27 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filosofi Sepiring Prasmanan: Ketika Isi Perut Menguji Isi Kepala

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
June 7, 2026
in Esai
Filosofi Sepiring Prasmanan: Ketika Isi Perut Menguji Isi Kepala

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP kali menghadiri acara hajatan, seminar, reuni, atau pertemuan keluarga besar, ada satu momen yang hampir selalu ditunggu banyak orang: saat prasmanan dibuka. Entah mengapa, pengumuman bahwa makanan sudah siap disantap sering kali mampu mengalihkan perhatian dari apa pun yang sedang berlangsung. Obrolan yang sebelumnya hangat mendadak terputus, kursi-kursi mulai ditinggalkan, dan barisan manusia perlahan terbentuk di depan meja hidangan.

Prasmanan memang menarik. Di sana, setiap orang bebas memilih apa yang ingin dimakan, menentukan porsi sesuai selera, dan menikmati beragam menu dalam satu waktu. Namun di balik kebebasan itu, ada serangkaian aturan tak tertulis yang seolah dipahami bersama oleh semua orang. Tidak ada papan pengumuman yang menjelaskannya. Tidak ada petugas yang mengingatkan. Meski begitu, sebagian besar orang tahu bahwa aturan-aturan tersebut perlu dihormati agar suasana tetap nyaman.

Aturan pertama yang paling mendasar adalah soal antrean. Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin ada banyak situasi ketika orang tergoda untuk mencari jalan pintas. Namun di depan meja prasmanan, antrean menjadi semacam hukum alam. Semua orang memahami bahwa siapa yang datang lebih dulu berhak mengambil makanan lebih dahulu. Ketika ada seseorang yang tiba-tiba menyelip dari samping dan langsung mengambil piring, suasana biasanya langsung berubah.

Tidak ada yang menegur secara terbuka, tetapi tatapan mata dari beberapa orang sering kali sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ada etika yang sedang dilanggar. Menariknya, antrean di prasmanan juga memperlihatkan karakter manusia. Ada yang sabar menunggu meskipun barisan panjang. Ada yang berkali-kali menjulurkan leher untuk melihat apakah makanan favoritnya masih tersedia. Ada pula yang tampak gelisah seolah-olah hidangan akan habis dalam hitungan detik.

Padahal, pada banyak acara, panitia atau tuan rumah sudah menyiapkan makanan dalam jumlah yang cukup. Kekhawatiran itu sering kali lebih banyak berasal dari naluri manusia daripada kenyataan. Aturan tak tertulis berikutnya adalah mengambil makanan secukupnya. Hampir semua orang pernah melihat pemandangan seseorang yang memenuhi piring hingga menyerupai bukit kecil.

Nasi bertumpuk, lauk saling menindih, kerupuk diselipkan di sudut-sudut yang tersisa, dan kuah berusaha bertahan agar tidak tumpah. Tidak ada larangan resmi untuk mengambil banyak makanan. Namun ada kesadaran bersama bahwa prasmanan adalah ruang berbagi. Ketika seseorang mengambil secara berlebihan, muncul kekhawatiran bahwa orang lain mungkin tidak kebagian.

Karena itu, banyak orang memilih strategi yang dianggap lebih sopan: mengambil secukupnya terlebih dahulu, lalu kembali lagi jika masih ingin menambah. Cara ini bukan hanya lebih adil bagi tamu lain, tetapi juga mengurangi kemungkinan makanan terbuang. Pada akhirnya, tidak ada yang lebih disayangkan daripada melihat piring penuh makanan yang akhirnya tidak habis dimakan.

Selain soal porsi, ada pula aturan mengenai kecepatan. Prasmanan bukan tempat untuk merenung terlalu lama. Memang memilih makanan membutuhkan waktu, tetapi berdiri berlama-lama di depan meja sambil mempertimbangkan setiap pilihan bisa membuat antrean tersendat. Semua orang tentu berhak menentukan menu favoritnya, tetapi ada kesadaran bahwa di belakang masih ada banyak orang yang menunggu giliran.

Situasi ini sering menghadirkan pemandangan yang lucu. Seseorang berdiri dengan piring kosong sambil menatap seluruh hidangan seperti sedang menghadapi ujian hidup. Matanya berpindah dari ayam goreng ke rendang, lalu ke sate, kemudian kembali lagi ke ayam goreng. Sementara itu, antrean di belakang mulai memanjang. Pada titik tertentu, keputusan harus dibuat. Tidak harus sempurna, yang penting barisan tetap bergerak.

Aturan tak tertulis lainnya berkaitan dengan alat saji. Sendok sayur untuk sup sebaiknya tetap berada di wadah sup. Penjepit ayam sebaiknya tidak digunakan untuk mengambil buah. Hal-hal seperti ini terdengar sepele, tetapi sangat menentukan kenyamanan bersama. Ketika alat saji berpindah tempat atau tercampur, orang berikutnya akan kesulitan. Dalam acara besar, kekacauan kecil semacam itu dapat menyebar dengan cepat dan membuat meja prasmanan terlihat berantakan.

Ada pula etika yang jarang dibahas tetapi hampir selalu dipraktikkan, yaitu memberi kesempatan kepada kelompok tertentu untuk mengambil makanan lebih dulu. Lansia, ibu yang membawa anak kecil, atau tamu kehormatan biasanya mendapat ruang untuk mendahului antrean. Tidak ada kewajiban tertulis yang mengatur hal tersebut, tetapi banyak orang melakukannya sebagai bentuk penghormatan dan kepedulian.

Sikap semacam ini menunjukkan bahwa prasmanan bukan sekadar urusan makan, melainkan juga cerminan hubungan sosial. Di sisi lain, prasmanan juga menjadi panggung kecil bagi berbagai strategi manusia. Ada yang langsung menuju menu favorit sebelum mengambil yang lain. Ada yang berkeliling terlebih dahulu untuk melakukan “survei lapangan”. Ada yang sengaja menyisakan ruang di piring untuk hidangan penutup.

Bahkan ada pula yang sudah memiliki perencanaan matang sejak awal melihat susunan meja makanan. Semua strategi itu sah-sah saja selama tidak mengganggu orang lain. Menariknya, aturan tak tertulis di prasmanan tidak lahir dari peraturan resmi, melainkan dari pengalaman kolektif. Orang-orang belajar dari kebiasaan yang terus berulang. Mereka memahami bahwa kenyamanan bersama hanya bisa tercipta jika setiap individu bersedia membatasi dirinya sedikit.

Tidak menyerobot antrean, tidak mengambil berlebihan, tidak menghambat orang lain, dan tidak membuat kekacauan di meja saji merupakan bentuk-bentuk kecil dari kesadaran tersebut. Jika dipikirkan lebih jauh, prasmanan sebenarnya menyerupai miniatur kehidupan sosial. Di sana ada sumber daya yang digunakan bersama, ada kebutuhan pribadi yang ingin dipenuhi, dan ada kepentingan orang lain yang harus dipertimbangkan.

Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati hidangan, tetapi kesempatan itu berjalan baik hanya ketika semua pihak menghormati aturan yang tidak pernah dituliskan. Mungkin karena itulah prasmanan selalu menarik untuk diamati. Di balik piring, sendok, dan aneka hidangan, terdapat pelajaran sederhana tentang bagaimana manusia hidup berdampingan.

Kita belajar menunggu giliran, berbagi ruang, menghargai orang lain, dan mengambil secukupnya. Nilai-nilai itu tampak sederhana, tetapi justru menjadi fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat. Keberhasilan sebuah prasmanan tidak hanya ditentukan oleh lezatnya makanan yang disajikan. Suasana yang tertib, nyaman, dan saling menghormati juga memiliki peran yang sama besar.

Dan semua itu terwujud bukan karena adanya aturan resmi yang dipasang di dinding, melainkan karena adanya kesepahaman diam-diam yang dijaga bersama. Sebuah kesepahaman yang membuat puluhan bahkan ratusan orang dapat menikmati makanan dalam satu ruang tanpa banyak masalah. Itulah kekuatan dari aturan tak tertulis yang hidup di setiap prasmanan. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: filosofimakananprasmanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Next Post

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan

PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten,...

Read moreDetails

Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

by Agung Sudarsa
June 27, 2026
0
Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar...

Read moreDetails

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

by Agung Sudarsa
June 26, 2026
0
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."...

Read moreDetails

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

by I Nyoman Darma Putra
June 26, 2026
0
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab...

Read moreDetails

Negeri Pesugihan

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama,...

Read moreDetails

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan
Esai

Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan

PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten,...

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
Takut Galungan
Dongeng

Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu
Puisi

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

by Andi Wirambara
June 27, 2026
Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?
Esai

Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar...

by Agung Sudarsa
June 27, 2026
Melepas Dunia, Mengetuk Langit
Ulas Musik

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026....

by Nyoman Budarsana
June 26, 2026
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’
Esai

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."...

by Agung Sudarsa
June 26, 2026
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Cerpen

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu
Puisi

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali
Kritik Seni

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali
Esai

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab...

by I Nyoman Darma Putra
June 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Negeri Pesugihan

SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama,...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co