6 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Nyoman Mariyana by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
in Esai
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Foto oleh Nyoman Mariyana

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang membentuk identitas, sistem nilai, cara berpikir, hingga pandangan hidup suatu komunitas. Dalam setiap tradisi terkandung pengetahuan lokal, filosofi kehidupan, etika sosial, estetika, dan spiritualitas yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman. Oleh sebab itu, menggali tradisi bukanlah aktivitas untuk mengenang masa lalu semata, tetapi merupakan upaya membangun masa depan melalui pemahaman terhadap akar budaya yang dimiliki.

Di era modern, perkembangan teknologi dan globalisasi menghadirkan perubahan sosial yang sangat cepat. Berbagai budaya global dengan mudah memasuki ruang kehidupan masyarakat melalui media digital sehingga perlahan menggeser perhatian generasi muda terhadap budaya lokal. Tradisi mulai dipandang sebagai sesuatu yang kuno, tidak praktis, bahkan dianggap menghambat kemajuan. Pandangan demikian menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan budaya karena ketika tradisi tidak lagi dipelajari, dipahami, dan dipraktikkan, maka sesungguhnya tradisi sedang menuju kepunahannya. Tradisi tidak mati karena hilangnya benda-benda budaya, tetapi mati ketika masyarakat kehilangan kesadaran akan makna yang dikandungnya.

Dalam perspektif antropologi budaya, tradisi merupakan embrio kehidupan generasi penerus. Melalui tradisi, masyarakat mewariskan berbagai nilai yang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan. Proses pewarisan tersebut dikenal sebagai enkulturasi. Menurut Melville J. Herskovits, enkulturasi adalah proses ketika individu mempelajari dan menghayati kebudayaan masyarakatnya sejak lahir melalui keluarga, lingkungan sosial, pendidikan, maupun pengalaman hidup. Enkulturasi tidak hanya mengajarkan seseorang tentang tata cara melakukan suatu tradisi, tetapi juga menanamkan makna yang melatarbelakangi praktik budaya tersebut.

Melalui enkulturasi, seseorang mulai mengenali siapa dirinya, dari mana asal budayanya, serta bagaimana hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Dalam konteks kebudayaan Bali misalnya, berbagai tradisi seni, ritual, maupun adat istiadat bukan hanya dipelajari sebagai keterampilan teknis, tetapi menjadi media pendidikan karakter yang membentuk rasa hormat, gotong royong, tanggung jawab, serta keseimbangan hidup. Dengan demikian, menggali tradisi sesungguhnya merupakan upaya membangun kepekaan budaya yang akan menumbuhkan kecintaan dan kepedulian terhadap warisan leluhur.

Namun demikian, proses pewarisan budaya tidak akan menghasilkan keberlanjutan apabila berhenti pada tahap mengenal atau mempraktikkan tradisi. Nilai-nilai budaya harus masuk ke dalam kesadaran individu sehingga menjadi keyakinan yang memengaruhi cara berpikir dan bertindak. Dalam teori konstruksi sosial yang dikemukakan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, proses tersebut disebut internalisasi, yaitu tahap ketika realitas sosial diterima sebagai bagian dari identitas pribadi. Internalisasi menjadikan nilai budaya tidak lagi dipandang sebagai aturan yang dipaksakan dari luar, tetapi menjadi kesadaran batin yang diyakini sebagai sesuatu yang benar dan layak dijaga.

Ketika seseorang menginternalisasi nilai tradisinya, ia tidak lagi melestarikan budaya karena tuntutan adat semata, melainkan karena memiliki keyakinan bahwa tradisi tersebut mengandung nilai kehidupan yang penting. Kesadaran inilah yang membentuk rasa memiliki terhadap budaya. Kepedulian terhadap tradisi kemudian tumbuh secara alami, bukan karena adanya kewajiban, tetapi karena adanya kesadaran bahwa keberadaan tradisi merupakan bagian dari keberadaan dirinya sendiri.

Proses enkulturasi dan internalisasi selanjutnya akan membentuk apa yang oleh Pierre Bourdieu disebut sebagai habitus. Habitus merupakan sistem disposisi yang terbentuk melalui pengalaman hidup dan secara terus-menerus memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak. Dalam konteks tradisi, habitus menjelaskan mengapa seseorang yang tumbuh dalam lingkungan budaya tertentu akan memiliki kecenderungan untuk mempertahankan, mengembangkan, bahkan menciptakan bentuk-bentuk kebudayaan baru tanpa harus meninggalkan akar tradisinya.

Habitus budaya menunjukkan bahwa tradisi bukan sesuatu yang statis. Tradisi justru menjadi sumber kreativitas yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Seseorang yang memiliki habitus budaya yang kuat tidak hanya menjadi pelaku tradisi, tetapi mampu menjadi pencipta karya baru, peneliti, pendidik, kurator budaya, maupun penulis yang dapat menarasikan kembali nilai-nilai budaya kepada masyarakat luas. Tradisi kemudian berubah menjadi sumber inspirasi yang melahirkan inovasi tanpa kehilangan identitasnya.

Dalam perspektif ini, menggali tradisi tidak berhenti pada kegiatan dokumentasi atau pelestarian fisik semata. Menggali tradisi berarti menelusuri sejarahnya, memahami filosofi yang melatarbelakanginya, mengidentifikasi fungsi sosial dan religiusnya, serta mengungkap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Hasil penggalian tersebut menjadi dasar bagi lahirnya regenerasi budaya yang berkelanjutan. Generasi muda tidak sekadar mewarisi bentuk luar suatu tradisi, tetapi memahami makna yang menjadikannya tetap relevan sepanjang waktu.

Tradisi yang berhasil digali secara mendalam akan melahirkan regenerasi yang sehat. Regenerasi bukan hanya menghasilkan penerus yang mampu mengulang apa yang dilakukan generasi sebelumnya, tetapi juga individu yang mampu mengembangkan tradisi sesuai kebutuhan zamannya. Di sinilah tradisi menjadi embrio lahirnya inovasi. Berbagai penciptaan karya seni baru, penelitian akademik, dokumentasi digital, pendidikan budaya, hingga pengembangan pariwisata budaya pada hakikatnya berawal dari pemahaman yang mendalam terhadap akar tradisi.

Sebaliknya, apabila tradisi tidak pernah digali, maka yang diwariskan hanyalah bentuk-bentuk simbolik tanpa makna. Lambat laun masyarakat hanya mengetahui cara melaksanakan tradisi, tetapi tidak memahami alasan mengapa tradisi tersebut ada. Kondisi seperti ini menyebabkan tradisi mudah ditinggalkan ketika menghadapi perubahan sosial karena masyarakat tidak lagi memiliki ikatan emosional maupun intelektual terhadap nilai-nilai yang dikandungnya. Kepunahan tradisi selalu diawali oleh hilangnya pemahaman.

Oleh karena itu, apa yang diwariskan oleh leluhur tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang remeh atau usang. Warisan budaya merupakan jejak awal perjalanan suatu peradaban. Jejak tersebut perlu diketahui agar generasi sekarang memiliki pijakan yang kokoh dalam menapaki tangga perkembangan berikutnya. Seseorang tidak akan mampu menciptakan pembaruan yang bermakna apabila ia kehilangan hubungan dengan akar budayanya. Semakin dalam seseorang mengenali tradisinya, semakin besar pula kemampuannya menghasilkan pembaruan yang tetap berakar pada identitas budayanya sendiri.

Pada akhirnya, keberlangsungan tradisi sangat ditentukan oleh kesediaan setiap generasi untuk menggali, memahami, menghayati, dan mengembangkannya. Enkulturasi membentuk proses pewarisan budaya, internalisasi menanamkan nilai menjadi keyakinan hidup, sedangkan habitus melahirkan tindakan kreatif yang menjaga keberlanjutan budaya. Ketiga proses tersebut menjadi satu rangkaian yang memastikan tradisi tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus hidup sebagai sumber inspirasi, identitas, dan peradaban bagi generasi kini maupun generasi yang akan datang.[T]

Penulis: Nyoman Mariyana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Budayakesenian baliSeniTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

Next Post

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

Nyoman Mariyana

Nyoman Mariyana

I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. Lahir di Sempidi, 08 Maret 1985. Kini dosen Seni Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Penulis buku Gamelan Gender Wayang (Mahima, 2021)

Related Posts

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
0
Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

Read moreDetails

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

Read moreDetails

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
0
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

Read moreDetails

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
0
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

Read moreDetails

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

by I Wayan Artika
July 2, 2026
0
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

Read moreDetails

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
0
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

Read moreDetails

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
0
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

Read moreDetails

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

by Iko Amadeus
June 30, 2026
0
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

Read moreDetails

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
0
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

Read moreDetails

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
0
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

Read moreDetails
Next Post
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali
Esai

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati
Esai

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang...

by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Ulas Rupa

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

by Mahesa Putra
July 6, 2026
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Pameran

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

by Adwan SA
July 6, 2026
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak
Kritik Seni

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

by Arief Rahzen
July 6, 2026
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra
Panggung

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 6, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat
Ulas Rupa

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

by Hartanto
July 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co