gender wayang di Pesta Kesenian Bali 2025 | Foto: Tim Kreatif PKB 2025

Dalam lomba ini, Sanggar Suara Murti membawakan tabuh petegak Cangak Merengang. Semua daerah para peserta ini memiliki lagu Cangak Merengang yang sama, tetapi masing-masing daerah tidak sama. Kekhasan Gianyar, tidak ada pukulan keras, dan lebih banyak memukul satu nada. Karena itu mengisahkan burung bangau, maka otomatis pukulannya halus. Lalu memainkan gending pamungkah, diperlukan kecepatan tangan dalam memukul dan menutup bulah gamelan karena ada banyak lagu yang dimainkan dengan sistem kotekan.

Selanjutnya, materi Rebong merupakan pencampuran gending antara manis dan gemes (keras). Rebong itu memainkan karakter tokoh wayang perempuan, sehingga harus halus dan cantik, lalu digabung dengan gending Angkat Angkatan sebuah perjalan prajurit menuju medan perang, sehingga menjadi berbeda sekali. Lagu itu percampuran antara manis dan keras. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Baleganjur Buleleng di Pesta Kesenian Bali: Garap Tradisi Karangasem yang Lestari di Bali Utara
Tari Topeng dari Kabupaten Sumenep di Pesta Kesenian Bali 2025
Taman Penasar “Beberokan”, Suara Sastra Kesadaran Budaya dari Abang-Karangasem  
MENJAGA ARJA AGAR TAK MATI
Arja Lingsar, Arja Kekinian, Arja Tak Jadi Mati — Catatan Diskusi Kawiya Bali di Pesta Kesenian Bali 2025
Kreativitas Luar Biasa dari Sekolah Luar Biasa di Pesta Kesenian Bali 2025
Tags: anak-anakgender wayangPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BPD IHKA Bali Gelar International Housekeeper’s Conference & Exhibition

Next Post

Puisi-puisi Cindy Neo | Bleki, Sang Penjaga Alam

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Cindy Neo | Bleki, Sang Penjaga Alam

Puisi-puisi Cindy Neo | Bleki, Sang Penjaga Alam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co