17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
September 5, 2026
in Esai
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan?

PERTANYAAN sederhana itu patut kita renungkan ketika Tumpek Uye kembali hadir dalam kehidupan masyarakat Bali. Sebab, di tengah pendidikan yang semakin sibuk berbicara tentang kompetensi, teknologi, prestasi, dan masa depan, ada satu hal yang kadang luput, yaitu mengajarkan manusia untuk menghormati kehidupan.

Tumpek Uye sering dipahami sebagai momentum untuk menghormati sarwa prani, segala makhluk hidup, terutama binatang. Namun, jika dibaca dari perspektif pendidikan, maknanya jauh lebih luas. Tumpek Uye mengajarkan sebuah kesadaran penting bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada tumbuhan, hewan, air, tanah, dan seluruh ekosistem yang menopang kehidupan manusia. Persoalannya adalah, apakah nilai itu sudah benar-benar menjadi bagian dari pendidikan kita?

Mengetahui Tidak Selalu Berarti Peduli

Di sekolah, anak-anak telah belajar banyak tentang lingkungan. Mereka mengenal pencemaran, perubahan iklim, ekosistem, keanekaragaman hayati, dan pentingnya menjaga alam. Mereka juga sering diajak menanam pohon, membersihkan lingkungan, atau memilah sampah.

Mengajarkan Generasi Muda mencintai Hewan

Semua itu baik. Tetapi pendidikan tidak cukup berhenti pada pengetahuan saja. Anak mungkin tahu bahwa sampah plastik berbahaya bagi lingkungan, tetapi apakah ia merasa bertanggung jawab ketika membuang plastik sembarangan? Anak mungkin tahu bahwa hewan harus disayangi, tetapi apakah ia memiliki pengalaman merawat makhluk hidup? Anak mungkin hafal bahwa pohon menghasilkan oksigen, tetapi apakah ia pernah merawat pohon sampai tumbuh dan merasakan bahwa kehidupan membutuhkan kesabaran?

Di sinilah terdapat jarak antara mengetahui nilai dan menghidupi nilai. Pendidikan seharusnya memperkecil jarak tersebut. Karakter tidak tumbuh hanya melalui nasihat. Ia juga tumbuh melalui pengalaman, pembiasaan, dan keteladanan. Karena itu, pendidikan lingkungan semestinya tidak hanya mengajarkan anak tentang alam, tetapi memberi mereka kesempatan untuk berhubungan langsung dengan alam.

Tumpek Uye Jangan Berhenti pada Ritual

Tumpek Uye dapat menjadi momentum untuk melakukan itu. Sekolah dapat menjadikan lingkungan sebagai ruang belajar. Anak-anak dapat diajak mengamati berbagai jenis tanaman dan hewan di sekitar sekolah, merawat kebun, membuat habitat sederhana bagi burung atau serangga, mengelola sampah, atau mempelajari bagaimana perubahan lingkungan memengaruhi kehidupan.

Pembelajaran Berbasis Lingkungan Hidup

Pertanyaan-pertanyaan sederhana dapat menjadi pintu pembelajaran. Mengapa kupu-kupu semakin jarang terlihat? Mengapa cacing penting bagi tanah? Apa akibatnya kalau membuang sampah ke sungai? Mengapa pohon tertentu harus dipertahankan? Bagaimana manusia dapat memelihara hewan secara bertanggung jawab?

Dari pertanyaan tersebut, berbagai mata pelajaran dapat bertemu. Biologi berbicara tentang ekosistem. Pendidikan karakter berbicara tentang tanggung jawab. Bahasa mengajarkan kemampuan mengomunikasikan gagasan. Matematika dapat digunakan menghitung produksi sampah sekolah. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk membuat sistem pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Dengan demikian, Tumpek Uye tidak berhenti sebagai pengetahuan budaya atau kegiatan seremonial. Ia mesti berubah menjadi pengalaman belajar yang nyata. Dari slogan menjadi budaya.

Proses Belajar Bersasis Lingkungan Alam

Kita perlu jujur mengakui bahwa pendidikan kadang terlalu mudah membuat slogan. Sekolah berbicara tentang kepedulian lingkungan, tetapi belum tentu pengelolaan lingkungannya baik. Kita berbicara tentang keharmonisan manusia dengan alam, tetapi masih menghadapi persoalan sampah, pemborosan air, dan perilaku yang tidak ramah lingkungan. Ini bukan alasan untuk menyalahkan sekolah. Justru menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi.

Kearifan lokal seperti Tumpek Uye seharusnya tidak sekadar menjadi hiasan identitas budaya. Nilai di dalamnya perlu diterjemahkan menjadi budaya sekolah. Jika ingin mengajarkan kepedulian, sekolah harus menjadi tempat yang peduli. Jika ingin mengajarkan tanggung jawab terhadap lingkungan, anak harus diberi tanggung jawab nyata terhadap lingkungan. Jika ingin mengajarkan kasih sayang terhadap makhluk hidup, anak harus diberi kesempatan untuk merawat kehidupan. Dengan cara demikian, nilai budaya tidak berhenti di ruang upacara, tetapi hadir dalam perilaku sehari-hari.

Pendidikan yang Tidak Menempatkan Manusia sebagai Pusat

Tumpek Uye juga mengajak kita mengoreksi cara pandang manusia modern yang sering menempatkan dirinya sebagai pusat kehidupan. Hutan dilihat sebagai sumber ekonomi. Hewan dilihat sebagai komoditas. Tanah dihitung berdasarkan nilai jual. Sungai diperlakukan sebagai saluran pembuangan.

Ketika segala sesuatu diukur berdasarkan manfaatnya bagi manusia, kita perlahan kehilangan kemampuan untuk menghargai kehidupan karena kehidupan itu sendiri. Pendidikan memiliki tanggung jawab untuk mengubah cara pandang tersebut.

Menjadikan Siswa belajar Microgreen

Anak-anak perlu belajar bahwa alam bukan sekadar sesuatu yang dapat dimanfaatkan, tetapi sesuatu yang harus dirawat. Hewan bukan benda, melainkan sesama makhluk hidup. Pohon bukan hanya penghias halaman, tetapi bagian dari ekosistem. Dan lingkungan bukan warisan yang boleh kita habiskan, melainkan titipan untuk generasi berikutnya. Inilah pendidikan ekologis yang sesungguhnya.

Belajar dari Kearifan Lokal

Bali sesungguhnya memiliki modal budaya yang kuat untuk membangun pendidikan semacam itu. Nilai sarwa prani dalam Tumpek Uye dapat berdialog dengan ilmu pengetahuan modern tentang ekologi dan keberlanjutan.

Kearifan lokal memberi dasar nilai, sementara ilmu pengetahuan memberi cara untuk memahami persoalan dan menemukan solusinya. Pertemuan keduanya dapat melahirkan pendidikan yang tidak tercerabut dari budaya, tetapi tetap relevan menghadapi tantangan zaman.

Karena itu, memperkenalkan Tumpek Uye kepada anak-anak tidak cukup dengan menjelaskan sejarah dan tata caranya. Yang lebih penting adalah mengajak mereka menemukan makna di balik ritual dan menerjemahkannya ke dalam tindakan.

Mungkin sekolah dapat menjadikan Tumpek Uye sebagai momentum enam bulanan untuk mengevaluasi โ€œjejak ekologisโ€ sekolah. Berapa banyak sampah yang dihasilkan, berapa banyak air digunakan, berapa banyak tanaman dirawat, bagaimana keberadaan hewan di sekitar sekolah, dan apa yang dapat diperbaiki? Dengan begitu, sebuah hari suci dapat melahirkan tindakan nyata.

Menghormati Kehidupan

Pada akhirnya, Tumpek Uye bukan hanya tentang menyayangi binatang. Ia berbicara tentang sesuatu yang lebih mendasar bahwa bagaimana manusia memperlakukan kehidupan.

Ketika seorang anak belajar merawat tanaman, ia belajar kesabaran. Ketika ia merawat hewan, ia belajar tanggung jawab. Ketika ia menjaga kebersihan lingkungan, ia belajar bahwa tindakannya memiliki akibat bagi kehidupan lain. Ketika ia menjaga alam untuk generasi berikutnya, ia belajar berpikir melampaui kepentingan dirinya sendiri. Bukankah semua itu adalah tujuan pendidikan?

Maka dari itu, barangkali Tumpek Uye perlu kita baca kembali. Bukan hanya sebagai tradisi yang harus diwariskan, tetapi sebagai gagasan pendidikan yang perlu dihidupkan. Pendidikan tidak cukup menghasilkan manusia yang cerdas dan terampil. Ia juga harus melahirkan manusia yang memiliki kepekaan terhadap kehidupan.

Karena sesungguhnya, masa depan tidak hanya membutuhkan manusia yang mampu menguasai alam. Masa depan membutuhkan manusia yang mampu hidup bersama alam. Mungkin pula, dari sanalah kita perlu memulai kembali pendidikan. Kita bukan hanya mengajarkan anak bagaimana menjadi manusia yang sukses, tetapi menjadikan manusia yang bertanggung jawab terhadap kehidupan. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: hinduritualtumpek uye
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

Next Post

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother's Bakery

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dariย โ€œPanic Buyingโ€ย hinggaย โ€œMaborborโ€: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dariย โ€œPanic Buyingโ€ย hinggaย โ€œMaborborโ€: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
๐Œ๐„๐๐“๐„๐‘๐ˆ ๐‹๐”๐€๐‘ ๐๐„๐†๐„๐‘๐ˆ ๐ˆ๐๐ƒ๐ˆ๐€ ๐๐”๐Š๐€ ๐๐€๐Œ๐„๐‘๐€๐ ๐‹๐Ž๐๐“๐€๐‘ ๐๐€๐‹๐ˆ
Pameran

๐Œ๐„๐๐“๐„๐‘๐ˆ ๐‹๐”๐€๐‘ ๐๐„๐†๐„๐‘๐ˆ ๐ˆ๐๐ƒ๐ˆ๐€ ๐๐”๐Š๐€ ๐๐€๐Œ๐„๐‘๐€๐ ๐‹๐Ž๐๐“๐€๐‘ ๐๐€๐‹๐ˆ

Menteri Luar Negeri India, ๐ƒ๐ซ. ๐’. ๐‰๐š๐ข๐ฌ๐ก๐š๐ง๐ค๐š๐ซ, 12 Oktober 2026, membuka pameran ๐‘๐‘–๐‘Ÿฤ๐‘š๐‘Ž๐‘ฆฤ๐‘ก๐‘Ž: ๐ป๐‘’๐‘Ž๐‘™๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘Ž๐‘›๐‘‘ ๐‘Š๐‘’๐‘™๐‘™๐‘๐‘’๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘–๐‘› ๐‘†๐‘œ๐‘ข๐‘กโ„Ž ๐ด๐‘ ๐‘–๐‘Ž๐‘› ๐‘‡๐‘’๐‘ฅ๐‘ก๐‘ ...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright ยฉ 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright ยฉ 2016-2025, tatkala.co