25 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
September 5, 2026
in Esai
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan?

PERTANYAAN sederhana itu patut kita renungkan ketika Tumpek Uye kembali hadir dalam kehidupan masyarakat Bali. Sebab, di tengah pendidikan yang semakin sibuk berbicara tentang kompetensi, teknologi, prestasi, dan masa depan, ada satu hal yang kadang luput, yaitu mengajarkan manusia untuk menghormati kehidupan.

Tumpek Uye sering dipahami sebagai momentum untuk menghormati sarwa prani, segala makhluk hidup, terutama binatang. Namun, jika dibaca dari perspektif pendidikan, maknanya jauh lebih luas. Tumpek Uye mengajarkan sebuah kesadaran penting bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada tumbuhan, hewan, air, tanah, dan seluruh ekosistem yang menopang kehidupan manusia. Persoalannya adalah, apakah nilai itu sudah benar-benar menjadi bagian dari pendidikan kita?

Mengetahui Tidak Selalu Berarti Peduli

Di sekolah, anak-anak telah belajar banyak tentang lingkungan. Mereka mengenal pencemaran, perubahan iklim, ekosistem, keanekaragaman hayati, dan pentingnya menjaga alam. Mereka juga sering diajak menanam pohon, membersihkan lingkungan, atau memilah sampah.

Mengajarkan Generasi Muda mencintai Hewan

Semua itu baik. Tetapi pendidikan tidak cukup berhenti pada pengetahuan saja. Anak mungkin tahu bahwa sampah plastik berbahaya bagi lingkungan, tetapi apakah ia merasa bertanggung jawab ketika membuang plastik sembarangan? Anak mungkin tahu bahwa hewan harus disayangi, tetapi apakah ia memiliki pengalaman merawat makhluk hidup? Anak mungkin hafal bahwa pohon menghasilkan oksigen, tetapi apakah ia pernah merawat pohon sampai tumbuh dan merasakan bahwa kehidupan membutuhkan kesabaran?

Di sinilah terdapat jarak antara mengetahui nilai dan menghidupi nilai. Pendidikan seharusnya memperkecil jarak tersebut. Karakter tidak tumbuh hanya melalui nasihat. Ia juga tumbuh melalui pengalaman, pembiasaan, dan keteladanan. Karena itu, pendidikan lingkungan semestinya tidak hanya mengajarkan anak tentang alam, tetapi memberi mereka kesempatan untuk berhubungan langsung dengan alam.

Tumpek Uye Jangan Berhenti pada Ritual

Tumpek Uye dapat menjadi momentum untuk melakukan itu. Sekolah dapat menjadikan lingkungan sebagai ruang belajar. Anak-anak dapat diajak mengamati berbagai jenis tanaman dan hewan di sekitar sekolah, merawat kebun, membuat habitat sederhana bagi burung atau serangga, mengelola sampah, atau mempelajari bagaimana perubahan lingkungan memengaruhi kehidupan.

Pembelajaran Berbasis Lingkungan Hidup

Pertanyaan-pertanyaan sederhana dapat menjadi pintu pembelajaran. Mengapa kupu-kupu semakin jarang terlihat? Mengapa cacing penting bagi tanah? Apa akibatnya kalau membuang sampah ke sungai? Mengapa pohon tertentu harus dipertahankan? Bagaimana manusia dapat memelihara hewan secara bertanggung jawab?

Dari pertanyaan tersebut, berbagai mata pelajaran dapat bertemu. Biologi berbicara tentang ekosistem. Pendidikan karakter berbicara tentang tanggung jawab. Bahasa mengajarkan kemampuan mengomunikasikan gagasan. Matematika dapat digunakan menghitung produksi sampah sekolah. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk membuat sistem pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Dengan demikian, Tumpek Uye tidak berhenti sebagai pengetahuan budaya atau kegiatan seremonial. Ia mesti berubah menjadi pengalaman belajar yang nyata. Dari slogan menjadi budaya.

Proses Belajar Bersasis Lingkungan Alam

Kita perlu jujur mengakui bahwa pendidikan kadang terlalu mudah membuat slogan. Sekolah berbicara tentang kepedulian lingkungan, tetapi belum tentu pengelolaan lingkungannya baik. Kita berbicara tentang keharmonisan manusia dengan alam, tetapi masih menghadapi persoalan sampah, pemborosan air, dan perilaku yang tidak ramah lingkungan. Ini bukan alasan untuk menyalahkan sekolah. Justru menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi.

Kearifan lokal seperti Tumpek Uye seharusnya tidak sekadar menjadi hiasan identitas budaya. Nilai di dalamnya perlu diterjemahkan menjadi budaya sekolah. Jika ingin mengajarkan kepedulian, sekolah harus menjadi tempat yang peduli. Jika ingin mengajarkan tanggung jawab terhadap lingkungan, anak harus diberi tanggung jawab nyata terhadap lingkungan. Jika ingin mengajarkan kasih sayang terhadap makhluk hidup, anak harus diberi kesempatan untuk merawat kehidupan. Dengan cara demikian, nilai budaya tidak berhenti di ruang upacara, tetapi hadir dalam perilaku sehari-hari.

Pendidikan yang Tidak Menempatkan Manusia sebagai Pusat

Tumpek Uye juga mengajak kita mengoreksi cara pandang manusia modern yang sering menempatkan dirinya sebagai pusat kehidupan. Hutan dilihat sebagai sumber ekonomi. Hewan dilihat sebagai komoditas. Tanah dihitung berdasarkan nilai jual. Sungai diperlakukan sebagai saluran pembuangan.

Ketika segala sesuatu diukur berdasarkan manfaatnya bagi manusia, kita perlahan kehilangan kemampuan untuk menghargai kehidupan karena kehidupan itu sendiri. Pendidikan memiliki tanggung jawab untuk mengubah cara pandang tersebut.

Menjadikan Siswa belajar Microgreen

Anak-anak perlu belajar bahwa alam bukan sekadar sesuatu yang dapat dimanfaatkan, tetapi sesuatu yang harus dirawat. Hewan bukan benda, melainkan sesama makhluk hidup. Pohon bukan hanya penghias halaman, tetapi bagian dari ekosistem. Dan lingkungan bukan warisan yang boleh kita habiskan, melainkan titipan untuk generasi berikutnya. Inilah pendidikan ekologis yang sesungguhnya.

Belajar dari Kearifan Lokal

Bali sesungguhnya memiliki modal budaya yang kuat untuk membangun pendidikan semacam itu. Nilai sarwa prani dalam Tumpek Uye dapat berdialog dengan ilmu pengetahuan modern tentang ekologi dan keberlanjutan.

Kearifan lokal memberi dasar nilai, sementara ilmu pengetahuan memberi cara untuk memahami persoalan dan menemukan solusinya. Pertemuan keduanya dapat melahirkan pendidikan yang tidak tercerabut dari budaya, tetapi tetap relevan menghadapi tantangan zaman.

Karena itu, memperkenalkan Tumpek Uye kepada anak-anak tidak cukup dengan menjelaskan sejarah dan tata caranya. Yang lebih penting adalah mengajak mereka menemukan makna di balik ritual dan menerjemahkannya ke dalam tindakan.

Mungkin sekolah dapat menjadikan Tumpek Uye sebagai momentum enam bulanan untuk mengevaluasi “jejak ekologis” sekolah. Berapa banyak sampah yang dihasilkan, berapa banyak air digunakan, berapa banyak tanaman dirawat, bagaimana keberadaan hewan di sekitar sekolah, dan apa yang dapat diperbaiki? Dengan begitu, sebuah hari suci dapat melahirkan tindakan nyata.

Menghormati Kehidupan

Pada akhirnya, Tumpek Uye bukan hanya tentang menyayangi binatang. Ia berbicara tentang sesuatu yang lebih mendasar bahwa bagaimana manusia memperlakukan kehidupan.

Ketika seorang anak belajar merawat tanaman, ia belajar kesabaran. Ketika ia merawat hewan, ia belajar tanggung jawab. Ketika ia menjaga kebersihan lingkungan, ia belajar bahwa tindakannya memiliki akibat bagi kehidupan lain. Ketika ia menjaga alam untuk generasi berikutnya, ia belajar berpikir melampaui kepentingan dirinya sendiri. Bukankah semua itu adalah tujuan pendidikan?

Maka dari itu, barangkali Tumpek Uye perlu kita baca kembali. Bukan hanya sebagai tradisi yang harus diwariskan, tetapi sebagai gagasan pendidikan yang perlu dihidupkan. Pendidikan tidak cukup menghasilkan manusia yang cerdas dan terampil. Ia juga harus melahirkan manusia yang memiliki kepekaan terhadap kehidupan.

Karena sesungguhnya, masa depan tidak hanya membutuhkan manusia yang mampu menguasai alam. Masa depan membutuhkan manusia yang mampu hidup bersama alam. Mungkin pula, dari sanalah kita perlu memulai kembali pendidikan. Kita bukan hanya mengajarkan anak bagaimana menjadi manusia yang sukses, tetapi menjadikan manusia yang bertanggung jawab terhadap kehidupan. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: hinduritualtumpek uye
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

Next Post

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother's Bakery

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co