2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 17, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA satu istilah yang lagi rame di China sana, shǔ rén alias “manusia tikus”. Bagi sidang pembaca yang belum tahu, ini bukan soal orang yang cosplay jadi makhluk pengerat yang doyan kabel dan tinggal di gorong-gorong kota. Ini tentang manusia, yang merupakan anak-anak muda gen Z, yang hidup seperti ritmenya tikus, siang tidur, malam main gim, rebahan, medsos-an, menghabiskan waktu di dalam kamar, jarang keluar rumah, dan rutin bangun hanya untuk mengulangi siklus itu lagi. Mereka tidak miskin secara kasat mata, tapi juga bukan manusia yang “hidup” sepenuhnya.

Kalau Anda pikir ini cuma tren iseng anak Tiongkok yang seolah-olah kebanyakan waktu, Anda keliru. Fenomena ini bukan sekadar lifestyle. Konon dari pengakuan para pegiatnya, ini adalah respons eksistensial terhadap dunia yang makin absurd dan kehilangan arah. Alasannya cukup mendasar. Mereka merasa lelah. Mereka kecewa. Mereka tidak percaya lagi pada narasi sukses dan kerja keras.

 Jadi daripada jadi gila, mereka memilih jadi “tikus”. Dan seperti hal viral lainnya, ini bisa menular.  Sekarang bayangkan  bagaimana jika “virus tikus” ini menular ke Indonesia? Bagaimana nasib generasi emas 2045 yang katanya digadang-gadang  bakal jadi pahlawan ekonomi digital? Bisa-bisa bukan “generasi emas”, tapi “generasi lemas”, karena udah diremas duluan sama realitas hidup yang bengkok-bengkok.

Pemerintah agak gagap kalau ditanya soal tambang  Nikel di Raja Ampat dan Halmahera yang merusak alam, soal PHK di mana-mana,  investasi di IKN yang gak jelas, atau laut yang dipagari. Tapi lalu kelihatan happy banget kalau bicara soal “bonus demografi”. Narasinya manis,  jumlah penduduk usia produktif tinggi. Katanya ini berkah,  ini peluang besar untuk jadi negara maju. Padahal bonus yang satu ini sebenarnya cuma dan baru potensi, bukan jaminan. Analoginya bagai punya benih unggul berkarung-karung, tapi ladangnya tandus dan petaninya malas nyiram. Ya, buat apa?

Media Sosial, Senjata Makan Tuan

Fenomena manusia tikus ini mestinya harus dilihat tidak sekadar  soal magernya anak muda. Ini mirip “hikikomori” di Jepang, mirip juga dengan “N-po Generation” di Korea, yang sudah menyerah dari urusan rumah, pernikahan, dan impian hidup layak. Di Barat ada “quiet quitting”. Kerja secukupnya, nggak mau drama, karena capek jadi budak sistem yang busuk. Dan di Indonesia, versi lokalnya sudah kelihatan, meme “rebahan is life” menggantikan motivasi.

Filsafat hidup berubah jadi “kerja secukupnya, hidup semampunya.” Anak muda makin sinis terhadap masa depan, tapi tetap update Instagram. Semua ini bukan karena mereka malas, tapi karena mereka sadar bahwa hidup bukan cuma soal kerja keras. Mereka sudah mual dengan sistem yang terus menyuruh mereka lari, padahal ujungnya cuma tembok.

Yang agak mengkhawatirkan, penyebaran virus manusia tikus ini bukan lewat seminar atau doktrin dosen, tapi lewat meme. Konten 3 detik yang lebih tajam dari kuliah 3 SKS. Kira-kira begini doktrinnya, “Kerja keras cuma bikin bos kaya.” “Tidur dulu ah, biar nggak kecewa sama hidup.”“Lulus S1, nganggur. Lulus rebahan, damai.” Lucu, menghibur dan membuat tawa. Tapi kalau dikonsumsi tiap hari, ini bukan lagi hiburan. Ini akan jadi filsafat hidup. Meme ini kini sudah jadi doa, diulang-ulang sampai jadi kenyataan.

Fenomena “manusia tikus” yang kita bahas bukan semata-mata gejala kemalasan generasi muda. Ia adalah ekspresi eksistensial dari kebuntuan makna hidup dan di sinilah Albert Camus bisa masuk sebagai pisau analisis yang tajam. Mitos Sisifus dari Albert Camus adalah esai filsafat yang mengangkat tokoh Sisifus, seorang figur dalam mitologi Yunani yang dihukum oleh para dewa untuk terus-menerus mendorong batu besar ke atas bukit, hanya untuk melihat batu itu jatuh kembali. Begitu terus menerus hidup Sisifus ini. 

Camus menggunakan kisah ini sebagai simbol absurditas hidup manusia.  Kita semua terus bekerja, berjuang, mencari makna, namun pada akhirnya semuanya akan berulang dan berakhir sia-sia, seperti batu yang terus jatuh dari puncak bukit. Camus, dalam The Myth of Sisyphus, tidak berbicara soal kemalasan atau produktivitas, tapi soal absurditas. Menyoal adanya jarak antara pencarian manusia akan makna dan dunia yang bungkam terhadap pertanyaan itu. Dunia yang tak memberi jawaban,  hanya rutinitas, sistem, dan penderitaan tanpa arah. Sangat relate dengan yang dirasakan anak-anak muda tikus itu bukan? Jadi bukan soal anak muda yang malas atau ada yang bilang kurang asupan asam sulfat saat masih dikandung ibunya.

Pengangguran Terdidik , Sang Sisyphus yang Menolak Mendorong Batu

Para lulusan kampus keren yang tidak terserap dunia kerja bukan gagal karena bodoh, melainkan karena sadar bahwa meritokrasi adalah ilusi, dan koneksi adalah jalan pintas.  Mereka menuntut ilmu, belajar keras agar dapat ijazah yang asli, tapi nasib tak jelas. Sementara yang ijazahnya tak jelas, konon dapat cuan triliunan, atau dinaikkan jadi pejabat.

Mereka lantas menolak mendorong batu seperti Sisyphus, bukan karena malas, tapi karena telah memahami absurditas sistem. Camus menyebut ini sebagai “momen kesadaran akan absurditas”,  saat manusia menyadari bahwa sistem tidak memberi makna apa-apa, dan semua kerja keras bisa jatuh begitu saja.

Tapi Camus tidak menyarankan menyerah. Ia menyuruh kita untuk memberontak secara sadar, tetap dorong batu, tapi dengan tawa. Jika dilihat dari perspektif ini, di sinilah “manusia tikus” itu gagal. Mereka menyadari absurditas, tapi memilih tidur di kolong kasur sambil main PUBG. Camus tidak menolak absurditas, ia menyarankan memeluk absurditas dan menantangnya dengan keberanian. Tanpa itu, yang lahir bukan kebebasan, tapi stagnasi. Stagnasi yang lahir dari apatisme.

Dalam pandangan Camus, apatisme ini lebih jauh adalah bentuk bunuh diri filosofis. Bukan dengan peluru, tapi dengan diam. Ketika seluruh generasi muda merasa nggak ada gunanya berjuang, maka kehendak untuk hidup secara otentik lenyap. Ini lebih berbahaya daripada kerusuhan sosial, karena apatisme menyebar senyap, seperti gas beracun dalam ruangan tertutup. Ia membunuh semangat kolektif bangsa, generasi yang bernapas tapi tidak berpikir, hidup tapi tak bermakna. Ketika bangsa kehilangan makna, ia sedang berada di ujung eksistensialnya.

Pendidikan sebagai Arena Pemberontakan terhadap Kesia-siaan

Kita butuh pendidikan yang memberi nutrisi bagi otak, bukan sekedar memberi nasi kotak. Kita tidak butuh generasi yang hanya tahu rumus, tapi tidak tahu alasan kenapa hidup. Kita butuh generasi yang bisa bertanya: “Kenapa saya harus bekerja? Untuk siapa? Dan apakah saya masih manusia ketika hanya jadi alat produksi?”

Bonus demografi tidak akan jadi anugerah jika manusia di dalamnya tidak percaya pada hidupnya sendiri. Tentu kita harus waspada terhadap fenomena lao shǔ rén, manusia tikus,  yang menyasar gen Z ini. Maka tugas kita bukan membuat generasi muda “bersemangat”, tapi membantu mereka menemukan alasan untuk tetap hidup, walau dunia ini absurd. Dan itu berarti mendengarkan mereka, membangun ruang reflektif, serta menciptakan sistem sosial yang layak dipercaya.

Fenomena “manusia tikus” bukan penyakit. Mereka adalah gejala dari sistem yang sudah lama rusak. Mereka bukan ancaman. Mereka adalah alarm. Dan kalau kita tidak mendengar alarm ini, maka kita bukan sedang menanti generasi emas,  tapi sedang menggali liang kubur sosial, diam-diam dan perlahan, tapi pasti. Jika hidup memang absurd, bagaimana pun kita tetap bisa memilih  hidup dengan sadar.

Kita bisa jadi Sisifus yang nyengir, bukan Sisifus yang pasrah. Kita bisa pilih untuk melawan dengan cara tertawa, tapi tetap bermakna. Jika Camus bicara tentang absurditas, maka teringat saya akan  Sartre yang bicara tentang tanggung jawab radikal atas kebebasan. Bagi Sartre, “L’existence précède l’essence”, yang berarti eksistensi mendahului esensi. Manusia ada terlebih dahulu, baru kemudian menentukan siapa dirinya melalui pilihan dan tindakan.

Maka ketika anak muda merasa tidak berguna, bukan karena mereka benar-benar tidak punya nilai, tapi karena mereka belum benar-benar memilih menjadi sesuatu. Saya yakin, para pembaca yang budiman di sini bisa membantu mereka dalam kebijaksanaan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra
Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita
AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?
Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?
Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Tags: Chinamedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bicara-bicara Atas Nama Air di Desa Panji Buleleng

Next Post

Manusia Toksin: Menelan Fitnah Menolak Fakta

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Manusia Toksin: Menelan Fitnah Menolak Fakta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co