2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Rumah Tak Lagi Bicara

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 7, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, ada yang pelan-pelan hilang dari rumah kita. Bukan kursi kayu yang diganti sofa minimalis, bukan pula teko porselen yang digantikan oleh dispenser otomatis. Tapi ini sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu suara. Bukan dalam arti literal, karena nyatanya rumah-rumah kita hari ini lebih ramai dari masa sebelumnya. Ramai dengan notifikasi yang tak henti berdenting, suara YouTuber yang teriak-teriak, dan deru game yang membisingkan telinga.

Tapi coba perhatikan, di balik semua itu, rumah sekarang kehilangan suara manusia. Suara obrolan, suara tawa bersama, suara ribut kecil karena beda selera nonton, atau suara tanya sepulang sekolah, “Kamu kenapa hari ini, kok wajahmu jelek gitu?”, misalnya.

Ini bukan sekadar nostalgia sentimentil. Ini soal kehilangan yang sungguh-sungguh. Mari flashback ke era ’90-an, di rumah cuma satu TV, dan itu pun ditaruh di ruang tengah. Mau nggak mau, semua anggota keluarga harus nonton bareng. Ketika beda selera, ya diskusi, berembug. Kadang rebutan remote jadi ajang latihan demokrasi. Si bungsu mau kartun, si sulung mau MTV, bapak nunggu berita. Tapi justru dari sinilah kompromi lahir, negosiasi tumbuh, dan empati dibentuk.

Di situlah anak belajar bahwa keinginan tak selalu dituruti, bahwa hidup itu suatu negosiasi, bahwa menyenangkan orang lain juga bagian dari kebahagiaan.  Dalam satu layar TV itu, terbentuk semacam ruang kompromi dan saling memahami yang dulu biasa tapi sekarang jadi barang mewah.

Zaman bergulir, lalu masing-masing punya TV sendiri. Atau saat ini bahkan tak butuh TV lagi, cukup smartphone di tangan. Satu rumah, lima kepala, lima layar, lima dunia.  Anak punya dunianya sendiri di TikTok, ayah di Twitter, ibu di Facebook, kakak di YouTube, adik di Roblox. Semua merasa sibuk, semua merasa terhubung, tapi entah sejak kapan rumah kehilangan getaran koneksi yang sesungguhnya. Tak ada lagi ruang tengah, yang ada adalah bunker-bunker digital dengan algoritma masing-masing. Gejala ini mulai terasa, ada yang parah ada yang tidak, tapi ada.

Sekolah Demokrasi di Meja Makan

Eli Pariser, seorang pengamat media digital mengemukakan istilah filter bubble. Ia menggambarkan bagaimana algoritma media sosial dan platform digital menyajikan informasi khusus itu-itu saja, sesuai minat dan preferensi pengguna. Hasilnya kita jadi hidup dalam gelembung informasi pribadi, tanpa tahu bahwa kita sedang dijauhkan dari perspektif orang lain.

Wajarlah jika kemudian komunikasi dalam keluarga jadi seperti sinyal WiFi, kadang nyambung, kadang ngadat, seringkali putus tapi kita malas ngecek. Berharap tipis-tipis, nanti juga entah bagaimana nyambung lagi.  Padahal dari sanalah semuanya bermula. Kita tahu keluarga itu unit terkecil dalam masyarakat, tapi jarang kita menyadari betapa rentannya unit itu hari ini. Kalau komunikasi dalam keluarga rusak, maka apa kabar demokrasi?

Tempat pertama anak belajar bahwa beda pendapat itu hal biasa, adalah dari rumah.  Kita pertama kali belajar menahan ego, di mana lagi kalau bukan di meja makan. Karena kalau kita bicara tentang toleransi sosial, empati, atau keberagaman, semua itu dipraktikkan pertama kali bisa jadi di meja makan. Di situ anak belajar bahwa ia harus berbagi ayam goreng terakhir,  dan memahami pendapat ibu bisa berbeda dari kakak. Jika negara adalah kumpulan komunitas, dan komunitas tersusun dari keluarga, maka kualitas komunikasi dalam keluarga bisa dikatakan sebagai barometer demokrasi. Ketika komunikasi keluarga rusak, maka konflik sosial hanyalah gema dari sunyinya meja makan saat ini.

Ilusi Kedekatan

Kembali lagi, mungkin banyak yang menganggap ini cuma kerinduan sentimentil terhadap masa lalu. Wajar jika dibilang, “Ya nggak bisa dibandingin dong, zaman kan udah berubah.” Ya, tentu saja zaman berubah. Tapi bukan berarti semua perubahan otomatis membawa kebaikan. Sebagian kita akan berkelit, “Tapi sekarang kita tetap bisa ngobrol loh, di grup WhatsApp keluarga.” Yah, itu juga memang benar. Tapi apakah cukup dalam dan cukup jujur.

Karena begini, komunikasi digital menciptakan suatu ilusi keintiman. Di sini ekspresi  diganti dengan emoji,  dan video call menggantikan sentuhan.   Ada hal-hal yang seharusnya kita pertahankan justru karena untuk mengantisipasi zaman. Seperti kehadiran, seperti perhatian, seperti obrolan yang nggak buru-buru ditutup, karena baterai tinggal 5 persen.

Dulu kita belajar komunikasi bukan dari seminar atau webinar, tapi dari ruang tamu. Dari diamnya bapak yang menyiratkan  marah, dari nada suara ibu yang membujuk saat menegur, dari tatapan kakak yang minta tolong diam-diam. Hari ini, semua diketik dan dikemas dalam emoji. Semua serba cepat, lucu, singkat, dan tak meninggalkan jejak rasa. Kita jadi terbiasa menulis “wkwk” padahal perasaan kita flat, B aja.

Komunikasi digital menciptakan ilusi kedekatan. Kita pikir kita sudah cukup dekat karena tiap hari saling kirim stiker, padahal tak pernah benar-benar hadir. Kita pikir sudah mengobrol karena ikut grup WhatsApp keluarga, padahal isinya cuma saling lempar berita forwarding dan komen tak produktif. Yang hilang di sini adalah kedekatan yang hadir secara penuh, bukan hanya notifikatif.

Beberapa ahli komunikasi seperti George Herbert Mead mengingatkan bahwa identitas diri terbentuk dari interaksi sosial. Nah, nonton TV bersama, ngobrol saat iklan, tertawa bareng saat nonton sinetron konyol, itu semua adalah momen mikroskopis pembentukan masyarakat. Artinya, anak-anak zaman sekarang bukan sekadar hidup di dunia yang berbeda dengan zaman sebelumnya, tapi secara esensial tengah membentuk diri dalam ruang yang nyaris tanpa interaksi nyata.

Mereka tumbuh tanpa melihat orang tuanya saling bicara dalam percakapan yang bermakna, tanpa ikut berunding menentukan mau makan di mana. Masing-masing punya selera, tak perlu ribut. Nampaknya damai, tapi damainya dingin dan sunyi. Jadi  jangan kita heran ketika mereka sulit bersosialisasi, tak bisa berdebat dengan kepala dingin, atau tak mampu menyelesaikan konflik dengan kalimat tapi dengan main block, private akun atau cancel culture. Padahal mungkin saja mereka hanya meniru orang dewasa di rumah yang terlalu sibuk hidup di dunia layar, dan tak sempat menunjukkan bagaimana menjadi manusia yang utuh.

Tentu tak mungkin kembali ke era televisi tabung. Tapi kita bisa menciptakan ulang ruang-ruang itu. Ruang makan tanpa gadget. Pilih film atau acara yang bisa ditonton bersama. Nonton bukan sekadar hiburan, tapi kesempatan menyelami pikiran satu sama lain. Biarkan saja jika anak tidak suka film pilihan ayah. Biarkan ibu tidak paham game anak. Justru di situlah lahir kesediaan untuk memahami. Bangun kembali budaya bertutur.

Michael White, pelopor narrative therapy, menyebut bahwa manusia menyembuhkan diri lewat cerita.  Ngobrol sebelum tidur, walau cuma sepuluh menit. Bukan soal durasi, tapi kehadiran. Cerita hari ini. Cerita masa lalu. Cerita lucu. Cerita gagal. Cerita adalah jembatan antarhati. Karena tidak ada teknologi yang bisa menggantikan suara manusia yang sungguh-sungguh mendengarkan. Dan rumah adalah tempat pertama cerita harus kembali menggema.

Sekadar Usulan

Kadang kita merasa semua ini terlalu sepele. Tapi justru dari hal-hal sepele itu lahir rasa percaya, pengertian, dan empati. Anak yang terbiasa didengarkan akan lebih mudah mendengar. Pasangan yang terbiasa saling berbagi cerita akan lebih tahan terhadap godaan pelarian digital. Dan keluarga yang terbiasa bicara akan lebih tahan menghadapi dunia yang makin bising tapi juga makin sunyi ini.

Romantisme masa lalu bukan nostalgia murahan. Ia adalah pengingat bahwa kita pernah lebih manusiawi dalam berkomunikasi. Jika dulu kita lebih saling mendengarkan, lebih sabar, dan lebih siap berbagi ruang, mengapa kita tidak mencoba menciptakan itu kembali, di tengah modernitas ini? 

Ngomong-ngomong, kalau AI zaman sekarang bisa mempercepat dan mempermudah pekerjaan, mestinya bisa dong, kalau waktu kita sekarang jadi lebih banyak untuk keluarga. Tapi kembali lagi, semua itu tergantung niat, sih. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI
“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur
Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra
Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita
Tags: demokrasigaya hidupRumah Tangga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Megandu” Permainan Tradisional Anak-anak Petani Tabanan di Jantra Tradisional Bali 2025

Next Post

I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan

I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co