30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negeri yang Sakit dan Ambulans yang Berbelok-Belok

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
July 7, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

PENGALAMAN mendengar Ambulan Zig Zag karya Iwan Fals memang seperti mendengar sirene yang tak pernah benar-benar berhenti. Sirene itu tidak hanya berasal dari ambulans yang membelah kemacetan, melainkan dari kegelisahan orang-orang yang harus bernegosiasi dengan nasib, dompet, dan birokrasi demi mempertahankan hidup.

Sirene ambulans selalu terdengar sama. Melengking, tergesa, dan seolah sedang berpacu dengan malaikat pencabut nyawa. Namun, sesampainya di rumah sakit, suara sirene itu mendadak kehilangan wibawa. Yang berbicara kemudian bukan lagi detak jantung pasien, melainkan kartu identitas, nomor antrean, kelas perawatan, dan sederet prosedur yang kadang lebih panjang daripada umur harapan pasien itu sendiri.

Mungkin inilah yang dimaksud Iwan Fals dalam lagu Ambulan Zig Zag. Bukan sekadar ambulans yang meliuk-liuk menembus kemacetan, melainkan gambaran sebuah negeri yang bahkan dalam urusan menyelamatkan nyawa pun masih harus berbelok-belok. Tidak lurus. Tidak sederhana. Tidak selalu manusiawi.

Di negeri ini, sakit ternyata bukan hanya urusan tubuh. Sakit juga urusan ekonomi. Demam memiliki tarifnya sendiri. Sesak napas memiliki kelasnya sendiri. Bahkan rasa nyeri pun seolah mempunyai kasta.

Mereka yang datang dengan kartu kredit, uang tunai, atau asuransi swasta sering kali seperti tamu istimewa yang dipersilakan masuk melalui pintu depan. Sementara mereka yang datang dengan kartu BPJS kadang merasa seperti penumpang kelas ekonomi yang harus sabar menerima kalimat-kalimat sakral: “Mohon menunggu.”; “Masih antre.”; “Prosedurnya seperti ini.”; dan “Harus rujukan dulu.”

Kalimat-kalimat itu diucapkan dengan ramah, tentu saja. Sebab birokrasi yang sopan tetaplah birokrasi.

Sesungguhnya BPJS Kesehatan adalah salah satu pencapaian besar bangsa ini. Ia lahir dari cita-cita luhur bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Sebuah gagasan yang sangat mulia. Dalam filsafat politik, negara kesejahteraan memang dibangun atas keyakinan bahwa kemiskinan tidak boleh menjadi alasan seseorang kehilangan hak untuk hidup.

Masalahnya, cita-cita yang mulia kadang tersandung oleh kenyataan yang tidak selalu mulia. Jumlah pasien terus bertambah, sementara fasilitas kesehatan tidak bertumbuh secepat jumlah manusia yang sakit. Dokter spesialis masih terkonsentrasi di kota-kota besar. Rumah sakit rujukan menumpuk pasien dari berbagai daerah. Akibatnya, antrean menjadi panjang seperti kisah cinta yang tak kunjung direstui.

Orang-orang miskin akhirnya harus belajar menjadi filsuf. Mereka belajar tentang kesabaran. Belajar tentang kepasrahan. Belajar bahwa hidup ternyata bukan soal sembuh atau tidak sembuh, tetapi soal nomor antrean yang dipanggil atau tidak dipanggil.

Di ruang tunggu rumah sakit, waktu seolah memiliki definisinya sendiri. Satu jam bisa terasa seperti satu abad. Seorang ibu yang membawa anak demam tinggi harus berdamai dengan kursi plastik yang keras. Seorang bapak yang meringis menahan sakit ginjal harus memahami bahwa sistem bekerja sesuai prosedur.

Prosedur, dalam banyak kesempatan, telah menjelma seperti dewa baru yang tidak boleh dibantah. Padahal, penyakit tidak pernah membaca aturan administrasi.

Serangan jantung tidak pernah bertanya apakah pasien menggunakan BPJS atau pembayaran mandiri. Stroke tidak pernah memeriksa apakah seseorang membawa surat rujukan atau tidak.

Kanker pun tidak peduli kelas perawatan. Semua penyakit memperlakukan manusia dengan sama. Ironisnya, manusialah yang sering memperlakukan sesamanya secara berbeda.

  ***

Ada pemandangan yang diam-diam menjadi rahasia umum. Pasien mandiri dapat memilih kamar lebih nyaman, pelayanan lebih cepat, serta lebih banyak alternatif pemeriksaan. Sementara pasien BPJS kadang harus menerima kenyataan bahwa kamar penuh, jadwal dokter mundur, atau obat tertentu tidak termasuk dalam tanggungan.

Memang tidak semua rumah sakit demikian. Banyak tenaga kesehatan yang bekerja dengan penuh dedikasi, bahkan melampaui batas kemanusiaannya sendiri. Banyak dokter dan perawat yang tetap melayani tanpa memandang status ekonomi pasien.

Namun, masalahnya bukan pada individu. Masalahnya ada pada sistem, dan sistem, sebagaimana kata para filsuf, sering kali lebih kejam daripada manusia yang menjalankannya.

Kita hidup di zaman ketika teknologi mampu membuat manusia berbicara dengan orang di belahan bumi lain dalam hitungan detik. Kecerdasan buatan mampu menjawab berbagai pertanyaan rumit. Robot mampu melakukan operasi yang presisi. Tetapi, di beberapa tempat, seorang pasien masih harus berpindah dari puskesmas ke rumah sakit daerah, dari rumah sakit daerah ke rumah sakit provinsi, dari rumah sakit provinsi ke rumah sakit pusat, seperti sedang mengikuti acara wisata kesehatan nasional.

Barangkali penyakit yang paling kronis di negeri ini bukan diabetes, bukan hipertensi, melainkan ketimpangan. Ketimpangan fasilitas. Ketimpangan tenaga medis. Ketimpangan akses. Ketimpangan kesempatan untuk sembuh.

Lucunya, semua orang sepakat bahwa kesehatan adalah hak dasar. Tetapi, dalam praktiknya, hak dasar itu sering kali memiliki fasilitas tambahan bagi mereka yang memiliki saldo lebih.

Nyawa manusia akhirnya seperti tiket pesawat. Ada kelas ekonomi. Ada kelas bisnis. Ada kelas eksekutif. Padahal, kematian memperlakukan semuanya sama rata. Di hadapan liang kubur, tidak ada ruang VIP.

Karena itu, sesungguhnya yang perlu diperbaiki bukan semata-mata jumlah rumah sakit atau kecanggihan alat medis. Yang lebih penting adalah membangun filosofi pelayanan bahwa pasien bukan pelanggan, melainkan manusia.

Sebab pelanggan bisa ditolak. Pelanggan bisa diprioritaskan berdasarkan kemampuan membayar. Tetapi manusia adalah sesama. Dan sesama seharusnya tidak memerlukan syarat untuk ditolong.

Kesehatan tidak boleh menjadi barang mewah yang hanya dapat dibeli oleh mereka yang beruntung secara ekonomi. Rumah sakit tidak boleh berubah menjadi pasar, tempat kesembuhan ditentukan oleh isi dompet.

Karena pada akhirnya, kita semua adalah calon pasien. Cepat atau lambat. Kaya atau miskin. Pejabat atau rakyat biasa, dan ketika tubuh mulai rapuh, kita akan menyadari bahwa yang paling mahal di dunia ini ternyata bukan emas, bukan saham, bukan mobil mewah, melainkan kesempatan untuk ditolong tepat pada waktunya.

Sirene ambulans akan terus berbunyi. Ia akan terus berzig-zag di jalanan. Tetapi semoga suatu hari nanti, yang berbelok-belok hanyalah kendaraan itu, bukan keadilan. Sebab sebuah bangsa tidak diukur dari tingginya gedung rumah sakit yang dimilikinya, melainkan dari seberapa manusiawi ia memperlakukan orang-orang yang sedang sakit.

Dan sejarah selalu mengingat satu hal sederhana: Tidak ada negara yang benar-benar sehat apabila rakyat kecil masih harus antre terlalu lama untuk mendapatkan haknya hidup. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

Next Post

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails
Next Post
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co