Mother’s Bakery
Hari-hari terasa menghisap paracetamol
Pahitnya mengendap hingga ke ujung hati
Bumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retak
Ibu bilang, masa depan secerah cream pie
“Sering-seringlah mampir,” katanya,
Berbagai topping dunia sedang menanti di sini.
Lara ini dihiasi meises dan keju
Agar sedih tak hanya ditemani asin, namun juga manis
Kepalaku yang berputar dibalut adonan, dikelilingi stroberi
Agar rasa lukanya tak sepahit darah.
Tersedia juga sepotong apple pie
Saat dikunyah, bijinya tertinggal di dasar perut
Membayangkan dirinya menjadi tunas
Untuk menambal sisa-sisa jiwa kosong
Yang dahulu dijarah oleh orang-orang asing.
Di Hari Aku Tumbuh
Ada hari dimana bunga-bunga berenang
menyebar titah cinta kepada yang bersujud
Pada samudra yang mengutusnya,
ia menitip air asin untuk menghanyutkan duka,
dengan menakar perihnya.
Setitik anugerah menjulang di antara waktu anjing dan serigala
Delphinium mengumumkan biru safir yang paling murni
menjaga kelopak anggunnya dari jemari yang bergejolak,
berdiri kokoh menantang sepi yang abadi.
Tawon tunduk padanya, tak berani menggila
Hari kematian diiringi semut dan ditaburi serpihan langit yang luruh
Di antara lumpur dan jejak ular,
Ia tetap membuka hati, menjadi saksi bagi jiwa yang sabar.
Sebelum Semi Mencair
Kalender terus melepas busana mewahnya
Satu lembaran diganti,
Sempatkan memetik rosebuds agar satu detikmu tak membusuk di gudang amygdala
Di sana, gadis-gadis tersenyum mengelilingi semi menghadap matahari, meminum cahaya yang tak pernah mati
Hingga sepasang mata terpana ingin tahu,
dan memilih mengintip rahasia di balik retakan tembok batu
Ayunan hidup terus mengundang angin, mengumbar rok bawah
Terpampang luka yang terukir di musim semi
Namun waktu tak pernah peduli pada tangis yang tersembunyi
Ia tetap mencairkan keindahan,
memaksa kita berjalan lagi.
Pesta di Atas Karang Sunyi
Ketika seluruh semi akhirnya mencair,
jejak-jejak pelarian membeku di atas batu
Tak ada lagi toko kue Ibu, tak ada lagi kelopak safir,
hanya tersisa seekor rubah merah yang mengembara,
membawa sisa-sisa jiwa yang dijarah ke ujung karang.
Rubah merah memohon hujan pada burung,
yang sibuk mematuk ulat di dahan
Katak menawarkan air dalam tempurung,
namun rubah hanya menoleh pada pelikan;
demi mengemis seekor ikan.
Langit mengirim hujan sesuai alamatnya,ikan sekilo habis dilahap.
Namun kini rambutnya tak lagi merona,
menua dalam sisa sesal yang senyap.
Sebab di bawah guyuran langit yang basah,
ia mengunyah kenyang dalam asing dan sepi,
menyadari tak ada siapa-siapa lagi di sisi.
Penulis: Ni Putu Puspa Trisnawati
Editor: Adnyana Ole






















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)





