17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

Adwan SA by Adwan SA
July 6, 2026
in Pameran
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran Dani mengusap peluh dan mencoba tetap tenang di tengah kecemasannya perihal menghilangnya seseorang yang ia—bahkan kami—cari-cari. Di depannya, pintu kulkas terbuka lebar, menghembuskan udara dingin yang sayangnya tidak menyembunyikan sosok yang tengah ia cari. Ia sudah menyapu pandangan ke bawah ranjang, menggeledah kamar, hingga ke sudut-sudut belakang rumah, tetapi Ferdi Semai—sang perupa yang berjanji minta dijemput pukul dua siang itu—hilang tanpa jejak. Menjelma udara.

Begitulah pekan kedua pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra” dimulai. Bukan dengan potongan pita, ketukan palu, atau pidato-pidato asbun, melainkan dengan sebuah komedi absurd hilangnya sang lakon utama. Namun, di situlah letak nyawa yang dari pameran ini; di mana karya, seniman, dan penikmatnya melebur dalam sebuah naskah organik yang tidak pernah dibuat-buat.

Kabar hilangnya Ferdi segera meramaikan grup obrolan. Di Roemah Tumbuh Kembang, tempat pameran diagendakan, kepanikan Asmaran Dani justru disambut dengan tawa dan tebakan ngawur dengan nada bercanda. Mahesa Putra, sang pemilik tempat sekaligus kolaborator pada pameran ini tampak terhibur mendengar laporan bahwa Asmaran Dani mencari sang lakon utama hingga di dalam kulkas.

Suasana di Roemah Tumbuh Kembang siang itu memang sedang hangat, namun sering diselingi gerimis tanpa aba-aba. Barangkali Jarot, Julie, dan Marie—para ayam di Roemah—juga bingung dengan cuaca yang sedang menyapanya saat itu. Sembari menunggu kabar dari Asmaran Dani, rentetan spekulasi liar mulai dilempar ke ruang obrolan di Whatsapp. Ada yang menebak Ferdi menguap dipanggil pohon pisangnya di Pulo Kerto. Ada pula yang bertaruh ia sedang repot masuk-keluar kios hanya untuk mencari topi yang pas, atau memilah-milih kaus kaki yang paling pantas untuk dipakai berdiskusi.

Kejadian ini terasa seperti deja vu yang dimodifikasi. Pada pekan pertama, pameran sempat diwarnai ketegangan ala film Mencuri Raden Saleh ketika sang narator tak kunjung menampakkan batang hidungnya, padahal lukisan yang hendak dibedah ada di tangannya. Saat itu, Ferdi absen lantaran sibuk mengurus kebun pisangnya di Pulo Kerto, sebuah desa di ujung kota. Pekan ini, sang perupa dijanjikan hadir, tetapi eksistensinya malah menjadi pekerjaan rumah yang baru.

Teka-teki itu akhirnya pecah pada pukul 16.18 WIB. Suara mesin motor membelah halaman Roemah Tumbuh Kembang. Asmaran Dani datang, membonceng sosok yang sedari tadi dicari.

“Dari mana beliau? Beli kaus kaki?” rentetan tanya dengan nada bisik-bisik langsung menyergap Dani begitu ia turun dari motor. Sebab jelas sungkan jika langsung menanyakan kepada pelakunya langsung.

Jawabannya ternyata jauh lebih sederhana, sekaligus lebih absurd: Ferdi pergi ke warung untuk membeli rokok. Entah di mana letak warung tersebut hingga perjalanan membeli sebungkus rokok harus menelan waktu berjam-jam. Tawa kembali pecah. Tidak ada kemarahan, yang ada hanyalah pemakluman atas laku seorang seniman.

Alih-alih langsung memulai pameran, sore itu dibiarkan mengalir. Karena sengatan matahari kian menggigit, kerumunan berpindah ke bawah atap yang seakan menjadi payung besar bagi semua orang. Di sanalah, obrolan receh bergulir secara alamiah. Gurauan tentang warung antah-berantah perlahan bergeser menjadi obrolan berbobot. Dari isu perpolitikan negara yang sedang memanas, hingga perbincangan intim mengenai karya-karya penulis lokal. Nama-nama seperti Mahesa Putra, Dahlia Rasyad, hingga Asmaran Dani bergema dalam percakapan yang cair.

Semua sepakat, ritus kesenian ini tidak perlu diburu-buru. Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra” baru akan benar-benar dimulai nanti, setelah kumandang azan Maghrib membelah langit Palembang.

Beberapa kali karya lukis yang sedang dipajang dalam pameran ini dipindah-tempatkan. Mereka pikir diskusi akan lebih syahdu jika dilaksanakan di luar. Ditemani angin yang menyentuh kulit, suara kepakan ayam saat hendak memanjat pohon, atau lompatan kodok di bawah pohon beringin depan Roemah. Sialnya hal itu tidaklah sesuai khayalan kami semua. Beberapa lukisan tidak tampak rapi dengan gaya display di outdoor—setidaknya tidak lebih rapi dibanding saat di ruangan indoor. Setelah perjamuan makan bubur kacang ijo, lukisan itu kembali dimasukkan ke dalam. Dan keputusan akhirnya, diskusi akan dilaksanakan di indoor.

Matahari akhirnya menyapa belahan dunia lain, dan gelap menjemput kami. Seusai azan Maghrib berkumandang, beberapa yang hadir melaksanakan ibadah salat di musholla yang disediakan tuan rumah. Sehabis semuanya siap, diskusi dibuka oleh Adwan SA selaku narator, dilanjutkan dengan pengantar dari Mahesa Putra yang merajut benang merah acara, hingga sampailah pada pembacaan puisi bertajuk “Usah” oleh sang penyair, Kemas Yudha.

Suara Yudha membentur dinding Roemah Tumbuh Kembang, memantulkan bait yang seketika membuat Ferdi tertegun:

“ego mencari jati diri sembari mencaci,

nafsu mengkerdilkan iman jadi kurcaci.”

“Puisi ini sangat persis seperti apa yang hendak aku gambarkan waktu itu,” respons Ferdi, suaranya memecah keheningan usai pembacaan. Ia melihat pantulan karyanya dalam susunan kata Yudha; sebuah ironi tentang manusia yang lebih sering disetir oleh nafsu ketimbang pertimbangan akal sehat.

Di sinilah letak nyawa diskusi pameran ini. Ferdi mulai membedah anatomi lukisannya, yang lahir dari sebuah premis ganjil nan mengerikan: Bagaimana jika sebuah pohon dicekik lehernya?

Pohon, dalam kanvas imajinasinya, adalah representasi universal dari kehidupan—entah itu manusia, hewan, atau semesta itu sendiri. Ia melukiskan akar-akar yang menjulur dan berontak hebat ketika batang lehernya tercekik. Akar itu tidak bisa tumbuh; ia menjerit. “Ketika kita dikekang, berontak pun kita akan hancur, apalagi pasrah, bisa-bisa mati. Maka jawaban atas kondisi seperti itu adalah kita perlu pergi dan mencari tempat yang baru,” ujar Ferdi, menawarkan filosofi pelarian diri yang apik demi bertahan hidup.

Meski sudah dijelaskan oleh Dani di minggu awal, Ferdi kembali menyinggung medium yang ia gunakan untuk menggambar: kertas fotokopi. Tak ada kanvas mahal berlapis linen. Senjatanya hanyalah spidol warna. Ia bisa memeras puluhan lukisan hanya dari satu lusin spidol. Di tangannya, tak ada tinta yang terbuang percuma. Saban kali spidol mengering, ia mencelupkannya ke dalam air, mengeksploitasi sisa-sisa pigmen hingga tetes terakhir.

Gaya yang ia usung adalah dekoratif-fraktal. Sebuah laku repetitif yang beranak pinak. “Ketika seorang seniman sudah mempelajari fraktal, maka idenya tidak akan pernah habis di pertengahan jalan,” jelasnya. “Aku tu mikir kalu setiap goresan iyolah sayatan piso. Kalu aku ngoresnyo lambat, pasti itu teraso sakit nian. Itulah ngapo sayatannyo kugaweke cepet,” kali ini penjelasannya menggunakan Bahasa Palembang yang menjelaskan bahwa ia menganggap setiap goresan adalah sayatan pisau. Itulah kenapa goresan dalam lukisan yang sedan dipamerkan itu dibuatnya cepat, supaya tidak banyak menyakiti. Dan itu berasal dari imajinasi yang tergerak dari fraktal itu sendiri.

Diskusi kian menghangat ketika Adwan SA melempar pertanyaan esensial, “Apakah seni perlu untuk dinikmati?”

“Iya,” jawab Ferdi mantap. Seni harus dinikmati, bahkan jika penikmatnya hanyalah sang seniman itu sendiri, sebab seni adalah media pengekspresian diri.

Sultan, salah satu pengunjung, menyambar jawaban itu dengan sebuah anomali. “Tadi Om Ferdi mengatakan bahwa seni adalah media ekspresi diri. Apakah berteriak di atas gunung juga merupakan seni? Kan itu juga bentuk ekspresi diri?”

Dengan keteguhan yang tak goyah, Ferdi menepisnya. Berteriak di atas gunung bukanlah seni. Mengapa? Sebab tidak ada wujud yang ditinggalkan. Tidak ada jejak yang bisa diwariskan atau setidaknya dibaca oleh peradaban. Di puncak gunung itu, yang tersisa hanyalah pita suara yang meradang.

Perdebatan malam itu pun sempat menyenggol realitas pahit industri sastra. Di mana nasib sebuah karya sering kali ditentukan oleh selera subjektif kurator. Layaknya perumpamaan buah; mau sebagus dan semanis apa pun sebuah apel, jika sang kurator adalah pemuja jeruk, maka hanya jeruk yang akan mendapat panggung. Ferdi menguliti ironi ini dengan satu kalimat telak, “Seorang seniman kebanyakan membenci industri itu, namun mereka tetaplah butuh industri.”

Waktu terasa berlari terlalu cepat. Jarum jam menunjuk pukul 21.28 WIB ketika perdebatan dan lemparan tanya jawab sedang berada di titik didihnya. Namun, perut yang sedari tadi keroncongan, leher yang menagih kafein, dan bibir yang merindukan asap tembakau, memaksa Adwan untuk mengetuk palu penutup diskusi resmi malam itu.

Acara boleh saja disudahi, namun rasa penasaran adalah api yang sulit dipadamkan. Kepuasan berdiskusi belum sepenuhnya merasuk ke dalam dada para hadirin. Alih-alih membubarkan diri, kerumunan itu hanya pecah menjadi faksi-faksi kecil yang lebih intim.

Di luar ruangan, Ferdi keluar mencangking kopi dan menyulut rokoknya, melanjutkan obrolan santai yang tersisa bersama Adwan SA. Sementara itu di dalam, Mahesa, Sultan, dan beberapa orang lainnya masih enggan beranjak; urat leher mereka masih menegang, membedah ulang definisi tentang apa yang pantas dan tidak pantas disebut seni.

Di sudut lain, tepat di depan Roemah Tumbuh Kembang, perbincangan beralih ke masa depan yang meresahkan. Eko, Nopal, dan beberapa peserta duduk melingkar, membicarakan krisis penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia seni rupa dan penulisan—sebuah ancaman tak kasat mata yang kini mengintai tepat di depan mata para seniman.

Malam di Roemah Tumbuh Kembang tidak pernah benar-benar mati. Ia terus berdenyut dalam obrolan-obrolan organik yang lahir dari rahim penasaran. Dan yang paling menggetarkan dari semua riuh malam itu adalah kesadaran bahwa ini barulah setengah perjalanan.

Di ujung obrolan, sebuah janji digantungkan ke udara. Pekan depan, tanggal 28 Juni, panggung “Dialog Ferdi dan Opus Sastra” akan kembali dibuka. Kali ini, mereka bersiap membedah puisi dari Dahlia Rasyad, penulis Perempuan yang Memetik Mawar. Puisinya yang hendak didiskusikan berjudul ”Aku Milikmu”. Sosoknya dikabarkan akan hadir secara langsung, membawa babak baru dalam upaya merawat ingatan, kata, dan rupa di tanah Sumatera Selatan.

Palembang, 24 Juni 2026.

Penulis: Adwan SA
Foto-foto: Opus Sastra
Editor: Adnyana Ole

Tags: PalembangPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

Next Post

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

Adwan SA

Adwan SA

Seorang mahasiswa yang sedang menekuni dunia kepenulisan. Berasal dari daerah bernama Jalur di Kabupaten Banyuasin. Anggota aktif Komunitas Opus Sastra di Kota Palembang. Bercita-cita menjadi petani yang mencangkul dengan buku dan menanam benih-benih pengetahuan. Instagram: adwan.sa__

Related Posts

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
0
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

Read moreDetails

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails
Next Post
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co