7 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filosofi Sepiring Prasmanan: Ketika Isi Perut Menguji Isi Kepala

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
June 7, 2026
in Esai
Filosofi Sepiring Prasmanan: Ketika Isi Perut Menguji Isi Kepala

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP kali menghadiri acara hajatan, seminar, reuni, atau pertemuan keluarga besar, ada satu momen yang hampir selalu ditunggu banyak orang: saat prasmanan dibuka. Entah mengapa, pengumuman bahwa makanan sudah siap disantap sering kali mampu mengalihkan perhatian dari apa pun yang sedang berlangsung. Obrolan yang sebelumnya hangat mendadak terputus, kursi-kursi mulai ditinggalkan, dan barisan manusia perlahan terbentuk di depan meja hidangan.

Prasmanan memang menarik. Di sana, setiap orang bebas memilih apa yang ingin dimakan, menentukan porsi sesuai selera, dan menikmati beragam menu dalam satu waktu. Namun di balik kebebasan itu, ada serangkaian aturan tak tertulis yang seolah dipahami bersama oleh semua orang. Tidak ada papan pengumuman yang menjelaskannya. Tidak ada petugas yang mengingatkan. Meski begitu, sebagian besar orang tahu bahwa aturan-aturan tersebut perlu dihormati agar suasana tetap nyaman.

Aturan pertama yang paling mendasar adalah soal antrean. Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin ada banyak situasi ketika orang tergoda untuk mencari jalan pintas. Namun di depan meja prasmanan, antrean menjadi semacam hukum alam. Semua orang memahami bahwa siapa yang datang lebih dulu berhak mengambil makanan lebih dahulu. Ketika ada seseorang yang tiba-tiba menyelip dari samping dan langsung mengambil piring, suasana biasanya langsung berubah.

Tidak ada yang menegur secara terbuka, tetapi tatapan mata dari beberapa orang sering kali sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ada etika yang sedang dilanggar. Menariknya, antrean di prasmanan juga memperlihatkan karakter manusia. Ada yang sabar menunggu meskipun barisan panjang. Ada yang berkali-kali menjulurkan leher untuk melihat apakah makanan favoritnya masih tersedia. Ada pula yang tampak gelisah seolah-olah hidangan akan habis dalam hitungan detik.

Padahal, pada banyak acara, panitia atau tuan rumah sudah menyiapkan makanan dalam jumlah yang cukup. Kekhawatiran itu sering kali lebih banyak berasal dari naluri manusia daripada kenyataan. Aturan tak tertulis berikutnya adalah mengambil makanan secukupnya. Hampir semua orang pernah melihat pemandangan seseorang yang memenuhi piring hingga menyerupai bukit kecil.

Nasi bertumpuk, lauk saling menindih, kerupuk diselipkan di sudut-sudut yang tersisa, dan kuah berusaha bertahan agar tidak tumpah. Tidak ada larangan resmi untuk mengambil banyak makanan. Namun ada kesadaran bersama bahwa prasmanan adalah ruang berbagi. Ketika seseorang mengambil secara berlebihan, muncul kekhawatiran bahwa orang lain mungkin tidak kebagian.

Karena itu, banyak orang memilih strategi yang dianggap lebih sopan: mengambil secukupnya terlebih dahulu, lalu kembali lagi jika masih ingin menambah. Cara ini bukan hanya lebih adil bagi tamu lain, tetapi juga mengurangi kemungkinan makanan terbuang. Pada akhirnya, tidak ada yang lebih disayangkan daripada melihat piring penuh makanan yang akhirnya tidak habis dimakan.

Selain soal porsi, ada pula aturan mengenai kecepatan. Prasmanan bukan tempat untuk merenung terlalu lama. Memang memilih makanan membutuhkan waktu, tetapi berdiri berlama-lama di depan meja sambil mempertimbangkan setiap pilihan bisa membuat antrean tersendat. Semua orang tentu berhak menentukan menu favoritnya, tetapi ada kesadaran bahwa di belakang masih ada banyak orang yang menunggu giliran.

Situasi ini sering menghadirkan pemandangan yang lucu. Seseorang berdiri dengan piring kosong sambil menatap seluruh hidangan seperti sedang menghadapi ujian hidup. Matanya berpindah dari ayam goreng ke rendang, lalu ke sate, kemudian kembali lagi ke ayam goreng. Sementara itu, antrean di belakang mulai memanjang. Pada titik tertentu, keputusan harus dibuat. Tidak harus sempurna, yang penting barisan tetap bergerak.

Aturan tak tertulis lainnya berkaitan dengan alat saji. Sendok sayur untuk sup sebaiknya tetap berada di wadah sup. Penjepit ayam sebaiknya tidak digunakan untuk mengambil buah. Hal-hal seperti ini terdengar sepele, tetapi sangat menentukan kenyamanan bersama. Ketika alat saji berpindah tempat atau tercampur, orang berikutnya akan kesulitan. Dalam acara besar, kekacauan kecil semacam itu dapat menyebar dengan cepat dan membuat meja prasmanan terlihat berantakan.

Ada pula etika yang jarang dibahas tetapi hampir selalu dipraktikkan, yaitu memberi kesempatan kepada kelompok tertentu untuk mengambil makanan lebih dulu. Lansia, ibu yang membawa anak kecil, atau tamu kehormatan biasanya mendapat ruang untuk mendahului antrean. Tidak ada kewajiban tertulis yang mengatur hal tersebut, tetapi banyak orang melakukannya sebagai bentuk penghormatan dan kepedulian.

Sikap semacam ini menunjukkan bahwa prasmanan bukan sekadar urusan makan, melainkan juga cerminan hubungan sosial. Di sisi lain, prasmanan juga menjadi panggung kecil bagi berbagai strategi manusia. Ada yang langsung menuju menu favorit sebelum mengambil yang lain. Ada yang berkeliling terlebih dahulu untuk melakukan “survei lapangan”. Ada yang sengaja menyisakan ruang di piring untuk hidangan penutup.

Bahkan ada pula yang sudah memiliki perencanaan matang sejak awal melihat susunan meja makanan. Semua strategi itu sah-sah saja selama tidak mengganggu orang lain. Menariknya, aturan tak tertulis di prasmanan tidak lahir dari peraturan resmi, melainkan dari pengalaman kolektif. Orang-orang belajar dari kebiasaan yang terus berulang. Mereka memahami bahwa kenyamanan bersama hanya bisa tercipta jika setiap individu bersedia membatasi dirinya sedikit.

Tidak menyerobot antrean, tidak mengambil berlebihan, tidak menghambat orang lain, dan tidak membuat kekacauan di meja saji merupakan bentuk-bentuk kecil dari kesadaran tersebut. Jika dipikirkan lebih jauh, prasmanan sebenarnya menyerupai miniatur kehidupan sosial. Di sana ada sumber daya yang digunakan bersama, ada kebutuhan pribadi yang ingin dipenuhi, dan ada kepentingan orang lain yang harus dipertimbangkan.

Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati hidangan, tetapi kesempatan itu berjalan baik hanya ketika semua pihak menghormati aturan yang tidak pernah dituliskan. Mungkin karena itulah prasmanan selalu menarik untuk diamati. Di balik piring, sendok, dan aneka hidangan, terdapat pelajaran sederhana tentang bagaimana manusia hidup berdampingan.

Kita belajar menunggu giliran, berbagi ruang, menghargai orang lain, dan mengambil secukupnya. Nilai-nilai itu tampak sederhana, tetapi justru menjadi fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat. Keberhasilan sebuah prasmanan tidak hanya ditentukan oleh lezatnya makanan yang disajikan. Suasana yang tertib, nyaman, dan saling menghormati juga memiliki peran yang sama besar.

Dan semua itu terwujud bukan karena adanya aturan resmi yang dipasang di dinding, melainkan karena adanya kesepahaman diam-diam yang dijaga bersama. Sebuah kesepahaman yang membuat puluhan bahkan ratusan orang dapat menikmati makanan dalam satu ruang tanpa banyak masalah. Itulah kekuatan dari aturan tak tertulis yang hidup di setiap prasmanan. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: filosofimakananprasmanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Next Post

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co