Air di Daun Talas
seberapa waktu bertahan
air di daun talas dapat menerima
kenyataan demi kenyataan tarian angin
lantai licin dan tetabuhan riuh
tanpa jatuh
hidup penuh senda gurau
yang sungguh-sungguh
dan tubuhku ringkih, dan jiwaku rapuh
tetapi permainan kemudian dimulai
selalu dimulai
tanpa persetujuan
membiarkan guncangan demi guncangan
jadi tontonan dan hiburan
waktu jadi bertahan
dan bagaimana bisa saat bergulat sendiri
menjadi bukan kesia-siaan
2026
Memancing di Air Jernih
jika engkau siapa, aku siapa
tapi kita bukan siapa
karena jernih air lebih tampak
ke mana mata pancingmu
mata pencaharian menguber-uber dunia
kini lebih memilih terang benderang
memancingnya, akal-akalan jadi peristiwa
jika engkau di mana, aku di mana
kita memang ada di mana
dalam air keruh semua seperti buta
apalagi mata pancingmu
mata batin pun menjadi perih, merintih
menguber-uber peristiwa, akal-akalan
membuatmu makin keruh sendiri
2026
Air Beriak pun Dalam
jangan kaukira air beriak itu tak dalam
(ia hanya pura-pura)
belajar dari alam, lalu kitab menuliskannya
terbaca angin
burung-burung berkabar
huruf dan abjad merasuk hati
menuliskan kembali
beriak, tak dalam
kebisingan adalah kekosongan
hanya suara-suara, tak ada apa-apa
angin dan burung
makin berkabar
juga kepada air yang kemudian belajar
kebisingan, tak lagi kekosongan
bagaimana bisa beriak, tapi dalam
ramai suara-suara, dan penuh apa-apa
bukan lagi tanda, air beriak tak dalam
(hanya pura-pura dan cara)
2026
Buah dan Pohonnya
tak semua aku
menjadi aku dengan kental darah
menetes dari atas
menjadi aku karena deret ukur
ayah, kakek, leluhur
menjadi karena temurun
orang tua, nenek moyang, karuhun
tak semua buah
jatuh tidak jauh dari pohonnya
pohon tak lagi punya wenang
angin pun punya
hujan juga, burung juga
menjadikan buah jatuh menjauh
menjadikan jiwaku luruh
bahkan terhapus jejak
hilang tapak-tapak
2026
Semakin Tinggi Pohon
akar-akar menjalar
hara dan air menguar
pokok batang menghunjam
nutrisi bersemayam
daun-daun berkerumun
oksigen dan glukosa terhimpun
tapi angin bergeming
tak berani ombang-ambing
pohon meninggi
menunjuk langit tinggi
bunga dan buah main mata
atas nama cinta
badai seperti lalai
tak melirik dan abai
kemudian
hara dan air tak lagi mengalir
nutrisi segan berbagi kasih
oksisgen dan glukosa hilang rasa
padahal
angin tetap bergeming
badai masih lalai
bukan angin atau badai menerpa
rapuh pohon karena rapuh jiwa
2026
Asam di Laut Garam di Gunung
nelayan-nelayan menjaring di laut
lalu didapat rasa kecut
asam dari gunung merasuk
bukankah ikan-ikan migrasi musim lalu
cari pelataran lebih teduh
nelayan-nelayan lalu memburunya
perahu bersalin kapal
bukan dayung, tapi kemudi
kompas, radio, genset, dan kalkulator
keringat tak lagi tetesan asin
garam dari laut telah merasuk
keringat para pendaki gunung
2026
Berselimut Musuh
di dalam selimut itu
sejak malam pertama
asyik bercinta
dengan musuh
malam-malam berikutnya
bersama musuh
makin asyik bercinta
tanpa tahu ada musuh
ketika tahu bahwa tak ada musuh
dalam selimut
bebas rasa khawatir
bercinta makin asyik
ketika kemudian mulai terasa
di dalam selimut
ada musuh
asyik bercinta bersama musuh
sejak itu mulai disadari
musuh dalam selimut
dan keasyikan bercinta
adalah dua hal berbeda
2026
.
Penulis: Supali Kasim
Editor: Adnyana Ole



















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)






