24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 7, 2025
in Khas
I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan

I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan

DI tengah ramainya wacana sejarah Bali yang kerap memusat pada kerajaan-kerajaan besar atau tokoh bangsawan, nama I Wayan Rekennyaris tak dikenal. Padahal, beliau adalah satu dari sedikit penulis sejarah yang merekam jejak Islamisasi di Bali secara teliti, khususnya di kawasan barat yang kini dikenal sebagai Kota Negara dan kampung Loloan.

I Wayan Reken lahir pada 17 Oktober 1921 di Sungbata, Jembrana. Ketika usianya baru tiga bulan, orang tuanya pindah ke kawasan Loloan di kota Negara, pusat aktivitas ekonomi dan sosial Jembrana. Kawasan itu dikenal sebagai kampung tua yang dihuni oleh komunitas Islam keturunan Bugis, Makassar, dan Melayu yang menetap di sana sejak abad ke-17. Di lingkungan inilah Reken tumbuh, mengamati kehidupan sehari-hari masyarakat Bali dan Islam yang hidup berdampingan dalam semangat menyama braya.

Ia bersekolah di sekolah dasar “Setia Hati School” di Baler Bale Agung, Negara, pada tahun 1927, yang saat itu hanya memiliki dua guru tamatan Kweek School dari Jawa dan murid awal sebanyak 18 orang. Setelah menamatkan sekolah pada 1935, Reken sempat bekerja di sebuah toko milik pengusaha keturunan Arab di Banyuwangi, Jawa Timur, selama empat bulan. Namun, gairah utamanya bukan pada perdagangan, melainkan pada sejarah dan dokumentasi kebudayaan lokal.

I Wayan Reken | Foto: Koleksi I Made Notasa

Reken bukan akademisi. Ia bukan profesor, bukan lulusan perguruan tinggi sejarah. Namun, sejak muda ia tekun mencatat, mewawancarai para sesepuh, mempelajari dokumen-dokumen tua, hingga menulis tangan manuskrip berjudul Sejarah Perkembangan Islam di Bali, khususnya di Kabupaten Jembrana pada tahun 1979. Naskah itu baru diterbitkan dalam bentuk buku pada 2023, atau nyaris empat dekade setelah wafatnya pada 11 Januari 1986. Inilah warisan sunyi yang kini menjadi rujukan penting dalam memahami sejarah Islam di Bali.

Buku tersebut memuat kajian mendalam tentang dua gelombang besar kedatangan Muslim ke Jembrana. Pertama, kedatangan para pelaut Bugis-Makassar pada abad ke-17 yang lari dari konflik dengan VOC; dan kedua, migrasi para mubaligh serta keturunan bangsawan Melayu dan Arab pada abad ke-18, termasuk rombongan eskadron Sultan Pontianak, Syarif Abdullah bin Yahya Al Qodery. Kedatangan mereka tidak dalam bentuk invasi, tetapi justru atas persahabatan dengan raja-raja Jembrana yang kala itu bersedia memberikan konsesi pemukiman dan perdagangan.

Dalam tulisannya, I Wayan Reken menyingkap fakta menarik bahwa sebelum “Negara” menjadi kota administratif, kawasan Loloan telah lebih dahulu hidup sebagai pusat perdagangan maritim yang ramai, dipenuhi rumah-rumah panggung bergaya Bugis dan masjid-masjid yang jadi pusat pendidikan. Ia mencatat pembangunan Masjid pertama di Loloan Timur terjadi tahun 1848, dibangun di atas tanah wakaf Encik Ya’qub dari Trengganu dan disaksikan langsung oleh tokoh penting Muslim seperti Syarif Abdullah dan Panglima Tahal. Bukti sejarah ini masih tersimpan di papan kayu bertuliskan Arab Pegon di masjid tersebut hingga kini.

Reken juga menuliskan dengan jernih bagaimana para Muslim pendatang bukan sekadar pedagang atau ulama, melainkan turut membela Kerajaan Jembrana dari serangan luar. Pasukan Bugis-Makassar tercatat membantu mempertahankan Jembrana dari serangan Buleleng dan Tabanan di abad ke-18. Salah satu kekuatan utama pertahanan itu adalah para penembak meriam Bugis yang mengenakan destar hitam, tidak bisa dibedakan dari prajurit Hindu Bali lainnya. Inilah cermin akulturasi yang sejati.

Kisah ini menjadi penting dalam konteks Bali hari ini, ketika narasi sejarah kerap dipersempit menjadi satu warna budaya dominan. Reken dalam tulisannya justru menunjukkan bahwa Bali telah lama menjadi rumah bagi keberagaman. Ia menyebut, “Sejarah bukan sekadar kisah heroik, tetapi tentang perjuangan untuk hidup, the struggle for life, baik di bidang budaya, agama, ekonomi, maupun politik.”

Manuskrip I Wayan Reken | Foto koleksi Eka Sabara

Sejarah Islam di Jembrana, menurutnya, tidak dapat dilepaskan dari sejarah kerajaan-kerajaan Bali, dan justru menjadi bagian utuh dari dinamika pulau ini.

Tak hanya mencatat sejarah agama, I Wayan Reken juga mendokumentasikan seni-seni yang terlupakan, seperti Joget Janturan—kesenian yang merupakan akulturasi antara joged Bali dan pencak silat Bugis. Ia juga menulis mengenai pemerintahan, sistem pertanian, dan pembentukan komunitas Muslim di desa-desa seperti Loloan Timur, Loloan Barat, Cupel, Air Kuning, hingga Banyubiru.

Meski tulisannya kaya dan sistematis, I Wayan Reken tidak pernah menyebut dirinya sejarawan. Pada awal 1985, beliau dikabarkan mendapat pengakuan sebagai salah satu dari tiga sejarawan Bali oleh Rektor Universitas Udayana saat itu, usai memberi kuliah umum tentang sejarah Islam di Jembrana. Meski belum ditemukan dokumen resminya, pengakuan ini tercatat dalam kata pengantar editor buku karyanya yang diterbitkan pada 2023.

Pasca-wafatnya, nama I Wayan Reken nyaris tenggelam. Manuskripnya pun sempat nyaris hilang dari peredaran hingga Eka Sabara, seorang penulis dan budayawan muda asal Loloan, Jembrana, mendatangi keluarga almarhum dan mendapat izin dari putra sulungnya, I Made Notasa, untuk menerbitkan karya tersebut. Buku Sejarah Islam di Jembrana–Bali akhirnya diterbitkan oleh Indie Publishing, Singaraja, dan disambut hangat oleh komunitas pemerhati sejarah, termasuk Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI) Bali.

Penerbitan buku ini tidak hanya membangkitkan kembali ingatan akan sosok Reken, tetapi juga mengangkat pentingnya sejarah lokal dalam memahami jati diri Bali secara utuh. Seperti yang ditulis oleh Syarif Tua—salah satu tokoh dalam buku Reken—bahwa perjuangan tidak selalu dalam bentuk senjata, melainkan melalui pena dan narasi yang diwariskan untuk generasi berikutnya.

Kini, ketika kampung Loloan menjadi simbol keberagaman di Bali Barat, nama I Wayan Reken layak dikenang sebagai juru kunci sejarah yang bekerja dalam diam, menuliskan narasi yang tidak pernah populer, tetapi sangat penting. Ia bukan hanya pencatat sejarah Islam di Jembrana, tapi juga penjaga memori pluralisme Bali.

Sampul buku I Wayan Reken | Foto Eka Sabara

I Wayan Reken membuktikan bahwa sejarah tidak harus ditulis oleh kaum elit. Cukup dengan ketekunan, cinta pada kampung halaman, dan keberanian menuliskan apa yang benar. Warisannya bukan hanya buku, tetapi cara melihat Bali dengan lebih utuh—dalam keragaman yang damai dan saling menghargai.

Eka Sabara, yang menginisiasi penerbitan buku Sejarah Islam di Jembrana-Bali menyebut I Wayan Reken adalah sejarawan sekaligus pegiat literasi pada zamannya. Beliau berhasil meneliti dan melengkapi tulisan-tulisan Datuk H. Siraj, dengan penelusuran sejarah lisan dari sumber-sumber yang ada di Loloan.

Usahanya melakukan penelitian dilakukan sejak 1940 hingga beliau tutup usia pada 1986. Eka sabara menambahkan, karena jasa I Wayan Reken yang besar terhadap perbendaharaan literasi masyarakat Jembrana, maka sudah selayaknya generasi penerus di Jembrana memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada beliau. Ini juga menjadi dasar pemikiran untuk menerbitkan manuskrip I Wayan Reken dalam bentuk buku.

Hal ini, imbuh Eka Sabara, dilakukan karena sudah jarang masyarakat Bali khususnya Jembrana yang mengetahui tentang I Wayan Reken, sosok penulis dan sejarawan yang  seakan terlupakan. Sudah waktunya Bali dan Indonesia mengingat kembali tokoh ini. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

  • BACA JUGA:
Krisna Aji, Psikiater Langka yang Menulis dari Ruang Sunyi Jiwa
Toleransi Agama di Bali, Bisakah Terus Bertahan?
Di Loloan, Syair Perpisahan Ramadhan Terdengar Lirih…
Tags: Islam di BalijembranaKampung Loloansejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Rumah Tak Lagi Bicara

Next Post

Baleganjur Kehilangan Hak Audialnya — Catatan Wimbakara Baleganjur Pesta Kesenian Bali 2025

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Baleganjur Manggung, Orang Tua Harap Minggir — Ini Mainan Gen Z di Pesta Kesenian Bali

Baleganjur Kehilangan Hak Audialnya -- Catatan Wimbakara Baleganjur Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co