15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 7, 2025
in Khas
I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan

I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan

DI tengah ramainya wacana sejarah Bali yang kerap memusat pada kerajaan-kerajaan besar atau tokoh bangsawan, nama I Wayan Rekennyaris tak dikenal. Padahal, beliau adalah satu dari sedikit penulis sejarah yang merekam jejak Islamisasi di Bali secara teliti, khususnya di kawasan barat yang kini dikenal sebagai Kota Negara dan kampung Loloan.

I Wayan Reken lahir pada 17 Oktober 1921 di Sungbata, Jembrana. Ketika usianya baru tiga bulan, orang tuanya pindah ke kawasan Loloan di kota Negara, pusat aktivitas ekonomi dan sosial Jembrana. Kawasan itu dikenal sebagai kampung tua yang dihuni oleh komunitas Islam keturunan Bugis, Makassar, dan Melayu yang menetap di sana sejak abad ke-17. Di lingkungan inilah Reken tumbuh, mengamati kehidupan sehari-hari masyarakat Bali dan Islam yang hidup berdampingan dalam semangat menyama braya.

Ia bersekolah di sekolah dasar “Setia Hati School” di Baler Bale Agung, Negara, pada tahun 1927, yang saat itu hanya memiliki dua guru tamatan Kweek School dari Jawa dan murid awal sebanyak 18 orang. Setelah menamatkan sekolah pada 1935, Reken sempat bekerja di sebuah toko milik pengusaha keturunan Arab di Banyuwangi, Jawa Timur, selama empat bulan. Namun, gairah utamanya bukan pada perdagangan, melainkan pada sejarah dan dokumentasi kebudayaan lokal.

I Wayan Reken | Foto: Koleksi I Made Notasa

Reken bukan akademisi. Ia bukan profesor, bukan lulusan perguruan tinggi sejarah. Namun, sejak muda ia tekun mencatat, mewawancarai para sesepuh, mempelajari dokumen-dokumen tua, hingga menulis tangan manuskrip berjudul Sejarah Perkembangan Islam di Bali, khususnya di Kabupaten Jembrana pada tahun 1979. Naskah itu baru diterbitkan dalam bentuk buku pada 2023, atau nyaris empat dekade setelah wafatnya pada 11 Januari 1986. Inilah warisan sunyi yang kini menjadi rujukan penting dalam memahami sejarah Islam di Bali.

Buku tersebut memuat kajian mendalam tentang dua gelombang besar kedatangan Muslim ke Jembrana. Pertama, kedatangan para pelaut Bugis-Makassar pada abad ke-17 yang lari dari konflik dengan VOC; dan kedua, migrasi para mubaligh serta keturunan bangsawan Melayu dan Arab pada abad ke-18, termasuk rombongan eskadron Sultan Pontianak, Syarif Abdullah bin Yahya Al Qodery. Kedatangan mereka tidak dalam bentuk invasi, tetapi justru atas persahabatan dengan raja-raja Jembrana yang kala itu bersedia memberikan konsesi pemukiman dan perdagangan.

Dalam tulisannya, I Wayan Reken menyingkap fakta menarik bahwa sebelum “Negara” menjadi kota administratif, kawasan Loloan telah lebih dahulu hidup sebagai pusat perdagangan maritim yang ramai, dipenuhi rumah-rumah panggung bergaya Bugis dan masjid-masjid yang jadi pusat pendidikan. Ia mencatat pembangunan Masjid pertama di Loloan Timur terjadi tahun 1848, dibangun di atas tanah wakaf Encik Ya’qub dari Trengganu dan disaksikan langsung oleh tokoh penting Muslim seperti Syarif Abdullah dan Panglima Tahal. Bukti sejarah ini masih tersimpan di papan kayu bertuliskan Arab Pegon di masjid tersebut hingga kini.

Reken juga menuliskan dengan jernih bagaimana para Muslim pendatang bukan sekadar pedagang atau ulama, melainkan turut membela Kerajaan Jembrana dari serangan luar. Pasukan Bugis-Makassar tercatat membantu mempertahankan Jembrana dari serangan Buleleng dan Tabanan di abad ke-18. Salah satu kekuatan utama pertahanan itu adalah para penembak meriam Bugis yang mengenakan destar hitam, tidak bisa dibedakan dari prajurit Hindu Bali lainnya. Inilah cermin akulturasi yang sejati.

Kisah ini menjadi penting dalam konteks Bali hari ini, ketika narasi sejarah kerap dipersempit menjadi satu warna budaya dominan. Reken dalam tulisannya justru menunjukkan bahwa Bali telah lama menjadi rumah bagi keberagaman. Ia menyebut, “Sejarah bukan sekadar kisah heroik, tetapi tentang perjuangan untuk hidup, the struggle for life, baik di bidang budaya, agama, ekonomi, maupun politik.”

Manuskrip I Wayan Reken | Foto koleksi Eka Sabara

Sejarah Islam di Jembrana, menurutnya, tidak dapat dilepaskan dari sejarah kerajaan-kerajaan Bali, dan justru menjadi bagian utuh dari dinamika pulau ini.

Tak hanya mencatat sejarah agama, I Wayan Reken juga mendokumentasikan seni-seni yang terlupakan, seperti Joget Janturan—kesenian yang merupakan akulturasi antara joged Bali dan pencak silat Bugis. Ia juga menulis mengenai pemerintahan, sistem pertanian, dan pembentukan komunitas Muslim di desa-desa seperti Loloan Timur, Loloan Barat, Cupel, Air Kuning, hingga Banyubiru.

Meski tulisannya kaya dan sistematis, I Wayan Reken tidak pernah menyebut dirinya sejarawan. Pada awal 1985, beliau dikabarkan mendapat pengakuan sebagai salah satu dari tiga sejarawan Bali oleh Rektor Universitas Udayana saat itu, usai memberi kuliah umum tentang sejarah Islam di Jembrana. Meski belum ditemukan dokumen resminya, pengakuan ini tercatat dalam kata pengantar editor buku karyanya yang diterbitkan pada 2023.

Pasca-wafatnya, nama I Wayan Reken nyaris tenggelam. Manuskripnya pun sempat nyaris hilang dari peredaran hingga Eka Sabara, seorang penulis dan budayawan muda asal Loloan, Jembrana, mendatangi keluarga almarhum dan mendapat izin dari putra sulungnya, I Made Notasa, untuk menerbitkan karya tersebut. Buku Sejarah Islam di Jembrana–Bali akhirnya diterbitkan oleh Indie Publishing, Singaraja, dan disambut hangat oleh komunitas pemerhati sejarah, termasuk Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI) Bali.

Penerbitan buku ini tidak hanya membangkitkan kembali ingatan akan sosok Reken, tetapi juga mengangkat pentingnya sejarah lokal dalam memahami jati diri Bali secara utuh. Seperti yang ditulis oleh Syarif Tua—salah satu tokoh dalam buku Reken—bahwa perjuangan tidak selalu dalam bentuk senjata, melainkan melalui pena dan narasi yang diwariskan untuk generasi berikutnya.

Kini, ketika kampung Loloan menjadi simbol keberagaman di Bali Barat, nama I Wayan Reken layak dikenang sebagai juru kunci sejarah yang bekerja dalam diam, menuliskan narasi yang tidak pernah populer, tetapi sangat penting. Ia bukan hanya pencatat sejarah Islam di Jembrana, tapi juga penjaga memori pluralisme Bali.

Sampul buku I Wayan Reken | Foto Eka Sabara

I Wayan Reken membuktikan bahwa sejarah tidak harus ditulis oleh kaum elit. Cukup dengan ketekunan, cinta pada kampung halaman, dan keberanian menuliskan apa yang benar. Warisannya bukan hanya buku, tetapi cara melihat Bali dengan lebih utuh—dalam keragaman yang damai dan saling menghargai.

Eka Sabara, yang menginisiasi penerbitan buku Sejarah Islam di Jembrana-Bali menyebut I Wayan Reken adalah sejarawan sekaligus pegiat literasi pada zamannya. Beliau berhasil meneliti dan melengkapi tulisan-tulisan Datuk H. Siraj, dengan penelusuran sejarah lisan dari sumber-sumber yang ada di Loloan.

Usahanya melakukan penelitian dilakukan sejak 1940 hingga beliau tutup usia pada 1986. Eka sabara menambahkan, karena jasa I Wayan Reken yang besar terhadap perbendaharaan literasi masyarakat Jembrana, maka sudah selayaknya generasi penerus di Jembrana memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada beliau. Ini juga menjadi dasar pemikiran untuk menerbitkan manuskrip I Wayan Reken dalam bentuk buku.

Hal ini, imbuh Eka Sabara, dilakukan karena sudah jarang masyarakat Bali khususnya Jembrana yang mengetahui tentang I Wayan Reken, sosok penulis dan sejarawan yang  seakan terlupakan. Sudah waktunya Bali dan Indonesia mengingat kembali tokoh ini. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

  • BACA JUGA:
Krisna Aji, Psikiater Langka yang Menulis dari Ruang Sunyi Jiwa
Toleransi Agama di Bali, Bisakah Terus Bertahan?
Di Loloan, Syair Perpisahan Ramadhan Terdengar Lirih…
Tags: Islam di BalijembranaKampung Loloansejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Rumah Tak Lagi Bicara

Next Post

Baleganjur Kehilangan Hak Audialnya — Catatan Wimbakara Baleganjur Pesta Kesenian Bali 2025

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

Read moreDetails

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

Read moreDetails

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
0
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

Read moreDetails

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails
Next Post
Baleganjur Manggung, Orang Tua Harap Minggir — Ini Mainan Gen Z di Pesta Kesenian Bali

Baleganjur Kehilangan Hak Audialnya -- Catatan Wimbakara Baleganjur Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co