25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 7, 2025
in Khas
I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan

I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan

DI tengah ramainya wacana sejarah Bali yang kerap memusat pada kerajaan-kerajaan besar atau tokoh bangsawan, nama I Wayan Rekennyaris tak dikenal. Padahal, beliau adalah satu dari sedikit penulis sejarah yang merekam jejak Islamisasi di Bali secara teliti, khususnya di kawasan barat yang kini dikenal sebagai Kota Negara dan kampung Loloan.

I Wayan Reken lahir pada 17 Oktober 1921 di Sungbata, Jembrana. Ketika usianya baru tiga bulan, orang tuanya pindah ke kawasan Loloan di kota Negara, pusat aktivitas ekonomi dan sosial Jembrana. Kawasan itu dikenal sebagai kampung tua yang dihuni oleh komunitas Islam keturunan Bugis, Makassar, dan Melayu yang menetap di sana sejak abad ke-17. Di lingkungan inilah Reken tumbuh, mengamati kehidupan sehari-hari masyarakat Bali dan Islam yang hidup berdampingan dalam semangat menyama braya.

Ia bersekolah di sekolah dasar “Setia Hati School” di Baler Bale Agung, Negara, pada tahun 1927, yang saat itu hanya memiliki dua guru tamatan Kweek School dari Jawa dan murid awal sebanyak 18 orang. Setelah menamatkan sekolah pada 1935, Reken sempat bekerja di sebuah toko milik pengusaha keturunan Arab di Banyuwangi, Jawa Timur, selama empat bulan. Namun, gairah utamanya bukan pada perdagangan, melainkan pada sejarah dan dokumentasi kebudayaan lokal.

I Wayan Reken | Foto: Koleksi I Made Notasa

Reken bukan akademisi. Ia bukan profesor, bukan lulusan perguruan tinggi sejarah. Namun, sejak muda ia tekun mencatat, mewawancarai para sesepuh, mempelajari dokumen-dokumen tua, hingga menulis tangan manuskrip berjudul Sejarah Perkembangan Islam di Bali, khususnya di Kabupaten Jembrana pada tahun 1979. Naskah itu baru diterbitkan dalam bentuk buku pada 2023, atau nyaris empat dekade setelah wafatnya pada 11 Januari 1986. Inilah warisan sunyi yang kini menjadi rujukan penting dalam memahami sejarah Islam di Bali.

Buku tersebut memuat kajian mendalam tentang dua gelombang besar kedatangan Muslim ke Jembrana. Pertama, kedatangan para pelaut Bugis-Makassar pada abad ke-17 yang lari dari konflik dengan VOC; dan kedua, migrasi para mubaligh serta keturunan bangsawan Melayu dan Arab pada abad ke-18, termasuk rombongan eskadron Sultan Pontianak, Syarif Abdullah bin Yahya Al Qodery. Kedatangan mereka tidak dalam bentuk invasi, tetapi justru atas persahabatan dengan raja-raja Jembrana yang kala itu bersedia memberikan konsesi pemukiman dan perdagangan.

Dalam tulisannya, I Wayan Reken menyingkap fakta menarik bahwa sebelum “Negara” menjadi kota administratif, kawasan Loloan telah lebih dahulu hidup sebagai pusat perdagangan maritim yang ramai, dipenuhi rumah-rumah panggung bergaya Bugis dan masjid-masjid yang jadi pusat pendidikan. Ia mencatat pembangunan Masjid pertama di Loloan Timur terjadi tahun 1848, dibangun di atas tanah wakaf Encik Ya’qub dari Trengganu dan disaksikan langsung oleh tokoh penting Muslim seperti Syarif Abdullah dan Panglima Tahal. Bukti sejarah ini masih tersimpan di papan kayu bertuliskan Arab Pegon di masjid tersebut hingga kini.

Reken juga menuliskan dengan jernih bagaimana para Muslim pendatang bukan sekadar pedagang atau ulama, melainkan turut membela Kerajaan Jembrana dari serangan luar. Pasukan Bugis-Makassar tercatat membantu mempertahankan Jembrana dari serangan Buleleng dan Tabanan di abad ke-18. Salah satu kekuatan utama pertahanan itu adalah para penembak meriam Bugis yang mengenakan destar hitam, tidak bisa dibedakan dari prajurit Hindu Bali lainnya. Inilah cermin akulturasi yang sejati.

Kisah ini menjadi penting dalam konteks Bali hari ini, ketika narasi sejarah kerap dipersempit menjadi satu warna budaya dominan. Reken dalam tulisannya justru menunjukkan bahwa Bali telah lama menjadi rumah bagi keberagaman. Ia menyebut, “Sejarah bukan sekadar kisah heroik, tetapi tentang perjuangan untuk hidup, the struggle for life, baik di bidang budaya, agama, ekonomi, maupun politik.”

Manuskrip I Wayan Reken | Foto koleksi Eka Sabara

Sejarah Islam di Jembrana, menurutnya, tidak dapat dilepaskan dari sejarah kerajaan-kerajaan Bali, dan justru menjadi bagian utuh dari dinamika pulau ini.

Tak hanya mencatat sejarah agama, I Wayan Reken juga mendokumentasikan seni-seni yang terlupakan, seperti Joget Janturan—kesenian yang merupakan akulturasi antara joged Bali dan pencak silat Bugis. Ia juga menulis mengenai pemerintahan, sistem pertanian, dan pembentukan komunitas Muslim di desa-desa seperti Loloan Timur, Loloan Barat, Cupel, Air Kuning, hingga Banyubiru.

Meski tulisannya kaya dan sistematis, I Wayan Reken tidak pernah menyebut dirinya sejarawan. Pada awal 1985, beliau dikabarkan mendapat pengakuan sebagai salah satu dari tiga sejarawan Bali oleh Rektor Universitas Udayana saat itu, usai memberi kuliah umum tentang sejarah Islam di Jembrana. Meski belum ditemukan dokumen resminya, pengakuan ini tercatat dalam kata pengantar editor buku karyanya yang diterbitkan pada 2023.

Pasca-wafatnya, nama I Wayan Reken nyaris tenggelam. Manuskripnya pun sempat nyaris hilang dari peredaran hingga Eka Sabara, seorang penulis dan budayawan muda asal Loloan, Jembrana, mendatangi keluarga almarhum dan mendapat izin dari putra sulungnya, I Made Notasa, untuk menerbitkan karya tersebut. Buku Sejarah Islam di Jembrana–Bali akhirnya diterbitkan oleh Indie Publishing, Singaraja, dan disambut hangat oleh komunitas pemerhati sejarah, termasuk Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI) Bali.

Penerbitan buku ini tidak hanya membangkitkan kembali ingatan akan sosok Reken, tetapi juga mengangkat pentingnya sejarah lokal dalam memahami jati diri Bali secara utuh. Seperti yang ditulis oleh Syarif Tua—salah satu tokoh dalam buku Reken—bahwa perjuangan tidak selalu dalam bentuk senjata, melainkan melalui pena dan narasi yang diwariskan untuk generasi berikutnya.

Kini, ketika kampung Loloan menjadi simbol keberagaman di Bali Barat, nama I Wayan Reken layak dikenang sebagai juru kunci sejarah yang bekerja dalam diam, menuliskan narasi yang tidak pernah populer, tetapi sangat penting. Ia bukan hanya pencatat sejarah Islam di Jembrana, tapi juga penjaga memori pluralisme Bali.

Sampul buku I Wayan Reken | Foto Eka Sabara

I Wayan Reken membuktikan bahwa sejarah tidak harus ditulis oleh kaum elit. Cukup dengan ketekunan, cinta pada kampung halaman, dan keberanian menuliskan apa yang benar. Warisannya bukan hanya buku, tetapi cara melihat Bali dengan lebih utuh—dalam keragaman yang damai dan saling menghargai.

Eka Sabara, yang menginisiasi penerbitan buku Sejarah Islam di Jembrana-Bali menyebut I Wayan Reken adalah sejarawan sekaligus pegiat literasi pada zamannya. Beliau berhasil meneliti dan melengkapi tulisan-tulisan Datuk H. Siraj, dengan penelusuran sejarah lisan dari sumber-sumber yang ada di Loloan.

Usahanya melakukan penelitian dilakukan sejak 1940 hingga beliau tutup usia pada 1986. Eka sabara menambahkan, karena jasa I Wayan Reken yang besar terhadap perbendaharaan literasi masyarakat Jembrana, maka sudah selayaknya generasi penerus di Jembrana memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada beliau. Ini juga menjadi dasar pemikiran untuk menerbitkan manuskrip I Wayan Reken dalam bentuk buku.

Hal ini, imbuh Eka Sabara, dilakukan karena sudah jarang masyarakat Bali khususnya Jembrana yang mengetahui tentang I Wayan Reken, sosok penulis dan sejarawan yang  seakan terlupakan. Sudah waktunya Bali dan Indonesia mengingat kembali tokoh ini. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

  • BACA JUGA:
Krisna Aji, Psikiater Langka yang Menulis dari Ruang Sunyi Jiwa
Toleransi Agama di Bali, Bisakah Terus Bertahan?
Di Loloan, Syair Perpisahan Ramadhan Terdengar Lirih…
Tags: Islam di BalijembranaKampung Loloansejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Rumah Tak Lagi Bicara

Next Post

Baleganjur Kehilangan Hak Audialnya — Catatan Wimbakara Baleganjur Pesta Kesenian Bali 2025

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails
Next Post
Baleganjur Manggung, Orang Tua Harap Minggir — Ini Mainan Gen Z di Pesta Kesenian Bali

Baleganjur Kehilangan Hak Audialnya -- Catatan Wimbakara Baleganjur Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co