16 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filosofi Sepiring Prasmanan: Ketika Isi Perut Menguji Isi Kepala

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
June 7, 2026
in Esai
Filosofi Sepiring Prasmanan: Ketika Isi Perut Menguji Isi Kepala

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP kali menghadiri acara hajatan, seminar, reuni, atau pertemuan keluarga besar, ada satu momen yang hampir selalu ditunggu banyak orang: saat prasmanan dibuka. Entah mengapa, pengumuman bahwa makanan sudah siap disantap sering kali mampu mengalihkan perhatian dari apa pun yang sedang berlangsung. Obrolan yang sebelumnya hangat mendadak terputus, kursi-kursi mulai ditinggalkan, dan barisan manusia perlahan terbentuk di depan meja hidangan.

Prasmanan memang menarik. Di sana, setiap orang bebas memilih apa yang ingin dimakan, menentukan porsi sesuai selera, dan menikmati beragam menu dalam satu waktu. Namun di balik kebebasan itu, ada serangkaian aturan tak tertulis yang seolah dipahami bersama oleh semua orang. Tidak ada papan pengumuman yang menjelaskannya. Tidak ada petugas yang mengingatkan. Meski begitu, sebagian besar orang tahu bahwa aturan-aturan tersebut perlu dihormati agar suasana tetap nyaman.

Aturan pertama yang paling mendasar adalah soal antrean. Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin ada banyak situasi ketika orang tergoda untuk mencari jalan pintas. Namun di depan meja prasmanan, antrean menjadi semacam hukum alam. Semua orang memahami bahwa siapa yang datang lebih dulu berhak mengambil makanan lebih dahulu. Ketika ada seseorang yang tiba-tiba menyelip dari samping dan langsung mengambil piring, suasana biasanya langsung berubah.

Tidak ada yang menegur secara terbuka, tetapi tatapan mata dari beberapa orang sering kali sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ada etika yang sedang dilanggar. Menariknya, antrean di prasmanan juga memperlihatkan karakter manusia. Ada yang sabar menunggu meskipun barisan panjang. Ada yang berkali-kali menjulurkan leher untuk melihat apakah makanan favoritnya masih tersedia. Ada pula yang tampak gelisah seolah-olah hidangan akan habis dalam hitungan detik.

Padahal, pada banyak acara, panitia atau tuan rumah sudah menyiapkan makanan dalam jumlah yang cukup. Kekhawatiran itu sering kali lebih banyak berasal dari naluri manusia daripada kenyataan. Aturan tak tertulis berikutnya adalah mengambil makanan secukupnya. Hampir semua orang pernah melihat pemandangan seseorang yang memenuhi piring hingga menyerupai bukit kecil.

Nasi bertumpuk, lauk saling menindih, kerupuk diselipkan di sudut-sudut yang tersisa, dan kuah berusaha bertahan agar tidak tumpah. Tidak ada larangan resmi untuk mengambil banyak makanan. Namun ada kesadaran bersama bahwa prasmanan adalah ruang berbagi. Ketika seseorang mengambil secara berlebihan, muncul kekhawatiran bahwa orang lain mungkin tidak kebagian.

Karena itu, banyak orang memilih strategi yang dianggap lebih sopan: mengambil secukupnya terlebih dahulu, lalu kembali lagi jika masih ingin menambah. Cara ini bukan hanya lebih adil bagi tamu lain, tetapi juga mengurangi kemungkinan makanan terbuang. Pada akhirnya, tidak ada yang lebih disayangkan daripada melihat piring penuh makanan yang akhirnya tidak habis dimakan.

Selain soal porsi, ada pula aturan mengenai kecepatan. Prasmanan bukan tempat untuk merenung terlalu lama. Memang memilih makanan membutuhkan waktu, tetapi berdiri berlama-lama di depan meja sambil mempertimbangkan setiap pilihan bisa membuat antrean tersendat. Semua orang tentu berhak menentukan menu favoritnya, tetapi ada kesadaran bahwa di belakang masih ada banyak orang yang menunggu giliran.

Situasi ini sering menghadirkan pemandangan yang lucu. Seseorang berdiri dengan piring kosong sambil menatap seluruh hidangan seperti sedang menghadapi ujian hidup. Matanya berpindah dari ayam goreng ke rendang, lalu ke sate, kemudian kembali lagi ke ayam goreng. Sementara itu, antrean di belakang mulai memanjang. Pada titik tertentu, keputusan harus dibuat. Tidak harus sempurna, yang penting barisan tetap bergerak.

Aturan tak tertulis lainnya berkaitan dengan alat saji. Sendok sayur untuk sup sebaiknya tetap berada di wadah sup. Penjepit ayam sebaiknya tidak digunakan untuk mengambil buah. Hal-hal seperti ini terdengar sepele, tetapi sangat menentukan kenyamanan bersama. Ketika alat saji berpindah tempat atau tercampur, orang berikutnya akan kesulitan. Dalam acara besar, kekacauan kecil semacam itu dapat menyebar dengan cepat dan membuat meja prasmanan terlihat berantakan.

Ada pula etika yang jarang dibahas tetapi hampir selalu dipraktikkan, yaitu memberi kesempatan kepada kelompok tertentu untuk mengambil makanan lebih dulu. Lansia, ibu yang membawa anak kecil, atau tamu kehormatan biasanya mendapat ruang untuk mendahului antrean. Tidak ada kewajiban tertulis yang mengatur hal tersebut, tetapi banyak orang melakukannya sebagai bentuk penghormatan dan kepedulian.

Sikap semacam ini menunjukkan bahwa prasmanan bukan sekadar urusan makan, melainkan juga cerminan hubungan sosial. Di sisi lain, prasmanan juga menjadi panggung kecil bagi berbagai strategi manusia. Ada yang langsung menuju menu favorit sebelum mengambil yang lain. Ada yang berkeliling terlebih dahulu untuk melakukan “survei lapangan”. Ada yang sengaja menyisakan ruang di piring untuk hidangan penutup.

Bahkan ada pula yang sudah memiliki perencanaan matang sejak awal melihat susunan meja makanan. Semua strategi itu sah-sah saja selama tidak mengganggu orang lain. Menariknya, aturan tak tertulis di prasmanan tidak lahir dari peraturan resmi, melainkan dari pengalaman kolektif. Orang-orang belajar dari kebiasaan yang terus berulang. Mereka memahami bahwa kenyamanan bersama hanya bisa tercipta jika setiap individu bersedia membatasi dirinya sedikit.

Tidak menyerobot antrean, tidak mengambil berlebihan, tidak menghambat orang lain, dan tidak membuat kekacauan di meja saji merupakan bentuk-bentuk kecil dari kesadaran tersebut. Jika dipikirkan lebih jauh, prasmanan sebenarnya menyerupai miniatur kehidupan sosial. Di sana ada sumber daya yang digunakan bersama, ada kebutuhan pribadi yang ingin dipenuhi, dan ada kepentingan orang lain yang harus dipertimbangkan.

Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati hidangan, tetapi kesempatan itu berjalan baik hanya ketika semua pihak menghormati aturan yang tidak pernah dituliskan. Mungkin karena itulah prasmanan selalu menarik untuk diamati. Di balik piring, sendok, dan aneka hidangan, terdapat pelajaran sederhana tentang bagaimana manusia hidup berdampingan.

Kita belajar menunggu giliran, berbagi ruang, menghargai orang lain, dan mengambil secukupnya. Nilai-nilai itu tampak sederhana, tetapi justru menjadi fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat. Keberhasilan sebuah prasmanan tidak hanya ditentukan oleh lezatnya makanan yang disajikan. Suasana yang tertib, nyaman, dan saling menghormati juga memiliki peran yang sama besar.

Dan semua itu terwujud bukan karena adanya aturan resmi yang dipasang di dinding, melainkan karena adanya kesepahaman diam-diam yang dijaga bersama. Sebuah kesepahaman yang membuat puluhan bahkan ratusan orang dapat menikmati makanan dalam satu ruang tanpa banyak masalah. Itulah kekuatan dari aturan tak tertulis yang hidup di setiap prasmanan. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: filosofimakananprasmanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Next Post

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
0
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

Read moreDetails

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co