17 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negeri yang Sakit dan Ambulans yang Berbelok-Belok

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
July 7, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

PENGALAMAN mendengar Ambulan Zig Zag karya Iwan Fals memang seperti mendengar sirene yang tak pernah benar-benar berhenti. Sirene itu tidak hanya berasal dari ambulans yang membelah kemacetan, melainkan dari kegelisahan orang-orang yang harus bernegosiasi dengan nasib, dompet, dan birokrasi demi mempertahankan hidup.

Sirene ambulans selalu terdengar sama. Melengking, tergesa, dan seolah sedang berpacu dengan malaikat pencabut nyawa. Namun, sesampainya di rumah sakit, suara sirene itu mendadak kehilangan wibawa. Yang berbicara kemudian bukan lagi detak jantung pasien, melainkan kartu identitas, nomor antrean, kelas perawatan, dan sederet prosedur yang kadang lebih panjang daripada umur harapan pasien itu sendiri.

Mungkin inilah yang dimaksud Iwan Fals dalam lagu Ambulan Zig Zag. Bukan sekadar ambulans yang meliuk-liuk menembus kemacetan, melainkan gambaran sebuah negeri yang bahkan dalam urusan menyelamatkan nyawa pun masih harus berbelok-belok. Tidak lurus. Tidak sederhana. Tidak selalu manusiawi.

Di negeri ini, sakit ternyata bukan hanya urusan tubuh. Sakit juga urusan ekonomi. Demam memiliki tarifnya sendiri. Sesak napas memiliki kelasnya sendiri. Bahkan rasa nyeri pun seolah mempunyai kasta.

Mereka yang datang dengan kartu kredit, uang tunai, atau asuransi swasta sering kali seperti tamu istimewa yang dipersilakan masuk melalui pintu depan. Sementara mereka yang datang dengan kartu BPJS kadang merasa seperti penumpang kelas ekonomi yang harus sabar menerima kalimat-kalimat sakral: “Mohon menunggu.”; “Masih antre.”; “Prosedurnya seperti ini.”; dan “Harus rujukan dulu.”

Kalimat-kalimat itu diucapkan dengan ramah, tentu saja. Sebab birokrasi yang sopan tetaplah birokrasi.

Sesungguhnya BPJS Kesehatan adalah salah satu pencapaian besar bangsa ini. Ia lahir dari cita-cita luhur bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Sebuah gagasan yang sangat mulia. Dalam filsafat politik, negara kesejahteraan memang dibangun atas keyakinan bahwa kemiskinan tidak boleh menjadi alasan seseorang kehilangan hak untuk hidup.

Masalahnya, cita-cita yang mulia kadang tersandung oleh kenyataan yang tidak selalu mulia. Jumlah pasien terus bertambah, sementara fasilitas kesehatan tidak bertumbuh secepat jumlah manusia yang sakit. Dokter spesialis masih terkonsentrasi di kota-kota besar. Rumah sakit rujukan menumpuk pasien dari berbagai daerah. Akibatnya, antrean menjadi panjang seperti kisah cinta yang tak kunjung direstui.

Orang-orang miskin akhirnya harus belajar menjadi filsuf. Mereka belajar tentang kesabaran. Belajar tentang kepasrahan. Belajar bahwa hidup ternyata bukan soal sembuh atau tidak sembuh, tetapi soal nomor antrean yang dipanggil atau tidak dipanggil.

Di ruang tunggu rumah sakit, waktu seolah memiliki definisinya sendiri. Satu jam bisa terasa seperti satu abad. Seorang ibu yang membawa anak demam tinggi harus berdamai dengan kursi plastik yang keras. Seorang bapak yang meringis menahan sakit ginjal harus memahami bahwa sistem bekerja sesuai prosedur.

Prosedur, dalam banyak kesempatan, telah menjelma seperti dewa baru yang tidak boleh dibantah. Padahal, penyakit tidak pernah membaca aturan administrasi.

Serangan jantung tidak pernah bertanya apakah pasien menggunakan BPJS atau pembayaran mandiri. Stroke tidak pernah memeriksa apakah seseorang membawa surat rujukan atau tidak.

Kanker pun tidak peduli kelas perawatan. Semua penyakit memperlakukan manusia dengan sama. Ironisnya, manusialah yang sering memperlakukan sesamanya secara berbeda.

  ***

Ada pemandangan yang diam-diam menjadi rahasia umum. Pasien mandiri dapat memilih kamar lebih nyaman, pelayanan lebih cepat, serta lebih banyak alternatif pemeriksaan. Sementara pasien BPJS kadang harus menerima kenyataan bahwa kamar penuh, jadwal dokter mundur, atau obat tertentu tidak termasuk dalam tanggungan.

Memang tidak semua rumah sakit demikian. Banyak tenaga kesehatan yang bekerja dengan penuh dedikasi, bahkan melampaui batas kemanusiaannya sendiri. Banyak dokter dan perawat yang tetap melayani tanpa memandang status ekonomi pasien.

Namun, masalahnya bukan pada individu. Masalahnya ada pada sistem, dan sistem, sebagaimana kata para filsuf, sering kali lebih kejam daripada manusia yang menjalankannya.

Kita hidup di zaman ketika teknologi mampu membuat manusia berbicara dengan orang di belahan bumi lain dalam hitungan detik. Kecerdasan buatan mampu menjawab berbagai pertanyaan rumit. Robot mampu melakukan operasi yang presisi. Tetapi, di beberapa tempat, seorang pasien masih harus berpindah dari puskesmas ke rumah sakit daerah, dari rumah sakit daerah ke rumah sakit provinsi, dari rumah sakit provinsi ke rumah sakit pusat, seperti sedang mengikuti acara wisata kesehatan nasional.

Barangkali penyakit yang paling kronis di negeri ini bukan diabetes, bukan hipertensi, melainkan ketimpangan. Ketimpangan fasilitas. Ketimpangan tenaga medis. Ketimpangan akses. Ketimpangan kesempatan untuk sembuh.

Lucunya, semua orang sepakat bahwa kesehatan adalah hak dasar. Tetapi, dalam praktiknya, hak dasar itu sering kali memiliki fasilitas tambahan bagi mereka yang memiliki saldo lebih.

Nyawa manusia akhirnya seperti tiket pesawat. Ada kelas ekonomi. Ada kelas bisnis. Ada kelas eksekutif. Padahal, kematian memperlakukan semuanya sama rata. Di hadapan liang kubur, tidak ada ruang VIP.

Karena itu, sesungguhnya yang perlu diperbaiki bukan semata-mata jumlah rumah sakit atau kecanggihan alat medis. Yang lebih penting adalah membangun filosofi pelayanan bahwa pasien bukan pelanggan, melainkan manusia.

Sebab pelanggan bisa ditolak. Pelanggan bisa diprioritaskan berdasarkan kemampuan membayar. Tetapi manusia adalah sesama. Dan sesama seharusnya tidak memerlukan syarat untuk ditolong.

Kesehatan tidak boleh menjadi barang mewah yang hanya dapat dibeli oleh mereka yang beruntung secara ekonomi. Rumah sakit tidak boleh berubah menjadi pasar, tempat kesembuhan ditentukan oleh isi dompet.

Karena pada akhirnya, kita semua adalah calon pasien. Cepat atau lambat. Kaya atau miskin. Pejabat atau rakyat biasa, dan ketika tubuh mulai rapuh, kita akan menyadari bahwa yang paling mahal di dunia ini ternyata bukan emas, bukan saham, bukan mobil mewah, melainkan kesempatan untuk ditolong tepat pada waktunya.

Sirene ambulans akan terus berbunyi. Ia akan terus berzig-zag di jalanan. Tetapi semoga suatu hari nanti, yang berbelok-belok hanyalah kendaraan itu, bukan keadilan. Sebab sebuah bangsa tidak diukur dari tingginya gedung rumah sakit yang dimilikinya, melainkan dari seberapa manusiawi ia memperlakukan orang-orang yang sedang sakit.

Dan sejarah selalu mengingat satu hal sederhana: Tidak ada negara yang benar-benar sehat apabila rakyat kecil masih harus antre terlalu lama untuk mendapatkan haknya hidup. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

Next Post

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

Read moreDetails

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

Read moreDetails

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
0
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

Read moreDetails

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
0
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

Read moreDetails

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
0
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

Read moreDetails

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
0
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026
Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Udayana tahun 2026 melaksanakan serangkaian program kerja di Desa Sanding, Kecamatan...

by tatkala
August 16, 2026
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang
Khas

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara
Tualang

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital
Pendidikan

Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

KESEHATAN mental remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan yang...

by tatkala
August 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah
Khas

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan
Bahasa

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

by I Made Sudiana
August 15, 2026
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz
Esai

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

by Angga Wijaya
August 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co