27 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

Mahesa Putra by Mahesa Putra
July 6, 2026
in Ulas Rupa
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh yang bagaimana? Ada alergi? Ada makanan kesukaan ataupun tidak? Tentu mesti jelas, sasaran yang akan makan makanan bergizi. Begitu pula puisi. Apakah kita mampu menakar apa yang hendak penyair hidangkan? Sementara kita melihat hanya dalam bentuk gambar, dalam pesan WhatsApp, dalam file yang buram. Apakah kita dapat menebak motif yang bagaimana, yang hendak disampaikan oleh penyair itu sendiri?

Jika kita sebagai pembaca menelaah lebih jauh, ke mana arah puisi dan apa yang hendak disampaikan oleh penyair. Tentulah kita tidak dapat mengukur kedalaman yang hendak disajikan, bilamana kita tidak berada di dekat penyair, atau mengenal penyair secara langsung. Sebab ketika kita memperlakukan kritik kepada puisi, menggunakan pendekatan penakaran makan bergizi tentu kita mesti melihat langsung makanan yang hendak dihidangkan. Agar jelas, ke mana hendak kritik berlabuh. Kepada teks? Atau kepada sikap penyair?

Pada pameran yang hendak dihadirkan oleh Opus Sastra ini, dalam “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”, ada sebuah upaya yang cukup berani di tengah era digital dan AI hari ini. Opus Sastra berkomitmen sebagai komunitas sastra yang berbasis riset dalam praktik penciptaan karyanya. Barang tentu, puisi dari Adwan SA selaku salah satu penyair yang puisinya terpilih dalam merespons gambar Ferdi di “Dialog Ferdi dan Opus Sastra” ini musti kita telaah dengan seksama dan menggali lebih dalam pemaknaan teks—kedalaman emosional yang dititipkan penyair kepada teks puisinya.

Alhasil pada diskusi terakhir 05 Juli 2026, “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”, Adwan selaku penyair, mesti bahagia—karena puisinya dengan seksama dikuliti pelan-pelan hingga tergambar dengan sangat jelas apa motif yang hendak dimaksudkan Adwan pada puisi yang berjudul “Sebatang Kara”. Alhasil pada pembacaan berkali-kali ada sesuatu yang janggal, yang mengganggu, yang individu, yang sempit, yang emosional. Namun, ada getir, ada simpati, ada kepekaan, ada perlawanan, ada kecemasan akan penindasan dan kehilangan.

Penulis pada tulisan ini, hendak menyampaikan beberapa poin menarik yang ditemukan sepanjang diskusi. Beberapa di antaranya bergelut pada kedalaman teks puisi Sebatang Kara, beberapa di antaranya membongkar kedalaman penyair sebagai “tukang teks”. Tentulah jika kita mengisyaratkan penyair sebagai “tukang teks”, tukang yang kita isyaratkan misalnya adalah seorang tukang kayu jati. Dalam hal ini berarti penyair yang mengumpulkan kayu mengayu di sini bisa kita haturkan untuk (kata-kata), ukiran demi ukiran (diksi), cat (bentuk akhir sebuah puisi). Jika sedemikian yang kita hendak isyaratkan, pastilah kita akan menanyakan dengan langsung dan jelas kepada seorang tukang. Dari mana kayunya, dan tetek bengek segala hal mengenai pertukangan kayu—begitupun sebaliknya jika ia tukang teks.

Pada puisi Adwan SA yang berjudul “Sebatang Kara”, yang telah ia bacakan sebagai momen pengantar diskusi yang sedari awal membuat percakapan melebar. Puisinya sebagai berikut:

Barangkali esok hujan turun lebat dan kita tertawa

lepas atas para angin yang menyapa kulit.

Tak sempat bersua dengan yang lain, karena kita

sibuk menata “kita”.

Kutarik, kujambak, kutahan, kutali, kuangkat dirimu

sekuat tenaga. Tali merah menopang isi dadamu

yang kau pasrahkan padaku.

Aku bersenang hati akan itu. Kadang kala aku

bergoyang riang di atasmu dan kau berdiam diri pasrah.

Pada bagian ini, banyak pasang mata melirik-lirik hendak melemparkan pertanyaan bahkan pernyataan. Namun, diskusi berjalan dengan ritme yang lambat. Asmaran Dani, selaku kurator pameran langsung mengambil alih pandangan di dalam ruang yang penuh sesak pertanyaan yang belum terlempar.

ASMARAN DANI

Saya membaca ini, seperti merasa sedang bercinta. Apa yang ingin disampaikan Adwan di sini, apakah pengalaman bercinta, atau apa?

Penulis sendiri selaku moderator diskusi, mempersilakan Adwan SA untuk menjelaskan motif apa yang hendak disampaikannya dan keterkaitan apa pada gambar Ferdi.

ADWAN SA

Oh, tidak. Saya tidak menggambarkan itu sebagai sebuah hubungan badan atau bercinta. Saya menggambarkan itu sebagai momen ibu yang sedang menyusui anaknya. Pada gambar Ferdi, yang saya respons; ada pohon yang kecil yang hidup di antara pohon besar. Pohon kecil saya isyaratkan sebagai seorang anak yang sedang menyusu dengan ibunya. Selayaknya seorang anak yang sedang menyusu, menarik rambut dan jambak. Selayaknya seorang ibu, kutali (kugendong), kutahan dirimu sekuat tenaga. Tali merah menopang isi dadamu yang kau pasrahkan padaku, yahhh, selayaknya ibu yang ikhlas dan menghidupi.

Dengan pernyataan Adwan yang semacam ini, membuat diskusi sedikit bergerak ke arah yang lebih luas lagi, lebih jauh lagi. Pada bagian tengah puisi Sebatang Kara, hampir tidak ada yang mengkritik seolah semua peserta diskusi hari itu sepakat. Namun, diskusi kembali melebar ketika pada bagian ini:

Hey manusia, matilah engkau mati.

Jangan kau cerabutkan nyawa dan cinta kami.

Berhentilah menganggap yang mengenal rasa hanya hatimu seorang.

Bajingan.

Aku ingin selamanya. Selagi akar masih tertancap,

jangan sekalinya engkau cabut.

Selama daun masih hijau, berhenti kau potong batang.

Kami sudah hidup ribuan tahun di sini.

Jauh sebelum bajingan semacammu menginjak tanah ini.

Setelah pembacaan selesai oleh Adwan, napas peserta diskusi mulai tak beraturan. Seakan ada yang mendesak untuk buru-buru disampaikan. Ferdi selaku gambarnya yang direspons, memberi apresiasi pada puisinya Adwan. Menurutnya ini adalah sajak yang indah dan verbal, tetapi. Kata tetapi belum sempat ia selesaikan, Asmaran Dani kembali menyambar dengan pertanyaan.

ASMARAN DANI

Mengapa puisi ini seperti seorang filsuf yang menjelaskan penderitaan pohon, bagaimana alat ukur penyair untuk melihat itu?

Lagi-lagi, diskusi berjalan dengan tempo cepat kali ini. Penulis selaku moderator, menjelaskan ulang maksud dari pertanyaan Asmaran Dani yang tiba-tiba membuat penyair menjadi gugup. Penulis menjelaskan ulang, bagaimana Adwan selaku penyair mengetahui suara pohon, seberapa dekat Adwan dengan pohon, atau adakah emosi di luar pohon sehingga Adwan menitipkan emosinya ke dalam teks yang merespons gambar Ferdi ini.

ADWAN SA

Saya melihat pohon itu sebagai sifat manusia, seperti penebang liar, pembalakan. Juga itu dekat dengan pengalaman empiris saya yang sering bergesekan dengan eksploitasi perempuan, seperti pelecehan, atau persoalan-persoalan perempuan yang selesai ketika ia menikah. Perempuan hanya berpusat di dapur dan kamar, itu yang mengganggu saya sebagai penulis.

Tentu menarik apa yang telah disampaikan Adwan SA. Bagaimana kepekaan ia sebagai penyair mengembangkan pengalaman empiris, menjadi teks yang hidup. Tetapi, salah satu peserta diskusi yang sedari tadi membatu tapi matanya getir—melemparkan sebuah pernyataan.

EKO SAPUTRA

Kalau saya melihat gambar Ferdi dan juga puisi yang dibacakan Adwan SA tadi, saya teringat dengan kejadian yang menimpa saudara kita di Sumatera Utara dan Aceh. Seperti yang kita sama-sama tahu bahwa di sana, terjadi banjir bandang. Di mana dampak dari aktivitas penggundulan hutan secara masif untuk pembukaan lahan. Dibuktikan dengan gelondongan-gelondongan kayu, yang bernomor seri. Tentu saya melihat keterkaitan antara gambar dan puisi Adwan lebih ke arah sana.

Pernyataan Eko membuat ruangan diskusi makin terpantik kembali, Ferdi melirik kaus yang dikenakan oleh Asmaran Dani bertuliskan Antropogenik. Kaus sebuah pertunjukan dari Teater Potlot pada Covid-19 tepatnya 2020, juga Ferdi sebagai bagian dari pertunjukan itu.

FERDIAN SEMAI

Yah itu, kaus Dani. Itu menggambarkan perilaku yang Eko bilang tadi, pengrusakan alam yang dilakukan oleh manusia demi untuk memuaskan kepentingan manusia itu sendiri. Syukurlah Eko melihat ini ke arah yang lebih luas, yang landscape. Sebab, puisi sudah seharusnya menjadi alat kegelisahan seniman hari ini tentang kehancuran alam yang semakin masifnya.

Bahkan Ferdi mengibaratkan, 4 juta hektare di Sumatera yang beralih menjadi perkebunan monokultur itu, jika kita menggambarkan detik jam. Setiap detik jam itu satu pohon ditebang, bayangkan beberapa juta detik untuk memenuhi kerakusan manusia itu sendiri. Ditimpal Ferdi.

FERDIAN SEMAI

Sejak awal sudah aku katakan bahwa sajak Adwan ini indah dan verbal. Hanya sebatas itu, tetapi cukup baik. Tentu ini bisa berkembang menjadi baik dan baik lagi ke depannya, jika puisi melibatkan situasi zaman seperti Chairil Anwar, semangat untuk merdeka itu yang digunakan dalam teks-teksnya. Jadi penyair itu punya zaman, hari ini apa yang kita rasakan? Itulah yang kita titik beratkan pada puisi dan karya sastra yang hendak Opus Sastra hadirkan ini

Dengan pernyataan Ferdi, penulis selaku moderator merasa sudah cukup jelas untuk menutup diskusi ini. Alhasil, penutupan diskusi “Dialog Ferdi dan Opus Sastra” yang telah tersaji dalam kurun waktu satu bulan—selesai sudah dengan semangat diskusi yang tidak pudar sedikit pun. [T]

Penulis: Mahesa Putra
Foto-foto: Opus Sastra
Editor: Adnyana Ole

Tags: PalembangPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

Next Post

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Mahesa Putra

Mahesa Putra

Pengasuh kedai kopi bernama Roemah Tumbuh Kembang. Juga menulis puisi sebagai kerangka berpikir. Aktif berkegiatan dengan komunitas Opus Sastra yang berada di Palembang. Telah menerbitkan dua novel Dunia Dalam Serkap (2025), Mate Taun (2026). Instagram: tementanah

Related Posts

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails
Next Post
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co