17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Nyoman Mariyana by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
in Esai
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Foto oleh Nyoman Mariyana

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang membentuk identitas, sistem nilai, cara berpikir, hingga pandangan hidup suatu komunitas. Dalam setiap tradisi terkandung pengetahuan lokal, filosofi kehidupan, etika sosial, estetika, dan spiritualitas yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman. Oleh sebab itu, menggali tradisi bukanlah aktivitas untuk mengenang masa lalu semata, tetapi merupakan upaya membangun masa depan melalui pemahaman terhadap akar budaya yang dimiliki.

Di era modern, perkembangan teknologi dan globalisasi menghadirkan perubahan sosial yang sangat cepat. Berbagai budaya global dengan mudah memasuki ruang kehidupan masyarakat melalui media digital sehingga perlahan menggeser perhatian generasi muda terhadap budaya lokal. Tradisi mulai dipandang sebagai sesuatu yang kuno, tidak praktis, bahkan dianggap menghambat kemajuan. Pandangan demikian menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan budaya karena ketika tradisi tidak lagi dipelajari, dipahami, dan dipraktikkan, maka sesungguhnya tradisi sedang menuju kepunahannya. Tradisi tidak mati karena hilangnya benda-benda budaya, tetapi mati ketika masyarakat kehilangan kesadaran akan makna yang dikandungnya.

Dalam perspektif antropologi budaya, tradisi merupakan embrio kehidupan generasi penerus. Melalui tradisi, masyarakat mewariskan berbagai nilai yang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan. Proses pewarisan tersebut dikenal sebagai enkulturasi. Menurut Melville J. Herskovits, enkulturasi adalah proses ketika individu mempelajari dan menghayati kebudayaan masyarakatnya sejak lahir melalui keluarga, lingkungan sosial, pendidikan, maupun pengalaman hidup. Enkulturasi tidak hanya mengajarkan seseorang tentang tata cara melakukan suatu tradisi, tetapi juga menanamkan makna yang melatarbelakangi praktik budaya tersebut.

Melalui enkulturasi, seseorang mulai mengenali siapa dirinya, dari mana asal budayanya, serta bagaimana hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Dalam konteks kebudayaan Bali misalnya, berbagai tradisi seni, ritual, maupun adat istiadat bukan hanya dipelajari sebagai keterampilan teknis, tetapi menjadi media pendidikan karakter yang membentuk rasa hormat, gotong royong, tanggung jawab, serta keseimbangan hidup. Dengan demikian, menggali tradisi sesungguhnya merupakan upaya membangun kepekaan budaya yang akan menumbuhkan kecintaan dan kepedulian terhadap warisan leluhur.

Namun demikian, proses pewarisan budaya tidak akan menghasilkan keberlanjutan apabila berhenti pada tahap mengenal atau mempraktikkan tradisi. Nilai-nilai budaya harus masuk ke dalam kesadaran individu sehingga menjadi keyakinan yang memengaruhi cara berpikir dan bertindak. Dalam teori konstruksi sosial yang dikemukakan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, proses tersebut disebut internalisasi, yaitu tahap ketika realitas sosial diterima sebagai bagian dari identitas pribadi. Internalisasi menjadikan nilai budaya tidak lagi dipandang sebagai aturan yang dipaksakan dari luar, tetapi menjadi kesadaran batin yang diyakini sebagai sesuatu yang benar dan layak dijaga.

Ketika seseorang menginternalisasi nilai tradisinya, ia tidak lagi melestarikan budaya karena tuntutan adat semata, melainkan karena memiliki keyakinan bahwa tradisi tersebut mengandung nilai kehidupan yang penting. Kesadaran inilah yang membentuk rasa memiliki terhadap budaya. Kepedulian terhadap tradisi kemudian tumbuh secara alami, bukan karena adanya kewajiban, tetapi karena adanya kesadaran bahwa keberadaan tradisi merupakan bagian dari keberadaan dirinya sendiri.

Proses enkulturasi dan internalisasi selanjutnya akan membentuk apa yang oleh Pierre Bourdieu disebut sebagai habitus. Habitus merupakan sistem disposisi yang terbentuk melalui pengalaman hidup dan secara terus-menerus memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak. Dalam konteks tradisi, habitus menjelaskan mengapa seseorang yang tumbuh dalam lingkungan budaya tertentu akan memiliki kecenderungan untuk mempertahankan, mengembangkan, bahkan menciptakan bentuk-bentuk kebudayaan baru tanpa harus meninggalkan akar tradisinya.

Habitus budaya menunjukkan bahwa tradisi bukan sesuatu yang statis. Tradisi justru menjadi sumber kreativitas yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Seseorang yang memiliki habitus budaya yang kuat tidak hanya menjadi pelaku tradisi, tetapi mampu menjadi pencipta karya baru, peneliti, pendidik, kurator budaya, maupun penulis yang dapat menarasikan kembali nilai-nilai budaya kepada masyarakat luas. Tradisi kemudian berubah menjadi sumber inspirasi yang melahirkan inovasi tanpa kehilangan identitasnya.

Dalam perspektif ini, menggali tradisi tidak berhenti pada kegiatan dokumentasi atau pelestarian fisik semata. Menggali tradisi berarti menelusuri sejarahnya, memahami filosofi yang melatarbelakanginya, mengidentifikasi fungsi sosial dan religiusnya, serta mengungkap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Hasil penggalian tersebut menjadi dasar bagi lahirnya regenerasi budaya yang berkelanjutan. Generasi muda tidak sekadar mewarisi bentuk luar suatu tradisi, tetapi memahami makna yang menjadikannya tetap relevan sepanjang waktu.

Tradisi yang berhasil digali secara mendalam akan melahirkan regenerasi yang sehat. Regenerasi bukan hanya menghasilkan penerus yang mampu mengulang apa yang dilakukan generasi sebelumnya, tetapi juga individu yang mampu mengembangkan tradisi sesuai kebutuhan zamannya. Di sinilah tradisi menjadi embrio lahirnya inovasi. Berbagai penciptaan karya seni baru, penelitian akademik, dokumentasi digital, pendidikan budaya, hingga pengembangan pariwisata budaya pada hakikatnya berawal dari pemahaman yang mendalam terhadap akar tradisi.

Sebaliknya, apabila tradisi tidak pernah digali, maka yang diwariskan hanyalah bentuk-bentuk simbolik tanpa makna. Lambat laun masyarakat hanya mengetahui cara melaksanakan tradisi, tetapi tidak memahami alasan mengapa tradisi tersebut ada. Kondisi seperti ini menyebabkan tradisi mudah ditinggalkan ketika menghadapi perubahan sosial karena masyarakat tidak lagi memiliki ikatan emosional maupun intelektual terhadap nilai-nilai yang dikandungnya. Kepunahan tradisi selalu diawali oleh hilangnya pemahaman.

Oleh karena itu, apa yang diwariskan oleh leluhur tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang remeh atau usang. Warisan budaya merupakan jejak awal perjalanan suatu peradaban. Jejak tersebut perlu diketahui agar generasi sekarang memiliki pijakan yang kokoh dalam menapaki tangga perkembangan berikutnya. Seseorang tidak akan mampu menciptakan pembaruan yang bermakna apabila ia kehilangan hubungan dengan akar budayanya. Semakin dalam seseorang mengenali tradisinya, semakin besar pula kemampuannya menghasilkan pembaruan yang tetap berakar pada identitas budayanya sendiri.

Pada akhirnya, keberlangsungan tradisi sangat ditentukan oleh kesediaan setiap generasi untuk menggali, memahami, menghayati, dan mengembangkannya. Enkulturasi membentuk proses pewarisan budaya, internalisasi menanamkan nilai menjadi keyakinan hidup, sedangkan habitus melahirkan tindakan kreatif yang menjaga keberlanjutan budaya. Ketiga proses tersebut menjadi satu rangkaian yang memastikan tradisi tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus hidup sebagai sumber inspirasi, identitas, dan peradaban bagi generasi kini maupun generasi yang akan datang.[T]

Penulis: Nyoman Mariyana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Budayakesenian baliSeniTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

Next Post

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

Nyoman Mariyana

Nyoman Mariyana

I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. Lahir di Sempidi, 08 Maret 1985. Kini dosen Seni Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Penulis buku Gamelan Gender Wayang (Mahima, 2021)

Related Posts

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails
Next Post
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co