6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
in Pameran
Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

Salah satu karya dalam pameran seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud | Foto: tatkala.co/Budarsana

PAMERAN seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud, menghadirkan ruang apresiasi yang kaya akan keberagaman medium, gagasan, dan pendekatan artistik. Perpaduan karya dua dan tiga dimensi menciptakan atmosfer pameran yang dinamis, mempertemukan kemegahan patung dan keramik, kelembutan batik dan wastra, hingga eksplorasi warna serta bentuk dalam karya-karya kontemporer.

Pameran yang dibuka oleh Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Prof. Dr. Kun Adnyana, pada 5 Juli 2026 ini merupakan bagian dari perayaan 30 tahun Museum ARMA. Pembukaan turut didampingi Pendiri Museum ARMA, Anak Agung Rai, bersama para kurator Jean Couteau, Warih Wisatsana, dan Seriyoga Parta. Pameran berlangsung hingga 18 Juli 2026.

Suasana pameran seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud | Foto: tatkala.co/Budarsana

Acara pembukaan dihadiri berbagai tokoh, di antaranya perwakilan Dinas Kebudayaan Gianyar, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) serta Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Bali beserta jajarannya, para budayawan, seniman, maestro seni rupa Bali, pemilik museum dan galeri, guru besar ISI Bali, serta para seniman peserta pameran dari dalam maupun luar negeri.

Suasana pembukaan dimeriahkan dengan performance art Menjaga yang Hampir Tenggelam yang merespons karya instalasi Perahu di Ujung Musim sebagai simbol bumi yang tengah berada dalam krisis. Tubuh performer hadir sebagai representasi manusia yang berada di antara rasa bersalah, ketakutan, dan harapan terhadap masa depan semesta. Interaksi performer dengan struktur perahu menghadirkan metafora hubungan manusia dan alam yang saling bergantung.

Ketua Panitia, Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn., dalam laporannya mengatakan, pameran kriya Prakriti–Pustaka–Padma merupakan bagian dari rangkaian perayaan ulang tahun ke-30 Museum ARMA yang jatuh pada 9 Juni 2026. “Museum ARMA berkomitmen penuh menghadirkan berbagai program kegiatan, tidak hanya di bidang seni rupa, tetapi juga seni pertunjukan, baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional,” katanya.

Dalam penyelenggaraan pameran tahun ini, Museum ARMA bekerja sama dengan Program Studi Kriya ISI Bali sebagai pelaksana utama pameran internasional tersebut. Pameran yang menghadirkan keragaman medium dan pendekatan artistik ini memperlihatkan bagaimana seni kriya berkembang pesat melalui kreativitas lintas batas.

Salah satu karya dalam pameran seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud | Foto: tatkala.co/Budarsana

Pameran ini sekaligus menjadi ruang eksplorasi estetik kontemporer melalui interaksi lintas budaya yang saling memperkaya kemungkinan penciptaan. Sebanyak 50 seniman dari delapan negara berpartisipasi, yakni Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Swiss, India, Kenya, Iran, dan Indonesia.

Selain seniman profesional, pameran ini juga melibatkan akademisi dan dosen kriya dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, seperti ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, ISBI Bandung, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Institut Informatika Indonesia (IKADO) Surabaya, Universitas Muhammadiyah Bandung, Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Bumigora Nusa Tenggara Barat, serta kelompok seniman seni rupa dari Surabaya.

Secara keseluruhan, Prakriti–Pustaka–Padma menampilkan 79 karya dua dan tiga dimensi, meliputi 28 karya patung keramik, enam karya terakota, sembilan karya guci keramik, empat karya kriya logam, tiga karya keris, enam karya wastra, tiga karya batik seni, dua karya kriya kayu, empat karya tapestri, enam karya media campuran (mixed media), satu wayang kulit, serta empat karya instalasi.

“Selain seniman profesional, pameran juga melibatkan akademisi dan dosen kriya dari berbagai perguruan tinggi seni di Indonesia, menjadikannya ruang pertemuan antara praktik artistik, pendidikan, dan pertukaran gagasan lintas budaya,” ujarnya.

Mempertemukan Pengalaman Penciptaan

Dalam catatan kuratorial, Jean Couteau, Warih Wisatsana, dan Seriyoga Parta menegaskan bahwa Prakriti–Pustaka–Padma merupakan ikhtiar mempertemukan beragam pengalaman penciptaan, eksplorasi material, dan sistem pengetahuan yang melandasi praktik seni kriya masa kini. Pameran ini menunjukkan bahwa seni kriya telah berkembang melampaui batas disiplin, membuka ruang dialog antara tradisi dan inovasi melalui interaksi lintas budaya.

Tema pameran dirumuskan melalui tiga konsep utama.

Prakriti memaknai alam sebagai sumber kehidupan sekaligus sumber inspirasi artistik. Alam bukan sekadar latar, melainkan bagian yang tak terpisahkan dari proses kreatif.


Karya-karya dalam pameran seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud | Foto: tatkala.co/Budarsana

Pustaka menegaskan bahwa setiap karya lahir dari akumulasi pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pengetahuan tersebut hidup dalam keterampilan tangan, pengalaman berkarya, eksperimen material, hingga tradisi yang terus berkembang.

Sementara itu, Padma atau bunga teratai menjadi metafora proses penciptaan. Seperti teratai yang tumbuh dari lumpur tetapi mekar indah, karya seni lahir melalui proses panjang yang dipenuhi pencarian, kegagalan, perubahan, dan penemuan baru. Keindahan dipahami sebagai hasil perjalanan kreatif yang terus berlangsung.

Seni Kriya yang Melampaui Fungsi

Pameran ini memperlihatkan bagaimana batas-batas antara keramik, tekstil, batik, kayu, logam, maupun medium tradisional lainnya semakin cair. Medium tidak lagi dipahami sekadar sebagai teknik atau identitas, melainkan ruang dialog tempat berbagai pengetahuan, pengalaman estetik, dan inovasi bertemu.

Fokusnya bukan lagi mempertentangkan tradisi dan modernitas, melainkan menunjukkan bagaimana seni kriya berkembang sebagai praktik kebudayaan yang terus bertransformasi. Karya-karya yang dipamerkan tidak hanya memiliki kualitas estetis, tetapi juga membuka kemungkinan sebagai objek desain yang menghadirkan kebaruan tanpa kehilangan akar budayanya.

Membaca Karya, Membaca Kehidupan

Beragam karya dalam pameran ini tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga mengajak pengunjung merenungkan kondisi dunia yang tengah menghadapi berbagai perubahan. Ketegangan geopolitik, konflik kemanusiaan, migrasi, hingga krisis ekologis menjadi latar refleksi yang hadir melalui bahasa rupa.


Karya-karya dalam pameran seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud | Foto: tatkala.co/Budarsana

Karya-karya keramik, terakota, logam, batik, wastra, kayu, media campuran, maupun instalasi menunjukkan bahwa setiap karya lahir dari perjumpaan antara pengalaman hidup, tradisi, material, lingkungan, dan kesadaran penciptanya. Seni kriya menjadi medium untuk membangun dialog, menumbuhkan empati, sekaligus mengingatkan posisi manusia sebagai bagian dari kehidupan yang lebih luas.

Material sebagai Bahasa

Tanah menjadi medium yang paling dominan dalam pameran ini. Namun, tanah tidak semata diperlakukan sebagai bahan, melainkan sebagai bahasa visual yang menyimpan makna. Melalui keramik dan terakota, para seniman mengeksplorasi hubungan antara fungsi dan imajinasi, antara benda utilitarian dan karya seni murni.

Proses kreatif dipahami sebagai hubungan timbal balik antara seniman dan material. Seniman tidak hanya membentuk material, tetapi juga dibentuk oleh karakter material yang diolahnya. Dari sinilah lahir kepekaan artistik yang melampaui sekadar keterampilan teknis.

Gagasan Bernas tentang Alam dan Kemanusiaan

Sebagian besar karya mengangkat alam bukan sebagai panorama romantis, melainkan sebagai ruang refleksi atas perubahan lingkungan dan kehidupan manusia. Isu eksploitasi sumber daya, kerusakan ekosistem, serta relasi manusia dengan bumi hadir melalui bahasa visual yang metaforis, bukan dalam bentuk kritik yang verbal.

Salah satu karya dalam pameran seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud | Foto: tatkala.co/Budarsana

Tekstur, warna, deformasi bentuk, hingga ruang kosong menjadi medium penyampaian pesan ekologis yang halus, tetapi kuat. Kepedulian terhadap lingkungan dalam pameran ini pada akhirnya bermuara pada kepedulian terhadap kemanusiaan.

Melalui Prakriti–Pustaka–Padma 2026, Museum ARMA membuktikan bahwa seni kriya bukan sekadar keterampilan mengolah material, melainkan praktik kebudayaan yang terus berkembang, membuka ruang dialog lintas bangsa, serta menghadirkan refleksi tentang hubungan manusia, alam, tradisi, dan masa depan. Pameran ini menunjukkan bahwa kreativitas seni kriya semakin melampaui batas geografis maupun disiplin, sekaligus menegaskan bahwa penciptaan merupakan sikap terhadap hidup dan kehidupan.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Museum ARMAPameranPameran Prakriti–Pustaka–Padma 2026seni rupa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

Next Post

Negeri yang Sakit dan Ambulans yang Berbelok-Belok

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

Read moreDetails

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

Read moreDetails

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
0
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

Read moreDetails

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Adwan SA
July 6, 2026
0
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

Read moreDetails

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

Read moreDetails
Next Post
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Negeri yang Sakit dan Ambulans yang Berbelok-Belok

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co