7 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negeri yang Sakit dan Ambulans yang Berbelok-Belok

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
July 7, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

PENGALAMAN mendengar Ambulan Zig Zag karya Iwan Fals memang seperti mendengar sirene yang tak pernah benar-benar berhenti. Sirene itu tidak hanya berasal dari ambulans yang membelah kemacetan, melainkan dari kegelisahan orang-orang yang harus bernegosiasi dengan nasib, dompet, dan birokrasi demi mempertahankan hidup.

Sirene ambulans selalu terdengar sama. Melengking, tergesa, dan seolah sedang berpacu dengan malaikat pencabut nyawa. Namun, sesampainya di rumah sakit, suara sirene itu mendadak kehilangan wibawa. Yang berbicara kemudian bukan lagi detak jantung pasien, melainkan kartu identitas, nomor antrean, kelas perawatan, dan sederet prosedur yang kadang lebih panjang daripada umur harapan pasien itu sendiri.

Mungkin inilah yang dimaksud Iwan Fals dalam lagu Ambulan Zig Zag. Bukan sekadar ambulans yang meliuk-liuk menembus kemacetan, melainkan gambaran sebuah negeri yang bahkan dalam urusan menyelamatkan nyawa pun masih harus berbelok-belok. Tidak lurus. Tidak sederhana. Tidak selalu manusiawi.

Di negeri ini, sakit ternyata bukan hanya urusan tubuh. Sakit juga urusan ekonomi. Demam memiliki tarifnya sendiri. Sesak napas memiliki kelasnya sendiri. Bahkan rasa nyeri pun seolah mempunyai kasta.

Mereka yang datang dengan kartu kredit, uang tunai, atau asuransi swasta sering kali seperti tamu istimewa yang dipersilakan masuk melalui pintu depan. Sementara mereka yang datang dengan kartu BPJS kadang merasa seperti penumpang kelas ekonomi yang harus sabar menerima kalimat-kalimat sakral: “Mohon menunggu.”; “Masih antre.”; “Prosedurnya seperti ini.”; dan “Harus rujukan dulu.”

Kalimat-kalimat itu diucapkan dengan ramah, tentu saja. Sebab birokrasi yang sopan tetaplah birokrasi.

Sesungguhnya BPJS Kesehatan adalah salah satu pencapaian besar bangsa ini. Ia lahir dari cita-cita luhur bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Sebuah gagasan yang sangat mulia. Dalam filsafat politik, negara kesejahteraan memang dibangun atas keyakinan bahwa kemiskinan tidak boleh menjadi alasan seseorang kehilangan hak untuk hidup.

Masalahnya, cita-cita yang mulia kadang tersandung oleh kenyataan yang tidak selalu mulia. Jumlah pasien terus bertambah, sementara fasilitas kesehatan tidak bertumbuh secepat jumlah manusia yang sakit. Dokter spesialis masih terkonsentrasi di kota-kota besar. Rumah sakit rujukan menumpuk pasien dari berbagai daerah. Akibatnya, antrean menjadi panjang seperti kisah cinta yang tak kunjung direstui.

Orang-orang miskin akhirnya harus belajar menjadi filsuf. Mereka belajar tentang kesabaran. Belajar tentang kepasrahan. Belajar bahwa hidup ternyata bukan soal sembuh atau tidak sembuh, tetapi soal nomor antrean yang dipanggil atau tidak dipanggil.

Di ruang tunggu rumah sakit, waktu seolah memiliki definisinya sendiri. Satu jam bisa terasa seperti satu abad. Seorang ibu yang membawa anak demam tinggi harus berdamai dengan kursi plastik yang keras. Seorang bapak yang meringis menahan sakit ginjal harus memahami bahwa sistem bekerja sesuai prosedur.

Prosedur, dalam banyak kesempatan, telah menjelma seperti dewa baru yang tidak boleh dibantah. Padahal, penyakit tidak pernah membaca aturan administrasi.

Serangan jantung tidak pernah bertanya apakah pasien menggunakan BPJS atau pembayaran mandiri. Stroke tidak pernah memeriksa apakah seseorang membawa surat rujukan atau tidak.

Kanker pun tidak peduli kelas perawatan. Semua penyakit memperlakukan manusia dengan sama. Ironisnya, manusialah yang sering memperlakukan sesamanya secara berbeda.

  ***

Ada pemandangan yang diam-diam menjadi rahasia umum. Pasien mandiri dapat memilih kamar lebih nyaman, pelayanan lebih cepat, serta lebih banyak alternatif pemeriksaan. Sementara pasien BPJS kadang harus menerima kenyataan bahwa kamar penuh, jadwal dokter mundur, atau obat tertentu tidak termasuk dalam tanggungan.

Memang tidak semua rumah sakit demikian. Banyak tenaga kesehatan yang bekerja dengan penuh dedikasi, bahkan melampaui batas kemanusiaannya sendiri. Banyak dokter dan perawat yang tetap melayani tanpa memandang status ekonomi pasien.

Namun, masalahnya bukan pada individu. Masalahnya ada pada sistem, dan sistem, sebagaimana kata para filsuf, sering kali lebih kejam daripada manusia yang menjalankannya.

Kita hidup di zaman ketika teknologi mampu membuat manusia berbicara dengan orang di belahan bumi lain dalam hitungan detik. Kecerdasan buatan mampu menjawab berbagai pertanyaan rumit. Robot mampu melakukan operasi yang presisi. Tetapi, di beberapa tempat, seorang pasien masih harus berpindah dari puskesmas ke rumah sakit daerah, dari rumah sakit daerah ke rumah sakit provinsi, dari rumah sakit provinsi ke rumah sakit pusat, seperti sedang mengikuti acara wisata kesehatan nasional.

Barangkali penyakit yang paling kronis di negeri ini bukan diabetes, bukan hipertensi, melainkan ketimpangan. Ketimpangan fasilitas. Ketimpangan tenaga medis. Ketimpangan akses. Ketimpangan kesempatan untuk sembuh.

Lucunya, semua orang sepakat bahwa kesehatan adalah hak dasar. Tetapi, dalam praktiknya, hak dasar itu sering kali memiliki fasilitas tambahan bagi mereka yang memiliki saldo lebih.

Nyawa manusia akhirnya seperti tiket pesawat. Ada kelas ekonomi. Ada kelas bisnis. Ada kelas eksekutif. Padahal, kematian memperlakukan semuanya sama rata. Di hadapan liang kubur, tidak ada ruang VIP.

Karena itu, sesungguhnya yang perlu diperbaiki bukan semata-mata jumlah rumah sakit atau kecanggihan alat medis. Yang lebih penting adalah membangun filosofi pelayanan bahwa pasien bukan pelanggan, melainkan manusia.

Sebab pelanggan bisa ditolak. Pelanggan bisa diprioritaskan berdasarkan kemampuan membayar. Tetapi manusia adalah sesama. Dan sesama seharusnya tidak memerlukan syarat untuk ditolong.

Kesehatan tidak boleh menjadi barang mewah yang hanya dapat dibeli oleh mereka yang beruntung secara ekonomi. Rumah sakit tidak boleh berubah menjadi pasar, tempat kesembuhan ditentukan oleh isi dompet.

Karena pada akhirnya, kita semua adalah calon pasien. Cepat atau lambat. Kaya atau miskin. Pejabat atau rakyat biasa, dan ketika tubuh mulai rapuh, kita akan menyadari bahwa yang paling mahal di dunia ini ternyata bukan emas, bukan saham, bukan mobil mewah, melainkan kesempatan untuk ditolong tepat pada waktunya.

Sirene ambulans akan terus berbunyi. Ia akan terus berzig-zag di jalanan. Tetapi semoga suatu hari nanti, yang berbelok-belok hanyalah kendaraan itu, bukan keadilan. Sebab sebuah bangsa tidak diukur dari tingginya gedung rumah sakit yang dimilikinya, melainkan dari seberapa manusiawi ia memperlakukan orang-orang yang sedang sakit.

Dan sejarah selalu mengingat satu hal sederhana: Tidak ada negara yang benar-benar sehat apabila rakyat kecil masih harus antre terlalu lama untuk mendapatkan haknya hidup. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

Next Post

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

by I Nyoman Tingkat
July 7, 2026
0
Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

SINGARAJA Literary Festival (SLF)  IV   berlangsung sangat meriah selama 3 hari (Jumat-Minggu, 3-5 Juli 2026) di Kawasan Pusat Peradaban Bali...

Read moreDetails

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
0
Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

Read moreDetails

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

Read moreDetails

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
0
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang...

Read moreDetails

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
0
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

Read moreDetails

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
0
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

Read moreDetails

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

by I Wayan Artika
July 2, 2026
0
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

Read moreDetails

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
0
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

Read moreDetails

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
0
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

Read moreDetails

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

by Iko Amadeus
June 30, 2026
0
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan
Esai

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

SINGARAJA Literary Festival (SLF)  IV   berlangsung sangat meriah selama 3 hari (Jumat-Minggu, 3-5 Juli 2026) di Kawasan Pusat Peradaban Bali...

by I Nyoman Tingkat
July 7, 2026
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar
Khas

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Negeri yang Sakit dan Ambulans yang Berbelok-Belok

PENGALAMAN mendengar Ambulan Zig Zag karya Iwan Fals memang seperti mendengar sirene yang tak pernah benar-benar berhenti. Sirene itu tidak...

by Ahmad Sihabudin
July 7, 2026
Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya
Pameran

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

PAMERAN seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud, menghadirkan ruang apresiasi yang kaya akan keberagaman medium, gagasan, dan...

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali
Esai

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati
Esai

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang...

by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Ulas Rupa

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

by Mahesa Putra
July 6, 2026
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Pameran

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

by Adwan SA
July 6, 2026
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak
Kritik Seni

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

by Arief Rahzen
July 6, 2026
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra
Panggung

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co