17 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filosofi Sepiring Prasmanan: Ketika Isi Perut Menguji Isi Kepala

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
June 7, 2026
in Esai
Filosofi Sepiring Prasmanan: Ketika Isi Perut Menguji Isi Kepala

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP kali menghadiri acara hajatan, seminar, reuni, atau pertemuan keluarga besar, ada satu momen yang hampir selalu ditunggu banyak orang: saat prasmanan dibuka. Entah mengapa, pengumuman bahwa makanan sudah siap disantap sering kali mampu mengalihkan perhatian dari apa pun yang sedang berlangsung. Obrolan yang sebelumnya hangat mendadak terputus, kursi-kursi mulai ditinggalkan, dan barisan manusia perlahan terbentuk di depan meja hidangan.

Prasmanan memang menarik. Di sana, setiap orang bebas memilih apa yang ingin dimakan, menentukan porsi sesuai selera, dan menikmati beragam menu dalam satu waktu. Namun di balik kebebasan itu, ada serangkaian aturan tak tertulis yang seolah dipahami bersama oleh semua orang. Tidak ada papan pengumuman yang menjelaskannya. Tidak ada petugas yang mengingatkan. Meski begitu, sebagian besar orang tahu bahwa aturan-aturan tersebut perlu dihormati agar suasana tetap nyaman.

Aturan pertama yang paling mendasar adalah soal antrean. Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin ada banyak situasi ketika orang tergoda untuk mencari jalan pintas. Namun di depan meja prasmanan, antrean menjadi semacam hukum alam. Semua orang memahami bahwa siapa yang datang lebih dulu berhak mengambil makanan lebih dahulu. Ketika ada seseorang yang tiba-tiba menyelip dari samping dan langsung mengambil piring, suasana biasanya langsung berubah.

Tidak ada yang menegur secara terbuka, tetapi tatapan mata dari beberapa orang sering kali sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ada etika yang sedang dilanggar. Menariknya, antrean di prasmanan juga memperlihatkan karakter manusia. Ada yang sabar menunggu meskipun barisan panjang. Ada yang berkali-kali menjulurkan leher untuk melihat apakah makanan favoritnya masih tersedia. Ada pula yang tampak gelisah seolah-olah hidangan akan habis dalam hitungan detik.

Padahal, pada banyak acara, panitia atau tuan rumah sudah menyiapkan makanan dalam jumlah yang cukup. Kekhawatiran itu sering kali lebih banyak berasal dari naluri manusia daripada kenyataan. Aturan tak tertulis berikutnya adalah mengambil makanan secukupnya. Hampir semua orang pernah melihat pemandangan seseorang yang memenuhi piring hingga menyerupai bukit kecil.

Nasi bertumpuk, lauk saling menindih, kerupuk diselipkan di sudut-sudut yang tersisa, dan kuah berusaha bertahan agar tidak tumpah. Tidak ada larangan resmi untuk mengambil banyak makanan. Namun ada kesadaran bersama bahwa prasmanan adalah ruang berbagi. Ketika seseorang mengambil secara berlebihan, muncul kekhawatiran bahwa orang lain mungkin tidak kebagian.

Karena itu, banyak orang memilih strategi yang dianggap lebih sopan: mengambil secukupnya terlebih dahulu, lalu kembali lagi jika masih ingin menambah. Cara ini bukan hanya lebih adil bagi tamu lain, tetapi juga mengurangi kemungkinan makanan terbuang. Pada akhirnya, tidak ada yang lebih disayangkan daripada melihat piring penuh makanan yang akhirnya tidak habis dimakan.

Selain soal porsi, ada pula aturan mengenai kecepatan. Prasmanan bukan tempat untuk merenung terlalu lama. Memang memilih makanan membutuhkan waktu, tetapi berdiri berlama-lama di depan meja sambil mempertimbangkan setiap pilihan bisa membuat antrean tersendat. Semua orang tentu berhak menentukan menu favoritnya, tetapi ada kesadaran bahwa di belakang masih ada banyak orang yang menunggu giliran.

Situasi ini sering menghadirkan pemandangan yang lucu. Seseorang berdiri dengan piring kosong sambil menatap seluruh hidangan seperti sedang menghadapi ujian hidup. Matanya berpindah dari ayam goreng ke rendang, lalu ke sate, kemudian kembali lagi ke ayam goreng. Sementara itu, antrean di belakang mulai memanjang. Pada titik tertentu, keputusan harus dibuat. Tidak harus sempurna, yang penting barisan tetap bergerak.

Aturan tak tertulis lainnya berkaitan dengan alat saji. Sendok sayur untuk sup sebaiknya tetap berada di wadah sup. Penjepit ayam sebaiknya tidak digunakan untuk mengambil buah. Hal-hal seperti ini terdengar sepele, tetapi sangat menentukan kenyamanan bersama. Ketika alat saji berpindah tempat atau tercampur, orang berikutnya akan kesulitan. Dalam acara besar, kekacauan kecil semacam itu dapat menyebar dengan cepat dan membuat meja prasmanan terlihat berantakan.

Ada pula etika yang jarang dibahas tetapi hampir selalu dipraktikkan, yaitu memberi kesempatan kepada kelompok tertentu untuk mengambil makanan lebih dulu. Lansia, ibu yang membawa anak kecil, atau tamu kehormatan biasanya mendapat ruang untuk mendahului antrean. Tidak ada kewajiban tertulis yang mengatur hal tersebut, tetapi banyak orang melakukannya sebagai bentuk penghormatan dan kepedulian.

Sikap semacam ini menunjukkan bahwa prasmanan bukan sekadar urusan makan, melainkan juga cerminan hubungan sosial. Di sisi lain, prasmanan juga menjadi panggung kecil bagi berbagai strategi manusia. Ada yang langsung menuju menu favorit sebelum mengambil yang lain. Ada yang berkeliling terlebih dahulu untuk melakukan “survei lapangan”. Ada yang sengaja menyisakan ruang di piring untuk hidangan penutup.

Bahkan ada pula yang sudah memiliki perencanaan matang sejak awal melihat susunan meja makanan. Semua strategi itu sah-sah saja selama tidak mengganggu orang lain. Menariknya, aturan tak tertulis di prasmanan tidak lahir dari peraturan resmi, melainkan dari pengalaman kolektif. Orang-orang belajar dari kebiasaan yang terus berulang. Mereka memahami bahwa kenyamanan bersama hanya bisa tercipta jika setiap individu bersedia membatasi dirinya sedikit.

Tidak menyerobot antrean, tidak mengambil berlebihan, tidak menghambat orang lain, dan tidak membuat kekacauan di meja saji merupakan bentuk-bentuk kecil dari kesadaran tersebut. Jika dipikirkan lebih jauh, prasmanan sebenarnya menyerupai miniatur kehidupan sosial. Di sana ada sumber daya yang digunakan bersama, ada kebutuhan pribadi yang ingin dipenuhi, dan ada kepentingan orang lain yang harus dipertimbangkan.

Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati hidangan, tetapi kesempatan itu berjalan baik hanya ketika semua pihak menghormati aturan yang tidak pernah dituliskan. Mungkin karena itulah prasmanan selalu menarik untuk diamati. Di balik piring, sendok, dan aneka hidangan, terdapat pelajaran sederhana tentang bagaimana manusia hidup berdampingan.

Kita belajar menunggu giliran, berbagi ruang, menghargai orang lain, dan mengambil secukupnya. Nilai-nilai itu tampak sederhana, tetapi justru menjadi fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat. Keberhasilan sebuah prasmanan tidak hanya ditentukan oleh lezatnya makanan yang disajikan. Suasana yang tertib, nyaman, dan saling menghormati juga memiliki peran yang sama besar.

Dan semua itu terwujud bukan karena adanya aturan resmi yang dipasang di dinding, melainkan karena adanya kesepahaman diam-diam yang dijaga bersama. Sebuah kesepahaman yang membuat puluhan bahkan ratusan orang dapat menikmati makanan dalam satu ruang tanpa banyak masalah. Itulah kekuatan dari aturan tak tertulis yang hidup di setiap prasmanan. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: filosofimakananprasmanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Next Post

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye
Ulas Buku

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

by Azwar
July 17, 2026
“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia
Panggung

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

MALAM itu Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi penonton dari berbagai penjuru. Kamis, 16 Juli 2026, kursi-kursi tribun tak...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia
Panggung

“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

GELAK tawa pecah bahkan sebelum adegan pertama benar-benar usai. Di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu malam, 15 Juli 2026,...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif
Panggung

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co