PENGALAMAN mendengar Ambulan Zig Zag karya Iwan Fals memang seperti mendengar sirene yang tak pernah benar-benar berhenti. Sirene itu tidak hanya berasal dari ambulans yang membelah kemacetan, melainkan dari kegelisahan orang-orang yang harus bernegosiasi dengan nasib, dompet, dan birokrasi demi mempertahankan hidup.
Sirene ambulans selalu terdengar sama. Melengking, tergesa, dan seolah sedang berpacu dengan malaikat pencabut nyawa. Namun, sesampainya di rumah sakit, suara sirene itu mendadak kehilangan wibawa. Yang berbicara kemudian bukan lagi detak jantung pasien, melainkan kartu identitas, nomor antrean, kelas perawatan, dan sederet prosedur yang kadang lebih panjang daripada umur harapan pasien itu sendiri.
Mungkin inilah yang dimaksud Iwan Fals dalam lagu Ambulan Zig Zag. Bukan sekadar ambulans yang meliuk-liuk menembus kemacetan, melainkan gambaran sebuah negeri yang bahkan dalam urusan menyelamatkan nyawa pun masih harus berbelok-belok. Tidak lurus. Tidak sederhana. Tidak selalu manusiawi.
Di negeri ini, sakit ternyata bukan hanya urusan tubuh. Sakit juga urusan ekonomi. Demam memiliki tarifnya sendiri. Sesak napas memiliki kelasnya sendiri. Bahkan rasa nyeri pun seolah mempunyai kasta.
Mereka yang datang dengan kartu kredit, uang tunai, atau asuransi swasta sering kali seperti tamu istimewa yang dipersilakan masuk melalui pintu depan. Sementara mereka yang datang dengan kartu BPJS kadang merasa seperti penumpang kelas ekonomi yang harus sabar menerima kalimat-kalimat sakral: “Mohon menunggu.”; “Masih antre.”; “Prosedurnya seperti ini.”; dan “Harus rujukan dulu.”
Kalimat-kalimat itu diucapkan dengan ramah, tentu saja. Sebab birokrasi yang sopan tetaplah birokrasi.
Sesungguhnya BPJS Kesehatan adalah salah satu pencapaian besar bangsa ini. Ia lahir dari cita-cita luhur bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Sebuah gagasan yang sangat mulia. Dalam filsafat politik, negara kesejahteraan memang dibangun atas keyakinan bahwa kemiskinan tidak boleh menjadi alasan seseorang kehilangan hak untuk hidup.
Masalahnya, cita-cita yang mulia kadang tersandung oleh kenyataan yang tidak selalu mulia. Jumlah pasien terus bertambah, sementara fasilitas kesehatan tidak bertumbuh secepat jumlah manusia yang sakit. Dokter spesialis masih terkonsentrasi di kota-kota besar. Rumah sakit rujukan menumpuk pasien dari berbagai daerah. Akibatnya, antrean menjadi panjang seperti kisah cinta yang tak kunjung direstui.
Orang-orang miskin akhirnya harus belajar menjadi filsuf. Mereka belajar tentang kesabaran. Belajar tentang kepasrahan. Belajar bahwa hidup ternyata bukan soal sembuh atau tidak sembuh, tetapi soal nomor antrean yang dipanggil atau tidak dipanggil.
Di ruang tunggu rumah sakit, waktu seolah memiliki definisinya sendiri. Satu jam bisa terasa seperti satu abad. Seorang ibu yang membawa anak demam tinggi harus berdamai dengan kursi plastik yang keras. Seorang bapak yang meringis menahan sakit ginjal harus memahami bahwa sistem bekerja sesuai prosedur.
Prosedur, dalam banyak kesempatan, telah menjelma seperti dewa baru yang tidak boleh dibantah. Padahal, penyakit tidak pernah membaca aturan administrasi.
Serangan jantung tidak pernah bertanya apakah pasien menggunakan BPJS atau pembayaran mandiri. Stroke tidak pernah memeriksa apakah seseorang membawa surat rujukan atau tidak.
Kanker pun tidak peduli kelas perawatan. Semua penyakit memperlakukan manusia dengan sama. Ironisnya, manusialah yang sering memperlakukan sesamanya secara berbeda.
***
Ada pemandangan yang diam-diam menjadi rahasia umum. Pasien mandiri dapat memilih kamar lebih nyaman, pelayanan lebih cepat, serta lebih banyak alternatif pemeriksaan. Sementara pasien BPJS kadang harus menerima kenyataan bahwa kamar penuh, jadwal dokter mundur, atau obat tertentu tidak termasuk dalam tanggungan.
Memang tidak semua rumah sakit demikian. Banyak tenaga kesehatan yang bekerja dengan penuh dedikasi, bahkan melampaui batas kemanusiaannya sendiri. Banyak dokter dan perawat yang tetap melayani tanpa memandang status ekonomi pasien.
Namun, masalahnya bukan pada individu. Masalahnya ada pada sistem, dan sistem, sebagaimana kata para filsuf, sering kali lebih kejam daripada manusia yang menjalankannya.
Kita hidup di zaman ketika teknologi mampu membuat manusia berbicara dengan orang di belahan bumi lain dalam hitungan detik. Kecerdasan buatan mampu menjawab berbagai pertanyaan rumit. Robot mampu melakukan operasi yang presisi. Tetapi, di beberapa tempat, seorang pasien masih harus berpindah dari puskesmas ke rumah sakit daerah, dari rumah sakit daerah ke rumah sakit provinsi, dari rumah sakit provinsi ke rumah sakit pusat, seperti sedang mengikuti acara wisata kesehatan nasional.
Barangkali penyakit yang paling kronis di negeri ini bukan diabetes, bukan hipertensi, melainkan ketimpangan. Ketimpangan fasilitas. Ketimpangan tenaga medis. Ketimpangan akses. Ketimpangan kesempatan untuk sembuh.
Lucunya, semua orang sepakat bahwa kesehatan adalah hak dasar. Tetapi, dalam praktiknya, hak dasar itu sering kali memiliki fasilitas tambahan bagi mereka yang memiliki saldo lebih.
Nyawa manusia akhirnya seperti tiket pesawat. Ada kelas ekonomi. Ada kelas bisnis. Ada kelas eksekutif. Padahal, kematian memperlakukan semuanya sama rata. Di hadapan liang kubur, tidak ada ruang VIP.
Karena itu, sesungguhnya yang perlu diperbaiki bukan semata-mata jumlah rumah sakit atau kecanggihan alat medis. Yang lebih penting adalah membangun filosofi pelayanan bahwa pasien bukan pelanggan, melainkan manusia.
Sebab pelanggan bisa ditolak. Pelanggan bisa diprioritaskan berdasarkan kemampuan membayar. Tetapi manusia adalah sesama. Dan sesama seharusnya tidak memerlukan syarat untuk ditolong.
Kesehatan tidak boleh menjadi barang mewah yang hanya dapat dibeli oleh mereka yang beruntung secara ekonomi. Rumah sakit tidak boleh berubah menjadi pasar, tempat kesembuhan ditentukan oleh isi dompet.
Karena pada akhirnya, kita semua adalah calon pasien. Cepat atau lambat. Kaya atau miskin. Pejabat atau rakyat biasa, dan ketika tubuh mulai rapuh, kita akan menyadari bahwa yang paling mahal di dunia ini ternyata bukan emas, bukan saham, bukan mobil mewah, melainkan kesempatan untuk ditolong tepat pada waktunya.
Sirene ambulans akan terus berbunyi. Ia akan terus berzig-zag di jalanan. Tetapi semoga suatu hari nanti, yang berbelok-belok hanyalah kendaraan itu, bukan keadilan. Sebab sebuah bangsa tidak diukur dari tingginya gedung rumah sakit yang dimilikinya, melainkan dari seberapa manusiawi ia memperlakukan orang-orang yang sedang sakit.
Dan sejarah selalu mengingat satu hal sederhana: Tidak ada negara yang benar-benar sehat apabila rakyat kecil masih harus antre terlalu lama untuk mendapatkan haknya hidup. [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole































