19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
in Tualang
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

Penulis di puncak Gunung Merbabu / Foto Dok.Penulis

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl, di puncak Gunung Merbabu, di Jawa Tengah, melalui jalur Suwanting.

Sejak lama, saya membayangkan momen berdiri di atas awan, memandang hamparan alam yang tak terbatas. Dalam bayangan itu, puncak selalu tampak sebagai tujuan. Namun saya belum sepenuhnya menyadari bahwa perjalananlah yang justru akan mengubah cara saya memaknai tujuan itu sendiri.

Gunung Merbabu, sebuah gunung berapi tipe stratovolcano yang terakhir meletus pada tahun 1797, dikenal sebagai “Gunung Wanita.” Selain kaya akan nilai sejarah dan spiritual bagi masyarakat Jawa, gunung ini juga menyuguhkan sabana luas yang memikat. Seolah-olah, sejak awal gunung ini memang bukan hanya ruang geografis, melainkan ruang pembelajaran: tentang kesabaran, keterbatasan, dan hubungan manusia dengan alam.

Bersama rekan-rekan di puncak Merbabu | Foto Dok.Penulis

Perjalanan dimulai dari sebuah rencana sederhana. Saya menghubungi seorang teman di Sleman. Karena aturan pendakian yang ketat, kami memutuskan membentuk tim. Lewat media sosial, kami mengajak beberapa orang yang awalnya tidak saling mengenal.

Anehnya, dari ruang asing itu tumbuh kepercayaan. Di titik ini, saya mulai memahami bahwa tujuan bersama sering kali mampu melampaui batas-batas individual, bahkan sebelum langkah pertama dimulai.

Kami membuat grup komunikasi untuk menyusun rencana perjalanan. Saya dan teman saya berangkat dari Sleman menggunakan sepeda motor menuju basecamp, sementara anggota lain datang dari Jakarta menggunakan mobil. Akhirnya, kami berkumpul di titik awal dengan persiapan yang cukup matang. Persiapan ini bukan hanya soal logistik, tetapi juga latihan kecil tentang koordinasi, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa perjalanan ini tidak bisa dijalani sendirian.

Pohon viral di Merbabu | Foto Dok.Penulis

Saat registrasi, kami mendapat pengarahan mengenai jalur pendakian serta aturan terkait logistik dan pengelolaan sampah. Di sini, alam seolah memberi pesan awal: bahwa mendaki bukan sekadar menaklukkan, melainkan juga menjaga. Bahwa manusia hanyalah tamu di ruang yang lebih besar dari dirinya.

Perjalanan pun Dimulai

Sejak langkah pertama menuju Pos 1, jalur Suwanting sudah menunjukkan karakternya: terjal dan menguras tenaga. Namun semangat masih terjaga. Kami sempat berhenti di Pos 1 untuk berfoto; sebuah tanda kecil dari perjalanan panjang yang baru saja dimulai. Pada tahap ini, euforia masih mendominasi, dan rasa lelah belum sepenuhnya terasa. Ini adalah fase di mana tujuan terlihat dekat, meskipun sebenarnya perjalanan masih panjang.

Menuju Pos 2, tantangan semakin terasa. Akar-akar pohon yang mencuat menjadi pijakan sekaligus tempat beristirahat. Di Pos 2, kami berhenti lebih lama: makan, mengisi energi, dan tidak melupakan ibadah. Di sinilah perjalanan mulai berubah makna; dari sekadar aktivitas fisik menjadi ruang refleksi. Tubuh mulai lelah, dan di saat yang sama, kesadaran muncul bahwa kekuatan bukan hanya berasal dari fisik, tetapi juga dari ketenangan batin.

Menatap awan di Merbabu | Foto Dok.Penulis

Perjalanan menuju Pos 3 menjadi ujian sesungguhnya. Jalur semakin curam dan tidak rata. Beban logistik terasa semakin berat. Kami berjalan perlahan; berhenti, menarik napas, lalu melangkah lagi. Ritme ini terasa sederhana, tetapi justru di situlah pelajaran penting muncul: bahwa hidup tidak selalu tentang kecepatan, melainkan tentang konsistensi.

Don’t Give up on Your Faith

Di tengah kelelahan, alam mulai memperlihatkan keindahannya. Senja turun perlahan, awan menutupi lembah, dan siluet gunung-gunung lain tampak di kejauhan. Rasa lelah seakan terbayar oleh pemandangan yang tak tergantikan. Di titik ini, saya menyadari satu hal: keindahan sering kali hadir setelah perjuangan, seolah menjadi bentuk penghargaan atas ketahanan.

Malam tiba saat kami mencapai sumber air. Kami mengisi persediaan untuk esok hari, lalu melanjutkan ke Pos 3 untuk mendirikan tenda. Udara dingin menusuk, namun kehangatan kebersamaan terasa nyata. Kami memasak bersama, berbagi cerita, dan tertawa dalam keterbatasan. Dari sini saya belajar, bahwa solidaritas tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari situasi sulit yang dihadapi bersama.

Pagi datang dengan suasana yang berbeda; sunyi, damai, dan penuh harapan. Burung-burung beterbangan, kota terlihat dari kejauhan, dan gunung-gunung berdiri megah di cakrawala. Dalam kesunyian itu, muncul kesadaran baru: bahwa semakin tinggi seseorang melangkah, semakin ia diajak untuk diam dan merenung.

Love Comes to Those Who Believe it

Kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Jalur semakin menantang, tetapi kebersamaan menjadi kekuatan utama. Tidak ada lagi ego yang menonjol. Yang ada hanyalah langkah yang diselaraskan. Di sinilah makna tim benar-benar terasa: bukan tentang siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang mampu bertahan bersama.

Dan akhirnya, kami tiba di puncak.

Segala lelah, rasa sakit, dan perjuangan seolah luruh dalam satu momen. Berdiri di titik tertinggi, saya hanya bisa terdiam, terharu, dan bersyukur. Namun, yang paling saya rasakan bukanlah kemenangan, melainkan pemahaman: bahwa puncak bukanlah akhir, melainkan titik di mana kita melihat kembali seluruh proses yang telah dilalui.

Indahnya Merbabu | Foto Dok.Penulis

Apa yang selama ini hanya ada dalam bayangan, kini menjadi nyata. Tetapi lebih dari itu, saya pulang dengan sesuatu yang tak terlihat; cara pandang yang baru tentang hidup, tentang proses, dan tentang arti berjalan bersama.

That’s the way it is. [T]

Penulis: Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gunung MerbabuMendaki Gunung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali, Citra dan Sampah

Next Post

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi

Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi

Alumni Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP Untirta, Banten

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng ---Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali
Khas

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

by Ingga Adelia
October 18, 2026
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali
Pameran

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co