6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

Mahesa Putra by Mahesa Putra
July 6, 2026
in Ulas Rupa
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh yang bagaimana? Ada alergi? Ada makanan kesukaan ataupun tidak? Tentu mesti jelas, sasaran yang akan makan makanan bergizi. Begitu pula puisi. Apakah kita mampu menakar apa yang hendak penyair hidangkan? Sementara kita melihat hanya dalam bentuk gambar, dalam pesan WhatsApp, dalam file yang buram. Apakah kita dapat menebak motif yang bagaimana, yang hendak disampaikan oleh penyair itu sendiri?

Jika kita sebagai pembaca menelaah lebih jauh, ke mana arah puisi dan apa yang hendak disampaikan oleh penyair. Tentulah kita tidak dapat mengukur kedalaman yang hendak disajikan, bilamana kita tidak berada di dekat penyair, atau mengenal penyair secara langsung. Sebab ketika kita memperlakukan kritik kepada puisi, menggunakan pendekatan penakaran makan bergizi tentu kita mesti melihat langsung makanan yang hendak dihidangkan. Agar jelas, ke mana hendak kritik berlabuh. Kepada teks? Atau kepada sikap penyair?

Pada pameran yang hendak dihadirkan oleh Opus Sastra ini, dalam “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”, ada sebuah upaya yang cukup berani di tengah era digital dan AI hari ini. Opus Sastra berkomitmen sebagai komunitas sastra yang berbasis riset dalam praktik penciptaan karyanya. Barang tentu, puisi dari Adwan SA selaku salah satu penyair yang puisinya terpilih dalam merespons gambar Ferdi di “Dialog Ferdi dan Opus Sastra” ini musti kita telaah dengan seksama dan menggali lebih dalam pemaknaan teks—kedalaman emosional yang dititipkan penyair kepada teks puisinya.

Alhasil pada diskusi terakhir 05 Juli 2026, “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”, Adwan selaku penyair, mesti bahagia—karena puisinya dengan seksama dikuliti pelan-pelan hingga tergambar dengan sangat jelas apa motif yang hendak dimaksudkan Adwan pada puisi yang berjudul “Sebatang Kara”. Alhasil pada pembacaan berkali-kali ada sesuatu yang janggal, yang mengganggu, yang individu, yang sempit, yang emosional. Namun, ada getir, ada simpati, ada kepekaan, ada perlawanan, ada kecemasan akan penindasan dan kehilangan.

Penulis pada tulisan ini, hendak menyampaikan beberapa poin menarik yang ditemukan sepanjang diskusi. Beberapa di antaranya bergelut pada kedalaman teks puisi Sebatang Kara, beberapa di antaranya membongkar kedalaman penyair sebagai “tukang teks”. Tentulah jika kita mengisyaratkan penyair sebagai “tukang teks”, tukang yang kita isyaratkan misalnya adalah seorang tukang kayu jati. Dalam hal ini berarti penyair yang mengumpulkan kayu mengayu di sini bisa kita haturkan untuk (kata-kata), ukiran demi ukiran (diksi), cat (bentuk akhir sebuah puisi). Jika sedemikian yang kita hendak isyaratkan, pastilah kita akan menanyakan dengan langsung dan jelas kepada seorang tukang. Dari mana kayunya, dan tetek bengek segala hal mengenai pertukangan kayu—begitupun sebaliknya jika ia tukang teks.

Pada puisi Adwan SA yang berjudul “Sebatang Kara”, yang telah ia bacakan sebagai momen pengantar diskusi yang sedari awal membuat percakapan melebar. Puisinya sebagai berikut:

Barangkali esok hujan turun lebat dan kita tertawa

lepas atas para angin yang menyapa kulit.

Tak sempat bersua dengan yang lain, karena kita

sibuk menata “kita”.

Kutarik, kujambak, kutahan, kutali, kuangkat dirimu

sekuat tenaga. Tali merah menopang isi dadamu

yang kau pasrahkan padaku.

Aku bersenang hati akan itu. Kadang kala aku

bergoyang riang di atasmu dan kau berdiam diri pasrah.

Pada bagian ini, banyak pasang mata melirik-lirik hendak melemparkan pertanyaan bahkan pernyataan. Namun, diskusi berjalan dengan ritme yang lambat. Asmaran Dani, selaku kurator pameran langsung mengambil alih pandangan di dalam ruang yang penuh sesak pertanyaan yang belum terlempar.

ASMARAN DANI

Saya membaca ini, seperti merasa sedang bercinta. Apa yang ingin disampaikan Adwan di sini, apakah pengalaman bercinta, atau apa?

Penulis sendiri selaku moderator diskusi, mempersilakan Adwan SA untuk menjelaskan motif apa yang hendak disampaikannya dan keterkaitan apa pada gambar Ferdi.

ADWAN SA

Oh, tidak. Saya tidak menggambarkan itu sebagai sebuah hubungan badan atau bercinta. Saya menggambarkan itu sebagai momen ibu yang sedang menyusui anaknya. Pada gambar Ferdi, yang saya respons; ada pohon yang kecil yang hidup di antara pohon besar. Pohon kecil saya isyaratkan sebagai seorang anak yang sedang menyusu dengan ibunya. Selayaknya seorang anak yang sedang menyusu, menarik rambut dan jambak. Selayaknya seorang ibu, kutali (kugendong), kutahan dirimu sekuat tenaga. Tali merah menopang isi dadamu yang kau pasrahkan padaku, yahhh, selayaknya ibu yang ikhlas dan menghidupi.

Dengan pernyataan Adwan yang semacam ini, membuat diskusi sedikit bergerak ke arah yang lebih luas lagi, lebih jauh lagi. Pada bagian tengah puisi Sebatang Kara, hampir tidak ada yang mengkritik seolah semua peserta diskusi hari itu sepakat. Namun, diskusi kembali melebar ketika pada bagian ini:

Hey manusia, matilah engkau mati.

Jangan kau cerabutkan nyawa dan cinta kami.

Berhentilah menganggap yang mengenal rasa hanya hatimu seorang.

Bajingan.

Aku ingin selamanya. Selagi akar masih tertancap,

jangan sekalinya engkau cabut.

Selama daun masih hijau, berhenti kau potong batang.

Kami sudah hidup ribuan tahun di sini.

Jauh sebelum bajingan semacammu menginjak tanah ini.

Setelah pembacaan selesai oleh Adwan, napas peserta diskusi mulai tak beraturan. Seakan ada yang mendesak untuk buru-buru disampaikan. Ferdi selaku gambarnya yang direspons, memberi apresiasi pada puisinya Adwan. Menurutnya ini adalah sajak yang indah dan verbal, tetapi. Kata tetapi belum sempat ia selesaikan, Asmaran Dani kembali menyambar dengan pertanyaan.

ASMARAN DANI

Mengapa puisi ini seperti seorang filsuf yang menjelaskan penderitaan pohon, bagaimana alat ukur penyair untuk melihat itu?

Lagi-lagi, diskusi berjalan dengan tempo cepat kali ini. Penulis selaku moderator, menjelaskan ulang maksud dari pertanyaan Asmaran Dani yang tiba-tiba membuat penyair menjadi gugup. Penulis menjelaskan ulang, bagaimana Adwan selaku penyair mengetahui suara pohon, seberapa dekat Adwan dengan pohon, atau adakah emosi di luar pohon sehingga Adwan menitipkan emosinya ke dalam teks yang merespons gambar Ferdi ini.

ADWAN SA

Saya melihat pohon itu sebagai sifat manusia, seperti penebang liar, pembalakan. Juga itu dekat dengan pengalaman empiris saya yang sering bergesekan dengan eksploitasi perempuan, seperti pelecehan, atau persoalan-persoalan perempuan yang selesai ketika ia menikah. Perempuan hanya berpusat di dapur dan kamar, itu yang mengganggu saya sebagai penulis.

Tentu menarik apa yang telah disampaikan Adwan SA. Bagaimana kepekaan ia sebagai penyair mengembangkan pengalaman empiris, menjadi teks yang hidup. Tetapi, salah satu peserta diskusi yang sedari tadi membatu tapi matanya getir—melemparkan sebuah pernyataan.

EKO SAPUTRA

Kalau saya melihat gambar Ferdi dan juga puisi yang dibacakan Adwan SA tadi, saya teringat dengan kejadian yang menimpa saudara kita di Sumatera Utara dan Aceh. Seperti yang kita sama-sama tahu bahwa di sana, terjadi banjir bandang. Di mana dampak dari aktivitas penggundulan hutan secara masif untuk pembukaan lahan. Dibuktikan dengan gelondongan-gelondongan kayu, yang bernomor seri. Tentu saya melihat keterkaitan antara gambar dan puisi Adwan lebih ke arah sana.

Pernyataan Eko membuat ruangan diskusi makin terpantik kembali, Ferdi melirik kaus yang dikenakan oleh Asmaran Dani bertuliskan Antropogenik. Kaus sebuah pertunjukan dari Teater Potlot pada Covid-19 tepatnya 2020, juga Ferdi sebagai bagian dari pertunjukan itu.

FERDIAN SEMAI

Yah itu, kaus Dani. Itu menggambarkan perilaku yang Eko bilang tadi, pengrusakan alam yang dilakukan oleh manusia demi untuk memuaskan kepentingan manusia itu sendiri. Syukurlah Eko melihat ini ke arah yang lebih luas, yang landscape. Sebab, puisi sudah seharusnya menjadi alat kegelisahan seniman hari ini tentang kehancuran alam yang semakin masifnya.

Bahkan Ferdi mengibaratkan, 4 juta hektare di Sumatera yang beralih menjadi perkebunan monokultur itu, jika kita menggambarkan detik jam. Setiap detik jam itu satu pohon ditebang, bayangkan beberapa juta detik untuk memenuhi kerakusan manusia itu sendiri. Ditimpal Ferdi.

FERDIAN SEMAI

Sejak awal sudah aku katakan bahwa sajak Adwan ini indah dan verbal. Hanya sebatas itu, tetapi cukup baik. Tentu ini bisa berkembang menjadi baik dan baik lagi ke depannya, jika puisi melibatkan situasi zaman seperti Chairil Anwar, semangat untuk merdeka itu yang digunakan dalam teks-teksnya. Jadi penyair itu punya zaman, hari ini apa yang kita rasakan? Itulah yang kita titik beratkan pada puisi dan karya sastra yang hendak Opus Sastra hadirkan ini

Dengan pernyataan Ferdi, penulis selaku moderator merasa sudah cukup jelas untuk menutup diskusi ini. Alhasil, penutupan diskusi “Dialog Ferdi dan Opus Sastra” yang telah tersaji dalam kurun waktu satu bulan—selesai sudah dengan semangat diskusi yang tidak pudar sedikit pun. [T]

Penulis: Mahesa Putra
Foto-foto: Opus Sastra
Editor: Adnyana Ole

Tags: PalembangPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

Next Post

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Mahesa Putra

Mahesa Putra

Pengasuh kedai kopi bernama Roemah Tumbuh Kembang. Juga menulis puisi sebagai kerangka berpikir. Aktif berkegiatan dengan komunitas Opus Sastra yang berada di Palembang. Telah menerbitkan dua novel Dunia Dalam Serkap (2025), Mate Taun (2026). Instagram: tementanah

Related Posts

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

by I Wayan Westa
October 27, 2026
0
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

Read moreDetails

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails
Next Post
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co