16 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

Adwan SA by Adwan SA
July 6, 2026
in Pameran
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran Dani mengusap peluh dan mencoba tetap tenang di tengah kecemasannya perihal menghilangnya seseorang yang ia—bahkan kami—cari-cari. Di depannya, pintu kulkas terbuka lebar, menghembuskan udara dingin yang sayangnya tidak menyembunyikan sosok yang tengah ia cari. Ia sudah menyapu pandangan ke bawah ranjang, menggeledah kamar, hingga ke sudut-sudut belakang rumah, tetapi Ferdi Semai—sang perupa yang berjanji minta dijemput pukul dua siang itu—hilang tanpa jejak. Menjelma udara.

Begitulah pekan kedua pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra” dimulai. Bukan dengan potongan pita, ketukan palu, atau pidato-pidato asbun, melainkan dengan sebuah komedi absurd hilangnya sang lakon utama. Namun, di situlah letak nyawa yang dari pameran ini; di mana karya, seniman, dan penikmatnya melebur dalam sebuah naskah organik yang tidak pernah dibuat-buat.

Kabar hilangnya Ferdi segera meramaikan grup obrolan. Di Roemah Tumbuh Kembang, tempat pameran diagendakan, kepanikan Asmaran Dani justru disambut dengan tawa dan tebakan ngawur dengan nada bercanda. Mahesa Putra, sang pemilik tempat sekaligus kolaborator pada pameran ini tampak terhibur mendengar laporan bahwa Asmaran Dani mencari sang lakon utama hingga di dalam kulkas.

Suasana di Roemah Tumbuh Kembang siang itu memang sedang hangat, namun sering diselingi gerimis tanpa aba-aba. Barangkali Jarot, Julie, dan Marie—para ayam di Roemah—juga bingung dengan cuaca yang sedang menyapanya saat itu. Sembari menunggu kabar dari Asmaran Dani, rentetan spekulasi liar mulai dilempar ke ruang obrolan di Whatsapp. Ada yang menebak Ferdi menguap dipanggil pohon pisangnya di Pulo Kerto. Ada pula yang bertaruh ia sedang repot masuk-keluar kios hanya untuk mencari topi yang pas, atau memilah-milih kaus kaki yang paling pantas untuk dipakai berdiskusi.

Kejadian ini terasa seperti deja vu yang dimodifikasi. Pada pekan pertama, pameran sempat diwarnai ketegangan ala film Mencuri Raden Saleh ketika sang narator tak kunjung menampakkan batang hidungnya, padahal lukisan yang hendak dibedah ada di tangannya. Saat itu, Ferdi absen lantaran sibuk mengurus kebun pisangnya di Pulo Kerto, sebuah desa di ujung kota. Pekan ini, sang perupa dijanjikan hadir, tetapi eksistensinya malah menjadi pekerjaan rumah yang baru.

Teka-teki itu akhirnya pecah pada pukul 16.18 WIB. Suara mesin motor membelah halaman Roemah Tumbuh Kembang. Asmaran Dani datang, membonceng sosok yang sedari tadi dicari.

“Dari mana beliau? Beli kaus kaki?” rentetan tanya dengan nada bisik-bisik langsung menyergap Dani begitu ia turun dari motor. Sebab jelas sungkan jika langsung menanyakan kepada pelakunya langsung.

Jawabannya ternyata jauh lebih sederhana, sekaligus lebih absurd: Ferdi pergi ke warung untuk membeli rokok. Entah di mana letak warung tersebut hingga perjalanan membeli sebungkus rokok harus menelan waktu berjam-jam. Tawa kembali pecah. Tidak ada kemarahan, yang ada hanyalah pemakluman atas laku seorang seniman.

Alih-alih langsung memulai pameran, sore itu dibiarkan mengalir. Karena sengatan matahari kian menggigit, kerumunan berpindah ke bawah atap yang seakan menjadi payung besar bagi semua orang. Di sanalah, obrolan receh bergulir secara alamiah. Gurauan tentang warung antah-berantah perlahan bergeser menjadi obrolan berbobot. Dari isu perpolitikan negara yang sedang memanas, hingga perbincangan intim mengenai karya-karya penulis lokal. Nama-nama seperti Mahesa Putra, Dahlia Rasyad, hingga Asmaran Dani bergema dalam percakapan yang cair.

Semua sepakat, ritus kesenian ini tidak perlu diburu-buru. Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra” baru akan benar-benar dimulai nanti, setelah kumandang azan Maghrib membelah langit Palembang.

Beberapa kali karya lukis yang sedang dipajang dalam pameran ini dipindah-tempatkan. Mereka pikir diskusi akan lebih syahdu jika dilaksanakan di luar. Ditemani angin yang menyentuh kulit, suara kepakan ayam saat hendak memanjat pohon, atau lompatan kodok di bawah pohon beringin depan Roemah. Sialnya hal itu tidaklah sesuai khayalan kami semua. Beberapa lukisan tidak tampak rapi dengan gaya display di outdoor—setidaknya tidak lebih rapi dibanding saat di ruangan indoor. Setelah perjamuan makan bubur kacang ijo, lukisan itu kembali dimasukkan ke dalam. Dan keputusan akhirnya, diskusi akan dilaksanakan di indoor.

Matahari akhirnya menyapa belahan dunia lain, dan gelap menjemput kami. Seusai azan Maghrib berkumandang, beberapa yang hadir melaksanakan ibadah salat di musholla yang disediakan tuan rumah. Sehabis semuanya siap, diskusi dibuka oleh Adwan SA selaku narator, dilanjutkan dengan pengantar dari Mahesa Putra yang merajut benang merah acara, hingga sampailah pada pembacaan puisi bertajuk “Usah” oleh sang penyair, Kemas Yudha.

Suara Yudha membentur dinding Roemah Tumbuh Kembang, memantulkan bait yang seketika membuat Ferdi tertegun:

“ego mencari jati diri sembari mencaci,

nafsu mengkerdilkan iman jadi kurcaci.”

“Puisi ini sangat persis seperti apa yang hendak aku gambarkan waktu itu,” respons Ferdi, suaranya memecah keheningan usai pembacaan. Ia melihat pantulan karyanya dalam susunan kata Yudha; sebuah ironi tentang manusia yang lebih sering disetir oleh nafsu ketimbang pertimbangan akal sehat.

Di sinilah letak nyawa diskusi pameran ini. Ferdi mulai membedah anatomi lukisannya, yang lahir dari sebuah premis ganjil nan mengerikan: Bagaimana jika sebuah pohon dicekik lehernya?

Pohon, dalam kanvas imajinasinya, adalah representasi universal dari kehidupan—entah itu manusia, hewan, atau semesta itu sendiri. Ia melukiskan akar-akar yang menjulur dan berontak hebat ketika batang lehernya tercekik. Akar itu tidak bisa tumbuh; ia menjerit. “Ketika kita dikekang, berontak pun kita akan hancur, apalagi pasrah, bisa-bisa mati. Maka jawaban atas kondisi seperti itu adalah kita perlu pergi dan mencari tempat yang baru,” ujar Ferdi, menawarkan filosofi pelarian diri yang apik demi bertahan hidup.

Meski sudah dijelaskan oleh Dani di minggu awal, Ferdi kembali menyinggung medium yang ia gunakan untuk menggambar: kertas fotokopi. Tak ada kanvas mahal berlapis linen. Senjatanya hanyalah spidol warna. Ia bisa memeras puluhan lukisan hanya dari satu lusin spidol. Di tangannya, tak ada tinta yang terbuang percuma. Saban kali spidol mengering, ia mencelupkannya ke dalam air, mengeksploitasi sisa-sisa pigmen hingga tetes terakhir.

Gaya yang ia usung adalah dekoratif-fraktal. Sebuah laku repetitif yang beranak pinak. “Ketika seorang seniman sudah mempelajari fraktal, maka idenya tidak akan pernah habis di pertengahan jalan,” jelasnya. “Aku tu mikir kalu setiap goresan iyolah sayatan piso. Kalu aku ngoresnyo lambat, pasti itu teraso sakit nian. Itulah ngapo sayatannyo kugaweke cepet,” kali ini penjelasannya menggunakan Bahasa Palembang yang menjelaskan bahwa ia menganggap setiap goresan adalah sayatan pisau. Itulah kenapa goresan dalam lukisan yang sedan dipamerkan itu dibuatnya cepat, supaya tidak banyak menyakiti. Dan itu berasal dari imajinasi yang tergerak dari fraktal itu sendiri.

Diskusi kian menghangat ketika Adwan SA melempar pertanyaan esensial, “Apakah seni perlu untuk dinikmati?”

“Iya,” jawab Ferdi mantap. Seni harus dinikmati, bahkan jika penikmatnya hanyalah sang seniman itu sendiri, sebab seni adalah media pengekspresian diri.

Sultan, salah satu pengunjung, menyambar jawaban itu dengan sebuah anomali. “Tadi Om Ferdi mengatakan bahwa seni adalah media ekspresi diri. Apakah berteriak di atas gunung juga merupakan seni? Kan itu juga bentuk ekspresi diri?”

Dengan keteguhan yang tak goyah, Ferdi menepisnya. Berteriak di atas gunung bukanlah seni. Mengapa? Sebab tidak ada wujud yang ditinggalkan. Tidak ada jejak yang bisa diwariskan atau setidaknya dibaca oleh peradaban. Di puncak gunung itu, yang tersisa hanyalah pita suara yang meradang.

Perdebatan malam itu pun sempat menyenggol realitas pahit industri sastra. Di mana nasib sebuah karya sering kali ditentukan oleh selera subjektif kurator. Layaknya perumpamaan buah; mau sebagus dan semanis apa pun sebuah apel, jika sang kurator adalah pemuja jeruk, maka hanya jeruk yang akan mendapat panggung. Ferdi menguliti ironi ini dengan satu kalimat telak, “Seorang seniman kebanyakan membenci industri itu, namun mereka tetaplah butuh industri.”

Waktu terasa berlari terlalu cepat. Jarum jam menunjuk pukul 21.28 WIB ketika perdebatan dan lemparan tanya jawab sedang berada di titik didihnya. Namun, perut yang sedari tadi keroncongan, leher yang menagih kafein, dan bibir yang merindukan asap tembakau, memaksa Adwan untuk mengetuk palu penutup diskusi resmi malam itu.

Acara boleh saja disudahi, namun rasa penasaran adalah api yang sulit dipadamkan. Kepuasan berdiskusi belum sepenuhnya merasuk ke dalam dada para hadirin. Alih-alih membubarkan diri, kerumunan itu hanya pecah menjadi faksi-faksi kecil yang lebih intim.

Di luar ruangan, Ferdi keluar mencangking kopi dan menyulut rokoknya, melanjutkan obrolan santai yang tersisa bersama Adwan SA. Sementara itu di dalam, Mahesa, Sultan, dan beberapa orang lainnya masih enggan beranjak; urat leher mereka masih menegang, membedah ulang definisi tentang apa yang pantas dan tidak pantas disebut seni.

Di sudut lain, tepat di depan Roemah Tumbuh Kembang, perbincangan beralih ke masa depan yang meresahkan. Eko, Nopal, dan beberapa peserta duduk melingkar, membicarakan krisis penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia seni rupa dan penulisan—sebuah ancaman tak kasat mata yang kini mengintai tepat di depan mata para seniman.

Malam di Roemah Tumbuh Kembang tidak pernah benar-benar mati. Ia terus berdenyut dalam obrolan-obrolan organik yang lahir dari rahim penasaran. Dan yang paling menggetarkan dari semua riuh malam itu adalah kesadaran bahwa ini barulah setengah perjalanan.

Di ujung obrolan, sebuah janji digantungkan ke udara. Pekan depan, tanggal 28 Juni, panggung “Dialog Ferdi dan Opus Sastra” akan kembali dibuka. Kali ini, mereka bersiap membedah puisi dari Dahlia Rasyad, penulis Perempuan yang Memetik Mawar. Puisinya yang hendak didiskusikan berjudul ”Aku Milikmu”. Sosoknya dikabarkan akan hadir secara langsung, membawa babak baru dalam upaya merawat ingatan, kata, dan rupa di tanah Sumatera Selatan.

Palembang, 24 Juni 2026.

Penulis: Adwan SA
Foto-foto: Opus Sastra
Editor: Adnyana Ole

Tags: PalembangPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

Next Post

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

Adwan SA

Adwan SA

Seorang mahasiswa yang sedang menekuni dunia kepenulisan. Berasal dari daerah bernama Jalur di Kabupaten Banyuasin. Anggota aktif Komunitas Opus Sastra di Kota Palembang. Bercita-cita menjadi petani yang mencangkul dengan buku dan menanam benih-benih pengetahuan. Instagram: adwan.sa__

Related Posts

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

Read moreDetails

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

Read moreDetails

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
0
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

Read moreDetails

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

PAMERAN seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud, menghadirkan ruang apresiasi yang kaya akan keberagaman medium, gagasan, dan...

Read moreDetails

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

Read moreDetails

Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

by Nyoman Budarsana
June 9, 2026
0
Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang...

Read moreDetails

Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
0
Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali

DI salah satu sudut ruang pamer lantai dasar gedung Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali, sebuah lukisan terpajang dalam bingkai...

Read moreDetails
Next Post
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026
Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Udayana tahun 2026 melaksanakan serangkaian program kerja di Desa Sanding, Kecamatan...

by tatkala
August 16, 2026
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang
Khas

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara
Tualang

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital
Pendidikan

Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

KESEHATAN mental remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan yang...

by tatkala
August 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah
Khas

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan
Bahasa

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

by I Made Sudiana
August 15, 2026
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz
Esai

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

by Angga Wijaya
August 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co