14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 17, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA satu istilah yang lagi rame di China sana, shǔ rén alias “manusia tikus”. Bagi sidang pembaca yang belum tahu, ini bukan soal orang yang cosplay jadi makhluk pengerat yang doyan kabel dan tinggal di gorong-gorong kota. Ini tentang manusia, yang merupakan anak-anak muda gen Z, yang hidup seperti ritmenya tikus, siang tidur, malam main gim, rebahan, medsos-an, menghabiskan waktu di dalam kamar, jarang keluar rumah, dan rutin bangun hanya untuk mengulangi siklus itu lagi. Mereka tidak miskin secara kasat mata, tapi juga bukan manusia yang “hidup” sepenuhnya.

Kalau Anda pikir ini cuma tren iseng anak Tiongkok yang seolah-olah kebanyakan waktu, Anda keliru. Fenomena ini bukan sekadar lifestyle. Konon dari pengakuan para pegiatnya, ini adalah respons eksistensial terhadap dunia yang makin absurd dan kehilangan arah. Alasannya cukup mendasar. Mereka merasa lelah. Mereka kecewa. Mereka tidak percaya lagi pada narasi sukses dan kerja keras.

 Jadi daripada jadi gila, mereka memilih jadi “tikus”. Dan seperti hal viral lainnya, ini bisa menular.  Sekarang bayangkan  bagaimana jika “virus tikus” ini menular ke Indonesia? Bagaimana nasib generasi emas 2045 yang katanya digadang-gadang  bakal jadi pahlawan ekonomi digital? Bisa-bisa bukan “generasi emas”, tapi “generasi lemas”, karena udah diremas duluan sama realitas hidup yang bengkok-bengkok.

Pemerintah agak gagap kalau ditanya soal tambang  Nikel di Raja Ampat dan Halmahera yang merusak alam, soal PHK di mana-mana,  investasi di IKN yang gak jelas, atau laut yang dipagari. Tapi lalu kelihatan happy banget kalau bicara soal “bonus demografi”. Narasinya manis,  jumlah penduduk usia produktif tinggi. Katanya ini berkah,  ini peluang besar untuk jadi negara maju. Padahal bonus yang satu ini sebenarnya cuma dan baru potensi, bukan jaminan. Analoginya bagai punya benih unggul berkarung-karung, tapi ladangnya tandus dan petaninya malas nyiram. Ya, buat apa?

Media Sosial, Senjata Makan Tuan

Fenomena manusia tikus ini mestinya harus dilihat tidak sekadar  soal magernya anak muda. Ini mirip “hikikomori” di Jepang, mirip juga dengan “N-po Generation” di Korea, yang sudah menyerah dari urusan rumah, pernikahan, dan impian hidup layak. Di Barat ada “quiet quitting”. Kerja secukupnya, nggak mau drama, karena capek jadi budak sistem yang busuk. Dan di Indonesia, versi lokalnya sudah kelihatan, meme “rebahan is life” menggantikan motivasi.

Filsafat hidup berubah jadi “kerja secukupnya, hidup semampunya.” Anak muda makin sinis terhadap masa depan, tapi tetap update Instagram. Semua ini bukan karena mereka malas, tapi karena mereka sadar bahwa hidup bukan cuma soal kerja keras. Mereka sudah mual dengan sistem yang terus menyuruh mereka lari, padahal ujungnya cuma tembok.

Yang agak mengkhawatirkan, penyebaran virus manusia tikus ini bukan lewat seminar atau doktrin dosen, tapi lewat meme. Konten 3 detik yang lebih tajam dari kuliah 3 SKS. Kira-kira begini doktrinnya, “Kerja keras cuma bikin bos kaya.” “Tidur dulu ah, biar nggak kecewa sama hidup.”“Lulus S1, nganggur. Lulus rebahan, damai.” Lucu, menghibur dan membuat tawa. Tapi kalau dikonsumsi tiap hari, ini bukan lagi hiburan. Ini akan jadi filsafat hidup. Meme ini kini sudah jadi doa, diulang-ulang sampai jadi kenyataan.

Fenomena “manusia tikus” yang kita bahas bukan semata-mata gejala kemalasan generasi muda. Ia adalah ekspresi eksistensial dari kebuntuan makna hidup dan di sinilah Albert Camus bisa masuk sebagai pisau analisis yang tajam. Mitos Sisifus dari Albert Camus adalah esai filsafat yang mengangkat tokoh Sisifus, seorang figur dalam mitologi Yunani yang dihukum oleh para dewa untuk terus-menerus mendorong batu besar ke atas bukit, hanya untuk melihat batu itu jatuh kembali. Begitu terus menerus hidup Sisifus ini. 

Camus menggunakan kisah ini sebagai simbol absurditas hidup manusia.  Kita semua terus bekerja, berjuang, mencari makna, namun pada akhirnya semuanya akan berulang dan berakhir sia-sia, seperti batu yang terus jatuh dari puncak bukit. Camus, dalam The Myth of Sisyphus, tidak berbicara soal kemalasan atau produktivitas, tapi soal absurditas. Menyoal adanya jarak antara pencarian manusia akan makna dan dunia yang bungkam terhadap pertanyaan itu. Dunia yang tak memberi jawaban,  hanya rutinitas, sistem, dan penderitaan tanpa arah. Sangat relate dengan yang dirasakan anak-anak muda tikus itu bukan? Jadi bukan soal anak muda yang malas atau ada yang bilang kurang asupan asam sulfat saat masih dikandung ibunya.

Pengangguran Terdidik , Sang Sisyphus yang Menolak Mendorong Batu

Para lulusan kampus keren yang tidak terserap dunia kerja bukan gagal karena bodoh, melainkan karena sadar bahwa meritokrasi adalah ilusi, dan koneksi adalah jalan pintas.  Mereka menuntut ilmu, belajar keras agar dapat ijazah yang asli, tapi nasib tak jelas. Sementara yang ijazahnya tak jelas, konon dapat cuan triliunan, atau dinaikkan jadi pejabat.

Mereka lantas menolak mendorong batu seperti Sisyphus, bukan karena malas, tapi karena telah memahami absurditas sistem. Camus menyebut ini sebagai “momen kesadaran akan absurditas”,  saat manusia menyadari bahwa sistem tidak memberi makna apa-apa, dan semua kerja keras bisa jatuh begitu saja.

Tapi Camus tidak menyarankan menyerah. Ia menyuruh kita untuk memberontak secara sadar, tetap dorong batu, tapi dengan tawa. Jika dilihat dari perspektif ini, di sinilah “manusia tikus” itu gagal. Mereka menyadari absurditas, tapi memilih tidur di kolong kasur sambil main PUBG. Camus tidak menolak absurditas, ia menyarankan memeluk absurditas dan menantangnya dengan keberanian. Tanpa itu, yang lahir bukan kebebasan, tapi stagnasi. Stagnasi yang lahir dari apatisme.

Dalam pandangan Camus, apatisme ini lebih jauh adalah bentuk bunuh diri filosofis. Bukan dengan peluru, tapi dengan diam. Ketika seluruh generasi muda merasa nggak ada gunanya berjuang, maka kehendak untuk hidup secara otentik lenyap. Ini lebih berbahaya daripada kerusuhan sosial, karena apatisme menyebar senyap, seperti gas beracun dalam ruangan tertutup. Ia membunuh semangat kolektif bangsa, generasi yang bernapas tapi tidak berpikir, hidup tapi tak bermakna. Ketika bangsa kehilangan makna, ia sedang berada di ujung eksistensialnya.

Pendidikan sebagai Arena Pemberontakan terhadap Kesia-siaan

Kita butuh pendidikan yang memberi nutrisi bagi otak, bukan sekedar memberi nasi kotak. Kita tidak butuh generasi yang hanya tahu rumus, tapi tidak tahu alasan kenapa hidup. Kita butuh generasi yang bisa bertanya: “Kenapa saya harus bekerja? Untuk siapa? Dan apakah saya masih manusia ketika hanya jadi alat produksi?”

Bonus demografi tidak akan jadi anugerah jika manusia di dalamnya tidak percaya pada hidupnya sendiri. Tentu kita harus waspada terhadap fenomena lao shǔ rén, manusia tikus,  yang menyasar gen Z ini. Maka tugas kita bukan membuat generasi muda “bersemangat”, tapi membantu mereka menemukan alasan untuk tetap hidup, walau dunia ini absurd. Dan itu berarti mendengarkan mereka, membangun ruang reflektif, serta menciptakan sistem sosial yang layak dipercaya.

Fenomena “manusia tikus” bukan penyakit. Mereka adalah gejala dari sistem yang sudah lama rusak. Mereka bukan ancaman. Mereka adalah alarm. Dan kalau kita tidak mendengar alarm ini, maka kita bukan sedang menanti generasi emas,  tapi sedang menggali liang kubur sosial, diam-diam dan perlahan, tapi pasti. Jika hidup memang absurd, bagaimana pun kita tetap bisa memilih  hidup dengan sadar.

Kita bisa jadi Sisifus yang nyengir, bukan Sisifus yang pasrah. Kita bisa pilih untuk melawan dengan cara tertawa, tapi tetap bermakna. Jika Camus bicara tentang absurditas, maka teringat saya akan  Sartre yang bicara tentang tanggung jawab radikal atas kebebasan. Bagi Sartre, “L’existence précède l’essence”, yang berarti eksistensi mendahului esensi. Manusia ada terlebih dahulu, baru kemudian menentukan siapa dirinya melalui pilihan dan tindakan.

Maka ketika anak muda merasa tidak berguna, bukan karena mereka benar-benar tidak punya nilai, tapi karena mereka belum benar-benar memilih menjadi sesuatu. Saya yakin, para pembaca yang budiman di sini bisa membantu mereka dalam kebijaksanaan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra
Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita
AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?
Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?
Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Tags: Chinamedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bicara-bicara Atas Nama Air di Desa Panji Buleleng

Next Post

Manusia Toksin: Menelan Fitnah Menolak Fakta

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Manusia Toksin: Menelan Fitnah Menolak Fakta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co