23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Rumah Tak Lagi Bicara

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 7, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, ada yang pelan-pelan hilang dari rumah kita. Bukan kursi kayu yang diganti sofa minimalis, bukan pula teko porselen yang digantikan oleh dispenser otomatis. Tapi ini sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu suara. Bukan dalam arti literal, karena nyatanya rumah-rumah kita hari ini lebih ramai dari masa sebelumnya. Ramai dengan notifikasi yang tak henti berdenting, suara YouTuber yang teriak-teriak, dan deru game yang membisingkan telinga.

Tapi coba perhatikan, di balik semua itu, rumah sekarang kehilangan suara manusia. Suara obrolan, suara tawa bersama, suara ribut kecil karena beda selera nonton, atau suara tanya sepulang sekolah, “Kamu kenapa hari ini, kok wajahmu jelek gitu?”, misalnya.

Ini bukan sekadar nostalgia sentimentil. Ini soal kehilangan yang sungguh-sungguh. Mari flashback ke era ’90-an, di rumah cuma satu TV, dan itu pun ditaruh di ruang tengah. Mau nggak mau, semua anggota keluarga harus nonton bareng. Ketika beda selera, ya diskusi, berembug. Kadang rebutan remote jadi ajang latihan demokrasi. Si bungsu mau kartun, si sulung mau MTV, bapak nunggu berita. Tapi justru dari sinilah kompromi lahir, negosiasi tumbuh, dan empati dibentuk.

Di situlah anak belajar bahwa keinginan tak selalu dituruti, bahwa hidup itu suatu negosiasi, bahwa menyenangkan orang lain juga bagian dari kebahagiaan.  Dalam satu layar TV itu, terbentuk semacam ruang kompromi dan saling memahami yang dulu biasa tapi sekarang jadi barang mewah.

Zaman bergulir, lalu masing-masing punya TV sendiri. Atau saat ini bahkan tak butuh TV lagi, cukup smartphone di tangan. Satu rumah, lima kepala, lima layar, lima dunia.  Anak punya dunianya sendiri di TikTok, ayah di Twitter, ibu di Facebook, kakak di YouTube, adik di Roblox. Semua merasa sibuk, semua merasa terhubung, tapi entah sejak kapan rumah kehilangan getaran koneksi yang sesungguhnya. Tak ada lagi ruang tengah, yang ada adalah bunker-bunker digital dengan algoritma masing-masing. Gejala ini mulai terasa, ada yang parah ada yang tidak, tapi ada.

Sekolah Demokrasi di Meja Makan

Eli Pariser, seorang pengamat media digital mengemukakan istilah filter bubble. Ia menggambarkan bagaimana algoritma media sosial dan platform digital menyajikan informasi khusus itu-itu saja, sesuai minat dan preferensi pengguna. Hasilnya kita jadi hidup dalam gelembung informasi pribadi, tanpa tahu bahwa kita sedang dijauhkan dari perspektif orang lain.

Wajarlah jika kemudian komunikasi dalam keluarga jadi seperti sinyal WiFi, kadang nyambung, kadang ngadat, seringkali putus tapi kita malas ngecek. Berharap tipis-tipis, nanti juga entah bagaimana nyambung lagi.  Padahal dari sanalah semuanya bermula. Kita tahu keluarga itu unit terkecil dalam masyarakat, tapi jarang kita menyadari betapa rentannya unit itu hari ini. Kalau komunikasi dalam keluarga rusak, maka apa kabar demokrasi?

Tempat pertama anak belajar bahwa beda pendapat itu hal biasa, adalah dari rumah.  Kita pertama kali belajar menahan ego, di mana lagi kalau bukan di meja makan. Karena kalau kita bicara tentang toleransi sosial, empati, atau keberagaman, semua itu dipraktikkan pertama kali bisa jadi di meja makan. Di situ anak belajar bahwa ia harus berbagi ayam goreng terakhir,  dan memahami pendapat ibu bisa berbeda dari kakak. Jika negara adalah kumpulan komunitas, dan komunitas tersusun dari keluarga, maka kualitas komunikasi dalam keluarga bisa dikatakan sebagai barometer demokrasi. Ketika komunikasi keluarga rusak, maka konflik sosial hanyalah gema dari sunyinya meja makan saat ini.

Ilusi Kedekatan

Kembali lagi, mungkin banyak yang menganggap ini cuma kerinduan sentimentil terhadap masa lalu. Wajar jika dibilang, “Ya nggak bisa dibandingin dong, zaman kan udah berubah.” Ya, tentu saja zaman berubah. Tapi bukan berarti semua perubahan otomatis membawa kebaikan. Sebagian kita akan berkelit, “Tapi sekarang kita tetap bisa ngobrol loh, di grup WhatsApp keluarga.” Yah, itu juga memang benar. Tapi apakah cukup dalam dan cukup jujur.

Karena begini, komunikasi digital menciptakan suatu ilusi keintiman. Di sini ekspresi  diganti dengan emoji,  dan video call menggantikan sentuhan.   Ada hal-hal yang seharusnya kita pertahankan justru karena untuk mengantisipasi zaman. Seperti kehadiran, seperti perhatian, seperti obrolan yang nggak buru-buru ditutup, karena baterai tinggal 5 persen.

Dulu kita belajar komunikasi bukan dari seminar atau webinar, tapi dari ruang tamu. Dari diamnya bapak yang menyiratkan  marah, dari nada suara ibu yang membujuk saat menegur, dari tatapan kakak yang minta tolong diam-diam. Hari ini, semua diketik dan dikemas dalam emoji. Semua serba cepat, lucu, singkat, dan tak meninggalkan jejak rasa. Kita jadi terbiasa menulis “wkwk” padahal perasaan kita flat, B aja.

Komunikasi digital menciptakan ilusi kedekatan. Kita pikir kita sudah cukup dekat karena tiap hari saling kirim stiker, padahal tak pernah benar-benar hadir. Kita pikir sudah mengobrol karena ikut grup WhatsApp keluarga, padahal isinya cuma saling lempar berita forwarding dan komen tak produktif. Yang hilang di sini adalah kedekatan yang hadir secara penuh, bukan hanya notifikatif.

Beberapa ahli komunikasi seperti George Herbert Mead mengingatkan bahwa identitas diri terbentuk dari interaksi sosial. Nah, nonton TV bersama, ngobrol saat iklan, tertawa bareng saat nonton sinetron konyol, itu semua adalah momen mikroskopis pembentukan masyarakat. Artinya, anak-anak zaman sekarang bukan sekadar hidup di dunia yang berbeda dengan zaman sebelumnya, tapi secara esensial tengah membentuk diri dalam ruang yang nyaris tanpa interaksi nyata.

Mereka tumbuh tanpa melihat orang tuanya saling bicara dalam percakapan yang bermakna, tanpa ikut berunding menentukan mau makan di mana. Masing-masing punya selera, tak perlu ribut. Nampaknya damai, tapi damainya dingin dan sunyi. Jadi  jangan kita heran ketika mereka sulit bersosialisasi, tak bisa berdebat dengan kepala dingin, atau tak mampu menyelesaikan konflik dengan kalimat tapi dengan main block, private akun atau cancel culture. Padahal mungkin saja mereka hanya meniru orang dewasa di rumah yang terlalu sibuk hidup di dunia layar, dan tak sempat menunjukkan bagaimana menjadi manusia yang utuh.

Tentu tak mungkin kembali ke era televisi tabung. Tapi kita bisa menciptakan ulang ruang-ruang itu. Ruang makan tanpa gadget. Pilih film atau acara yang bisa ditonton bersama. Nonton bukan sekadar hiburan, tapi kesempatan menyelami pikiran satu sama lain. Biarkan saja jika anak tidak suka film pilihan ayah. Biarkan ibu tidak paham game anak. Justru di situlah lahir kesediaan untuk memahami. Bangun kembali budaya bertutur.

Michael White, pelopor narrative therapy, menyebut bahwa manusia menyembuhkan diri lewat cerita.  Ngobrol sebelum tidur, walau cuma sepuluh menit. Bukan soal durasi, tapi kehadiran. Cerita hari ini. Cerita masa lalu. Cerita lucu. Cerita gagal. Cerita adalah jembatan antarhati. Karena tidak ada teknologi yang bisa menggantikan suara manusia yang sungguh-sungguh mendengarkan. Dan rumah adalah tempat pertama cerita harus kembali menggema.

Sekadar Usulan

Kadang kita merasa semua ini terlalu sepele. Tapi justru dari hal-hal sepele itu lahir rasa percaya, pengertian, dan empati. Anak yang terbiasa didengarkan akan lebih mudah mendengar. Pasangan yang terbiasa saling berbagi cerita akan lebih tahan terhadap godaan pelarian digital. Dan keluarga yang terbiasa bicara akan lebih tahan menghadapi dunia yang makin bising tapi juga makin sunyi ini.

Romantisme masa lalu bukan nostalgia murahan. Ia adalah pengingat bahwa kita pernah lebih manusiawi dalam berkomunikasi. Jika dulu kita lebih saling mendengarkan, lebih sabar, dan lebih siap berbagi ruang, mengapa kita tidak mencoba menciptakan itu kembali, di tengah modernitas ini? 

Ngomong-ngomong, kalau AI zaman sekarang bisa mempercepat dan mempermudah pekerjaan, mestinya bisa dong, kalau waktu kita sekarang jadi lebih banyak untuk keluarga. Tapi kembali lagi, semua itu tergantung niat, sih. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI
“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur
Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra
Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita
Tags: demokrasigaya hidupRumah Tangga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Megandu” Permainan Tradisional Anak-anak Petani Tabanan di Jantra Tradisional Bali 2025

Next Post

I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan

I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co