JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan, khususnya gambut, Teater Potlot sudah lebih dulu mendorong kita untuk mengecap rasanya menjadi gambut melalui naskah Rawa Gambut miliknya. Pementasan teater yang dilangsungkan di Taman Budaya Lampung pada 30 September 2017 itu kembali diputar di Roemah Tumbuh Kembang yang digagas oleh Komunitas Opus Sastra. Barangkali menjadi penting untuk kita semua ketahui, bahwa Rawa Gambut sudah pernah dipentaskan beberapa kali oleh Teater Potlot, yakni di Kota Palembang, Jambi, Lampung, juga Padang.
Sembari disesak oleh kabut asap yang dengan betah mengepung sudut-sudut Kota Palembang sedari pagi, para penonton diajak untuk menyelami kehidupan gambut yang kini banyak terbakar adanya. Bagaimana rasanya menjadi sebuah rawa gambut yang tubuhnya banyak cacat dan rentan luka disebabkan oleh perilaku ekstraktif manusia? Sesak. Sesak ialah satu kata yang bisa saya rasakan selama dan setelah menonton video berdurasi 1 jam 26 menit itu.
Rawa gambut pada pementasan itu tidak digambarkan layaknya matahari yang menjelma pemalu sebab menyembunyikan dirinya di balik kabut yang tebal sekali. Ia vokal dan lantang bersuara lalu berteriak atas tubuhnya sendiri. De-ngan dia-log yang ga-gap, gam-but men-coba men-jadi di-ri-nya sen-diri dan bersu-ara a-tas apa yang ia ras-sakan.
Uniknya lagi, jauh sebelum Tuan Presiden berteriak Antek-antek Aseng, Teater Potlot sudah meneriakkan kata asing melalui tokoh aku pada naskah garapan Almarhum Coni Sema ini. Sebuah anomali yang tidak diketahui dari mana asal dan apa tujuannya, secara misterius datang dan mengubah rawa gambut menjadi bentuk baru. Mendorong tokoh aku, yang di sini adalah gambut, berteriak “asing” sebab mereka tidak pernah tahu apa yang sedang berada di hadapannya itu. Meskipun sebagai penonton, kita semua paham betul bahwa itu adalah manusia.
Pada hari itu, Sabtu, 05 Oktober 2026, kami semua jelas terdampak akan adanya kabut asap yang disebabkan oleh karhutla. Meskipun begitu, agenda nonton bareng Rawa Gambut ini tidak urung di pertengahan jalan. Di tengah maraknya kasus ISPA yang melonjak, Opus Sastra merespon hal tersebut dengan mencoba menilik arsip-arsip kebudayaan yang sudah sejak lama dipentaskan lalu mendiskusikannya sebagai bentuk dorongan kesadaran sebagai manusia.
Selama menonton, saya menyadari bahwa kerja-kerja pemegang kekuasaan masih saja bergumul pada tragedi yang sama dan terulang setiap tahunnya: kebakaran hutan dan lahan. Olehnya, pandangan kita terus-menerus dipaksa untuk hanya mampu melihat tidak lebih dua meter; cuping hidung direduksi untuk bernapas layaknya puasa Senin-kamis; juga ruang-ruang akademik menjemput hari libur, meskipun dapur tetap mengepul dan ompreng masih berbunyi.
Saya sejenak berpikir, apakah kasus kebakaran hutan dan lahan ini memang tiada satu solusinya. Sebab, saban tahun pemerintah bahkan masyarakat selalu kalang kabut menanganinya. Atau sekadar bukti bahwa kita masih terlalu gagap dalam mengerti dan membicarakan gambut yang notabene adalah pembentuk sela-sela kehidupan kita selama ini.
Menjawab pertanyaan tersebut, dalam sesi diskusi, Yudi Semai mengatakan bahwa solusi penanganan kasus semacam ini adalah dengan membasahi gambut itu sendiri.
“Jangan jadikan gerakan pelestarian gambut ini sebagai proyek pembuatan kanal, embel-embel restorasi gambut, atau apapun itu yang sifatnya hanya seremonial belaka. Sebab sampai sekarang apa yang mereka katakan itu tidak pernah benar dilakukan. Tugas kita adalah terus menjaga gambut itu tetap basah dan jangan sekali-kali mencoba membakarnya,” ujar Yudi Semai yang saat ini menjadi pimpinan Teater Potlot itu.

Menilik lebih dalam kalimat yang Yudi Semai sampaikan, dapat kita ketahui bahwa gambut memiliki peran sosio-ekonomi yang signifikan terhadap kehidupan manusia. Mulai dari penjagaan hutan hujan tropis, perawatan rawa, pemanfaatan lahan basah, dan lain sebagainya akan dapat terus manusia rasakan dalam upaya melestarikan rawa gambut.
Karena jika kita tidak lagi memiliki lahan gambut, bumi akan kehilangan fungsi penyedot karbon terbaiknya. Dan jika karbon tidak lagi diserap dengan baik, jelas keseimbangan hidup akan merosot dan lekas menuju kepunahan massal.
Rawa Gambut dipungkasi dengan adegan di mana tokoh yang merupakan bentuk metafora gambut sedang menyiramkan air pada tubuhnya sendiri. Sama seperti narasi yang mereka gaungkan, yakni “Lahan gambut, rawa lebak adalah aku. Juga dirimu!” mendorong kita untuk menjaga gambut mulai dari diri sendiri.[T]
Palembang, 06 September 2026.



























